Ketika Buku Tulis Bisa NgeGoogle: Samsung Galaxy Note 8

Meeting! Semua duduk, dan di hadapan masing-masing terhampar lah dokumen, atau laptop, atau sekarang, tablet. Dengan cover terlipat jadi stand, agak miring menghadap si pemakai, sudah terbuka email, Google, atau apalah yang berhubungan dengan kerjaan. Rapat dimulai, proyektor dinyalakan, pemimpin rapat pun menunjukkan foto mesumnya. Oh bukan. Presentasi PowerPoint nya. Sebagian mulai mencatat-catat catat. Pakai bolpen, di buku catatan.

Tetap pena dan kertas. Bukan di tablet.

Memang, semua tablet sekarang bisa buat nulis-nulis. Install app, beli stylus bisa. Tapi bahkan tablet yang terpopuler pun belum benar-benar dirancang untuk itu. Stylus rata-rata ujungnya karet tumpul, lebar, nggak murah pula. Kalau mau yang ujungnya seperti bolpen, lebih mahal lagi. Mayoritas memang nggak 100% terancang dari awal untuk memakai stylus yang sudah dianggap kuno, tapi Samsung dengan seri Galaxy Note nya justru sejak awal dikonsepkan untuk jadi buku catatan ‘Note’ pintar.

Samsung Galaxy Note 8

Samsung Galaxy Note 8

Sudah sebulanan lebih saya pakai Samsung Galaxy Note 8 baik untuk mencatat di meeting atau corat-coret cari ide. Awalnya sekedar ingin tablet baru dengan ukuran sedang, nggak ada ekspektasi khusus. Secara fitur pun Galaxy Note 8 kurang lebih sama dengan Galaxy Note 2 yang saya pakai sejak akhir tahun lalu, jadi sudah familiar dan nggak ada yang terlalu mengejutkan. Ternyata yang mengagetkan adalah bagaimana Galaxy Note 8 bisa mulai mengalihkan saya dari bolpen dan buku tulis. Sekarang saya mau cerita sedikit, kesan-kesan akan si Note 8. Seperti biasa, nggak pakai angka. Kalau cari spesifikasi teknis, banyak di internet.

Tablet Yang Manis

Desain bentuk Samsung Galaxy Note 8 ini bukan tipe maskulin, cenderung manis, mungkin bahkan agak feminin. Kecuali bentuk persegi layar, nggak ada garis lurus tegas di bodi-nya. Bisa dibilang, bentuk Galaxy Note 8 ini seperti versi besar dari rancangan Samsung Galaxy S3. Walau tampilan fisik Samsung Galaxy Note 8 ini bukan selera saya, tapi saya pikir coba aja dulu. Soalnya, saya yang dulunya benci dengan rancangan Galaxy S3 pun akhirnya jatuh cinta karena ternyata lekukan halusnya ternyata membuatnya nyaman.

Warna putih membalut muka dan belakang tablet ini, sementara bezel tipis dengan warna perak mengelilingi dan memberi aksen yang elegan dan pas. Kabarnya akan ada Samsung Galaxy Note 8 dengan warna coklat tua, tapi entah akan masuk sini atau nggak.

Bentuk rancangan Samsung Galaxy Note 8 cenderung manis.

Bentuk ‘manis’ dan ukuran yang lebih ‘pas’.

Ukuran adalah poin penting yang menentukan betapa efektifnya Samsung Galaxy Note 8. Dengan layar 8 inci, Galaxy Note 8 cukup besar sebagai ‘buku tulis’ dan cukup ringkas sebagai tablet. Setelah memakai Galaxy Note 8 ini, pendahulunya yaitu Galaxy Note 2 menjadi terasa terlalu kecil untuk menulis, sementara Galaxy Note 10.1 terkesan terlalu besar untuk dibawa-bawa. Nggak ada ungkapan lain soal ukuran Galaxy Note 8 selain “Pas banget!”.

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Bodi dari plastik tebal sepertinya membantu membuat bobot Samsung Galaxy Note 8  ringan dan tidak memberatkan dibawa-bawa.  Selain ringan, dari pengalaman pribadi, plastik yang sering dituding ringkih ternyata bisa lebih tahan benturan dibanding aluminium yang justru lebih mudah penyok. Satu hal aja yang saya kurang suka dari bahannya adalah ia terlalu mulus licin tanpa tekstur, sementara tangan saya cepat berkeringat, jadi yang terpikir pertama kali begitu memegang Galaxy Note 8 adalah “Mesti dipakein jaket, nih.”.

