JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

Iklan

Kesan Pribadi: Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Dikenal sebagai varian ponsel Android yang terjangkau dan berkualitas, Redmi adalah seri entry level andalan Xiaomi. Setelah sukses dengan Redmi dan Redmi 1S, maka di tahun 2015 ini Xiaomi merilis penerusnya yaitu Redmi 2, yang tak lama kemudian disusul oleh versi upgradenya, yaitu Redmi 2 Prime Edition. Pada dasarnya, masih ponsel yang sama, dengan beberapa peningkatan yaitu di memori dan penyimpanan internal. Lama mendengar dan membaca berbagai bahasan tentang Xiaomi, akhirnya saya berkesempatan mencoba Redmi 2 Prime Edition, dan ini adalah kesan pribadi saya setelah hampir dua bulan memakai.

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Sekilas Kelengkapan

Dengan harga sekitar Rp 1,8 juta di pasaran, Redmi 2 rasanya memberikan fitur yang cukup komplit. Untuk sambungan seluler dan data, bukan hanya dibekali 2 slot SIM card yang aktif berbarengan, Redmi 2 sudah mampu menggunakan jaringan 4G LTE. Bluetooth, wifi dan GPS dipastikan hadir sementara absennya NFC di kelas ini rasanya wajar. Sistem operasi bawaan dari pabrik adalah Android Kitkat, dengan antarmuka MIUI 6.7 yang kabarnya akan segera mendapatkan pembaruan ke MIUI 7 di November 2015 ini.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Lebih besar dari Redmi 2 versi pertama, Prime Edition mempunyai kapasitas penyimpanan internal sebesar 16GB dan memori 2GB RAM. Jika pun storage dirasa kurang, masih ada slot untuk Micro SD sampai dengan 32 GB. Kamera hadir di depan dan belakang, merekam foto dengan resolusi 8 dan 2 megapixel, juga video Full HD. Untuk tampilan. Redmi 2 menggunakan layar 4,7 inci dan resolusi gambar HD. Rasanya, ukuran handset ini termasuk pas, tidak kecil, dan tidak juga besar.

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan) dan AndroidOne (kiri).

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan, pelindung layar belum dilepas) dan AndroidOne (kiri).

Untuk yang ingin tahu spesifikasi detil, klik di sini.

Kesan Fisik & Desain

Tidak ada yang unik di rancangan bentuk Redmi 2, hanya bodi hitam dengan layar, tanpa aksen pemanis sama sekali. Jika tidak sengaja mencari, mungkin saya pribadi tidak akan melirik sama sekali, karena tampak sangat generik, namun memang tak ada ekspektasi khusus di rentang harga ini. Yang terasa beda hanya penempatan lampu notifikasi yang berada di bawah, sementara kebanyakan Android meletakkannya di atas dekat kamera depan. Xiaomi menempatkan tombol volume di atas tombol power, dan keduanya berada di sisi kanan. Ini bukan yang pertama, dan sedikit mengganggu saya pada awalnya. Baru di hari ke dua saya menyadari bahwa penutup belakang sebenarnya berwarna abu-abu metalik, cover yang terbuat dari plastik ini juga tak memiliki tekstur apapun selain logo Mi.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Di balik kesederhanaan rancangan fisik Redmi 2 yang membosankan di mata, saya menemukan beberapa hal yang justru mengesankan. Pertama, layar sentuh ternyaman yang pernah saya gunakan. Sementara kebanyakan pabrikan mengandalkan Gorilla Glass buatan Corning, Xiaomi menggunakan Dragontrail Glass dari AGC, dan mungkin ini lah yang membuat perbedaan sensasi ini. Tentunya, ini kesan pribadi dan tiap orang bisa berbeda. Demikian pula dengan back cover nya yang terbuat dari plastik, walau hambar secara desain, terasa sangat mantap dan keras di genggaman. Tidak ada derit atau tekukan, Xiaomi membuat Redmi 2 terasa kuat, solid, dan lebih mahal daripada harganya. Hal-hal positif ini hanya dapat dirasakan sendiri, dan tak ada foto ataupun video yang bisa menggambarkannya.

Kesan Pemakaian & Performa

Entah sugesti atau bukan, tapi sejak awal dinyalakan rasanya Redmi 2 menjanjikan pengalaman yang beda. Ada kesan bersih, minimalis, dan lebih tertata. Mungkin ini disebabkan oleh dua hal positif pertama yang langsung terlihat, yaitu tampilan layar tajam dengan warna yang tampak akurat, dan bagaimana Xiaomi tidak menjejali ponselnya dengan bloatware, atau aplikasi-aplikasi tak penting yang akhirnya hanya memakan tempat. Tak lebih dari 20 app, hanya fungsi-fungsi paling dasar yang memang kita butuhkan, dari kalkulator, bar reader, radio FM dan music player. Tentunya sebagai gawai Android, aplikasi-aplikasi dasar Google seperti Gmail dan Google Maps juga disematkan sejak awal, dalam satu folder tersendiri. Selebihnya, terserah kita. Tak perlu repot men-uninstall atau menon-aktifkan bloatware, dan penyimpanan internal pun tak banyak terbuang.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Tools dari Xiaomi. Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Lincah dan gesit tanpa tersendat, selama 1,5 bulan pemakaian reguler belum ada penurunan performa yang dirasakan. Membuka, menutup, berpindah antar aplikasi dijalankan Redmi 2 Prime Edition tanpa jeda berarti. Tak ada lagging, tak ada jeda yang membuat kesal. Bagi saya, kecepatan Xiaomi ini bebas dari keluhan dan jauh dari lemot. Mayoritas aplikasi media sosial dan game populer seperti Clash of Clans berjalan mulus di Redmi 2 saya, namun bukan berarti 100% sempurna juga. Sejak awal pemakaian ada sekitar 5-6 kali kejadian force close aplikasi, di antaranya di Snapchat, Path dan VSCO. Tentunya, ini belum tentu disebabkan oleh gawai, karena bisa jadi ada ketidakcocokan di aplikasi. Secara keseluruhan, performa Redmi 2 sangat memuaskan bagi saya, bebas dari kesan ‘entry level’. Yang berkontribusi terhadap kesan ini sebagiannya mungkin adalah MIUI.

