30 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

20170222_070744

Setahun lebih janji untuk main ke kantor teman di Xiaomi Indonesia, baru Februari kemarin akhirnya kami ketemuan, ngobrol, nggosip, dan berkenalan dengan smartphone “Made in Indonesia” pertama Xiaomi, Redmi 4A. Memberikan satu unit demo untuk diulas, Xiaomi mempersilakan saya untuk berbagi kesan dan pengalaman memakai Redmi 4A, sebebas-bebasnya. Kelebihan, kekurangan, positif, dan negatif. Setelah sebulan lebih memakai, ini kesan-kesan saya tentang smartphone Android berharga Rp 1,4 juta rupiah ini. Nggak ada waktu untuk baca tulisan panjang? Rangkuman kesan pribadi saya kira-kira begini.

Kelebihan:

  • Spesifikasi dan penampilan bagus untuk harganya
  • Baterai yang seperti tidak habis-habis
  • MIUI 8 enak digunakan
  • Ringan

Kekurangan:

  • Kamera yang biasa saja
  • Charging agak lama
  • Punggung sepertinya mudah tergores

Seperti biasa, saya tidak ingin membahas angka dan spesifikasi teknis di sini, untuk yang membutuhkan informasi spec, dapat langsung klik di sini. Berikutnya, ini pengalaman saya.

Kesan Pertama: Penampilan Yang Mengecoh

“Eh, bagus ya.”, itu kalimat pertama saya waktu mengeluarkan handset dari box dan membolak-baliknya. Kejutan kecil, karena kalau melihat dari foto-foto di web, sama sekali nggak ada yang unik, menarik apalagi istimewa dari desainnya. Langkanya desain unik memang salah satu hal yang membuat saya belakangan kurang bersemangat dengan berita dunia per-smartphone’an. Di luar spesifikasi, rasanya semua terlihat sama, hanya persegi panjang dengan layar, kemudian ada merek A yang meniru merek B, dan merek C yang ‘terinspirasi’ merek D, dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan Redmi 4A, tampak depan sangat umum, sisi belakangnya mengingatkan saya pada rancangan HTC, sudut lainnya mungkin iPhone, and so on. Penampilan muka Redmi 4A cukup generik dan bahannya biasa saja, tapi sisi-sisi lainnya, samping, punggung, tampak dan terasa mengesankan di genggaman.

20170222_071321

Penampilan Redmi 4A bagi saya ‘mengecoh’, dalam arti bisa tampak lebih ‘mahal’ dari harganya, sementara bobotnya yang sangat ringan walau menyenangkan jadi tidak mengesankan produk yang kokoh. Tanpa membandingkan dengan yang lain, hape ini rasanya ‘seenteng angin’, dan ini bisa jadi hal positif maupun negatif. Di sisi baiknya, ia tidak akan membebani saku, sementara di sisi lain, saya sering jadi harus cek kantong untuk memastikan handset ini ada karena tidak terasa. Walau ringan, Redmi 4A tidak terasa kopong atau terlihat plastik, apalagi dengan kesan logam warna metalik punggungnya. Berharap dapat bodi metal di kelas harga ini? Ya enggak lah, namun bahan punggung Redmi 4A ini membawa saya ke satu hal lainnya.

20170222_070922

Ini tip dari saya: sebaiknya segera berikan Redmi 4A mu casing, karena walaupun tampak kuat, sepertinya punggungnya retan tergores. Ini hal yang saya temukan secara tak sengaja dan cukup membuat ‘nyesek’, karena terjadi saat sedang senang-senangnya baru memakai hape ini. Nggak sengaja menaruh handset ini di saku bersama koin dan kunci mobil, saya menemukan dua baretan halus yang sebelumnya tidak ada. Memang bukan goresan dalam, dan tidak terlalu terlihat, tapi tetap saja disayangkan. Jadi, bagi yang berminat membeli Redmi 4A, saya sarankan langsung beli casing pelindung. Mungkin sekalian juga pasang screen protector kalau mau, toh nggak mahal. Keep it pretty.

Kesan Kedua: Batere Stamina Tinggi & Performa Andal

Walau hape ini bisa memakai 2 SIM card, saya hanya memakai satu slot dan yang  satu lagi dipakai untuk memory card. Xiaomi Redmi 4A mengambil alih posisi hape ke dua saya, yang pemakaiannya tidak kalah dari hape utama. Fitur-fitur krusial semua ada di Redmi 4A, tak terlupakan IR blaster untuk menjadi remote control entah TV, AC dan lainnya. Hape ini datang di masa yang berat bagi saya, di mana mayoritas hari-hari dilalui menunggu orangtua yang diopname di rumah sakit dalam kondisi kritis. Dalam situasi itu, pemakaian smartphone jadi lebih aktif dari biasanya. Tanpa banyak yang bisa dilakukan saat jaga, media sosial, text messenger, streaming dan juga game jadi cara mengatasi stres juga kejenuhan. Sementara nomor utama saya bolak-balik harus dicharge dalam sehari, saya terkesan dengan stamina batere Xiaomi Redmi 4A ini yang seperti tidak habis-habis. Mestinya semua smartphone bisa begini, memudahkan sekali.

