Berkenalan dengan Samsung Galaxy Note 3

Image

Brand New Samsung Galaxy Note 3 Unboxed

Setahun memakai Samsung Galaxy Note 2 membuat saya menjadi penggemar seri ini. Besar dan bongsor bagi kebanyakan orang, bagi saya sekarang malah sebaliknya. Sekarang jadi sulit untuk menyukai smartphone dengan layar di bawah ukurannya, mata sudah termanjakan layar luas dan lagi, kemampuannya menjadi buku tulis digital. Sebelum masuk ke ulasan pengalaman menggunakan, di sini kita berkenalan dulu dengan jawara Samsung yang memiliki spesifikasi teknis tertinggi tahun ini. Namun seperti biasa, di sini, kita nggak akan bahas angka dan berbagai istilah teknis yang asing. Buat yang mencari spesifikasi teknis, link ada di akhir tulisan.

Lebih Besar adalah Lebih Kecil

Image

Samsung Galaxy Note 3 VS Galaxy Note 2

Sepertinya ini menjadi pola bagi Samsung, layar semakin besar namun bodi semakin ramping juga ringan. Sekilas mungkin tidak terlihat, tapi layar Samsung Galaxy Note 3 lebih besar daripada Galaxy Note 2, tanpa membuat tubuhnya lebih besar ataupun berat. Kalaupun ia lebih panjang sedikit, ketipisan dan keringanan mengimbanginya dengan baik.

Image

Layar Super AMOLED 5,7 inci dengan resolusi Full HD 1080p.

Apalah layar yang lebih besar jika tak diiringi tampilan yang lebih baik? Tak hanya lebih besar daripada pendahulunya, layar Samsung Galaxy Note 3 memiliki resolusi Full HD. Rasanya, kerapatan resolusi ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah smartphone.

Lebih Mewah dengan Desain Baru

Siluet muka Galaxy Note 3 lebih mirip seri pertamanya ketimbang Galaxy Note 2. Lebih ‘kotak’, namun tetap berlekuk sehingga nyaman di genggaman. Bezel plastik yang dilapisi cat berkesan chrome dengan garis-garis tipis mengelilingi sisinya, rancangan yang senada dengan Galaxy S4. Walau cantik, saya memilih melindungi bezel ini dengan soft jacket karena keringat tangan saya selalu mengikis cat.

Image

Samsung Galaxy Note 3 lebih persegi namun tetap berlekuk.

Image

Bezel plastik bernuansa chrome mengelilingi tubuh Samsung Galaxy Note 3

Memang, mayoritas pemilik akan memakaikan casing pelindung pada smartphonenya. Plastik, logam ataupun kaca, terbuat dari apapun bodi si hape, hal yang pertama kita lakukan setelah membeli adalah mencari jaket pelindung. Samsung Galaxy Note 3 tetap menggunakan bahan baku plastik, namun kali ini desain punggungnya begitu menarik hingga untuk pertama kalinya saya merasa berat hati untuk membungkusnya dengan jaket silikon.

Image

Rancangan punggung Galaxy Note 3 memang cantik.

Penutup punggung terbuat dari plastik dan diberi tekstur ala kulit, lengkap dengan jahitan di tepiannya. Tampilannya begitu real, tak sedikit yang mengira ini kulit sintetis. Rasanya, ini rancangan punggung Samsung Galaxy yang paling elegan sejauh ini.  Di luar penampilan menawannya, ada satu hal penting: ia tidak lagi licin di tangan seperti seri sebelumnya. Sebagian malah memilih tidak memakaikan jaket karena sudah nyaman dengan rancangan baru ini.

Pena Digital Yang Jauh Lebih Mudah

Samsung selalu melengkapi smartphone seri Galaxy Note nya dengan stylus S-Pen untuk menulis catatan, menggambar di atas foto, mencorat-coret di atas peta, menyalin gambar apapun yang ada di layar untuk ditempelkan. Namun cara seperti “tekan tombol S-Pen sambil menekan layar” atau “tarik garis lurus ke atas sambil menekan tombol S-Pen untuk mengeluarkan Quick Command” pada generasi sebelumnya sepertinya sulit diingat pengguna kasual. Menyadari, Samsung menyederhanakan semuanya di Galaxy Note 3.

Image

Tekan tombol S-Pen dekat layar untuk mengeluarkan menu Air Command.

Apapun yang mau dilakukan dengan S-Pen, cukup dengan memegangnya di atas layar dan menekan tombol untuk memilih menu. Air Command, nama yang diberikan Samsung untuk fitur ini, karena S-Pen tak perlu menyentuh layar. Jauh lebih mudah, siapapun akan ingat. Menulis di layar, memotong gambar, membuat catatan, semua hanya dipilih dengan satu klik. Sederhana!

Image

Mau menulis di atas layar? Tinggal pilih dari menu Air Command.

Penyederhanaan pena digital S-Pen di Galaxy Note 3 bukan hanya di pemakaiannya, namun juga bentuknya secara fisik. Sebelumnya, S-Pen harus dimasukkan dengan satu posisi yang benar, namun dengan bentuk yang sekarang pemakai bisa dengan cepat menyarungkan stylusnya dengan dua arah.

Jpeg

Galaxy Note 3 VS Galaxy Note 2: Punggung dan stylus S-Pen.

Jpeg

S-Pen milik Galaxy Note 3 tidak hanya bisa dimasukkan satu arah seperti pendahulunya.

Beberapa fitur lama digantikan di Galaxy Note 3, seperti pop-up browser yang bisa menampilkan jendela browser di mana saja sekarang menjadi fitur khusus S-Pen. Misalkan kita ingin membuat satu window kecil yang menampilkan app YouTube di atas app apapun, kita tinggal menggambar ukuran jendelanya.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar!

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar!

Fitur khas Multi Window masih tetap ada, lalu untuk apa yang satu ini? Bagi yang suka memakai Galaxy Note untuk mencatat, ini cukup berguna ketika perlu membuka sesuatu sambil menggunakan S-Note tanpa harus memaksa kita membuka multi-window yang ukurannya dibatasi.

Gunakan Jari, Tanpa Menyentuh!

Ingat bagaimana di Galaxy Note 2 kita bisa menggunakan stylusnya untuk melakukan preview foto dan video tanpa harus menyentuh? Dulu rasanya sudah kagum sekali dengan fitur yang diberi nama Air View ini, tapi Galaxy Note 3 membawanya selangkah lebih maju. Tidak perlu pakai S-Pen, cukup dengan jari yang tidak menyentuh layar, kita bisa melakukan beberapa hal.

