Menulis untuk Harian Kompas

Ngalor-ngidul bahas tentang gadget, komputer, dan video di blog memang menyenangkan, menulis di penerbitan besar adalah lain hal. Adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan, untuk bisa menulis di harian sebesar Kompas tentang hal-hal yang memang saya minati. Baru tiga kali sudah saya menjadi kontributor di rubrik Peranti di Kompas Klass yang biasanya muncul di hari Jumat. Tidak rutin memang, karena bergantian dengan kontributor lainnya. Saya juga hanya menulis kalau sedang ada yang menarik, dan disetujui oleh para editor.

image

Yang dibahas memang bukan sesuatu yang sangat teknis, karena memang ditujukan untuk publik yang lebih luas. Hal yang sudah diketahui bagi penggemar gadget, belum tentu diketahui semua orang. Dari membahas aplikasi photo editing, aplikasi pemantau lalu-lintas, sampai kamera-kamera kecil yang bisa membuat video sinematis, selalu menyenangkan menulis untuk Kompas Klass. Apa yang akan jadi bahasan berikutnya? Belum tahu. Kalau ada ide, boleh sumbang saran di kolom komentar.

Terima kasih pada Ario atas rekomendasinya.

Iklan

Unpacked 5: 5 Fitur Baru Andalan Samsung Galaxy S5

Berbeda dengan tahun lalu, saat Samsung meluncurkan Galaxy S4, kelahiran penerusnya terkesan lebih kalem. Tidak lagi dengan pertunjukan super heboh yang glamor, Samsung Galaxy S5 diumumkan Mobile World Congress 2014 di Barcelona, 24 Februari kemarin. Event besar untuk produk dan brand mobile ini memang tempat yang cocok. Presentasi pun to the point, tanpa banyak bumbu, bagi saya ini seperti menunjukkan fokus dan pendewasaan di bagaimana Samsung merancang smartphone andalannya.

Mendengarkan permintaan konsumen, Samsung tidak lagi mengumbar spesifikasi dan angka. Konsumen tidak terlalu menginginkan fitur yang rumit, namun yang sederhana dan terpakai, ini dikemukakan dalam presentasi. Samsung merangkumnya menjadi 5 point utama di Galaxy S5.

Desain “Modern Glam”

image

Mendengarkan masukan konsumen, desain jadi salah satu fokus utama pengembangan Samsung Galaxy S5. Sementara secara keseluruhan masih meneruskan rancangan seri S, perbedaan paling terlihat di punggung S5 yang tampak memiliki tekstur berperforasi, atau terkesan seperti lubang-lubang kecil. Hadir dengan 4 warna, Samsung membahasakan desain Galaxy S5 sebagai modern glam.

Kamera Yang Lebih Mudah

image

Lebih cepat dan lebih mudah, inti pengembangan kamera di Samsung Galaxy S5.

Bukan sekedar menambah fitur, Samsung kali ini memudahkan konsumen di sisi kamera. Fitur ‘Shot & More’ misalnya, kita tidak usah bingung memilih moda pemotretan. Tinggal jepret, dan Galaxy S5 akan memberikan kita pilihan mode setelahnya. Tujuan utama Samsung di kamera Galaxy S5 adalah menghasilkan foto sebaik yang diinginkan dengan semudah mungkin. Karena itu, kemampuan autofocus pun didongkrak dengan yang namanya Phase Detection Autofocus. Ini biasanya dipakai di kamera DSLR, dan berkat ini, Samsung Galaxy S5 hanya butuh 0,3 detik untuk fokus.

image

Tak perlu lagi menunggu proses untuk melihat hasil HDR.

Kemampuan HDR pun sudah dilakukan realtime. Jika dulu kita harus menunggu proses sebelum melihat seperti apa hasil jepretan HDR, di Galaxy S5 sudah langsung ditampilkan saat mengambil gambar. Kemampuan HDR realtime ini pun katanya tersedia untuk perekaman video.

image

Obyek utama terfokus dan latar belakang blur, kemampuan yang dijanjikan di Galaxy S5.

Satu lagi fitur menarik adalah Selective Autofocus dimana Galaxy S5 memungkinkan kita memilih titik fokus saat memotret, kemudian membiarkan latar belakangnya blur. Efek bidang fokus dangkal yang dijanjikan mirip dengan DSLR. Seberapa bagus penerapannya? Kita tunggu uji pakai setelah peluncuran nanti. Dan terakhir, walau ukuran megapixel bukan patokan sebuah kamera, Samsung menaikkan besar sensor di Galaxy S5 ke 16 megapixel.

Konektivitas
Ketersambungan adalah tujuan kita menggunakan telepon seluler, dan ini salah satunya dibatasi oleh ketahanan batere. Untuk menjamin kemampuan komunikasi bahkan di saat batere menipis, Galaxy S5 menyediakan fitur Ultra Power Saving. Kapan pun diaktifkan, fitur ini akan mematikan semua kemampuan seluler kecuali telepon dan sms, sementara layar dijadikan hitam putih. Klaim Samsung, dengan sisa 10% batere, Ultra Power Saving bisa menyalakan Galaxy S5 untuk standby selama 24 jam!

image

Dapat diaktifkan kapan saja, Ultra Power Saving akan mengirit batere.

Bicara soal LTE, Samsung mengatakan bahwa Galaxy S5 dapat cocok dengan jaringan 4G manapun di dunia. Kita belum tahu, apakah nantinya Galaxy S5 untuk Indonesia juga sudah siap 4G, karena yang sudah-sudah, kita kebagian versi 3G. Karena memang sampai saat ini belum ada layanan telepon seluler 4G yang berjalan di Indonesia.

Lebih Terlindungi dan Aman

image

Tahan terhadap siraman air dan debu, Samsung Galaxy S5 mengusung standar IP67

Satu lagi yang baru di Samsung Galaxy S5, water & dust resistant IP67. Tahan terhadap percikan air dan debu, salah satu fitur yang dianggap Samsung akan menambah kenyamanan pemakai. Tidak lagi perlu takut akan guyuran hujan ataupun shower sesaat, namun, bukan berarti waterproof yang tahan dibawa menyelam atau dicelupkan dalam air. Tampaknya, port USB di Galaxy S5 diberikan penutup untuk mencegah air atau debu masuk.

image

Sensor sidik jari di Samsung Galaxy S5 bukan hanya untuk sekuriti.

Dari sisi keamanan, yang baru adalah pemindai sidik jari. Terletak diantara kaki layar dan tombol home, sidik jadi nantinya akan dapat digunakan untuk membuka kunci layar Galaxy S5. Lebih jauh, katanya kita bisa mengatur mode privacy, yang mana isinya hanya akan terlihat bagi kita setelah memindai sidik jari. Samsung juga tampaknya bekerja sama dengan Paypal untuk pembayaran online, dimana konfirmasi identitas kita dilakukan dengan sidik jari.

Terakhir, pengamanan dari si kecil. Terkesan lucu, namun fitur ini dapat berguna bagi orang tua. Dengan ‘Kids Mode’, Samsung Galaxy S5 hanya menampilkan aplikasi dan kendali yang aman untuk anak-anak. Apakah sudah dirancang aplikasi anak-anak juga? Kita lihat nanti.

Teman Berolahraga

image

Sensor pengukur detak jantung tepat di samping flash Samsung Galaxy S5.

Pertama di smartphone, Samsung Galaxy S5 menghadirkan pengukur detak jantung di punggung nya. Cukup dengan meletakkan jari pada Heart Rate Sensor di dekat flash kamera, Galaxy S5 akan segera mengukur detak jantung kita, dan juga mencatatnya. Ini kemudian menjadi bagian dari fitur S Health yang sudah hadir sejak Galaxy S4.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Sedang senang lari? Berolahraga tampaknya semakin jadi kegiatan yang disukai banyak orang, apalagi sejak hadirnya smartphone juga aplikasi yang dapat memonitor olah raga kita. Samsung Galaxy S5 akan semakin lengkap lagi dipandu dengan dua smartwatch baru dan fitness tracker nya, Gear Neo dan Gear Fit. Sementara Gear New adalah penerus Galaxy Gear, yang mencuri perhatian adalah Gear Fit yang bentuknya lebih cantik walau diutamakan untuk memonitor kebugaran. Kedua ‘jam tangan’ pintar ini sudah dilengkapi pengukur denyut nadi di punggungnya.

Menanti Peluncuran
Sampai dengan rilisnya nanti pada bulan April, baru ini saja yang bisa kita rangkum tentang Galaxy S5 dari event Samsung Unpacked 5. Akankah seri andalan Samsung ini sebaik yang dijanjikan? Kita lihat nanti. Banyak spekulasi dan prediksi yang muluk dipatahkan dalam pengumuman ini. Yang pasti, senang melihat bagaimana Samsung kini lebih terfokus akan fitur-fitur yang memang penting dan jelas terpakai secara nyata oleh konsumen.

