Panasonic Solar Lantern: Lentera dengan Pengisi Daya Tenaga Surya

Berawal dari kepedulian sosial Panasonic, dirancanglah sebuah lentera sederhana yang ditujukan untuk menghadirkan penerangan di daerah-daerah yang belum terjangkau listrik. Kecil, praktis, dapat diposisikan dengan berbagai cara, Solar Lantern dapat menyala dengan kekuatan penuh selama 6 sampai 90 jam dalam 3 pengaturan berbeda. Ketika baterai habis, cukup mengisi daya dengan sinar matahari, menggunakan panel tenaga surya yang disediakan sebagai pasangannya. Sebuah solusi praktis, di kala tidak ada listrik.

image

 

Lampu Darurat yang ‘Imut’.
Sekilas, Panasonic Solar Lantern terlihat seperti mainan karena desainnya yang manis dan cenderung ‘imut’. Bahan plastik berwarna cerah mengingatkan kita pada kotak roti untuk bekal anak sekolah dan pegangan logam yang dapat diputar membuatnya semakin mirip dengan sesuatu yang cocok berada di dapur.
image

 

Di dalamnya, ada 5 lampu LED efisien yang bisa dinyalakan dengan 3 tingkat terang cahaya. Benda ke dua dalam paket adalah sebuah panel tenaga surya yang tampak kokoh dan serius, berbeda sekali dengan desain imut lentera nya. Dengan sinar matahari di cuaca cerah, panel dengan kekuatan 3.5 Watt ini dapat mengisi baterai lentera dari kosong hingga penuh dalam 6 jam.
image

 

Ada tiga mode tingkat kekuatan cahaya pada Solar Lantern. Paling rendah 6 lux, di atasnya ada mode 40 lux, dan akhirnya pada kekuatan penuh Panasonic mengklaim tingkat kecerahan 100 lux. Stamina baterai tentunya tergantung mode yang dipilih. Pada mode paling rendah, Solar Lantern bisa menyala 90 jam. Sementara itu untuk pencahayaan sedang dan maksimal masing-masing 15 dan 6 jam. Bagaimana performa nya?

Cahaya Lembut Di Tengah Kegelapan
image

 

Diuji dalam ruangan gelap total tanpa lampu dan jendela, mode paling rendah di Panasonic Solar Lantern nyaris tidak menyebarkan sinar ke mana-mana. Fungsinya lebih sebagai lampu tidur, sekedar menunjukkan posisi, atau untuk memudahkan mencarinya dalam gelap.

image

Pengaturan paling rendah.

 

Naik satu tingkat ke pengaturan sedang, Solar Lantern sudah bisa berfungsi sebagai lampu baca jarak dekat yang berguna. Tetap dengan penyebaran sinar yang minim, lentera ini cocok untuk membantu menulis atau membaca di meja dalam kegelapan.

image

Pengaturan sedang.

 

Baru di pengaturan maksimal dengan ke-5 LED menyala kekuatan penuh, Solar Lantern menunjukkan fungsi utamanya. Terutama efektif pada posisi digantung, ia dapat memberikan penerangan untuk ruangan kecil, sekitar 3 x 3 meter. Masih tidak terlalu benderang, namun sudah efektif menjadi lampu. Dalam pengujian pribadi, kekuatan maksimal bertahan sekitar 6 jam, sesuai klaim.

 

image

Pengaturan maksimal.

Panasonic Solar Lantern memang berbeda dengan banyak lampu darurat yang biasa kita temukan di toko. Kebanyakan yang tersedia entah menggunakan bohlam fluorescent atau ratusan LED dan dirancang untuk selalu tersambung ke listrik pengisi daya, baru menyala ketika listrik diputus. Terang sekali memang, namun pengisian daya bergantung pada listrik, atau baterai yang harus selalu dibeli. Tidak demikian dengan Solar Lantern.