Jpeg

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar, untuk preview foto.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Mengintip isi folder foto, membuka preview foto di galeri, cukup dengan jari yang tak perlu menyentuh layar. Lebih dari itu, pada browser, jari mengambang di atas layar akan memperbesar bagian yang ditunjuk. Sekali lagi, hanya dengan jari, tanpa perlu menyentuh layar.

Kendalikan Perangkat Audiovisual, Tanpa Banyak Remote

Seperti halnya Galaxy S4 dan Galaxy Note 8, Samsung melengkapi Galaxy Note 3 dengan blaster infra merah yang bisa menjadi remote control berbagai perangkat audio visual. TV, DVD, home theater dan sound system dari berbagai merek dapat dikendalikan lewat aplikasi WatchOn.

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Terutama bagi yang memiliki TV berlangganan, aplikasi ini juga dapat mengendalikan set top box atau decoder TV berbayar. Belum cukup? Semua jadwal acara bahkan bisa diakses di smartphone.

Semua Fitur Kamera Terbaru

Diantara semua fitur smartphone, salah satu yang terpenting adalah kamera. Dari model ke model, produsen selalu berusaha meningkatkan kemampuan kameranya. Lebih dari sekedar meningkatkan jumlah pixel, fitur dan moda yang disediakan turut menjadi daya tarik utama dan Samsung Galaxy Note 3 tidak mengecewakan.

Samsung Galaxy Note 3 hadir dengan fitur kamera lengkap.

Samsung Galaxy Note 3 hadir dengan fitur kamera lengkap.

Dengan spesifikasi dan modul kamera 13 megapixel persis Galaxy S4 yang digunakan di banyak smartphone Android high-end tahun ini, semua fitur utama dihadirkan di Galaxy Note 3. Antarmuka pemilihan menu mengikuti gaya Galaxy Camera. Berbagai pilihan moda, efek, sampai kemampuan animasi siap dipakai. Tapi bagi saya ada dua yang menarik, pertama adalah kemampuan memakai sekaligus 2 kamera depan dan belakang.

Yang memotret bisa ikutan masuk foto dalam frame kecil.

Yang memotret bisa ikutan masuk foto dalam frame kecil.

Sementara kamera punggung menjadi gambar utama, sang pemotret bisa ikut tampil dalam gambar, dengan berbagai pilihan frame unik bahkan membagi layar menjadi dua. Lebih seru lagi, splitscreen ini bukan hanya untuk foto namun juga bisa di video. Untuk apa? Bisa jadi merekam vlog perjalanan, adalah salah satu fungsi yang langsung terbayang.

Merekam depan & belakang split screen baik foto maupun video.

Merekam depan & belakang split screen baik foto maupun video.

Lebih lanjut di video, Galaxy Note 3 dapat merekam dengan lebih banyak moda kecepatan. Smooth Motion merekam kecepatan normal dengan lebih halus, sementara Slow Motion bisa merekam dengan 1/2, 1/4 bahkan 1/8 kecepatan. Berfungsi optimal di luar ruangan yang terang, menarik sekali untuk merekam momen olahraga.

Bisa merekam video slow motion dengan banyak pilihan!

Bisa merekam video slow motion dengan banyak pilihan!

Kebugaran, Temperatur dan Kelembaban

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

Mengikuti tren dan minat pengguna smartphone dalam merekam kegiatan olahraga, tahun ini Samsung memperkenalkan fitur S Health yang pertama hadir di Galaxy S4. Seperti semua fitur seri S lainnya, kemampuan ini pun dimiliki di Galaxy Note 3. Selain merekam jarak, langkah, kalori dan semua yang biasa dicatat oleh aplikasi kebugaran, Galaxy Note 3 memiliki kemampuan mengukur temperatur dan kelembaban ruangan yang membantu menilai faktor kenyamanan berolahraga dalam ruangan.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga.

Saya sendiri belum tahu apa pentingnya mengukur suhu dan kelembaban ruangan untuk berolah raga, tapi yang menjadi perhatian utama di sini adalah bahwa seperti halnya Galaxy S4, Samsung Galaxy Note 3 mempunyai setidaknya 2 sensor baru. Satu untuk mengukur temperatur, dan satu lagi mengukur kelembaban, dan pastinya nanti ini akan dapat dimanfaatkan oleh aplikasi-aplikasi lain.

Pertama Dengan Micro USB 3.0

Samsung Galaxy Note 3 adalah smartphone pertama yang memakai port Micro USB 3.0. Ini satu fitur yang akan membantu terutama dalam transfer data dan sync ke komputer. Hampir semua komputer baru tahun 2013 menyediakan port USB 3.0 ini, dan dengan Galaxy Note 3 kita bisa memanfaatkan penuh kemampuannya.

Port Micro USB 3.0 untuk data dan charge, tetap bisa Micro USB 2.0

Port Micro USB 3.0 untuk data dan charge, tetap bisa Micro USB 2.0

Walau sudah memakai port Micro USB 3.0, kita tetap dapat memakai kabel Micro USB 2.0 yang lama untuk transfer data maupun charging di Galaxy Note 3. Tinggal tancapkan di sisi kanan port, dan USB pun terhubung. Praktis dan fleksibel!

Batere Yang Lebih Besar

Galaxy Note 3 adalah smartphone Samsung yang serba ‘paling’ dalam banyak hal. Dari layar besar yang HD, prosesor cepat dengan 8 inti, dan berbagai sensor yang ada di dalamnya sudah pasti akan makan tenaga. Mengantisipasi ini, Samsung melengkapinya dengan batere yang lebih besar daripada sebelumnya sehingga walaupun kemampuannya akan lebih butuh daya, staminanya masih sama dengan Galaxy Note 2 yang dikenal cukup awet.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Masih Banyak Lagi

Kira-kira ini dulu perkenalan kita dengan Samsung Galaxy Note 3, yang baru dipakai sekitar semingguan. Jangan salah, yang dibahas di atas baru sepersekian dari seabreg kemampuannya. Soal banyaknya fitur, rasanya sulit menemukan smartphone yang bisa menyaingi seri Galaxy Note dari Samsung. Satu yang sudah bisa disimpulkan, ini adalah sebuah peningkatan yang signifikan dari seri sebelumnya, penggemar Galaxy Note rasanya akan dipuaskan.

Untuk yang mencari spesifikasi teknis Samsung Galaxy Note 3, bisa cek link ini.