Penasaran? Lihat video ‘first look’ dari Samsung Galaxy S5 dan Gear Fit ini, atau kunjungi microsite resminya.

JalanRaya: Sirkus Naga di Qualcomm Uplinq 2013 San Diego

Halo, San Diego!

Halo, San Diego!

Langit cerah, matahari bersinar terang, namun udara begitu sejuk. San Diego seperti menyambut dan menyegarkan kembali tubuh yang lelah dari 18 jam penerbangan. Kami sengaja nggak langsung mengambil taksi ke Hilton Bayfront hotel, di mana Qualcomm Uplinq 2013 diadakan.

“Ngerokok bntar yak.”, kata Harry,

“Hayuk lah, duduk-duduk dulu di luar.”

Beli minuman dan cemilan, kami pun duduk di smoking point luar terminal komuter bandara. Melepas lelah sambil melihat lansekap kota yang menjadi rumah dari Qualcomm, produsen teknologi 3G dan 4G terbesar dunia. Jika punya gadget 3G, hampir pasti di dalamnya ada teknologi Qualcomm. Entah itu paten, komponen, ataupun jagoannya, prosesor SnapDragon.

San Diego Hilton Bayfront, venue untuk Qualcomm Uplinq 2013

San Diego Hilton Bayfront, di sinilah venue Uplinq 2013

10 menit kemudian kami sudah dalam taksi menuju venue Uplinq 2013. Kaca dibuka sepanjang perjalanan menyusuri daerah bayfront, melewati museum kapal induk Midway dan marina.

“Seger juga ya, ngantor di daerah sini. Gue sih mau.”

“You wish.”

Siapa yang nggak pengen. Kami tiba di hotel, dan setelah mencari makan malam di luar, saatnya beristirahat karena esok pagi Qualcomm Uplinq 2013 dimulai.

 

Iron Man, Star Trek, dan 6th Sense

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

“Bapak mau pakai Gimbal? Ini teknologi baru kami, jadi bisa otomatis tercheck-in di venue dan lokasi-lokasi event ini.”

“Uhm, okay.”.

Baru dari pembuatan kartu peserta saja sudah berbau teknologi. Yang menjadi acara utama di pagi pertama Uplinq 2013 adalah keynote presentation dari Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc. Dibuka dengan aksi dua DJ yang menghentak beat rave dengan gadget berotak SnapDragon, Jacobs memresentasikan beberapa teknologi baru Qualcomm.

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Pertama adalah Gimbal, teknologi yang memungkinkan kita otomatis ter-check in di lokasi dan mendapatkan konten yang konteksnya sesuai di smartphone kita. Qualcomm menekankan, mereka mengutamakan privasi dalam merancang teknologi yang sadar-lokasi ini. Menarik juga!

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Segera setelah pembukaan, kita diperkenalkan akan yang namanya Vuforia Smart Terrain. Cukup bermodal kamera pada device, bisa mengubah meja dan lingkungan kecil menjadi alam game yang hidup, dalam tiga dimensi. Rasanya teknologi komputer holographic ala film Iron Man perlahan jadi kenyataan, ini bisa dilihat langsung di demo videonya.

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Berlanjut ke seputar musik, Qualcomm mengembangkan AllJoyn AllPlay, yang nantinya bisa dicangkokkan pembuat sound system ke dalam speaker-speakernya supaya memudahkan playback musik di banyak tempat, cukup dari smartphone. Moment berkesan pertama adalah waktu Paul Jacobs memresentasikn 2net, teknologi jaringan yang dirancang khusus untuk keperluan medis.

“Siapa di sini yang tahu Tricorder dari film seri Star Trek?”

Aha, tahu! Sejumlah audiens di ruang konvensi mengacungkan tangan, pastinya saya ikut.

“Kalau nggak tahu Tricorder, mestinya kalian nggak cocok di sini.”, lanjut Paul.

Semua pun tertawa. Memang event Uplinq yang utamanya untuk pengembang aplikasi mobile ini agak ‘geeky’, tapi yang menarik dari moment ini adalah pemaparan Jacobs bahwa Qualcomm turut dalam upaya mewujudkan alat diagnosa medis genggam ala Tricorder, yang dikhayalkan Star Trek. Mungkin kita memang sudah hidup di masa depan. Berikutnya adalah kejutan besar, pengumuman ‘Toq’, smartwatch buatan Qualcomm.

Qualcomm 'Toq', smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Qualcomm ‘Toq’, smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Lebih sebagai upaya meramaikan dan memeragakan teknologi, layar Qualcomm Toq menggunakan teknologi Mirasol. Ini memungkinkan layar selalu menyala tanpa boros batere, dan dapat dilihat jelas di terik matahari. Sebuah ‘Oprah moment’ ala industri teknologi pun membuat ruang konvensi riuh ketika Jacobs mengumumkan,

“Semua yang hadir di sini akan mendapatkan voucher untuk mendapatkan satu smartwatch Qualcomm Toq!”.

Audiens pun menyambut. Tapi, ini hanya untuk semua peserta developer dari AS. Keynote berlanjut dengan topik  SnapDragon yang cukup membuka mata. Siapa yang tahu kalau sampai saat ini kemampuan grafis prosesor ini baru termanfaatkan sekitar 50-an persen?

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Satu istilah yang melekat di otak dari presentasi Paul Jacobs, “Digital 6th Sense”. Di masa depan yang tidak begitu jauh, peranti mobile akan mendominasi mengalahkan komputer dan kita akan mengenal “The Internet of Everything”, semua peranti akan saling terhubung. Bayangkan kalau dari mesin cuci, kulkas, TV sampai lampu semua sudah ‘smart’, bukan sekedar dapat dikendalikan dan dimonitor via peranti mobile namun dapat saling berkomunikasi di latar belakang. Teknologi akan bekerja layaknya indera ke 6, sudah mengetahui lebih dahulu apa yang kita butuhkan dan akan lakukan, sebelum kita sendiri.

 

Sirkus ‘Naga’ SnapDragon

Sebenarnya sih, Uplinq ini event untuk para mobile developer. Itu lho, pengembang aplikasi mobile, orang-orang yang bikin app maupun hardware tambahan yang kita pakai. Tujuannya memperlihatkan, sebetulnya sejauh mana mereka bisa memanfaatkan kekuatan teknologi Qualcomm dan membantu mencapainya. Tapi, bukan berarti nggak ada tontonan menarik. Justru pameran inovasi Qualcomm dan SnapDragon nya yang benar-benar menarik buat kita yang relatif awam. Setengah hari kedua saya habiskan di lantai ruang pameran inovasi teknologi mobile Qualcomm, dan melihat seberapa ‘gila’ kemampuan prosesor SnapDragon.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Deretan smartphone tercanggih dari Samsung, HTC, LG, Nokia, Sony, Motorola, semuanya pakai ‘otak’ prosesor SnapDragon buatan Qualcomm. Dan walau bukan orang yang selalu gonta-ganti gadget, rasanya sudah tahu lah kemampuan peranti mobile pintar jaman sekarang.

“Ah, udah tahulah apa aja kemampuan gadget sekarang.”

“Yakin?”

Sepertinya saya belum segitu tahunya. Baca berita teknologi, punya satu-dua gadget, dengar ini-itu, nggak ada bandingannya dengan melihat sendiri. Seperti pertama ketika didemonstrasi’in bagaimana tablet dan smartphone berprosesor SnapDragon bisa menampilkan game dengan keren di layar TV besar.

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Puas bertanya-tanya tentang kemampuan untuk game, kesimpulannya, kemampuan grafis peranti mobile mulai mengejar kemampuan videogame console generasi kini. Gila! Berikutnya saya ke salah satu pojok, karena ada koki yang sedang menghias kue.

“Lho, ini demo masak?”

“Ini peragaan kemampuan kamera 4K gadget yang pakai SnapDragon”.

Tepok jidat dalam hati, nggak melihat papan merah besar yang menuliskan itu semua. Tapi apa sih 4K? Baru-baru ini Acer dan Samsung meluncurkan hape yang kameranya bisa merekam video 4K, artinya resolusinya adalah 4 kalinya HD! Dan nggak tanggung-tanggung, dipamerkan bagaimana rekaman live dari gadget langsung ditayangkan di monitor besar beresolusi 4K!

Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

, Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

Cukup mengesankan, karena kita bukan cuma melihat di layar kecil. Percuma juga memang misalnya resolusi 4K yang jauh lebih rapat daripada HD cuma didemonstrasikan di layar gadget yang maksimal cuma HD. Tapi satu hal kepikiran, jadi berkomentar.