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Dalam paketnya, Samsung membekali Galaxy Note dengan semua kelengkapan standar yang sudah masuk ekspektasi kita seperti charger dan headphone yang juga adalah handsfree untuk fungsi telepon. Nggak ada yang terlalu istimewa di sini.

Fitur Khas Seri Galaxy Note, Dengan Pengalaman Baru.

Lebih dari smartphone atau tablet Android standar, Samsung merancang seri Galaxy Note untuk menjadi pena dan kertas digital yang pintar secara utuh. Semua perangkat pendukung sudah disiapkan Samsung. Stylusnya yang bisa membedakan tekanan dan juga mempunyai fungsi tanpa menyentuh layar. Aplikasi notepad aktif begitu kita mencabut S-Pen dari dudukannya, dan Quick Command yang membuat pengalaman bekerja dengan stylus tidak terputus ketika harus melakukan search. Ini baru sebagian kecil fitur khasnya.

Canggih memang, tapi sebetulnya semua ini bukan hal baru bagi seri Galaxy Note. Seperti pada seri sebelumnya, fiturnya terlalu banyak untuk diulas satu demi satu. Untuk Galaxy Note 8 saya cuma pengen ceritain yang terasa paling efektif dan menyenangkan dipakai. Walau bukan baru. Yang baru pada Galaxy Note 8, adalah sensasi dan pengalaman dalam menggunakannya.

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

Cabut stylus S-Pen dari dudukannya di sisi kanan bawah, dan Samsung Galaxy Note 8 langsung menampilkan aplikasi S-Note nya di layar. Nggak pakai masuk menu dan milih-milih app, dia sudah siap. Entah dalam meeting atau mendadak kita harus mencatat sesuatu, cabut saja S-Pen lalu tulis. Berbeda dengan generasi pendahulunya, kali ini ukurannya yang pas membuat pengalaman menulis jadi jauh jauh jauh lebih nyaman. Nggak jauh beda dengan notepad atau ‘notes’ yang biasa kita pakai untuk mencatat ini-itu, menyenangkan sekali.

Stylus Maximus

Bayangkan, buku tulis yang pintar dan bisa ngeGoogle. Ini kesan yang saya dapat dengan Galaxy Note 8. Tanpa harus meninggalkan stylus S-Pen, ketika search Google, kita cukup menggunakan fitur Quick Command.

Katakanlah, kita mau search tentang Jakarta.

Tarik garis lurus dari bawah layar ke atas, sambil menekan tombol di S-Pen dan kita akan disuguhkan layar khusus lalu cukup tuliskan dengan, “? Jakarta”, maka Google Search results untuk Jakarta pun muncul.

Nggak perlu berganti app, nggak perlu meletakkan S-Pen untuk mengetik search, dari kita sedang mencatat-catat tanpa terputus kita bisa melakukan banyak hal lain dengan S-Pen lewat Quick Command.

Sudah dapat hasil Google tentang Jakarta, lalu kita lihat ada gambar yang ingin kita kliping dan tempelkan ke catatan yang kita buat tadi? Gampang, kita cukup membuka gambar yang mau dikliping lalu sambil menekan tombol di S-Pen, tarik garis mengelilingi gambar tersebut. Begitu gambar terkelilingi garis, Galaxy Note 8 otomatis mengcopy bagian kliping kita dan menempelkannya pada catatan kita di aplikasi S-Note. Semua terancang begitu matang untuk menjadi buku catatan pintar.

Tapi dari semua fitur S-Note, favorit saya adalah Idea Sketch.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Note, Idea Sketch

Nah, kadang kalau sedang nyari ide, sketsa bisa membantu mengolah pikiran. Kita tahu, isi buku catatan kita bukan hanya tulisan, angka, garis dan panah penghubung. Kadang kita membuat gambar-gambar kecil yang membantu mengilustrasikan ide dan konsep dalam otak, dan seri Galaxy Note menyediakan fitur Idea Sketch untuk mempermudah kita menambahkan sketsa ke dalam catatan.

Cara pakai Idea Sketch

Tetap dengan S-Pen, cukup tap Insert Object di kiri bawah dan pilih Idea Sketch. Layar kemudian menampilkan ruang tulis, kita tinggal menuliskan apa obyek yang kita inginkan dan Idea Sketch akan mencarikan jika ada sketsa yang cocok. Katakanlah kita ingin menggambarkan mobil di dalam catatan, tinggal tulis “CAR” di Idea Sketch, lalu sederetan sketsa gambar orang ditampilkan untuk kita pilih.