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Bicara Xiaomi, berarti bicara MIUI, antarmuka khasnya yang sudah mempunyai penggemar sendiri. Kita tahu, walau menggunakan sistem operasi yang sama, hampir semua pabrikan Android membuat antarmuka dengan gaya dan keunikannya sendiri. Sementara mayoritas antarmuka mendapatkan kritik entah karena memberatkan ataupun sekedar buruk rupa, MIUI mungkin satu-satunya yang mendapatkan banyak pujian. Mulai dari penampilan, kelincahan, kelengkapan dan kemudahan, begitu sering pujian dilontarkan terhadap interface khas Xiaomi. Setelah lama mendengar dan membaca tentang MIUI ini, akhirnya saya kesampaian menjajalnya di Redmi 2 Prime Edition.

Untuk masuk pengelolaan home screen ini, harus pakai gestur pinch 2 jari.

Bukan ‘long press’, untuk masuk pengelolaan home screen ini, pakai gestur pinch 2 jari.

Di luar dugaan saya yang sebetulnya antusias, perkenalan dengan MIUI terasa canggung dan sedikit bikin geregetan. Apa pasal? Beberapa hal sederhana yang sudah begitu terbiasakan di Android dibedakan, hingga harus mengganti kebiasaan. Mulai dari pengaturan layar Home, untuk memulainya MIUI mengajarkan kita untuk melakukan gestur pinch dengan dua jari, layaknya mengecilkan gambar. Yang biasanya cukup dengan satu jari ditahan, sekarang di MIUI harus dengan gestur dua jari. Pengaturan yang memakai slider seperti di Screen Brightness pun ada bedanya. Jika biasanya kita bisa tap di mana saja di garis slider, di MIUI kita harus tap tepat di titik pengaturan, sebelum bisa digeser kanan-kiri.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Dan bicara layar Home, bersiaplah untuk lebih repot mengatur karena MIUI meniadakan App Drawer atau laman khusus penyimpan aplikasi. Alih-alih punya laci khusus, aplikasi dan widget akan menempati laman-laman yang sama. Bersiaplah untuk lebih rajin membuat folder, jika banyak memasang app. Ya, akhirnya seperti iOS di gawai Apple. Ini disusul dengan kejutan aneh lagi. Ketika menekan tombol Home, saat membuka app yang sudah kita tempatkan dalam folder, MIUI akan membawa kita kembali ke layar folder dan bukan ke layar Home. Walhasil, jika mau kembali ke Home mesti menekan dua kali. Kalau saya mau kembali ke folder, saya akan tekan back, sekarang buat apa tombol Home kalau fungsinya bukan langsung membawa ke Home?

Pengaturan volume utama dengan tombol fisik di kanan gawai.

Menekan tombol volume akan mengatur moda suara relevan saat itu.

Untuk masuk menu ini, buat gestur lingkaran setelah ikon volume tadi muncul.

Untuk masuk menu ini, harus pakai gestur lingkaran setelah ikon volume tadi.

Perancang MIUI sepertinya berprinsip, “apapun yang berupa gestur, gerakan, pasti lebih intuitif daripada menekan”. Contohnya, ketika menekan tombol volume, dan kita ingin masuk ke pengaturan yang lebih dalam, di kebanyakan Android, kita tinggal menekan tombol di window volume yang muncul. Di MIUI saya mencoba berkali-kali tap volume yang tampil setelah menekan tombol, tidak ada reaksi. Ternyata harus membuat gestur lingkaran, barulah pengaturan volume Media, Notification dan lainnya keluar. Bahkan TouchWiz, UI Samsung yang paling banyak dicela karena berat dan dianggap tuna-estetika pun tidak membuat saya mesti belajar dulu. Bagi saya pribadi, intuitif adalah ketika kita tidak perlu terlalu belajar dulu. Saya dan siapapun pada akhirnya akan terbiasa, namun hanya karena ‘pada akhirnya terbiasa’, tidak berarti tidak ada cara yang lebih mudah. Semoga para perancang MIUI terus mengembangkan antarmukanya agar makin intuitif.

MIUI lebih cerdas menawarkan pilihan ketimbang 'Just Once' & 'Always'.

Opsi ‘Remember my choice’, lebih cerdas ketimbang harus ‘Just once’ & ‘Always’.