Iklan

Berkenalan Dengan Acer Aspire P3: Hybrid Ultrabook

Image

Perkenalkan laptop kerja dan teman syuting saya yang baru, Acer Aspire P3

Kapan terakhir kali punya laptop Windows yang bikin orang-orang ngelirik, nyamperin dan bertanya-tanya? Sebelum ini terus terang saya belum pernah mengalami begitu. Yang namanya laptop Windows itu generik, standard, antara satu dan yang lain nggak ada  perbedaan yang ‘wah’. Paling-paling beda jeroan atau jenis. Kemarin kita sempat kenal netbook untuk kerja ringan, atau ultrabook yang super tipis dan anggun. Tapi masing-masing bawa kompromi dan tetap saja laptop. Baru sejak Windows 8, mendadak laptop jadi bisa menarik lagi. Dirancang untuk bisa dipakai sebagai laptop maupun tablet, Windows 8 akhirnya membuat laptop jadi punya bentuk baru yang lebih beragam. Dan sekarang saya baru mengalami punya laptop yang bikin orang-orang melirik dan bertanya karena tertarik, namanya Acer Aspire P3, jenis Hybrid Ultrabook.

Hybrid Ultrabook, Binatang Apaan Lagi Tuh?

Image

Ultrabook & Tablet, Hybrid!

Biar nggak pusing dengan istilah teknologi, untunk gampangnya Acer Aspire P3 ini adalah gabungan antara laptop ringan dan tipis, dan tablet. Sebagai laptop, kemampuan dan spesifikasinya bukan kelas ringan. Nggak ada kompromi nanggung seperti jaman netbook, otak Aspire P3 adalah prosesor Intel i5. Sementara secara ukuran tetap relatif kecil, dan bisa bekerja sebagai tablet. Iya, tablet, layar sentuh. Kalau sudah pakai Windows 8 pasti tahu bahwa semua dirancang untuk bisa dipakai dengan layar sentuh. Acer Aspire P3 bisa dilepas dari keyboard dan dudukannya, dan jadi tablet Windows 8 yang ringan namun kuat.

Fashionable, Capable.

Beneran, baru kali ini ngerasain pakai laptop yang ternyata selalu menarik perhatian orang sekitar. Gimana nggak. Acer merancang Aspire P3 ini cukup fashionable. Ketimbang bentuk laptop biasa yang sudah ketebak, Aspire P3 sekilas kelihatan seperti tablet yang dibungkus jaket cover, atau bahkan sebuah buku catatan. Bagian luar dibalut dengan bahan semacam vinyl yang bertekstur mirip kulit sintetis, dengan warna hitam. Beneran sama sekali nggak kayak laptop. Saking stylishnya, kalau memungkinkan, saya sebetulnya lebih senang bawa-bawa si P3 ini tanpa tas, supaya lebih kelihatan. Iya, saya memang suka pamer kalau punya mainan keren dan unik.

Image

Stylish, lebih kelihatan kayak buku atau tablet ketimbang laptop.

Di balik kulit luarnya, Acer Aspire P3 terdiri dari dua bagian. Keyboard bluetooth sekaligus dudukan yang melekat pada cover, dan layar yang bisa dilepas menjadi tablet. Semua otak komputer ada di bagian tabletnya, Sebenarnya bingung sih, ini layar laptop yang bisa dilepas dan jadi tablet, atau tablet yang dipasangi keyboar dan jadi laptop? Nggak penting juga, yang penting bisa jadi dua-duanya. Nah kalau luarnya warna hitam, bagian dalam Aspire P3 didominasi warna silver yang kelihatan sangat elegan.

Selamat Datang, Touchscreen. Selamat Tinggal, Trackpad!

Image

Layar sentuh dan keyboard, nggak perlu trackpad.

Nggak ada trackpad di Acer Aspire P3. Yup, ini salah satu keunikan yang bikin banyak orang bertanya-tanya waktu pertama lihat. “Lho, ini nggak ada trekped nya ya, Ray?” Windows 8 yang dirancang bisa dipakai layaknya tablet, memungkinkan kita meniadakan trackpad karena semua bisa dilakukan langsung dengan menyentuh layar. Ribet dong? Nggak. Beneran. Mungkin nanti akan kaget betapa memakai Windows 8 dengan layar sentuh tanpa trackpad terasa natural.

Image

Dalam posisi duduk, layar si Aspire P3 ini letaknya menempel dengan tepi atas keyboard, jadi tangan kita sudah dekat sekali dengan layar. Tinggal angkat jari pun tersentuh, tangan nggak perlu menjulur sama sekali. Menyentuh layar bahkan terasa cukup natural, buktinya, sejak pakai si P3 ini, kalau kebetulan megang laptop atau komputer lain bawaannya mau nyentuh layar untuk nekan tombol. Sama seperti trackpad, touchscreen pastinya bukan cara ideal untuk operasi yang butuh akurasi seperti di aplikasi grafis atau editing foto. Untuk operasi yang panjang dan butuh akurasi, kita pastinya tetap bisa pakai mouse di P3 ini. Walau mungkin bukan yang pertama, ini tetap langkah yang cukup berani, dan mungkin ke depannya akan makin banyak hybrid yang meniadakan trackpad.

Feature & Power

2 tahun saya kerja cukup pakai netbook Acer. Saya udah niatin, kalau punya laptop satu lagi harus laptop yang kemampuan penuh, Windows 8, dan touchscreen. Ternyata ya, sekarang itu jeroan laptop udah bisa muat dalam bentuk tablet setipis dan ringan. Nggak lagi pakai nanggung ala era netbook.

Image

Fitur lengkap Aspire P3

Teknis dikit bentar nggak apa-apa ya, tapi seperti biasa nggak akan terlalu bahas ribet angka. Intinya, nggak usah khawatir akan kemampuan makhluk setengah tablet dan setengah ultrabook ini. Otaknya pakai Intel i5, prosesor serius, bukan macam Intel Atom yang, anu, pemalu. Cepat, nggak kenal lemot. Makin terasa kencangnya lagi karena hard disknya pakai yang namanya SSD yang lebih cepat daripada hard disk laptop biasa.

Image

Sound dengan Dolby Home Theater

Image

Tombol volume, power dan colokan headphone.

Image

HDMI dan USB 3.0

Colokan USB? Ada dong, dan udah USB 3.0 yang jauh lebih cepat, tentunya kalau disambung ke alat yang juga USB 3.0 ya. Mau tancap ke layar besar, Aspire P3 sudah ada colokan HDMI. Mau presentasi pakai proyektor (anak kantor bilangnya, ‘InFocus’, padahal itu merk) juga bisa, dalam kemasannya Acer sudah ngasih adapter dari HDMI ke VGA. Nggak perlu repot beli lagi. WiFi, Bluetooth, webcam HD, sudah pasti. Semua ini di bagian layar atau tablet nya. Keyboardnya ya keyboard aja.