“Bagus sekali, sayang ya, kita belum ada yang pakai TV 4K. Jadi nggak akan kepakai maksimal.”

“Tapi harga TV 4K sudah mulai turun lho, yang tadinya $5000 sekarang sudah dapat $1500.”

Betul sih, tapi saat ini kegunaan merekam di resolusi setinggi itu rasanya masih sekedar supaya nanti di masa depan video-video kita masih cukup tajam ketika semua layar sudah 4K. Di tengah ruang konvensi, ada mockup dapur. Ketika bergegas ke sana, rupanya sedang didemonstrasikan teknologi AllPlay-AllJoyn.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Lumayan lah, nggak terlalu wah amat. Peragaan bagaimana bisa memutar musik di speaker berbagai ruang di rumah cukup dari satu gadget kita. Yang menarik justru penempatan berbagai device yang berkaitan dengan kegiatan dapur. Ah, mungkin ini bagian dari The Internet of Everything? Berikutnya, saya dan rekan ditarik oleh satu pemandu di sana.

“Mau lihat demo sound system home theater kami? 5 menit aja, saya jamin worth it!”, katanya bersemangat.

“Ah, oke, why not?”

Setelah menunggu sebentar, kami dipersilakan masuk ke satu ruangan home theater mini,

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem suara 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Pertama, diputarkan klip HD dari film Transformers: Dark of The Moon, kemudian berganti klip video 4K yang super tajam. Keduanya dengan tata suara Dolby 7.1, 7 speaker dan satu subwoofer. Semua itu diputar hanya dengan tablet ber-SnapDragon! Lalu, kami diberikan headphone dan diputarkan sebuah klip dari game, dan kami bisa merasakan tata suara 7.1 speaker tadi cukup dengan headphone! Kita tahu dari mana arah suara dalam adegan, entah depan, belakang atau samping!

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Saking banyaknya yang menarik di lihat, siang itu saya makan siang di tengah ruang pameran. Rasanya, pengen bisa meliput semuanya, karena memang hampir semua ada di sana. Dari ruang keluarga, dapur, sampai mobil, semua sudah tersentuh teknologi mobile Qualcomm dan juga prosesornya, SnapDragon.

 

Party Time, Until Next Time.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Hari terakhir ditutup dengan “Q on Fifth”, pesta yang diadakan di kawasan terkenal San Diego, GasLamp Quarter. Pada malam itu, jalanan 5th Avene ditutup khusus untuk closing party Qualcomm, yang diantaranya menghadirkan penampilan grup musik The Fray. Kedengarannya menyenangkan sekali, tapi sayangnya terpaksa dilewatkan. Setelah keseluruhan acara Uplinq hari terakhir selesai, saya sudah harus berkemas karena mengejar penerbangan ke New York.

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Terima kasih pada Qualcomm yang telah mengundang, menyediakan transportasi dan akomodasi saya di Uplinq 2013. Dalam hanya dua hari, saya melihat dan belajar begitu banyak hal di sebuah event teknologi besar. Kita memang sudah hidup di masa depan. Selamat tinggal, San Diego. Semoga kita berjumpa lagi!

JalanRaya: -15° Celsius di Kuala Lumpur bersama Panasonic Econavi

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

“AC yang setengah PK itu cuma ada di Indonesia lho sekarang.”

“Di seluruh dunia nggak ada?”

“Cuma di Indonesia.”

Obrolan makan malam kali ini soal AC, dan saya yang tadinya sibuk dengan nasi, ayam dan udang goreng jadi berhenti sebentar karena pengetahuan baru ini. Mendadak dalam otak muncul wajah ayah saya dengan kalimat khasnya.

“Beli yang setengah PK aja, bang. Cukup lah.”.

Sambil menikmati hidangan, pak Heribertus Ronny, AC Product Manager dari Panasonic bercerita. Ternyata AC 1/2 PK masih diproduksi cuma untuk pasar Indonesia, menyesuaikan daya beli juga kapasitas listrik mayoritas rumah tinggal masyarakatnya. Karena besarnya demand dari Indonesia, tetap diproduksi sementara di belahan dunia lain sudah nggak ada.  Jadi penasaran, pengen langsung pulang dan ngecek AC di rumah berapa PK. Tapi nggak bisa, karena restoran tempat saya makan ini di Kuala Lumpur.

Ngapain di KL? Kali ini saya berkesempatan ikut para wartawan dalam media trip ke PAPAMY, fasilitas pabrik AC Panasonic di Malaysia. Oh, yang suka ngarang lagu anak tahun 90’an itu? Bukan, kalau itu Papa T-Bob. Mendadak jadi kepikir satu hal, dan langsung aja saya bertanya.

“Kenapa nggak di Indonesia aja Panasonic bikin pabriknya?”

“Oh justru kita udah punya pabrik di Indonesia sudah dari tahun 70’an. Bahkan, waktu pabrik-pabrik lain sempat stop operasi waktu krisis, Panasonic tetap jalan.”.

Ah, okelah. Bukan berarti nggak mau bikin di Indonesia, tapi PAPAMY ini memang sudah jadi fasilitas besar yang meliputi riset dan pengembangan untuk regional. Makan malam berlanjut dengan obrolan yang lebih melebar bersama para wartawan, sementara saya menyimak sambil sibuk dengan lauk. Ayam gorengnya agak beda, enak banget. Atau saya aja yang kelaperan, nggak ingat juga. Setengah jam kemudian saya kembali naik bus rombongan menuju hotel, saatnya istirahat sebelum kunjungan besok. Entah kenapa rasanya kayak nggak sedang di luar negeri, beda dengan waktu pertama kali ke KL di tahun 1999.

 

Pabrik Besar AC Pintar

14 tahun lalu saya berkesempatan ke KL untuk mengunjungi fasilitas studio sinetron sebuah rumah produksi Malaysia, kali ini melihat pabrik AC. Beda jauh ya? Sementara film dan TV adalah bagian dari profesi, consumer technology memang topik favorit saya belakangan ini. Sejak era smartphone, rasanya mendadak semua perangkat elektronik bisa, dan harus, jadi smart juga. Dalam media trip ini Panasonic ingin memperkenalkan konsep AC nya yang ‘smart’, yaitu seri Econavi.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Setelah cukup istirahat dan makan pagi, rombongan berangkat dengan bus besar yang nyaman. Definisi macet di KL jauh lebih jinak daripada Jakarta, kami tiba di fasilitas PAPAMY sekitar 40 menit kemudian. Lokasinya agak dipinggiran kota, sepertinya memang distrik industri dan Panasonic mempunyai beberapa fasilitas dan pabrik besar di sana. Bukan cuma untuk AC, tapi juga kulkas dan TV, dan semuanya besar.

Sampai juga di PAPAMY

Sampai juga di PAPAMY

Kami disambut oleh staf bahkan direksi PAPAMY yang kemudian menyajikan presentasi tentang pabrik dan produk AC Panasonic, terutama seri Econavi yang jadi andalannya. Dari sini baru nyadar bahwa AC sekarang bukan sekedar “berapa PK?” apalagi “berapa Watt?”. Ternyata Econavi ini membuktikan bahwa yang namanya AC sudah canggih sekali.

Presentasi PAPAMY & Econavi

Presentasi PAPAMY & Econavi

Bersama teman-teman dari media.

Bersama teman-teman dari media.

Yang saya tahu tentang AC, dari iklan-iklan sejauh ini paling-paling tentang yang namanya “inverter” yang bisa mengirit listrik, atau “plasmacluster”  bisa memperbaiki kualitas udara ruangan. Inverter itu memperlahankan putaran kompresor ketika sedang tidak butuh putaran tinggi, hasilnya pengiritan energi. Dan banyak merek yang sudah pakai inverter ini, entah Samsung, LG, Sharp dan lainnya. Panasonic ingin mengangkat bahwa Econavi buatannya lebih dari sekedar mengirit tenaga dan membersihkan udara, tapi melakukannya dengan sangat pintar.

 

AC Panasonic Econavi: Penghematan Energi Sampai 38%, Plus Pembersihan Udara!