Begitu sketsa dipilih, kita pun otomatis kembali ke catatan untuk meletakkannya. Idea Sketch adalah kumpulan obyek sketsa siap pakai yang bisa diakses lewat tulisan maupun menu, dibagi perkategori, dan kita bisa mendownload lagi sketch tambahan dari Samsung. Sekali lagi, tanpa harus meninggalkan S-Pen.

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword 'People', tinggal pakai.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword ‘People’, tinggal pakai.

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Konektivitas Lengkap

Ini baru sebagian saja dari banyak fitur Galaxy Note 8 yang juga memang sudah standar khas seri Note dari Samsung. Walau hanya sebagian, ini yang paling menggambarkan pembedaan antara Galaxy Note 8 dengan tablet 8 inci lainnya. Pembedaan yang kuat sekali, karena bukan hanya sekedar spesifikasi teknis tapi lebih ke fitur pemakaian. Sebagai tablet Android, tentunya Galaxy Note 8 memiliki lengkap semua kemampuan sudah menjadi kelengkapan dasar.

Konektivitas GSM 3G, WiFi, GPS dan Bluetooth lengkap tersedia. Kamera pun siap, baik depan maupun belakang, tapi saya nggak pengen bahas karena, ya, paling males lihat orang motret pakai tablet. Storage untuk menyimpan file bisa ditambahkan dengan Micro SD, dan kalaupun perlu disambung ke layar TV atau proyektor bisa beli adapternya.

Satu kejutan tambahan adalah: ada infra red blaster. Dengan ini dan app khusus yang sudah disediakan dari pabrikan, Galaxy Note 8 bisa menjadi remote control berbagai perangkat seperti TV, stereo, DVD, Home Theater dan lainnya, dari berbagai merek! Nice!

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV!

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV berbagai merek!

Fungsi Telepon

Galaxy Note 8 bisa jadi telepon. Sebelum pada memutar bola mata dengan sinis dan bilang “Siapa jugaaaa yang mau nelepon pakai tablet?”, saya bilang fungsi ini menolong sekali untuk isi pulsa dan daftar paket internet di sini, yang kebanyakan masih pakai USSD code macam *123# dan lain-lain. Dan ya, kalaupun mau dijadikan telepon ya gampang saja, pakai handsfree atau headset Bluetooth. Saya senang sekali Galaxy Note 8 juga dilengkapi kemampuan telepon selular. Lengkap sekali jadinya.

Batere dan Performa.

Saya sih nggak pernah secara khusus menguji stamina batere ataupun performa dari gadget ya, itu bagian para gadget reviewer yang doyan bahas teknis dan angka-angka. Soal batere, selama memakai Galaxy Note 8 rasanya belum pernah merasa cepat habis atau boros amat. Pemakaian terberat pribadi untuk bekerja dan nyala non-stop pernah tembus 6 jam dan masih sisa sedikit. Nggak ada keluhan dari sisi batere, bukan yang paling irit tapi juga nggak boros.

Performa sampai saat ini mulus tanpa cegukan, tapi sekali lagi, ini adalah dengan pola pemakaian saya ya. Satu-satunya jeda respon yang saya alami adalah ketika membuka setting dan memilih mengganti font di system. Selain untuk jadi buku catatan pintar, Galaxy Note 8 ini lebih jadi alat kerja buat saya buka dokumen seperti doc, xls, ppt dan pdf. Buka tutup dan berganti file Office dengan berbagai app Office Suite seperti Kingston dan Polaris terasa sangat cepat bahkan lebih menyenangkan daripada laptop. Saya nggak banyak test untuk game 3D apalagi untuk motret.

Kesimpulan

Dengan kelebihan fitur dan kenyamanan memakainya, rasanya terlalu mengecilkan kalau menyebut Samsung Galaxy Note 8 hanya sebagai tablet Android baru. Lebih dari sekedar alat konsumsi media atau  hiburan, buat saya Samsung berhasil menciptakan Galaxy Note 8 sebagai tablet yang ideal dan terancang penuh sebagai teman kerja. Kemampuan dan fitur S-Pen nya, dipadu dengan ukuran yang sangat amat pas, membuat saya akhirnya lebih mencari Galaxy Note 8 tiap akan ada meeting kerjaan dibanding buku tulis dan pena. Bagi saya yang fanatik orat-oret dengan bolpen dan kertas, ini hal yang luar biasa dan benar-benar nggak saya duga. Kadang, bawa laptop itu overkill dan bawa tablet biasa masih nanggung, dengan si Note 8 ini sudah beberapa kali terbukti cukup jadi andalan utama kalau meeting.

image

Tablet yang cocok untuk kerja.