Dengan pola pemakaian yang sebanding dengan Galaxy S5 tua saya, Redmi 4A bertahan jauh lebih lama, dan pulang di tengah malam dalam kondisi yang belum harus dicharge. Itu kalau aktif, bagaimana kalau jadi hape backup yang lebih sering dalam posisi standby? Sampai dua hari pun Redmi 4A saya belum perlu ditancap ke charger. Penasaran, saya cari tahu soal kapasitas baterainya. Pantas saja, batere Redmi 4A lumayan besar untuk spesifikasinya. Satu saja yang perlu diperbaiki, pengisian ulang/charging batere Redmi 4A rasanya relatif lama.

Untuk Android kelas ini, spesifikasi teknis tidak akan muluk, namun untuk harganya tetap cukup baik. Tidak kurang. Contohnya, layar. Sudah lama terbiasa dengan layar Full HD 1080p, untuk turun ke sekedar HD lagi membuat saya ragu, tapi nyatanya resolusi 720p HD sudah sangat bagus untuk ukuran 5 inci Redmi 4A. Tidak sedikitpun saya merasa ada yang kurang tajam di tampilannya. Semua tampak tajam, crisp, kinclong. Sementara kita tahu di kisaran harga ini masih ada juga merek-merek yang belum memberi resolusi HD.

Sekedar supaya bisa membahas performa, saya sempat meng-install beberapa game. Aplikasi-aplikasi biasa seperti media sosial, messaging, navigasi dan lainnya sudah pasti berjalan mulus tanpa cegukan, tapi game lebih menuntut. Karena bukan gamer, saya mencoba beberapa game yang saya kira lumayan butuh tenaga. Biasanya, driving game perlu kemampuan grafis yang baik, dan saya mencoba Asphalt Nitro yang berjalan mulus pada setting maksimal. Sama halnya dengan game FIFA Mobile Football yang lancar tanpa hambatan. Dari beberapa game yang saya coba, adalah shooting game Sniper 3D Assassin yang mengalami sedikit cegukan di setting grafis tertingginya, itu pun hanya saat replay. Bukan masalah. Overall, bagi saya Xiaomi Redmi 4A sudah cukup untuk jadi alat hiburan/casual gaming yang menyenangkan.

20170305_140559

Kesan Ke Tiga: Kamera Kurang Greget

Di kisaran harganya yang di Rp 1,4 juta, kemampuan kamera adalah sesuatu yang saya pasrahkan. Nggak ada ekspektasi. Dan pada akhirnya memang kamera Redmi 4A bagi saya sekedar cukup dan fungsional. Suatu hari, untuk melepas stres saya memutuskan untuk menepi dan mampir di sebuah taman di Jakarta Selatan, sekalian menjajal kamera belakang hape ini. Hari itu langit agak kelabu, namun cukup terang dan panas. Taman kecil itu ternyata cukup indah dan menyenangkan, saya memotret sana-sini, sampai dihampiri sekuriti. Hasilnya, sangat hambar. Kualitas foto 13 megapixelnya rasanya cukup saja, namun di mata saya warna-warnanya mati dan tidak menggugah, tidak membuat saya ingin memotret lebih banyak.

Untung, Xiaomi dengan MIUI nya tidak pelit memberi fitur dan setting kamera, dan yang belakangan saya temukan adalah dengan sedikit mengubah pengaturan ketajaman dan saturasi, Redmi 4A kadang bisa memberikan hasil foto yang lumayan mengesankan. Sepertinya, untuk tiap objek bisa jadi lebih baik jika dicoba dengan setting berbeda. Jika sebelumnya di taman tadi saya tidak berhasil mendapatkan warna bunga yang ‘keluar’, di kesempatan lainnya hanya dengan sedikit mengutik saturasi, Redmi 4A kadang berhasil memberikan foto yang warnanya lebih memikat. Jangan lupa, warna juga termasuk selera pribadi.

Saya tidak punya referensi pembanding pabrikan lain yang sekelas, namun mungkin bisa disimpulkan untuk kelas harga ini, kamera belakangnya cukup baik asalkan pencahayaan cukup. Untuk kamera depan memang saya tidak banyak mencoba, cuma rasanya lensanya cukup wide jadi selfie bisa sedikit lebih jauh (nggak usah dipasang fotonya ya, malu), dan rasanya resolusi 5 megapixel pun cukup besar. Di sisi fitur video, sama juga, tidak ada catatan istimewa, namun bisa dipakai. Overall, semua soal kamera di hape ini bagi saya sekedar mencukupi. Jangan khawatir, Instagram mu tetap bisa keren.

Kesan Ke Empat: Fatwa ke 8 dari MIUI

Hampir semua pembuat gawai Android membungkus sistem operasi dengan antarmuka khas nya masing-masing. Antarmuka, atau interface, itu lho, yang tampil di layar dan memandu kita menggunakan peranti. Walau sama-sama pakai Android versi X, dari merek ke merek beda tampilan dan cara memakai ya karena ini, masing-masing pabrikan punya antarmuka, user interface atau ‘UI’ sendiri. Nah, Xiaomi dari dulu sangat mengangkat dan membanggakan UI khasnya, yang namanya MIUI. Saya pertama berkenalan dengan MIUI di Redmi 2 Prime, 2 tahun lalu. Waktu itu kesan saya adalah, bagus, sangat terancang dan rapi, tapi di beberapa hal justru tidak intuitif, alias mesti belajar dulu. Saat itu, sementara saya menyukai hardware Xiaomi, bagi saya MIUI overrated. Ini yang membuat saya skeptis waktu akan mulai memakai Redmi 4A. Ternyata, banyak yang bisa berubah dalam 2 tahun.