Image

Keyboard fullsize, besar dan lapang.

Nah, bicara soal keyboard, pengalaman pertama makai P3 jadi lucu. Saking udah lama kebiasa kerja pakai keyboard ukuran netbook yang rada kecilan, pas makai si P3 jadi agak kagok. Kenapa? Karena keyboard Aspire P3 besar. Walau sekilas Aspire P3 kelihatan kecil, keyboardnya full size. Jarak pemisah antara tuts sangat jelas, nggak berdempetan. Satu lagi keunikan keyboard Aspire P3, walaupun secara fisik, menekan tuts nya terasa cukup masuk. Kirain keyboard setipis gitu bakal kayak ngetik di kayu, tapi ternyata masih sangat terasa normal, jarak tekan dan pantul balik tuts nyaman dan natural. Keyboard ini terhubung dengan Bluetooth dan punya batere sendiri di dalamnya. Jadi, harus dicharge juga kalau lampu indikatornya menyala kuning. Chargenya gampang, cuma ngambungin USB ke tabletnya, dengan kabel pendek yang disediakan Acer di kemasan.

Image

Tombol power dan colokan micro USB untuk charge keyboard.

Layar sentuh Aspire P3 cukup responsif dan multitouch, bisa merespon 10 titik sekaligus. Resolusinya pun sudah standard. Brightness nya lumayan oke, di tempat terang masih lumayan ‘ngelawan’. Ini penting sih buat saya yang kadang bawa dia ke lokasi outdoor kalau kerjaan motret atau syuting video. Sudut pandang cukup lebar, jadi nggak mesti lempeng amat depan P3 untuk ngelihat jelas. Tapi ya baek-baek ya kalau buka yang nakal-nakal, gampang keintip dari samping.

Nyaris Lupa, Kameranya Ada Dua.

Bukan cuma webcam! Haha! Lupa! Saking jarang dilepas dari dudukannya, terus terang saya nggak inget kalau Aspire P3 ini punya dua kamera. Selain webcam HD yang menghadap ke kita, di punggungnya ada kamera utama, resolusinya 5 megapixel.

Image

Kamera utama di punggung P3, resolusi 5 megapixel.

Berhubung saya bukan golongan yang hobi motret pakai tablet nan besar ya, jadi belum nyoba. Tapi seenggaknya, nice to know bahwa Acer cukup melengkapi fitur P3. Kalau sampai perlu, ada kamera 5 megapixel di punggung Aspire P3.

Pengalaman Baru

Setelah sekian lama kenal Windows, akhirnya ada juga perubahan yang segar. Mulai dari tampilan sampai cara pakai, berbeda banget dari yang dulu kita kenal. Dirancang untuk bisa dipakai dengan sentuhan, Windows 8 akan semakin terasa kecanggihannya di komputer yang menggunakan touchscreen, apalagi bisa dilepas menjadi tablet. Serba bisa. Ini pengalaman yang saya dapatkan dari memakai Aspire P3, komputer yang serba bisa, lebih modern, fleksibel, praktis juga bertenaga. Sebulan memakai P3, saya jadi merasa bahwa memang komputer seharusnya sudah berubah jadi seperti ini.

Image

Windows 8, Ultrabook, Tablet. Semau kita.

Saya belum menjajal P3 untuk kerja berat seperti video editing dengan Adobe Premiere, karena memang saya nggak ngedit di laptop. Tapi untuk kebutuhan kerja saya, P3 jadi alat bantu yang menyenangkan. Contoh pemakaian yang unik misalnya syuting video testimoni atau presenter, P3 bisa dilepas jadi bentuk tablet dan menjadi alat bantu baca teks. Di depan sang presenter, P3 menjadi semacam teleprompter.

Salah satu dari Aspire P3 yang mengesankan buat saya adalah kecepatan start-nya. Cuma beberapa detik, nggak pakai nunggu lama. Cepatnya ini lebih kayak tablet ketimbang laptop, yang begitu dibuka langsung instan nyala. Awalnya, kirain ini karena si P3 dalam posisi sleep, jadi ngebanguninnya cepat, karena itu saya coba shutdown aja. Sekalian ngirit batere. Ternyata dari posisi shutdown pun sama cepatnya, begitu buka, cuma beberapa detik langsung siap kerja. Nice!

Walau menyenangkan dan natural, memakai touchscreen ketimbang trackpad memang perlu membiasakan diri dulu. Ada beberapa action seperti klik kanan yang kemudian diganti menjadi sentuhan lama (nih istilah rasanya salah ya). Jadi untuk mengeluarkan menu, sentuh dan tahan sampai menu keluar. Dan sama seperti untuk semua laptop ataupun komputer saya, untuk yang perlu akurasi, saya tetap pakai mouse. Wireless, pastinya.

Image

Acer Aspire P3, sisi belakang tablet.

Sebagai benda yang bentuknya tipis, power Aspire P3 cukup mengesankan saya. Kombinasi otak Intel i5 dan storage SSD yang cepat memang sangat cepat. Belum pernah merasakan slow-down atau menunggu. Nggak ada istilah lemot. Untuk playback beberapa video full HD pun si P3 jalan tanpa ragu. Untuk kerjaan saya yang seputaran foto dan video, kekuatan ini sangat membantu. Dalam pengalaman saya makai P3 sebulanan lebih, kalau dalam pemakaian penuh, baterenya kuat sampai 5 jam lebih. Nggak wah, tapi kalau bisa, pengennya bisa lebih.

Image

Playback video HDnya mulus, jadi saya pakai buat preview kalau syuting.

Pengalaman penting nggak penting yang unik adalah bagaimana ke manapun bawa si Aspire P3 ini, yang pertama melihat pasti penasaran. Dan nggak jarang pula jadi tertarik. Ini bukan hal kecil lho. Kapan terakhir ada laptop yang bentuknya bikin penasaran? Biasanya kita lihat laptop ya melengos aja, laptop ya laptop. Tapi dari pengalaman saya melihat respon orang-orang sekitar, sepertinya Acer cukup berhasil membuat desain yang menarik.

Kalau Ada Yang Bisa Saya Ubah Dari Aspire P3…

Nggak ada yang sempurna, dan semenyenangkan apapun suatu perangkat, pasti ada yang bisa dibuat lebih baik. Kalau ada beberapa hal yang pengen saya ubah di Acer Aspire P3, pertama adalah membuatnya lebih ringan. Dalam bentuk tabletnya, Aspire P3 sangat enteng di tangan, tapi ketika menyatu dengan keyboard dan casenya, bobotnya jadi seperti laptop. Pengennya, apalagi dengan label ‘Ultrabook’, mestinya si P3 ini bisa lebih ringan sedikit lagi.

