Berkenalan dengan Samsung Galaxy Note 3

Image

Brand New Samsung Galaxy Note 3 Unboxed

Setahun memakai Samsung Galaxy Note 2 membuat saya menjadi penggemar seri ini. Besar dan bongsor bagi kebanyakan orang, bagi saya sekarang malah sebaliknya. Sekarang jadi sulit untuk menyukai smartphone dengan layar di bawah ukurannya, mata sudah termanjakan layar luas dan lagi, kemampuannya menjadi buku tulis digital. Sebelum masuk ke ulasan pengalaman menggunakan, di sini kita berkenalan dulu dengan jawara Samsung yang memiliki spesifikasi teknis tertinggi tahun ini. Namun seperti biasa, di sini, kita nggak akan bahas angka dan berbagai istilah teknis yang asing. Buat yang mencari spesifikasi teknis, link ada di akhir tulisan.

Lebih Besar adalah Lebih Kecil

Image

Samsung Galaxy Note 3 VS Galaxy Note 2

Sepertinya ini menjadi pola bagi Samsung, layar semakin besar namun bodi semakin ramping juga ringan. Sekilas mungkin tidak terlihat, tapi layar Samsung Galaxy Note 3 lebih besar daripada Galaxy Note 2, tanpa membuat tubuhnya lebih besar ataupun berat. Kalaupun ia lebih panjang sedikit, ketipisan dan keringanan mengimbanginya dengan baik.

Image

Layar Super AMOLED 5,7 inci dengan resolusi Full HD 1080p.

Apalah layar yang lebih besar jika tak diiringi tampilan yang lebih baik? Tak hanya lebih besar daripada pendahulunya, layar Samsung Galaxy Note 3 memiliki resolusi Full HD. Rasanya, kerapatan resolusi ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah smartphone.

Lebih Mewah dengan Desain Baru

Siluet muka Galaxy Note 3 lebih mirip seri pertamanya ketimbang Galaxy Note 2. Lebih ‘kotak’, namun tetap berlekuk sehingga nyaman di genggaman. Bezel plastik yang dilapisi cat berkesan chrome dengan garis-garis tipis mengelilingi sisinya, rancangan yang senada dengan Galaxy S4. Walau cantik, saya memilih melindungi bezel ini dengan soft jacket karena keringat tangan saya selalu mengikis cat.

Image

Samsung Galaxy Note 3 lebih persegi namun tetap berlekuk.

Image

Bezel plastik bernuansa chrome mengelilingi tubuh Samsung Galaxy Note 3

Memang, mayoritas pemilik akan memakaikan casing pelindung pada smartphonenya. Plastik, logam ataupun kaca, terbuat dari apapun bodi si hape, hal yang pertama kita lakukan setelah membeli adalah mencari jaket pelindung. Samsung Galaxy Note 3 tetap menggunakan bahan baku plastik, namun kali ini desain punggungnya begitu menarik hingga untuk pertama kalinya saya merasa berat hati untuk membungkusnya dengan jaket silikon.

Image

Rancangan punggung Galaxy Note 3 memang cantik.

Penutup punggung terbuat dari plastik dan diberi tekstur ala kulit, lengkap dengan jahitan di tepiannya. Tampilannya begitu real, tak sedikit yang mengira ini kulit sintetis. Rasanya, ini rancangan punggung Samsung Galaxy yang paling elegan sejauh ini.  Di luar penampilan menawannya, ada satu hal penting: ia tidak lagi licin di tangan seperti seri sebelumnya. Sebagian malah memilih tidak memakaikan jaket karena sudah nyaman dengan rancangan baru ini.

Pena Digital Yang Jauh Lebih Mudah

Samsung selalu melengkapi smartphone seri Galaxy Note nya dengan stylus S-Pen untuk menulis catatan, menggambar di atas foto, mencorat-coret di atas peta, menyalin gambar apapun yang ada di layar untuk ditempelkan. Namun cara seperti “tekan tombol S-Pen sambil menekan layar” atau “tarik garis lurus ke atas sambil menekan tombol S-Pen untuk mengeluarkan Quick Command” pada generasi sebelumnya sepertinya sulit diingat pengguna kasual. Menyadari, Samsung menyederhanakan semuanya di Galaxy Note 3.

Image

Tekan tombol S-Pen dekat layar untuk mengeluarkan menu Air Command.

Apapun yang mau dilakukan dengan S-Pen, cukup dengan memegangnya di atas layar dan menekan tombol untuk memilih menu. Air Command, nama yang diberikan Samsung untuk fitur ini, karena S-Pen tak perlu menyentuh layar. Jauh lebih mudah, siapapun akan ingat. Menulis di layar, memotong gambar, membuat catatan, semua hanya dipilih dengan satu klik. Sederhana!

Image

Mau menulis di atas layar? Tinggal pilih dari menu Air Command.

Penyederhanaan pena digital S-Pen di Galaxy Note 3 bukan hanya di pemakaiannya, namun juga bentuknya secara fisik. Sebelumnya, S-Pen harus dimasukkan dengan satu posisi yang benar, namun dengan bentuk yang sekarang pemakai bisa dengan cepat menyarungkan stylusnya dengan dua arah.

Jpeg

Galaxy Note 3 VS Galaxy Note 2: Punggung dan stylus S-Pen.

Jpeg

S-Pen milik Galaxy Note 3 tidak hanya bisa dimasukkan satu arah seperti pendahulunya.

Beberapa fitur lama digantikan di Galaxy Note 3, seperti pop-up browser yang bisa menampilkan jendela browser di mana saja sekarang menjadi fitur khusus S-Pen. Misalkan kita ingin membuat satu window kecil yang menampilkan app YouTube di atas app apapun, kita tinggal menggambar ukuran jendelanya.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar!

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar!

Fitur khas Multi Window masih tetap ada, lalu untuk apa yang satu ini? Bagi yang suka memakai Galaxy Note untuk mencatat, ini cukup berguna ketika perlu membuka sesuatu sambil menggunakan S-Note tanpa harus memaksa kita membuka multi-window yang ukurannya dibatasi.

Gunakan Jari, Tanpa Menyentuh!

Ingat bagaimana di Galaxy Note 2 kita bisa menggunakan stylusnya untuk melakukan preview foto dan video tanpa harus menyentuh? Dulu rasanya sudah kagum sekali dengan fitur yang diberi nama Air View ini, tapi Galaxy Note 3 membawanya selangkah lebih maju. Tidak perlu pakai S-Pen, cukup dengan jari yang tidak menyentuh layar, kita bisa melakukan beberapa hal.

Jpeg

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar, untuk preview foto.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Mengintip isi folder foto, membuka preview foto di galeri, cukup dengan jari yang tak perlu menyentuh layar. Lebih dari itu, pada browser, jari mengambang di atas layar akan memperbesar bagian yang ditunjuk. Sekali lagi, hanya dengan jari, tanpa perlu menyentuh layar.

Kendalikan Perangkat Audiovisual, Tanpa Banyak Remote

Seperti halnya Galaxy S4 dan Galaxy Note 8, Samsung melengkapi Galaxy Note 3 dengan blaster infra merah yang bisa menjadi remote control berbagai perangkat audio visual. TV, DVD, home theater dan sound system dari berbagai merek dapat dikendalikan lewat aplikasi WatchOn.

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Terutama bagi yang memiliki TV berlangganan, aplikasi ini juga dapat mengendalikan set top box atau decoder TV berbayar. Belum cukup? Semua jadwal acara bahkan bisa diakses di smartphone.

Semua Fitur Kamera Terbaru

Diantara semua fitur smartphone, salah satu yang terpenting adalah kamera. Dari model ke model, produsen selalu berusaha meningkatkan kemampuan kameranya. Lebih dari sekedar meningkatkan jumlah pixel, fitur dan moda yang disediakan turut menjadi daya tarik utama dan Samsung Galaxy Note 3 tidak mengecewakan.

Samsung Galaxy Note 3 hadir dengan fitur kamera lengkap.

Samsung Galaxy Note 3 hadir dengan fitur kamera lengkap.

Dengan spesifikasi dan modul kamera 13 megapixel persis Galaxy S4 yang digunakan di banyak smartphone Android high-end tahun ini, semua fitur utama dihadirkan di Galaxy Note 3. Antarmuka pemilihan menu mengikuti gaya Galaxy Camera. Berbagai pilihan moda, efek, sampai kemampuan animasi siap dipakai. Tapi bagi saya ada dua yang menarik, pertama adalah kemampuan memakai sekaligus 2 kamera depan dan belakang.

Yang memotret bisa ikutan masuk foto dalam frame kecil.

Yang memotret bisa ikutan masuk foto dalam frame kecil.