Xiaomi Redmi 4A saya menjalankan MIUI versi 8.2.10 yang ternyata menyenangkan dipakai. Jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Rasanya, yang belum pernah memakai hape Xiaomi pun tidak akan mengalami hambatan atau kagok memakai antarmuka ini. Antarmuka khas Xiaomi yang membungkus Android Marshmallow ini simple, lincah, dan memberi banyak kemudahan, seperti memberitahu kita jika file sampah sudah terlampau banyak dan menawarkan pembersihan. Ada fitur ‘Second Space’ yang bisa memisahkan hape kita seperti menjadi dua hape berbeda, berguna jika hape sering dipinjam. Lalu ada juga ‘Dual App’, ini memungkinkan pengguna memakai dua akun di satu app, misalnya butuh Whatsapp atau Facebook aktif dengan dua akun berbeda. Lewat MIUI, Xiaomi memang menunjukkan perhatian mereka pada kebutuhan pengguna. Ada sih, satu dua hal memang masih menggelitik, seperti tombol ‘Home’, mestinya membawa kita halaman ‘Home’, namun di MIUI, jika app kita berada dalam suatu folder, menekan ‘Home’ hanya mengembalikan kita ke folder. Selebihnya, saya tetap prefer ada app drawer, namun hal-hal ini ini juga bukan sesuatu yang terlalu krusial. Secara keseluruhan, MIUI sekarang ini melengkapi sisi hardware yang baik dengan pengalaman pemakaian yang memudahkan.

Kesimpulan

Secara mengejutkan, saya sangat betah memakai Redmi 4A. Di luar kameranya yang kurang mengesankan, hape entry level Xiaomi ini sangat menyenangkan dipakai, dan ini sebagian besar kontribusi faktor stamina baterenya. Saya tidak perlu fingerprint lock, tidak juga ngidam body metal, bahkan tidak tmementingkan RAM 2GB yang dibenamkan di hape ini. Terutama untuk hape ke-dua, pada dasarnya yang saya butuhkan adalah Android 4G yang bisa diandalkan, kalau tak harus sedikit-sedikit di-charge pastinya lebih baik. Kesan terbesar Redmi 4A bagi saya memang stamina baterenya. Dampak iritnya batere tidak bisa diremehkan, ia memberikan ketenangan dan keyakinan dalam memakai; bahwa ketika dibutuhkan, hape masih mempunyai daya yang cukup. Di harga Rp 1,4 juta, Redmi 4A patut dipertimbangkan siapapun yang membutuhkan smartphone Android andal dengan budget konservatif. Mencari hape ke dua atau backup phone? Saya berani mengatakan Xiaomi yang satu ini tidak akan mengecewakan.

20170222_071250

Ethics Statement:

Perwakilan Xiaomi Indonesia memberikan handset Redmi 4A untuk keperluan ulasan. Tidak ada transaksi, ikatan perjanjian, maupun kewajiban untuk menuliskan apapun, terutama yang bersifat endorsement. Ulasan di blog ini adalah opini pribadi berdasarkan kesan dan pengalaman pemakaian apa adanya.

Iklan

JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

JalanRaya: Sirkus Naga di Qualcomm Uplinq 2013 San Diego

Halo, San Diego!

Halo, San Diego!

Langit cerah, matahari bersinar terang, namun udara begitu sejuk. San Diego seperti menyambut dan menyegarkan kembali tubuh yang lelah dari 18 jam penerbangan. Kami sengaja nggak langsung mengambil taksi ke Hilton Bayfront hotel, di mana Qualcomm Uplinq 2013 diadakan.

“Ngerokok bntar yak.”, kata Harry,

“Hayuk lah, duduk-duduk dulu di luar.”

Beli minuman dan cemilan, kami pun duduk di smoking point luar terminal komuter bandara. Melepas lelah sambil melihat lansekap kota yang menjadi rumah dari Qualcomm, produsen teknologi 3G dan 4G terbesar dunia. Jika punya gadget 3G, hampir pasti di dalamnya ada teknologi Qualcomm. Entah itu paten, komponen, ataupun jagoannya, prosesor SnapDragon.

San Diego Hilton Bayfront, venue untuk Qualcomm Uplinq 2013

San Diego Hilton Bayfront, di sinilah venue Uplinq 2013

10 menit kemudian kami sudah dalam taksi menuju venue Uplinq 2013. Kaca dibuka sepanjang perjalanan menyusuri daerah bayfront, melewati museum kapal induk Midway dan marina.

“Seger juga ya, ngantor di daerah sini. Gue sih mau.”

“You wish.”

Siapa yang nggak pengen. Kami tiba di hotel, dan setelah mencari makan malam di luar, saatnya beristirahat karena esok pagi Qualcomm Uplinq 2013 dimulai.

 

Iron Man, Star Trek, dan 6th Sense

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

“Bapak mau pakai Gimbal? Ini teknologi baru kami, jadi bisa otomatis tercheck-in di venue dan lokasi-lokasi event ini.”

“Uhm, okay.”.

Baru dari pembuatan kartu peserta saja sudah berbau teknologi. Yang menjadi acara utama di pagi pertama Uplinq 2013 adalah keynote presentation dari Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc. Dibuka dengan aksi dua DJ yang menghentak beat rave dengan gadget berotak SnapDragon, Jacobs memresentasikan beberapa teknologi baru Qualcomm.

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Pertama adalah Gimbal, teknologi yang memungkinkan kita otomatis ter-check in di lokasi dan mendapatkan konten yang konteksnya sesuai di smartphone kita. Qualcomm menekankan, mereka mengutamakan privasi dalam merancang teknologi yang sadar-lokasi ini. Menarik juga!

