JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

Iklan

JalanRaya: Sirkus Naga di Qualcomm Uplinq 2013 San Diego

Halo, San Diego!

Halo, San Diego!

Langit cerah, matahari bersinar terang, namun udara begitu sejuk. San Diego seperti menyambut dan menyegarkan kembali tubuh yang lelah dari 18 jam penerbangan. Kami sengaja nggak langsung mengambil taksi ke Hilton Bayfront hotel, di mana Qualcomm Uplinq 2013 diadakan.

“Ngerokok bntar yak.”, kata Harry,

“Hayuk lah, duduk-duduk dulu di luar.”

Beli minuman dan cemilan, kami pun duduk di smoking point luar terminal komuter bandara. Melepas lelah sambil melihat lansekap kota yang menjadi rumah dari Qualcomm, produsen teknologi 3G dan 4G terbesar dunia. Jika punya gadget 3G, hampir pasti di dalamnya ada teknologi Qualcomm. Entah itu paten, komponen, ataupun jagoannya, prosesor SnapDragon.

San Diego Hilton Bayfront, venue untuk Qualcomm Uplinq 2013

San Diego Hilton Bayfront, di sinilah venue Uplinq 2013

10 menit kemudian kami sudah dalam taksi menuju venue Uplinq 2013. Kaca dibuka sepanjang perjalanan menyusuri daerah bayfront, melewati museum kapal induk Midway dan marina.

“Seger juga ya, ngantor di daerah sini. Gue sih mau.”

“You wish.”

Siapa yang nggak pengen. Kami tiba di hotel, dan setelah mencari makan malam di luar, saatnya beristirahat karena esok pagi Qualcomm Uplinq 2013 dimulai.

 

Iron Man, Star Trek, dan 6th Sense

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

“Bapak mau pakai Gimbal? Ini teknologi baru kami, jadi bisa otomatis tercheck-in di venue dan lokasi-lokasi event ini.”

“Uhm, okay.”.

Baru dari pembuatan kartu peserta saja sudah berbau teknologi. Yang menjadi acara utama di pagi pertama Uplinq 2013 adalah keynote presentation dari Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc. Dibuka dengan aksi dua DJ yang menghentak beat rave dengan gadget berotak SnapDragon, Jacobs memresentasikan beberapa teknologi baru Qualcomm.

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Pertama adalah Gimbal, teknologi yang memungkinkan kita otomatis ter-check in di lokasi dan mendapatkan konten yang konteksnya sesuai di smartphone kita. Qualcomm menekankan, mereka mengutamakan privasi dalam merancang teknologi yang sadar-lokasi ini. Menarik juga!

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Segera setelah pembukaan, kita diperkenalkan akan yang namanya Vuforia Smart Terrain. Cukup bermodal kamera pada device, bisa mengubah meja dan lingkungan kecil menjadi alam game yang hidup, dalam tiga dimensi. Rasanya teknologi komputer holographic ala film Iron Man perlahan jadi kenyataan, ini bisa dilihat langsung di demo videonya.

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Berlanjut ke seputar musik, Qualcomm mengembangkan AllJoyn AllPlay, yang nantinya bisa dicangkokkan pembuat sound system ke dalam speaker-speakernya supaya memudahkan playback musik di banyak tempat, cukup dari smartphone. Moment berkesan pertama adalah waktu Paul Jacobs memresentasikn 2net, teknologi jaringan yang dirancang khusus untuk keperluan medis.

“Siapa di sini yang tahu Tricorder dari film seri Star Trek?”

Aha, tahu! Sejumlah audiens di ruang konvensi mengacungkan tangan, pastinya saya ikut.

“Kalau nggak tahu Tricorder, mestinya kalian nggak cocok di sini.”, lanjut Paul.

