Menyiasati Wifi Di Ruko 3 Lantai: Router D-Link DWR-116 & Range Extender DAP-1320

Entah kenapa saya selalu berganti merek setiap berganti router, kali ini giliran D-Link. Jaman berlangganan Speedy, LinkSys WRT-54G jadi andalan, lalu ketika memakai SmartFren EVDO, berganti ke TP-Link MR3420. Sejak pakai Bolt!, karena belinya mifi ZTE MF-90, jadi nggak pakai router lagi. Praktis memang, tapi sinyalnya cuma efektif di satu lantai dan lagi, kalau mau nge-print, komputer harus pindah sambungan dari wifi internet ke wifi printer. Untuk bisa meliputi tempat tinggal dan kerja saya yang 3 lantai ini, saya menjajal kombinasi 3G/4G router D-Link DWR-116 di lantai 3, diperkuat dengan penambah jangkauan D-Link DAP-1320 Range Extender di lantai dasar.

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Walau sudah 4G LTE, rancangan router D-Link DWR-116 bisa dibilang old-school classic, persegi standar dengan dua antena di belakangnya. Entah kenapa buat saya pribadi, desain dengan sepasang antena bikin lebih pede bahwa sinyal akan lebih kuat dipancarkan ketimbang model-model ‘cantik’ tanpa antena yang lebih ‘lifestyle’. Tapi ya ini murni sugesti, puas aja ngelihatnya. Di bagian belakang seperti biasa berderet port untuk ethernet, belum gigabit ethernet namun sudah cukup untuk kebanyakan, toh mayoritas pemakai malah belum tentu sambungan ini. Awalnya sempat bingung, lho, mana tancepan USB modemnya? Kok nggak ada? Rupanya ada di atas. Di mukanya hanya ada satu tombol untuk WPS setup. Dalam kemasan disediakan kabel ethernet untuk instalasi, power adaptor, dan user manual. Dirancang untuk USB modem 3G/4G, DWR-116 ini akan menerima sambungan internet Bolt! via modem ZTE MF-825A.

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Setup DWR-116 sederhana saja. Setelah memindahkan kartu Bolt! dari mifi ZTE MF-90 ke USB modem ZTE MF-825, tancap ke port dan nyalakan router. Tadinya, saya mau setup dengan kabel LAN tapi akhirnya malah cukup pakai wifi, bahkan cukup dengan smartphone. Dalam 5 menit saja, aktiflah hotspot baru dengan Bolt! di lantai 3. Untuk cek sinyal wifi, saya pun turun ke bawah dengan Samsung Galaxy S5 dan Note 3 tersambung. Sampai lantai dasar pun, sinyal wifi dari D-Link DWR-116 masih diterima 2/5 bar. Hanya di ruangan pojok dan toilet lantai dasar, yang berada di bawah tangga, sinyal baru hilang. Untuk itulah ada yang namanya range extender, penambah jangkauan.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

Mayoritas rumah tangga modern di Jakarta sudah pakai wifi router, tapi ya begitu, biasanya cuma efektif di satu lantai. Di lantai lain masih ada sinyal, tapi begitu dalam ruangan lagi, lenyap. Solusinya gampang, tapi banyak yang tidak tahu, beli saja wifi range extender. Ibaratnya tower repeater untuk sinyal telepon selular, range extender menerima sinyal wifi yang ada, dan memancarkan ulang dengan kekuatannya sendiri, sehingga jangkauan bertambah. Yang diduetkan di sini adalah D-Link DAP-1320, bendanya hanya seperti adapter yang dicolok ke listrik, hanya ada satu tombol untuk setup. Colokan DAP-1320 memang yang kaki tiga, tinggal pasang adapter untuk cocok ke plug listrik kita.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Menyiapkan range extender ini lebih gampang lagi. Tancapkan ke listrik, tekan tombol WPS di router DWR-116, lalu tekan tombol WPS miliknya sendiri. Tunggu 2-3 menit sampai lampu berhenti berkedip dan menyala hijau konstan, selesai! Range extender tinggal dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan, sesederhana itu. Penting dipahami, range extender akan punya jaringan sendiri, dengan password sendiri, yang beda dengan password wifi utama. Keterangan ini semua ada di petunjuk penggunaan. Pastikan dibaca, jangan seperti saya yang keasyikan sendiri dan tidak sadar bahwa password tertera di sticker di bawah bodi extender.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik, di lantai dasar.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik.