Ini yang jadi fokus media trip Panasonic kali ini, yaitu produk AC Econavi. Dilengkapi beberapa sensor pintarnya, AC Panasonic Econavi mendinginkan ruangan sesuai kebutuhan, dan mengukur bukan sekedar temperatur kamar. Ia akan mendeteksi posisi orang di dalam ruangan, dan membaca mana yang lebih aktif mengeluarkan panas, dan memfokuskan hembusan ke arah itu. Dalam ruangan ada lebih dari satu kelompok orang? Econavi akan mengatur tiupan sesuai prioritas, mana kelompok yang lebih panas. Bukan cuma itu, ketika ruangan ditinggalkan kosong pun Econavi tahu dan menyesuaikan putaran supaya irit tenaga listrik. Begitu orang-orang kembali ke ruangan, dalam sekejap Econavi akan menyesuaikan lagi. Lebih dari sekedar mendeteksi orang, Econavi juga mengukur cahaya jendela dan panasnya, untuk mengatur pendinginan. Berapa besar pengiritan energi yang bisa dicapai? Di model terlengkapnya, Econavi bisa menghemat energi sampai 38%!

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi, sekilas kelihatan biasa banget ya.

Bukan cuma soal mengatur pendinginan dan efisiensi, fitur Nanoe-G nya bisa membersihkan udara di ruangan, bahkan di dalam AC-nya sendiri. Bakteri dan jamur yang ada di permukaan, udara dan filternya sendiri dinon-aktifkan. Sinting. Mendadak AC di rumah jadi seperti peninggalan purbakala.

Panasonic AC XC579PKJ Econavi

Panasonic AC XC579PKJ Econavi, AC pintar ini tampilannya seperti AC biasa saja.

Usai presentasi, ada satu hal yang bikin saya penasaran dan langsung saja saya tanyakan dengan direktur eksekutif PAPAMY. Satu hal yang terlewatkan sebelumnya di sesi tanya-jawab.

“Jadi, teknologi Econavi ini sudah standard untuk semua AC Panasonic kelas menengah dan kelas atasnya?”.

Dengan bangga beliau mengiyakan. Nah, yang pengen saya tanyain itu satu hal aja yang rasanya sih penting.

“Kira-kira kapan Econavi ini jadi fitur standard semua AC Panasonic termasuk tipe termurahnya? Soalnya fitur-fitur efisiensi listriknya justru lebih akan terasa gunanya buat konsumen yang bukan kelas atas.”

Pak direktur yang adalah orang Malaysia keturunan India tersenyum dan menjawab dengan hati-hati.

“Pastinya kita mengarah ke sana, teknologi semakin maju dan semakin terjangkau setiap hari.”.

“Jadi, 5 tahun lagi mungkin?”, tanya saya lagi sambil nyengir. Bapak direktur jadi ketawa karena saya masih ngotot pengen tahu.

“Hahaha, saya belum bisa bilang, sulit mengira-ngira. Tapi jangan khawatir, arah kami ke sana. Kami ingin Econavi ini dapat dinikmati sebanyak mungkin konsumen, dan sudah komitmen Panasonic untuk selalu hadirkan teknologi yang lebih efisien energi dan ramah lingkungan.”.

Ah, paling nggak sudah bisa berharap bahwa suatu saat fitur-fitur Econavi ini akan jadi standard bahkan di AC Panasonic yang paling kecil dan murah. Bapak saya pasti seneng.

 

Panas Dingin di Pabrik AC

Setelah mengobrol sejenak, tiba giliran kelompok saya untuk keliling melihat fasilitas pabrik PAPAMY. Tempat ini besar dan luas, kami benar-benar dibawa untuk melihat semua proses produksi dari awal sampai pengecekan kualitas. Dari gedung ke gedung, di cuaca yang panas hari itu membuat saya keringetan parah dan iseng bilang pada staf yang memandu kami.

“Kok pabrik AC ternyata nggak dingin ya?”

Staf tertawa dengan ramah dan bilang.

“Oh tenang, nanti kita ke ruangan yang suhunya -15° Celsius di fasilitas R&D.”.

Aha! Menarik!

web 20130610_114711

Fasilitas besar ini baru salah satu dari beberapa gedung di PAPAMY

Paling menarik dari semua adalah fasilitas R&D dimana berbagai macam pengujian AC dilakukan oleh Panasonic. Berbagai ruangan dibuat untuk mensimulasikan berbagai lingkungan dan mengukur performa AC. Entah itu bentuk ruangan, suhu sampai dengan sinar matahari bisa disimulasikan. Nggak ada yang dilewatkan. Hal sesederhana suara mesin AC pun diukur dengan standard yang luar biasa akurat dan ketat. Nggak bakal lagi bisa nganggap enteng teknologi AC. Seru sekali melihat fasilitas R&D Panasonic ini, tapi sayangnya, tidak diijinkan mengambil foto di dalam.

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY. Panas euy cuacanya.

Dan di salah satu ruangan ini, saya berkesempatan mencoba, bener nggak sih pintarnya AC Econavi ini. Staf Panasonic menyilakan saya berdiri beberapa meter di hadapan AC Econavi yang menyala.

“Coba bapak geser posisinya, pindah ke sebelah kanan.”.

Oke, saya nurut dan bergerak pindah 3 meter ke kanan, lalu memperhatikan blower AC. Dalam hitungan detik, hembusan udara menyusul ke tempat saya pindah. Betul, blowernya menyesuaikan arah anginnya. Tapi kan saya cuma sendiri, coba saya tanya.

“Ah, betul ya AC nya bisa ikuti posisi saya. Tapi ini kan saya sendiri. Kalau di ruangan ada yang lain, gimana?”.

Staf PAPAMY kemudian mempersilakan 3 rekan wartawan untuk ikut berdiri di hadapan AC, sejajar namun di sisi berlawanan saya. Ia kemudian menjelaskan.

“Kalau ada lebih dari satu orang atau kelompok, sensor Econavi akan membaca dan membagi hembusannya.”.

Betul, sekejap kemudian blower yang tadinya terfokus ke arah saya menjadi bergantian berputar ke kanan dan ke kiri. Kedua posisi jadi didinginkan. Tapi ternyata belum selesai begitu aja, staf PAPAMY kemudian kembali berpaling ke saya.

“Coba bapak bergerak-gerak sedikit.”

Hmm. Bergerak?

“Bergerak sedikit, aja, misalkan jalan di tempat.”, katanya dengan ramah.

Baiklah, saya pun bergerak seperti jalan di tempat. Lalu seperti orang pura-pura jogging. Tepat sebelum saya sempat beralih ke gerakan robot breakdance, AC kembali memprioritaskan semburan udara dinginnya ke saya. Impressive.

“Karena bapak bergerak menimbulkan panas lebih banyak daripada yang diam, sensor Econavi membaca dan memrioritaskan pendinginan ke arah bapak.”.

Mendengar presentasi dan membaca brosur adalah satu hal, namun membuktikan sendiri secara langsung memang lain lagi. Dan ini baru sebagian dari kemampuan AC Econavi yang bisa membaca banyak faktor lain. Kami juga diperagakan langsung dengan pengukur digital, bagaimana secara nyata penggunaan daya dapat turun menyesuaikan kebutuhan.

Dari semua tempat yang dikunjungi di PAPAMY, saya paling betah di fasilitas R&D yang suhu ruangannya sampai -15° Celsius tadi. Jujur, saya lupa sama sekali itu ruang untuk apa, dan sayangnya yang lain cepat-cepat keluar ruangan karena dingin. Aneh, pada lebih betah panas pabrik ya? Kunjungan ke PAPAMY akhirnya dirampungkan setelah makan siang bersama, setelah berpamitan kami pun kembali naik bus menuju tujuan berikutnya.

 

Panasonic Econation: Konsep Rumah Masa Depan

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Kalau ditanya kepengen rumah kayak apa, sepertinya Ecopark ini jawaban yang paling pas. Bukan cuma keren, nyaman dan dilengkapi berbagai peralatan canggih, rumah ini sepenuhnya mengadakan listrik secara mandiri. Ya, kalau di sini istilahnya kita jadi nggak butuh PLN. Baru dari panel tenaga surya yang memayungi keseluruhan rumah saja sudah kelihatan betapa inilah masa depan yang seharusnya, dan bukan hanya itu. Semua aspek di dalam rumah, sampai pemilihan warna, bahan langit-langit pun diperhitungkan untuk efisiensi energi yang benar-benar optimal.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Di sini kita diperkenalkan juga akan line up produk Panasonic Econavi lainnya. Bukan cuma AC tapi juga mesin cuci, kulkas dan kipas angin! Semuanya efisien energi dengan pintar, khas Econavi. Untuk kulkas misalnya, ia bisa menyesuaikan pendinginan sesuai kebutuhan dengan mendeteksi penaikan suhu ketika pintu dibuka, bahkan mempelajari jam-jam berapa kita paling sering atau bahkan jarang membuka tutup kulkas dan menyesuaikan intensitas pendinginan yang pas dan efisien. Contohnya, ketika malam hari dia akan bekerja lebih ringan karena toh suhu luar dingin dan kulkas jarang dibuka-tutup. Gila ya kalau dipikir. Kulkas aja udah pinter. I love technology!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Efisiensi juga bukan hanya dalam hal benda-benda elektronik, tapi bisa juga pemilihan bahan yang lebih reflektif untuk memantulkan cahaya, sampai rancangan lemari yang memudahkan kita. Jadi nggak semuanya mesti yang berbau teknologi komputer gitu.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu...