Sementara kamera punggung menjadi gambar utama, sang pemotret bisa ikut tampil dalam gambar, dengan berbagai pilihan frame unik bahkan membagi layar menjadi dua. Lebih seru lagi, splitscreen ini bukan hanya untuk foto namun juga bisa di video. Untuk apa? Bisa jadi merekam vlog perjalanan, adalah salah satu fungsi yang langsung terbayang.

Merekam depan & belakang split screen baik foto maupun video.

Merekam depan & belakang split screen baik foto maupun video.

Lebih lanjut di video, Galaxy Note 3 dapat merekam dengan lebih banyak moda kecepatan. Smooth Motion merekam kecepatan normal dengan lebih halus, sementara Slow Motion bisa merekam dengan 1/2, 1/4 bahkan 1/8 kecepatan. Berfungsi optimal di luar ruangan yang terang, menarik sekali untuk merekam momen olahraga.

Bisa merekam video slow motion dengan banyak pilihan!

Bisa merekam video slow motion dengan banyak pilihan!

Kebugaran, Temperatur dan Kelembaban

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

Mengikuti tren dan minat pengguna smartphone dalam merekam kegiatan olahraga, tahun ini Samsung memperkenalkan fitur S Health yang pertama hadir di Galaxy S4. Seperti semua fitur seri S lainnya, kemampuan ini pun dimiliki di Galaxy Note 3. Selain merekam jarak, langkah, kalori dan semua yang biasa dicatat oleh aplikasi kebugaran, Galaxy Note 3 memiliki kemampuan mengukur temperatur dan kelembaban ruangan yang membantu menilai faktor kenyamanan berolahraga dalam ruangan.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga.

Saya sendiri belum tahu apa pentingnya mengukur suhu dan kelembaban ruangan untuk berolah raga, tapi yang menjadi perhatian utama di sini adalah bahwa seperti halnya Galaxy S4, Samsung Galaxy Note 3 mempunyai setidaknya 2 sensor baru. Satu untuk mengukur temperatur, dan satu lagi mengukur kelembaban, dan pastinya nanti ini akan dapat dimanfaatkan oleh aplikasi-aplikasi lain.

Pertama Dengan Micro USB 3.0

Samsung Galaxy Note 3 adalah smartphone pertama yang memakai port Micro USB 3.0. Ini satu fitur yang akan membantu terutama dalam transfer data dan sync ke komputer. Hampir semua komputer baru tahun 2013 menyediakan port USB 3.0 ini, dan dengan Galaxy Note 3 kita bisa memanfaatkan penuh kemampuannya.

Port Micro USB 3.0 untuk data dan charge, tetap bisa Micro USB 2.0

Port Micro USB 3.0 untuk data dan charge, tetap bisa Micro USB 2.0

Walau sudah memakai port Micro USB 3.0, kita tetap dapat memakai kabel Micro USB 2.0 yang lama untuk transfer data maupun charging di Galaxy Note 3. Tinggal tancapkan di sisi kanan port, dan USB pun terhubung. Praktis dan fleksibel!

Batere Yang Lebih Besar

Galaxy Note 3 adalah smartphone Samsung yang serba ‘paling’ dalam banyak hal. Dari layar besar yang HD, prosesor cepat dengan 8 inti, dan berbagai sensor yang ada di dalamnya sudah pasti akan makan tenaga. Mengantisipasi ini, Samsung melengkapinya dengan batere yang lebih besar daripada sebelumnya sehingga walaupun kemampuannya akan lebih butuh daya, staminanya masih sama dengan Galaxy Note 2 yang dikenal cukup awet.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Masih Banyak Lagi

Kira-kira ini dulu perkenalan kita dengan Samsung Galaxy Note 3, yang baru dipakai sekitar semingguan. Jangan salah, yang dibahas di atas baru sepersekian dari seabreg kemampuannya. Soal banyaknya fitur, rasanya sulit menemukan smartphone yang bisa menyaingi seri Galaxy Note dari Samsung. Satu yang sudah bisa disimpulkan, ini adalah sebuah peningkatan yang signifikan dari seri sebelumnya, penggemar Galaxy Note rasanya akan dipuaskan.

Untuk yang mencari spesifikasi teknis Samsung Galaxy Note 3, bisa cek link ini.

Iklan

Berkenalan Dengan Acer Aspire P3: Hybrid Ultrabook

Image

Perkenalkan laptop kerja dan teman syuting saya yang baru, Acer Aspire P3

Kapan terakhir kali punya laptop Windows yang bikin orang-orang ngelirik, nyamperin dan bertanya-tanya? Sebelum ini terus terang saya belum pernah mengalami begitu. Yang namanya laptop Windows itu generik, standard, antara satu dan yang lain nggak ada  perbedaan yang ‘wah’. Paling-paling beda jeroan atau jenis. Kemarin kita sempat kenal netbook untuk kerja ringan, atau ultrabook yang super tipis dan anggun. Tapi masing-masing bawa kompromi dan tetap saja laptop. Baru sejak Windows 8, mendadak laptop jadi bisa menarik lagi. Dirancang untuk bisa dipakai sebagai laptop maupun tablet, Windows 8 akhirnya membuat laptop jadi punya bentuk baru yang lebih beragam. Dan sekarang saya baru mengalami punya laptop yang bikin orang-orang melirik dan bertanya karena tertarik, namanya Acer Aspire P3, jenis Hybrid Ultrabook.

Hybrid Ultrabook, Binatang Apaan Lagi Tuh?

Image

Ultrabook & Tablet, Hybrid!

Biar nggak pusing dengan istilah teknologi, untunk gampangnya Acer Aspire P3 ini adalah gabungan antara laptop ringan dan tipis, dan tablet. Sebagai laptop, kemampuan dan spesifikasinya bukan kelas ringan. Nggak ada kompromi nanggung seperti jaman netbook, otak Aspire P3 adalah prosesor Intel i5. Sementara secara ukuran tetap relatif kecil, dan bisa bekerja sebagai tablet. Iya, tablet, layar sentuh. Kalau sudah pakai Windows 8 pasti tahu bahwa semua dirancang untuk bisa dipakai dengan layar sentuh. Acer Aspire P3 bisa dilepas dari keyboard dan dudukannya, dan jadi tablet Windows 8 yang ringan namun kuat.

Fashionable, Capable.

Beneran, baru kali ini ngerasain pakai laptop yang ternyata selalu menarik perhatian orang sekitar. Gimana nggak. Acer merancang Aspire P3 ini cukup fashionable. Ketimbang bentuk laptop biasa yang sudah ketebak, Aspire P3 sekilas kelihatan seperti tablet yang dibungkus jaket cover, atau bahkan sebuah buku catatan. Bagian luar dibalut dengan bahan semacam vinyl yang bertekstur mirip kulit sintetis, dengan warna hitam. Beneran sama sekali nggak kayak laptop. Saking stylishnya, kalau memungkinkan, saya sebetulnya lebih senang bawa-bawa si P3 ini tanpa tas, supaya lebih kelihatan. Iya, saya memang suka pamer kalau punya mainan keren dan unik.

Image

Stylish, lebih kelihatan kayak buku atau tablet ketimbang laptop.

Di balik kulit luarnya, Acer Aspire P3 terdiri dari dua bagian. Keyboard bluetooth sekaligus dudukan yang melekat pada cover, dan layar yang bisa dilepas menjadi tablet. Semua otak komputer ada di bagian tabletnya, Sebenarnya bingung sih, ini layar laptop yang bisa dilepas dan jadi tablet, atau tablet yang dipasangi keyboar dan jadi laptop? Nggak penting juga, yang penting bisa jadi dua-duanya. Nah kalau luarnya warna hitam, bagian dalam Aspire P3 didominasi warna silver yang kelihatan sangat elegan.

Selamat Datang, Touchscreen. Selamat Tinggal, Trackpad!

Image

Layar sentuh dan keyboard, nggak perlu trackpad.

Nggak ada trackpad di Acer Aspire P3. Yup, ini salah satu keunikan yang bikin banyak orang bertanya-tanya waktu pertama lihat. “Lho, ini nggak ada trekped nya ya, Ray?” Windows 8 yang dirancang bisa dipakai layaknya tablet, memungkinkan kita meniadakan trackpad karena semua bisa dilakukan langsung dengan menyentuh layar. Ribet dong? Nggak. Beneran. Mungkin nanti akan kaget betapa memakai Windows 8 dengan layar sentuh tanpa trackpad terasa natural.