Pada akhirnya, duet 3G/4G router D-Link DWR-116 dan range extender D-Link DAP-1320 efektif membuat sinyal wifi kuat diterima di setiap ruangan di ruko 3 lantai saya. Komputer bisa memakai internet dan wireless printer bersamaan tanpa ribet, hal kecil yang menyenangkan. Kembali memakai router membuat saya jadi berpikir untuk lebih jauh membuat personal cloud storage di rumah. Upgrade ke router yang menggunakan gigabit ethernet dan 802.11AC, lalu sambungkan ke external hard disk yang cloud-ready? Belum lagi sekarang bisa menggunakan jalur listrik rumah sebagai jalur data untuk range extender, seru sekali. Ah, yang namanya hobi memang nggak ada puasnya.

Terima kasih, sudah mampir. Untuk spesifikasi teknis router D-Link DWR-116 dan informasi kompatibilitas modem, silakan klik di sini sementara untuk Wireless Range Extender D-Link DAP-1320, klik di sini.

Iklan

Salah Pengertian Soal DM di Twitter

image

Sepertinya cukup banyak yang mengira bahwa Twitter akan membuat siapapun bisa saling berkirim DM, walau belum tentu saling follow.

Itu salah.

Yang bener itu:

Twitter akan memberikan opsi setting, untuk membuat akun kita bisa menerima DM dari follower yang nggak kita follow.

Kalau opsi itu nggak kita pilih, ya kita tetap nggak bisa menerima DM dari akun follower yang nggak kita follow.

Lebih lengkapnya, baca di Daily Social:
http://en.dailysocial.net/post/twitter-is-allowing-people-to-receive-direct-messages-from-followers

JalanRaya: Sirkus Naga di Qualcomm Uplinq 2013 San Diego

Halo, San Diego!

Halo, San Diego!

Langit cerah, matahari bersinar terang, namun udara begitu sejuk. San Diego seperti menyambut dan menyegarkan kembali tubuh yang lelah dari 18 jam penerbangan. Kami sengaja nggak langsung mengambil taksi ke Hilton Bayfront hotel, di mana Qualcomm Uplinq 2013 diadakan.

“Ngerokok bntar yak.”, kata Harry,

“Hayuk lah, duduk-duduk dulu di luar.”

Beli minuman dan cemilan, kami pun duduk di smoking point luar terminal komuter bandara. Melepas lelah sambil melihat lansekap kota yang menjadi rumah dari Qualcomm, produsen teknologi 3G dan 4G terbesar dunia. Jika punya gadget 3G, hampir pasti di dalamnya ada teknologi Qualcomm. Entah itu paten, komponen, ataupun jagoannya, prosesor SnapDragon.

San Diego Hilton Bayfront, venue untuk Qualcomm Uplinq 2013

San Diego Hilton Bayfront, di sinilah venue Uplinq 2013

10 menit kemudian kami sudah dalam taksi menuju venue Uplinq 2013. Kaca dibuka sepanjang perjalanan menyusuri daerah bayfront, melewati museum kapal induk Midway dan marina.

“Seger juga ya, ngantor di daerah sini. Gue sih mau.”

“You wish.”

Siapa yang nggak pengen. Kami tiba di hotel, dan setelah mencari makan malam di luar, saatnya beristirahat karena esok pagi Qualcomm Uplinq 2013 dimulai.

 

Iron Man, Star Trek, dan 6th Sense

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

“Bapak mau pakai Gimbal? Ini teknologi baru kami, jadi bisa otomatis tercheck-in di venue dan lokasi-lokasi event ini.”

“Uhm, okay.”.

Baru dari pembuatan kartu peserta saja sudah berbau teknologi. Yang menjadi acara utama di pagi pertama Uplinq 2013 adalah keynote presentation dari Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc. Dibuka dengan aksi dua DJ yang menghentak beat rave dengan gadget berotak SnapDragon, Jacobs memresentasikan beberapa teknologi baru Qualcomm.

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Pertama adalah Gimbal, teknologi yang memungkinkan kita otomatis ter-check in di lokasi dan mendapatkan konten yang konteksnya sesuai di smartphone kita. Qualcomm menekankan, mereka mengutamakan privasi dalam merancang teknologi yang sadar-lokasi ini. Menarik juga!

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Segera setelah pembukaan, kita diperkenalkan akan yang namanya Vuforia Smart Terrain. Cukup bermodal kamera pada device, bisa mengubah meja dan lingkungan kecil menjadi alam game yang hidup, dalam tiga dimensi. Rasanya teknologi komputer holographic ala film Iron Man perlahan jadi kenyataan, ini bisa dilihat langsung di demo videonya.