Memberikan penerangan efisien tanpa listrik dan baterai, Panasonic Solar Lantern jadi solusi di daerah terpencil atau di daerah bencana. Tidak perlu khawatir dengan energi, karena baterai NiMH di dalamnya cukup diisi ulang dengan sinar matahari menggunakan solar panel nya. Tak perlu pula khawatir dengan lingkungan. Mampu bertahan dari debu dan percikan air, ia mengusung standard rating IP34.

 

Lentera, Juga Charger!
Dilengkapi dengan USB port, Panasonic Solar Lantern dapat juga mengalirkan daya lewat kabel USB. Spesifikasi mengatakan output USB dari Solar Lantern adalah 6,5V / 0,5A.
image

 

Panasonic mengklaim bahwa dalam waktu dua jam, Solar Lantern dapat mengisi penuh baterai ponsel berkapasitas 700mAh dan ketika lentera dalam posisi terisi penuh, dapat melakukan ini satu sampai dua kali.
Memang, output sangat kecil untuk mengisi peranti sekarang yang mulai butuh daya 1 sampai 2,1A, dan kapasitas baterai hape sudah di atas 1500mAh, namun dalam situasi darurat, ini sudah berguna dan dapat mengisi, asalkan peranti dimatikan. Tidak akan mampu mengisi penuh smartphone besar, namun memberi kemampuan mengisi sebagian, di lokasi di mana tidak ada listrik.
image

 

Kasarnya, ia dapat menjadi “powerbank” kecil kelas ringan, yang hanya perlu sinar matahari untuk mengisinya. Sempat dicoba, Solar Lantern mengisi setidaknya 12% batere smartphone yang habis total, dalam keadaan mati. Ini pun belum dicoba sampai habis, karena belum sempat.

 

Penyelamat di Situasi Darurat
Pada akhirnya, Panasonic Solar Lantern adalah sebuah produk yang menarik dan tak akan tergantikan ketika situasi menuntut. Dalam keadaan di mana kita tidak punya akses listrik maupun baterai, Solar Lantern menjadi solusi penyelamat. Untuk dibawa camping, jadi penerangan darurat di lokasi bencana, Panasonic Solar Lantern akan menunjukkan kemampuannya.

100,000 buah Solar Lantern sudah disumbangkan Panasonic di berbagai negara, untuk memberikan solusi penerangan di daerah terpencil yang belum terjangkau sambungan listrik. Belum lama ini, 1000 unit disumbangkan ke pedalaman Sumba, di mana manfaat lentera ini pasti akan sangat terasa. Ia bukan yang pertama, namun semoga semakin melebarkan jalan ke lebih banyak peranti yang menggunakan tenaga surya.

Iklan

JalanRaya: -15° Celsius di Kuala Lumpur bersama Panasonic Econavi

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

“AC yang setengah PK itu cuma ada di Indonesia lho sekarang.”

“Di seluruh dunia nggak ada?”

“Cuma di Indonesia.”

Obrolan makan malam kali ini soal AC, dan saya yang tadinya sibuk dengan nasi, ayam dan udang goreng jadi berhenti sebentar karena pengetahuan baru ini. Mendadak dalam otak muncul wajah ayah saya dengan kalimat khasnya.

“Beli yang setengah PK aja, bang. Cukup lah.”.

Sambil menikmati hidangan, pak Heribertus Ronny, AC Product Manager dari Panasonic bercerita. Ternyata AC 1/2 PK masih diproduksi cuma untuk pasar Indonesia, menyesuaikan daya beli juga kapasitas listrik mayoritas rumah tinggal masyarakatnya. Karena besarnya demand dari Indonesia, tetap diproduksi sementara di belahan dunia lain sudah nggak ada.  Jadi penasaran, pengen langsung pulang dan ngecek AC di rumah berapa PK. Tapi nggak bisa, karena restoran tempat saya makan ini di Kuala Lumpur.

Ngapain di KL? Kali ini saya berkesempatan ikut para wartawan dalam media trip ke PAPAMY, fasilitas pabrik AC Panasonic di Malaysia. Oh, yang suka ngarang lagu anak tahun 90’an itu? Bukan, kalau itu Papa T-Bob. Mendadak jadi kepikir satu hal, dan langsung aja saya bertanya.