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Segera setelah pembukaan, kita diperkenalkan akan yang namanya Vuforia Smart Terrain. Cukup bermodal kamera pada device, bisa mengubah meja dan lingkungan kecil menjadi alam game yang hidup, dalam tiga dimensi. Rasanya teknologi komputer holographic ala film Iron Man perlahan jadi kenyataan, ini bisa dilihat langsung di demo videonya.

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Berlanjut ke seputar musik, Qualcomm mengembangkan AllJoyn AllPlay, yang nantinya bisa dicangkokkan pembuat sound system ke dalam speaker-speakernya supaya memudahkan playback musik di banyak tempat, cukup dari smartphone. Moment berkesan pertama adalah waktu Paul Jacobs memresentasikn 2net, teknologi jaringan yang dirancang khusus untuk keperluan medis.

“Siapa di sini yang tahu Tricorder dari film seri Star Trek?”

Aha, tahu! Sejumlah audiens di ruang konvensi mengacungkan tangan, pastinya saya ikut.

“Kalau nggak tahu Tricorder, mestinya kalian nggak cocok di sini.”, lanjut Paul.

Semua pun tertawa. Memang event Uplinq yang utamanya untuk pengembang aplikasi mobile ini agak ‘geeky’, tapi yang menarik dari moment ini adalah pemaparan Jacobs bahwa Qualcomm turut dalam upaya mewujudkan alat diagnosa medis genggam ala Tricorder, yang dikhayalkan Star Trek. Mungkin kita memang sudah hidup di masa depan. Berikutnya adalah kejutan besar, pengumuman ‘Toq’, smartwatch buatan Qualcomm.

Qualcomm 'Toq', smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Qualcomm ‘Toq’, smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Lebih sebagai upaya meramaikan dan memeragakan teknologi, layar Qualcomm Toq menggunakan teknologi Mirasol. Ini memungkinkan layar selalu menyala tanpa boros batere, dan dapat dilihat jelas di terik matahari. Sebuah ‘Oprah moment’ ala industri teknologi pun membuat ruang konvensi riuh ketika Jacobs mengumumkan,

“Semua yang hadir di sini akan mendapatkan voucher untuk mendapatkan satu smartwatch Qualcomm Toq!”.

Audiens pun menyambut. Tapi, ini hanya untuk semua peserta developer dari AS. Keynote berlanjut dengan topik  SnapDragon yang cukup membuka mata. Siapa yang tahu kalau sampai saat ini kemampuan grafis prosesor ini baru termanfaatkan sekitar 50-an persen?

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Satu istilah yang melekat di otak dari presentasi Paul Jacobs, “Digital 6th Sense”. Di masa depan yang tidak begitu jauh, peranti mobile akan mendominasi mengalahkan komputer dan kita akan mengenal “The Internet of Everything”, semua peranti akan saling terhubung. Bayangkan kalau dari mesin cuci, kulkas, TV sampai lampu semua sudah ‘smart’, bukan sekedar dapat dikendalikan dan dimonitor via peranti mobile namun dapat saling berkomunikasi di latar belakang. Teknologi akan bekerja layaknya indera ke 6, sudah mengetahui lebih dahulu apa yang kita butuhkan dan akan lakukan, sebelum kita sendiri.

 

Sirkus ‘Naga’ SnapDragon

Sebenarnya sih, Uplinq ini event untuk para mobile developer. Itu lho, pengembang aplikasi mobile, orang-orang yang bikin app maupun hardware tambahan yang kita pakai. Tujuannya memperlihatkan, sebetulnya sejauh mana mereka bisa memanfaatkan kekuatan teknologi Qualcomm dan membantu mencapainya. Tapi, bukan berarti nggak ada tontonan menarik. Justru pameran inovasi Qualcomm dan SnapDragon nya yang benar-benar menarik buat kita yang relatif awam. Setengah hari kedua saya habiskan di lantai ruang pameran inovasi teknologi mobile Qualcomm, dan melihat seberapa ‘gila’ kemampuan prosesor SnapDragon.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Deretan smartphone tercanggih dari Samsung, HTC, LG, Nokia, Sony, Motorola, semuanya pakai ‘otak’ prosesor SnapDragon buatan Qualcomm. Dan walau bukan orang yang selalu gonta-ganti gadget, rasanya sudah tahu lah kemampuan peranti mobile pintar jaman sekarang.

“Ah, udah tahulah apa aja kemampuan gadget sekarang.”

“Yakin?”

Sepertinya saya belum segitu tahunya. Baca berita teknologi, punya satu-dua gadget, dengar ini-itu, nggak ada bandingannya dengan melihat sendiri. Seperti pertama ketika didemonstrasi’in bagaimana tablet dan smartphone berprosesor SnapDragon bisa menampilkan game dengan keren di layar TV besar.

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Puas bertanya-tanya tentang kemampuan untuk game, kesimpulannya, kemampuan grafis peranti mobile mulai mengejar kemampuan videogame console generasi kini. Gila! Berikutnya saya ke salah satu pojok, karena ada koki yang sedang menghias kue.

“Lho, ini demo masak?”

“Ini peragaan kemampuan kamera 4K gadget yang pakai SnapDragon”.