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Berlanjut ke seputar musik, Qualcomm mengembangkan AllJoyn AllPlay, yang nantinya bisa dicangkokkan pembuat sound system ke dalam speaker-speakernya supaya memudahkan playback musik di banyak tempat, cukup dari smartphone. Moment berkesan pertama adalah waktu Paul Jacobs memresentasikn 2net, teknologi jaringan yang dirancang khusus untuk keperluan medis.

“Siapa di sini yang tahu Tricorder dari film seri Star Trek?”

Aha, tahu! Sejumlah audiens di ruang konvensi mengacungkan tangan, pastinya saya ikut.

“Kalau nggak tahu Tricorder, mestinya kalian nggak cocok di sini.”, lanjut Paul.

Semua pun tertawa. Memang event Uplinq yang utamanya untuk pengembang aplikasi mobile ini agak ‘geeky’, tapi yang menarik dari moment ini adalah pemaparan Jacobs bahwa Qualcomm turut dalam upaya mewujudkan alat diagnosa medis genggam ala Tricorder, yang dikhayalkan Star Trek. Mungkin kita memang sudah hidup di masa depan. Berikutnya adalah kejutan besar, pengumuman ‘Toq’, smartwatch buatan Qualcomm.

Qualcomm 'Toq', smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Qualcomm ‘Toq’, smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Lebih sebagai upaya meramaikan dan memeragakan teknologi, layar Qualcomm Toq menggunakan teknologi Mirasol. Ini memungkinkan layar selalu menyala tanpa boros batere, dan dapat dilihat jelas di terik matahari. Sebuah ‘Oprah moment’ ala industri teknologi pun membuat ruang konvensi riuh ketika Jacobs mengumumkan,

“Semua yang hadir di sini akan mendapatkan voucher untuk mendapatkan satu smartwatch Qualcomm Toq!”.

Audiens pun menyambut. Tapi, ini hanya untuk semua peserta developer dari AS. Keynote berlanjut dengan topik  SnapDragon yang cukup membuka mata. Siapa yang tahu kalau sampai saat ini kemampuan grafis prosesor ini baru termanfaatkan sekitar 50-an persen?

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Satu istilah yang melekat di otak dari presentasi Paul Jacobs, “Digital 6th Sense”. Di masa depan yang tidak begitu jauh, peranti mobile akan mendominasi mengalahkan komputer dan kita akan mengenal “The Internet of Everything”, semua peranti akan saling terhubung. Bayangkan kalau dari mesin cuci, kulkas, TV sampai lampu semua sudah ‘smart’, bukan sekedar dapat dikendalikan dan dimonitor via peranti mobile namun dapat saling berkomunikasi di latar belakang. Teknologi akan bekerja layaknya indera ke 6, sudah mengetahui lebih dahulu apa yang kita butuhkan dan akan lakukan, sebelum kita sendiri.

 

Sirkus ‘Naga’ SnapDragon

Sebenarnya sih, Uplinq ini event untuk para mobile developer. Itu lho, pengembang aplikasi mobile, orang-orang yang bikin app maupun hardware tambahan yang kita pakai. Tujuannya memperlihatkan, sebetulnya sejauh mana mereka bisa memanfaatkan kekuatan teknologi Qualcomm dan membantu mencapainya. Tapi, bukan berarti nggak ada tontonan menarik. Justru pameran inovasi Qualcomm dan SnapDragon nya yang benar-benar menarik buat kita yang relatif awam. Setengah hari kedua saya habiskan di lantai ruang pameran inovasi teknologi mobile Qualcomm, dan melihat seberapa ‘gila’ kemampuan prosesor SnapDragon.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Deretan smartphone tercanggih dari Samsung, HTC, LG, Nokia, Sony, Motorola, semuanya pakai ‘otak’ prosesor SnapDragon buatan Qualcomm. Dan walau bukan orang yang selalu gonta-ganti gadget, rasanya sudah tahu lah kemampuan peranti mobile pintar jaman sekarang.

“Ah, udah tahulah apa aja kemampuan gadget sekarang.”

“Yakin?”

Sepertinya saya belum segitu tahunya. Baca berita teknologi, punya satu-dua gadget, dengar ini-itu, nggak ada bandingannya dengan melihat sendiri. Seperti pertama ketika didemonstrasi’in bagaimana tablet dan smartphone berprosesor SnapDragon bisa menampilkan game dengan keren di layar TV besar.

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Puas bertanya-tanya tentang kemampuan untuk game, kesimpulannya, kemampuan grafis peranti mobile mulai mengejar kemampuan videogame console generasi kini. Gila! Berikutnya saya ke salah satu pojok, karena ada koki yang sedang menghias kue.