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu…

Dan di masa depan, selain rumah yang mandiri listriknya, mestinya mobil juga sudah pakai listrik aja kan ya? Konsep itu juga diterapkan di Econation ini, rumah sudah siap dengan charger untuk mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Panasonic Econation ini benar-benar konsep yang saya suka. Jaman makin canggih, sudah semestinya juga semuanya makin efisien, makin pintar dan nggak boros energi. Ibaratnya orang yang semakin memakai otak ketimbang otot dalam melakukan apapun.

 

Penutup Kunjungan, Kereta Gantung Ke Genting!

Dari dulu kalau dengar Genting Highlands, tahunya satu hal: tempat berjudi. Bayangan sosok orang-orang berdandan rapi di ruangan casino yang mewah, semua dewasa, kalem dan berduit. Mungkin karena saya kurang gaul dan memang nggak hobi amat travel jadi nggak tahu yang sebenarnya. Hari itu ditutup dengan wisata ke Genting, yang cukup jauh dari KL dan setibanya di sana katanya kita akan naik cable car. Kereta gantung. Sip lah. Kirain deket.

Tinggi sekali!

Tinggi sekali!

Ternyata perjalanan dengan cable car dari perhentian bus menuju resort Genting cukup jauh. Perjalanan perlahan menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk segar, benar-benar pengalaman yang berbeda. Lebih asik lagi pastinya kalau saya nggak takut dengan ketinggian, yang bikin setengah perjalanan antara kagum dan cemas sendiri.

“Lho, mas takut ketinggian ya?”.

Saya sedang megang tiang di tengah kereta kencang-kencang.

“Menurut ngana?”.

Sampai juga di puncak Genting dan, lho. Kirain bakal seperti casino dengan orang-orang perlente macam James Bond, teryata lebih seperti taman ria buat keluarga membawa anak-anak. Yang tempat berjudi nya sendiri tertutup, dan saya nggak masuk ke sana. Sayang sekali kaki saya kumat sakitnya, jadi sementara yang lain sibuk ke sana-sini saya malah cari tempat duduk dan melakukan satu hal yang merupakan ciri orang Jakarta: nyari colokan untuk ngecharge hape.

Ternyata kayak begini toh...

Ternyata kayak begini toh…

Rombongan pulang ketika hari sudah gelap. Semua kelelahan dan tidur di bus, dan langsung beristirahat setibanya di hotel. Panasonic Econavi media trip berakhir sudah, keesokan paginya kami berangkat kembali ke Jakarta. Dua hari yang penuh kegiatan dan juga membuka wawasan baru buat saya. Terima kasih atas kesempatan ini, Panasonic.

Berkenalan Dengan Acer Aspire P3: Hybrid Ultrabook

Image

Perkenalkan laptop kerja dan teman syuting saya yang baru, Acer Aspire P3

Kapan terakhir kali punya laptop Windows yang bikin orang-orang ngelirik, nyamperin dan bertanya-tanya? Sebelum ini terus terang saya belum pernah mengalami begitu. Yang namanya laptop Windows itu generik, standard, antara satu dan yang lain nggak ada  perbedaan yang ‘wah’. Paling-paling beda jeroan atau jenis. Kemarin kita sempat kenal netbook untuk kerja ringan, atau ultrabook yang super tipis dan anggun. Tapi masing-masing bawa kompromi dan tetap saja laptop. Baru sejak Windows 8, mendadak laptop jadi bisa menarik lagi. Dirancang untuk bisa dipakai sebagai laptop maupun tablet, Windows 8 akhirnya membuat laptop jadi punya bentuk baru yang lebih beragam. Dan sekarang saya baru mengalami punya laptop yang bikin orang-orang melirik dan bertanya karena tertarik, namanya Acer Aspire P3, jenis Hybrid Ultrabook.

Hybrid Ultrabook, Binatang Apaan Lagi Tuh?

Image

Ultrabook & Tablet, Hybrid!

Biar nggak pusing dengan istilah teknologi, untunk gampangnya Acer Aspire P3 ini adalah gabungan antara laptop ringan dan tipis, dan tablet. Sebagai laptop, kemampuan dan spesifikasinya bukan kelas ringan. Nggak ada kompromi nanggung seperti jaman netbook, otak Aspire P3 adalah prosesor Intel i5. Sementara secara ukuran tetap relatif kecil, dan bisa bekerja sebagai tablet. Iya, tablet, layar sentuh. Kalau sudah pakai Windows 8 pasti tahu bahwa semua dirancang untuk bisa dipakai dengan layar sentuh. Acer Aspire P3 bisa dilepas dari keyboard dan dudukannya, dan jadi tablet Windows 8 yang ringan namun kuat.

Fashionable, Capable.

Beneran, baru kali ini ngerasain pakai laptop yang ternyata selalu menarik perhatian orang sekitar. Gimana nggak. Acer merancang Aspire P3 ini cukup fashionable. Ketimbang bentuk laptop biasa yang sudah ketebak, Aspire P3 sekilas kelihatan seperti tablet yang dibungkus jaket cover, atau bahkan sebuah buku catatan. Bagian luar dibalut dengan bahan semacam vinyl yang bertekstur mirip kulit sintetis, dengan warna hitam. Beneran sama sekali nggak kayak laptop. Saking stylishnya, kalau memungkinkan, saya sebetulnya lebih senang bawa-bawa si P3 ini tanpa tas, supaya lebih kelihatan. Iya, saya memang suka pamer kalau punya mainan keren dan unik.

Image

Stylish, lebih kelihatan kayak buku atau tablet ketimbang laptop.

Di balik kulit luarnya, Acer Aspire P3 terdiri dari dua bagian. Keyboard bluetooth sekaligus dudukan yang melekat pada cover, dan layar yang bisa dilepas menjadi tablet. Semua otak komputer ada di bagian tabletnya, Sebenarnya bingung sih, ini layar laptop yang bisa dilepas dan jadi tablet, atau tablet yang dipasangi keyboar dan jadi laptop? Nggak penting juga, yang penting bisa jadi dua-duanya. Nah kalau luarnya warna hitam, bagian dalam Aspire P3 didominasi warna silver yang kelihatan sangat elegan.

Selamat Datang, Touchscreen. Selamat Tinggal, Trackpad!

Image

Layar sentuh dan keyboard, nggak perlu trackpad.

Nggak ada trackpad di Acer Aspire P3. Yup, ini salah satu keunikan yang bikin banyak orang bertanya-tanya waktu pertama lihat. “Lho, ini nggak ada trekped nya ya, Ray?” Windows 8 yang dirancang bisa dipakai layaknya tablet, memungkinkan kita meniadakan trackpad karena semua bisa dilakukan langsung dengan menyentuh layar. Ribet dong? Nggak. Beneran. Mungkin nanti akan kaget betapa memakai Windows 8 dengan layar sentuh tanpa trackpad terasa natural.

Image

Dalam posisi duduk, layar si Aspire P3 ini letaknya menempel dengan tepi atas keyboard, jadi tangan kita sudah dekat sekali dengan layar. Tinggal angkat jari pun tersentuh, tangan nggak perlu menjulur sama sekali. Menyentuh layar bahkan terasa cukup natural, buktinya, sejak pakai si P3 ini, kalau kebetulan megang laptop atau komputer lain bawaannya mau nyentuh layar untuk nekan tombol. Sama seperti trackpad, touchscreen pastinya bukan cara ideal untuk operasi yang butuh akurasi seperti di aplikasi grafis atau editing foto. Untuk operasi yang panjang dan butuh akurasi, kita pastinya tetap bisa pakai mouse di P3 ini. Walau mungkin bukan yang pertama, ini tetap langkah yang cukup berani, dan mungkin ke depannya akan makin banyak hybrid yang meniadakan trackpad.

Feature & Power

2 tahun saya kerja cukup pakai netbook Acer. Saya udah niatin, kalau punya laptop satu lagi harus laptop yang kemampuan penuh, Windows 8, dan touchscreen. Ternyata ya, sekarang itu jeroan laptop udah bisa muat dalam bentuk tablet setipis dan ringan. Nggak lagi pakai nanggung ala era netbook.

