30 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

20170222_070744

Setahun lebih janji untuk main ke kantor teman di Xiaomi Indonesia, baru Februari kemarin akhirnya kami ketemuan, ngobrol, nggosip, dan berkenalan dengan smartphone “Made in Indonesia” pertama Xiaomi, Redmi 4A. Memberikan satu unit demo untuk diulas, Xiaomi mempersilakan saya untuk berbagi kesan dan pengalaman memakai Redmi 4A, sebebas-bebasnya. Kelebihan, kekurangan, positif, dan negatif. Setelah sebulan lebih memakai, ini kesan-kesan saya tentang smartphone Android berharga Rp 1,4 juta rupiah ini. Nggak ada waktu untuk baca tulisan panjang? Rangkuman kesan pribadi saya kira-kira begini.

Kelebihan:

  • Spesifikasi dan penampilan bagus untuk harganya
  • Baterai yang seperti tidak habis-habis
  • MIUI 8 enak digunakan
  • Ringan

Kekurangan:

  • Kamera yang biasa saja
  • Charging agak lama
  • Punggung sepertinya mudah tergores

Seperti biasa, saya tidak ingin membahas angka dan spesifikasi teknis di sini, untuk yang membutuhkan informasi spec, dapat langsung klik di sini. Berikutnya, ini pengalaman saya.

Kesan Pertama: Penampilan Yang Mengecoh

“Eh, bagus ya.”, itu kalimat pertama saya waktu mengeluarkan handset dari box dan membolak-baliknya. Kejutan kecil, karena kalau melihat dari foto-foto di web, sama sekali nggak ada yang unik, menarik apalagi istimewa dari desainnya. Langkanya desain unik memang salah satu hal yang membuat saya belakangan kurang bersemangat dengan berita dunia per-smartphone’an. Di luar spesifikasi, rasanya semua terlihat sama, hanya persegi panjang dengan layar, kemudian ada merek A yang meniru merek B, dan merek C yang ‘terinspirasi’ merek D, dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan Redmi 4A, tampak depan sangat umum, sisi belakangnya mengingatkan saya pada rancangan HTC, sudut lainnya mungkin iPhone, and so on. Penampilan muka Redmi 4A cukup generik dan bahannya biasa saja, tapi sisi-sisi lainnya, samping, punggung, tampak dan terasa mengesankan di genggaman.

20170222_071321

Penampilan Redmi 4A bagi saya ‘mengecoh’, dalam arti bisa tampak lebih ‘mahal’ dari harganya, sementara bobotnya yang sangat ringan walau menyenangkan jadi tidak mengesankan produk yang kokoh. Tanpa membandingkan dengan yang lain, hape ini rasanya ‘seenteng angin’, dan ini bisa jadi hal positif maupun negatif. Di sisi baiknya, ia tidak akan membebani saku, sementara di sisi lain, saya sering jadi harus cek kantong untuk memastikan handset ini ada karena tidak terasa. Walau ringan, Redmi 4A tidak terasa kopong atau terlihat plastik, apalagi dengan kesan logam warna metalik punggungnya. Berharap dapat bodi metal di kelas harga ini? Ya enggak lah, namun bahan punggung Redmi 4A ini membawa saya ke satu hal lainnya.

20170222_070922

Ini tip dari saya: sebaiknya segera berikan Redmi 4A mu casing, karena walaupun tampak kuat, sepertinya punggungnya retan tergores. Ini hal yang saya temukan secara tak sengaja dan cukup membuat ‘nyesek’, karena terjadi saat sedang senang-senangnya baru memakai hape ini. Nggak sengaja menaruh handset ini di saku bersama koin dan kunci mobil, saya menemukan dua baretan halus yang sebelumnya tidak ada. Memang bukan goresan dalam, dan tidak terlalu terlihat, tapi tetap saja disayangkan. Jadi, bagi yang berminat membeli Redmi 4A, saya sarankan langsung beli casing pelindung. Mungkin sekalian juga pasang screen protector kalau mau, toh nggak mahal. Keep it pretty.

Kesan Kedua: Batere Stamina Tinggi & Performa Andal

Walau hape ini bisa memakai 2 SIM card, saya hanya memakai satu slot dan yang  satu lagi dipakai untuk memory card. Xiaomi Redmi 4A mengambil alih posisi hape ke dua saya, yang pemakaiannya tidak kalah dari hape utama. Fitur-fitur krusial semua ada di Redmi 4A, tak terlupakan IR blaster untuk menjadi remote control entah TV, AC dan lainnya. Hape ini datang di masa yang berat bagi saya, di mana mayoritas hari-hari dilalui menunggu orangtua yang diopname di rumah sakit dalam kondisi kritis. Dalam situasi itu, pemakaian smartphone jadi lebih aktif dari biasanya. Tanpa banyak yang bisa dilakukan saat jaga, media sosial, text messenger, streaming dan juga game jadi cara mengatasi stres juga kejenuhan. Sementara nomor utama saya bolak-balik harus dicharge dalam sehari, saya terkesan dengan stamina batere Xiaomi Redmi 4A ini yang seperti tidak habis-habis. Mestinya semua smartphone bisa begini, memudahkan sekali.

Dengan pola pemakaian yang sebanding dengan Galaxy S5 tua saya, Redmi 4A bertahan jauh lebih lama, dan pulang di tengah malam dalam kondisi yang belum harus dicharge. Itu kalau aktif, bagaimana kalau jadi hape backup yang lebih sering dalam posisi standby? Sampai dua hari pun Redmi 4A saya belum perlu ditancap ke charger. Penasaran, saya cari tahu soal kapasitas baterainya. Pantas saja, batere Redmi 4A lumayan besar untuk spesifikasinya. Satu saja yang perlu diperbaiki, pengisian ulang/charging batere Redmi 4A rasanya relatif lama.