“Lho, ini demo masak?”

“Ini peragaan kemampuan kamera 4K gadget yang pakai SnapDragon”.

Tepok jidat dalam hati, nggak melihat papan merah besar yang menuliskan itu semua. Tapi apa sih 4K? Baru-baru ini Acer dan Samsung meluncurkan hape yang kameranya bisa merekam video 4K, artinya resolusinya adalah 4 kalinya HD! Dan nggak tanggung-tanggung, dipamerkan bagaimana rekaman live dari gadget langsung ditayangkan di monitor besar beresolusi 4K!

Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

, Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

Cukup mengesankan, karena kita bukan cuma melihat di layar kecil. Percuma juga memang misalnya resolusi 4K yang jauh lebih rapat daripada HD cuma didemonstrasikan di layar gadget yang maksimal cuma HD. Tapi satu hal kepikiran, jadi berkomentar.

“Bagus sekali, sayang ya, kita belum ada yang pakai TV 4K. Jadi nggak akan kepakai maksimal.”

“Tapi harga TV 4K sudah mulai turun lho, yang tadinya $5000 sekarang sudah dapat $1500.”

Betul sih, tapi saat ini kegunaan merekam di resolusi setinggi itu rasanya masih sekedar supaya nanti di masa depan video-video kita masih cukup tajam ketika semua layar sudah 4K. Di tengah ruang konvensi, ada mockup dapur. Ketika bergegas ke sana, rupanya sedang didemonstrasikan teknologi AllPlay-AllJoyn.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Lumayan lah, nggak terlalu wah amat. Peragaan bagaimana bisa memutar musik di speaker berbagai ruang di rumah cukup dari satu gadget kita. Yang menarik justru penempatan berbagai device yang berkaitan dengan kegiatan dapur. Ah, mungkin ini bagian dari The Internet of Everything? Berikutnya, saya dan rekan ditarik oleh satu pemandu di sana.

“Mau lihat demo sound system home theater kami? 5 menit aja, saya jamin worth it!”, katanya bersemangat.

“Ah, oke, why not?”

Setelah menunggu sebentar, kami dipersilakan masuk ke satu ruangan home theater mini,

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem suara 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Pertama, diputarkan klip HD dari film Transformers: Dark of The Moon, kemudian berganti klip video 4K yang super tajam. Keduanya dengan tata suara Dolby 7.1, 7 speaker dan satu subwoofer. Semua itu diputar hanya dengan tablet ber-SnapDragon! Lalu, kami diberikan headphone dan diputarkan sebuah klip dari game, dan kami bisa merasakan tata suara 7.1 speaker tadi cukup dengan headphone! Kita tahu dari mana arah suara dalam adegan, entah depan, belakang atau samping!

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Saking banyaknya yang menarik di lihat, siang itu saya makan siang di tengah ruang pameran. Rasanya, pengen bisa meliput semuanya, karena memang hampir semua ada di sana. Dari ruang keluarga, dapur, sampai mobil, semua sudah tersentuh teknologi mobile Qualcomm dan juga prosesornya, SnapDragon.

 

Party Time, Until Next Time.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Hari terakhir ditutup dengan “Q on Fifth”, pesta yang diadakan di kawasan terkenal San Diego, GasLamp Quarter. Pada malam itu, jalanan 5th Avene ditutup khusus untuk closing party Qualcomm, yang diantaranya menghadirkan penampilan grup musik The Fray. Kedengarannya menyenangkan sekali, tapi sayangnya terpaksa dilewatkan. Setelah keseluruhan acara Uplinq hari terakhir selesai, saya sudah harus berkemas karena mengejar penerbangan ke New York.

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Terima kasih pada Qualcomm yang telah mengundang, menyediakan transportasi dan akomodasi saya di Uplinq 2013. Dalam hanya dua hari, saya melihat dan belajar begitu banyak hal di sebuah event teknologi besar. Kita memang sudah hidup di masa depan. Selamat tinggal, San Diego. Semoga kita berjumpa lagi!

Nokia Asha 210, QWERTY-phone Dengan Tombol Whatsapp

Image

Nokia baru mengumumkan satu feature-phone baru dengan keyboard QWERTY, yaitu Asha 210. Melihatnya, jadi teringat Nokia C3 yang cukup laris dari beberapa tahun lalu. Selain bentuk dan warna-warna ala ‘Lumia’, satu hal unik yang langsung terlihat di Asha 210adalah tombol khusus Whatsapp di muka. Sudah pasti dengan keyboard QWERTY, fokusnya adalah messaging.