Image

Fitur lengkap Aspire P3

Teknis dikit bentar nggak apa-apa ya, tapi seperti biasa nggak akan terlalu bahas ribet angka. Intinya, nggak usah khawatir akan kemampuan makhluk setengah tablet dan setengah ultrabook ini. Otaknya pakai Intel i5, prosesor serius, bukan macam Intel Atom yang, anu, pemalu. Cepat, nggak kenal lemot. Makin terasa kencangnya lagi karena hard disknya pakai yang namanya SSD yang lebih cepat daripada hard disk laptop biasa.

Image

Sound dengan Dolby Home Theater

Image

Tombol volume, power dan colokan headphone.

Image

HDMI dan USB 3.0

Colokan USB? Ada dong, dan udah USB 3.0 yang jauh lebih cepat, tentunya kalau disambung ke alat yang juga USB 3.0 ya. Mau tancap ke layar besar, Aspire P3 sudah ada colokan HDMI. Mau presentasi pakai proyektor (anak kantor bilangnya, ‘InFocus’, padahal itu merk) juga bisa, dalam kemasannya Acer sudah ngasih adapter dari HDMI ke VGA. Nggak perlu repot beli lagi. WiFi, Bluetooth, webcam HD, sudah pasti. Semua ini di bagian layar atau tablet nya. Keyboardnya ya keyboard aja.

Image

Keyboard fullsize, besar dan lapang.

Nah, bicara soal keyboard, pengalaman pertama makai P3 jadi lucu. Saking udah lama kebiasa kerja pakai keyboard ukuran netbook yang rada kecilan, pas makai si P3 jadi agak kagok. Kenapa? Karena keyboard Aspire P3 besar. Walau sekilas Aspire P3 kelihatan kecil, keyboardnya full size. Jarak pemisah antara tuts sangat jelas, nggak berdempetan. Satu lagi keunikan keyboard Aspire P3, walaupun secara fisik, menekan tuts nya terasa cukup masuk. Kirain keyboard setipis gitu bakal kayak ngetik di kayu, tapi ternyata masih sangat terasa normal, jarak tekan dan pantul balik tuts nyaman dan natural. Keyboard ini terhubung dengan Bluetooth dan punya batere sendiri di dalamnya. Jadi, harus dicharge juga kalau lampu indikatornya menyala kuning. Chargenya gampang, cuma ngambungin USB ke tabletnya, dengan kabel pendek yang disediakan Acer di kemasan.

Image

Tombol power dan colokan micro USB untuk charge keyboard.

Layar sentuh Aspire P3 cukup responsif dan multitouch, bisa merespon 10 titik sekaligus. Resolusinya pun sudah standard. Brightness nya lumayan oke, di tempat terang masih lumayan ‘ngelawan’. Ini penting sih buat saya yang kadang bawa dia ke lokasi outdoor kalau kerjaan motret atau syuting video. Sudut pandang cukup lebar, jadi nggak mesti lempeng amat depan P3 untuk ngelihat jelas. Tapi ya baek-baek ya kalau buka yang nakal-nakal, gampang keintip dari samping.

Nyaris Lupa, Kameranya Ada Dua.

Bukan cuma webcam! Haha! Lupa! Saking jarang dilepas dari dudukannya, terus terang saya nggak inget kalau Aspire P3 ini punya dua kamera. Selain webcam HD yang menghadap ke kita, di punggungnya ada kamera utama, resolusinya 5 megapixel.

Image

Kamera utama di punggung P3, resolusi 5 megapixel.

Berhubung saya bukan golongan yang hobi motret pakai tablet nan besar ya, jadi belum nyoba. Tapi seenggaknya, nice to know bahwa Acer cukup melengkapi fitur P3. Kalau sampai perlu, ada kamera 5 megapixel di punggung Aspire P3.

Pengalaman Baru

Setelah sekian lama kenal Windows, akhirnya ada juga perubahan yang segar. Mulai dari tampilan sampai cara pakai, berbeda banget dari yang dulu kita kenal. Dirancang untuk bisa dipakai dengan sentuhan, Windows 8 akan semakin terasa kecanggihannya di komputer yang menggunakan touchscreen, apalagi bisa dilepas menjadi tablet. Serba bisa. Ini pengalaman yang saya dapatkan dari memakai Aspire P3, komputer yang serba bisa, lebih modern, fleksibel, praktis juga bertenaga. Sebulan memakai P3, saya jadi merasa bahwa memang komputer seharusnya sudah berubah jadi seperti ini.

Image

Windows 8, Ultrabook, Tablet. Semau kita.

Saya belum menjajal P3 untuk kerja berat seperti video editing dengan Adobe Premiere, karena memang saya nggak ngedit di laptop. Tapi untuk kebutuhan kerja saya, P3 jadi alat bantu yang menyenangkan. Contoh pemakaian yang unik misalnya syuting video testimoni atau presenter, P3 bisa dilepas jadi bentuk tablet dan menjadi alat bantu baca teks. Di depan sang presenter, P3 menjadi semacam teleprompter.

Salah satu dari Aspire P3 yang mengesankan buat saya adalah kecepatan start-nya. Cuma beberapa detik, nggak pakai nunggu lama. Cepatnya ini lebih kayak tablet ketimbang laptop, yang begitu dibuka langsung instan nyala. Awalnya, kirain ini karena si P3 dalam posisi sleep, jadi ngebanguninnya cepat, karena itu saya coba shutdown aja. Sekalian ngirit batere. Ternyata dari posisi shutdown pun sama cepatnya, begitu buka, cuma beberapa detik langsung siap kerja. Nice!

Walau menyenangkan dan natural, memakai touchscreen ketimbang trackpad memang perlu membiasakan diri dulu. Ada beberapa action seperti klik kanan yang kemudian diganti menjadi sentuhan lama (nih istilah rasanya salah ya). Jadi untuk mengeluarkan menu, sentuh dan tahan sampai menu keluar. Dan sama seperti untuk semua laptop ataupun komputer saya, untuk yang perlu akurasi, saya tetap pakai mouse. Wireless, pastinya.

Image

Acer Aspire P3, sisi belakang tablet.

Sebagai benda yang bentuknya tipis, power Aspire P3 cukup mengesankan saya. Kombinasi otak Intel i5 dan storage SSD yang cepat memang sangat cepat. Belum pernah merasakan slow-down atau menunggu. Nggak ada istilah lemot. Untuk playback beberapa video full HD pun si P3 jalan tanpa ragu. Untuk kerjaan saya yang seputaran foto dan video, kekuatan ini sangat membantu. Dalam pengalaman saya makai P3 sebulanan lebih, kalau dalam pemakaian penuh, baterenya kuat sampai 5 jam lebih. Nggak wah, tapi kalau bisa, pengennya bisa lebih.

Image

Playback video HDnya mulus, jadi saya pakai buat preview kalau syuting.

Pengalaman penting nggak penting yang unik adalah bagaimana ke manapun bawa si Aspire P3 ini, yang pertama melihat pasti penasaran. Dan nggak jarang pula jadi tertarik. Ini bukan hal kecil lho. Kapan terakhir ada laptop yang bentuknya bikin penasaran? Biasanya kita lihat laptop ya melengos aja, laptop ya laptop. Tapi dari pengalaman saya melihat respon orang-orang sekitar, sepertinya Acer cukup berhasil membuat desain yang menarik.

Kalau Ada Yang Bisa Saya Ubah Dari Aspire P3…

Nggak ada yang sempurna, dan semenyenangkan apapun suatu perangkat, pasti ada yang bisa dibuat lebih baik. Kalau ada beberapa hal yang pengen saya ubah di Acer Aspire P3, pertama adalah membuatnya lebih ringan. Dalam bentuk tabletnya, Aspire P3 sangat enteng di tangan, tapi ketika menyatu dengan keyboard dan casenya, bobotnya jadi seperti laptop. Pengennya, apalagi dengan label ‘Ultrabook’, mestinya si P3 ini bisa lebih ringan sedikit lagi.

Kedua, daya tahan batere. Tapi ini bakal jadi kompromi dengan bobot, kalau batere dibuat lebih besar pastinya bakal nambah bobot kan? Ngelunjak nggak kalau saya pengen stamina batere 8-9 jam? Mungkin, tapi bisa jadi di generasi berikutnya ini bisa diwujudkan.

Layar sentuh P3 masih belum yang kebal minyak dan sidik jari. Rasanya ini juga kompromi, bisa aja Acer ngasih layar yang lebih kebal sidik jari, tapi kebayang bakal pengaruh ke harga. Mungkin solusinya nyari pelindung layar yang fingerprint-resistant.

