30 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

20170222_070744

Setahun lebih janji untuk main ke kantor teman di Xiaomi Indonesia, baru Februari kemarin akhirnya kami ketemuan, ngobrol, nggosip, dan berkenalan dengan smartphone “Made in Indonesia” pertama Xiaomi, Redmi 4A. Memberikan satu unit demo untuk diulas, Xiaomi mempersilakan saya untuk berbagi kesan dan pengalaman memakai Redmi 4A, sebebas-bebasnya. Kelebihan, kekurangan, positif, dan negatif. Setelah sebulan lebih memakai, ini kesan-kesan saya tentang smartphone Android berharga Rp 1,4 juta rupiah ini. Nggak ada waktu untuk baca tulisan panjang? Rangkuman kesan pribadi saya kira-kira begini.

Kelebihan:

  • Spesifikasi dan penampilan bagus untuk harganya
  • Baterai yang seperti tidak habis-habis
  • MIUI 8 enak digunakan
  • Ringan

Kekurangan:

  • Kamera yang biasa saja
  • Charging agak lama
  • Punggung sepertinya mudah tergores

Seperti biasa, saya tidak ingin membahas angka dan spesifikasi teknis di sini, untuk yang membutuhkan informasi spec, dapat langsung klik di sini. Berikutnya, ini pengalaman saya.

Kesan Pertama: Penampilan Yang Mengecoh

“Eh, bagus ya.”, itu kalimat pertama saya waktu mengeluarkan handset dari box dan membolak-baliknya. Kejutan kecil, karena kalau melihat dari foto-foto di web, sama sekali nggak ada yang unik, menarik apalagi istimewa dari desainnya. Langkanya desain unik memang salah satu hal yang membuat saya belakangan kurang bersemangat dengan berita dunia per-smartphone’an. Di luar spesifikasi, rasanya semua terlihat sama, hanya persegi panjang dengan layar, kemudian ada merek A yang meniru merek B, dan merek C yang ‘terinspirasi’ merek D, dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan Redmi 4A, tampak depan sangat umum, sisi belakangnya mengingatkan saya pada rancangan HTC, sudut lainnya mungkin iPhone, and so on. Penampilan muka Redmi 4A cukup generik dan bahannya biasa saja, tapi sisi-sisi lainnya, samping, punggung, tampak dan terasa mengesankan di genggaman.

20170222_071321

Penampilan Redmi 4A bagi saya ‘mengecoh’, dalam arti bisa tampak lebih ‘mahal’ dari harganya, sementara bobotnya yang sangat ringan walau menyenangkan jadi tidak mengesankan produk yang kokoh. Tanpa membandingkan dengan yang lain, hape ini rasanya ‘seenteng angin’, dan ini bisa jadi hal positif maupun negatif. Di sisi baiknya, ia tidak akan membebani saku, sementara di sisi lain, saya sering jadi harus cek kantong untuk memastikan handset ini ada karena tidak terasa. Walau ringan, Redmi 4A tidak terasa kopong atau terlihat plastik, apalagi dengan kesan logam warna metalik punggungnya. Berharap dapat bodi metal di kelas harga ini? Ya enggak lah, namun bahan punggung Redmi 4A ini membawa saya ke satu hal lainnya.

20170222_070922

Ini tip dari saya: sebaiknya segera berikan Redmi 4A mu casing, karena walaupun tampak kuat, sepertinya punggungnya retan tergores. Ini hal yang saya temukan secara tak sengaja dan cukup membuat ‘nyesek’, karena terjadi saat sedang senang-senangnya baru memakai hape ini. Nggak sengaja menaruh handset ini di saku bersama koin dan kunci mobil, saya menemukan dua baretan halus yang sebelumnya tidak ada. Memang bukan goresan dalam, dan tidak terlalu terlihat, tapi tetap saja disayangkan. Jadi, bagi yang berminat membeli Redmi 4A, saya sarankan langsung beli casing pelindung. Mungkin sekalian juga pasang screen protector kalau mau, toh nggak mahal. Keep it pretty.

Kesan Kedua: Batere Stamina Tinggi & Performa Andal

Walau hape ini bisa memakai 2 SIM card, saya hanya memakai satu slot dan yang  satu lagi dipakai untuk memory card. Xiaomi Redmi 4A mengambil alih posisi hape ke dua saya, yang pemakaiannya tidak kalah dari hape utama. Fitur-fitur krusial semua ada di Redmi 4A, tak terlupakan IR blaster untuk menjadi remote control entah TV, AC dan lainnya. Hape ini datang di masa yang berat bagi saya, di mana mayoritas hari-hari dilalui menunggu orangtua yang diopname di rumah sakit dalam kondisi kritis. Dalam situasi itu, pemakaian smartphone jadi lebih aktif dari biasanya. Tanpa banyak yang bisa dilakukan saat jaga, media sosial, text messenger, streaming dan juga game jadi cara mengatasi stres juga kejenuhan. Sementara nomor utama saya bolak-balik harus dicharge dalam sehari, saya terkesan dengan stamina batere Xiaomi Redmi 4A ini yang seperti tidak habis-habis. Mestinya semua smartphone bisa begini, memudahkan sekali.

Dengan pola pemakaian yang sebanding dengan Galaxy S5 tua saya, Redmi 4A bertahan jauh lebih lama, dan pulang di tengah malam dalam kondisi yang belum harus dicharge. Itu kalau aktif, bagaimana kalau jadi hape backup yang lebih sering dalam posisi standby? Sampai dua hari pun Redmi 4A saya belum perlu ditancap ke charger. Penasaran, saya cari tahu soal kapasitas baterainya. Pantas saja, batere Redmi 4A lumayan besar untuk spesifikasinya. Satu saja yang perlu diperbaiki, pengisian ulang/charging batere Redmi 4A rasanya relatif lama.

