The Maling Kuburans Movie Trailer Sudah Online!

Akhirnya, trailer The Maling Kuburans sudah jadi dan sudah mulai beredar di bioskop-bioskop 21. Semoga bisa menjadi hiburan yang menyenangkan bagi penonton kita. Saya sih berdoa banget, gimana nggak, namanya juga karir dan nafkah saya di sini, hehehe… Selamat menikmati!

The Maling Kuburans Horor komedi paling kocak dengan hantu paling geblek, hadir di bioskop mulai 2 Juli 2009!

Dibintangi Indra Birowo, Donita, Yton Club 80s, Syahrini, dan Tessy. Suka horor? Suka komedi? Mau nonton film yang murni hiburan? The Maling Kuburans adalah film yang cocok untuk ditonton rame-rame. Ikuti acara nonton bareng artis The Maling Kuburans, 27 Juni 2009. Tunggu infonya di radio, tabloid dan media kesayangan anda!

Alkisah dua pemuda bernama Niko dan Imen yang hidupnya hanya berfoya-foya mendapatkan masalah besar. Ternyata almarhum ayah-ayah mereka dulunya adalah maling kuburan yang berutang milyaran pada boss mafia bule. Utang itu adalah sebuah mustika yang mestinya sudah diserahkan pada sang bos, dan ternyata lokasi dimana mustika itu terkubur sudah jadi asrama wanita. Sekarang, Niko (Indra Birowo) dan Imen (Yton Club 80s) terpaksa menjadi “the maling kuburans”, atau bisa-bisa dibunuh oleh sang mafia. Tapi ternyata bukan hanya mereka yang mengincar mustika tersebut, dua penghuni asrama yang cantik dan sexy, Karyn (Donita) dan Ayu (Syahrini) juga berniat mendapatkan mustika sakti itu. Masalahnya sudahlah asrama yang dikelola Tessy itu berhantu, ternyata mustika yang dicari pun membawa kutukan, dan mulailah kejar-kejaran kocak terjadi antara hantu, para maling kuburan, dan juga mafia bule yang kemayu.

Millenium Visitama Films mempersembahkan

THE MALING KUBURANS

Sebuah film komedi oleh Dwi Ilalang

Cerita: Raya Fahreza, Skenario: Deden Tristanto

Pemain: Indra Birowo, Donita, Yton Club 80s, Syahrini, Tessy Srimulat, Jurike Prastika, Pierre Gruno

Iklan

Sony HVR-Z1, Kandidat Kamera Untuk TMK

Setelah menimbang banyak faktor, kelihatannya kandidat paling kuat untuk jadi kamera di TMK bakalan di Sony Z1. Nggak lagi deh pakai DVW790 buat yang ini, nggak efisien. Di “Setannya Kok Beneran?” kita udah abis-abisan lengkapnya itu peralatan, ternyata nggak kepake amat. Dan di luar keputusan sutradara maupun DP, memang sebetulnya filmnya nggak menuntut gambar yang gimana-gimana banget.

Sony HVR-Z1

Sony HVR-Z1

Kenapa Sony Z1 dan bukan Panasonic HVX-200 alias si P2? Lebih simple dan efisien aja, tapi saya juga tetep akan jajakin kemungkinan pakai P2 kalau udah tahu workflow-nya. Bukan apa-apa, soalnya offline bakal pakai editing suite di Millennium yang pakai Avid lama. Sebetulnya Avid Meridian yang ada di kantor itu bagus, tapi sudah ketinggalan aja dan belum mampu untuk HD. Jadi workflownya kita nanti adalah master HD akan ditransfer ke SD, edit offline di SD, lalu akan online lagi ke format HD di editing suite luar. Saya belum tahu enakan pakai P2 atau gimana, tapi kalau P2 itu kan data dalam bentuk hard drive, kalau kita nggak punya hard disk yang bisa langsung nampung ya susah. Kalau pakai HDV masih lebih kebayang lah storage materi masternya. Kemungkinan pakai Z1 dua sekaligus supaya syuting lebih efisien. Dan rasanya nggak perlu pakai 35mm adapter lah kalau cuma buat horror komedi yang kita bikin ini.