Kalau ada yang ingin saya ubah dari Galaxy Note 8, paling utama adalah bagian punggungnya yang terlalu licin. Mestinya lebih bertekstur supaya mantap dipegangnya, atau sekalian saja dengan bahan yang seperti karet. Selain itu, menambahkan NFC supaya bisa dengan gampang bertukar dokumen dengan peranti lain, dan mungkin batere ditambah juga nggak ada salahnya. Soal bentuk, selera masing-masing ya, tapi warna memang mestinya ada lebih dari satu pilihan. Kalau mau kompetitif, harganya ditekan lagi.

Satu pe-er Samsung juga adalah menyertakan tutorial bagaimana memakai fungsi-fungsi dan fitur khas yang ada. Seri Note datang dengan segudang fitur, tapi mayoritas pemilik kurang tahu bagaimana memakainya. Ini sayang sekali dan jadi mubazir.

image

Samsung Galaxy Note 8

Pada akhirnya, apakah Samsung Galaxy Note 8 ini pilihan tepat buat kita? Kembali ke kebutuhan dan preferensi masing-masing. Kalau suka sekali menulis, mencatat, dan seperti saya, ‘orat-oret’ di buku tulis ketika mencari ide, rasanya Note 8 layak dilirik karena memang sangat terancang untuk itu. Hampir semua tablet bisa dibelikan app dan dipakaikan stylus, tapi sampai saat ini baru seri Note dari Samsung yang memang diciptakan dengan konsep menjadi buku catatan digital menggantikan pena dan kertas. Dan di ukurannya, Samsung Galaxy Note 8 bagi saya cukup berhasil memenuhi tujuan itu. Cukup bertenaga dan gesit untuk jalankan berbagai aplikasi, cukup kecil dan ringan untuk dibawa, namun juga cukup luas untuk tulis-menulis, tampaknya Samsung menemukan sweet-spot untuk seri Galaxy Note-nya.

Buku tulis pintar yang bisa nge'google.

Buku tulis pintar yang bisa nge’google.

Iklan

Photo: Samsung Galaxy S4 Active

Samsung Galaxy S4 Active - Back

Samsung Galaxy S4 Active – Back

Samsung Galaxy S4 Active - Front

Samsung Galaxy S4 Active – Front

Foto  Samsung Galaxy S4 Active dari teman. Active adalah varian tahan air dan debu dari smartphone Android andalan Samsung tahun ini.

Membuat Timelapse Jarak Jauh Secara ‘Live’ Dengan Samsung Galaxy Camera

Satu manfaat nyata dari ‘connected camera’ seperti Samsung Galaxy Camera adalah kemampuan untuk secara otomatis mengunggah semua hasil jepretan ke cloud storage seperti DropBox, dan adalah ide dari rekan videografer Lucas Ony untuk memanfaatkan ini dalam pembuatan timelapse yang termonitor secara ‘live’ di lain kota.

image

Timelapse semakin sering digunakan di video-video sebagai insert transisi antar segmen, dan pembuatannya masih cukup tradisional dengan intervalometer pada kamera. Kamera disiapkan, ditinggal, atau ditunggui, dan setelah itu baru hasilnya dirangkai sebagai sekuens. Jika ada kesalahan, atau ada masalah dengan kamera, tidak akan ketahuan sebelum selesai semua. Masalah ini bisa diatasi dengan connected camera seperti Samsung Galaxy Camera.

Percobaan timelapse di atas memang sekilas tidak ada yang terlalu istimewa, memang hanya test, keunikannya adalah di pembuatannya. Timelapse ini direkam oleh saya pada suatu pagi di Jakarta Selatan, menggunakan app Camera FV-5 dan dengan fitur auto-upload DropBox dan koneksi 3G di Samsung Galaxy Camera, hasil bisa langsung diterima dan dirangkai puluhan kilometer jauhnya di studio rekan Lucas Ony di Serpong.

Infographic by Lucas Ony

Infographic by Lucas Ony

Ini adalah manfaat nyata sebuah kamera bukan hanya pintar namun juga ‘connected’, terhubung ke internet secara mandiri. Bisa menjadi solusi alternatif pembuatan timelapse jarak jauh yang termonitor. Jika sampai ada kesalahan teknis, atau ada sesuatu yang terjadi pada kamera, semua file sudah aman di cloud.