Semua pun tertawa. Memang event Uplinq yang utamanya untuk pengembang aplikasi mobile ini agak ‘geeky’, tapi yang menarik dari moment ini adalah pemaparan Jacobs bahwa Qualcomm turut dalam upaya mewujudkan alat diagnosa medis genggam ala Tricorder, yang dikhayalkan Star Trek. Mungkin kita memang sudah hidup di masa depan. Berikutnya adalah kejutan besar, pengumuman ‘Toq’, smartwatch buatan Qualcomm.

Qualcomm 'Toq', smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Qualcomm ‘Toq’, smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Lebih sebagai upaya meramaikan dan memeragakan teknologi, layar Qualcomm Toq menggunakan teknologi Mirasol. Ini memungkinkan layar selalu menyala tanpa boros batere, dan dapat dilihat jelas di terik matahari. Sebuah ‘Oprah moment’ ala industri teknologi pun membuat ruang konvensi riuh ketika Jacobs mengumumkan,

“Semua yang hadir di sini akan mendapatkan voucher untuk mendapatkan satu smartwatch Qualcomm Toq!”.

Audiens pun menyambut. Tapi, ini hanya untuk semua peserta developer dari AS. Keynote berlanjut dengan topik  SnapDragon yang cukup membuka mata. Siapa yang tahu kalau sampai saat ini kemampuan grafis prosesor ini baru termanfaatkan sekitar 50-an persen?

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Satu istilah yang melekat di otak dari presentasi Paul Jacobs, “Digital 6th Sense”. Di masa depan yang tidak begitu jauh, peranti mobile akan mendominasi mengalahkan komputer dan kita akan mengenal “The Internet of Everything”, semua peranti akan saling terhubung. Bayangkan kalau dari mesin cuci, kulkas, TV sampai lampu semua sudah ‘smart’, bukan sekedar dapat dikendalikan dan dimonitor via peranti mobile namun dapat saling berkomunikasi di latar belakang. Teknologi akan bekerja layaknya indera ke 6, sudah mengetahui lebih dahulu apa yang kita butuhkan dan akan lakukan, sebelum kita sendiri.

 

Sirkus ‘Naga’ SnapDragon

Sebenarnya sih, Uplinq ini event untuk para mobile developer. Itu lho, pengembang aplikasi mobile, orang-orang yang bikin app maupun hardware tambahan yang kita pakai. Tujuannya memperlihatkan, sebetulnya sejauh mana mereka bisa memanfaatkan kekuatan teknologi Qualcomm dan membantu mencapainya. Tapi, bukan berarti nggak ada tontonan menarik. Justru pameran inovasi Qualcomm dan SnapDragon nya yang benar-benar menarik buat kita yang relatif awam. Setengah hari kedua saya habiskan di lantai ruang pameran inovasi teknologi mobile Qualcomm, dan melihat seberapa ‘gila’ kemampuan prosesor SnapDragon.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Deretan smartphone tercanggih dari Samsung, HTC, LG, Nokia, Sony, Motorola, semuanya pakai ‘otak’ prosesor SnapDragon buatan Qualcomm. Dan walau bukan orang yang selalu gonta-ganti gadget, rasanya sudah tahu lah kemampuan peranti mobile pintar jaman sekarang.

“Ah, udah tahulah apa aja kemampuan gadget sekarang.”

“Yakin?”

Sepertinya saya belum segitu tahunya. Baca berita teknologi, punya satu-dua gadget, dengar ini-itu, nggak ada bandingannya dengan melihat sendiri. Seperti pertama ketika didemonstrasi’in bagaimana tablet dan smartphone berprosesor SnapDragon bisa menampilkan game dengan keren di layar TV besar.

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Puas bertanya-tanya tentang kemampuan untuk game, kesimpulannya, kemampuan grafis peranti mobile mulai mengejar kemampuan videogame console generasi kini. Gila! Berikutnya saya ke salah satu pojok, karena ada koki yang sedang menghias kue.

“Lho, ini demo masak?”

“Ini peragaan kemampuan kamera 4K gadget yang pakai SnapDragon”.