Tepok jidat dalam hati, nggak melihat papan merah besar yang menuliskan itu semua. Tapi apa sih 4K? Baru-baru ini Acer dan Samsung meluncurkan hape yang kameranya bisa merekam video 4K, artinya resolusinya adalah 4 kalinya HD! Dan nggak tanggung-tanggung, dipamerkan bagaimana rekaman live dari gadget langsung ditayangkan di monitor besar beresolusi 4K!

Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

, Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

Cukup mengesankan, karena kita bukan cuma melihat di layar kecil. Percuma juga memang misalnya resolusi 4K yang jauh lebih rapat daripada HD cuma didemonstrasikan di layar gadget yang maksimal cuma HD. Tapi satu hal kepikiran, jadi berkomentar.

“Bagus sekali, sayang ya, kita belum ada yang pakai TV 4K. Jadi nggak akan kepakai maksimal.”

“Tapi harga TV 4K sudah mulai turun lho, yang tadinya $5000 sekarang sudah dapat $1500.”

Betul sih, tapi saat ini kegunaan merekam di resolusi setinggi itu rasanya masih sekedar supaya nanti di masa depan video-video kita masih cukup tajam ketika semua layar sudah 4K. Di tengah ruang konvensi, ada mockup dapur. Ketika bergegas ke sana, rupanya sedang didemonstrasikan teknologi AllPlay-AllJoyn.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Lumayan lah, nggak terlalu wah amat. Peragaan bagaimana bisa memutar musik di speaker berbagai ruang di rumah cukup dari satu gadget kita. Yang menarik justru penempatan berbagai device yang berkaitan dengan kegiatan dapur. Ah, mungkin ini bagian dari The Internet of Everything? Berikutnya, saya dan rekan ditarik oleh satu pemandu di sana.

“Mau lihat demo sound system home theater kami? 5 menit aja, saya jamin worth it!”, katanya bersemangat.

“Ah, oke, why not?”

Setelah menunggu sebentar, kami dipersilakan masuk ke satu ruangan home theater mini,

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem suara 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Pertama, diputarkan klip HD dari film Transformers: Dark of The Moon, kemudian berganti klip video 4K yang super tajam. Keduanya dengan tata suara Dolby 7.1, 7 speaker dan satu subwoofer. Semua itu diputar hanya dengan tablet ber-SnapDragon! Lalu, kami diberikan headphone dan diputarkan sebuah klip dari game, dan kami bisa merasakan tata suara 7.1 speaker tadi cukup dengan headphone! Kita tahu dari mana arah suara dalam adegan, entah depan, belakang atau samping!

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Saking banyaknya yang menarik di lihat, siang itu saya makan siang di tengah ruang pameran. Rasanya, pengen bisa meliput semuanya, karena memang hampir semua ada di sana. Dari ruang keluarga, dapur, sampai mobil, semua sudah tersentuh teknologi mobile Qualcomm dan juga prosesornya, SnapDragon.

 

Party Time, Until Next Time.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Hari terakhir ditutup dengan “Q on Fifth”, pesta yang diadakan di kawasan terkenal San Diego, GasLamp Quarter. Pada malam itu, jalanan 5th Avene ditutup khusus untuk closing party Qualcomm, yang diantaranya menghadirkan penampilan grup musik The Fray. Kedengarannya menyenangkan sekali, tapi sayangnya terpaksa dilewatkan. Setelah keseluruhan acara Uplinq hari terakhir selesai, saya sudah harus berkemas karena mengejar penerbangan ke New York.

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Terima kasih pada Qualcomm yang telah mengundang, menyediakan transportasi dan akomodasi saya di Uplinq 2013. Dalam hanya dua hari, saya melihat dan belajar begitu banyak hal di sebuah event teknologi besar. Kita memang sudah hidup di masa depan. Selamat tinggal, San Diego. Semoga kita berjumpa lagi!

Review: Samsung Galaxy S3 VS Samsung Galaxy Note 2, Pilih Mana?

Baca review udah, detail teknis udah dibacain, spesifikasi udah dibandingin, tapi masih bingung milih? Karena punya dan pakai dua-duanya, saya mau nyoba bantu ngasi gambaran perbandingan antara dua Android jagoan Samsung di tahun 2012. Nggak usah bahas angka ya, bahkan, sekalian jangan ada angka sama sekali di sini. Kalau mau teknis, banyak yang udah bikin. Ini pandangan pribadi pengguna, siapa tahu bisa membantu mikir supaya nggak salah pilih. Mikir itu penting, soalnya, benda-benda ini nggak murah. Yuk ah, kita mulai.

 

Pilih yang mana?

Bentuk & Ukuran: Enakan Yang Mana?

Walau lebih ramping dan tipis dari generasi pertamanya, layarnya Galaxy Note 2 lebih besar dan tetap aja termasuk smartphone paling bongsor saat ini. Yang baru pertama kali makai seri Note pasti pada awalnya akan canggung dan ragu. “Apa bener gue bakal betah makai benda segede gini sehari-hari?”. Texting dengan satu tangan jelas nyaris mustahil kecuali tangan kita segede pemain basket NBA. Tapi untungnya Samsung sadari ini dan menyediakan fitur keyboard ‘satu tangan’ yang lebih kecil dan dipepetin ke kanan layar.

Sementara itu, Galaxy S3 yang layarnya juga lebih besar dari kebanyakan smartphone masih jauh lebih nyaman digenggam dan dibawa. Ini fakta praktis. Yang tadinya tidak menyukai rancangannya yang berlekuk bisa dikagetkan nyamannya S3 di tangan. Ini kejadian sama saya. Awalnya sangat nggak suka bentuk S3, karena bulet-bulet gitu. Eh, tapi begitu megang kok nyaman? Akhirnya jadi suka banget. Kali ini, gembar-gembor rancangan bukan omong kosong, Galaxy S3 memang cukup ergonomis.