Image

Dalam posisi duduk, layar si Aspire P3 ini letaknya menempel dengan tepi atas keyboard, jadi tangan kita sudah dekat sekali dengan layar. Tinggal angkat jari pun tersentuh, tangan nggak perlu menjulur sama sekali. Menyentuh layar bahkan terasa cukup natural, buktinya, sejak pakai si P3 ini, kalau kebetulan megang laptop atau komputer lain bawaannya mau nyentuh layar untuk nekan tombol. Sama seperti trackpad, touchscreen pastinya bukan cara ideal untuk operasi yang butuh akurasi seperti di aplikasi grafis atau editing foto. Untuk operasi yang panjang dan butuh akurasi, kita pastinya tetap bisa pakai mouse di P3 ini. Walau mungkin bukan yang pertama, ini tetap langkah yang cukup berani, dan mungkin ke depannya akan makin banyak hybrid yang meniadakan trackpad.

Feature & Power

2 tahun saya kerja cukup pakai netbook Acer. Saya udah niatin, kalau punya laptop satu lagi harus laptop yang kemampuan penuh, Windows 8, dan touchscreen. Ternyata ya, sekarang itu jeroan laptop udah bisa muat dalam bentuk tablet setipis dan ringan. Nggak lagi pakai nanggung ala era netbook.

Image

Fitur lengkap Aspire P3

Teknis dikit bentar nggak apa-apa ya, tapi seperti biasa nggak akan terlalu bahas ribet angka. Intinya, nggak usah khawatir akan kemampuan makhluk setengah tablet dan setengah ultrabook ini. Otaknya pakai Intel i5, prosesor serius, bukan macam Intel Atom yang, anu, pemalu. Cepat, nggak kenal lemot. Makin terasa kencangnya lagi karena hard disknya pakai yang namanya SSD yang lebih cepat daripada hard disk laptop biasa.

Image

Sound dengan Dolby Home Theater

Image

Tombol volume, power dan colokan headphone.

Image

HDMI dan USB 3.0

Colokan USB? Ada dong, dan udah USB 3.0 yang jauh lebih cepat, tentunya kalau disambung ke alat yang juga USB 3.0 ya. Mau tancap ke layar besar, Aspire P3 sudah ada colokan HDMI. Mau presentasi pakai proyektor (anak kantor bilangnya, ‘InFocus’, padahal itu merk) juga bisa, dalam kemasannya Acer sudah ngasih adapter dari HDMI ke VGA. Nggak perlu repot beli lagi. WiFi, Bluetooth, webcam HD, sudah pasti. Semua ini di bagian layar atau tablet nya. Keyboardnya ya keyboard aja.

Image

Keyboard fullsize, besar dan lapang.

Nah, bicara soal keyboard, pengalaman pertama makai P3 jadi lucu. Saking udah lama kebiasa kerja pakai keyboard ukuran netbook yang rada kecilan, pas makai si P3 jadi agak kagok. Kenapa? Karena keyboard Aspire P3 besar. Walau sekilas Aspire P3 kelihatan kecil, keyboardnya full size. Jarak pemisah antara tuts sangat jelas, nggak berdempetan. Satu lagi keunikan keyboard Aspire P3, walaupun secara fisik, menekan tuts nya terasa cukup masuk. Kirain keyboard setipis gitu bakal kayak ngetik di kayu, tapi ternyata masih sangat terasa normal, jarak tekan dan pantul balik tuts nyaman dan natural. Keyboard ini terhubung dengan Bluetooth dan punya batere sendiri di dalamnya. Jadi, harus dicharge juga kalau lampu indikatornya menyala kuning. Chargenya gampang, cuma ngambungin USB ke tabletnya, dengan kabel pendek yang disediakan Acer di kemasan.

Image

Tombol power dan colokan micro USB untuk charge keyboard.

Layar sentuh Aspire P3 cukup responsif dan multitouch, bisa merespon 10 titik sekaligus. Resolusinya pun sudah standard. Brightness nya lumayan oke, di tempat terang masih lumayan ‘ngelawan’. Ini penting sih buat saya yang kadang bawa dia ke lokasi outdoor kalau kerjaan motret atau syuting video. Sudut pandang cukup lebar, jadi nggak mesti lempeng amat depan P3 untuk ngelihat jelas. Tapi ya baek-baek ya kalau buka yang nakal-nakal, gampang keintip dari samping.

Nyaris Lupa, Kameranya Ada Dua.

Bukan cuma webcam! Haha! Lupa! Saking jarang dilepas dari dudukannya, terus terang saya nggak inget kalau Aspire P3 ini punya dua kamera. Selain webcam HD yang menghadap ke kita, di punggungnya ada kamera utama, resolusinya 5 megapixel.

Image

Kamera utama di punggung P3, resolusi 5 megapixel.

Berhubung saya bukan golongan yang hobi motret pakai tablet nan besar ya, jadi belum nyoba. Tapi seenggaknya, nice to know bahwa Acer cukup melengkapi fitur P3. Kalau sampai perlu, ada kamera 5 megapixel di punggung Aspire P3.

Pengalaman Baru

Setelah sekian lama kenal Windows, akhirnya ada juga perubahan yang segar. Mulai dari tampilan sampai cara pakai, berbeda banget dari yang dulu kita kenal. Dirancang untuk bisa dipakai dengan sentuhan, Windows 8 akan semakin terasa kecanggihannya di komputer yang menggunakan touchscreen, apalagi bisa dilepas menjadi tablet. Serba bisa. Ini pengalaman yang saya dapatkan dari memakai Aspire P3, komputer yang serba bisa, lebih modern, fleksibel, praktis juga bertenaga. Sebulan memakai P3, saya jadi merasa bahwa memang komputer seharusnya sudah berubah jadi seperti ini.

Image

Windows 8, Ultrabook, Tablet. Semau kita.

Saya belum menjajal P3 untuk kerja berat seperti video editing dengan Adobe Premiere, karena memang saya nggak ngedit di laptop. Tapi untuk kebutuhan kerja saya, P3 jadi alat bantu yang menyenangkan. Contoh pemakaian yang unik misalnya syuting video testimoni atau presenter, P3 bisa dilepas jadi bentuk tablet dan menjadi alat bantu baca teks. Di depan sang presenter, P3 menjadi semacam teleprompter.

Salah satu dari Aspire P3 yang mengesankan buat saya adalah kecepatan start-nya. Cuma beberapa detik, nggak pakai nunggu lama. Cepatnya ini lebih kayak tablet ketimbang laptop, yang begitu dibuka langsung instan nyala. Awalnya, kirain ini karena si P3 dalam posisi sleep, jadi ngebanguninnya cepat, karena itu saya coba shutdown aja. Sekalian ngirit batere. Ternyata dari posisi shutdown pun sama cepatnya, begitu buka, cuma beberapa detik langsung siap kerja. Nice!

Walau menyenangkan dan natural, memakai touchscreen ketimbang trackpad memang perlu membiasakan diri dulu. Ada beberapa action seperti klik kanan yang kemudian diganti menjadi sentuhan lama (nih istilah rasanya salah ya). Jadi untuk mengeluarkan menu, sentuh dan tahan sampai menu keluar. Dan sama seperti untuk semua laptop ataupun komputer saya, untuk yang perlu akurasi, saya tetap pakai mouse. Wireless, pastinya.

Image

Acer Aspire P3, sisi belakang tablet.

Sebagai benda yang bentuknya tipis, power Aspire P3 cukup mengesankan saya. Kombinasi otak Intel i5 dan storage SSD yang cepat memang sangat cepat. Belum pernah merasakan slow-down atau menunggu. Nggak ada istilah lemot. Untuk playback beberapa video full HD pun si P3 jalan tanpa ragu. Untuk kerjaan saya yang seputaran foto dan video, kekuatan ini sangat membantu. Dalam pengalaman saya makai P3 sebulanan lebih, kalau dalam pemakaian penuh, baterenya kuat sampai 5 jam lebih. Nggak wah, tapi kalau bisa, pengennya bisa lebih.

Image

Playback video HDnya mulus, jadi saya pakai buat preview kalau syuting.

Pengalaman penting nggak penting yang unik adalah bagaimana ke manapun bawa si Aspire P3 ini, yang pertama melihat pasti penasaran. Dan nggak jarang pula jadi tertarik. Ini bukan hal kecil lho. Kapan terakhir ada laptop yang bentuknya bikin penasaran? Biasanya kita lihat laptop ya melengos aja, laptop ya laptop. Tapi dari pengalaman saya melihat respon orang-orang sekitar, sepertinya Acer cukup berhasil membuat desain yang menarik.

Kalau Ada Yang Bisa Saya Ubah Dari Aspire P3…

Nggak ada yang sempurna, dan semenyenangkan apapun suatu perangkat, pasti ada yang bisa dibuat lebih baik. Kalau ada beberapa hal yang pengen saya ubah di Acer Aspire P3, pertama adalah membuatnya lebih ringan. Dalam bentuk tabletnya, Aspire P3 sangat enteng di tangan, tapi ketika menyatu dengan keyboard dan casenya, bobotnya jadi seperti laptop. Pengennya, apalagi dengan label ‘Ultrabook’, mestinya si P3 ini bisa lebih ringan sedikit lagi.