Alat yang dipakai:

1. Samsung Galaxy Camera

2. Koneksi internet 3G atau WiFi

3. Aplikasi Camera FV-5

4. DropBox

Urutan kerja:

1. Atur Samsung Galaxy Camera agar semua foto otomatis diupload ke DropBox

2. Gunakan app Camera FV-5 dan atur folder outputnya

Review: Samsung Galaxy Camera


20130111_230609

 

Nggak terasa, sudah 3 bulan lebih sejak perkenalan saya dengan Samsung Galaxy Camera. Dan masih aja, benda ini selalu jadi perhatian. Hampir semua yang melihat kemudian penasaran, mau memegang, mencoba, dan akhirnya mulai berpikir bahwa memang seru kalau kamera bisa Android dan selalu online layaknya smartphone. Dan akhirnya, semua menanyakan harganya dan dari titik itu reaksinya bisa dibagi menjadi tiga golongan umum. Yang berpikir sejenak lalu merasa bahwa smartphonenya juga sudah cukup biasanya bilang,

“Ah hape saya kayaknya udah cukup.”

dan yang baru mulai ingin lebih serius di fotografi kemungkinan akan bilang,

“Harga segini kayaknya saya milih beli DSLR.”.

Yang merasa hape udah cukup atau yang lebih senang bawa kamera ‘serius’ mungkin nggak terlalu tertarik dengan Samsung Galaxy Camera. Jadi siapa yang kayaknya akan suka kamera ini? Golongan ke tiga, yang tetap memikirkan kemampuan kamera ini setelah tahu harganya.

“Hmmm…”.

Kamera pintar ini lebih buat mereka yang hobi foto kreatif dengan app lalu berbagi di media sosial, namun sudah nggak puas dengan keterbatasan smartphone.

Buat golongan ini, kamera digital biasa atau upgrade ke DSLR bukanlah solusi, karena nggak bisa menggunakan app apalagi sharing lewat media sosial dan internet. Bagi mereka, Samsung Galaxy Camera jadi jawaban yang diimpikan.

 

Kelebihan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Kamera saku dengan segala kecanggihan Android yang dilengkapi konektivitas WiFi dan 3G. Kayaknya dari penggambaran ini aja udah ketahuan dong kelebihannya? Dibanding kamera biasa, kelebihannya ya ada di Android dan konektivitasnya. Dibanding kamera smartphone, sebenarnya kelebihannya adalah lensa zoomnya.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Samsung sepertinya lebih mengedepankan puluhan moda pintar kreatif di Galaxy Camera sebagai kelebihan dibanding lensanya. Tapi bagaimanapun juga semua moda foto pintar itu masih software, bisa saja suatu hari kemampuan itu dicangkokkan oleh Samsung di smartphone. Sebenarnya satu hal yang nggak akan dimiliki smartphone adalah lensa zoom 20x. Nggak ada hape yang punya ini, bahkan sebenarnya nggak ada hape yang bisa zoom beneran.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

“Kamera handphone saya juga bisa ngezoom kok, mas. Cuma ya jadi pecah aja gambarnya”.

Betul, zoom dengan hape akan membuat gambar jadi pecah, itu karena hape pakai yang namanya ‘digital zoom’. Digital Zoom itu layaknya menaruh kaca pembesar di atas layar, gambar jadi besar tapi semakin pecah. Sementara, Samsung Galaxy Camera memiliki optical zoom dengan lensa sungguhan. Layaknya meneropong, gambar nggak jadi pecah. Dalam hal ini, Samsung Galaxy Camera dengan lensa 20x zoom nya telak-telak menang dibanding kamera smartphone.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

“Tapi siapa juga yang butuh ngezoom 20x, ya.”.

Butuh atau nggaknya ya relatif, tapi ternyata cukup banyak yang senang kemampuan zoom. Buktinya, semakin banyak kamera superzoom dirilis oleh pembuat kamera macam Nikon atau Canon. Yang butuh? Mungkin wartawan yang harus bisa memotret event sementara jarak ke panggung cukup jauh, atau orangtua yang ingin mengabadikan anaknya yang pertama kalinya tampil di atas panggung dalam pementasan drama di sekolah atau bertanding sepak bola di lapangan. Bisa siapa saja. Nah, kamera superzoom biasa juga bisa memotret itu semua, tapi cuma Samsung Galaxy Camera memungkinkan kita langsung menyunting secara kreatif, lalu mengunggah foto itu lewat email atau pun media sosial tanpa harus pulang dan melakukannya di komputer.

“Selain lensa zoom, apa fitur yang paling beda? Kalau filter sama efek aja ya di hape juga bisa.”

20130111_233413

Bisa setting P, A, S dan Manual ala DSLR

Yang mau foto kreatif dan belajar fotografi akan senang karena Samsung Galaxy Camera punya moda P, A, S dan Manual yang jadi standard di DSLR. Sampai saat ini belum ada smartphone yang memberi kebebasan penuh di fitur ini. Dengan ini, bisa belajar dasar-dasar setting fotografi yang dipakai di DSLR.