Tepok jidat dalam hati, nggak melihat papan merah besar yang menuliskan itu semua. Tapi apa sih 4K? Baru-baru ini Acer dan Samsung meluncurkan hape yang kameranya bisa merekam video 4K, artinya resolusinya adalah 4 kalinya HD! Dan nggak tanggung-tanggung, dipamerkan bagaimana rekaman live dari gadget langsung ditayangkan di monitor besar beresolusi 4K!

Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

, Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

Cukup mengesankan, karena kita bukan cuma melihat di layar kecil. Percuma juga memang misalnya resolusi 4K yang jauh lebih rapat daripada HD cuma didemonstrasikan di layar gadget yang maksimal cuma HD. Tapi satu hal kepikiran, jadi berkomentar.

“Bagus sekali, sayang ya, kita belum ada yang pakai TV 4K. Jadi nggak akan kepakai maksimal.”

“Tapi harga TV 4K sudah mulai turun lho, yang tadinya $5000 sekarang sudah dapat $1500.”

Betul sih, tapi saat ini kegunaan merekam di resolusi setinggi itu rasanya masih sekedar supaya nanti di masa depan video-video kita masih cukup tajam ketika semua layar sudah 4K. Di tengah ruang konvensi, ada mockup dapur. Ketika bergegas ke sana, rupanya sedang didemonstrasikan teknologi AllPlay-AllJoyn.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Lumayan lah, nggak terlalu wah amat. Peragaan bagaimana bisa memutar musik di speaker berbagai ruang di rumah cukup dari satu gadget kita. Yang menarik justru penempatan berbagai device yang berkaitan dengan kegiatan dapur. Ah, mungkin ini bagian dari The Internet of Everything? Berikutnya, saya dan rekan ditarik oleh satu pemandu di sana.

“Mau lihat demo sound system home theater kami? 5 menit aja, saya jamin worth it!”, katanya bersemangat.

“Ah, oke, why not?”

Setelah menunggu sebentar, kami dipersilakan masuk ke satu ruangan home theater mini,

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem suara 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Pertama, diputarkan klip HD dari film Transformers: Dark of The Moon, kemudian berganti klip video 4K yang super tajam. Keduanya dengan tata suara Dolby 7.1, 7 speaker dan satu subwoofer. Semua itu diputar hanya dengan tablet ber-SnapDragon! Lalu, kami diberikan headphone dan diputarkan sebuah klip dari game, dan kami bisa merasakan tata suara 7.1 speaker tadi cukup dengan headphone! Kita tahu dari mana arah suara dalam adegan, entah depan, belakang atau samping!

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Saking banyaknya yang menarik di lihat, siang itu saya makan siang di tengah ruang pameran. Rasanya, pengen bisa meliput semuanya, karena memang hampir semua ada di sana. Dari ruang keluarga, dapur, sampai mobil, semua sudah tersentuh teknologi mobile Qualcomm dan juga prosesornya, SnapDragon.

 

Party Time, Until Next Time.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Hari terakhir ditutup dengan “Q on Fifth”, pesta yang diadakan di kawasan terkenal San Diego, GasLamp Quarter. Pada malam itu, jalanan 5th Avene ditutup khusus untuk closing party Qualcomm, yang diantaranya menghadirkan penampilan grup musik The Fray. Kedengarannya menyenangkan sekali, tapi sayangnya terpaksa dilewatkan. Setelah keseluruhan acara Uplinq hari terakhir selesai, saya sudah harus berkemas karena mengejar penerbangan ke New York.

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Terima kasih pada Qualcomm yang telah mengundang, menyediakan transportasi dan akomodasi saya di Uplinq 2013. Dalam hanya dua hari, saya melihat dan belajar begitu banyak hal di sebuah event teknologi besar. Kita memang sudah hidup di masa depan. Selamat tinggal, San Diego. Semoga kita berjumpa lagi!