Makan Nggak Makan Yang Penting Film?

Setelah rencana film anak-anak mendadak dibatalkan di Januari kemarin, saya sedang mencoba mengolah cerita-cerita saya untuk diproduksi dengan partner baru. Kenapa nggak ke ph-ph yang lain aja yang mapan? Rasanya nggak kepengen, karena kalau di ph besar ujung-ujungnya palingan cuma jual skenario sementara saya bukan cuma mau jualan cerita ataupun naskah. Ya kalaupun laku, tentunya, bukan ge’er yakin dibeli. Lebih seru begini, mengolah cerita dari nol dan ikut hampir semua tahapan produksi dari awal sampai ujung. Jadi saya bisa belajar.

Nah, kemarin mantan bos nelepon. Nanya apa saya bisa nulis skenario untuk film televisi. Wah, terus terang aja saya bilang saya belum mampu. Bukan apa-apa, pasti selain dikejar waktu, revisinya banyak. Kalau nulis untuk film malah saya lebih berani masih ada waktu. Akhirnya saya ditawarkan, kalau ada ide cerita mungkin boleh diajukan dalam bentuk cerita atau sinopsis saja. Itu lumayan, saya bisa. Tapi ya, saat ini rasanya kalaupun otak yang sedang lamban ini ada ide bagus bakal saya prioritaskan untuk film aja.

Masih ngotot ya di film? Entahlah, bukan ngotot juga sebenernya, cuma ngejar cita-cita. Walau sekarang ya jujur aja jadi nggak makan karena belum jalan film lagi. Nggak makan hamburger dan steak, maksudnya. Hahaha…

Iklan

Analogi Saya Tentang Selera Penonton Film Indonesia

Bagi saya, penonton film Indonesia di era film baru ini layaknya bayi. Suatu saat nanti sang bayi akan menikmati makanan lezat macam steak dan salad, tapi saat ini ia baru bisa memakan bubur. Makanan padat pun belum bisa, jadi jika dipaksakan disuapi steak, jangan kaget bila dimuntahkan begitu saja. Jangankan mencerna, untuk mengunyahnya saja belum bisa.

Si bayi jangan diberi hanya bubur dan bubur lagi, itu sih namanya asal gampang tapi merusak pertumbuhan. Tapi juga jangan langsung paksakan makan daging. Tingkatkan perlahan, dari bubur lunak mungkin ke puree buah pisang. Biar sedikit ada peningkatan mutu, dan masih bisa dicerna. Di film, walau cerita masih simple agar mudah dicerna, tapi production value bisa dinaikkan.

Dan beli makanan bayi pun sesuai kantong, jangan paksakan beli asal mahal tapi kemudian sang orangtua sendiri tak bisa makan layak. Kalau kita tak makan, bisa sakit, bisa mati, dan si bayi pun menyusul. Mau meningkatkan kualitas makanan bayi atau selera penonton film Indonesia? Lakukan dengan bertahap, wajar, memang harus sabar.

“The Maling Kuburans” in Tempointeraktif.Com: Indra Birowo Gandrung Komedi Horor

Indra Birowo dan Yton "Club Eighties", duet komedi di The Maling Kuburans

Indra Birowo dan Yton "Club Eighties", duet komedi di The Maling Kuburans

Jum’at, 05 Juni 2009 | 16:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indra Birowo harus putar otak menghadapi tembok kokoh asrama keperawatan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat. Di tangan kirinya sebuah tali tergulung. Dengan mengaitkan tali itu ia memanjat tembok asrama.

Namun, aral tak berhenti sampai di situ. Di hadapannya terbentang genteng asrama yang baru saja diguyur hujan. Ia harus meniti genteng tersebut sembari mengendap-endap.

Itulah salah satu adegan Indra Birowo, aktor layar lebar dan komedian, saat bermain film “The Maling Kuburans” yang akan dirilis 2 Juli mendatang.