Di luar ‘hal-hal kecil’ tadi, saya merasa MIUI adalah user interface ponsel Android yang paling lincah, matang dan terancang, baik dalam fungsi maupun tampilan. Keluhan kecil di atas bahkan terasa kontradiktif dengan keseluruhan rancangan Xiaomi yang terkesan sangat memerhatikan keinginan pengguna Android. Contohlah ketika membuka sesuatu tautan yang dapat menggunakan beberapa app, biasanya kita akan memilih aplikasi, plus opsi ‘Just Once’ atau ‘Always’. MIUI mengirit satu langkah dengan mengasumsikan kita hanya mau menggunakan app terkait sekali saja, dengan opsi berupa radio button yang bisa dicentang jika kita ingin selalu menggunakan aplikasi tersebut. Cerdas. Kematangan ini terasa lagi diantaranya di menu Settings, yang saya pribadi rasakan paling sederhana, ringkas dan mudah di antara yang sudah pernah saya miliki. Sekali lagi ada kesan mirip dengan Apple iOS, Settings hanyalah satu halaman dengan list. Tak bingung mesti memilih tab yang mana, semua terpampang jelas dan logis. Mestinya semua gawai Android ya begini.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Favorit saya dalam menggunakan Redmi 2 dan MIUI-nya, adalah manajemen memori yang proaktif, ya, ini istilah karangan sendiri. Saya adalah pengguna Android yang terlalu malas untuk memeriksa berapa RAM yang terpakai, berapa cache memory yang menumpuk, berapa app yang harus ditutup, dibersihkan, dan lainnya. Bahwa seorang user harus memikirkan kesemua hal itu saja bagi saya sudah merupakan kekurangan besar dari Android. Karena itu, adalah kejutan menyenangkan bagi saya ketika notifikasi di Redmi 2 pada suatu hari memberitahu saya, bahwa ‘sampah’ memori saya sudah mencapai sekian MB dan bisa dibersihkan dengan satu tap.

MIUI proaktif memberitahu kita jika 'sampah' memori menumpuk.

MIUI proaktif memberitahu kita jika ‘sampah’ memori menumpuk.

Dan membersihkan berbagai 'sampah' memori pun cukup satu tap.

Dan membersihkan berbagai ‘sampah’ memori pun cukup satu tap.

Pro-aktif, MIUI mendului dan memudahkan saya mengatasi hal yang biasanya merepotkan. Mau melakukannya sendiri? Semua ada di aplikasi Security dari MIUI, di dalamnya lengkap dari Cleaner untuk pembersihan memori dan penyimpanan, hingga pemindai virus. Semua dengan tampilan bersih, minimalis dan mudah dipahami. Ini dan beberapa kelebihan lainnya membuat saya lupa, bahwa Redmi 2 ini dari pabriknya masih berbasis Android Kitkat.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner. Harusnya semua Android punya ini!

Pada akhirnya, seiring semakin terbiasanya saya dengan MIUI di Redmi 2 Prime Edition ini, saya memahami mengapa Xiaomi memiliki penggemar sendiri. Kesan pertama saya di awal tidak salah, memang sebuah pengalaman Android yang berbeda, dan walau bukan sesempurna yang saya antisipasi, memang di atas rata-rata.

Kamera

Tak ada ekspektasi tinggi di sini, dan setelah dicoba, memang kamera di ponsel Xiaomi ini tidak mengecewakan, tidak pula istimewa. Bagi saya, kamera di Redmi 2 Prime Edition termasuk cukup dan itu sama sekali bukan hal buruk. Dalam kondisi cahaya yang ideal, ia dapat menghasilkan jepretan yang cukup baik.

Antarmuka kamera di MIUI

Antarmuka kamera di MIUI

Fitur-fitur standar yang diharapkan dari kamera smartphone seperti HDR, efek filter, dan lainnya hadir. Sebagai pelengkap, Xiaomi juga menawarkan penyimpanan online untuk foto-foto kita, menggunakan akun Mi Cloud yang memberi ruang sebesar 5 GB.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Pada umumnya foto-foto yang dihasilkan cukup menyenangkan, warna yang hidup, dan detail yang wajar. Jarang terjadi, tapi white balance pada kamera bisa meleset dan memberi warna yang salah, jika itu terjadi, cobalah dengan memilih opsi Scene yang disediakan, lihat mana yang memberi hasil sesuai pandangan mata.

Dari pameran di Pacific Place.

Dari pameran di Pacific Place.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Mengatasi white balance yang meleset, pakai opsi Scene yang mendekati realistis.

Melesetnya white balance di atas disiasati dengan menggunakan Scene untuk pantai.

Tentunya kamera di Xiaomi Redmi 2 ini juga mampu merekam video Full HD, tapi sampai saat penulisan, saya belum pernah benar-benar mencobanya.

Ketahanan Batere

Sebelumnya, sekedar mengingatkan, ini adalah kesan pribadi saya selama memakai ponsel Xiaomi ini. Ulasan yang akurat mengenai batere, tentunya menggunakan pengujian dan prosedur teknis yang baku. Saya tidak melakukan semua itu, namun sekedar memakai Redmi 2 Prime Edition secara reguler setiap hari, dengan pola pemakaian khas saya, yang tentunya belum tentu sama dengan orang kebanyakan. Pengalaman yang saya dapat, seperti kameranya, stamina batere Xiaomi Redmi 2 ini cukup saja. Tidak buruk, dan tidak pula istimewa.