Harganya di luar negeri diperkirakan sekitar US$72, dan akan tersedia dalam varian satu dan dua SIM. Asal tebak saja, mungkin masuk di Indonesia akan sekitar 1 jutaan. Dilengkapi WiFi, Bluetooth dan kamera 2MP yang mampu membimbing kita dengan suara ketika memakai moda self-portrait. Sekilas, Nokia Asha 210 cukup menarik, tapi apakah pasar masih berminat dengan feature phone di tengah serbuan Android yang semakin terjangkau? Saya sih masih, entah dengan yang lain.

Review: Samsung Galaxy Camera


20130111_230609

 

Nggak terasa, sudah 3 bulan lebih sejak perkenalan saya dengan Samsung Galaxy Camera. Dan masih aja, benda ini selalu jadi perhatian. Hampir semua yang melihat kemudian penasaran, mau memegang, mencoba, dan akhirnya mulai berpikir bahwa memang seru kalau kamera bisa Android dan selalu online layaknya smartphone. Dan akhirnya, semua menanyakan harganya dan dari titik itu reaksinya bisa dibagi menjadi tiga golongan umum. Yang berpikir sejenak lalu merasa bahwa smartphonenya juga sudah cukup biasanya bilang,

“Ah hape saya kayaknya udah cukup.”

dan yang baru mulai ingin lebih serius di fotografi kemungkinan akan bilang,

“Harga segini kayaknya saya milih beli DSLR.”.

Yang merasa hape udah cukup atau yang lebih senang bawa kamera ‘serius’ mungkin nggak terlalu tertarik dengan Samsung Galaxy Camera. Jadi siapa yang kayaknya akan suka kamera ini? Golongan ke tiga, yang tetap memikirkan kemampuan kamera ini setelah tahu harganya.

“Hmmm…”.

Kamera pintar ini lebih buat mereka yang hobi foto kreatif dengan app lalu berbagi di media sosial, namun sudah nggak puas dengan keterbatasan smartphone.

Buat golongan ini, kamera digital biasa atau upgrade ke DSLR bukanlah solusi, karena nggak bisa menggunakan app apalagi sharing lewat media sosial dan internet. Bagi mereka, Samsung Galaxy Camera jadi jawaban yang diimpikan.

 

Kelebihan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Kamera saku dengan segala kecanggihan Android yang dilengkapi konektivitas WiFi dan 3G. Kayaknya dari penggambaran ini aja udah ketahuan dong kelebihannya? Dibanding kamera biasa, kelebihannya ya ada di Android dan konektivitasnya. Dibanding kamera smartphone, sebenarnya kelebihannya adalah lensa zoomnya.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Samsung sepertinya lebih mengedepankan puluhan moda pintar kreatif di Galaxy Camera sebagai kelebihan dibanding lensanya. Tapi bagaimanapun juga semua moda foto pintar itu masih software, bisa saja suatu hari kemampuan itu dicangkokkan oleh Samsung di smartphone. Sebenarnya satu hal yang nggak akan dimiliki smartphone adalah lensa zoom 20x. Nggak ada hape yang punya ini, bahkan sebenarnya nggak ada hape yang bisa zoom beneran.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

“Kamera handphone saya juga bisa ngezoom kok, mas. Cuma ya jadi pecah aja gambarnya”.

Betul, zoom dengan hape akan membuat gambar jadi pecah, itu karena hape pakai yang namanya ‘digital zoom’. Digital Zoom itu layaknya menaruh kaca pembesar di atas layar, gambar jadi besar tapi semakin pecah. Sementara, Samsung Galaxy Camera memiliki optical zoom dengan lensa sungguhan. Layaknya meneropong, gambar nggak jadi pecah. Dalam hal ini, Samsung Galaxy Camera dengan lensa 20x zoom nya telak-telak menang dibanding kamera smartphone.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

“Tapi siapa juga yang butuh ngezoom 20x, ya.”.

Butuh atau nggaknya ya relatif, tapi ternyata cukup banyak yang senang kemampuan zoom. Buktinya, semakin banyak kamera superzoom dirilis oleh pembuat kamera macam Nikon atau Canon. Yang butuh? Mungkin wartawan yang harus bisa memotret event sementara jarak ke panggung cukup jauh, atau orangtua yang ingin mengabadikan anaknya yang pertama kalinya tampil di atas panggung dalam pementasan drama di sekolah atau bertanding sepak bola di lapangan. Bisa siapa saja. Nah, kamera superzoom biasa juga bisa memotret itu semua, tapi cuma Samsung Galaxy Camera memungkinkan kita langsung menyunting secara kreatif, lalu mengunggah foto itu lewat email atau pun media sosial tanpa harus pulang dan melakukannya di komputer.