Kedua, daya tahan batere. Tapi ini bakal jadi kompromi dengan bobot, kalau batere dibuat lebih besar pastinya bakal nambah bobot kan? Ngelunjak nggak kalau saya pengen stamina batere 8-9 jam? Mungkin, tapi bisa jadi di generasi berikutnya ini bisa diwujudkan.

Layar sentuh P3 masih belum yang kebal minyak dan sidik jari. Rasanya ini juga kompromi, bisa aja Acer ngasih layar yang lebih kebal sidik jari, tapi kebayang bakal pengaruh ke harga. Mungkin solusinya nyari pelindung layar yang fingerprint-resistant.

Ada satu yang penting nggak penting sih, yaitu jaket atau keyboard-covernya. Cantik, keren, stylish, eksklusif, tapi di tangan saya bahannya agak cepat kotor dan membersihkannya agak susah. Nggak fatal, tapi ya saya senengnya tetep kinclong. Cara melepas tablet dari dudukannya juga agak serem, butuh dicongkel pakai kuku. Tapi di sisi lainnya, ini menjamin tablet nggak akan bisa lepas sendiri. Pengennya di generasi berikutnya dibuatkan yang lebih mudah tapi tetap aman. Dan walau ketika posisi berdiri, layar P3 duduknya sangat mantap dan nggak akan bisa bergeser, namun ketika terlipat, nggak ada yang ‘nyeklek’ atau apalah supaya dia nggak meleset.

Oh satu lagi ding. Card reader. Pengennya udah ada card reader-nya. Apalagi kerjaan saya banyak berkutat dengan SD Card.

Pada Akhirnya

Kalau sedang mencari-cari laptop baru, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook ini layak dilirik. Apalagi kalau baru akan upgrade ke Windows 8. Kemampuannya menjadi Ultrabook dengan prosesor berkekuatan penuh, digabung flesibilitasnya untuk menjadi tablet layar sentuh yang ringan dan praktis, membuat Aspire P3 jadi pengalaman bekerja yang baru dan modern. Ditambah lagi, Acer memberi bandrol harga yang sangat kompetitif untuk Aspire P3.

Image

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook – Tablet Mode

Apakah ini pilihan terbaik buat kamu? Ya tentunya kembali tergantung pada kebutuhan kerja juga budget. Setiap orang punya kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Paling tidak, dengan Aspire P3, Acer memberi kita satu lagi pilihan yang sangat menarik untuk jadi perangkat kerja utama. Saya sendiri sangat menikmati pengalaman berkomputer yang baru dan lebih modern dengan Aspire P3.

Untuk yang ingin tahu spesifikasi teknis lebih detail, dapat kunjungi link Acer ini.

Ketika Buku Tulis Bisa NgeGoogle: Samsung Galaxy Note 8

Meeting! Semua duduk, dan di hadapan masing-masing terhampar lah dokumen, atau laptop, atau sekarang, tablet. Dengan cover terlipat jadi stand, agak miring menghadap si pemakai, sudah terbuka email, Google, atau apalah yang berhubungan dengan kerjaan. Rapat dimulai, proyektor dinyalakan, pemimpin rapat pun menunjukkan foto mesumnya. Oh bukan. Presentasi PowerPoint nya. Sebagian mulai mencatat-catat catat. Pakai bolpen, di buku catatan.

Tetap pena dan kertas. Bukan di tablet.

Memang, semua tablet sekarang bisa buat nulis-nulis. Install app, beli stylus bisa. Tapi bahkan tablet yang terpopuler pun belum benar-benar dirancang untuk itu. Stylus rata-rata ujungnya karet tumpul, lebar, nggak murah pula. Kalau mau yang ujungnya seperti bolpen, lebih mahal lagi. Mayoritas memang nggak 100% terancang dari awal untuk memakai stylus yang sudah dianggap kuno, tapi Samsung dengan seri Galaxy Note nya justru sejak awal dikonsepkan untuk jadi buku catatan ‘Note’ pintar.

Samsung Galaxy Note 8

Samsung Galaxy Note 8

Sudah sebulanan lebih saya pakai Samsung Galaxy Note 8 baik untuk mencatat di meeting atau corat-coret cari ide. Awalnya sekedar ingin tablet baru dengan ukuran sedang, nggak ada ekspektasi khusus. Secara fitur pun Galaxy Note 8 kurang lebih sama dengan Galaxy Note 2 yang saya pakai sejak akhir tahun lalu, jadi sudah familiar dan nggak ada yang terlalu mengejutkan. Ternyata yang mengagetkan adalah bagaimana Galaxy Note 8 bisa mulai mengalihkan saya dari bolpen dan buku tulis. Sekarang saya mau cerita sedikit, kesan-kesan akan si Note 8. Seperti biasa, nggak pakai angka. Kalau cari spesifikasi teknis, banyak di internet.

Tablet Yang Manis

Desain bentuk Samsung Galaxy Note 8 ini bukan tipe maskulin, cenderung manis, mungkin bahkan agak feminin. Kecuali bentuk persegi layar, nggak ada garis lurus tegas di bodi-nya. Bisa dibilang, bentuk Galaxy Note 8 ini seperti versi besar dari rancangan Samsung Galaxy S3. Walau tampilan fisik Samsung Galaxy Note 8 ini bukan selera saya, tapi saya pikir coba aja dulu. Soalnya, saya yang dulunya benci dengan rancangan Galaxy S3 pun akhirnya jatuh cinta karena ternyata lekukan halusnya ternyata membuatnya nyaman.

Warna putih membalut muka dan belakang tablet ini, sementara bezel tipis dengan warna perak mengelilingi dan memberi aksen yang elegan dan pas. Kabarnya akan ada Samsung Galaxy Note 8 dengan warna coklat tua, tapi entah akan masuk sini atau nggak.

Bentuk rancangan Samsung Galaxy Note 8 cenderung manis.

Bentuk ‘manis’ dan ukuran yang lebih ‘pas’.

Ukuran adalah poin penting yang menentukan betapa efektifnya Samsung Galaxy Note 8. Dengan layar 8 inci, Galaxy Note 8 cukup besar sebagai ‘buku tulis’ dan cukup ringkas sebagai tablet. Setelah memakai Galaxy Note 8 ini, pendahulunya yaitu Galaxy Note 2 menjadi terasa terlalu kecil untuk menulis, sementara Galaxy Note 10.1 terkesan terlalu besar untuk dibawa-bawa. Nggak ada ungkapan lain soal ukuran Galaxy Note 8 selain “Pas banget!”.

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Bodi dari plastik tebal sepertinya membantu membuat bobot Samsung Galaxy Note 8  ringan dan tidak memberatkan dibawa-bawa.  Selain ringan, dari pengalaman pribadi, plastik yang sering dituding ringkih ternyata bisa lebih tahan benturan dibanding aluminium yang justru lebih mudah penyok. Satu hal aja yang saya kurang suka dari bahannya adalah ia terlalu mulus licin tanpa tekstur, sementara tangan saya cepat berkeringat, jadi yang terpikir pertama kali begitu memegang Galaxy Note 8 adalah “Mesti dipakein jaket, nih.”.

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Dalam paketnya, Samsung membekali Galaxy Note dengan semua kelengkapan standar yang sudah masuk ekspektasi kita seperti charger dan headphone yang juga adalah handsfree untuk fungsi telepon. Nggak ada yang terlalu istimewa di sini.

Fitur Khas Seri Galaxy Note, Dengan Pengalaman Baru.

Lebih dari smartphone atau tablet Android standar, Samsung merancang seri Galaxy Note untuk menjadi pena dan kertas digital yang pintar secara utuh. Semua perangkat pendukung sudah disiapkan Samsung. Stylusnya yang bisa membedakan tekanan dan juga mempunyai fungsi tanpa menyentuh layar. Aplikasi notepad aktif begitu kita mencabut S-Pen dari dudukannya, dan Quick Command yang membuat pengalaman bekerja dengan stylus tidak terputus ketika harus melakukan search. Ini baru sebagian kecil fitur khasnya.

Canggih memang, tapi sebetulnya semua ini bukan hal baru bagi seri Galaxy Note. Seperti pada seri sebelumnya, fiturnya terlalu banyak untuk diulas satu demi satu. Untuk Galaxy Note 8 saya cuma pengen ceritain yang terasa paling efektif dan menyenangkan dipakai. Walau bukan baru. Yang baru pada Galaxy Note 8, adalah sensasi dan pengalaman dalam menggunakannya.