Untuk Android kelas ini, spesifikasi teknis tidak akan muluk, namun untuk harganya tetap cukup baik. Tidak kurang. Contohnya, layar. Sudah lama terbiasa dengan layar Full HD 1080p, untuk turun ke sekedar HD lagi membuat saya ragu, tapi nyatanya resolusi 720p HD sudah sangat bagus untuk ukuran 5 inci Redmi 4A. Tidak sedikitpun saya merasa ada yang kurang tajam di tampilannya. Semua tampak tajam, crisp, kinclong. Sementara kita tahu di kisaran harga ini masih ada juga merek-merek yang belum memberi resolusi HD.

Sekedar supaya bisa membahas performa, saya sempat meng-install beberapa game. Aplikasi-aplikasi biasa seperti media sosial, messaging, navigasi dan lainnya sudah pasti berjalan mulus tanpa cegukan, tapi game lebih menuntut. Karena bukan gamer, saya mencoba beberapa game yang saya kira lumayan butuh tenaga. Biasanya, driving game perlu kemampuan grafis yang baik, dan saya mencoba Asphalt Nitro yang berjalan mulus pada setting maksimal. Sama halnya dengan game FIFA Mobile Football yang lancar tanpa hambatan. Dari beberapa game yang saya coba, adalah shooting game Sniper 3D Assassin yang mengalami sedikit cegukan di setting grafis tertingginya, itu pun hanya saat replay. Bukan masalah. Overall, bagi saya Xiaomi Redmi 4A sudah cukup untuk jadi alat hiburan/casual gaming yang menyenangkan.

20170305_140559

Kesan Ke Tiga: Kamera Kurang Greget

Di kisaran harganya yang di Rp 1,4 juta, kemampuan kamera adalah sesuatu yang saya pasrahkan. Nggak ada ekspektasi. Dan pada akhirnya memang kamera Redmi 4A bagi saya sekedar cukup dan fungsional. Suatu hari, untuk melepas stres saya memutuskan untuk menepi dan mampir di sebuah taman di Jakarta Selatan, sekalian menjajal kamera belakang hape ini. Hari itu langit agak kelabu, namun cukup terang dan panas. Taman kecil itu ternyata cukup indah dan menyenangkan, saya memotret sana-sini, sampai dihampiri sekuriti. Hasilnya, sangat hambar. Kualitas foto 13 megapixelnya rasanya cukup saja, namun di mata saya warna-warnanya mati dan tidak menggugah, tidak membuat saya ingin memotret lebih banyak.

Untung, Xiaomi dengan MIUI nya tidak pelit memberi fitur dan setting kamera, dan yang belakangan saya temukan adalah dengan sedikit mengubah pengaturan ketajaman dan saturasi, Redmi 4A kadang bisa memberikan hasil foto yang lumayan mengesankan. Sepertinya, untuk tiap objek bisa jadi lebih baik jika dicoba dengan setting berbeda. Jika sebelumnya di taman tadi saya tidak berhasil mendapatkan warna bunga yang ‘keluar’, di kesempatan lainnya hanya dengan sedikit mengutik saturasi, Redmi 4A kadang berhasil memberikan foto yang warnanya lebih memikat. Jangan lupa, warna juga termasuk selera pribadi.

Saya tidak punya referensi pembanding pabrikan lain yang sekelas, namun mungkin bisa disimpulkan untuk kelas harga ini, kamera belakangnya cukup baik asalkan pencahayaan cukup. Untuk kamera depan memang saya tidak banyak mencoba, cuma rasanya lensanya cukup wide jadi selfie bisa sedikit lebih jauh (nggak usah dipasang fotonya ya, malu), dan rasanya resolusi 5 megapixel pun cukup besar. Di sisi fitur video, sama juga, tidak ada catatan istimewa, namun bisa dipakai. Overall, semua soal kamera di hape ini bagi saya sekedar mencukupi. Jangan khawatir, Instagram mu tetap bisa keren.

Kesan Ke Empat: Fatwa ke 8 dari MIUI

Hampir semua pembuat gawai Android membungkus sistem operasi dengan antarmuka khas nya masing-masing. Antarmuka, atau interface, itu lho, yang tampil di layar dan memandu kita menggunakan peranti. Walau sama-sama pakai Android versi X, dari merek ke merek beda tampilan dan cara memakai ya karena ini, masing-masing pabrikan punya antarmuka, user interface atau ‘UI’ sendiri. Nah, Xiaomi dari dulu sangat mengangkat dan membanggakan UI khasnya, yang namanya MIUI. Saya pertama berkenalan dengan MIUI di Redmi 2 Prime, 2 tahun lalu. Waktu itu kesan saya adalah, bagus, sangat terancang dan rapi, tapi di beberapa hal justru tidak intuitif, alias mesti belajar dulu. Saat itu, sementara saya menyukai hardware Xiaomi, bagi saya MIUI overrated. Ini yang membuat saya skeptis waktu akan mulai memakai Redmi 4A. Ternyata, banyak yang bisa berubah dalam 2 tahun.