“Itu pengalaman berkesan waktu gue main di film ‘The Maling Kuburans’. Bayangin aja gue harus lewati atap gedung asrama yang tua dan jebot. Waktu itu gue pikir gimana kalau atap ini roboh. Ya ampun, gue takut banget kalau sampai jatuh,” ungkap aktor yang dikenal namanya lewat film “Bintang Jatuh” pada tahun 2000 itu.

Karena terlalu takut menginjak atap yang rawan pecah, Indra sampai mengulang enam kali pengambilan gambar.

Main di film yang disutradarai Dwi Ilalang itu, Indra puas karena bisa leluasa mengembangkan naskah film. Misalnya, saat dia harus beradegan memanjat dinding asrama atau kala dia mengubah kalimat-kalimat dalam naskah.

Sama seperti film dahulunya “Setannya Kok Beneran?”, lelaki kelahiran Jakarta, 10 Januari 1973, itu pun masih gandrung bermain di film komedi horor. Ia punya alasan tersendiri.

Gue kan awalnya masuk ke ‘Extravaganza’. Dari situlah gue dituntut untuk melucu. Alasan lainnya gue terima permintaan pasar yang suka film-film komedi horor. Karena itulah gue mau main film komedi horor. Gue kan cari duit,” ungkap pemain film “Tri Mas Getir” tersebut saat ditemui di Jakarta, Kamis (4/6).

Menurutnya, film komedi horor macam “The Maling Kuburans” tidak menuntut pemain-pemainnya untuk berkarakter serius. Ia bisa membawakan peran layaknya Indra sehari-hari yang memang senang becanda.

Indra mengakui memang tidak ada pesan moral dalam film yang dimainkannya. “Gue cuma beri komedi yang segar, yang orang-orang nggak perlu mikir,” ungkap aktor beberapa sinetron yang tengah serius menggarap grup musiknya itu.

GLORIA NATALIA

Tulisan asli klik di sini.

RUU Anti-‘Ngeres’

Nggak ada yang mendukung pornografi. Menentang UU Pornografi bukan berarti mendukung pornografi, cuma meminta agar perang melawan pornografi dilakukan dengan akal sehat dan tetap menjunjung tinggi hak azasi manusia. Satu lagi, pastinya, sejak dulu sampai detik ini, pornografi sudah dilarang. Tanpa aturan yang super-rancu ini pun yang namanya materi pornografi sudah dilarang di Indonesia. Kenapa masih ada? Mari kita tanyakan itu pada penegak hukumnya.

Bagi kita, lawanlah pornografi dengan penguatan pendidikan akhlak dan moral, yang dimulai dari keluarga. Siapapun yang berakhlak baik dan kuat jika pun melihat pornografi malah akan jijik, sehingga diserbu sebanyak apapun materi porno tidak akan terpengaruh apalagi sampai berbuat maksiat. Mengapa kita begitu takut seakan kita tidak punya kekuatan akhlak sama sekali? Seakan semua akan tergoda bermaksiat karena melihat (sesuatu yang dianggap) pornografi? Yuk ngaca.

Mari kita berpikir lebih jauh. Jangan kitanya yang jadi berantem hanya karena pemerintah belum pintar bikin peraturan yang jelas. Nggak ada yang mendukung pornografi kok. Cuma pengen supaya lebih pakai akal sehat, dan menguatkan satu tatanan dari dasarnya. Kita setuju dong, bahwa sebuah rumah menjadi kuat dengan membangun pondasi yang kokoh, bukan karena memasang pagar listrik yang tinggi.

Atau, sebagai penggantinya saya mengusulkan agar dibuat RUU Anti ‘Ngeres’. Supaya jangan sedikit-sedikit ngeres alias napsu, atau, sedikit-sedikit sudah menuding sesuatu sebagai ‘porno’.

Yuk mari.

Update:

Di luar dugaan, ternyata ada saja yang mengira saya serius berpikir bahwa orang bisa dilarang ‘ngeres’. Saudara-saudara, usulan itu adalah sebuah sindiran bagi mereka yang mengira bahwa mereka bisa menghilangkan naluri dasar manusia dengan menghilangkan dan melenyapkan “apapun yang menurut mereka adalah pornografi sekedar karena waktu melihatnya mereka jadi terangsang”.