Untuk Android kelas ini, spesifikasi teknis tidak akan muluk, namun untuk harganya tetap cukup baik. Tidak kurang. Contohnya, layar. Sudah lama terbiasa dengan layar Full HD 1080p, untuk turun ke sekedar HD lagi membuat saya ragu, tapi nyatanya resolusi 720p HD sudah sangat bagus untuk ukuran 5 inci Redmi 4A. Tidak sedikitpun saya merasa ada yang kurang tajam di tampilannya. Semua tampak tajam, crisp, kinclong. Sementara kita tahu di kisaran harga ini masih ada juga merek-merek yang belum memberi resolusi HD.

Sekedar supaya bisa membahas performa, saya sempat meng-install beberapa game. Aplikasi-aplikasi biasa seperti media sosial, messaging, navigasi dan lainnya sudah pasti berjalan mulus tanpa cegukan, tapi game lebih menuntut. Karena bukan gamer, saya mencoba beberapa game yang saya kira lumayan butuh tenaga. Biasanya, driving game perlu kemampuan grafis yang baik, dan saya mencoba Asphalt Nitro yang berjalan mulus pada setting maksimal. Sama halnya dengan game FIFA Mobile Football yang lancar tanpa hambatan. Dari beberapa game yang saya coba, adalah shooting game Sniper 3D Assassin yang mengalami sedikit cegukan di setting grafis tertingginya, itu pun hanya saat replay. Bukan masalah. Overall, bagi saya Xiaomi Redmi 4A sudah cukup untuk jadi alat hiburan/casual gaming yang menyenangkan.

20170305_140559

Kesan Ke Tiga: Kamera Kurang Greget

Di kisaran harganya yang di Rp 1,4 juta, kemampuan kamera adalah sesuatu yang saya pasrahkan. Nggak ada ekspektasi. Dan pada akhirnya memang kamera Redmi 4A bagi saya sekedar cukup dan fungsional. Suatu hari, untuk melepas stres saya memutuskan untuk menepi dan mampir di sebuah taman di Jakarta Selatan, sekalian menjajal kamera belakang hape ini. Hari itu langit agak kelabu, namun cukup terang dan panas. Taman kecil itu ternyata cukup indah dan menyenangkan, saya memotret sana-sini, sampai dihampiri sekuriti. Hasilnya, sangat hambar. Kualitas foto 13 megapixelnya rasanya cukup saja, namun di mata saya warna-warnanya mati dan tidak menggugah, tidak membuat saya ingin memotret lebih banyak.

Untung, Xiaomi dengan MIUI nya tidak pelit memberi fitur dan setting kamera, dan yang belakangan saya temukan adalah dengan sedikit mengubah pengaturan ketajaman dan saturasi, Redmi 4A kadang bisa memberikan hasil foto yang lumayan mengesankan. Sepertinya, untuk tiap objek bisa jadi lebih baik jika dicoba dengan setting berbeda. Jika sebelumnya di taman tadi saya tidak berhasil mendapatkan warna bunga yang ‘keluar’, di kesempatan lainnya hanya dengan sedikit mengutik saturasi, Redmi 4A kadang berhasil memberikan foto yang warnanya lebih memikat. Jangan lupa, warna juga termasuk selera pribadi.

Saya tidak punya referensi pembanding pabrikan lain yang sekelas, namun mungkin bisa disimpulkan untuk kelas harga ini, kamera belakangnya cukup baik asalkan pencahayaan cukup. Untuk kamera depan memang saya tidak banyak mencoba, cuma rasanya lensanya cukup wide jadi selfie bisa sedikit lebih jauh (nggak usah dipasang fotonya ya, malu), dan rasanya resolusi 5 megapixel pun cukup besar. Di sisi fitur video, sama juga, tidak ada catatan istimewa, namun bisa dipakai. Overall, semua soal kamera di hape ini bagi saya sekedar mencukupi. Jangan khawatir, Instagram mu tetap bisa keren.

Kesan Ke Empat: Fatwa ke 8 dari MIUI

Hampir semua pembuat gawai Android membungkus sistem operasi dengan antarmuka khas nya masing-masing. Antarmuka, atau interface, itu lho, yang tampil di layar dan memandu kita menggunakan peranti. Walau sama-sama pakai Android versi X, dari merek ke merek beda tampilan dan cara memakai ya karena ini, masing-masing pabrikan punya antarmuka, user interface atau ‘UI’ sendiri. Nah, Xiaomi dari dulu sangat mengangkat dan membanggakan UI khasnya, yang namanya MIUI. Saya pertama berkenalan dengan MIUI di Redmi 2 Prime, 2 tahun lalu. Waktu itu kesan saya adalah, bagus, sangat terancang dan rapi, tapi di beberapa hal justru tidak intuitif, alias mesti belajar dulu. Saat itu, sementara saya menyukai hardware Xiaomi, bagi saya MIUI overrated. Ini yang membuat saya skeptis waktu akan mulai memakai Redmi 4A. Ternyata, banyak yang bisa berubah dalam 2 tahun.

Xiaomi Redmi 4A saya menjalankan MIUI versi 8.2.10 yang ternyata menyenangkan dipakai. Jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Rasanya, yang belum pernah memakai hape Xiaomi pun tidak akan mengalami hambatan atau kagok memakai antarmuka ini. Antarmuka khas Xiaomi yang membungkus Android Marshmallow ini simple, lincah, dan memberi banyak kemudahan, seperti memberitahu kita jika file sampah sudah terlampau banyak dan menawarkan pembersihan. Ada fitur ‘Second Space’ yang bisa memisahkan hape kita seperti menjadi dua hape berbeda, berguna jika hape sering dipinjam. Lalu ada juga ‘Dual App’, ini memungkinkan pengguna memakai dua akun di satu app, misalnya butuh Whatsapp atau Facebook aktif dengan dua akun berbeda. Lewat MIUI, Xiaomi memang menunjukkan perhatian mereka pada kebutuhan pengguna. Ada sih, satu dua hal memang masih menggelitik, seperti tombol ‘Home’, mestinya membawa kita halaman ‘Home’, namun di MIUI, jika app kita berada dalam suatu folder, menekan ‘Home’ hanya mengembalikan kita ke folder. Selebihnya, saya tetap prefer ada app drawer, namun hal-hal ini ini juga bukan sesuatu yang terlalu krusial. Secara keseluruhan, MIUI sekarang ini melengkapi sisi hardware yang baik dengan pengalaman pemakaian yang memudahkan.