Xiaomi Redmi 4A saya menjalankan MIUI versi 8.2.10 yang ternyata menyenangkan dipakai. Jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Rasanya, yang belum pernah memakai hape Xiaomi pun tidak akan mengalami hambatan atau kagok memakai antarmuka ini. Antarmuka khas Xiaomi yang membungkus Android Marshmallow ini simple, lincah, dan memberi banyak kemudahan, seperti memberitahu kita jika file sampah sudah terlampau banyak dan menawarkan pembersihan. Ada fitur ‘Second Space’ yang bisa memisahkan hape kita seperti menjadi dua hape berbeda, berguna jika hape sering dipinjam. Lalu ada juga ‘Dual App’, ini memungkinkan pengguna memakai dua akun di satu app, misalnya butuh Whatsapp atau Facebook aktif dengan dua akun berbeda. Lewat MIUI, Xiaomi memang menunjukkan perhatian mereka pada kebutuhan pengguna. Ada sih, satu dua hal memang masih menggelitik, seperti tombol ‘Home’, mestinya membawa kita halaman ‘Home’, namun di MIUI, jika app kita berada dalam suatu folder, menekan ‘Home’ hanya mengembalikan kita ke folder. Selebihnya, saya tetap prefer ada app drawer, namun hal-hal ini ini juga bukan sesuatu yang terlalu krusial. Secara keseluruhan, MIUI sekarang ini melengkapi sisi hardware yang baik dengan pengalaman pemakaian yang memudahkan.

Kesimpulan

Secara mengejutkan, saya sangat betah memakai Redmi 4A. Di luar kameranya yang kurang mengesankan, hape entry level Xiaomi ini sangat menyenangkan dipakai, dan ini sebagian besar kontribusi faktor stamina baterenya. Saya tidak perlu fingerprint lock, tidak juga ngidam body metal, bahkan tidak tmementingkan RAM 2GB yang dibenamkan di hape ini. Terutama untuk hape ke-dua, pada dasarnya yang saya butuhkan adalah Android 4G yang bisa diandalkan, kalau tak harus sedikit-sedikit di-charge pastinya lebih baik. Kesan terbesar Redmi 4A bagi saya memang stamina baterenya. Dampak iritnya batere tidak bisa diremehkan, ia memberikan ketenangan dan keyakinan dalam memakai; bahwa ketika dibutuhkan, hape masih mempunyai daya yang cukup. Di harga Rp 1,4 juta, Redmi 4A patut dipertimbangkan siapapun yang membutuhkan smartphone Android andal dengan budget konservatif. Mencari hape ke dua atau backup phone? Saya berani mengatakan Xiaomi yang satu ini tidak akan mengecewakan.

20170222_071250

Ethics Statement:

Perwakilan Xiaomi Indonesia memberikan handset Redmi 4A untuk keperluan ulasan. Tidak ada transaksi, ikatan perjanjian, maupun kewajiban untuk menuliskan apapun, terutama yang bersifat endorsement. Ulasan di blog ini adalah opini pribadi berdasarkan kesan dan pengalaman pemakaian apa adanya.

Iklan

Movie Review: Jurassic World

jurassic-world-yummy-120708

Good ol’ dinosaur park has lost its novelty? Create something new that’s bigger and scarier, people will come and pay to get frightened. The basic plot of Jurassic World is pretty much the movie franchise’s situation. 20 odd years after the original Jurassic Park, prehistoric faunas walking the present day won’t wow anyone, so the studios resort to creating something more furious, from the basic ingredients. Does the recipe work? Fasten your seatbelts, keep your hands and bodyparts inside the vehicle at all times, we’re going for another ride around Isla Nublar.

Present day, Jurassic World is now a full fledged luxurious theme park resort that’s been around for a while, actually long enough that dinosaurs as an attraction is no longer that fantastic, and business is slowing down. A new attraction always draws more visitors, but since they’ve pretty much made all the dinosaurs there is, including a gigantic waterbourne thing called mosasaurus that snacks on sharks, Jurassic World execs and scientists decided to then engineer a whole new hybrid species on their own. New monster on the block brings ‘more teeth’ and playfully named ‘Indominus Rex’. Of course nothing can go wrong, right? Well surely enough things went south, the Indominus Rex got loose, chaos ensues, people gets eaten, more dinos run amok, and fun begins.

Despite the whole DNA engineering and hybrid dinosaurs science talk, the nature and science undertone evident in the original now takes a backseat. It’s great to see the direct approach of Jurassic World as an action blockbuster this time around. This sequel is a straightforward ride of thrills and scares, and as such, it is quite effective. There have never been more all out action, carnage, guns, bullets, destruction and ‘controlled gore’ in a Jurassic Park movie before. While the first act really takes its time, Jurassic World goes full throttle in second and third. Visually, ‘World’ seems to have more color than ‘Parks’, possibly due to the more announced use of CGI in environments, while creature-wise, the animals mostly look less real than previous movies. The action scenes in Jurassic World doesn’t shy away from getting big, a refreshing change from the previous lonely jungle island settings, as now the Disneyworld-like resort has got 20,000 tourists in danger. jurassic-world-pratt-howard-fb1 On the star-power side, Chris Pratt took to his role rather well as Owen Grady, an ex-Navy military man turned raptor-wrangler-hero. That’s right, he trains velociraptors, popular baddies from the previous instalments. Looking handsome and costumed almost like a character designed for an adventure video game, Pratt convinces you that he’s the guy you’ll count on to survive a dino-park chaos. Seriously, riding a classic motorcycle while flanked by badass raptors? Awesome scene unimaginable by old school Jurassic Park fan. If you’re worried that Chris will act Star-Lord style, be at ease, he did not. Meanwhile, Bryce Dallas Howard plays Claire, the ‘suit’ that’s so busy running the resort island, she didn’t have time to attend to her visiting nephews Gray and Zach, played adequately by Ty Simpkins and Nick Robinson. The kids got lost amidst the chaos and Beth took the aid of Owen to find them, while transforming from a stiff exec into suddenly-adventure-hardened woman in the process. NEojaVoDdptSrw_1_a Being a straightforward action adventure this time around, Jurassic World needs no deep plot, back story or elaborate subplots. All the action makes up for those absence. However, it is the lack of depth in its characters that holds this solid actioner from being a full blown entertainment powerhouse. Pratt’s Owen, while believable as a capable hero the audience will root for, lack any story despite the effort on building his character in the first act. Showing more emotion than everyone else in the movie, Bryce Dallas Howard’s Claire is also someone you will probably accept or like, but nothing more. And the two kids, despite having had their emotional moments and a back story, felt somehow underdeveloped. I feel like the makers wondered, how should they write the siblings. Nasty? Good? Troubled? Not too troubled? Doesn’t get along good, or do they? They even have this subplot that seems to somehow disappear. Anyway, you will most likely like all these main characters, and you will want to love them more, but you can’t, as you find that there’s really nothing much under the surface. No you won’t complain. I won’t complain too. Yet I can’t help but imagine how much better Jurassic World would be if the characters weren’t so paper thin. 25112014_jurassic_world_1 In the end, I left the theater feeling quite happy as a Jurassic Park fan. Jurassic World is a legit thrill ride, and you gotta give the makers credit, because really, after two less-glorious sequels, it’s hard to pull this one off. It would be so easy to screw this one up and make a bomb, but director Colin Trevorrow didn’t, and achieved the opposite. Just like how the scientists engineered a brand new dinosaur, the franchise cooked up a different approach that seems to serve itself well. Jurassic World brings Jurassic Park to the new generation, and if this is how they roll, I won’t mind another sequel.