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Di kebanyakan hari, dengan penggunaan mayoritas di aplikasi email, browser dan media sosial dan fungsi hotspot sering dinyalakan, Redmi 2 dapat bertahan dari pagi hingga sore. Dengan satu pengisian penuh, rata-rata saya mendapatkan sekitar 12 jam aktif sebelum harus kembali menempel charger. Juga menjajal kemampuan Dual SIM di Redmi 2, saya merasakan ada sedikit perbedaan stamina batere antara menggunakan satu dan dua SIM, tapi tidak signifikan. Stamina batere Redmi 2 cukup, tidak ada keluhan khusus.

Akhir Kesan

Jika harus memilih ponsel Android di rentang harga Rp 1,5 sampai Rp 2 juta, saya rasa memang Redmi 2 Prime Edition layak menjadi salah satu yang dipertimbangkan. Tak hanya bicara spesifikasi, dengan antarmuka khasnya, Xiaomi tampak memikirkan cara untuk memberikan pengalaman penggunaan Android yang lebih terpoles, bahkan di gawai kelas pembukanya. Terlepas dari beberapa keluhan, secara keseluruhan MIUI terasa lebih matang dibanding antarmuka gawai-gawai Android lain yang pernah saya pakai.

Apakah ia lebih baik dari produk-produk saingan sekelasnya? Ini belum bisa saya jawab. Ada banyak pabrikan lain yang mulai tampak menjanjikan, seperti Meizu, Vivo dan Infinix. Namun paling tidak, dibanding beberapa pemain di kelasnya, bagi saya Redmi 2 sudah punya satu kelebihan sendiri yaitu reputasi Xiaomi dan komitmennya untuk menjadi salah satu pemain yang terbaik.

Cara Pakai Whatsapp di Web

Kabar baru dari Whatsapp di pembukaan tahun, sekarang kita bisa chatting memakai Whatsapp di browser laptop atau desktop kita. Untuk ini, login dilakukan dengan cara ‘pairing’ dengan memindai QR code. Saat diluncurkan, ini baru bisa dilakukan untuk akun Whatsapp di peranti Android, BB dan Windows Phone. Belum bisa di peranti iOS nya Apple.

Untuk yang memakai peranti Android, perbarui Whatsapp jadi versi terbaru, lalu lakukan ini:

1. Buka Web Whatsapp di browser (saya baru coba di Chrome saat ini) dengan URL https://web.whatsapp.com

wpid-20150122_160947.jpg

2. Buka menu Whatsapp di peranti Android kita, ketuk pilihan Whatsapp Web

wpid-20150122_161146.jpg

3. Kamera pemindai QR code terbuka, segera arahkan dan sejajarkan dengan QR code di layar komputer kita

wpid-20150122_161305.jpg

4. Setelah QR code dipindai, Whatsapp Web akan terbuka di komputer, sinkron dengan di peranti Android kita.

wpid-20150122_162702.jpg

Selesai, Whatsapp siap dipakai di komputer! Jangan lupa, peranti Android harus tetap terhubung ke Internet untuk menggunakan Whatsapp Web. Selamat mencoba!

Menulis untuk Harian Kompas

Ngalor-ngidul bahas tentang gadget, komputer, dan video di blog memang menyenangkan, menulis di penerbitan besar adalah lain hal. Adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan, untuk bisa menulis di harian sebesar Kompas tentang hal-hal yang memang saya minati. Baru tiga kali sudah saya menjadi kontributor di rubrik Peranti di Kompas Klass yang biasanya muncul di hari Jumat. Tidak rutin memang, karena bergantian dengan kontributor lainnya. Saya juga hanya menulis kalau sedang ada yang menarik, dan disetujui oleh para editor.

image

Yang dibahas memang bukan sesuatu yang sangat teknis, karena memang ditujukan untuk publik yang lebih luas. Hal yang sudah diketahui bagi penggemar gadget, belum tentu diketahui semua orang. Dari membahas aplikasi photo editing, aplikasi pemantau lalu-lintas, sampai kamera-kamera kecil yang bisa membuat video sinematis, selalu menyenangkan menulis untuk Kompas Klass. Apa yang akan jadi bahasan berikutnya? Belum tahu. Kalau ada ide, boleh sumbang saran di kolom komentar.

Terima kasih pada Ario atas rekomendasinya.

Unpacked 5: 5 Fitur Baru Andalan Samsung Galaxy S5

Berbeda dengan tahun lalu, saat Samsung meluncurkan Galaxy S4, kelahiran penerusnya terkesan lebih kalem. Tidak lagi dengan pertunjukan super heboh yang glamor, Samsung Galaxy S5 diumumkan Mobile World Congress 2014 di Barcelona, 24 Februari kemarin. Event besar untuk produk dan brand mobile ini memang tempat yang cocok. Presentasi pun to the point, tanpa banyak bumbu, bagi saya ini seperti menunjukkan fokus dan pendewasaan di bagaimana Samsung merancang smartphone andalannya.