Kesimpulan

Secara mengejutkan, saya sangat betah memakai Redmi 4A. Di luar kameranya yang kurang mengesankan, hape entry level Xiaomi ini sangat menyenangkan dipakai, dan ini sebagian besar kontribusi faktor stamina baterenya. Saya tidak perlu fingerprint lock, tidak juga ngidam body metal, bahkan tidak tmementingkan RAM 2GB yang dibenamkan di hape ini. Terutama untuk hape ke-dua, pada dasarnya yang saya butuhkan adalah Android 4G yang bisa diandalkan, kalau tak harus sedikit-sedikit di-charge pastinya lebih baik. Kesan terbesar Redmi 4A bagi saya memang stamina baterenya. Dampak iritnya batere tidak bisa diremehkan, ia memberikan ketenangan dan keyakinan dalam memakai; bahwa ketika dibutuhkan, hape masih mempunyai daya yang cukup. Di harga Rp 1,4 juta, Redmi 4A patut dipertimbangkan siapapun yang membutuhkan smartphone Android andal dengan budget konservatif. Mencari hape ke dua atau backup phone? Saya berani mengatakan Xiaomi yang satu ini tidak akan mengecewakan.

20170222_071250

Ethics Statement:

Perwakilan Xiaomi Indonesia memberikan handset Redmi 4A untuk keperluan ulasan. Tidak ada transaksi, ikatan perjanjian, maupun kewajiban untuk menuliskan apapun, terutama yang bersifat endorsement. Ulasan di blog ini adalah opini pribadi berdasarkan kesan dan pengalaman pemakaian apa adanya.

Iklan

Dear Samsung, About Your Galaxy Note 7

image

I’m a fan of the Galaxy Note series. They’re probably the most full featured smartphone out there, although does comes with quirks, as I have experienced. What happened with the Galaxy Note 7 is far from a quirk. It’s a hazard and a disaster, one you should remedy fast, and it irks me that you have not. You have been very slow and incredibly hesitant. But you can still fix it.

The name Galaxy Note 7 is dead. No matter how many rave reviews you had, it’s now dead. With explosions still happening, airlines all over the world starting to ban the set, it’s dead. Your half hearted recall is a mistake and you workaround of labels, stickers and IMEI check will not be enough. As long as it says Galaxy Note 7, people will not take risk. Why spend hundreds of dollars on something known for blowing up on a whim. These things we hold in our hands, put in our pockets, press against our face, why risk it. And not only that, after purchasing it for hundreds of dollars, you’ll get fussed about it at the airport, on a plane. You need to seriously recall all sold product, as they are now a hazard. Don’t wait until there are real casualty caused.

If I were you, not only I will do official recall and fix, but I will also scrap the name Galaxy Note 7. It’s dead. But after making sure of safety fix, you can still sell them, but you need to rename it. Call it Galaxy Note 7R or 7S or whatever, change the markings on the product and packaging, and announce it. That way, it helps people differentiate, it’s not the old kaboom-prone Galaxy Note 7 anymore. It’s the revised version, the normal, safe version. You can do this if you want to, Samsung.

Or just scrap the product itself. But I don’t think you’d want that. Just at least do something real. First, ensure consumer safety, recall all. Second, fix your product, quadruple check. Third, assuming you still want to sell them, change the name, marking, packaging.

Sincerely,

A Note series fan.

JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

Kesan Pribadi: Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Dikenal sebagai varian ponsel Android yang terjangkau dan berkualitas, Redmi adalah seri entry level andalan Xiaomi. Setelah sukses dengan Redmi dan Redmi 1S, maka di tahun 2015 ini Xiaomi merilis penerusnya yaitu Redmi 2, yang tak lama kemudian disusul oleh versi upgradenya, yaitu Redmi 2 Prime Edition. Pada dasarnya, masih ponsel yang sama, dengan beberapa peningkatan yaitu di memori dan penyimpanan internal. Lama mendengar dan membaca berbagai bahasan tentang Xiaomi, akhirnya saya berkesempatan mencoba Redmi 2 Prime Edition, dan ini adalah kesan pribadi saya setelah hampir dua bulan memakai.

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Sekilas Kelengkapan

Dengan harga sekitar Rp 1,8 juta di pasaran, Redmi 2 rasanya memberikan fitur yang cukup komplit. Untuk sambungan seluler dan data, bukan hanya dibekali 2 slot SIM card yang aktif berbarengan, Redmi 2 sudah mampu menggunakan jaringan 4G LTE. Bluetooth, wifi dan GPS dipastikan hadir sementara absennya NFC di kelas ini rasanya wajar. Sistem operasi bawaan dari pabrik adalah Android Kitkat, dengan antarmuka MIUI 6.7 yang kabarnya akan segera mendapatkan pembaruan ke MIUI 7 di November 2015 ini.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Lebih besar dari Redmi 2 versi pertama, Prime Edition mempunyai kapasitas penyimpanan internal sebesar 16GB dan memori 2GB RAM. Jika pun storage dirasa kurang, masih ada slot untuk Micro SD sampai dengan 32 GB. Kamera hadir di depan dan belakang, merekam foto dengan resolusi 8 dan 2 megapixel, juga video Full HD. Untuk tampilan. Redmi 2 menggunakan layar 4,7 inci dan resolusi gambar HD. Rasanya, ukuran handset ini termasuk pas, tidak kecil, dan tidak juga besar.

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan) dan AndroidOne (kiri).

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan, pelindung layar belum dilepas) dan AndroidOne (kiri).