Pemenang: Galaxy S3

 

Layar: Mana Yang lebih Tajem & Kinclong?

Tanpa menyebut angka ukuran, kita udah tahu bahwa layar Galaxy Note 2 jauh lebih besar daripada Galaxy S3. Bahkan, lebih besar daripada Galaxy Note pertama. Tapi, karena aspek rasio (itu lho, perbandingan panjang x lebarnya) beda, Note 2 yang lebih besar malah lebih ramping daripada Note pertama. Resolusi layar Note 2 dan S3 sama persis, udah HD. Tapi ini justru bikin perbedaan yang tampak nyata.

Layar Galaxy S3 mempunyai resolusi sama dengan Note 2 tapi lebih kecil, sehingga tampilannya jadi lebih padat dan tajam daripada Note 2. Benar-benar memuaskan mata. Sementara, Galaxy Note 2 dengan resolusi sama tapi layarnya lebih besar, jadi begitu melihat pun kita merasa bahwa tampilannya tidak setajam Galaxy S3. Nah bicara ukuran, besarnya layar Galaxy Note 2 pun bukan asal besar. Ada tujuan, yaitu mengakomodir fungsinya sebagai tempat menulis menggunakan stylus. Percuma bisa buat menulis kalau ruangnya kecil. Mana yang lebih penting, ukuran atau ketajaman? Tiap orang punya prioritas masing-masing, tapi bicara tajam dan kinclong, jelas ada yang unggul.

Pemenang: Galaxy S3

 

Prosesor, Otak Siapa Yang Lebih Pinter?

Sudahlah, namanya juga lebih baru dan termasuk top of the line, jelas unggul Galaxy Note 2. Dengan begitu banyak kemampuan dan fitur baru, memang smartphone kelas ini jangan diberikan spesifikasi yang nanggung. Tapi unggulnya jeroan Note 2 bukan berarti membuat Galaxy S3 menjadi smartphone yang lemah. Galaxy S3 memiliki spesifikasi teknis yang membuat banyak smartphone Android iri. Saat dirilis, Galaxy S3 juga yang terkuat dan tercepat dari sisi prosesor. Apakah fakta bahwa ‘otak’ Galaxy Note 2 lebih hebat membuat S3 dianggap kurang mumpuni? Tidak sama sekali. Lagipula, pada realitanya mayoritas pengguna pun belum tentu butuh tenaga memroses setinggi yang dimiliki kedua handset ini. Bahkan bagi pengguna kasual, mungkin bahkan nggak merasakan bedanya. Galaxy Note 2 menang, namun tidak mengecilkan S3.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Sistem Operasi: Androidnya Sama Nggak?

Langsung dari pabriknya, Samsung sudah memberikan Android Jelly Bean pada Galaxy Note 2. Sistem operasi Android terkini saat tulisan ini dibuat memang membawa banyak kemampuan dan pengubahan baru. Galaxy S3 standardnya memakai Android Ice Cream Sandwich. Pada saat dirilis adalah Android paling akhir, bahkan masih belum terlalu banyak yang pakai. Tapi nggak berarti akan kalah, Samsung sudah menjanjikan akan ada upgrade ke Android JellyBean untuk Galaxy S3. Nah apakah ini akan berarti sama persis dalam pemakaian, belum tentu karena memang ada fitur berbeda yang diberikan Samsung pada Galaxy Note 2. Paling tidak, secara sistem operasi Android, keduanya akan sama-sama mutakhir.

Pemenang: Saat ini Galaxy Note 2, mungkin akan seri setelah Galaxy S3 diupdate ke JellyBean

UPDATE: 03 November, Galaxy S3 saya sudah mendapatkan update Jellybean pertama, sejauh ini belum ada fitur Note 2 yang tampak hadir, seperti di gesture dan kameranya misalnya. Jadi secara sistem operasi sudah sama-sama JellyBean, tapi fitur masih lebih banyak Note 2.

 

Tampilan belakang & kamera.

Kamera, Bagusan Punya S3 atau Note 2?

Nah, soal ini bisa dibilang seri kamera keduanya sama persis. Bukan cuma dari angka megapixel, tapi juga udah ngecek baca sana-sini, memang pakai modul kamera yang sama persis. Aplikasi kamera di Galaxy Note 2 memang punya kemampuan lebih, tapi itu bukan dari hardwarenya, lebih dari sistem operasi dan fitur dari Samsung. Semua itu kemungkinan besar juga akan diterima oleh Galaxy S3 dalam firmware update dari Samsung. Dua-duanya punya salah satu kamera smartphone yang terbaik saat ini, nggak usah ragu dan khawatir. Pokoknya dari sisi kamera keduanya memuaskan.

Pemenang: Seri

UPDATE: Setelah firmware update Galaxy S3 ke Jellybean, saat ini tidak tampak ada fitur Note 2 yang diberikan juga di S3. Secara kualitas, kamera tetap seri. Cuma lagi-lagi Note 2 punya fitur lebih, sedikit.

 

The Improved S Pen: Galaxy Note 2’s Killer Feature

Fitur: Mana Yang Lebih Inovatif?