“Kenapa nggak di Indonesia aja Panasonic bikin pabriknya?”

“Oh justru kita udah punya pabrik di Indonesia sudah dari tahun 70’an. Bahkan, waktu pabrik-pabrik lain sempat stop operasi waktu krisis, Panasonic tetap jalan.”.

Ah, okelah. Bukan berarti nggak mau bikin di Indonesia, tapi PAPAMY ini memang sudah jadi fasilitas besar yang meliputi riset dan pengembangan untuk regional. Makan malam berlanjut dengan obrolan yang lebih melebar bersama para wartawan, sementara saya menyimak sambil sibuk dengan lauk. Ayam gorengnya agak beda, enak banget. Atau saya aja yang kelaperan, nggak ingat juga. Setengah jam kemudian saya kembali naik bus rombongan menuju hotel, saatnya istirahat sebelum kunjungan besok. Entah kenapa rasanya kayak nggak sedang di luar negeri, beda dengan waktu pertama kali ke KL di tahun 1999.

 

Pabrik Besar AC Pintar

14 tahun lalu saya berkesempatan ke KL untuk mengunjungi fasilitas studio sinetron sebuah rumah produksi Malaysia, kali ini melihat pabrik AC. Beda jauh ya? Sementara film dan TV adalah bagian dari profesi, consumer technology memang topik favorit saya belakangan ini. Sejak era smartphone, rasanya mendadak semua perangkat elektronik bisa, dan harus, jadi smart juga. Dalam media trip ini Panasonic ingin memperkenalkan konsep AC nya yang ‘smart’, yaitu seri Econavi.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Setelah cukup istirahat dan makan pagi, rombongan berangkat dengan bus besar yang nyaman. Definisi macet di KL jauh lebih jinak daripada Jakarta, kami tiba di fasilitas PAPAMY sekitar 40 menit kemudian. Lokasinya agak dipinggiran kota, sepertinya memang distrik industri dan Panasonic mempunyai beberapa fasilitas dan pabrik besar di sana. Bukan cuma untuk AC, tapi juga kulkas dan TV, dan semuanya besar.

Sampai juga di PAPAMY

Sampai juga di PAPAMY

Kami disambut oleh staf bahkan direksi PAPAMY yang kemudian menyajikan presentasi tentang pabrik dan produk AC Panasonic, terutama seri Econavi yang jadi andalannya. Dari sini baru nyadar bahwa AC sekarang bukan sekedar “berapa PK?” apalagi “berapa Watt?”. Ternyata Econavi ini membuktikan bahwa yang namanya AC sudah canggih sekali.

Presentasi PAPAMY & Econavi

Presentasi PAPAMY & Econavi

Bersama teman-teman dari media.

Bersama teman-teman dari media.

Yang saya tahu tentang AC, dari iklan-iklan sejauh ini paling-paling tentang yang namanya “inverter” yang bisa mengirit listrik, atau “plasmacluster”  bisa memperbaiki kualitas udara ruangan. Inverter itu memperlahankan putaran kompresor ketika sedang tidak butuh putaran tinggi, hasilnya pengiritan energi. Dan banyak merek yang sudah pakai inverter ini, entah Samsung, LG, Sharp dan lainnya. Panasonic ingin mengangkat bahwa Econavi buatannya lebih dari sekedar mengirit tenaga dan membersihkan udara, tapi melakukannya dengan sangat pintar.

 

AC Panasonic Econavi: Penghematan Energi Sampai 38%, Plus Pembersihan Udara!