Special thanks to Mercedes-Benz Indonesia for the media screening of Jurassic World.

download

Movie Review: Furious 7

Go ahead, see the trailer first. Or not. Whatever. Like many, I’ve seen the trailers and a couple of behind-the-scenes featurettes of Furious 7 before I went to see it at the theatres. I’ve heard raves, comments and positive reviews, from that surprise SXSW screening to major blogs and those from average joes like me. Having seen the trailers and read reviews, I was ready for what most of them suggests: a relentless adrenaline charged vehicular action flick that will entertain the shit out of you with only one caveat, leave logics outside the door and just go in for a good time, thrills, laughs and even perhaps a bit of a teary eye. Hell, game on.

Furious-7

One last ride.

Once the movie kicks it in high gear, it almost never stops. Sometimes it gets so kinetic up to the point that it seems James Wan directed the whole thing drinking Red Bull mixed with NOS. This is not to say that Furious 7 doesn’t have heart, in fact, it’s the other way around, the franchise have never been this touchy-feely emotional. Part of it perhaps has got something to do with the passing of Paul ‘Brian’ Walker and I am pleased to say it’s all good. Director Wan managed to compose everything in such a rhythm that will have you moving from spectacular action fest to a soapy drama, with sitcom moments in between, rinse, repeat, seamlessly. Safe to say, the chorus of complimenting reviews about Fast & Furious 7 is quite spot on. And the tribute to Paul Walker, is probably the sweetest and most touching I’ve ever saw. Yes, I shed a tear.

Can't help but be reminded of Sex & The City 2 trailer.

Can’t help but be reminded of Sex & The City 2 trailer.

There really is no need for another review on James Wan’s take on Dom’s family adventures number seven, not one that echoes the others. I watched the movie with a satisfactory grin, fist pumping in the air, and got a little misty in the eye at least a couple of times. What else can you ask for a popcorn entertainment, right? Yet, I walked out of the theatre feeling something was not quite right. It’s not about the increasingly crazy over-the-top stunts, it’s not about having to do away with logic, those are fine. It’s about identity. Even with numerous nostalgic moments and returning characters, it feels as if it Furious 7 has lost its identity.

Remember what was the franchise about when it started?

Remember what was the franchise about when it started?

As big a Fast & Furious plots gets before this, it’s still grounded. In Furious 7, it took no time to start making me think of Transformers or Diesel’s XXX, and by the third act it got so unrecognizable that I find myself wondering whether I’m watching a Fast and Furious movie, a Mission Impossible sequel or something with the word ‘Marvel’s’ on the title. Sure there’s ol’ Dom, Brian, Letty, Tej and Roman, muscle cars and rice rockets, they don’t change, but what world is this? To go from a very grounded premise of illegal street racing to something that looks like James Wan is auditioning for an Avengers or Transformers sequel, is quite a jump. It also feels like it decided to evolve merely to justify following the basic rule of action franchises: make everything bigger and crazier.

They actually did this for real,

From the modest streets of LA, to global espionage plot.

Of course, there is no rule that says that is wrong. The audience is happy! Who says stories of Los Angeles illegal street racers can’t evolve into bigger premises? If the 6th and 7th showed us something, is that Dom and the gang -I mean, family, will only face increasingly epic scenarios lightyears from their roots of living lives “a quarter of a mile at a time”. If the franchise goes on to 10, I won’t be surprised we’ll see Toretto squares off with a boss alien xenomorph. But me, as a fan, hopes it doesn’t go that way. I love the stunts, the gravity defying scenes, I don’t nitpick about logics or plot loopholes, but I do care about the original concept that is The Fast and The Furious. Please keep it close to its roots. To director James Wan, congratulations on pulling off a tough job and giving Brian a more than proper farewell. It’s a hell of an entertaining spectacle. Surely hope the next one will still be (back to being) a Fast & Furious, and not an Avengers or Mission Impossible wannabe.