Kedua, daya tahan batere. Tapi ini bakal jadi kompromi dengan bobot, kalau batere dibuat lebih besar pastinya bakal nambah bobot kan? Ngelunjak nggak kalau saya pengen stamina batere 8-9 jam? Mungkin, tapi bisa jadi di generasi berikutnya ini bisa diwujudkan.

Layar sentuh P3 masih belum yang kebal minyak dan sidik jari. Rasanya ini juga kompromi, bisa aja Acer ngasih layar yang lebih kebal sidik jari, tapi kebayang bakal pengaruh ke harga. Mungkin solusinya nyari pelindung layar yang fingerprint-resistant.

Ada satu yang penting nggak penting sih, yaitu jaket atau keyboard-covernya. Cantik, keren, stylish, eksklusif, tapi di tangan saya bahannya agak cepat kotor dan membersihkannya agak susah. Nggak fatal, tapi ya saya senengnya tetep kinclong. Cara melepas tablet dari dudukannya juga agak serem, butuh dicongkel pakai kuku. Tapi di sisi lainnya, ini menjamin tablet nggak akan bisa lepas sendiri. Pengennya di generasi berikutnya dibuatkan yang lebih mudah tapi tetap aman. Dan walau ketika posisi berdiri, layar P3 duduknya sangat mantap dan nggak akan bisa bergeser, namun ketika terlipat, nggak ada yang ‘nyeklek’ atau apalah supaya dia nggak meleset.

Oh satu lagi ding. Card reader. Pengennya udah ada card reader-nya. Apalagi kerjaan saya banyak berkutat dengan SD Card.

Pada Akhirnya

Kalau sedang mencari-cari laptop baru, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook ini layak dilirik. Apalagi kalau baru akan upgrade ke Windows 8. Kemampuannya menjadi Ultrabook dengan prosesor berkekuatan penuh, digabung flesibilitasnya untuk menjadi tablet layar sentuh yang ringan dan praktis, membuat Aspire P3 jadi pengalaman bekerja yang baru dan modern. Ditambah lagi, Acer memberi bandrol harga yang sangat kompetitif untuk Aspire P3.

Image

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook – Tablet Mode

Apakah ini pilihan terbaik buat kamu? Ya tentunya kembali tergantung pada kebutuhan kerja juga budget. Setiap orang punya kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Paling tidak, dengan Aspire P3, Acer memberi kita satu lagi pilihan yang sangat menarik untuk jadi perangkat kerja utama. Saya sendiri sangat menikmati pengalaman berkomputer yang baru dan lebih modern dengan Aspire P3.

Untuk yang ingin tahu spesifikasi teknis lebih detail, dapat kunjungi link Acer ini.

Ketika Buku Tulis Bisa NgeGoogle: Samsung Galaxy Note 8

Meeting! Semua duduk, dan di hadapan masing-masing terhampar lah dokumen, atau laptop, atau sekarang, tablet. Dengan cover terlipat jadi stand, agak miring menghadap si pemakai, sudah terbuka email, Google, atau apalah yang berhubungan dengan kerjaan. Rapat dimulai, proyektor dinyalakan, pemimpin rapat pun menunjukkan foto mesumnya. Oh bukan. Presentasi PowerPoint nya. Sebagian mulai mencatat-catat catat. Pakai bolpen, di buku catatan.

Tetap pena dan kertas. Bukan di tablet.

Memang, semua tablet sekarang bisa buat nulis-nulis. Install app, beli stylus bisa. Tapi bahkan tablet yang terpopuler pun belum benar-benar dirancang untuk itu. Stylus rata-rata ujungnya karet tumpul, lebar, nggak murah pula. Kalau mau yang ujungnya seperti bolpen, lebih mahal lagi. Mayoritas memang nggak 100% terancang dari awal untuk memakai stylus yang sudah dianggap kuno, tapi Samsung dengan seri Galaxy Note nya justru sejak awal dikonsepkan untuk jadi buku catatan ‘Note’ pintar.

Samsung Galaxy Note 8

Samsung Galaxy Note 8

Sudah sebulanan lebih saya pakai Samsung Galaxy Note 8 baik untuk mencatat di meeting atau corat-coret cari ide. Awalnya sekedar ingin tablet baru dengan ukuran sedang, nggak ada ekspektasi khusus. Secara fitur pun Galaxy Note 8 kurang lebih sama dengan Galaxy Note 2 yang saya pakai sejak akhir tahun lalu, jadi sudah familiar dan nggak ada yang terlalu mengejutkan. Ternyata yang mengagetkan adalah bagaimana Galaxy Note 8 bisa mulai mengalihkan saya dari bolpen dan buku tulis. Sekarang saya mau cerita sedikit, kesan-kesan akan si Note 8. Seperti biasa, nggak pakai angka. Kalau cari spesifikasi teknis, banyak di internet.

Tablet Yang Manis

Desain bentuk Samsung Galaxy Note 8 ini bukan tipe maskulin, cenderung manis, mungkin bahkan agak feminin. Kecuali bentuk persegi layar, nggak ada garis lurus tegas di bodi-nya. Bisa dibilang, bentuk Galaxy Note 8 ini seperti versi besar dari rancangan Samsung Galaxy S3. Walau tampilan fisik Samsung Galaxy Note 8 ini bukan selera saya, tapi saya pikir coba aja dulu. Soalnya, saya yang dulunya benci dengan rancangan Galaxy S3 pun akhirnya jatuh cinta karena ternyata lekukan halusnya ternyata membuatnya nyaman.

Warna putih membalut muka dan belakang tablet ini, sementara bezel tipis dengan warna perak mengelilingi dan memberi aksen yang elegan dan pas. Kabarnya akan ada Samsung Galaxy Note 8 dengan warna coklat tua, tapi entah akan masuk sini atau nggak.

Bentuk rancangan Samsung Galaxy Note 8 cenderung manis.

Bentuk ‘manis’ dan ukuran yang lebih ‘pas’.

Ukuran adalah poin penting yang menentukan betapa efektifnya Samsung Galaxy Note 8. Dengan layar 8 inci, Galaxy Note 8 cukup besar sebagai ‘buku tulis’ dan cukup ringkas sebagai tablet. Setelah memakai Galaxy Note 8 ini, pendahulunya yaitu Galaxy Note 2 menjadi terasa terlalu kecil untuk menulis, sementara Galaxy Note 10.1 terkesan terlalu besar untuk dibawa-bawa. Nggak ada ungkapan lain soal ukuran Galaxy Note 8 selain “Pas banget!”.