Ini yang jadi fokus media trip Panasonic kali ini, yaitu produk AC Econavi. Dilengkapi beberapa sensor pintarnya, AC Panasonic Econavi mendinginkan ruangan sesuai kebutuhan, dan mengukur bukan sekedar temperatur kamar. Ia akan mendeteksi posisi orang di dalam ruangan, dan membaca mana yang lebih aktif mengeluarkan panas, dan memfokuskan hembusan ke arah itu. Dalam ruangan ada lebih dari satu kelompok orang? Econavi akan mengatur tiupan sesuai prioritas, mana kelompok yang lebih panas. Bukan cuma itu, ketika ruangan ditinggalkan kosong pun Econavi tahu dan menyesuaikan putaran supaya irit tenaga listrik. Begitu orang-orang kembali ke ruangan, dalam sekejap Econavi akan menyesuaikan lagi. Lebih dari sekedar mendeteksi orang, Econavi juga mengukur cahaya jendela dan panasnya, untuk mengatur pendinginan. Berapa besar pengiritan energi yang bisa dicapai? Di model terlengkapnya, Econavi bisa menghemat energi sampai 38%!

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi, sekilas kelihatan biasa banget ya.

Bukan cuma soal mengatur pendinginan dan efisiensi, fitur Nanoe-G nya bisa membersihkan udara di ruangan, bahkan di dalam AC-nya sendiri. Bakteri dan jamur yang ada di permukaan, udara dan filternya sendiri dinon-aktifkan. Sinting. Mendadak AC di rumah jadi seperti peninggalan purbakala.

Panasonic AC XC579PKJ Econavi

Panasonic AC XC579PKJ Econavi, AC pintar ini tampilannya seperti AC biasa saja.

Usai presentasi, ada satu hal yang bikin saya penasaran dan langsung saja saya tanyakan dengan direktur eksekutif PAPAMY. Satu hal yang terlewatkan sebelumnya di sesi tanya-jawab.

“Jadi, teknologi Econavi ini sudah standard untuk semua AC Panasonic kelas menengah dan kelas atasnya?”.

Dengan bangga beliau mengiyakan. Nah, yang pengen saya tanyain itu satu hal aja yang rasanya sih penting.

“Kira-kira kapan Econavi ini jadi fitur standard semua AC Panasonic termasuk tipe termurahnya? Soalnya fitur-fitur efisiensi listriknya justru lebih akan terasa gunanya buat konsumen yang bukan kelas atas.”

Pak direktur yang adalah orang Malaysia keturunan India tersenyum dan menjawab dengan hati-hati.

“Pastinya kita mengarah ke sana, teknologi semakin maju dan semakin terjangkau setiap hari.”.

“Jadi, 5 tahun lagi mungkin?”, tanya saya lagi sambil nyengir. Bapak direktur jadi ketawa karena saya masih ngotot pengen tahu.

“Hahaha, saya belum bisa bilang, sulit mengira-ngira. Tapi jangan khawatir, arah kami ke sana. Kami ingin Econavi ini dapat dinikmati sebanyak mungkin konsumen, dan sudah komitmen Panasonic untuk selalu hadirkan teknologi yang lebih efisien energi dan ramah lingkungan.”.

Ah, paling nggak sudah bisa berharap bahwa suatu saat fitur-fitur Econavi ini akan jadi standard bahkan di AC Panasonic yang paling kecil dan murah. Bapak saya pasti seneng.

 

Panas Dingin di Pabrik AC

Setelah mengobrol sejenak, tiba giliran kelompok saya untuk keliling melihat fasilitas pabrik PAPAMY. Tempat ini besar dan luas, kami benar-benar dibawa untuk melihat semua proses produksi dari awal sampai pengecekan kualitas. Dari gedung ke gedung, di cuaca yang panas hari itu membuat saya keringetan parah dan iseng bilang pada staf yang memandu kami.

“Kok pabrik AC ternyata nggak dingin ya?”

Staf tertawa dengan ramah dan bilang.

“Oh tenang, nanti kita ke ruangan yang suhunya -15° Celsius di fasilitas R&D.”.