Mendengarkan permintaan konsumen, Samsung tidak lagi mengumbar spesifikasi dan angka. Konsumen tidak terlalu menginginkan fitur yang rumit, namun yang sederhana dan terpakai, ini dikemukakan dalam presentasi. Samsung merangkumnya menjadi 5 point utama di Galaxy S5.

Desain “Modern Glam”

image

Mendengarkan masukan konsumen, desain jadi salah satu fokus utama pengembangan Samsung Galaxy S5. Sementara secara keseluruhan masih meneruskan rancangan seri S, perbedaan paling terlihat di punggung S5 yang tampak memiliki tekstur berperforasi, atau terkesan seperti lubang-lubang kecil. Hadir dengan 4 warna, Samsung membahasakan desain Galaxy S5 sebagai modern glam.

Kamera Yang Lebih Mudah

image

Lebih cepat dan lebih mudah, inti pengembangan kamera di Samsung Galaxy S5.

Bukan sekedar menambah fitur, Samsung kali ini memudahkan konsumen di sisi kamera. Fitur ‘Shot & More’ misalnya, kita tidak usah bingung memilih moda pemotretan. Tinggal jepret, dan Galaxy S5 akan memberikan kita pilihan mode setelahnya. Tujuan utama Samsung di kamera Galaxy S5 adalah menghasilkan foto sebaik yang diinginkan dengan semudah mungkin. Karena itu, kemampuan autofocus pun didongkrak dengan yang namanya Phase Detection Autofocus. Ini biasanya dipakai di kamera DSLR, dan berkat ini, Samsung Galaxy S5 hanya butuh 0,3 detik untuk fokus.

image

Tak perlu lagi menunggu proses untuk melihat hasil HDR.

Kemampuan HDR pun sudah dilakukan realtime. Jika dulu kita harus menunggu proses sebelum melihat seperti apa hasil jepretan HDR, di Galaxy S5 sudah langsung ditampilkan saat mengambil gambar. Kemampuan HDR realtime ini pun katanya tersedia untuk perekaman video.

image

Obyek utama terfokus dan latar belakang blur, kemampuan yang dijanjikan di Galaxy S5.

Satu lagi fitur menarik adalah Selective Autofocus dimana Galaxy S5 memungkinkan kita memilih titik fokus saat memotret, kemudian membiarkan latar belakangnya blur. Efek bidang fokus dangkal yang dijanjikan mirip dengan DSLR. Seberapa bagus penerapannya? Kita tunggu uji pakai setelah peluncuran nanti. Dan terakhir, walau ukuran megapixel bukan patokan sebuah kamera, Samsung menaikkan besar sensor di Galaxy S5 ke 16 megapixel.

Konektivitas
Ketersambungan adalah tujuan kita menggunakan telepon seluler, dan ini salah satunya dibatasi oleh ketahanan batere. Untuk menjamin kemampuan komunikasi bahkan di saat batere menipis, Galaxy S5 menyediakan fitur Ultra Power Saving. Kapan pun diaktifkan, fitur ini akan mematikan semua kemampuan seluler kecuali telepon dan sms, sementara layar dijadikan hitam putih. Klaim Samsung, dengan sisa 10% batere, Ultra Power Saving bisa menyalakan Galaxy S5 untuk standby selama 24 jam!

image

Dapat diaktifkan kapan saja, Ultra Power Saving akan mengirit batere.

Bicara soal LTE, Samsung mengatakan bahwa Galaxy S5 dapat cocok dengan jaringan 4G manapun di dunia. Kita belum tahu, apakah nantinya Galaxy S5 untuk Indonesia juga sudah siap 4G, karena yang sudah-sudah, kita kebagian versi 3G. Karena memang sampai saat ini belum ada layanan telepon seluler 4G yang berjalan di Indonesia.

Lebih Terlindungi dan Aman

image

Tahan terhadap siraman air dan debu, Samsung Galaxy S5 mengusung standar IP67

Satu lagi yang baru di Samsung Galaxy S5, water & dust resistant IP67. Tahan terhadap percikan air dan debu, salah satu fitur yang dianggap Samsung akan menambah kenyamanan pemakai. Tidak lagi perlu takut akan guyuran hujan ataupun shower sesaat, namun, bukan berarti waterproof yang tahan dibawa menyelam atau dicelupkan dalam air. Tampaknya, port USB di Galaxy S5 diberikan penutup untuk mencegah air atau debu masuk.

image

Sensor sidik jari di Samsung Galaxy S5 bukan hanya untuk sekuriti.

Dari sisi keamanan, yang baru adalah pemindai sidik jari. Terletak diantara kaki layar dan tombol home, sidik jadi nantinya akan dapat digunakan untuk membuka kunci layar Galaxy S5. Lebih jauh, katanya kita bisa mengatur mode privacy, yang mana isinya hanya akan terlihat bagi kita setelah memindai sidik jari. Samsung juga tampaknya bekerja sama dengan Paypal untuk pembayaran online, dimana konfirmasi identitas kita dilakukan dengan sidik jari.

Terakhir, pengamanan dari si kecil. Terkesan lucu, namun fitur ini dapat berguna bagi orang tua. Dengan ‘Kids Mode’, Samsung Galaxy S5 hanya menampilkan aplikasi dan kendali yang aman untuk anak-anak. Apakah sudah dirancang aplikasi anak-anak juga? Kita lihat nanti.