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

Cabut stylus S-Pen dari dudukannya di sisi kanan bawah, dan Samsung Galaxy Note 8 langsung menampilkan aplikasi S-Note nya di layar. Nggak pakai masuk menu dan milih-milih app, dia sudah siap. Entah dalam meeting atau mendadak kita harus mencatat sesuatu, cabut saja S-Pen lalu tulis. Berbeda dengan generasi pendahulunya, kali ini ukurannya yang pas membuat pengalaman menulis jadi jauh jauh jauh lebih nyaman. Nggak jauh beda dengan notepad atau ‘notes’ yang biasa kita pakai untuk mencatat ini-itu, menyenangkan sekali.

Stylus Maximus

Bayangkan, buku tulis yang pintar dan bisa ngeGoogle. Ini kesan yang saya dapat dengan Galaxy Note 8. Tanpa harus meninggalkan stylus S-Pen, ketika search Google, kita cukup menggunakan fitur Quick Command.

Katakanlah, kita mau search tentang Jakarta.

Tarik garis lurus dari bawah layar ke atas, sambil menekan tombol di S-Pen dan kita akan disuguhkan layar khusus lalu cukup tuliskan dengan, “? Jakarta”, maka Google Search results untuk Jakarta pun muncul.

Nggak perlu berganti app, nggak perlu meletakkan S-Pen untuk mengetik search, dari kita sedang mencatat-catat tanpa terputus kita bisa melakukan banyak hal lain dengan S-Pen lewat Quick Command.

Sudah dapat hasil Google tentang Jakarta, lalu kita lihat ada gambar yang ingin kita kliping dan tempelkan ke catatan yang kita buat tadi? Gampang, kita cukup membuka gambar yang mau dikliping lalu sambil menekan tombol di S-Pen, tarik garis mengelilingi gambar tersebut. Begitu gambar terkelilingi garis, Galaxy Note 8 otomatis mengcopy bagian kliping kita dan menempelkannya pada catatan kita di aplikasi S-Note. Semua terancang begitu matang untuk menjadi buku catatan pintar.

Tapi dari semua fitur S-Note, favorit saya adalah Idea Sketch.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Note, Idea Sketch

Nah, kadang kalau sedang nyari ide, sketsa bisa membantu mengolah pikiran. Kita tahu, isi buku catatan kita bukan hanya tulisan, angka, garis dan panah penghubung. Kadang kita membuat gambar-gambar kecil yang membantu mengilustrasikan ide dan konsep dalam otak, dan seri Galaxy Note menyediakan fitur Idea Sketch untuk mempermudah kita menambahkan sketsa ke dalam catatan.

Cara pakai Idea Sketch

Tetap dengan S-Pen, cukup tap Insert Object di kiri bawah dan pilih Idea Sketch. Layar kemudian menampilkan ruang tulis, kita tinggal menuliskan apa obyek yang kita inginkan dan Idea Sketch akan mencarikan jika ada sketsa yang cocok. Katakanlah kita ingin menggambarkan mobil di dalam catatan, tinggal tulis “CAR” di Idea Sketch, lalu sederetan sketsa gambar orang ditampilkan untuk kita pilih.

Begitu sketsa dipilih, kita pun otomatis kembali ke catatan untuk meletakkannya. Idea Sketch adalah kumpulan obyek sketsa siap pakai yang bisa diakses lewat tulisan maupun menu, dibagi perkategori, dan kita bisa mendownload lagi sketch tambahan dari Samsung. Sekali lagi, tanpa harus meninggalkan S-Pen.

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword 'People', tinggal pakai.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword ‘People’, tinggal pakai.

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Konektivitas Lengkap

Ini baru sebagian saja dari banyak fitur Galaxy Note 8 yang juga memang sudah standar khas seri Note dari Samsung. Walau hanya sebagian, ini yang paling menggambarkan pembedaan antara Galaxy Note 8 dengan tablet 8 inci lainnya. Pembedaan yang kuat sekali, karena bukan hanya sekedar spesifikasi teknis tapi lebih ke fitur pemakaian. Sebagai tablet Android, tentunya Galaxy Note 8 memiliki lengkap semua kemampuan sudah menjadi kelengkapan dasar.

Konektivitas GSM 3G, WiFi, GPS dan Bluetooth lengkap tersedia. Kamera pun siap, baik depan maupun belakang, tapi saya nggak pengen bahas karena, ya, paling males lihat orang motret pakai tablet. Storage untuk menyimpan file bisa ditambahkan dengan Micro SD, dan kalaupun perlu disambung ke layar TV atau proyektor bisa beli adapternya.

Satu kejutan tambahan adalah: ada infra red blaster. Dengan ini dan app khusus yang sudah disediakan dari pabrikan, Galaxy Note 8 bisa menjadi remote control berbagai perangkat seperti TV, stereo, DVD, Home Theater dan lainnya, dari berbagai merek! Nice!

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV!

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV berbagai merek!

Fungsi Telepon

Galaxy Note 8 bisa jadi telepon. Sebelum pada memutar bola mata dengan sinis dan bilang “Siapa jugaaaa yang mau nelepon pakai tablet?”, saya bilang fungsi ini menolong sekali untuk isi pulsa dan daftar paket internet di sini, yang kebanyakan masih pakai USSD code macam *123# dan lain-lain. Dan ya, kalaupun mau dijadikan telepon ya gampang saja, pakai handsfree atau headset Bluetooth. Saya senang sekali Galaxy Note 8 juga dilengkapi kemampuan telepon selular. Lengkap sekali jadinya.

Batere dan Performa.

Saya sih nggak pernah secara khusus menguji stamina batere ataupun performa dari gadget ya, itu bagian para gadget reviewer yang doyan bahas teknis dan angka-angka. Soal batere, selama memakai Galaxy Note 8 rasanya belum pernah merasa cepat habis atau boros amat. Pemakaian terberat pribadi untuk bekerja dan nyala non-stop pernah tembus 6 jam dan masih sisa sedikit. Nggak ada keluhan dari sisi batere, bukan yang paling irit tapi juga nggak boros.

Performa sampai saat ini mulus tanpa cegukan, tapi sekali lagi, ini adalah dengan pola pemakaian saya ya. Satu-satunya jeda respon yang saya alami adalah ketika membuka setting dan memilih mengganti font di system. Selain untuk jadi buku catatan pintar, Galaxy Note 8 ini lebih jadi alat kerja buat saya buka dokumen seperti doc, xls, ppt dan pdf. Buka tutup dan berganti file Office dengan berbagai app Office Suite seperti Kingston dan Polaris terasa sangat cepat bahkan lebih menyenangkan daripada laptop. Saya nggak banyak test untuk game 3D apalagi untuk motret.

Kesimpulan

Dengan kelebihan fitur dan kenyamanan memakainya, rasanya terlalu mengecilkan kalau menyebut Samsung Galaxy Note 8 hanya sebagai tablet Android baru. Lebih dari sekedar alat konsumsi media atau  hiburan, buat saya Samsung berhasil menciptakan Galaxy Note 8 sebagai tablet yang ideal dan terancang penuh sebagai teman kerja. Kemampuan dan fitur S-Pen nya, dipadu dengan ukuran yang sangat amat pas, membuat saya akhirnya lebih mencari Galaxy Note 8 tiap akan ada meeting kerjaan dibanding buku tulis dan pena. Bagi saya yang fanatik orat-oret dengan bolpen dan kertas, ini hal yang luar biasa dan benar-benar nggak saya duga. Kadang, bawa laptop itu overkill dan bawa tablet biasa masih nanggung, dengan si Note 8 ini sudah beberapa kali terbukti cukup jadi andalan utama kalau meeting.

image

Tablet yang cocok untuk kerja.

Kalau ada yang ingin saya ubah dari Galaxy Note 8, paling utama adalah bagian punggungnya yang terlalu licin. Mestinya lebih bertekstur supaya mantap dipegangnya, atau sekalian saja dengan bahan yang seperti karet. Selain itu, menambahkan NFC supaya bisa dengan gampang bertukar dokumen dengan peranti lain, dan mungkin batere ditambah juga nggak ada salahnya. Soal bentuk, selera masing-masing ya, tapi warna memang mestinya ada lebih dari satu pilihan. Kalau mau kompetitif, harganya ditekan lagi.