“Selain lensa zoom, apa fitur yang paling beda? Kalau filter sama efek aja ya di hape juga bisa.”

20130111_233413

Bisa setting P, A, S dan Manual ala DSLR

Yang mau foto kreatif dan belajar fotografi akan senang karena Samsung Galaxy Camera punya moda P, A, S dan Manual yang jadi standard di DSLR. Sampai saat ini belum ada smartphone yang memberi kebebasan penuh di fitur ini. Dengan ini, bisa belajar dasar-dasar setting fotografi yang dipakai di DSLR.

 

Foto

Samsung Galaxy Camera - 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Samsung Galaxy Camera – 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Hasil jepretan Samsung Galaxy Camera bisa dikatakan sekelas kamera prosumer, di atas smartphone rata-rata. Tentunya belum sekelas DSLR. Kamera DSLR gambarnya sangat bening karena menangkap cahaya dengan ‘sensor’ yang besar, sementara Samsung Galaxy Camera menggunakan sensor ukuran kamera saku.

“Harganya kebeli DSLR, kok nggak pakai sensor DSLR?”

Jangan lupa, DSLR cuma kamera, sementara Samsung Galaxy Camera setengahnya adalah Android device dengan spesifikasi tinggi. Bahkan secara teknis dia adalah Samsung Galaxy S3 yang dicangkokkan ke dalam kamera. Bisa saja Samsung memberi sensor kelas DSLR, tapi harganya akan jadi gabungan harga DSLR atau mirrorless ditambah harga smartphone.  Kalau mau yang bisa gonta-ganti lensa tunggu saja nanti kalau Galaxy NX atau NX 2000 keluar, tapi yakin harganya akan beda jauh.

Foto Medina Kamil, Anandita Dita dan Milly Shafiq ini diambil dengan Galaxy Camera saya dengan moda Manual, murni tanpa edit, tanpa cropping, tanpa efek, tanpa menggunakan app.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Ketiga foto di atas dimungkinkan karena adanya lensa zoom dengan perbesaran yang cukup tinggi dan kebebasan mengatur berbagai setting secara manual layaknya di kamera prosumer atau bahkan DSLR. Latar belakang yang kabur dimungkinkan oleh beberapa faktor, yaitu objek yang sangat amat jauh berada di belakang, lensa zoom, dan kemampuan mengatur aperture secara manual.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Foto bulan ini menggunakan moda Manual, full zoom, lalu crop di 50% ukuran asli. Dengan crop sebesar itu, detail bulan masih tampak. Lumayan, untuk kamera kelas ini. Tentu saja, memotret ini harus di cuaca yang cerah, bebas awan dan menggunakan tripod yang kokoh supaya tidak ada goyang atau geser. Sekali lagi, ini dimungkinkan oleh lensa zoom dan kebebasan mengatur secara manual yang sangat menyenangkan.

Tapi tentunya sebagai kamera untuk penggemar foto kasual, banyak mode kreatif yang membantu kita membuat foto unik tanpa harus repot tahu setting. Diantaranya fitur Light Trail di moda Smart, membuat foto seperti ini nggak usah paham setting fotografi.

Samsung Galaxy Camera - Light Trails mode

Samsung Galaxy Camera – Light Trails mode

Dan tanpa bermain efek pun, sebuah kenikmatan tersendiri bisa mengatur kontras dan warna langsung di kamera dengan layar besar. Jepretan bagus menjadi semakin cantik. Kalau mau menilai kemampuan Samsung Galaxy Camera, justru harus melihat yang sudah diedit, karena di situlah bedanya dengan kamera biasa.

Samsung Galaxy Camera - adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera – adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera - color adjusted with Snapseed app

Samsung Galaxy Camera – color adjusted with Snapseed app

 

Video

Sudah pasti Samsung Galaxy Camera bisa merekam video, sama seperti kamera digital maupun smartphone sekarang. Yang paling menyenangkan buat saya bukanlah fitur seperti slow motion, tapi adanya setting manual untuk video. Kebanyakan orang mungkin nggak akan terlalu tertarik akan hal ini, tapi buat yang hobi, kebebasan untuk mengatur sendiri exposure, white balance dan focus lock sangatlah menyenangkan. Dengan ini, kita bisa kreatif merekam gambar-gambar yang kadang seperti direkam dengan kamera kelas DSLR.