Teman Berolahraga

image

Sensor pengukur detak jantung tepat di samping flash Samsung Galaxy S5.

Pertama di smartphone, Samsung Galaxy S5 menghadirkan pengukur detak jantung di punggung nya. Cukup dengan meletakkan jari pada Heart Rate Sensor di dekat flash kamera, Galaxy S5 akan segera mengukur detak jantung kita, dan juga mencatatnya. Ini kemudian menjadi bagian dari fitur S Health yang sudah hadir sejak Galaxy S4.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Sedang senang lari? Berolahraga tampaknya semakin jadi kegiatan yang disukai banyak orang, apalagi sejak hadirnya smartphone juga aplikasi yang dapat memonitor olah raga kita. Samsung Galaxy S5 akan semakin lengkap lagi dipandu dengan dua smartwatch baru dan fitness tracker nya, Gear Neo dan Gear Fit. Sementara Gear New adalah penerus Galaxy Gear, yang mencuri perhatian adalah Gear Fit yang bentuknya lebih cantik walau diutamakan untuk memonitor kebugaran. Kedua ‘jam tangan’ pintar ini sudah dilengkapi pengukur denyut nadi di punggungnya.

Menanti Peluncuran
Sampai dengan rilisnya nanti pada bulan April, baru ini saja yang bisa kita rangkum tentang Galaxy S5 dari event Samsung Unpacked 5. Akankah seri andalan Samsung ini sebaik yang dijanjikan? Kita lihat nanti. Banyak spekulasi dan prediksi yang muluk dipatahkan dalam pengumuman ini. Yang pasti, senang melihat bagaimana Samsung kini lebih terfokus akan fitur-fitur yang memang penting dan jelas terpakai secara nyata oleh konsumen.

Penasaran? Lihat video ‘first look’ dari Samsung Galaxy S5 dan Gear Fit ini, atau kunjungi microsite resminya.

Review: Samsung Galaxy S4 VS Samsung Galaxy Note 3, Pilih Mana?

Kalau ulasan teknis dan review mendalam, pasti udah banyak sekali. Tinggal ngeGoogle “Galaxy S4” dan “Galaxy Note 3”, berderet artikel tentang ke dua Android jagoan Samsung di tahun 2013 ini. Seperti biasa, karena yang teknis sudah bejibun, di sini saya mau bahas dan membandingkan keduanya tanpa kebanyakan angka, berdasarkan pengalaman pribadi memakai. Semoga bisa membantu yang sedang bingung memilih. Yuk ah.

Image

Samsung Galaxy S4 & Samsung Galaxy Note 3

 

Mana Yang Lebih Nyaman Dipakai?

Sepertinya memang sudah jadi tradisi, Samsung memberi penerus seri Galaxy nya layar yang lebih besar namun tidak membuat keseluruhan ukuran membengkak. Betul, ukuran layar Galaxy Note 3 lebih besar dari Galaxy Note 2, namun tubuhnya hanya sedikit lebih panjang, sementara profilnya semakin tipis dan bobotnya semakin ringan.

Perbandingan ukuran, Galaxy S4 di atas Galaxy Note 3.

Perbandingan ukuran, Galaxy S4 di atas Galaxy Note 3.

Berbeda dengan sebelumnya, Samsung memberikan rancangan penutup punggung yang cantik di Galaxy Note 3. Tetap berbahan dasar plastik, back cover Galaxy Note 3 dibuat bertekstur ala kulit bahkan lengkap dengan pola mirip jahitan di pinggirnya. Cantiknya desain adalah satu hal, namun nilai plus terbesar rancangan ini adalah, punggungnya tidak lagi licin di tangan seperti Galaxy lainnya.

Image

Desain punggung baru, cantik dan tidak lagi licin di pegangan.

Hal yang sama mengenai luas layar dan ukuran bodi, peningkatan ukuran layar Samsung Galaxy S4 dari S3 lebih besar dibandingkan Galaxy Note 2 ke Galaxy S3, namun dengan cermat Samsung berhasil mengemasnya dalam ukuran yang nyaris sama. Secara ukuran, Galaxy S4 bahkan lebih tipis dan ringan dibanding S3, sangat mengesankan dan nyaman di genggaman maupun dikantongi. Bezel plastik yang diberi aksen chrome mengelilingi tubuh S4 dengan tekstur yang tegas dan rancangan ini diwariskan ke Galaxy Note 3. Desain punggung Samsung Galaxy S4 tidak terlalu berbeda dengan pendahulunya, masih terbuat dari plastik namun diberi pola dan bukan polos. Sayangnya, seperti pendahulunya, ia mudah sekali menjadi licin ketika tangan berkeringat.

Image

Penutup punggung Galaxy S4 dengan motif baru, namun masih licin.

Pemenang: Seri

Ringkas dan ringan, Galaxy S4 bukan hanya nyaman digenggam dan dikantongi, ia juga mudah dipakai dengan satu tangan saja. Tentunya ini bukan pengetahuan baru. Luasnya layar seri Note memang dalam banyak hal menuntut pemakaian dua tangan dan bagi sebagian mungkin terlalu besar dikantongi, namun punggungnya yang tidak lagi licin adalah hal yang penting dalam hal kenyamanan. Dulu saya memenangkan Galaxy S3 di atas Note 2 dalam hal ini, namun untuk Galaxy S4 dan Note 3, keduanya bisa dibilang seri.