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Tampak belakang Samsung Galaxy Note 8

Bodi dari plastik tebal sepertinya membantu membuat bobot Samsung Galaxy Note 8  ringan dan tidak memberatkan dibawa-bawa.  Selain ringan, dari pengalaman pribadi, plastik yang sering dituding ringkih ternyata bisa lebih tahan benturan dibanding aluminium yang justru lebih mudah penyok. Satu hal aja yang saya kurang suka dari bahannya adalah ia terlalu mulus licin tanpa tekstur, sementara tangan saya cepat berkeringat, jadi yang terpikir pertama kali begitu memegang Galaxy Note 8 adalah “Mesti dipakein jaket, nih.”.

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Kelengkapan Samsung Galaxy Note 8

Dalam paketnya, Samsung membekali Galaxy Note dengan semua kelengkapan standar yang sudah masuk ekspektasi kita seperti charger dan headphone yang juga adalah handsfree untuk fungsi telepon. Nggak ada yang terlalu istimewa di sini.

Fitur Khas Seri Galaxy Note, Dengan Pengalaman Baru.

Lebih dari smartphone atau tablet Android standar, Samsung merancang seri Galaxy Note untuk menjadi pena dan kertas digital yang pintar secara utuh. Semua perangkat pendukung sudah disiapkan Samsung. Stylusnya yang bisa membedakan tekanan dan juga mempunyai fungsi tanpa menyentuh layar. Aplikasi notepad aktif begitu kita mencabut S-Pen dari dudukannya, dan Quick Command yang membuat pengalaman bekerja dengan stylus tidak terputus ketika harus melakukan search. Ini baru sebagian kecil fitur khasnya.

Canggih memang, tapi sebetulnya semua ini bukan hal baru bagi seri Galaxy Note. Seperti pada seri sebelumnya, fiturnya terlalu banyak untuk diulas satu demi satu. Untuk Galaxy Note 8 saya cuma pengen ceritain yang terasa paling efektif dan menyenangkan dipakai. Walau bukan baru. Yang baru pada Galaxy Note 8, adalah sensasi dan pengalaman dalam menggunakannya.

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

S-Pen Galaxy Note 2 (hitam) dibanding S-Pen Galaxy Note 8 (putih)

Cabut stylus S-Pen dari dudukannya di sisi kanan bawah, dan Samsung Galaxy Note 8 langsung menampilkan aplikasi S-Note nya di layar. Nggak pakai masuk menu dan milih-milih app, dia sudah siap. Entah dalam meeting atau mendadak kita harus mencatat sesuatu, cabut saja S-Pen lalu tulis. Berbeda dengan generasi pendahulunya, kali ini ukurannya yang pas membuat pengalaman menulis jadi jauh jauh jauh lebih nyaman. Nggak jauh beda dengan notepad atau ‘notes’ yang biasa kita pakai untuk mencatat ini-itu, menyenangkan sekali.

Stylus Maximus

Bayangkan, buku tulis yang pintar dan bisa ngeGoogle. Ini kesan yang saya dapat dengan Galaxy Note 8. Tanpa harus meninggalkan stylus S-Pen, ketika search Google, kita cukup menggunakan fitur Quick Command.

Katakanlah, kita mau search tentang Jakarta.

Tarik garis lurus dari bawah layar ke atas, sambil menekan tombol di S-Pen dan kita akan disuguhkan layar khusus lalu cukup tuliskan dengan, “? Jakarta”, maka Google Search results untuk Jakarta pun muncul.

Nggak perlu berganti app, nggak perlu meletakkan S-Pen untuk mengetik search, dari kita sedang mencatat-catat tanpa terputus kita bisa melakukan banyak hal lain dengan S-Pen lewat Quick Command.

Sudah dapat hasil Google tentang Jakarta, lalu kita lihat ada gambar yang ingin kita kliping dan tempelkan ke catatan yang kita buat tadi? Gampang, kita cukup membuka gambar yang mau dikliping lalu sambil menekan tombol di S-Pen, tarik garis mengelilingi gambar tersebut. Begitu gambar terkelilingi garis, Galaxy Note 8 otomatis mengcopy bagian kliping kita dan menempelkannya pada catatan kita di aplikasi S-Note. Semua terancang begitu matang untuk menjadi buku catatan pintar.

Tapi dari semua fitur S-Note, favorit saya adalah Idea Sketch.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Sketch, membantu cari ide di Galaxy Note 8.

Idea Note, Idea Sketch

Nah, kadang kalau sedang nyari ide, sketsa bisa membantu mengolah pikiran. Kita tahu, isi buku catatan kita bukan hanya tulisan, angka, garis dan panah penghubung. Kadang kita membuat gambar-gambar kecil yang membantu mengilustrasikan ide dan konsep dalam otak, dan seri Galaxy Note menyediakan fitur Idea Sketch untuk mempermudah kita menambahkan sketsa ke dalam catatan.

Cara pakai Idea Sketch

Tetap dengan S-Pen, cukup tap Insert Object di kiri bawah dan pilih Idea Sketch. Layar kemudian menampilkan ruang tulis, kita tinggal menuliskan apa obyek yang kita inginkan dan Idea Sketch akan mencarikan jika ada sketsa yang cocok. Katakanlah kita ingin menggambarkan mobil di dalam catatan, tinggal tulis “CAR” di Idea Sketch, lalu sederetan sketsa gambar orang ditampilkan untuk kita pilih.

Begitu sketsa dipilih, kita pun otomatis kembali ke catatan untuk meletakkannya. Idea Sketch adalah kumpulan obyek sketsa siap pakai yang bisa diakses lewat tulisan maupun menu, dibagi perkategori, dan kita bisa mendownload lagi sketch tambahan dari Samsung. Sekali lagi, tanpa harus meninggalkan S-Pen.

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Tinggal tuliskan apa obyek sketsa yang kita butuhkan!

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Iseng cari ide, semua obyek sketsa di sini dari Idea Sketch

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Olah ide resep? Samsung juga udah nyiapin template nya.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword 'People', tinggal pakai.

Idea Sketch untuk obyek dengan keyword ‘People’, tinggal pakai.

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Kalau kurang, masih banyak obyek Idea Sketch yang bisa didownload!