 

Kekurangan

Tentunya nggak ada yang sempurna, dan Samsung Galaxy Camera juga memiliki kekurangan. Pertama, bodinya yang cukup besar dan berat membuatnya sulit dikantongi. Membawa kamera ini harus memang niat, karena bukan benda tipis yang bisa dieslipkan di saku celana. Namun di lain pihak, ukuran dan beratnya ini justru membantu kita lebih mantap memegang saat sedang zoom penuh.

Kedua, stamina batere. Jika semua konektivitas dan kemampuan Android di Samsung Galaxy Camera dijalankan, baterenya cepat terkuras. Sadar akan hal ini, Samsung sudah menyiapkan moda Smart Network yang menirit batere dengan memutuskan semua konektivitas internet ketika layar mati. Tapi setelah memakai, rasanya lebih efektif memakai moda Airplane yang juga mematikan semua konektivitas. Kembalikan koneksi hanya ketika kita butuh mengakses internet, entah untuk memakai media sosial atau upload foto dan lainnya.

Dan terakhir adalah kecepatan start. Dari posisi mati total, start up Samsung Galaxy Camera butuh waktu sama seperti menyalakan smartphone Android. Menyalakan dari posisi standby jauh lebih cepat tapi belum secepat kamera digital biasa apalagi DSLR. Solusinya, biarkan kamera di posisi standby.

 

Kesimpulan

Seperti smartphone ataupun tablet Android kelas atas, harga Samsung Galaxy Camera nggak murah. Tapi dibilang kemahalan juga nggak. Di kisaran 5 juta Rupiah, kebanyakan pasti akan membandingkan antara membeli Android high-end atau kamera DSLR pemula lengkap dengan lensanya. Sebetulnya nggak bisa dibandingkan begitu. Kemampuan yang ditawarkan Samsung di Galaxy Camera memang tidak bisa didapat hanya di smartphone maupun DSLR, ia adalah makhluk baru yang menggabungkan keduanya.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Seperti tablet computer, Samsung Galaxy Camera mungkin masuk kategori “nice to have but not a necessity”. Sangat menyenangkan untuk dimiliki namun belum merupakan kebutuhan mutlak karena sebagian fungsinya mungkin kita sudah miliki entah di kamera atau di smartphone. Seberapa menyenangkan? Secara pribadi merasa belum pernah ada kamera se-‘seru’ Samsung Galaxy Camera untuk dibawa ‘main-main’, padahal saya sudah punya dua DSLR, dua kamera saku dan beberapa smartphone.

Jika memang menginginkan kamera superzoom dengan segala kepintaran Android dan konektivitas lengkap, saat ini ditulis rasanya belum ada pilihan yang lebih baik daripada Samsung Galaxy Camera. Satu hal yang pasti, Samsung Galaxy Camera akan membuat kita merasa bahwa sudah selayaknya semua kamera jaman sekarang punya kemampuan pintar seperti Android konektivitas 3G.

Preview: Berkenalan Dengan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Mainan baru ini saking masih uniknya jadi paling gampang jadi bahan obrolan. Ada 3 pertanyaan pertama yang biasanya keluar kalau bahas benda ini sama teman-teman.

“Eh, apa lagi tuh Samsung Galaxy Camera?”

“Kamera, pakai Android, bikinan Samsung.”

“Hah? Kamera? Beneran?”

“Iya bener, kamera, kalau risoles isi ragout ya namanya Samsung Galaxy Risoles Isi Ragout.”

Lalu biasanya setelah dibilang Android, ada jeda manggut-manggut sejenak dan kita berlanjut ke pertanyaan berikutnya.

“Kamera pakai Android? Jadi maksudnya bisa install app gitu?”.

“Iya. Hampir semua app Android bisa diinstall dan dijalanin di Galaxy Camera, dari Instagram sampai Angry Birds.”

“Wuidiiih, kamera, bisa mainin Angry Birds? Asik dong?”

“Bisa, tapi kalau loe beli kamera buat main Angry Birds, kita nggak temenan.”

Akhirnya megang langsung.

Warna putihnya bagus, cuma saya milih yang blue-black.

Sekarang sudah tahu bahwa Samsung Galaxy Camera adalah kamera berbasis Android yang bisa jalanin app. Pertanyaan masih berlanjut, memang benda ini bikin penasaran.

“Kalau pake Android jadi Galaxy Camera ini bisa online? Wifi?”

“Bisa banget, dia ada Wifi sama 3G. Pakai Micro SIM card gitu.”

Denger pakai SIM card otomatis otak ya langsung mikir handphone. Memang nyeleneh sih, kamera ada SIM card nya, jaman dulu mana kebayang. Dan ya, otomatis pertanyaan berikutnya keluar.