Review: Memakai Samsung Galaxy S5

Meneruskan kesuksesan seri pendahulunya, Samsung Galaxy S5 hadir dengan beberapa peningkatan yang besar namun juga halus. Setelah lebih dari 2 bulan memakai Android negeri ginseng ini sehari-hari, rasanya sudah cukup untuk bisa merangkum kesan dalam satu tulisan. Bukan bahasan teknis yang njlimet penuh istilah dan angka, saya di sini mau berbagi kesan praktis dari pengalaman memakai. Agak panjang memang, tapi kalau penasaran seperti apa rasanya menguji sang “Limitless”, mungkin tulisan ini bisa membantu menjawab rasa ingin tahu. Mari kita mulai.

image

Samsung Galaxy S5

Lebih Besar, Tetap Ringkas

Sudah tahu kan, kalau layar Samsung Galaxy S selalu semakin besar tiap tahunnya? Tahun lalu ukuran layar S4 lebih besar dari pendahulunya, S3, dan pastinya sekarang S4 dikalahkan oleh S5 yang semakin lebar. Malah, lebarnya hampir mendekati ukuran layar Galaxy Note pertama. Tapi bagusnya, ukuran bodi Galaxy S5 secara keseluruhan nggak terasa seperti raksasa, bahkan nggak jauh dari S4. Di genggaman masih lebih nyaman daripada seri Galaxy Note favorit saya. Yang terasa jelas adalah lebih berat, tapi ada bagusnya karena kali ini terasa lebih mantap dan nggak ada kesan kosong.

image

Lebih besar namun tetap ringkas.

Samsung masih saja doyan membalut pinggir Galaxy S dengan bezel plastik beraksen chrome, ini perlu dilindungi casing karena keringat tangan saya biasanya cepat menghancurkan lapisan tipe begini. Dan bicara tangan berkeringat, untunglah penutup punggung S5 bukan lagi plastik licin mengkilap, Samsung mengubahnya menjadi bahan kesat bertekstur perforasi yang mantap di genggaman, Kesimpulan, secara fisik, entah itu digenggam, dipakai dan dikantongi, Samsung Galaxy S5 menghadirkan perluasan ukuran layar yang memuaskan mata, tanpa memenuhi dan membebani kantong.

Kemudahan Memakai

Karena saya punya beberapa peranti Android dari Samsung, saya bisa membandingkan dan mengatakan, perubahan halus di antarmuka Samsung Galaxy S5 dibanding pendahulunya membuat banyak hal jadi lebih praktis. Hal-hal sederhana dan detil diubah sedikit namun memberi kemudahan jelas, contohnya, di menu Settings.

image

Menu setting baru Galaxy.

Jikalau terakhir kali menu Settings dibagi per kategori dalam halaman terpisah, sekarang ditampilkan sederhana dalam satu halaman dengan ikon-ikon yang jelas dan sederhana. Nggak lagi harus tahu Setting yang kita cari di kategori apa, kita bahkan diberikan satu fitur kecil bernama ‘Toolbox’, sebuah icon kecil semi transparan yang akan selalu ada di atas halaman atau app apapun yang kita buka.

image

Toolbox terbuka di kanan atas.

Toolbox memberi kita jalan pintas ke beberapa aplikasi yang paling penting buat kita, entah email, kalkulator atau kamera. Semua itu bisa diakses langsung tanpa harus kembali ke Home, praktis!

Perubahan yang sangat terasa dalam hal pemakaian adalah ke tiga tombol sentuh di bawah layar. Biasanya di kiri tombol Home pada Samsung Galaxy adalah tombol Menu. Ini sudah berubah. Tombol yang dulunya untuk Menu, sekarang digunakan jadi jalan cepat untuk memilih dan berpindah diantara aplikasi-aplikasi yang terbuka. Hal kecil yang terasa sekali membuat praktis! Kalau dulu untuk berpindah app mesti menekan Home agak lama, sekarang tinggal sekali sentuh.

image

Dulu tombol Menu, sekarang jadi Switch Windows

Saya tahu dulu banyak pengguna Galaxy yang nggak tahu bahwa berpindah window harus menekan Home agak lama, akhirnya untuk berganti app, mereka membuka ulang app dari menu. Dengan perubahan ini, memudahkan pemakai berganti jendela. Lalu ke mana tombol Menu? Jangan khawatir, jika aplikasi yang terbuka memang memiliki submenu, tombol menu akan tampil di layar pada sudut kanan atas.

image

Pengaturan menu drop-down.

Layar Galaxy S5 yang diklaim DisplayMate sebagai layar smartphone terbaik juga berperan dalam kemudahan memakai. Luas layar yang sedikit lebih besar daripada pendahulunya pun menambah kenyamanan terutama ketika sedang menggunakan keyboard layar sentuh. Menulis, mengetik, jadi lebih cepat karena keyboard jadi lebih lebar. Kepekaan layar sentuh bisa diatur hingga lebih dari biasanya, dan tingkat kecerahan bukan hanya lebih terang, namun juga bisa diatur lebih gelap dari biasanya. Lho, buat apa? Untuk yang sering membaca layar smartphone dalam kegelapan total, kadang di setting Brightness terendah pun cahayanya masih menusuk mata, sekarang, bisa lebih temaram dan lebih nyaman dari sebelumnya. Lagi-lagi, bukan teknologi luar biasa yang heboh, namun sederhana dan terasa langsung manfaatnya.

image

Baterai terbesar seri Galaxy S

Boros nggak baterenya? Pertanyaan penting yang paling susah dijawab secara akurat karena tiap orang punya pola pemakaian berbeda. Pastinya banyak tes yang ilmiah, tapi dari pengalaman memakai saja, dalam pemakaian berat, Samsung Galaxy S5 bisa bertahan setengah hari dan ini terasa wajar. Saya memakai dua akun email, tiga aplikasi media sosial, dua text messenger, majalah berita, peta, dan sering sekali memotret. Sync, WiFi, GPS, koneksi data bahkan NFC selalu dalam posisi menyala. Ia tidak seawet Galaxy Note 2, namun buat saya tidak juga boros.

Fitur: Pentingkan Manfaat Di Atas Gaya

Tadinya nggak merasa butuh amat, tapi fitur tahan air dan tahan debu ternyata terasa pengaruhnya. Singkatnya, membuat lebih pede membawa smartphone ini ke mana-mana. Jalan melintasi hujan deras nggak lagi khawatir, membawa ke kamar mandi pun tenang. Kedengarannya remeh, bukan pula teknologi baru, tapi nyata terasa membuat nyaman. Perlu digarisbawahi, water resistance di Galaxy S5 bukan berarti handset ini bisa dibawa nyebur berenang ya. Kalau bisa, ke depannya semua smartphone Samsung sudah standarnya begini.