Sony HVR-Z7E, HDV Camcorder Kecil dengan Interchangeable Lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

Saya kemaren kelilingan internet ngecek harga HVR-Z1 karena sempat dibahas di kantor, ada kemungkinan mau beli. Memang si zee-one ini udah terbukti ‘cukup’ untuk film-out produksi film lokal kita selama nggak butuh gambar yang cantik dan DOF cetek. Kalau gambar yang flat-flat aja udah cukup buat film kita ya si Z1 ini bolehlah, jangan harap gambar yang cinematic amat ya. Kalau mau invest lagi mending beli Letus35 Extreme sekalian, jadi kalau suatu saat kalau butuh gambar yang lebih layak, bisa pakai lensa 35mm. Di total-total yah abis sekitar 75-80jt lah untuk HVR-Z1 dan mesen Letus35. Tapi, ternyata saya ketinggalan berita, baru tahu kalau sekarang Sony udah ngeluarin satu lagi HDV kecil kelas Z1, namanya HVR-Z7E. Apa istimewanya? Yang paling penting buat saya, ini HD camcorder kecil Sony pertama yang lensanya bisa dilepas digonta-ganti. Yihiy… Seru deh.

Okelah, memang bukan bisa digonta-ganti seenak jidat, tapi hanya bisa dengan lensa video HD yang 1/3 inch, buatan Fujinon atau Canon. Rasanya jarang juga yang udah punya HD video lens, atau minimal, saya belum kenal yang punya. Sekalinya ada juga yang 2/3 atau 1/2 inch, kalau mau pake itu bisa juga pakai adaptor standard. Nah, yang serunya soal lensa ini adalah si Z7E bisa pakai lensa DSLR Sony Alpha! Saya nggak tahu benar apa nggak perkiraan saya, tapi mengingat Sony Alpha itu adalah turunannya Minolta Dynax, jadi mestinya doi jadi bisa pakai lensa Minolta dong ya! Mmmm… Menarik!

25p Progressive Scan, udah cukup untuk film-out. Walau yah, bagusan lagi kalau 24p sih sebetulnya. Tapi nggak apa lah saya nggak mau pusingin yang itu. Satu yang menarik lagi adalah Z7E ini sudah bisa menggunakan CF/Compact Flash cards biasa untuk perekaman berbentuk file bagi yag sudah pakai workflow yang file-based. Kerjaan transfer pasti jadi lebih cepat, dan bebas segala resiko scratch dan sebagainya yang biasa ada di media tape. Tapi, buat yang masih pakai tape-based workflow, Z7E ini juga masih memakai tape transport jadi bisa tetap menggunakan media DVCam. Kalau kata iklan sarung, “Resmi bisa, santai bisa”. Mau pakai CF card? Hayuk! Masih pakai DVCam? Siapa takut!

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Singkat kata, satu lagi kamera HD yang relatif murah sudah hadir dari Sony. Dirangkum secara singkat, poin-poin menarik dari HVR-Z7E adalah:

  • Interchangeable lens!
  • Bisa pakai lensa Sony Alpha atau lensa HD video 1/3″ Fujinon & Canon
  • Media fleksibel, merekam pakai DVCam atau pakai CF card!
  • Harga relatif terjangkau buat produksi kecil, cuma sedikit diatas HVR-Z1
  • Kabarnya, kemampuan lowlightnya setingkat Canon XL-H1 yang lebih mahal itu

Menimbang semua ini, saya jadi lebih condong untuk mengusulkan supaya produser beli ini aja dibanding HVR-Z1. Mestinya buat jangka panjangnya lebih menjanjikan, dan kalau nggak gengsi pakai lensa Alpha artinya nggak perlu lagi invest beli Letus35. Saya nggak akan bahas spec si HVR-Z7E, bisa aja langsung klik di sini untuk lihat di website-nya Sony atau klik di sini untuk lihat salah satu review di internet. Mau tahu soal harga? Saya cuma baru tahu harga kamera ini yang di website JPC Kemang, Jakarta, tapi lumayan lah udah ada yang garansi resmi Sony Galva.

Sejujurnya, semangat juga mau nulisin lebih detil lagi soal teknisnya tapi ngapain juga lah, udah banyak di mana-mana. Yang penting udah tahu kalau ada alternatif baru atas Sony HVR-Z1 dan Panasonic HVX-202. Mungkin habis ini saya sekedar bikin catatan tentang alternatif kamera lainnya biar nggak repot nge-google sana-sini lagi.

Budget Produksi Film Gebleg

Hari ini ke kantor, silaturahim sekalian mau membahas kelanjutan film ke 2, TMK. Pak produser sedang in a cheery mood jadi lumayan enak ngobrol, tapi ternyata beliau belum baca lagi plotting yang kemaren. Akhirnya malah bahas budget yang mesti di efisienkan karena kemarin Setannya Kok Beneran walaupun alhamdulillah untung, mestinya bisa lebih menguntungkan. Omong punya omong, akhirnya beliau nyebut angka yang dulu pernah dikeluarin juga. “Saya mau bikin lagi kalau biayanya nggak lebih dari 1,5 dan itu udah termasuk 45 copy plus promosi”. Yihiy. De ja vu.

