Sony HVR-Z7E, HDV Camcorder Kecil dengan Interchangeable Lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

Saya kemaren kelilingan internet ngecek harga HVR-Z1 karena sempat dibahas di kantor, ada kemungkinan mau beli. Memang si zee-one ini udah terbukti ‘cukup’ untuk film-out produksi film lokal kita selama nggak butuh gambar yang cantik dan DOF cetek. Kalau gambar yang flat-flat aja udah cukup buat film kita ya si Z1 ini bolehlah, jangan harap gambar yang cinematic amat ya. Kalau mau invest lagi mending beli Letus35 Extreme sekalian, jadi kalau suatu saat kalau butuh gambar yang lebih layak, bisa pakai lensa 35mm. Di total-total yah abis sekitar 75-80jt lah untuk HVR-Z1 dan mesen Letus35. Tapi, ternyata saya ketinggalan berita, baru tahu kalau sekarang Sony udah ngeluarin satu lagi HDV kecil kelas Z1, namanya HVR-Z7E. Apa istimewanya? Yang paling penting buat saya, ini HD camcorder kecil Sony pertama yang lensanya bisa dilepas digonta-ganti. Yihiy… Seru deh.

Okelah, memang bukan bisa digonta-ganti seenak jidat, tapi hanya bisa dengan lensa video HD yang 1/3 inch, buatan Fujinon atau Canon. Rasanya jarang juga yang udah punya HD video lens, atau minimal, saya belum kenal yang punya. Sekalinya ada juga yang 2/3 atau 1/2 inch, kalau mau pake itu bisa juga pakai adaptor standard. Nah, yang serunya soal lensa ini adalah si Z7E bisa pakai lensa DSLR Sony Alpha! Saya nggak tahu benar apa nggak perkiraan saya, tapi mengingat Sony Alpha itu adalah turunannya Minolta Dynax, jadi mestinya doi jadi bisa pakai lensa Minolta dong ya! Mmmm… Menarik!

25p Progressive Scan, udah cukup untuk film-out. Walau yah, bagusan lagi kalau 24p sih sebetulnya. Tapi nggak apa lah saya nggak mau pusingin yang itu. Satu yang menarik lagi adalah Z7E ini sudah bisa menggunakan CF/Compact Flash cards biasa untuk perekaman berbentuk file bagi yag sudah pakai workflow yang file-based. Kerjaan transfer pasti jadi lebih cepat, dan bebas segala resiko scratch dan sebagainya yang biasa ada di media tape. Tapi, buat yang masih pakai tape-based workflow, Z7E ini juga masih memakai tape transport jadi bisa tetap menggunakan media DVCam. Kalau kata iklan sarung, “Resmi bisa, santai bisa”. Mau pakai CF card? Hayuk! Masih pakai DVCam? Siapa takut!

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Singkat kata, satu lagi kamera HD yang relatif murah sudah hadir dari Sony. Dirangkum secara singkat, poin-poin menarik dari HVR-Z7E adalah:

  • Interchangeable lens!
  • Bisa pakai lensa Sony Alpha atau lensa HD video 1/3″ Fujinon & Canon
  • Media fleksibel, merekam pakai DVCam atau pakai CF card!
  • Harga relatif terjangkau buat produksi kecil, cuma sedikit diatas HVR-Z1
  • Kabarnya, kemampuan lowlightnya setingkat Canon XL-H1 yang lebih mahal itu

Menimbang semua ini, saya jadi lebih condong untuk mengusulkan supaya produser beli ini aja dibanding HVR-Z1. Mestinya buat jangka panjangnya lebih menjanjikan, dan kalau nggak gengsi pakai lensa Alpha artinya nggak perlu lagi invest beli Letus35. Saya nggak akan bahas spec si HVR-Z7E, bisa aja langsung klik di sini untuk lihat di website-nya Sony atau klik di sini untuk lihat salah satu review di internet. Mau tahu soal harga? Saya cuma baru tahu harga kamera ini yang di website JPC Kemang, Jakarta, tapi lumayan lah udah ada yang garansi resmi Sony Galva.

Sejujurnya, semangat juga mau nulisin lebih detil lagi soal teknisnya tapi ngapain juga lah, udah banyak di mana-mana. Yang penting udah tahu kalau ada alternatif baru atas Sony HVR-Z1 dan Panasonic HVX-202. Mungkin habis ini saya sekedar bikin catatan tentang alternatif kamera lainnya biar nggak repot nge-google sana-sini lagi.

Iklan

Milih Kamera Untuk Produksi Film Ke Dua

Pakai kamera apa untuk produksi film berikutnya? Kalau insyaAllah jalan lagi, dan cerita TMK dapat greenlight, kayaknya kali ini saya mau pakai Sony HVR-Z1 aja. Kenapa sekarang mau pakai Z1 sementara kemaren waktu mau bikin “Setannya Kok Beneran?” saya ngotot nggak mau pakai Z1? Soalnya kalau ternyata gambar sederhana dan sinetron-ish seperti hasil akhir SKB kemarin bisa bekerja untuk bikin penonton terhibur, nggak usah buang duit pakai DVW 790. Nggak perlu mewah-mewahan pakai segala UltraPrime lagi. Film-film lain sudah membuktikan kalau si Z1 ini cukup kalau nggak perlu gambar yang beauty amat. Kalau saya tahu hasil gambar SKB cuma akan segitu aja, saya pun nggak akan buang budget untuk pakai Sony DVW 790.

Sayangnya, penyewaan HVR-Z1di Elang cuma kameranya aja to’, sementara ngebujukin produser untuk langsung beli Z1 agak susah karena yah, emang doi sangat amat hati-hati itungan. Padahal kalau emang ni PH mau jalan serius di layar lebar nggak ada ruginya beli Z1 barang sebiji. Paling berapa sih? 55 juta? Buat ukuran PH yang mau serius di layar lebar sih itu murah banget. Lalu sekalian aja beli Letus35 buat 35mm adapternya, 15 jutaan lagi dan voila! Jadi punya kamera HD 1080i murmer yang bisa bikin shallow depth of field! Saya ragu kalau Elang akan menyediakan 35mm lens adapter untuk Z1-nya karena resiko membuat DVW 790 dan DVW 970 nya jadi nggak gitu laku. Untuk bisa pakai lensa 35mm, DVW 790nya Elang pakai adapter Angineux yang katanya light-loss nya turun 2 stop, sementara DVW 970nya pakai P+S Technik. Kamera mahal, adapter mahal. Sewa paketannya kisaran 5-6 juta per hari. Sementara kalau Z1? Terakhir nanya, masih 600 ribu harian. Beda budget-nya langit-bumi tapi ya, jangan harap mudah dapat gambar dengan DOF yang cetek.

Sekarang saya juga mau mulai browsing dan riset tentang si Z1 ini. Yang saya penasaran adalah, dari film-film yang udah dibuat pakai Z1, pada pakai 24p atau 30p? Pakai 720p atau 1080i?