Ada satu yang penting nggak penting sih, yaitu jaket atau keyboard-covernya. Cantik, keren, stylish, eksklusif, tapi di tangan saya bahannya agak cepat kotor dan membersihkannya agak susah. Nggak fatal, tapi ya saya senengnya tetep kinclong. Cara melepas tablet dari dudukannya juga agak serem, butuh dicongkel pakai kuku. Tapi di sisi lainnya, ini menjamin tablet nggak akan bisa lepas sendiri. Pengennya di generasi berikutnya dibuatkan yang lebih mudah tapi tetap aman. Dan walau ketika posisi berdiri, layar P3 duduknya sangat mantap dan nggak akan bisa bergeser, namun ketika terlipat, nggak ada yang ‘nyeklek’ atau apalah supaya dia nggak meleset.

Oh satu lagi ding. Card reader. Pengennya udah ada card reader-nya. Apalagi kerjaan saya banyak berkutat dengan SD Card.

Pada Akhirnya

Kalau sedang mencari-cari laptop baru, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook ini layak dilirik. Apalagi kalau baru akan upgrade ke Windows 8. Kemampuannya menjadi Ultrabook dengan prosesor berkekuatan penuh, digabung flesibilitasnya untuk menjadi tablet layar sentuh yang ringan dan praktis, membuat Aspire P3 jadi pengalaman bekerja yang baru dan modern. Ditambah lagi, Acer memberi bandrol harga yang sangat kompetitif untuk Aspire P3.

Image

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook – Tablet Mode

Apakah ini pilihan terbaik buat kamu? Ya tentunya kembali tergantung pada kebutuhan kerja juga budget. Setiap orang punya kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Paling tidak, dengan Aspire P3, Acer memberi kita satu lagi pilihan yang sangat menarik untuk jadi perangkat kerja utama. Saya sendiri sangat menikmati pengalaman berkomputer yang baru dan lebih modern dengan Aspire P3.

Untuk yang ingin tahu spesifikasi teknis lebih detail, dapat kunjungi link Acer ini.

Ketika Buku Tulis Bisa NgeGoogle: Samsung Galaxy Note 8

Meeting! Semua duduk, dan di hadapan masing-masing terhampar lah dokumen, atau laptop, atau sekarang, tablet. Dengan cover terlipat jadi stand, agak miring menghadap si pemakai, sudah terbuka email, Google, atau apalah yang berhubungan dengan kerjaan. Rapat dimulai, proyektor dinyalakan, pemimpin rapat pun menunjukkan foto mesumnya. Oh bukan. Presentasi PowerPoint nya. Sebagian mulai mencatat-catat catat. Pakai bolpen, di buku catatan.

Tetap pena dan kertas. Bukan di tablet.

Memang, semua tablet sekarang bisa buat nulis-nulis. Install app, beli stylus bisa. Tapi bahkan tablet yang terpopuler pun belum benar-benar dirancang untuk itu. Stylus rata-rata ujungnya karet tumpul, lebar, nggak murah pula. Kalau mau yang ujungnya seperti bolpen, lebih mahal lagi. Mayoritas memang nggak 100% terancang dari awal untuk memakai stylus yang sudah dianggap kuno, tapi Samsung dengan seri Galaxy Note nya justru sejak awal dikonsepkan untuk jadi buku catatan ‘Note’ pintar.

Samsung Galaxy Note 8

Samsung Galaxy Note 8

Sudah sebulanan lebih saya pakai Samsung Galaxy Note 8 baik untuk mencatat di meeting atau corat-coret cari ide. Awalnya sekedar ingin tablet baru dengan ukuran sedang, nggak ada ekspektasi khusus. Secara fitur pun Galaxy Note 8 kurang lebih sama dengan Galaxy Note 2 yang saya pakai sejak akhir tahun lalu, jadi sudah familiar dan nggak ada yang terlalu mengejutkan. Ternyata yang mengagetkan adalah bagaimana Galaxy Note 8 bisa mulai mengalihkan saya dari bolpen dan buku tulis. Sekarang saya mau cerita sedikit, kesan-kesan akan si Note 8. Seperti biasa, nggak pakai angka. Kalau cari spesifikasi teknis, banyak di internet.

Tablet Yang Manis

Desain bentuk Samsung Galaxy Note 8 ini bukan tipe maskulin, cenderung manis, mungkin bahkan agak feminin. Kecuali bentuk persegi layar, nggak ada garis lurus tegas di bodi-nya. Bisa dibilang, bentuk Galaxy Note 8 ini seperti versi besar dari rancangan Samsung Galaxy S3. Walau tampilan fisik Samsung Galaxy Note 8 ini bukan selera saya, tapi saya pikir coba aja dulu. Soalnya, saya yang dulunya benci dengan rancangan Galaxy S3 pun akhirnya jatuh cinta karena ternyata lekukan halusnya ternyata membuatnya nyaman.

Warna putih membalut muka dan belakang tablet ini, sementara bezel tipis dengan warna perak mengelilingi dan memberi aksen yang elegan dan pas. Kabarnya akan ada Samsung Galaxy Note 8 dengan warna coklat tua, tapi entah akan masuk sini atau nggak.

Bentuk rancangan Samsung Galaxy Note 8 cenderung manis.

Bentuk ‘manis’ dan ukuran yang lebih ‘pas’.

Ukuran adalah poin penting yang menentukan betapa efektifnya Samsung Galaxy Note 8. Dengan layar 8 inci, Galaxy Note 8 cukup besar sebagai ‘buku tulis’ dan cukup ringkas sebagai tablet. Setelah memakai Galaxy Note 8 ini, pendahulunya yaitu Galaxy Note 2 menjadi terasa terlalu kecil untuk menulis, sementara Galaxy Note 10.1 terkesan terlalu besar untuk dibawa-bawa. Nggak ada ungkapan lain soal ukuran Galaxy Note 8 selain “Pas banget!”.

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Bodi dari plastik tebal sepertinya membantu membuat bobot Samsung Galaxy Note 8  ringan dan tidak memberatkan dibawa-bawa.  Selain ringan, dari pengalaman pribadi, plastik yang sering dituding ringkih ternyata bisa lebih tahan benturan dibanding aluminium yang justru lebih mudah penyok. Satu hal aja yang saya kurang suka dari bahannya adalah ia terlalu mulus licin tanpa tekstur, sementara tangan saya cepat berkeringat, jadi yang terpikir pertama kali begitu memegang Galaxy Note 8 adalah “Mesti dipakein jaket, nih.”.

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Dalam paketnya, Samsung membekali Galaxy Note dengan semua kelengkapan standar yang sudah masuk ekspektasi kita seperti charger dan headphone yang juga adalah handsfree untuk fungsi telepon. Nggak ada yang terlalu istimewa di sini.

Fitur Khas Seri Galaxy Note, Dengan Pengalaman Baru.

Lebih dari smartphone atau tablet Android standar, Samsung merancang seri Galaxy Note untuk menjadi pena dan kertas digital yang pintar secara utuh. Semua perangkat pendukung sudah disiapkan Samsung. Stylusnya yang bisa membedakan tekanan dan juga mempunyai fungsi tanpa menyentuh layar. Aplikasi notepad aktif begitu kita mencabut S-Pen dari dudukannya, dan Quick Command yang membuat pengalaman bekerja dengan stylus tidak terputus ketika harus melakukan search. Ini baru sebagian kecil fitur khasnya.

Canggih memang, tapi sebetulnya semua ini bukan hal baru bagi seri Galaxy Note. Seperti pada seri sebelumnya, fiturnya terlalu banyak untuk diulas satu demi satu. Untuk Galaxy Note 8 saya cuma pengen ceritain yang terasa paling efektif dan menyenangkan dipakai. Walau bukan baru. Yang baru pada Galaxy Note 8, adalah sensasi dan pengalaman dalam menggunakannya.

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

Cabut stylus S-Pen dari dudukannya di sisi kanan bawah, dan Samsung Galaxy Note 8 langsung menampilkan aplikasi S-Note nya di layar. Nggak pakai masuk menu dan milih-milih app, dia sudah siap. Entah dalam meeting atau mendadak kita harus mencatat sesuatu, cabut saja S-Pen lalu tulis. Berbeda dengan generasi pendahulunya, kali ini ukurannya yang pas membuat pengalaman menulis jadi jauh jauh jauh lebih nyaman. Nggak jauh beda dengan notepad atau ‘notes’ yang biasa kita pakai untuk mencatat ini-itu, menyenangkan sekali.

Stylus Maximus

Bayangkan, buku tulis yang pintar dan bisa ngeGoogle. Ini kesan yang saya dapat dengan Galaxy Note 8. Tanpa harus meninggalkan stylus S-Pen, ketika search Google, kita cukup menggunakan fitur Quick Command.

Katakanlah, kita mau search tentang Jakarta.

