RodeLink: Solusi Wireless Clip-on Mic Baru Untuk Indie Shooter?

Dari berbagai peralatan dasar yang dibutuhkan HDSLR shooter independen, satu yang sampai saat ini belum ada solusi ekonomisnya yaitu wireless lavalier mic, yang lebih sering kita sebut ‘clip-on’ mic. Bukannya tidak ada yang terjangkau, ada yang murah namun kualitasnya kurang meyakinkan. Entah yang noisy atau transmisinya mudah terganggu, kebanyakan wireless clip-on ‘murmer’ riskan jika dipakai untuk kerja video profesional. Mungkin sekedar untuk presentasi, atau acara di panggung. Sejauh ini, hampir semua HDSLR shooter independen mengandalkan Sennheiser seri EW100 G3 P dan variannya. Harganya saat ini berkisar 6-7 juta per set, tidak mahal secara nilai, namun bagi indie shooter on a budget, mungkin berat. Sementara, menyewa tidak selalu bisa jadi solusi. Tapi sekarang, giliran Rode menawarkan solusi.

RodeLink

RodeLink

Membuka tahun 2015, Rode yang sudah dikenal HDSLR shooter dengan VideoMic nya yang sejuta umat, mengumumkan beberapa produk baru. Di antaranya, yang paling menarik bagi indie shooters adalah RodeLink, solusi wireless lavalier mic digital dengan harga yang cukup bersaing. Harga selalu jadi poin penting bagi Rode yang memosisikan diri sebagai produsen mic yang bukan hanya mementingkan kualitas namun juga keterjangkauan, dan setelah lama ditunggu, akhirnya muncul juga solusi nirkabelnya. Harganya mulai di $399 untuk Filmmaker Kit yang terdiri dari belt pack transmitter, on camera receiver, dan Rode Lav sebagai mic nya.

Sebagai sistem digital, RodeLink bersanding dengan Sony UWP-D, sementara Sennheiser EW100 series menggunakan teknologi analog. Pengaturan sinkronisasi channel RodeLink dikatakan cukup dengan sekali tekan, tidak perlu banyak mengatur setting secara manual. Sinyal digital dengan enkripsi 128-bit dikirimkan pada rentang frekwensi 2.4GHz, menghubungkan transmitter dan receiver RodeLink pada jarak hingga 100 meter dengan teknologi yang cukup mengesankan. Daya disediakan lewat batere AA yang diklaim cukup untuk 10 jam operasi, ataupun USB, jadi bisa menggunakan powerbank andai perlu. Mic yang disertakan dalam paket Filmmaker Kit adalah Rode Lav, yang sudah lebih lama dirilis.

Beltpack Transmitter RodeLink

Beltpack Transmitter RodeLink

Di harga US$399, memang pada akhirnya kemungkinan di sini tidak akan terlalu jauh dengan Sennheiser EW100 series. Realistisnya? Dugaan mungkin terpaut satu juta Rupiah di bawah sang clip-on sejuta umat. Akankah kembali menjadi solusi pilihan indie shooter sebagaimana VideoMic nya? Kita tunggu pembuktian kualitasnya. Untuk membaca lebih jauh, bisa mampir ke artikel dari Newsshooter atau langsung ke halaman Rode Wireless.

Iklan

Blackmagic Pocket Cinema Camera: Alternatif Baru

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Sementara banyak videographer yang selalu tertarik dengan banyak kamera-kamera baru seperti Canon C-series atau sang pendatang ‘underdog’ Blackmagic Cinema Camera, saya belum begitu merasa tertarik. Kenapa? Soalnya untuk pekerjaan saya saat ini kemampuan video DSLR sudah cukup, dan  harga ke semua mainan baru itu masih sangat tinggi. Dan ini kita belum bicara soal workflow dan lain-lainnya. Baru dari NAB kemarin ada kabar yang lumayan membuat saya jadi melirik, kali ini Blackmagic Design meluncurkan satu lagi kamera video, tapi dengan bentuk dan harga yang relatif ‘kecil’, namanya Blackmagic Pocket Cinema Camera.

Mengusung sensor ukuran Super 16 yang memberikan video full HD dengan dynamic range sebanyak 13 stop, Blackmagic Pocket Cinema Camera menjanjikan kualitas video yang lebih baik daripada DSLR. Terutama di set yang terang. Dengan ukuran yang sepertinya kurang lebih sama dengan Sony NEX atau Samsung NX, BMPCC menggunakan lensa mount MFT. Belum ada kabar apakah akan ada versi lensa EF mount seperti abangnya, BMCC. Saya nggak akan bahas detil teknisnya karena bisa langsung lihat di website nya, tapi satu yang menarik sekali buat saya adalah harganya, us$995.