Aha! Menarik!

web 20130610_114711

Fasilitas besar ini baru salah satu dari beberapa gedung di PAPAMY

Paling menarik dari semua adalah fasilitas R&D dimana berbagai macam pengujian AC dilakukan oleh Panasonic. Berbagai ruangan dibuat untuk mensimulasikan berbagai lingkungan dan mengukur performa AC. Entah itu bentuk ruangan, suhu sampai dengan sinar matahari bisa disimulasikan. Nggak ada yang dilewatkan. Hal sesederhana suara mesin AC pun diukur dengan standard yang luar biasa akurat dan ketat. Nggak bakal lagi bisa nganggap enteng teknologi AC. Seru sekali melihat fasilitas R&D Panasonic ini, tapi sayangnya, tidak diijinkan mengambil foto di dalam.

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY. Panas euy cuacanya.

Dan di salah satu ruangan ini, saya berkesempatan mencoba, bener nggak sih pintarnya AC Econavi ini. Staf Panasonic menyilakan saya berdiri beberapa meter di hadapan AC Econavi yang menyala.

“Coba bapak geser posisinya, pindah ke sebelah kanan.”.

Oke, saya nurut dan bergerak pindah 3 meter ke kanan, lalu memperhatikan blower AC. Dalam hitungan detik, hembusan udara menyusul ke tempat saya pindah. Betul, blowernya menyesuaikan arah anginnya. Tapi kan saya cuma sendiri, coba saya tanya.

“Ah, betul ya AC nya bisa ikuti posisi saya. Tapi ini kan saya sendiri. Kalau di ruangan ada yang lain, gimana?”.

Staf PAPAMY kemudian mempersilakan 3 rekan wartawan untuk ikut berdiri di hadapan AC, sejajar namun di sisi berlawanan saya. Ia kemudian menjelaskan.

“Kalau ada lebih dari satu orang atau kelompok, sensor Econavi akan membaca dan membagi hembusannya.”.

Betul, sekejap kemudian blower yang tadinya terfokus ke arah saya menjadi bergantian berputar ke kanan dan ke kiri. Kedua posisi jadi didinginkan. Tapi ternyata belum selesai begitu aja, staf PAPAMY kemudian kembali berpaling ke saya.

“Coba bapak bergerak-gerak sedikit.”

Hmm. Bergerak?

“Bergerak sedikit, aja, misalkan jalan di tempat.”, katanya dengan ramah.

Baiklah, saya pun bergerak seperti jalan di tempat. Lalu seperti orang pura-pura jogging. Tepat sebelum saya sempat beralih ke gerakan robot breakdance, AC kembali memprioritaskan semburan udara dinginnya ke saya. Impressive.

“Karena bapak bergerak menimbulkan panas lebih banyak daripada yang diam, sensor Econavi membaca dan memrioritaskan pendinginan ke arah bapak.”.

Mendengar presentasi dan membaca brosur adalah satu hal, namun membuktikan sendiri secara langsung memang lain lagi. Dan ini baru sebagian dari kemampuan AC Econavi yang bisa membaca banyak faktor lain. Kami juga diperagakan langsung dengan pengukur digital, bagaimana secara nyata penggunaan daya dapat turun menyesuaikan kebutuhan.

Dari semua tempat yang dikunjungi di PAPAMY, saya paling betah di fasilitas R&D yang suhu ruangannya sampai -15° Celsius tadi. Jujur, saya lupa sama sekali itu ruang untuk apa, dan sayangnya yang lain cepat-cepat keluar ruangan karena dingin. Aneh, pada lebih betah panas pabrik ya? Kunjungan ke PAPAMY akhirnya dirampungkan setelah makan siang bersama, setelah berpamitan kami pun kembali naik bus menuju tujuan berikutnya.