 

Foto

Samsung Galaxy Camera - 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Samsung Galaxy Camera – 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Hasil jepretan Samsung Galaxy Camera bisa dikatakan sekelas kamera prosumer, di atas smartphone rata-rata. Tentunya belum sekelas DSLR. Kamera DSLR gambarnya sangat bening karena menangkap cahaya dengan ‘sensor’ yang besar, sementara Samsung Galaxy Camera menggunakan sensor ukuran kamera saku.

“Harganya kebeli DSLR, kok nggak pakai sensor DSLR?”

Jangan lupa, DSLR cuma kamera, sementara Samsung Galaxy Camera setengahnya adalah Android device dengan spesifikasi tinggi. Bahkan secara teknis dia adalah Samsung Galaxy S3 yang dicangkokkan ke dalam kamera. Bisa saja Samsung memberi sensor kelas DSLR, tapi harganya akan jadi gabungan harga DSLR atau mirrorless ditambah harga smartphone.  Kalau mau yang bisa gonta-ganti lensa tunggu saja nanti kalau Galaxy NX atau NX 2000 keluar, tapi yakin harganya akan beda jauh.

Foto Medina Kamil, Anandita Dita dan Milly Shafiq ini diambil dengan Galaxy Camera saya dengan moda Manual, murni tanpa edit, tanpa cropping, tanpa efek, tanpa menggunakan app.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Ketiga foto di atas dimungkinkan karena adanya lensa zoom dengan perbesaran yang cukup tinggi dan kebebasan mengatur berbagai setting secara manual layaknya di kamera prosumer atau bahkan DSLR. Latar belakang yang kabur dimungkinkan oleh beberapa faktor, yaitu objek yang sangat amat jauh berada di belakang, lensa zoom, dan kemampuan mengatur aperture secara manual.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Foto bulan ini menggunakan moda Manual, full zoom, lalu crop di 50% ukuran asli. Dengan crop sebesar itu, detail bulan masih tampak. Lumayan, untuk kamera kelas ini. Tentu saja, memotret ini harus di cuaca yang cerah, bebas awan dan menggunakan tripod yang kokoh supaya tidak ada goyang atau geser. Sekali lagi, ini dimungkinkan oleh lensa zoom dan kebebasan mengatur secara manual yang sangat menyenangkan.

Tapi tentunya sebagai kamera untuk penggemar foto kasual, banyak mode kreatif yang membantu kita membuat foto unik tanpa harus repot tahu setting. Diantaranya fitur Light Trail di moda Smart, membuat foto seperti ini nggak usah paham setting fotografi.

Samsung Galaxy Camera - Light Trails mode

Samsung Galaxy Camera – Light Trails mode

Dan tanpa bermain efek pun, sebuah kenikmatan tersendiri bisa mengatur kontras dan warna langsung di kamera dengan layar besar. Jepretan bagus menjadi semakin cantik. Kalau mau menilai kemampuan Samsung Galaxy Camera, justru harus melihat yang sudah diedit, karena di situlah bedanya dengan kamera biasa.

Samsung Galaxy Camera - adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera – adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera - color adjusted with Snapseed app

Samsung Galaxy Camera – color adjusted with Snapseed app

 

Video

Sudah pasti Samsung Galaxy Camera bisa merekam video, sama seperti kamera digital maupun smartphone sekarang. Yang paling menyenangkan buat saya bukanlah fitur seperti slow motion, tapi adanya setting manual untuk video. Kebanyakan orang mungkin nggak akan terlalu tertarik akan hal ini, tapi buat yang hobi, kebebasan untuk mengatur sendiri exposure, white balance dan focus lock sangatlah menyenangkan. Dengan ini, kita bisa kreatif merekam gambar-gambar yang kadang seperti direkam dengan kamera kelas DSLR.

 

Kekurangan

Tentunya nggak ada yang sempurna, dan Samsung Galaxy Camera juga memiliki kekurangan. Pertama, bodinya yang cukup besar dan berat membuatnya sulit dikantongi. Membawa kamera ini harus memang niat, karena bukan benda tipis yang bisa dieslipkan di saku celana. Namun di lain pihak, ukuran dan beratnya ini justru membantu kita lebih mantap memegang saat sedang zoom penuh.

Kedua, stamina batere. Jika semua konektivitas dan kemampuan Android di Samsung Galaxy Camera dijalankan, baterenya cepat terkuras. Sadar akan hal ini, Samsung sudah menyiapkan moda Smart Network yang menirit batere dengan memutuskan semua konektivitas internet ketika layar mati. Tapi setelah memakai, rasanya lebih efektif memakai moda Airplane yang juga mematikan semua konektivitas. Kembalikan koneksi hanya ketika kita butuh mengakses internet, entah untuk memakai media sosial atau upload foto dan lainnya.