Untuk yang ingin tahu spesifikasi detil, klik di sini.

Kesan Fisik & Desain

Tidak ada yang unik di rancangan bentuk Redmi 2, hanya bodi hitam dengan layar, tanpa aksen pemanis sama sekali. Jika tidak sengaja mencari, mungkin saya pribadi tidak akan melirik sama sekali, karena tampak sangat generik, namun memang tak ada ekspektasi khusus di rentang harga ini. Yang terasa beda hanya penempatan lampu notifikasi yang berada di bawah, sementara kebanyakan Android meletakkannya di atas dekat kamera depan. Xiaomi menempatkan tombol volume di atas tombol power, dan keduanya berada di sisi kanan. Ini bukan yang pertama, dan sedikit mengganggu saya pada awalnya. Baru di hari ke dua saya menyadari bahwa penutup belakang sebenarnya berwarna abu-abu metalik, cover yang terbuat dari plastik ini juga tak memiliki tekstur apapun selain logo Mi.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Di balik kesederhanaan rancangan fisik Redmi 2 yang membosankan di mata, saya menemukan beberapa hal yang justru mengesankan. Pertama, layar sentuh ternyaman yang pernah saya gunakan. Sementara kebanyakan pabrikan mengandalkan Gorilla Glass buatan Corning, Xiaomi menggunakan Dragontrail Glass dari AGC, dan mungkin ini lah yang membuat perbedaan sensasi ini. Tentunya, ini kesan pribadi dan tiap orang bisa berbeda. Demikian pula dengan back cover nya yang terbuat dari plastik, walau hambar secara desain, terasa sangat mantap dan keras di genggaman. Tidak ada derit atau tekukan, Xiaomi membuat Redmi 2 terasa kuat, solid, dan lebih mahal daripada harganya. Hal-hal positif ini hanya dapat dirasakan sendiri, dan tak ada foto ataupun video yang bisa menggambarkannya.

Kesan Pemakaian & Performa

Entah sugesti atau bukan, tapi sejak awal dinyalakan rasanya Redmi 2 menjanjikan pengalaman yang beda. Ada kesan bersih, minimalis, dan lebih tertata. Mungkin ini disebabkan oleh dua hal positif pertama yang langsung terlihat, yaitu tampilan layar tajam dengan warna yang tampak akurat, dan bagaimana Xiaomi tidak menjejali ponselnya dengan bloatware, atau aplikasi-aplikasi tak penting yang akhirnya hanya memakan tempat. Tak lebih dari 20 app, hanya fungsi-fungsi paling dasar yang memang kita butuhkan, dari kalkulator, bar reader, radio FM dan music player. Tentunya sebagai gawai Android, aplikasi-aplikasi dasar Google seperti Gmail dan Google Maps juga disematkan sejak awal, dalam satu folder tersendiri. Selebihnya, terserah kita. Tak perlu repot men-uninstall atau menon-aktifkan bloatware, dan penyimpanan internal pun tak banyak terbuang.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Tools dari Xiaomi. Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Lincah dan gesit tanpa tersendat, selama 1,5 bulan pemakaian reguler belum ada penurunan performa yang dirasakan. Membuka, menutup, berpindah antar aplikasi dijalankan Redmi 2 Prime Edition tanpa jeda berarti. Tak ada lagging, tak ada jeda yang membuat kesal. Bagi saya, kecepatan Xiaomi ini bebas dari keluhan dan jauh dari lemot. Mayoritas aplikasi media sosial dan game populer seperti Clash of Clans berjalan mulus di Redmi 2 saya, namun bukan berarti 100% sempurna juga. Sejak awal pemakaian ada sekitar 5-6 kali kejadian force close aplikasi, di antaranya di Snapchat, Path dan VSCO. Tentunya, ini belum tentu disebabkan oleh gawai, karena bisa jadi ada ketidakcocokan di aplikasi. Secara keseluruhan, performa Redmi 2 sangat memuaskan bagi saya, bebas dari kesan ‘entry level’. Yang berkontribusi terhadap kesan ini sebagiannya mungkin adalah MIUI.

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Bicara Xiaomi, berarti bicara MIUI, antarmuka khasnya yang sudah mempunyai penggemar sendiri. Kita tahu, walau menggunakan sistem operasi yang sama, hampir semua pabrikan Android membuat antarmuka dengan gaya dan keunikannya sendiri. Sementara mayoritas antarmuka mendapatkan kritik entah karena memberatkan ataupun sekedar buruk rupa, MIUI mungkin satu-satunya yang mendapatkan banyak pujian. Mulai dari penampilan, kelincahan, kelengkapan dan kemudahan, begitu sering pujian dilontarkan terhadap interface khas Xiaomi. Setelah lama mendengar dan membaca tentang MIUI ini, akhirnya saya kesampaian menjajalnya di Redmi 2 Prime Edition.

Untuk masuk pengelolaan home screen ini, harus pakai gestur pinch 2 jari.

Bukan ‘long press’, untuk masuk pengelolaan home screen ini, pakai gestur pinch 2 jari.

Di luar dugaan saya yang sebetulnya antusias, perkenalan dengan MIUI terasa canggung dan sedikit bikin geregetan. Apa pasal? Beberapa hal sederhana yang sudah begitu terbiasakan di Android dibedakan, hingga harus mengganti kebiasaan. Mulai dari pengaturan layar Home, untuk memulainya MIUI mengajarkan kita untuk melakukan gestur pinch dengan dua jari, layaknya mengecilkan gambar. Yang biasanya cukup dengan satu jari ditahan, sekarang di MIUI harus dengan gestur dua jari. Pengaturan yang memakai slider seperti di Screen Brightness pun ada bedanya. Jika biasanya kita bisa tap di mana saja di garis slider, di MIUI kita harus tap tepat di titik pengaturan, sebelum bisa digeser kanan-kiri.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Dan bicara layar Home, bersiaplah untuk lebih repot mengatur karena MIUI meniadakan App Drawer atau laman khusus penyimpan aplikasi. Alih-alih punya laci khusus, aplikasi dan widget akan menempati laman-laman yang sama. Bersiaplah untuk lebih rajin membuat folder, jika banyak memasang app. Ya, akhirnya seperti iOS di gawai Apple. Ini disusul dengan kejutan aneh lagi. Ketika menekan tombol Home, saat membuka app yang sudah kita tempatkan dalam folder, MIUI akan membawa kita kembali ke layar folder dan bukan ke layar Home. Walhasil, jika mau kembali ke Home mesti menekan dua kali. Kalau saya mau kembali ke folder, saya akan tekan back, sekarang buat apa tombol Home kalau fungsinya bukan langsung membawa ke Home?