Satu pe-er Samsung juga adalah menyertakan tutorial bagaimana memakai fungsi-fungsi dan fitur khas yang ada. Seri Note datang dengan segudang fitur, tapi mayoritas pemilik kurang tahu bagaimana memakainya. Ini sayang sekali dan jadi mubazir.

image

Samsung Galaxy Note 8

Pada akhirnya, apakah Samsung Galaxy Note 8 ini pilihan tepat buat kita? Kembali ke kebutuhan dan preferensi masing-masing. Kalau suka sekali menulis, mencatat, dan seperti saya, ‘orat-oret’ di buku tulis ketika mencari ide, rasanya Note 8 layak dilirik karena memang sangat terancang untuk itu. Hampir semua tablet bisa dibelikan app dan dipakaikan stylus, tapi sampai saat ini baru seri Note dari Samsung yang memang diciptakan dengan konsep menjadi buku catatan digital menggantikan pena dan kertas. Dan di ukurannya, Samsung Galaxy Note 8 bagi saya cukup berhasil memenuhi tujuan itu. Cukup bertenaga dan gesit untuk jalankan berbagai aplikasi, cukup kecil dan ringan untuk dibawa, namun juga cukup luas untuk tulis-menulis, tampaknya Samsung menemukan sweet-spot untuk seri Galaxy Note-nya.

Buku tulis pintar yang bisa nge'google.

Buku tulis pintar yang bisa nge’google.

Review: Samsung Galaxy S3 VS Samsung Galaxy Note 2, Pilih Mana?

Baca review udah, detail teknis udah dibacain, spesifikasi udah dibandingin, tapi masih bingung milih? Karena punya dan pakai dua-duanya, saya mau nyoba bantu ngasi gambaran perbandingan antara dua Android jagoan Samsung di tahun 2012. Nggak usah bahas angka ya, bahkan, sekalian jangan ada angka sama sekali di sini. Kalau mau teknis, banyak yang udah bikin. Ini pandangan pribadi pengguna, siapa tahu bisa membantu mikir supaya nggak salah pilih. Mikir itu penting, soalnya, benda-benda ini nggak murah. Yuk ah, kita mulai.

 

Pilih yang mana?

Bentuk & Ukuran: Enakan Yang Mana?

Walau lebih ramping dan tipis dari generasi pertamanya, layarnya Galaxy Note 2 lebih besar dan tetap aja termasuk smartphone paling bongsor saat ini. Yang baru pertama kali makai seri Note pasti pada awalnya akan canggung dan ragu. “Apa bener gue bakal betah makai benda segede gini sehari-hari?”. Texting dengan satu tangan jelas nyaris mustahil kecuali tangan kita segede pemain basket NBA. Tapi untungnya Samsung sadari ini dan menyediakan fitur keyboard ‘satu tangan’ yang lebih kecil dan dipepetin ke kanan layar.

Sementara itu, Galaxy S3 yang layarnya juga lebih besar dari kebanyakan smartphone masih jauh lebih nyaman digenggam dan dibawa. Ini fakta praktis. Yang tadinya tidak menyukai rancangannya yang berlekuk bisa dikagetkan nyamannya S3 di tangan. Ini kejadian sama saya. Awalnya sangat nggak suka bentuk S3, karena bulet-bulet gitu. Eh, tapi begitu megang kok nyaman? Akhirnya jadi suka banget. Kali ini, gembar-gembor rancangan bukan omong kosong, Galaxy S3 memang cukup ergonomis.

Pemenang: Galaxy S3

 

Layar: Mana Yang lebih Tajem & Kinclong?

Tanpa menyebut angka ukuran, kita udah tahu bahwa layar Galaxy Note 2 jauh lebih besar daripada Galaxy S3. Bahkan, lebih besar daripada Galaxy Note pertama. Tapi, karena aspek rasio (itu lho, perbandingan panjang x lebarnya) beda, Note 2 yang lebih besar malah lebih ramping daripada Note pertama. Resolusi layar Note 2 dan S3 sama persis, udah HD. Tapi ini justru bikin perbedaan yang tampak nyata.

Layar Galaxy S3 mempunyai resolusi sama dengan Note 2 tapi lebih kecil, sehingga tampilannya jadi lebih padat dan tajam daripada Note 2. Benar-benar memuaskan mata. Sementara, Galaxy Note 2 dengan resolusi sama tapi layarnya lebih besar, jadi begitu melihat pun kita merasa bahwa tampilannya tidak setajam Galaxy S3. Nah bicara ukuran, besarnya layar Galaxy Note 2 pun bukan asal besar. Ada tujuan, yaitu mengakomodir fungsinya sebagai tempat menulis menggunakan stylus. Percuma bisa buat menulis kalau ruangnya kecil. Mana yang lebih penting, ukuran atau ketajaman? Tiap orang punya prioritas masing-masing, tapi bicara tajam dan kinclong, jelas ada yang unggul.

Pemenang: Galaxy S3

 

Prosesor, Otak Siapa Yang Lebih Pinter?

Sudahlah, namanya juga lebih baru dan termasuk top of the line, jelas unggul Galaxy Note 2. Dengan begitu banyak kemampuan dan fitur baru, memang smartphone kelas ini jangan diberikan spesifikasi yang nanggung. Tapi unggulnya jeroan Note 2 bukan berarti membuat Galaxy S3 menjadi smartphone yang lemah. Galaxy S3 memiliki spesifikasi teknis yang membuat banyak smartphone Android iri. Saat dirilis, Galaxy S3 juga yang terkuat dan tercepat dari sisi prosesor. Apakah fakta bahwa ‘otak’ Galaxy Note 2 lebih hebat membuat S3 dianggap kurang mumpuni? Tidak sama sekali. Lagipula, pada realitanya mayoritas pengguna pun belum tentu butuh tenaga memroses setinggi yang dimiliki kedua handset ini. Bahkan bagi pengguna kasual, mungkin bahkan nggak merasakan bedanya. Galaxy Note 2 menang, namun tidak mengecilkan S3.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Sistem Operasi: Androidnya Sama Nggak?

Langsung dari pabriknya, Samsung sudah memberikan Android Jelly Bean pada Galaxy Note 2. Sistem operasi Android terkini saat tulisan ini dibuat memang membawa banyak kemampuan dan pengubahan baru. Galaxy S3 standardnya memakai Android Ice Cream Sandwich. Pada saat dirilis adalah Android paling akhir, bahkan masih belum terlalu banyak yang pakai. Tapi nggak berarti akan kalah, Samsung sudah menjanjikan akan ada upgrade ke Android JellyBean untuk Galaxy S3. Nah apakah ini akan berarti sama persis dalam pemakaian, belum tentu karena memang ada fitur berbeda yang diberikan Samsung pada Galaxy Note 2. Paling tidak, secara sistem operasi Android, keduanya akan sama-sama mutakhir.

Pemenang: Saat ini Galaxy Note 2, mungkin akan seri setelah Galaxy S3 diupdate ke JellyBean

UPDATE: 03 November, Galaxy S3 saya sudah mendapatkan update Jellybean pertama, sejauh ini belum ada fitur Note 2 yang tampak hadir, seperti di gesture dan kameranya misalnya. Jadi secara sistem operasi sudah sama-sama JellyBean, tapi fitur masih lebih banyak Note 2.

 

Tampilan belakang & kamera.

Kamera, Bagusan Punya S3 atau Note 2?

Nah, soal ini bisa dibilang seri kamera keduanya sama persis. Bukan cuma dari angka megapixel, tapi juga udah ngecek baca sana-sini, memang pakai modul kamera yang sama persis. Aplikasi kamera di Galaxy Note 2 memang punya kemampuan lebih, tapi itu bukan dari hardwarenya, lebih dari sistem operasi dan fitur dari Samsung. Semua itu kemungkinan besar juga akan diterima oleh Galaxy S3 dalam firmware update dari Samsung. Dua-duanya punya salah satu kamera smartphone yang terbaik saat ini, nggak usah ragu dan khawatir. Pokoknya dari sisi kamera keduanya memuaskan.

Pemenang: Seri

UPDATE: Setelah firmware update Galaxy S3 ke Jellybean, saat ini tidak tampak ada fitur Note 2 yang diberikan juga di S3. Secara kualitas, kamera tetap seri. Cuma lagi-lagi Note 2 punya fitur lebih, sedikit.

 

The Improved S Pen: Galaxy Note 2’s Killer Feature

Fitur: Mana Yang Lebih Inovatif?

Tarik napas dulu. Bakal panjang nih bicara fitur. Soalnya Galaxy Note 2 punya banyak sekali fitur baru. Banyaknya malah agak lebay, kalau pemakai bukan tipe yang suka ngutik setting dan baca panduan pasti akan melewatkan banyak fitur. Samsung memasukkan semua kemampuan S3 ke dalam Note 2 dan menambahkan banyak lagi. Satu dari sekian banyak misalnya Smart Stay di Galaxy S3 yang bisa mencegah layar masuk sleep mode jika ia mendeteksi mata kita sedang membaca layar. Fitur ini ada juga di Note 2 bahkan ditambah lagi dengan Smart Rotate. Handset mendeteksi orientasi mata kita, sehingga layar tidak akan berputar jika memang tidak diinginkan. Ini baru satu dari puluhan fitur yang ada di semua sisi, dari telepon sampai kamera Galaxy Note 2 yang mempunyai kemampuan mengambil beberapa foto sekaligus lalu memberikan kita pilihan memilih wajah terbaik bagi tiap orang yang ada dalam foto. Pop up browser? Single hand operation keyboard? Multi-view multi tasking? Nggak akan habis fitur Galaxy Note 2 dibahas di sini. Tapi mana seperti halnya OS, atau sistem operasi, seiring S3 yang akan mendapatkan update Android JellyBean, fitur-fitur Galaxy Note 2 bukan tidak mungkin akan segera ditemukan di S3. Bahkan sudah beredar kabar bahwa kemampuan multi-view multi tasking akan hadir di S3 sebelum akhir 2012.