Dan terakhir adalah kecepatan start. Dari posisi mati total, start up Samsung Galaxy Camera butuh waktu sama seperti menyalakan smartphone Android. Menyalakan dari posisi standby jauh lebih cepat tapi belum secepat kamera digital biasa apalagi DSLR. Solusinya, biarkan kamera di posisi standby.

 

Kesimpulan

Seperti smartphone ataupun tablet Android kelas atas, harga Samsung Galaxy Camera nggak murah. Tapi dibilang kemahalan juga nggak. Di kisaran 5 juta Rupiah, kebanyakan pasti akan membandingkan antara membeli Android high-end atau kamera DSLR pemula lengkap dengan lensanya. Sebetulnya nggak bisa dibandingkan begitu. Kemampuan yang ditawarkan Samsung di Galaxy Camera memang tidak bisa didapat hanya di smartphone maupun DSLR, ia adalah makhluk baru yang menggabungkan keduanya.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Seperti tablet computer, Samsung Galaxy Camera mungkin masuk kategori “nice to have but not a necessity”. Sangat menyenangkan untuk dimiliki namun belum merupakan kebutuhan mutlak karena sebagian fungsinya mungkin kita sudah miliki entah di kamera atau di smartphone. Seberapa menyenangkan? Secara pribadi merasa belum pernah ada kamera se-‘seru’ Samsung Galaxy Camera untuk dibawa ‘main-main’, padahal saya sudah punya dua DSLR, dua kamera saku dan beberapa smartphone.

Jika memang menginginkan kamera superzoom dengan segala kepintaran Android dan konektivitas lengkap, saat ini ditulis rasanya belum ada pilihan yang lebih baik daripada Samsung Galaxy Camera. Satu hal yang pasti, Samsung Galaxy Camera akan membuat kita merasa bahwa sudah selayaknya semua kamera jaman sekarang punya kemampuan pintar seperti Android konektivitas 3G.

Preview: Berkenalan Dengan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Mainan baru ini saking masih uniknya jadi paling gampang jadi bahan obrolan. Ada 3 pertanyaan pertama yang biasanya keluar kalau bahas benda ini sama teman-teman.

“Eh, apa lagi tuh Samsung Galaxy Camera?”

“Kamera, pakai Android, bikinan Samsung.”

“Hah? Kamera? Beneran?”

“Iya bener, kamera, kalau risoles isi ragout ya namanya Samsung Galaxy Risoles Isi Ragout.”

Lalu biasanya setelah dibilang Android, ada jeda manggut-manggut sejenak dan kita berlanjut ke pertanyaan berikutnya.

“Kamera pakai Android? Jadi maksudnya bisa install app gitu?”.

“Iya. Hampir semua app Android bisa diinstall dan dijalanin di Galaxy Camera, dari Instagram sampai Angry Birds.”

“Wuidiiih, kamera, bisa mainin Angry Birds? Asik dong?”

“Bisa, tapi kalau loe beli kamera buat main Angry Birds, kita nggak temenan.”

Akhirnya megang langsung.

Warna putihnya bagus, cuma saya milih yang blue-black.

Sekarang sudah tahu bahwa Samsung Galaxy Camera adalah kamera berbasis Android yang bisa jalanin app. Pertanyaan masih berlanjut, memang benda ini bikin penasaran.

“Kalau pake Android jadi Galaxy Camera ini bisa online? Wifi?”

“Bisa banget, dia ada Wifi sama 3G. Pakai Micro SIM card gitu.”

Denger pakai SIM card otomatis otak ya langsung mikir handphone. Memang nyeleneh sih, kamera ada SIM card nya, jaman dulu mana kebayang. Dan ya, otomatis pertanyaan berikutnya keluar.

“Bisa dipakai nelepon?”.

“Nggak bisa.”.

“Yaah, udah bisa kamera kok nggak bisa dipakai nelepon? Udah dicoba?”.

“Iya, sama kayak kamera DSLR Canon gue, kemaren juga gue coba buat nelepon, nggak bisa, malah dijauhin orang.”

Setelah tahu bahwa kamera ini memang kebetulan nggak dirancang untuk menelepon, sekarang ke pertanyaan penting lagi, yang biasanya jadi bahasan panjang.

“Berapaan harganya?”

“5-juta’an.”