Tarik napas dulu. Bakal panjang nih bicara fitur. Soalnya Galaxy Note 2 punya banyak sekali fitur baru. Banyaknya malah agak lebay, kalau pemakai bukan tipe yang suka ngutik setting dan baca panduan pasti akan melewatkan banyak fitur. Samsung memasukkan semua kemampuan S3 ke dalam Note 2 dan menambahkan banyak lagi. Satu dari sekian banyak misalnya Smart Stay di Galaxy S3 yang bisa mencegah layar masuk sleep mode jika ia mendeteksi mata kita sedang membaca layar. Fitur ini ada juga di Note 2 bahkan ditambah lagi dengan Smart Rotate. Handset mendeteksi orientasi mata kita, sehingga layar tidak akan berputar jika memang tidak diinginkan. Ini baru satu dari puluhan fitur yang ada di semua sisi, dari telepon sampai kamera Galaxy Note 2 yang mempunyai kemampuan mengambil beberapa foto sekaligus lalu memberikan kita pilihan memilih wajah terbaik bagi tiap orang yang ada dalam foto. Pop up browser? Single hand operation keyboard? Multi-view multi tasking? Nggak akan habis fitur Galaxy Note 2 dibahas di sini. Tapi mana seperti halnya OS, atau sistem operasi, seiring S3 yang akan mendapatkan update Android JellyBean, fitur-fitur Galaxy Note 2 bukan tidak mungkin akan segera ditemukan di S3. Bahkan sudah beredar kabar bahwa kemampuan multi-view multi tasking akan hadir di S3 sebelum akhir 2012.

Sekarang kita fokus ke satu hal dari Galaxy Note 2 yang tidak akan dimiliki oleh S3, yaitu S Pen. Jangan remehkan stylus ini. S Pen memiliki begitu banyak kemampuan dan fungsi, yang bisa membuat kita yang tidak tertarik akan stylus bisa ketagihan menggunakannya. Galaxy Note pertama sudah memperkenalkan bagaimana pena digital Samsung ini bisa dipakai untuk menulis, membuat gambar, sketsa, cropping gambar untuk ditempelkan di notepad, sekarang Galaxy Note meneruskan kemampuan itu dan menyuntikkan steroid dalam hal fitur khusus. Jika di Galaxy Note pertama penggunaan S Pen masih terbatas, di aplikasinya, di Galaxy Note 2 ia dapat berfungsi di mana saja. Akurasi stylus ditingkatkan, juga ditambahkan kemampuan baru. Tanpa menyentuh layar pun S Pen Galaxy Note 2 sudah memiliki fungsi seperti mouse-over. Pelupa dan takut kehilangan S Pen karena tertinggal? Saya sih begitu. Untungnya si Galaxy Note 2 bahkan mampu memberi tahu kita bahwa S Pen tertinggal jika kita melangkah meninggalkannya. Sangat mengesankan. Lagi-lagi, begitu banyak fitur S Pen hingga sulit dibahas semua. Dan ini lah yang tidak akan dimiliki oleh Galaxy S3.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Dua-duanya diberi batere kapasitas besar.

Stamina Batere: Siapa Yang Lebih Kuli?

Percuma kalau punya kemampuan dan kecepatan tinggi, layar besar nan jernih, tapi stamina batere memaksa kita untuk selalu mencari  ‘colokan’. Capek. Dan ya reputasi smartphone sekarang begitu. Dalam hal ini, Galaxy S3 hadir kapasitas batere yang cukup besar untuk menghidupi hardware nya cukup lama. Staminanya memuaskan, ini bukan hanya dari angka ulasan tech blog, tapi pengalaman sendiri di mana  S3 bisa bertahan seharian.

Sekarang hadirlah si bongsor Galaxy Note 2 yang spesifikasi teknisnya makin tinggi dan layar makin besar. Logikanya, akan butuh tenaga makin besar juga. Untungnya, Samsung menyadari bahwa semua kelebihan Note 2 akan percuma kalau baterenya nanggung. Diberikanlah batere dengan kapasitas yang jauh lebih besar daripada Galaxy S3. Bahkan lebih besar dari Galaxy Note pertama. Hasilnya, sebuah smartphone besar nan cepat yang bisa bertahan hampir sehari penuh dalam pemakaian normal. Sesuai dengan tema review-tanpa-angka, kita rangkum menjadi kesimpulan: Galaxy S3 bisa bertahan sepanjang waktu kerja, sementara Galaxy Note bisa tetap bertahan sampai kita sudah pulang dari kantor.

Catatan penting soal batere! Walaupun colokannya USB Micro, sama kayak Blackberry dan banyak gadget lain, kedua handset ini sebaiknya pakai charger plus kabel bawaan aslinya. Terutama si Galaxy Note 2, chargernya mempunyai output lebih besar daripada charger S3 sekalipun. Dengan charger lain, kadang nggak ngejar walaupun ditulis ‘charging’. Kedua handset ini mendeteksi apakah charger dan kabelnya memang asli Samsung, jika bukan asli, untuk keamanan ia membatasi arus yang masuk sehingga butuh waktu lama untuk mengisi.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Kekuatan Fisik: Siapa Yang Lebih Tahan Banting?

Let’s face it. Smartphone bikinan Samsung nggak ada yang terasa kokoh dipegang. Semua terasa ‘plasticky’, walau sama sekali bukan berarti terasa murahan. Hanya beda sekali dengan, misalnya, kalau kita memegang Nokia Lumia 800, apalagi dibanding iPhone 4S yang feel nya kokoh kayak batu. Sudah banyak torture test di mana Galaxy S3 dijatuhkan, ditarik di aspal, dan ternyata memang bukan tipe tahan banting. Untung setidaknya panel depan S3 dibalut Corning Gorilla Glass 2 yang cukup melindungi dari baret dan benturan ringan.