Tarik garis lurus dari bawah layar ke atas, sambil menekan tombol di S-Pen dan kita akan disuguhkan layar khusus lalu cukup tuliskan dengan, “? Jakarta”, maka Google Search results untuk Jakarta pun muncul.

Nggak perlu berganti app, nggak perlu meletakkan S-Pen untuk mengetik search, dari kita sedang mencatat-catat tanpa terputus kita bisa melakukan banyak hal lain dengan S-Pen lewat Quick Command.

Sudah dapat hasil Google tentang Jakarta, lalu kita lihat ada gambar yang ingin kita kliping dan tempelkan ke catatan yang kita buat tadi? Gampang, kita cukup membuka gambar yang mau dikliping lalu sambil menekan tombol di S-Pen, tarik garis mengelilingi gambar tersebut. Begitu gambar terkelilingi garis, Galaxy Note 8 otomatis mengcopy bagian kliping kita dan menempelkannya pada catatan kita di aplikasi S-Note. Semua terancang begitu matang untuk menjadi buku catatan pintar.

Tapi dari semua fitur S-Note, favorit saya adalah Idea Sketch.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Note, Idea Sketch

Nah, kadang kalau sedang nyari ide, sketsa bisa membantu mengolah pikiran. Kita tahu, isi buku catatan kita bukan hanya tulisan, angka, garis dan panah penghubung. Kadang kita membuat gambar-gambar kecil yang membantu mengilustrasikan ide dan konsep dalam otak, dan seri Galaxy Note menyediakan fitur Idea Sketch untuk mempermudah kita menambahkan sketsa ke dalam catatan.

Cara pakai Idea Sketch

Tetap dengan S-Pen, cukup tap Insert Object di kiri bawah dan pilih Idea Sketch. Layar kemudian menampilkan ruang tulis, kita tinggal menuliskan apa obyek yang kita inginkan dan Idea Sketch akan mencarikan jika ada sketsa yang cocok. Katakanlah kita ingin menggambarkan mobil di dalam catatan, tinggal tulis “CAR” di Idea Sketch, lalu sederetan sketsa gambar orang ditampilkan untuk kita pilih.

Begitu sketsa dipilih, kita pun otomatis kembali ke catatan untuk meletakkannya. Idea Sketch adalah kumpulan obyek sketsa siap pakai yang bisa diakses lewat tulisan maupun menu, dibagi perkategori, dan kita bisa mendownload lagi sketch tambahan dari Samsung. Sekali lagi, tanpa harus meninggalkan S-Pen.

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword 'People', tinggal pakai.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword ‘People’, tinggal pakai.

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Konektivitas Lengkap

Ini baru sebagian saja dari banyak fitur Galaxy Note 8 yang juga memang sudah standar khas seri Note dari Samsung. Walau hanya sebagian, ini yang paling menggambarkan pembedaan antara Galaxy Note 8 dengan tablet 8 inci lainnya. Pembedaan yang kuat sekali, karena bukan hanya sekedar spesifikasi teknis tapi lebih ke fitur pemakaian. Sebagai tablet Android, tentunya Galaxy Note 8 memiliki lengkap semua kemampuan sudah menjadi kelengkapan dasar.

Konektivitas GSM 3G, WiFi, GPS dan Bluetooth lengkap tersedia. Kamera pun siap, baik depan maupun belakang, tapi saya nggak pengen bahas karena, ya, paling males lihat orang motret pakai tablet. Storage untuk menyimpan file bisa ditambahkan dengan Micro SD, dan kalaupun perlu disambung ke layar TV atau proyektor bisa beli adapternya.

Satu kejutan tambahan adalah: ada infra red blaster. Dengan ini dan app khusus yang sudah disediakan dari pabrikan, Galaxy Note 8 bisa menjadi remote control berbagai perangkat seperti TV, stereo, DVD, Home Theater dan lainnya, dari berbagai merek! Nice!

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV!

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV berbagai merek!

Fungsi Telepon

Galaxy Note 8 bisa jadi telepon. Sebelum pada memutar bola mata dengan sinis dan bilang “Siapa jugaaaa yang mau nelepon pakai tablet?”, saya bilang fungsi ini menolong sekali untuk isi pulsa dan daftar paket internet di sini, yang kebanyakan masih pakai USSD code macam *123# dan lain-lain. Dan ya, kalaupun mau dijadikan telepon ya gampang saja, pakai handsfree atau headset Bluetooth. Saya senang sekali Galaxy Note 8 juga dilengkapi kemampuan telepon selular. Lengkap sekali jadinya.

Batere dan Performa.

Saya sih nggak pernah secara khusus menguji stamina batere ataupun performa dari gadget ya, itu bagian para gadget reviewer yang doyan bahas teknis dan angka-angka. Soal batere, selama memakai Galaxy Note 8 rasanya belum pernah merasa cepat habis atau boros amat. Pemakaian terberat pribadi untuk bekerja dan nyala non-stop pernah tembus 6 jam dan masih sisa sedikit. Nggak ada keluhan dari sisi batere, bukan yang paling irit tapi juga nggak boros.

Performa sampai saat ini mulus tanpa cegukan, tapi sekali lagi, ini adalah dengan pola pemakaian saya ya. Satu-satunya jeda respon yang saya alami adalah ketika membuka setting dan memilih mengganti font di system. Selain untuk jadi buku catatan pintar, Galaxy Note 8 ini lebih jadi alat kerja buat saya buka dokumen seperti doc, xls, ppt dan pdf. Buka tutup dan berganti file Office dengan berbagai app Office Suite seperti Kingston dan Polaris terasa sangat cepat bahkan lebih menyenangkan daripada laptop. Saya nggak banyak test untuk game 3D apalagi untuk motret.

Kesimpulan

Dengan kelebihan fitur dan kenyamanan memakainya, rasanya terlalu mengecilkan kalau menyebut Samsung Galaxy Note 8 hanya sebagai tablet Android baru. Lebih dari sekedar alat konsumsi media atau  hiburan, buat saya Samsung berhasil menciptakan Galaxy Note 8 sebagai tablet yang ideal dan terancang penuh sebagai teman kerja. Kemampuan dan fitur S-Pen nya, dipadu dengan ukuran yang sangat amat pas, membuat saya akhirnya lebih mencari Galaxy Note 8 tiap akan ada meeting kerjaan dibanding buku tulis dan pena. Bagi saya yang fanatik orat-oret dengan bolpen dan kertas, ini hal yang luar biasa dan benar-benar nggak saya duga. Kadang, bawa laptop itu overkill dan bawa tablet biasa masih nanggung, dengan si Note 8 ini sudah beberapa kali terbukti cukup jadi andalan utama kalau meeting.

image

Tablet yang cocok untuk kerja.

Kalau ada yang ingin saya ubah dari Galaxy Note 8, paling utama adalah bagian punggungnya yang terlalu licin. Mestinya lebih bertekstur supaya mantap dipegangnya, atau sekalian saja dengan bahan yang seperti karet. Selain itu, menambahkan NFC supaya bisa dengan gampang bertukar dokumen dengan peranti lain, dan mungkin batere ditambah juga nggak ada salahnya. Soal bentuk, selera masing-masing ya, tapi warna memang mestinya ada lebih dari satu pilihan. Kalau mau kompetitif, harganya ditekan lagi.

Satu pe-er Samsung juga adalah menyertakan tutorial bagaimana memakai fungsi-fungsi dan fitur khas yang ada. Seri Note datang dengan segudang fitur, tapi mayoritas pemilik kurang tahu bagaimana memakainya. Ini sayang sekali dan jadi mubazir.

image

Samsung Galaxy Note 8

Pada akhirnya, apakah Samsung Galaxy Note 8 ini pilihan tepat buat kita? Kembali ke kebutuhan dan preferensi masing-masing. Kalau suka sekali menulis, mencatat, dan seperti saya, ‘orat-oret’ di buku tulis ketika mencari ide, rasanya Note 8 layak dilirik karena memang sangat terancang untuk itu. Hampir semua tablet bisa dibelikan app dan dipakaikan stylus, tapi sampai saat ini baru seri Note dari Samsung yang memang diciptakan dengan konsep menjadi buku catatan digital menggantikan pena dan kertas. Dan di ukurannya, Samsung Galaxy Note 8 bagi saya cukup berhasil memenuhi tujuan itu. Cukup bertenaga dan gesit untuk jalankan berbagai aplikasi, cukup kecil dan ringan untuk dibawa, namun juga cukup luas untuk tulis-menulis, tampaknya Samsung menemukan sweet-spot untuk seri Galaxy Note-nya.

Buku tulis pintar yang bisa nge'google.

Buku tulis pintar yang bisa nge’google.