 

Layar Sudah Sama-sama Full HD, Mana Yang Lebih Cantik?

Luas tampilan yang semakin besar di Galaxy Note 3 untungnya juga dibarengi penambahan resolusi dibanding generasi sebelumnya.Peningkatan ketajaman tampilan HD di Galaxy Note 2 ke Full HD pada Galaxy Note 3 sangat amat terasa. Semua tampak jauh lebih detail dan sangat tajam. Melihat ini, rasanya memang sudah seharusnya ukuran layar sebesar ini mempunyai resolusi Full HD. Melihat lagi layar Galaxy Note 2 saya, jadi terasa kuno.

Image

Layar Galaxy Note 3 lebih besar dan lebih tajam daripada generasi sebelumnya.

Sementara itu, peningkatan ketajaman tampilan di Galaxy S4 dari S3 tetap terasa walau tidak sedramatis seri Note. Ini karena walau dulu S3 hanya mengusung resolusi HD, ukuran kecilnya membuat semuanya sudah tampak cukup rapat dan tajam. Melihat tampilan layar Galaxy S4 yang sudah Full HD dan sangat kinclong nggak akan serta merta membuat layar kakaknya menjadi sangat kalah.

Image

Resolusinya sama dengan Galaxy Note 3, namun karena lebih kecil, Galaxy S4 tampak lebih tajam.

Pemenang: Galaxy S4

Apa sih HD dan Full HD itu? Gini deh gampangnya. Kalau HD itu sisi pendek layar digambar dengan 720 titik, sementara Full HD itu 1080. Lebih banyak kan? Nah, baik Samsung Galaxy S4 maupun Note 3 sudah sama-sama Full HD, tapi layar Galaxy S4 jauh lebih kecil sehingga tampilan di layar tampak lebih tajam jika dibandingkan. Yah ibaratnya TV di rumah, yang 21 inci kelihatan lebih tajam daripada yang 32 inci, kan? Tinggal pilih, mau tajam gambar atau layar luas.

 

Sama-sama Pakai Prosesor 8 Core, Mana Yang Lebih Pintar?

Duh, bahasan satu ini sebetulnya cuma kedoyanan orang yang butuh tenaga lebih dari sekedar ngejalanin apps biasa. Entah yang suka sekali dengan game 3D atau memang terobsesi dengan kecepatan operasi. Smartphone Android andalan Samsung sampai saat ini adalah seri Galaxy S. Semua yang terbaik dan terbaru biasanya ditanamkan ke dalam Galaxy S tiap tahunnya, namun beberapa bulan kemudian keluarlah seri Note terbaru dengan spesifikasi teknis yang lebih baru dan lebih tinggi lagi.

Prosesor 8 Core andalan Samsung.

Prosesor 8 Core andalan Samsung.

Seperti yang sudah-sudah, hal yang sama juga berlaku pada prosesor Samsung Galaxy Note 3 yang lebih baru, cepat juga bertenaga dibandingkan Galaxy S4. Soal ‘jeroan’, soal ‘mesin’, Galaxy Note tiap tahunnya kebagian yang paling sangar. Tapi ya nggak heran, namanya juga rilis belakangan, dan lagi untuk segala fiturnya, seri Note memang sebaiknya punya tenaga lebih.

Pemenang: Galaxy Note 3

Sepertinya sudah hal yang pasti, dirilis belakangan dan mengusung fitur segudang, Samsung selalu membekali smartphone seri Note nya dengan jeroan yang paling baru dan bertenaga. Catatan penting, walaupun kalah secara teknis, dalam pemakaian sehari-hari untuk berbagai app standar, Galaxy S4 terasa sama cepat dan lincahnya dengan Galaxy Note 3.

 

Kamera, Siapa Yang Lebih Bagus?

Ya iya lah, sudah tentu hasil jepretan tergantung siapa yang motret, tapi yang dimaksud di sini adalah kemampuan kameranya. Dan ini penting! Dari sekian banyak peningkatan kemampuan smartphone tiap generasi, apa yang biasanya paling terasa dalam pemakaian? Kamera? Prosesor boleh makin cepat, tapi belum tentu terasa, kalau hasil jepretan kamera, jelas terlihat.

Selain modul kamera sama, mode foto pun hampir sama persis.

Selain modul kamera sama, mode foto pun hampir sama persis.

Memotret dan belakang picture in picture, fitur ini hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Memotret dan belakang picture in picture, fitur ini hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Galaxy Note 3 dan Galaxy S4 , mampu merekam video HD depan belakang secara split screen.

Galaxy Note 3 dan Galaxy S4 , mampu merekam video HD depan belakang secara split screen.

Sementara berbeda berbeda dalam banyak hal, Samsung memberi modul kamera yang sama pada Galaxy S4 maupun Note 3. Keduanya mengusung sensor 13 megapixel, jauh lebih tinggi daripada generasi sebelumnya yang 8 megapixel. Fitur kamera pun hampir sama dalam banyak hal, dari Auto sampai Picture in Picture bahkan split screen dimiliki keduanya. Rasanya hanya satu kelebihan pada Galaxy Note 3 yaitu Surround Shot yang belum ada di S4. Lucu sih, cuma ya nggak penting sama sekali.