Ultra Power Saving menyelamatkan saya kemarin waktu ke Taiwan. Saking sibuk memotret ratusan foto dengan S5 dari pagi sampai sore, jelang malam batere nyaris habis, sementara saya harus tetap bisa dihubungi. Sedang di luar negeri pula! Akhirnya jadi mencoba juga fitur pengirit daya baru di Galaxy S5, Ultra Power Saving mematikan semua fitur selain telepon dan SMS, juga membuat layar menjadi monokrom. Sisa daya yang tinggal 5% bisa bertahan hingga kembali ke hotel lewat tengah malam.  Ya, ini memang jelas lebih berguna daripada fitur-fitur ajaib tahun lalu. Apa lagi yang baru? Ah, iya, finger print scanner.

image

Finger print scanning.

Sampai saat ini, Galaxy S5 saya masih menggunakan finger print scan untuk membuka kunci layar. Apakah bekerja? Tiga sidik jari saya daftarkan di settings, dan akhirnya lebih sering memakai telunjuk kanan. Entah kenapa, mungkin karena tangan saya tipe yang berkeringat, kedua ibu jari sering gagal, sementara telunjuk selalu 100% berhasil. Cara sensor Samsung Galaxy S5 membaca sidik jari agak unik. Kita memulai dari bagian tengah bawah layar, lalu menyapu tombol Home. Sapuan di layar itu sepertinya sekedar mengaktifkan sensor untuk siap membaca sidik jari kita. Apakah praktis? Terus terang lebih praktis dengan pattern daripada sidik jari, tapi senang karena ada rasa keamanan ekstra. Kalaupun tergeletak, tidak sembarang orang bisa pakai, apalagi anak-anak.

image

Kids Mode

Bicara anak-anak, kemarin sempat juga mencoba fitur Kids Mode, yang membuat smartphone kita aman untuk jadi hiburan anak. Samsung merancang mode dan aplikasi khusus aktivitas dari bermain, belajar sampai menyanyi dan memotret dengan tampilan dan antarmuka yang sangat bersahabat untuk anak. Semua akses ke fungsi utama dikunci dengan kode.

image

Buat saya pribadi, ini nggak kepakai sama sekali. Tapi bisa dibayangkan untuk yang dikelilingi anak-anak kecil dan sering terpaksa harus meminjamkan handsetnya jadi mainan, Kids Mode jelas berguna. Tentunya, sebaiknya anak kecil di masa pertumbuhan jangan terlalu dibiasakan bermain peranti layar sentuh. Bukan kata saya lho, kata psikolog anak terkemuka. Bagaimanapun juga, bermain dengan kegiatan fisik lebih sehat.

image

Kesehatan adalah nomor satu (presiden nomor dua), dan kita lihat Samsung konsisten soal ini di S-Health nya. Tambahan pembaca detak jantung, Heart Rate Sensor di Galaxy S5 jadi salah satu andalan. Memakainya mudah, setelah setup S-health dan mengaktifkan widgetnya, untuk mengukur detak jantung cukup satu sentuhan di ikon hati pada widget. Lampu di samping flash menyala, letakkan jari menutupinya sekaligus lensa dan dalam sekejap Galaxy S5 akan menampilkan heart rate kita. Gampang saja.

image

Untuk yang suka berolah-raga, mungkin akan suka kemudahan mengukur detak jantung. Saya lebih suka makan, tapi mungkin perlu juga belajar membaca ukuran ini.

Kamera Yang Memuaskan!

Bahasan kamera Galaxy S5 patut mendapatkan seksi tersendiri karena pengembangannya jauh melebihi sekedar menaikkan resolusi ‘megapixel’. Sensor berteknologi baru, fokus dengan teknik ala DSLR, dan fitur Selective Focus bekerja dengan baik menghasilkan hasil yang membuat saya senang mengandalkan Galaxy S5 di perjalanan ke Computex Taipei kemarin.

image

Memakai duet Samsung Galaxy Note 3 dan Galaxy S5 sehari-hari untuk memotret, terasa sekali betapa meningkatnya kecepatan kamera S5 mengambil fokus. Bahkan dalam temaram, untuk obyek yang sama, jika autofocus kamera Note 3 masih ‘hunting’, S5 sudah mengunci fokus dalam sekejap. Perbedaannya terasa, dan terbukti konsisten dicoba dibandingkan berkali-kali. Jadi, ini bukan cuma sekedar klaim iklan yang abstrak, tapi pengembangan nyata. Untuk titik fokus yang kita pilih sendiri secara manual “tap to focus”, antara Galaxy Note 3 dan Galaxy S5 saya tidak merasakan perbedaan, kecepatan keduanya rasanya sih sama.

image

Dari balik jendela bus, memakai HDR.

HDR jadi sering dipakai terutama buat melawan backlight. Sudah real-time, nggak lagi harus menunggu proses sebelum tahu seperti apa hasilnya, yang terlihat, itu yang jadi. Satu catatan, tetap saja harus stabil dan usahakan jangan goyang.

image

Pasar malam Shihlin di Taipei

Foto-foto lowlight sedikit lebih bersih dibanding Galaxy Note 3 dan S4, sepertinya memang teknologi baru di sensornya membawa hasil nyata. Fokus dan HDR memang pengembangan signifikan, tapi yang menjadi bintang bagi saya pribadi pada kemampuan kamera Samsung Galaxy S5 adalah fitur “Selective Focus”.