 

Panasonic Econation: Konsep Rumah Masa Depan

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Kalau ditanya kepengen rumah kayak apa, sepertinya Ecopark ini jawaban yang paling pas. Bukan cuma keren, nyaman dan dilengkapi berbagai peralatan canggih, rumah ini sepenuhnya mengadakan listrik secara mandiri. Ya, kalau di sini istilahnya kita jadi nggak butuh PLN. Baru dari panel tenaga surya yang memayungi keseluruhan rumah saja sudah kelihatan betapa inilah masa depan yang seharusnya, dan bukan hanya itu. Semua aspek di dalam rumah, sampai pemilihan warna, bahan langit-langit pun diperhitungkan untuk efisiensi energi yang benar-benar optimal.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Di sini kita diperkenalkan juga akan line up produk Panasonic Econavi lainnya. Bukan cuma AC tapi juga mesin cuci, kulkas dan kipas angin! Semuanya efisien energi dengan pintar, khas Econavi. Untuk kulkas misalnya, ia bisa menyesuaikan pendinginan sesuai kebutuhan dengan mendeteksi penaikan suhu ketika pintu dibuka, bahkan mempelajari jam-jam berapa kita paling sering atau bahkan jarang membuka tutup kulkas dan menyesuaikan intensitas pendinginan yang pas dan efisien. Contohnya, ketika malam hari dia akan bekerja lebih ringan karena toh suhu luar dingin dan kulkas jarang dibuka-tutup. Gila ya kalau dipikir. Kulkas aja udah pinter. I love technology!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Efisiensi juga bukan hanya dalam hal benda-benda elektronik, tapi bisa juga pemilihan bahan yang lebih reflektif untuk memantulkan cahaya, sampai rancangan lemari yang memudahkan kita. Jadi nggak semuanya mesti yang berbau teknologi komputer gitu.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu...

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu…

Dan di masa depan, selain rumah yang mandiri listriknya, mestinya mobil juga sudah pakai listrik aja kan ya? Konsep itu juga diterapkan di Econation ini, rumah sudah siap dengan charger untuk mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Panasonic Econation ini benar-benar konsep yang saya suka. Jaman makin canggih, sudah semestinya juga semuanya makin efisien, makin pintar dan nggak boros energi. Ibaratnya orang yang semakin memakai otak ketimbang otot dalam melakukan apapun.

 

Penutup Kunjungan, Kereta Gantung Ke Genting!

Dari dulu kalau dengar Genting Highlands, tahunya satu hal: tempat berjudi. Bayangan sosok orang-orang berdandan rapi di ruangan casino yang mewah, semua dewasa, kalem dan berduit. Mungkin karena saya kurang gaul dan memang nggak hobi amat travel jadi nggak tahu yang sebenarnya. Hari itu ditutup dengan wisata ke Genting, yang cukup jauh dari KL dan setibanya di sana katanya kita akan naik cable car. Kereta gantung. Sip lah. Kirain deket.

Tinggi sekali!

Tinggi sekali!

Ternyata perjalanan dengan cable car dari perhentian bus menuju resort Genting cukup jauh. Perjalanan perlahan menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk segar, benar-benar pengalaman yang berbeda. Lebih asik lagi pastinya kalau saya nggak takut dengan ketinggian, yang bikin setengah perjalanan antara kagum dan cemas sendiri.

“Lho, mas takut ketinggian ya?”.

Saya sedang megang tiang di tengah kereta kencang-kencang.

“Menurut ngana?”.

Sampai juga di puncak Genting dan, lho. Kirain bakal seperti casino dengan orang-orang perlente macam James Bond, teryata lebih seperti taman ria buat keluarga membawa anak-anak. Yang tempat berjudi nya sendiri tertutup, dan saya nggak masuk ke sana. Sayang sekali kaki saya kumat sakitnya, jadi sementara yang lain sibuk ke sana-sini saya malah cari tempat duduk dan melakukan satu hal yang merupakan ciri orang Jakarta: nyari colokan untuk ngecharge hape.

Ternyata kayak begini toh...

Ternyata kayak begini toh…

Rombongan pulang ketika hari sudah gelap. Semua kelelahan dan tidur di bus, dan langsung beristirahat setibanya di hotel. Panasonic Econavi media trip berakhir sudah, keesokan paginya kami berangkat kembali ke Jakarta. Dua hari yang penuh kegiatan dan juga membuka wawasan baru buat saya. Terima kasih atas kesempatan ini, Panasonic.