Pengaturan volume utama dengan tombol fisik di kanan gawai.

Menekan tombol volume akan mengatur moda suara relevan saat itu.

Untuk masuk menu ini, buat gestur lingkaran setelah ikon volume tadi muncul.

Untuk masuk menu ini, harus pakai gestur lingkaran setelah ikon volume tadi.

Perancang MIUI sepertinya berprinsip, “apapun yang berupa gestur, gerakan, pasti lebih intuitif daripada menekan”. Contohnya, ketika menekan tombol volume, dan kita ingin masuk ke pengaturan yang lebih dalam, di kebanyakan Android, kita tinggal menekan tombol di window volume yang muncul. Di MIUI saya mencoba berkali-kali tap volume yang tampil setelah menekan tombol, tidak ada reaksi. Ternyata harus membuat gestur lingkaran, barulah pengaturan volume Media, Notification dan lainnya keluar. Bahkan TouchWiz, UI Samsung yang paling banyak dicela karena berat dan dianggap tuna-estetika pun tidak membuat saya mesti belajar dulu. Bagi saya pribadi, intuitif adalah ketika kita tidak perlu terlalu belajar dulu. Saya dan siapapun pada akhirnya akan terbiasa, namun hanya karena ‘pada akhirnya terbiasa’, tidak berarti tidak ada cara yang lebih mudah. Semoga para perancang MIUI terus mengembangkan antarmukanya agar makin intuitif.

MIUI lebih cerdas menawarkan pilihan ketimbang 'Just Once' & 'Always'.

Opsi ‘Remember my choice’, lebih cerdas ketimbang harus ‘Just once’ & ‘Always’.

Di luar ‘hal-hal kecil’ tadi, saya merasa MIUI adalah user interface ponsel Android yang paling lincah, matang dan terancang, baik dalam fungsi maupun tampilan. Keluhan kecil di atas bahkan terasa kontradiktif dengan keseluruhan rancangan Xiaomi yang terkesan sangat memerhatikan keinginan pengguna Android. Contohlah ketika membuka sesuatu tautan yang dapat menggunakan beberapa app, biasanya kita akan memilih aplikasi, plus opsi ‘Just Once’ atau ‘Always’. MIUI mengirit satu langkah dengan mengasumsikan kita hanya mau menggunakan app terkait sekali saja, dengan opsi berupa radio button yang bisa dicentang jika kita ingin selalu menggunakan aplikasi tersebut. Cerdas. Kematangan ini terasa lagi diantaranya di menu Settings, yang saya pribadi rasakan paling sederhana, ringkas dan mudah di antara yang sudah pernah saya miliki. Sekali lagi ada kesan mirip dengan Apple iOS, Settings hanyalah satu halaman dengan list. Tak bingung mesti memilih tab yang mana, semua terpampang jelas dan logis. Mestinya semua gawai Android ya begini.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Favorit saya dalam menggunakan Redmi 2 dan MIUI-nya, adalah manajemen memori yang proaktif, ya, ini istilah karangan sendiri. Saya adalah pengguna Android yang terlalu malas untuk memeriksa berapa RAM yang terpakai, berapa cache memory yang menumpuk, berapa app yang harus ditutup, dibersihkan, dan lainnya. Bahwa seorang user harus memikirkan kesemua hal itu saja bagi saya sudah merupakan kekurangan besar dari Android. Karena itu, adalah kejutan menyenangkan bagi saya ketika notifikasi di Redmi 2 pada suatu hari memberitahu saya, bahwa ‘sampah’ memori saya sudah mencapai sekian MB dan bisa dibersihkan dengan satu tap.

MIUI proaktif memberitahu kita jika 'sampah' memori menumpuk.

MIUI proaktif memberitahu kita jika ‘sampah’ memori menumpuk.

Dan membersihkan berbagai 'sampah' memori pun cukup satu tap.

Dan membersihkan berbagai ‘sampah’ memori pun cukup satu tap.

Pro-aktif, MIUI mendului dan memudahkan saya mengatasi hal yang biasanya merepotkan. Mau melakukannya sendiri? Semua ada di aplikasi Security dari MIUI, di dalamnya lengkap dari Cleaner untuk pembersihan memori dan penyimpanan, hingga pemindai virus. Semua dengan tampilan bersih, minimalis dan mudah dipahami. Ini dan beberapa kelebihan lainnya membuat saya lupa, bahwa Redmi 2 ini dari pabriknya masih berbasis Android Kitkat.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner. Harusnya semua Android punya ini!

Pada akhirnya, seiring semakin terbiasanya saya dengan MIUI di Redmi 2 Prime Edition ini, saya memahami mengapa Xiaomi memiliki penggemar sendiri. Kesan pertama saya di awal tidak salah, memang sebuah pengalaman Android yang berbeda, dan walau bukan sesempurna yang saya antisipasi, memang di atas rata-rata.

Kamera

Tak ada ekspektasi tinggi di sini, dan setelah dicoba, memang kamera di ponsel Xiaomi ini tidak mengecewakan, tidak pula istimewa. Bagi saya, kamera di Redmi 2 Prime Edition termasuk cukup dan itu sama sekali bukan hal buruk. Dalam kondisi cahaya yang ideal, ia dapat menghasilkan jepretan yang cukup baik.