Intinya, fitur Selective Focus bisa membuat portrait dengan latar belakang blur. Hal yang selalu diinginkan fotografer amatir di mana-mana, obyek terfokus dan latar belakang kabur. Samsung Galaxy S5 berusaha  meniru hasil jepretan kamera dengan lensa bukaan besar, di mana kedalaman ruang bisa dibuat cetek, dengan menggunakan software. Nggak perlu diedit diberi efek atau apapun lagi, jika dilakukan dengan benar sesuai petunjuk, hasil foto jarak dekat bisa bagaikan jepretan DSLR. Perkenalkan, ini ayah saya tercinta, perhatikan bagaimana latar belakang bisa blur seakan difoto dengan DSLR.

image

Latar belakang blur, tanpa editing & efek!

Foto ayah saya ini adalah salah satu contoh sempurna di mana fitur ini bekerja. Berikut ini adalah salah satu staf di booth Ford di Computex Taipei kemarin. Perhatikan blur halus latar belakangnya, lumayan bagus, bukan?

image

Very nice background blur.

Pertama kali mencoba Selective Focus, saya selalu gagal karena nggak memperhatikan caranya. Saya tahu ada beberapa pemakai Galaxy S5 yang mengatakan bahwa mereka selalu gagal memakai fitur ini. Bagaimana supaya berhasil? Ini tipsnya:

1. Subjek harus terang!

2. Jarak ke subyek sekitar 50cm, jarak ke benda terdekat di belakangnya sekitar 1,5m

3. Pilih sendiri titik fokus, disarankan di mata.

Begitu saja! Dua lagi contoh hasilnya.

image

Pinjam fotonya, mas Fadly.

image

Beda fokus depan dan latar, ciamik!

Dugaan saya, software kamera akan mengambil gambar dua kali dalam jarak fokus yang beda. Dari perbandingan ketajaman kemudian Galaxy S5 berusaha menyimpulkan sendiri mana yang subyek utama, mana latar belakang. Yang dianggap latar belakang kemudian diburamkan. Apakah sempurna? Tentu tidak, namanya simulasi software pasti ada kekurangan dibandingkan fisik. Sudah terlalu teknis ya? Maaf, berhubung hobi kamera jadi keasikan.

Pengalaman selama memakai mengajarkan bahwa mode Selective Focus lebih enak dipakai untuk foto close up. Memotret teman yang berhadapan di meja makan, misalnya, cukup ideal. Tapi sekali lagi, ingat 3 syarat di atas untuk hasilkan foto yang mengejutkan!

Adakah Yang Perlu Diperbaiki?

Tidak ada ciptaan manusia yang sempurna, dan dengan seabreg kelebihan pun Samsung Galaxy S5 tak luput dari ketidaksempurnaan. Galaxy S5 ternyata cepat jadi hangat. Walau bukan jadi panas sekali, ini biasanya tidak terjadi di semua smartphone Samsung Galaxy lain milik saya. Semoga ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

image

Satu lagi keluhan, adalah penutup port USB yang untuk membukanya harus dicongkel dengan ujung kuku. Dalam rangka perlindungan akan air dan debu, Samsung memutuskan memasang penutup di tempat yang sering kita akses ini, masuk akal, namun agak khawatir juga apakah akan awet? Sejauh ini, penutupnya masih tampak kuat, semoga bertahan seterusnya. Selebihnya, bagi saya saat ini belum ada kekurangan berarti yang perlu dicatat.

Menurut Saya

Kameranya saja sudah memberi alasan kuat untuk naksir pada smartphone Android andalan Samsung di tahun 2014 ini, apalagi digabung dengan berbagai fitur praktis yang baru. Semua kemampuan ‘ajaib’ Galaxy S4 yang dihebohkan tetap hadir, namun Samsung tampaknya mendewasa. Sepertinya akhirnya memahami bahwa kita lebih butuh kemudahan memakai dan manfaat praktis ketimbang teknologi yang mirip sulap dan belum tentu kita pakai.

image

Untuk ‘flagship device’ dengan spesifikasi tinggi dan harga yang tidak murah, Samsung Galaxy S5 menjadi pilihan yang layak dilirik lebih dari sekali. Apakah ini cocok untuk Anda? Tentunya tiap orang beda, tapi semoga dengan tulisan ini, sudah lebih dapat gambaran. Terima kasih, sudah mampir dan membaca ulasan panjang ini. Jika ada pertanyaan, monggo diisi di kolom Comments.

Menulis untuk Harian Kompas

Ngalor-ngidul bahas tentang gadget, komputer, dan video di blog memang menyenangkan, menulis di penerbitan besar adalah lain hal. Adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan, untuk bisa menulis di harian sebesar Kompas tentang hal-hal yang memang saya minati. Baru tiga kali sudah saya menjadi kontributor di rubrik Peranti di Kompas Klass yang biasanya muncul di hari Jumat. Tidak rutin memang, karena bergantian dengan kontributor lainnya. Saya juga hanya menulis kalau sedang ada yang menarik, dan disetujui oleh para editor.

image

Yang dibahas memang bukan sesuatu yang sangat teknis, karena memang ditujukan untuk publik yang lebih luas. Hal yang sudah diketahui bagi penggemar gadget, belum tentu diketahui semua orang. Dari membahas aplikasi photo editing, aplikasi pemantau lalu-lintas, sampai kamera-kamera kecil yang bisa membuat video sinematis, selalu menyenangkan menulis untuk Kompas Klass. Apa yang akan jadi bahasan berikutnya? Belum tahu. Kalau ada ide, boleh sumbang saran di kolom komentar.

Terima kasih pada Ario atas rekomendasinya.