“Bisa dipakai nelepon?”.

“Nggak bisa.”.

“Yaah, udah bisa kamera kok nggak bisa dipakai nelepon? Udah dicoba?”.

“Iya, sama kayak kamera DSLR Canon gue, kemaren juga gue coba buat nelepon, nggak bisa, malah dijauhin orang.”

Setelah tahu bahwa kamera ini memang kebetulan nggak dirancang untuk menelepon, sekarang ke pertanyaan penting lagi, yang biasanya jadi bahasan panjang.

“Berapaan harganya?”

“5-juta’an.”

Pause dulu. Di titik ini yang biasanya bikin orang mikir. Mindset sudah biasa dengan smartphone Android berkamera, sekarang melihat kamera ber-Android yang nggak bisa dipakai menelepon langsung jadi mikir. Argumen dasar langsung keluar.

“Lah, harga segitu gue mending beli smartphone aja, kameranya juga bagus, bisa internet, bisa app, bisa nelepon. Atau DSLR murah.”.

Mungkin banyak yang awalnya akan mikir begitu, dan memang Samsung Galaxy Camera ini punya posisi unik sekali. Dan setelah 2 minggu mainin, baru paham untuk siapa gadget ini bakal berguna banget. Jadi, saya jawab dulu pertanyaan si mas Bro tadi.

“Nah, ini emang unik posisinya. Smartphone ya bisa motret dan upload. Gue juga pake. Tapi, Samsung Galaxy Camera pakai lensa, 20x zoom. Smartphone nggak punya lensa begitu, dan zoom digital di smartphone sama aja naruh kaca pembesar di layar display. Pecah.”.

Sepertinya si mas Bro belum puas karena dia tadi juga membandingkan dengan harga DSLR.”

“DSLR sih gue ada, bisa aja gue pasangin lensa zoom, itu pun beli lagi. Kualitas gambar DSLR jelas menang, tapi jadi berat dan besar, belum tentu tiap saat kita butuh kualitas itu. Apalagi, nggak bisa edit di tempat dan langsung upload. Pakai ini untuk liputan event atau konser, bisa motret dari jauh dan otomatis upload.”.

Di titik ini biasanya teman lagi nyoba-nyoba sambil nyengir dan mulai nggak dengerin. Terutama nyoba zoom 20x nya yang bakal diikuti “Ah gokil zoomnya”, sambil bidik ke cewek yang duduk nun jauh di sana.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Galaxy Camera ini untuk yang butuh kamera lebih dari smartphone, tapi nggak mau bawa DSLR. Kesimpulan awal, cocok untuk reporter dan apapun liputan yang butuh kirim gambar atau video cepat via internet. Kemampuan optical zoom lensanya bukan hal remeh, dan bukan digital zoom yang menipu seperti di smartphone. Dengan Galaxy Camera ini, reporter bisa memotret atau merekam video dari jarak lumayan jauh tanpa bawa kamera besar dan segera mengirim via internet. Kualitas gambar belum bisa menyaingi DSLR, tapi jelas di atas smartphone rata-rata. Sangat cukup kalau buat saya.

Samsung merancang Galaxy Camera cukup mudah digunakan baik untuk kasual maupun fotografer. Untuk pengguna yang awam, banyak fitur yang memudahkan kita bikin foto-foto kreatif tanpa pusing belajar teknik fotografi. Mau motret pakai app Android aja? Bisa juga. Lalu buat fotografer, Galaxy Camera bahkan menyediakan moda P, A, S dan M ala DSLR. Ini menyenangkan sekali.

Sayangnya, belum sempat hunting foto keluar, karena Jakarta sedang hujan terus. Bahkan kemarin banjir besar. Jadi belum bisa berikan sample yang menarik, dan ulasan yang lebih detil. Untuk sementara, perkenalkan dulu, ini adalah Samsung Galaxy Camera.

20130111_230609

Mainan baru, Samsung Galaxy Camera

20130111_230748

Samsung Galaxy Camera in package.

20130111_230822

Layar sentuh besar masih ditutupi plastik pelindung.

20130111_231025

Kelengkapan Galaxy Camera dalam box. Charger, kabel USB, wriststrap, dan… headphone!

20130111_231643

Galaxy Camera dilengkapi Micro SIM slot, HDMI port dan Micro SD slot.

20130111_232111

Colokan Micro USB disamping untuk charging dan transfer data.

20130111_233318

Moda PASM di Galaxy Camera!

20130111_233413

Buat yang suka motret manual juga bisa!

20130113_202450

Pilihan moda video, bisa rekam slowmotion!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!