Sekarang kita fokus ke satu hal dari Galaxy Note 2 yang tidak akan dimiliki oleh S3, yaitu S Pen. Jangan remehkan stylus ini. S Pen memiliki begitu banyak kemampuan dan fungsi, yang bisa membuat kita yang tidak tertarik akan stylus bisa ketagihan menggunakannya. Galaxy Note pertama sudah memperkenalkan bagaimana pena digital Samsung ini bisa dipakai untuk menulis, membuat gambar, sketsa, cropping gambar untuk ditempelkan di notepad, sekarang Galaxy Note meneruskan kemampuan itu dan menyuntikkan steroid dalam hal fitur khusus. Jika di Galaxy Note pertama penggunaan S Pen masih terbatas, di aplikasinya, di Galaxy Note 2 ia dapat berfungsi di mana saja. Akurasi stylus ditingkatkan, juga ditambahkan kemampuan baru. Tanpa menyentuh layar pun S Pen Galaxy Note 2 sudah memiliki fungsi seperti mouse-over. Pelupa dan takut kehilangan S Pen karena tertinggal? Saya sih begitu. Untungnya si Galaxy Note 2 bahkan mampu memberi tahu kita bahwa S Pen tertinggal jika kita melangkah meninggalkannya. Sangat mengesankan. Lagi-lagi, begitu banyak fitur S Pen hingga sulit dibahas semua. Dan ini lah yang tidak akan dimiliki oleh Galaxy S3.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Dua-duanya diberi batere kapasitas besar.

Stamina Batere: Siapa Yang Lebih Kuli?

Percuma kalau punya kemampuan dan kecepatan tinggi, layar besar nan jernih, tapi stamina batere memaksa kita untuk selalu mencari  ‘colokan’. Capek. Dan ya reputasi smartphone sekarang begitu. Dalam hal ini, Galaxy S3 hadir kapasitas batere yang cukup besar untuk menghidupi hardware nya cukup lama. Staminanya memuaskan, ini bukan hanya dari angka ulasan tech blog, tapi pengalaman sendiri di mana  S3 bisa bertahan seharian.

Sekarang hadirlah si bongsor Galaxy Note 2 yang spesifikasi teknisnya makin tinggi dan layar makin besar. Logikanya, akan butuh tenaga makin besar juga. Untungnya, Samsung menyadari bahwa semua kelebihan Note 2 akan percuma kalau baterenya nanggung. Diberikanlah batere dengan kapasitas yang jauh lebih besar daripada Galaxy S3. Bahkan lebih besar dari Galaxy Note pertama. Hasilnya, sebuah smartphone besar nan cepat yang bisa bertahan hampir sehari penuh dalam pemakaian normal. Sesuai dengan tema review-tanpa-angka, kita rangkum menjadi kesimpulan: Galaxy S3 bisa bertahan sepanjang waktu kerja, sementara Galaxy Note bisa tetap bertahan sampai kita sudah pulang dari kantor.

Catatan penting soal batere! Walaupun colokannya USB Micro, sama kayak Blackberry dan banyak gadget lain, kedua handset ini sebaiknya pakai charger plus kabel bawaan aslinya. Terutama si Galaxy Note 2, chargernya mempunyai output lebih besar daripada charger S3 sekalipun. Dengan charger lain, kadang nggak ngejar walaupun ditulis ‘charging’. Kedua handset ini mendeteksi apakah charger dan kabelnya memang asli Samsung, jika bukan asli, untuk keamanan ia membatasi arus yang masuk sehingga butuh waktu lama untuk mengisi.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Kekuatan Fisik: Siapa Yang Lebih Tahan Banting?

Let’s face it. Smartphone bikinan Samsung nggak ada yang terasa kokoh dipegang. Semua terasa ‘plasticky’, walau sama sekali bukan berarti terasa murahan. Hanya beda sekali dengan, misalnya, kalau kita memegang Nokia Lumia 800, apalagi dibanding iPhone 4S yang feel nya kokoh kayak batu. Sudah banyak torture test di mana Galaxy S3 dijatuhkan, ditarik di aspal, dan ternyata memang bukan tipe tahan banting. Untung setidaknya panel depan S3 dibalut Corning Gorilla Glass 2 yang cukup melindungi dari baret dan benturan ringan.

Panel muka Galaxy Note 2 juga sepenuhnya ditutupi Gorilla Glass 2 ini. Namun dari berbagai uji coba di tech blog luar negeri, tampaknya Galaxy Note 2 secara mengejutkan terbukti jauh lebih ‘badak’ daripada S3. Video drop test Galaxy Note 2 yang bikin meringis membuktikan hal ini. Dijatuhkan dari sedengkul sampai dari ketinggian telinga, hanya lecet kecil, sementara yang lainnya aman. Menggembirakan sekali, karena memang sepantasnya smartphone juga jangan terlalu ringkih. Wong belinya mahal, kalau jatuh dikit aja udah pecah ya miris. Dan ya catatan, udah beli hape mahal mbok ya jangan dijatuhin.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Kesimpulan

Walau tiap kategori ada yang dianggap pemenang, tujuan bahas ini lebih buat nentuin mana yang cocok buat siapa. Dan dari pengalaman menggunakan keduanya, kesimpulan saat ini adalah bahwa:

 

Galaxy Note 2 for power-users.

Samsung Galaxy Note 2 untuk power-user kreatif yang menuntut produktivitas.

Seri Galaxy Note memang dirancang untuk mereka yang ingin smartphone-nya juga bisa menggantikan kertas dan alat tulis. Phablet, namanya sekarang. Sebuah solusi untuk yang merasa layar smartphone masih terlalu kecil sementara tablet terlalu besar. Fitur melimpah ruah. Power user akan dipuaskan dengan begitu banyaknya fitur untuk segala kebutuhan. Bahkan, hanya user yang benar-benar peduli untuk membaca panduan yang akan benar-benar tahu seberapa jauh kemampuan Galaxy Note 2. Kemampuan stylus S Pen di Galaxy Note 2 menakjubkan dan menyenangkan. Kehadirannya bukan lagi sekedar ‘gimmick’, namun benar-benar nyata menunjang produktivitas dan kreativitas. Lebih mudah dipakai daripada yang pertama, Samsung mengintegrasikan S Pen di hampir keseluruhan sistem operasi Galaxy Note 2. Jika tidak peduli dengan kemampuan stylus, layar besar, dan hanya mengejar spesifikasi tinggi, mungkin agak mubazir membeli Galaxy Note 2. ‘Phablet’ ini benar-benar sebuah mobile powerhouse.

Galaxy S3, for the dynamic fast movers.

Samsung Galaxy S3 untuk fast-movers yang dinamis.

Rasanya sih memang seri S adalah flagship dari smartphone Android bikinan Samsung, dan yang ke 3 ini benar-benar lompatan dari 2 generasi sebelumnya. Jika Galaxy S dan S2 terasa sekali mengekor konsep rancangan iPhone, konsep Galaxy S3 baru, segar dan original. Mudah sekali jatuh cinta pada S3, mulai dari pertama menggenggam, kekuatan konsep rancangannya terasa sekali. Spesifikasi tinggi membuatnya bergerak cepat, mulus, dan Samsung sudah memberikan komitmen untuk memperbarui sistem operasi juga fitur-fiturnya sehingga fitur dasarnya akan mengejar kemampuan Galaxy Note 2 di luar S Pen nya. Untuk mereka yang inginkan kombinasi hardware dan software tertinggi namun merasa ukuran Galaxy Note 2 berlebihan. Mereka yang ingin smartphone tercanggih, cantik, cepat dan besar namun masih ringan dan lincah, dan masih dapat sangat nyaman digunakan dengan satu tangan akan terpuaskan oleh Galaxy S3. Ia layaknya sebuah sports car bermesin besar yang canggih.