JalanRaya: Menjelajahi New York Bersama Lenovo K900

Saya termasuk orang yang sangat jarang berperjalanan jauh. Bukan tipe traveller, saya lebih suka membelanjakan uang untuk membeli ‘mainan’ ketimbang berpesiar ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Walau begitu, ketika pekerjaan membawa saya bepergian, saya akan habis-habisan mendokumentasikan perjalanan itu. Setidaknya itu istilah yang lebih keren daripada “rajin foto-foto termasuk motret diri sendiri” tanpa gengsi. Mumpung, soalnya jarang. Pada bulan September 2013, muncul kesempatan untuk mengunjungi satu dari dua saja tempat di bumi ini yang saya ingin kunjungi, New York. Level pentingnya foto-foto: maksimal.

Nggak mau nanggung, saya berangkat dengan satu kamera DSLR Canon dan satu mirrorless Panasonic pinjaman teman. DSLR lebih untuk merekam video cantik, sementara bela-belain pinjam mirrorless kecil karena sadar bahwa nggak akan tiap saat mau megang kamera besar. Tapi, bagaimanapun juga keduanya masih besar dan tetap menjadi kamera kedua dibanding smartphone. Blackberry Torch duduk di bangku cadangan, sementara andalan kerja Samsung Galaxy Note 2 akan berduet dengan satu mainan baru, yang sama bongsornya, Lenovo K900.

Image

Stainless steel back cover, Lenovo K900.

Bagi yang belum kenal, K900 adalah salah satu smartphone Android yang menjadi andalan Lenovo di 2013. Layarnya sama besarnya dengan Samsung Galaxy Note 2 namun memiliki resolusi Full HD lebih tinggi. Tubuhnya lebih panjang namun sangat tipis, sementara desain persegi yang nyaris tanpa lekukan membuatnya tampak ‘serius’. Seperti smartphone high end lainnya, Lenovo memberi K900 layar tahan gores Gorilla Glass 2 sementara polikarbonat membalut bodi bongsornya, dan logam stainless steel menutup punggungnya. Secara spesifikasi, Lenovo K900 yang memakai otak buatan Intel tidaklah mengecewakan, apalagi dengan harga yang sangat bersaing. Kembali ke kamera, jeroannya adalah sensor 13 megapixel Sony yang dipakai banyak smartphone papan atas 2013, dan lensa paling terang dengan bukaan f/1.8.

Image

Desain yang konservatif, berkesan serius.

Sebelum berangkat, semua app penting sudah duluan diinstall di K900. Walau kartu prabayar yang dipakai menjanjikan akses roaming internet dengan tarif flat per hari di Amerika, mendingan sudah siap dari Jakarta. Peta dan navigasi yang tidak membutuhkan koneksi internet jadi andalan, sementara fungsi media sosial dibatasi hanya ketika koneksi bagus atau sedang ada wifi. Semua dijalankan dengan baik tanpa hambatan berarti oleh K900, sayangnya koneksi roaming internet murah meriah yang dijanjikan operator tidak semanis yang digambarkan. Yah, namanya juga roaming paket murmer. Untungnya, kamera dari flagship handset Lenovo ini tidak mengecewakan.

Image

Menyapa New York dengan HDR Mode di Lenovo K900

Tiba di New York setelah sebelumnya menghadiri konvensi di San Diego, kamera tidak pernah berhenti memotret. Dua hal yang menjadi favorit saya dari Lenovo K900, moda HDR dan kamera depannya. Walau cahaya tidak ideal, moda HDR merekam dengan baik keramaian dan lampu-lampu yang benar-benar meriah di Times Square. Warna-warna muncul cantik dan detail relatif didapat. Sementara kamera depan mempunyai lensa yang lebih lebar sehingga ketika merekam diri sendiri kita bisa mendapatkan lebih banyak pemandangan, bukan hanya kepala dan pundak sendiri. Singkatnya, selama di New York, K900 menjadi salah satu andalan utama.

Image

Menatap langit New York, dengan HDR mode Lenovo K900.

Image

Menangkap energi Times Square, New York. Lenovo K900 HDR mode.

Makan cupcake Magnolia di depan Radio City Music Hall, NY.

Makan cupcake Magnolia di depan Radio City Music Hall, NY.

Menantang matahri di Avenue of The Americas, NY. Lenovo K900 HDR mode.

Menantang matahari di Avenue of The Americas, NY. Lenovo K900 HDR mode.

Bangku taman di Bryant Park.

Bangku taman di Bryant Park.

Gedung MetLife menjulang di belakang Grand Central station.

Gedung MetLife menjulang di belakang Grand Central station.

Salah satu obyek foto wajib di NY. All you need, is love.

Salah satu obyek foto wajib di NY. All you need, is love.

Terang benderang di Times Square. Lenovo K900 HDR mode.

Terang benderang di Times Square. Lenovo K900 HDR mode.

Hanya tiga hari dua malam waktu yang saya miliki di New York, dan juga menjadi perkenalan pertama dengan Lenovo K900. Jumlah foto yang dijepretnya mencapai ratusan, menjadi kenangan abadi dalam bentuk digital. Memakai smartphone ini cukup menyenangkan, layar yang besar dan tajamnya cukup terang untuk digunakan di siang hari sementara performa relatif lincah. Bentuknya memang cukup menarik perhatian, apalagi punggungnya yang terbuat dari stainless steel. Di sisi lain, ergonomi memang dikorbankan oleh desain perseginya, sementara dan logam di belakangnya sepertinya membuat K900 cepat panas. Dengan stamina baterenya Lenovo K900 sepertinya lebih cocok untuk pengguna yang tidak terlalu intensif menggunakan aplikasi berat dan online sepanjang hari. Bagi yang ingin mencoba smartphone Android berlayar besar dengan spesifikasi mumpuni tanpa harus keluar banyak uang, Lenovo memberikan pilihan yang layak dilirik di K900.