Blackmagic Pocket Cinema Camera - MFT Lens

Blackmagic Pocket Cinema Camera – MFT Lens

Jika dengan harga ini bisa lebih baik daripada DSLR mainstream, mungkin bisa jadi alternatif yang menarik walau lensanya di sini nggak begitu populer. Toh kayaknya bisa pakai adapter. Yang belum ketahuan, bagaimana dengan kemampuan low light nya? Kita tunggu saja, kabarnya akan mulai dipasarkan di bulan Juli. Di Indonesia sudah mulai ada yang memesan kakaknya, Blackmagic Cinema Camera, tapi bagaimana dengan si ‘kecil’ ini? Ada yang sudah pesan?

Daftar Toko Peralatan Fotografi & Videografi HDSLR Online Jakarta

Cari kamera? Lensa? Tripod, rig, batere, SD Card, CF, lighting? Selalu cek dulu spesifikasi dan harga pasaran yang wajar sebelum belanja, baik itu online maupun di toko fisik. Untuk membantu kita nyari peralatan yang dibutuhin, ini daftar toko-toko peralatan fotografi dan juga videografi HDSLR online, terutama (namun tak hanya) di Jakarta. Tentunya ini bukan daftar lengkap, yang masuk di sini adalah yang didapat dari saran teman-teman. Semoga bermanfaat, dan kalau ada yang bisa menambahkan, monggo!

Bhinneka

Bursa Kamera Professional

Camera

EOSkamera

Focus Nusantara

Global Kamera

HDSLR Shop

JPC Kemang

Mitra Kamera

MLM Foto

Oktagon

Photo Secret

Plaza Kamera

Red Pixel Shop

Toko Camzone

Toko Digital Shop

Toko Recording DAW (khusus sound/audio)

Setelah Video DSLR Jadi Mainstream, Apa Lagi?

image

Apa lagi yang bakal mengguncang dunia videography dan indie filmmaking? Lahirnya kemampuan rekam video di kamera DSLR merevolusi semuanya, memberi akses terjangkau untuk menciptakan video dengan visual yang bukan sekedar tajam namun juga punya dimensi. Tidak lagi datar dan hambar. Dengan begitu banyak pilihan di semua range harga, hampir semua filmmaking-enthusiast mampu beli HDSLR sekarang. Produsen kamera pun juga hepi. Teknologi sudah sampai di titik yang baru. Tapi terus apa lagi dari sisi hardware? Resolusi lebih tinggi? 4K? Ah, buat saya nggak menarik. Belum. Emangnya mau bikin apa sampai butuh Ultra HD? Selain overkill, harga kamera dan workflownya juga belum bersahabat. Yang saya tunggu adalah produk revolusioner, yang menggerakkan massa, yang terjangkau, dan masuk akal, bukan produk kelas atas yang overkill. Yang realistis.

Sebelum ada produk yang mendobrak seperti waktu pertama kali Nikon D90 keluar dengan kemampuan video, dan disusul Canon 5DMkII, rasanya sekarang ini seperti stagnan. Canon Cinema 1D? C300? RED? Ngiler? Saya sih nggak. Gimana yah, nggak kepake dan nggak kebeli. Ngapain ngiler? Kayaknya untuk waktu lama, memang HDSLR jadi solusi standard. Mungkin terobosan berikutnya bukan di kameranya. Di operasi, di workflow. Mobile devices seperti smartphone atau tablet sudah mulai masuk ke fotografi dan videografi. Seperti saya bisa mengendalikan secara live-view HDSLR saya di layar smartphone. Mungkin monitoring jadi lebih murah, focus pulling jadi lebih mudah. Entahlah, kita tunggu. Pastinya, bisa ada lagi yang membuat semuanya semakin praktis juga terjangkau.

Anyway, ini cuma ocehan saya yang gemes karena merasa mestinya bisa ada terobosan baru yang bikin semakin praktis, mudah dan murah. Ini karena ngelihat teknologi mobile computing lagi kenceng banget, tapi di ‘kamera’ terasa terlalu pelan mengadaptasinya.

Bikin Film Pendek Pakai Nikon D90?