Konektivitas Lengkap

Ini baru sebagian saja dari banyak fitur Galaxy Note 8 yang juga memang sudah standar khas seri Note dari Samsung. Walau hanya sebagian, ini yang paling menggambarkan pembedaan antara Galaxy Note 8 dengan tablet 8 inci lainnya. Pembedaan yang kuat sekali, karena bukan hanya sekedar spesifikasi teknis tapi lebih ke fitur pemakaian. Sebagai tablet Android, tentunya Galaxy Note 8 memiliki lengkap semua kemampuan sudah menjadi kelengkapan dasar.

Konektivitas GSM 3G, WiFi, GPS dan Bluetooth lengkap tersedia. Kamera pun siap, baik depan maupun belakang, tapi saya nggak pengen bahas karena, ya, paling males lihat orang motret pakai tablet. Storage untuk menyimpan file bisa ditambahkan dengan Micro SD, dan kalaupun perlu disambung ke layar TV atau proyektor bisa beli adapternya.

Satu kejutan tambahan adalah: ada infra red blaster. Dengan ini dan app khusus yang sudah disediakan dari pabrikan, Galaxy Note 8 bisa menjadi remote control berbagai perangkat seperti TV, stereo, DVD, Home Theater dan lainnya, dari berbagai merek! Nice!

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SD.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Slot untuk Micro SIM GSM.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Port Micro USB, untuk charge, data dan juga MHL.

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV!

Infra Red blaster, bisa untuk remote control TV berbagai merek!

Fungsi Telepon

Galaxy Note 8 bisa jadi telepon. Sebelum pada memutar bola mata dengan sinis dan bilang “Siapa jugaaaa yang mau nelepon pakai tablet?”, saya bilang fungsi ini menolong sekali untuk isi pulsa dan daftar paket internet di sini, yang kebanyakan masih pakai USSD code macam *123# dan lain-lain. Dan ya, kalaupun mau dijadikan telepon ya gampang saja, pakai handsfree atau headset Bluetooth. Saya senang sekali Galaxy Note 8 juga dilengkapi kemampuan telepon selular. Lengkap sekali jadinya.

Batere dan Performa.

Saya sih nggak pernah secara khusus menguji stamina batere ataupun performa dari gadget ya, itu bagian para gadget reviewer yang doyan bahas teknis dan angka-angka. Soal batere, selama memakai Galaxy Note 8 rasanya belum pernah merasa cepat habis atau boros amat. Pemakaian terberat pribadi untuk bekerja dan nyala non-stop pernah tembus 6 jam dan masih sisa sedikit. Nggak ada keluhan dari sisi batere, bukan yang paling irit tapi juga nggak boros.

Performa sampai saat ini mulus tanpa cegukan, tapi sekali lagi, ini adalah dengan pola pemakaian saya ya. Satu-satunya jeda respon yang saya alami adalah ketika membuka setting dan memilih mengganti font di system. Selain untuk jadi buku catatan pintar, Galaxy Note 8 ini lebih jadi alat kerja buat saya buka dokumen seperti doc, xls, ppt dan pdf. Buka tutup dan berganti file Office dengan berbagai app Office Suite seperti Kingston dan Polaris terasa sangat cepat bahkan lebih menyenangkan daripada laptop. Saya nggak banyak test untuk game 3D apalagi untuk motret.

Kesimpulan

Dengan kelebihan fitur dan kenyamanan memakainya, rasanya terlalu mengecilkan kalau menyebut Samsung Galaxy Note 8 hanya sebagai tablet Android baru. Lebih dari sekedar alat konsumsi media atau  hiburan, buat saya Samsung berhasil menciptakan Galaxy Note 8 sebagai tablet yang ideal dan terancang penuh sebagai teman kerja. Kemampuan dan fitur S-Pen nya, dipadu dengan ukuran yang sangat amat pas, membuat saya akhirnya lebih mencari Galaxy Note 8 tiap akan ada meeting kerjaan dibanding buku tulis dan pena. Bagi saya yang fanatik orat-oret dengan bolpen dan kertas, ini hal yang luar biasa dan benar-benar nggak saya duga. Kadang, bawa laptop itu overkill dan bawa tablet biasa masih nanggung, dengan si Note 8 ini sudah beberapa kali terbukti cukup jadi andalan utama kalau meeting.

image

Tablet yang cocok untuk kerja.

Kalau ada yang ingin saya ubah dari Galaxy Note 8, paling utama adalah bagian punggungnya yang terlalu licin. Mestinya lebih bertekstur supaya mantap dipegangnya, atau sekalian saja dengan bahan yang seperti karet. Selain itu, menambahkan NFC supaya bisa dengan gampang bertukar dokumen dengan peranti lain, dan mungkin batere ditambah juga nggak ada salahnya. Soal bentuk, selera masing-masing ya, tapi warna memang mestinya ada lebih dari satu pilihan. Kalau mau kompetitif, harganya ditekan lagi.

Satu pe-er Samsung juga adalah menyertakan tutorial bagaimana memakai fungsi-fungsi dan fitur khas yang ada. Seri Note datang dengan segudang fitur, tapi mayoritas pemilik kurang tahu bagaimana memakainya. Ini sayang sekali dan jadi mubazir.

image

Samsung Galaxy Note 8

Pada akhirnya, apakah Samsung Galaxy Note 8 ini pilihan tepat buat kita? Kembali ke kebutuhan dan preferensi masing-masing. Kalau suka sekali menulis, mencatat, dan seperti saya, ‘orat-oret’ di buku tulis ketika mencari ide, rasanya Note 8 layak dilirik karena memang sangat terancang untuk itu. Hampir semua tablet bisa dibelikan app dan dipakaikan stylus, tapi sampai saat ini baru seri Note dari Samsung yang memang diciptakan dengan konsep menjadi buku catatan digital menggantikan pena dan kertas. Dan di ukurannya, Samsung Galaxy Note 8 bagi saya cukup berhasil memenuhi tujuan itu. Cukup bertenaga dan gesit untuk jalankan berbagai aplikasi, cukup kecil dan ringan untuk dibawa, namun juga cukup luas untuk tulis-menulis, tampaknya Samsung menemukan sweet-spot untuk seri Galaxy Note-nya.

Buku tulis pintar yang bisa nge'google.

Buku tulis pintar yang bisa nge’google.

BlackBerry Mengumumkan BBM Untuk Android dan iOS

Image

Pada penghujung presentasi utama di event BlackBerry Live 2013 di Florida, 15 Mei 2013, diumumkan secara resmi bahwa BlackBerry Messenger atau BBM yang selama ini eksklusif akan dihadirkan dalam bentuk aplikasi pada platform lain. CEO BlackBerry, Thorsten Heins mengatakan bahwa ini adalah sebuah pernyataan ‘percaya diri’ BlackBerry yang yakin akan kekuatan platform BlackBerry 10 nya. BBM untuk Android dan iOS akan hadir di Google Play dan App Store pada musim panas 2013 ini.