Antarmuka kamera di MIUI

Antarmuka kamera di MIUI

Fitur-fitur standar yang diharapkan dari kamera smartphone seperti HDR, efek filter, dan lainnya hadir. Sebagai pelengkap, Xiaomi juga menawarkan penyimpanan online untuk foto-foto kita, menggunakan akun Mi Cloud yang memberi ruang sebesar 5 GB.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Pada umumnya foto-foto yang dihasilkan cukup menyenangkan, warna yang hidup, dan detail yang wajar. Jarang terjadi, tapi white balance pada kamera bisa meleset dan memberi warna yang salah, jika itu terjadi, cobalah dengan memilih opsi Scene yang disediakan, lihat mana yang memberi hasil sesuai pandangan mata.

Dari pameran di Pacific Place.

Dari pameran di Pacific Place.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Mengatasi white balance yang meleset, pakai opsi Scene yang mendekati realistis.

Melesetnya white balance di atas disiasati dengan menggunakan Scene untuk pantai.

Tentunya kamera di Xiaomi Redmi 2 ini juga mampu merekam video Full HD, tapi sampai saat penulisan, saya belum pernah benar-benar mencobanya.

Ketahanan Batere

Sebelumnya, sekedar mengingatkan, ini adalah kesan pribadi saya selama memakai ponsel Xiaomi ini. Ulasan yang akurat mengenai batere, tentunya menggunakan pengujian dan prosedur teknis yang baku. Saya tidak melakukan semua itu, namun sekedar memakai Redmi 2 Prime Edition secara reguler setiap hari, dengan pola pemakaian khas saya, yang tentunya belum tentu sama dengan orang kebanyakan. Pengalaman yang saya dapat, seperti kameranya, stamina batere Xiaomi Redmi 2 ini cukup saja. Tidak buruk, dan tidak pula istimewa.

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Di kebanyakan hari, dengan penggunaan mayoritas di aplikasi email, browser dan media sosial dan fungsi hotspot sering dinyalakan, Redmi 2 dapat bertahan dari pagi hingga sore. Dengan satu pengisian penuh, rata-rata saya mendapatkan sekitar 12 jam aktif sebelum harus kembali menempel charger. Juga menjajal kemampuan Dual SIM di Redmi 2, saya merasakan ada sedikit perbedaan stamina batere antara menggunakan satu dan dua SIM, tapi tidak signifikan. Stamina batere Redmi 2 cukup, tidak ada keluhan khusus.

Akhir Kesan

Jika harus memilih ponsel Android di rentang harga Rp 1,5 sampai Rp 2 juta, saya rasa memang Redmi 2 Prime Edition layak menjadi salah satu yang dipertimbangkan. Tak hanya bicara spesifikasi, dengan antarmuka khasnya, Xiaomi tampak memikirkan cara untuk memberikan pengalaman penggunaan Android yang lebih terpoles, bahkan di gawai kelas pembukanya. Terlepas dari beberapa keluhan, secara keseluruhan MIUI terasa lebih matang dibanding antarmuka gawai-gawai Android lain yang pernah saya pakai.

Apakah ia lebih baik dari produk-produk saingan sekelasnya? Ini belum bisa saya jawab. Ada banyak pabrikan lain yang mulai tampak menjanjikan, seperti Meizu, Vivo dan Infinix. Namun paling tidak, dibanding beberapa pemain di kelasnya, bagi saya Redmi 2 sudah punya satu kelebihan sendiri yaitu reputasi Xiaomi dan komitmennya untuk menjadi salah satu pemain yang terbaik.

Android One Review: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Sejak program Android One diumumkan di sini, saya langsung penasaran karena konsepnya. Ponsel pintar yang bukan hanya terjangkau, namun juga beroperasi dengan Android terbaru yang murni tanpa modifikasi pabrikan, dan diproduksi dengan komponen yang kualitasnya dijamin oleh Google. Tahu smartphone seri Nexus? Nah, Android One bisa kita anggap Nexus versi ekonomis, menarik sekali. Di Indonesia, Google berkolaborasi dengan 3 merek; Evercoss, Mito dan Nexian. Google Indonesia cukup berbaik hati memberi saya satu unit Android One untuk diuji, dan ini kesan-kesan saya memakai Evercoss One X selama sekitar 3 minggu.

Kemasan Evercoss One X

Kemasan Evercoss One X

Rancangan Sederhana Namun Manis

Sederhana dan fungsional, rancangan bentuk Evercoss One X tidak menawarkan sesuatu yang unik atau menonjol namun tetap manis dan enak dilihat. Dari depan, sekilas lekukannya memang mengingatkan saya pada LG Nexus 5. Kaca menutupi keseluruhan bagian depan sementara dari sisi hingga punggung dibalut oleh penutup punggung yang terbuat dari plastik. Tombol power dan volume menempel di bagian ini dan akan ikut terbawa ketika kita melepasnya. Sesuai rancangan Google, Android One tidak memiliki tombol fisik untuk home, switch maupun return karena semuanya ditampilkan di layar.

Evercoss One X Android One

Evercoss One X Android One

Tampilan belakang yang cukup manis.

Tampilan belakang yang cukup manis.

Dua port standar melengkapi sang Android One, Micro USB di bawah dan headphone di atas. Secara keseluruhan, perangkat keras terasa cukup solid, kokoh dan tidak terasa murahan. Tidak ada celah yang kurang sempurna, tidak ada derit plastik ringkih. Walau belum punya perbandingan dengan handset lain di kelas yang sama, secara pribadi saya terkesan dengan kualitas ‘bikinan’ Evercoss ini, mengingatkan saya pada Huawei Honor yang dulu saya pakai, bahkan lebih manis. Mantap, enak di genggaman, dan punggungnya tidak licin. Jika ada kekurangan mungkin satu saja, dalam 3 mingguan saja dipakai, bagian pinggiran punggungnya yang putih sudah mulai terlihat agak coklat.