 

Akhir Kata

Smartphone bukan benda yang murah, kita sebaiknya cari tahu dulu kira-kira mana yang akan ideal untuk kita. Bukan sekedar ngejar spesifikasi yang lebih tinggi, lebih baru, lebih besar. Nah, semoga dengan pengalaman dan opini yang saya bagi di sini, jadi lebih bisa mendapat gambaran, mana yang sepertinya lebih cocok. Pastinya lebih bagus lagi kalau sempat coba dulu, entah ke showroom atau pinjam punya teman.

Sebagian orang akan bilang bahwa Galaxy S3 dan Galaxy Note 2 adalah dua binatang yang berbeda, jadi nggak bisa dibandingkan. Kalau mobil, mungkin seperti membandingkan Ferrari dengan Porsche Cayenne. Nggak apa, realitanya kadang kita memang mesti milih diantara dua benda yang nggak sepenuhnya sama. Yang sudah memakai Galaxy Note pertama hampir pasti akan suka sekali dengan Galaxy Note 2. Tapi bagi yang memakai Galaxy S3, kemungkinannya 50-50. Bisa jadi tetap lebih memilih Galaxy S3 karena memang ukuran Galaxy Note 2 bukan untuk semua orang. Saya sendiri? Pada awalnya merasa ragu karena canggung dengan ukuran Note 2 namun setelah beberapa hari benar-benar jatuh cinta dan tidak ingin kembali ke S3.

Jadi, pilih mana, Galaxy S3 atau Note 2? Semoga tulisan ini sedikit memberi pencerahan. Terima kasih sudah mampir dan baca sampai sini, semoga membantu.

Film Review: Modus Anomali

Salah satu film nasional yang paling ditunggu-tunggu penggemar film Indonesia di 2012 akhirnya tiba, dan saya mendapat kesempatan ikutan nonton gala premiere nya semalam. Review ini adalah kesan pribadi saya menonton Modus Anomali.

Modus Anomali dimulai dengan cepat tanpa ba-bi-bu, langsung memberikan misteri, teka-teki dan ketegangan yang membuat saya menahan napas. Hebatnya, walau hampir selalu bisa menebak kapan bakal dikejutkan, tetap saja film ini efektif bikin jantungan. Beberapa menit berlalu dan yang tadinya dimulai dengan tancap gas kemudian rasanya seperti menginjak rem lalu  jalan pakai ‘gigi 1’. Pelan sekali. Rasa penasaran saya mulai berganti jadi ketidak sabaran, kemudian mendekati bosan. Keingin-tahuan akan jawaban teka-teki berubah jadi sekedar menunggu akhir film untuk melihat apakah kecurigaan saya benar. Semakin lama saya makin merasa ini seperti materi 30 menit yang dipanjang-panjangkan menjadi feature film. Seperti sebuah episode serial TV Alfred Hitchcock, Twilight Zone, atau Ray Bradbury Theater yang dimelarkan. Andai hanya 30 menit, rasanya Modus Anomali akan memukau. Atau ya sejam lah maksimal.

Ada satu hal yang sangat mengganggu saya di Modus Anomali, yaitu pemakaian bahasa Inggris. Sepertinya bahasa Inggris dipakai untuk menunjukkan cerita ini bukan mengambil setting di Indonesia. Sah-sah saja, namun sayangnya pelafalan canggung yang kadang ‘belibet’ plus intonasi aneh sulit diabaikan kuping saya. Mungkin pemilihan bahasa ini juga berhubungan dengan akting pemain, yang buat saya rasanya kok ya di bawah kualitas akting di film-film Joko Anwar sebelumnya. Apa karena  pemakaian bahasa Inggris saja sudah beban tersendiri, akting jadi dua kali lebih berat? Bisa jadi, entahlah, saya cuma nebak. Tapi saya yakin sekali, jika saja memakai Bahasa Indonesia, mestinya akan bisa lebih natural.

Yang fantastis dari Modus Anomali bagi saya adalah sound. Rasanya belum pernah ketemu film nasional yang bisa memanfaatkan suara dalam membangun suasana sekuat Modus Anomali. Penempatan sound effect secara maksimal memanfaatkan kemampuan Dolby Digital. Menonton ini kita tahu dari mana setiap gemerisik semak belukar datang, ke mana langkah-langkah kaki misterius berlalu, dan betapa malam hari di hutan itu bisa mencekam. Peran suara di film ini rasanya menjadi lebih krusial dari biasanya. Pastikan menonton di bioskop dengan sound system yang terbaik dan buktikan sendiri betapa luar biasa sound design di Modus Anomali!

Pada akhirnya, walau nggak bisa bilang menyukai film ini, saya hormat pada keberanian produser dan sutradara yang serius menggarap film dengan genre yang begitu langka di Indonesia. Di tempat di mana film mirip perjudian, dengan kemungkinan kalah jauh lebih besar daripada peluang menang, Modus Anomali adalah salah satu pertaruhan berani. Menunjukkan tekad dan keberanian, untuk melangkah lebih daripada sekedar permainan aman. Semoga sukses dan memberi inspirasi bagi perfilman Indonesia untuk berani mencoba.

Attack The Block: Alien Datang, Preman Menghadang

“Makhluk luar angkasa datang menginvasi bumi secara besar-besaran dan menghadapi perlawanan sengit dari militer.”?Kira-kira begitu mungkin isi buku panduan membuat plot film invasi makhluk asing Hollywood, seperti yang sudah kita sering lihat. Jika memang itu pakem umumnya, maka film Attack The Block mematahkan semua aturan tentang film “alien” dan menghasilkan sebuah hiburan segar yang bebas klise ataupun basa-basi.

Ketika sekelompok berandalan di London Selatan menemukan makhluk aneh kecil yang keluar dari meteorit yang jatuh, mereka kemudian mengejar dan memukulinya sampai mati. Berniat menjualnya ke media, mereka kemudian menitipkan bangkai alien tersebut di ruang khusus persembunyian pengedar narkoba. Tak lama kemudian lebih banyak lagi meteorit yang jatuh membawa makhluk lain yang lebih besar dan menakutkan, dan kali ini giliran para preman cilik ini yang menjadi buruan. Invasi makhluk asing pun dimulai, namun tidak di seluruh dunia. Hanya satu blok di SelatanLondon. Tak ada militer dengan tank dan pesawat tempur yang jadi pelindung bumi, para ‘alien’ menghadapi sekelompok berandalan, pengedar narkoba, dan seorang suster muda korban penodongan.

Nyeleneh, seru dan kocak adalah deskripsi kesan menonton Attack The Block. Tempo cerita dibangun cepat seiring perkenalan satu demi satu karakter yang jauh dari stereotype hero alaHollywood. Semua karakter unik, berimbang dan diperankan dengan baik hingga sepanjang film kita merasa semakin mengenal masing-masing tokoh. Tidak ada yang paling menonjol, tidak ada yang paling jago, semua punya kelebihan dan semua punya kekonyolannya sendiri. Ini yang membuat Attack The Block begitu menghibur, situasi yang paling menyeramkan pun bisa menjadi kocak karena kekonyolan karakter-karakternya. Tanpa ada yang membadut, dialog-dialog polos dan situasi yang cenderung blo’on akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Hebatnya lagi, kuatnya humor dan komedi tidak membuat Attack The Block kehilangan ketegangan. Cukup banyak adegan yang membuat penonton menahan napas tegang diantara lelucon-lelucon. Semua ini dihadirkan konsisten dalam tempo yang tinggi, sehingga kenikmatan menonton jadi maksimal.

Jika ada kekurangan dari Attack The Block, itu hanyalah bahwa film ini rasanya bukan untuk konsumsi anak-anak. Di balik belianya sebagian tokoh dan kelucuan cerita, sebetulnya setting yang dipakai film ini cukup suram. Geng berandalan yang sudah menodong di usia begitu muda, pengedar narkoba, dan unsur kekerasan ditampilkan dengan blak-blakan. Sutradara Joe Cornish yang juga menulis skenario Attack The Block pun sepertinya memang tidak mau filmnya menjadi pretensius apalagi dibebani “pesan moral”, sehingga jika memang ada anak-anak yang menonton sebaiknya didampingi orangtua.

Didistribusikan di Indonesia oleh MT Entertainment, Attack The Block tayang di Blitz Megaplex mulai 6 Juli 2011. Jika anda kangen akan film asing yang sedang absen, film ini bisa menjadi pilihan terbaik saat ini. Bahkan rasanya, andai pun tidak ada masalah import dan distribusi film MPA, Attack The Block tetap mampu bersaing dengan judul-judul besar dalam hal menghibur penonton. Bersenjatakan kembang api bukan peluru kendali, berkendaraan skuter Pizza bukan mobil sport, Attack The Block adalah film invasi makhluk luar angkasa terunik yang pernah anda tonton, di mana pulsa untuk SMS lebih menentukan hidup atau mati ketimbang senapan laser nan canggih.