Nggak terasa, udah lama sejak Nikon D90 dirilis, udah lama sejak saya nulis banyak hal soal Nikon D90 di blog ini. Harga udah sempat naik turun, dari jamannya belum ada yang garansi Alta, sampai habis, sampai ada lagi. Mulai banyak videografer amatir dan film enthusiast yang melirik si D90 ini karena kemampuan moda D-movie nya. Tapi setelah mencoba sendiri, ada hal-hal yang mutlak mesti disadari sebelum mikir untuk bikin film yang (agak) serius pakai D90. Dulu sudah pernah saya bahas, tapi setelah nyoba sendiri, jadi berasa banget beberapa point ini.

1. WAJIB GUNAKAN TRIPOD, TITIK.

Sedikit saja body bergoyang, efek jello akan langsung terlihat di gambar. Ini masalah rolling shutter.

2. TIDAK BOLEH ADA LAMPU NEON/FLUORESCENT, TITIK.

Begitu ada neon, banding alias garis scan yang bergeser pun muncul. Lupakan niat pake Kinoflo.

3. TIDAK BISA PAN CEPAT ATAU MEREKAM BENDA BERGERAK HORISONTAL CEPAT

Lagi-lagi masalah rolling shutter, ketika gerakan horisontal cepat, akan terjadi skewing.

4. TIDAK ADA SETTING MANUAL KECUALI FOKUS

Sadari hal ini. Ada triknya di blog ini, tapi sekedar trik, bukan cara set yang absolut.

Nah, setelah tahu batasan-batasan disana, bukannya mustahil bikin naratif yang memukau dengan D90. Okelah, yang ada banyak uang akan beli Canon 5DmkII yang baru saja dapat firmware baru yang memungkinkan kontrol manual. Tapi buat yang budgetnya terbatas, gambar Nikon yang lebih film-ish juga bisa mempesona orang. Sekarang pun ada yang lebih murah, Nikon D5000, tapi itu saya akan bahas lain kali. Sudah tahu kelebihan dan kekurangan alat yang kita punya, mestinya kita bisa merancang cerita yang juga pas bisa dihandle oleh si D90 ini.

Belajar Dasar Lighting Film, Secara Low Budget!

Dari dulu saya penasaran tentang teknik lighting film, karena kelihatannya sangat susah padahal vital sekali dalam membuat gambar yang bagus. Kalau lagi di lokasi syuting, saya bisa aja mengira-ngira angle camera yang bagus bagaimana, tapi soal lighting nggak pernah mengerti. Kenapa lampu gedenya ditaruh di situ? Kenapa lampu kecilnya ditaruh di sana? Kapan harus pakai lampu yang mana, dan seterusnya. Adanya cuma bengong ngelihat DP dan orang lighting sibuk ngatur, ngintip monitor dan memerintahkan geser ini itu, pasang atau lepas filter. Saya nggak butuh ilmu yang se-profesional itu, minimal pengen ngerti dasarnya aja.

Bisa aja beli buku, tapi satu masalahnya, saya orangnya nggak sabaran. Selalu pengen tahu dasarnya aja untuk memulai, nggak suka kelewat dalem. Intinya, saya kepengen tahu cara-cara sederhana yang bisa diterapkan untuk produksi zero-budget. Akhirnya, ketemu juga beberapa link yang benar-benar cocok dengan keinginan saya. Pertama, saya rekomen download ini:

ARRI Lighting Handbook

Sebetulnya ini brosur, tapi banyak gambar skema dan contoh lighting yang cukup ngasi gambaran buat pemula kayak saya. Berkat brosur ini saya jadi lebih mengerti teknik dasar dan istilah-istilah dalam lighting untuk film. Tapi, apa yang dijelaskan di ARRI ini adalah teknik dan nggak ngajarin bagaimana menerapkan semua itu kalau kita nggak punya alat-alat profesional itu. Nah gimana? Ada nggak yang bisa ngajarin lighting versi modal nekad? Akhirnya ketemu beberapa artikel ini:

Buat Sendiri Low-budget Light Kit Anda oleh Scott Spears

Low Budget Film & Video Lighting

Do-it-yourself Lighting Dengan Peralatan Non-film

Untuk yang cuma kepengen tahu dasar-dasarnya, ketiga artikel ini digabung dengan pengetahuan teknik dasar dari brosur ARRI rasanya sudah lumayan. Minimal, rasa penasaran saya sudah terpenuhi.