Panel muka Galaxy Note 2 juga sepenuhnya ditutupi Gorilla Glass 2 ini. Namun dari berbagai uji coba di tech blog luar negeri, tampaknya Galaxy Note 2 secara mengejutkan terbukti jauh lebih ‘badak’ daripada S3. Video drop test Galaxy Note 2 yang bikin meringis membuktikan hal ini. Dijatuhkan dari sedengkul sampai dari ketinggian telinga, hanya lecet kecil, sementara yang lainnya aman. Menggembirakan sekali, karena memang sepantasnya smartphone juga jangan terlalu ringkih. Wong belinya mahal, kalau jatuh dikit aja udah pecah ya miris. Dan ya catatan, udah beli hape mahal mbok ya jangan dijatuhin.

Pemenang: Galaxy Note 2

 

Kesimpulan

Walau tiap kategori ada yang dianggap pemenang, tujuan bahas ini lebih buat nentuin mana yang cocok buat siapa. Dan dari pengalaman menggunakan keduanya, kesimpulan saat ini adalah bahwa:

 

Galaxy Note 2 for power-users.

Samsung Galaxy Note 2 untuk power-user kreatif yang menuntut produktivitas.

Seri Galaxy Note memang dirancang untuk mereka yang ingin smartphone-nya juga bisa menggantikan kertas dan alat tulis. Phablet, namanya sekarang. Sebuah solusi untuk yang merasa layar smartphone masih terlalu kecil sementara tablet terlalu besar. Fitur melimpah ruah. Power user akan dipuaskan dengan begitu banyaknya fitur untuk segala kebutuhan. Bahkan, hanya user yang benar-benar peduli untuk membaca panduan yang akan benar-benar tahu seberapa jauh kemampuan Galaxy Note 2. Kemampuan stylus S Pen di Galaxy Note 2 menakjubkan dan menyenangkan. Kehadirannya bukan lagi sekedar ‘gimmick’, namun benar-benar nyata menunjang produktivitas dan kreativitas. Lebih mudah dipakai daripada yang pertama, Samsung mengintegrasikan S Pen di hampir keseluruhan sistem operasi Galaxy Note 2. Jika tidak peduli dengan kemampuan stylus, layar besar, dan hanya mengejar spesifikasi tinggi, mungkin agak mubazir membeli Galaxy Note 2. ‘Phablet’ ini benar-benar sebuah mobile powerhouse.

Galaxy S3, for the dynamic fast movers.

Samsung Galaxy S3 untuk fast-movers yang dinamis.

Rasanya sih memang seri S adalah flagship dari smartphone Android bikinan Samsung, dan yang ke 3 ini benar-benar lompatan dari 2 generasi sebelumnya. Jika Galaxy S dan S2 terasa sekali mengekor konsep rancangan iPhone, konsep Galaxy S3 baru, segar dan original. Mudah sekali jatuh cinta pada S3, mulai dari pertama menggenggam, kekuatan konsep rancangannya terasa sekali. Spesifikasi tinggi membuatnya bergerak cepat, mulus, dan Samsung sudah memberikan komitmen untuk memperbarui sistem operasi juga fitur-fiturnya sehingga fitur dasarnya akan mengejar kemampuan Galaxy Note 2 di luar S Pen nya. Untuk mereka yang inginkan kombinasi hardware dan software tertinggi namun merasa ukuran Galaxy Note 2 berlebihan. Mereka yang ingin smartphone tercanggih, cantik, cepat dan besar namun masih ringan dan lincah, dan masih dapat sangat nyaman digunakan dengan satu tangan akan terpuaskan oleh Galaxy S3. Ia layaknya sebuah sports car bermesin besar yang canggih.

 

Akhir Kata

Smartphone bukan benda yang murah, kita sebaiknya cari tahu dulu kira-kira mana yang akan ideal untuk kita. Bukan sekedar ngejar spesifikasi yang lebih tinggi, lebih baru, lebih besar. Nah, semoga dengan pengalaman dan opini yang saya bagi di sini, jadi lebih bisa mendapat gambaran, mana yang sepertinya lebih cocok. Pastinya lebih bagus lagi kalau sempat coba dulu, entah ke showroom atau pinjam punya teman.

Sebagian orang akan bilang bahwa Galaxy S3 dan Galaxy Note 2 adalah dua binatang yang berbeda, jadi nggak bisa dibandingkan. Kalau mobil, mungkin seperti membandingkan Ferrari dengan Porsche Cayenne. Nggak apa, realitanya kadang kita memang mesti milih diantara dua benda yang nggak sepenuhnya sama. Yang sudah memakai Galaxy Note pertama hampir pasti akan suka sekali dengan Galaxy Note 2. Tapi bagi yang memakai Galaxy S3, kemungkinannya 50-50. Bisa jadi tetap lebih memilih Galaxy S3 karena memang ukuran Galaxy Note 2 bukan untuk semua orang. Saya sendiri? Pada awalnya merasa ragu karena canggung dengan ukuran Note 2 namun setelah beberapa hari benar-benar jatuh cinta dan tidak ingin kembali ke S3.

Jadi, pilih mana, Galaxy S3 atau Note 2? Semoga tulisan ini sedikit memberi pencerahan. Terima kasih sudah mampir dan baca sampai sini, semoga membantu.