Berikut adalah kutipan press release resmi BlackBerry mengenai hal ini.

BBM for iOS and Android to Launch This Summer

May 14, 2013

Share Facebook Twitter
Waterloo, ON – BlackBerry® (NASDAQ: BBRY; TSX: BB) today announced plans to make its ground-breaking mobile social network, BlackBerry® Messenger (BBM™), available to iOS® and Android™ users this summer, with support planned for iOS6, and Android 4.0 (Ice Cream Sandwich) or higher, all subject to approval by the Apple App Store and Google Play. BBM sets the standard for mobile instant messaging with a fast, reliable, engaging experience that includes delivered and read statuses, and personalized profiles and avatars. Upon release, BBM customers would be able to broaden their connections to include friends, family and colleagues on other mobile platforms.

In the planned initial release, iOS and Android users would be able to experience the immediacy of BBM chats, including multi-person chats, as well as the ability to share photos and voice notes, and engage in BBM Groups, which allows BBM customers to create groups of up to 30 people.

“For BlackBerry, messaging and collaboration are inseparable from the mobile experience, and the time is definitely right for BBM to become a multi-platform mobile service. BBM has always been one of the most engaging services for BlackBerry customers, enabling them to easily connect while maintaining a valued level of personal privacy. We’re excited to offer iOS and Android users the possibility to join the BBM community,” said Andrew Bocking, Executive Vice President, Software Product Management and Ecosystem, at BlackBerry.

BBM is loved by customers for its “D” and “R” statuses, which show up in chats to let people know with certainty that their message has been delivered and read. It provides customers with a high level of control and privacy over who they add to their contact list and how they engage with them, as invites are two-way opt-in. iOS and Android users would be able to add their contacts through PIN, email, SMS or QR code scan, regardless of platform. Android users would also be able to connect using a compatible NFC-capable device.

BBM has more than 60 million monthly active customers, with more than 51 million people using BBM an average of 90 minutes per day. BBM customers collectively send and receive more than 10 billion messages each day, nearly twice as many messages per user per day as compared to other mobile messaging apps. Almost half of BBM messages are read within 20 seconds of being received; indicating how truly engaged BBM customers are.

Today, BlackBerry also announced BBM Channels, a new social engagement platform within BBM that will allow customers to connect with the businesses, brands, celebrities and groups they are passionate about. BlackBerry plans to add support for BBM Channels as well as voice and video chatting for iOS and Android later this year, subject to approval by the Apple App Store and Google Play.

If approved by Apple and Google, the BBM app will be available as a free download in the Apple® App StoreSM and Google Play store. Additional details about system requirements and availability will be announced closer to the launch.

###

Nokia Asha 210, QWERTY-phone Dengan Tombol Whatsapp

Image

Nokia baru mengumumkan satu feature-phone baru dengan keyboard QWERTY, yaitu Asha 210. Melihatnya, jadi teringat Nokia C3 yang cukup laris dari beberapa tahun lalu. Selain bentuk dan warna-warna ala ‘Lumia’, satu hal unik yang langsung terlihat di Asha 210adalah tombol khusus Whatsapp di muka. Sudah pasti dengan keyboard QWERTY, fokusnya adalah messaging.

Harganya di luar negeri diperkirakan sekitar US$72, dan akan tersedia dalam varian satu dan dua SIM. Asal tebak saja, mungkin masuk di Indonesia akan sekitar 1 jutaan. Dilengkapi WiFi, Bluetooth dan kamera 2MP yang mampu membimbing kita dengan suara ketika memakai moda self-portrait. Sekilas, Nokia Asha 210 cukup menarik, tapi apakah pasar masih berminat dengan feature phone di tengah serbuan Android yang semakin terjangkau? Saya sih masih, entah dengan yang lain.

Facebook Home

Baru-baru ini Facebook meluncurkan aplikasi baru untuk Android, sebuah launcher yang menggantikan halaman utama dan user interface pada smartphone Android, namanya: Facebook Home.

Yang menariknya adalah layar utama smartphone Android kita akan menampilkan status update teman-teman Facebook kita dengan gambar full screen yang bergeser perlahan secara anggun. ‘Home’ di Android kita bukan lagi deretan icon aplikasi atau widget, Facebook menyebutnya sebagai memrioritaskan manusia ketimbang aplikasi. Jadi begitu menyalakan smartphone, yang pertama kita lihat adalah ‘teman-teman’ kita. Sebagian besar bilang “Oh, Windows Phone 8 dulu juga bilang begitu.”. Memang, tapi Facebook Home terasa jauh lebih ‘manusia’ ketimbang tiles di Windows Phone 8, dan anggunnya lebih terasa seperti Flipboard.

Facebook Home

Yang tidak menariknya, adalah bahwa Facebook Home dirancang untuk mengambil alih dan mengubah semua user interface Android kita dan menggantikannya dengan antarmukanya sendiri. Bikin malas kan? Apalagi kalau kita bukan pengguna berat Facebook. Memang, fitur Facebook Home bukan hanya layar utama, tapi juga fitur Chat Heads yang memungkinkan Facebook Chat tetap berada di atas layar, walau apapun app yang terbuka. Tapi apa itu sebanding dengan mengorbankan user interface yang sudah kita kenal akrab? Belum tentu. Tapi bagaimanapun juga, ini menarik dicoba.

Yang mengejutkan, adalah bahwa ternyata jika bisa dijalankan tanpa mengambil alih total user interface kita, Facebook Home bisa menyenangkan. Ini yang saya lakukan dengan Facebook Home di Galaxy Note 2. Setelah menginstall Facebook Home, jalankan tapi pilih “just once’ dan jangan ‘always’. Dalam kasus saya, ini membuat Facebook Home hanya berada di luar lock screen.

Dari posisi handset mati, jika menekan home atau power, yang pertama muncul adalah Facebook Home. Kita bisa melihat-lihat update Facebook teman yang ternyata jadi keren kalau ditampilkan fullscreen dan bergeser pelan. Setelah itu, jika kita menekan home sekali lagi, akan dibawa ke unlock screen. Setelah kita unlock, kita akan kembali ke sistem Android bawaan handset dan bukan Facebook Home. Dengan begini, jadi win-wins solution yang menyenangkan! Sekarang, sayangnya kebanyakan teman-teman sudah jarang aktif di Facebook…

20130417_183859

20130417_122003