Pause dulu. Di titik ini yang biasanya bikin orang mikir. Mindset sudah biasa dengan smartphone Android berkamera, sekarang melihat kamera ber-Android yang nggak bisa dipakai menelepon langsung jadi mikir. Argumen dasar langsung keluar.

“Lah, harga segitu gue mending beli smartphone aja, kameranya juga bagus, bisa internet, bisa app, bisa nelepon. Atau DSLR murah.”.

Mungkin banyak yang awalnya akan mikir begitu, dan memang Samsung Galaxy Camera ini punya posisi unik sekali. Dan setelah 2 minggu mainin, baru paham untuk siapa gadget ini bakal berguna banget. Jadi, saya jawab dulu pertanyaan si mas Bro tadi.

“Nah, ini emang unik posisinya. Smartphone ya bisa motret dan upload. Gue juga pake. Tapi, Samsung Galaxy Camera pakai lensa, 20x zoom. Smartphone nggak punya lensa begitu, dan zoom digital di smartphone sama aja naruh kaca pembesar di layar display. Pecah.”.

Sepertinya si mas Bro belum puas karena dia tadi juga membandingkan dengan harga DSLR.”

“DSLR sih gue ada, bisa aja gue pasangin lensa zoom, itu pun beli lagi. Kualitas gambar DSLR jelas menang, tapi jadi berat dan besar, belum tentu tiap saat kita butuh kualitas itu. Apalagi, nggak bisa edit di tempat dan langsung upload. Pakai ini untuk liputan event atau konser, bisa motret dari jauh dan otomatis upload.”.

Di titik ini biasanya teman lagi nyoba-nyoba sambil nyengir dan mulai nggak dengerin. Terutama nyoba zoom 20x nya yang bakal diikuti “Ah gokil zoomnya”, sambil bidik ke cewek yang duduk nun jauh di sana.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Galaxy Camera ini untuk yang butuh kamera lebih dari smartphone, tapi nggak mau bawa DSLR. Kesimpulan awal, cocok untuk reporter dan apapun liputan yang butuh kirim gambar atau video cepat via internet. Kemampuan optical zoom lensanya bukan hal remeh, dan bukan digital zoom yang menipu seperti di smartphone. Dengan Galaxy Camera ini, reporter bisa memotret atau merekam video dari jarak lumayan jauh tanpa bawa kamera besar dan segera mengirim via internet. Kualitas gambar belum bisa menyaingi DSLR, tapi jelas di atas smartphone rata-rata. Sangat cukup kalau buat saya.

Samsung merancang Galaxy Camera cukup mudah digunakan baik untuk kasual maupun fotografer. Untuk pengguna yang awam, banyak fitur yang memudahkan kita bikin foto-foto kreatif tanpa pusing belajar teknik fotografi. Mau motret pakai app Android aja? Bisa juga. Lalu buat fotografer, Galaxy Camera bahkan menyediakan moda P, A, S dan M ala DSLR. Ini menyenangkan sekali.

Sayangnya, belum sempat hunting foto keluar, karena Jakarta sedang hujan terus. Bahkan kemarin banjir besar. Jadi belum bisa berikan sample yang menarik, dan ulasan yang lebih detil. Untuk sementara, perkenalkan dulu, ini adalah Samsung Galaxy Camera.

20130111_230609

Mainan baru, Samsung Galaxy Camera

20130111_230748

Samsung Galaxy Camera in package.

20130111_230822

Layar sentuh besar masih ditutupi plastik pelindung.

20130111_231025

Kelengkapan Galaxy Camera dalam box. Charger, kabel USB, wriststrap, dan… headphone!

20130111_231643

Galaxy Camera dilengkapi Micro SIM slot, HDMI port dan Micro SD slot.

20130111_232111

Colokan Micro USB disamping untuk charging dan transfer data.

20130111_233318

Moda PASM di Galaxy Camera!

20130111_233413

Buat yang suka motret manual juga bisa!

20130113_202450

Pilihan moda video, bisa rekam slowmotion!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Android Jellybean Update Untuk Samsung Galaxy S3 Indonesia

Kabarnya hari ini, 2 November 2012, menurut situs yang memonitor, update Android Jellybean Samsung Galaxy S3 untuk Indonesia udah ada. Ada yang sudah coba? Saat ini ditulis saya sedang di jalan dan nggak megang S3, karena sekarang udah milih si Note 2 untuk hari-hari. Kalau ini benar, artinya kemungkinan beberapa fitur Galaxy Note 2 juga akan dimiliki oleh S3.

UPDATE: Setelah repot-repot update, sejauh ini belum ada fitur spesifik Note 2 yang kelihatan di S3.