Saya nggak mau defensif, saya tetap positif karena toh saya pun pengennya budget lebih efisien. Saya juga nggak suka kalau terlalu gambling. Dan saya pun lebih senang kalau bisa lebih menguntungkan. Tapi realistisnya sebetulnya udah nggak perlu dicorat-coret lagi pun udah bisa kebaca. Yang udah pasti harganya itu ada beberapa, diantaranya:

  • Sound post udah pasti kena minimal 50
  • Proses DI udah pukul rata aja deh 300
  • Cetak 45 copy juga ketahuan deh 400
  • Iklan bareng 21 di Kompas aja kemaren abis 250

Itu cuma ujungnya produksi film aja udah keluar angka 1m! Cuma ujung, nggak lengkap pula. Sementara, produksi belum dihitung sama sekali. Sisa 500 buat sewa alat, operasional, lokasi, art, kostum, bahan baku, dari A sampai Z belum dihitung. Terus, apa pemain dan kru nya gratis? Kemaren nyebut-nyebut maunya next one pakai sutradara dan editor yang ‘bagus’, tapi kalau begini ya mana masuk angkanya. Apa mau potong ekstrim, syuting ala FTV cuma 5 hari? Duh jangan, kayak nggak belajar dari pengalaman namanya. Kamera dan alat lain bisa saya tekan, nggak usah pake 790 lagi, pake Z1 aja, tapi berapa gede sih bedanya? Si Z1 butuh lampu banyak juga. Avid di kantor walaupun yang Meridian dulu keren, nggak bisa buat online HD. Au ah. Ngacak-ngacak itungan dulu besok. Mau tahu yang realistisnya berapa. Atau kalau lagi nawar barang “abisnya berapa nih?”. Saya pengen stay positive aja, aduh jangan sampai film ke 2 diundur. Mati angin saya.

Milih Kamera Untuk Produksi Film Ke Dua

Pakai kamera apa untuk produksi film berikutnya? Kalau insyaAllah jalan lagi, dan cerita TMK dapat greenlight, kayaknya kali ini saya mau pakai Sony HVR-Z1 aja. Kenapa sekarang mau pakai Z1 sementara kemaren waktu mau bikin “Setannya Kok Beneran?” saya ngotot nggak mau pakai Z1? Soalnya kalau ternyata gambar sederhana dan sinetron-ish seperti hasil akhir SKB kemarin bisa bekerja untuk bikin penonton terhibur, nggak usah buang duit pakai DVW 790. Nggak perlu mewah-mewahan pakai segala UltraPrime lagi. Film-film lain sudah membuktikan kalau si Z1 ini cukup kalau nggak perlu gambar yang beauty amat. Kalau saya tahu hasil gambar SKB cuma akan segitu aja, saya pun nggak akan buang budget untuk pakai Sony DVW 790.

Sayangnya, penyewaan HVR-Z1di Elang cuma kameranya aja to’, sementara ngebujukin produser untuk langsung beli Z1 agak susah karena yah, emang doi sangat amat hati-hati itungan. Padahal kalau emang ni PH mau jalan serius di layar lebar nggak ada ruginya beli Z1 barang sebiji. Paling berapa sih? 55 juta? Buat ukuran PH yang mau serius di layar lebar sih itu murah banget. Lalu sekalian aja beli Letus35 buat 35mm adapternya, 15 jutaan lagi dan voila! Jadi punya kamera HD 1080i murmer yang bisa bikin shallow depth of field! Saya ragu kalau Elang akan menyediakan 35mm lens adapter untuk Z1-nya karena resiko membuat DVW 790 dan DVW 970 nya jadi nggak gitu laku. Untuk bisa pakai lensa 35mm, DVW 790nya Elang pakai adapter Angineux yang katanya light-loss nya turun 2 stop, sementara DVW 970nya pakai P+S Technik. Kamera mahal, adapter mahal. Sewa paketannya kisaran 5-6 juta per hari. Sementara kalau Z1? Terakhir nanya, masih 600 ribu harian. Beda budget-nya langit-bumi tapi ya, jangan harap mudah dapat gambar dengan DOF yang cetek.

Sekarang saya juga mau mulai browsing dan riset tentang si Z1 ini. Yang saya penasaran adalah, dari film-film yang udah dibuat pakai Z1, pada pakai 24p atau 30p? Pakai 720p atau 1080i?