20150224_074751

Earphone/handsfree port di atas.

 

20150224_074740

Micro USB standar di bawah.

 

Layar Yang Cukup Baik

Tanpa menyebut angka, luas bidang layar sentuh Evercoss One X adalah lebih kecil sedikit saja daripada Apple iPhone 6 atau Samsung Galaxy S3. Namun sementara luasnya beda tipis, untuk resolusi jangan dibandingkan dengan ponsel-ponsel pintar ‘flagship’ terbaru, namun sekelas dengan banyak handset di kisaran harganya. Lapisan kacanya lumayan kebal minyak jari tangan, namun ada baiknya dilindungi dengan anti-gores karena ini bukan kaca kelas berat macam Gorilla Glass.

20150224_074430

Walau belum HD, layar Evercoss One X tidak mengecewakan.

 

Walau sudah biasa memakai smartphone yang beresolusi tinggi dua tahunan ini, tidak ada rasa ‘kurang’ dari layar Evercoss One X. Semua ditampilkan cukup tajam dan terang. Jika waktu pertama mengaktifkan merasa tampilannya kusam, jangan langsung menganggap layarnya buruk, itu kemungkinan karena pilihan wallpapernya. Entah kenapa Evercoss ini memiliki pilihan file-file gambar wallpaper yang sangat amat buruk dan kusam, bukan justru memaksimalkan penampilan. Bagi saya, layarnya memuaskan, bahkan cukup terang untuk di siang hari.

Performa Yang Gesit

Di sini kelebihan Android One yang kualitasnya dijamin oleh Google sendiri, semua di ponsel ini dirancang untuk memungkinkan operasi yang sangat cepat, mulus dan responsif. Dari box, Evercoss One X sudah siap dengan Android versi terbaru yaitu Lollipop 5.1, dan ke depannya Google menjamin selalu mendapatkan pembaruan langsung selama 2 tahun ke depan. Jika kebanyakan pabrikan membungkus sistem operasi dengan antarmuka dan begitu banyak fitur khasnya masing-masing, Android One mengusung sistem operasi Android murni sebagaimana dirancang oleh Google. Persis seperti abangnya, seri Nexus.

Android Lollipop 5.1

Android One di Indonesia mendapat Android Lollipop 5.1 lebih dulu dari ponsel manapun di dunia.

Tidak ada campur tangan pabrikan di sistem operasi dan pada prakteknya memang terasa sekali kelebihan Android ‘murni’. Semua terasa cepat, lincah dan responsif. Tidak ada rasa lambat, tidak ada cegukan, apalagi ‘lemot’. Sejauh ini apapun yang dibuka, dijalankan tanpa ada jeda tunggu.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Subway Surfer di Evercoss One X

Subway Surfer di Evercoss One X

Game-game kasual seperti Subway Surfer atau Clash of Clans dijalankan lancar, loading pun tidak lama sama sekali. Kecepatan dan kelincahan Android One digabung dengan Lollipop 5.1 memberi pengalaman memakai yang mengesankan dan membuat saya yang tadinya niatnya hanya sekedar mencoba, jadi keterusan memakai setiap hari. Jangan kira ‘lemot’ hanya karena harganya murah, untuk kebutuhan normal, performanya sangat memuaskan.

Konektivitas & Penyimpanan

Buka punggung smartphone ini dan kita akan langsung melihat 2 slot SIM dan satu slot Micro SD. Evercoss One X adalah ponsel Dual SIM, yang kedua nomornya bisa standby menerima panggilan dan SMS bersamaan, sementara kita memilih salah satu yang akan dipakai untuk koneksi data 3G.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Walau belum mengusung konektivitas terkini seperti 4G LTE atau NFC, semua kebutuhan standar seperti Bluetooth, Wifi dan GPS dihadirkan. Dalam pemakaian, semua fitur konektivitas dasar bekerja dengan baik dan normal.

Kamera

Seperti halnya Mito dan Nexian, Android One dari Evercoss dilengkapi dengan kamera 5 megapixel di belakang, dan 2 megapixel di depan. Aplikasi kamera yang dibawa adalah standar Android, dengan fitur seperti HDR dan juga kemampuan membuat latar belakang blur dengan menggerakkan kamera. Dari semua pengalaman menggunakan ponsel pintar ini, baru di kamera lah terasa bahwa ini memang peranti entry level. Memotret terasa lamban dan tidak responsif, seperti butuh waktu setiap menjepret, ditambah lagi setelah memotret pun cara aplikasi kamera meletakkan ‘preview’ kurang gamblang.

Kamera belakang 5 megapixel

Kamera belakang 5 megapixel

Resolusi cukup, hasil jepretan normal, kualitas gambar tidak istimewa, tidak juga buruk. Tentunya jangan berharap banyak untuk memotret di dalam ruangan yang kurang penerangan atau untuk obyek yang bergerak. Kegesitan ponsel ini cukup membuat saya ketagihan memakainya untuk aplikasi sederhana, namun tidak untuk memotret. Berikut ini beberapa contoh jepretan Evercoss One X, klik untuk ukuran aslinya.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Bisa dilihat dari contoh, hasil foto kamera Evercoss One X sebetulnya cukup standar tidak buruk terutama untuk obyek tak bergerak, resolusi 5 megapixel pun cukup untuk kebutuhan umum. Hanya saja pengoperasiannya yang kurang gesit, untuk momen dinamis dan obyek bergerak, mungkin kita akan terlambat.

Batere

Untuk pemakaian yang tidak terlalu berat, stamina batere rasanya wajar dan cukup memadai. Bahkan dengan Dual SIM yang standby berbarengan, Evercoss One X kuat menemani aktivitas seharian sebelum butuh dicharge di sore atau malam hari. Bukan tipe super irit, namun rasanya tidak juga boros.

Stamina batere cukup memadai.

Stamina batere cukup memadai.

Tapi, jika dibawa ke luar kota, di daerah yang sinyalnya lemah, Android One ini bisa terasa jauh lebih boros dibanding handset satu SIM karena di sini handset akan sibuk terus mencari sinyal di dua jaringan sekaligus. Selain itu, stamina batere cukup memuaskan dan tidak akan membuat kita terlalu sering mencari ‘colokan’.

Kelengkapan

Selain buku manual, charger dan earphone berwarna putih yang juga berungsi sebagai handsfree headset, tiap merek dari ketiga pabrikan Android One memberi bonus berbeda. Untuk Evercoss One X, yang menjadi ekstra adalah flip cover. Secara bentuk dan warna memang flip cover ini membuat tampilan jadi lebih elegan, namun pemasangannya menggunakan perekat dan bukan mengganti penutup punggung.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Flip cover jika dipasangkan.

Flip cover jika dipasangkan.

Banyak yang suka membungkus ponsel dengan pelindung tipe ini, hanya saja saya lebih suka layar depan yang terbuka dan kurang yakin akan kekuatan cover ini, apalagi perekatnya. Untuk harganya, rasanya Evercoss memberikan paket yang sangat komplit.

Kesimpulan

Setelah lebih dari 3 minggu pemakaian yang memuaskan, tepat sebelum menulis ulasan ini, sesuatu yang aneh terjadi pada Evercoss One X saya. Di pagi hari, ia mengatakan hanya ada satu SIM card, lalu siangnya ia seperti tidak mau menyalakan layar hingga harus di-restart. Hal yang sama terulang di malamnya, bahkan restart selalu gagal dan proses booting tidak pernah sempat selesai. Mencabut batere dan semua kartu tidak membawa hasil, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk membiarkannya tanpa batere semalaman. Harapannya apapun masalahnya, kondisi bisa kembali normal setelah lama dibiarkan tanpa daya listrik, kalau tidak, ya akan saya bawa ke service center. Benar saja, di pagi harinya ketika batere dipasang lagi, semua kembali normal. Karena belum dibawa servis, saya belum tahu penyebab masalahnya, apakah software? Apakah mungkin terkena air? Sejauh ini, dari banyak teman yang juga mencoba Android One, belum ada yang mengalami kejadian serupa. Pastinya sampai saat ini semua kembali berfungsi normal.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Di luar satu ‘glitch’ tak terjelaskan yang saya alami dan kamera yang kurang mengesankan, memakai Evercoss One X cukup menyenangkan. Kejutan yang manis, mengingatkan kita bahwa spesifikasi super tinggi dan fitu-fitur ajaib bukanlah suatu syarat utama untuk sebuah ponsel pintar agar enak dipakai. Kenyataan bahwa saya cukup sering meraih Android One ini ketimbang Galaxy S5 ataupun Galaxy Note 3 andalan selama 3 minggu lebih adalah bukti bahwa untuk hal-hal dasar, kesederhanaan dan responsivitas (entah ada atau tidak kata ini) tetap tetap memiliki peran sendiri. Mencari peranti Android terjangkau tidak susah, tapi mencari yang ekonomis namun berkualitas di kelas ini bukannya mudah. Dalam hal ini rasanya Google dan program Android One nya bisa menjadi solusi. Setidaknya jika kita butuh satu ponsel pintar yang murah namun gesit, lengkap tanpa ‘lemot’, dan selalu mendapatkan Android versi terbaru, sekarang ada seri Android One sebagai pilihan jelas, dan Evercoss One X adalah salah satunya. Rasanya, untuk uang yang dikeluarkan, tak akan mengecewakan.

UPDATE:
Pada Kamis 26 Maret, masalah sama terjadi lagi. Layar tidak mau menyala, walau yang lain berfungsi. Setelah mencoba restart maupun cabut batere, akhirnya handset didiamkan semalaman dengan batere dicopot (lagi) dan keesokannya pulih kembali. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya dan belum sempat ke service center Evercoss.

Spesifikasi teknis Evercoss One X, klik di sini.

Membuat Foto Berlatar Belakang Blur Dengan Samsung Galaxy S5: Selective Focus

Seperti sudah diulas pada tulisan sebelumnya, mode Selective Focus pada kamera di Samsung Galaxy S5 bisa menghasilkan foto dengan latar belakang yang blur. Tanpa perlu efek tambahan atau edit, software mencoba mengira-ngira mana obyek utama dan mana latar belakang dari dua jarak fokus berbeda. Syaratnya:

1. Obyek utama harus cukup pencahayaan dan lebih terang daripada latar belakang.

2. Jarak ke obyek utama maksimal 50 CM, jarak dari obyek utama ke benda terdekat di latar belakangnya minimal 1,5 M.

3. Pilih fokus sendiri pada obyek utama.

Hasilnya, lihat sendiri jepretan portrait di Computex 2014 Taipei kemarin. Jangan cuma lihat modelnya, perhatikan blur halus di latar belakang. Keren!

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Foto terakhir ini menunjukkan bahwa bagaimanapun juga, software kadang bisa salah menerka mana depan dan mana latar, terlihat pada muka ibu-ibu yang terfokus di belakang. Apakah cuma berhasil di tempat yang terang benderang? Tidak juga, asalkan cahaya cukup, di tempat agak temaram kadang bisa juga. Lihat foto-foto yang saya ambil di pasar malam Shihlin di Taipei.

image

image

image

Pada akhirnya, smartphone tetap bukan kamera besar berlensa f1.4, tapi jika bisa menghasilkan jepretan cantik seperti ini, semakin mati lah produsen kamera saku digital.

Tahun ini semua produsen smartphone papan atas berlomba-lomba memberi fitur kamera serupa. Bukan, Google sendiri merilis app kamera standar Android yang juga memiliki kemampuan sejenis, namun dengan cara beda. Dari yang sudah saya coba, saat ini masih Samsung Galaxy S5 yang paling memuaskan membuat foto macam ini.