Pilihan fitur video yang sama antara Galaxy Note 3 dan S4

Pilihan fitur video yang sama antara Galaxy Note 3 dan S4

Untuk video, baik S4 maupun Note 3 memberi pilihan yang lumayan lengkap. Kali ini sudah mampu merekam slow motion dengan lumayan mengesankan, dan baik kamera belakang maupun depan dapat merekam dengan resolusi Full HD. Memutar rekaman video di TV LCD jadi sangat mengesankan karena layar penuh dan gambar lebih tajam. Kecuali ya, kalau merekam videonya dengan posisi vertikal, jadi percuma.

Pilihan video slow motion di Samsung Galaxy Note 3.

Pilihan video slow motion di Samsung Galaxy Note 3.

Opsi video slow motion pada Galaxy S4, sama persis.

Opsi video slow motion pada Galaxy S4, sama persis.

Ada satu hal yang unik pada kemampuan kamera video Samsung Galaxy Note 3. Khusus di Galaxy Note 3 versi internasional yang berkemampuan 4G dan memakai prosesor Qualcomm Snapdragon, kameranya bisa merekam video dengan resolusi 4K! Apa lagi tuh 4K? Di atas tadi sudah dijelaskan soal Full HD, kan? Nah 4K ini ketajamannya 4 kali Full HD. Luar biasa.

Pemenang: Seri

Secara umum, kemampuan kamera Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3. Memang, mode Surround Shot tidak dimiliki S4 namun rasanya nggak terlalu penting. Di lain pihak, beberapa reviewer luar negeri yang menguji kamera S4 dan Note 3 secara detail mengatakan kualitas jepretan S4 ternyata justru sedikit lebih bagus daripada Note 3, tapi saya sendiri belum merasakan.

 

Inovasi dan Fitur Baru, Mana Yang Unggul?

Coba kita ingat-ingat beberapa fitur baru yang diangkat Samsung ketika akan meluncurkan Galaxy S4.  Cukup dengan menggerakkan tangan di atas sensor tanpa menyentuh layar kita bisa mengintip notifikasi, menerima telepon, scroll halaman web dan bergerak antar foto. Fitur yang mungkin digemari orang yang suka makan Padang dengan tangan sambil melihat smartphone nya ini dinamai Air Gesture. Setelah hadir di S4, fitur bebas sentuh ini juga melengkapi Galaxy Note 3.

Air Gesture, kendali "tanpa sentuh" Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3.

Air Gesture, kendali “tanpa sentuh” Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3.

Jpeg

Air Gesture memungkinkan preview foto tanpa jari harus menyentuh layar.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Fitur Smart Screen yang sama hadir di keduanya.

Fitur Smart Screen yang sama hadir di keduanya.

Layar pun menjadi lebih pintar dengan beberapa fitur Smart Screen yang diperkenalkan di Galaxy S4.  Hanya dengan menggerakkan kepala ke bawah, halaman web bisa otomatis scroll ke bawah. Sementara ketika memasang video, pemutar akan secara otomatis pause ketika melihat kita sedang memalingkan pandangan dari layar. Ini semua tentunya di atas fitur generasi sebelumnya yang pastinya tetap hadir seperti Smart Stay dan Smart Rotate. Ini pun ditemukan di Galaxy Note 3.

Kelebihan Galaxy Note 3 adalah Air Command, yang memang khusus untuk pena digitalnya.

Kelebihan Galaxy Note 3 adalah Air Command, yang memang khusus untuk pena digitalnya.

Sudah pasti, Samsung Galaxy Note 3 memiliki kelebihan eksklusif di fitur terkait pena digital S-Pen nya. Dan berita baiknya, Samsung menyederhanakan banyak cara pakai S-Pen sehingga yang awam pun akan cepat mengerti tanpa harus belajar.

Sebelumnya di Galaxy Note 2 begitu banyak fitur S-Pen yang mubazir karena cara pakainya menuntut kita belajar dulu dari petunjuk. Dulu harus tahu hal seperti menekan tombol S-Pen sambil menahannya di layar, orang jadi sulit hafal. Sekarang tidak lagi, semua jadi gampang tanpa perlu hafal caranya.

Entah itu mau membuat catatan, menulis di atas tampilan layar, mengkrop gambar dengan S-Pen, kini jadi lebih mudah di Galaxy Note 3. Begitu cabut pena, langsung keluar menu Air Command dan tinggal pilih apa yang mau kita lakukan.

Begitu S-Pen dicabut, Galaxy Note 3 langsung tampilkan menu Air Command.

Begitu S-Pen dicabut, Galaxy Note 3 langsung tampilkan menu Air Command.

Mau menulis di atas apapun yang ditampilkan layar? Tinggal pilih.

Mau menulis di atas apapun yang ditampilkan layar? Tinggal pilih.

Multi window, yang bikin kita bisa buka dua app berbarengan di satu layar jelas ada di Galaxy S4 dan Galaxy Note 3. Sudah biasa lah itu, tapi Samsung memberikan satu lagi yang baru di Galaxy Note 3. Kita bisa membuka app dengan window seukuran yang kita mau, di mana saja, menggunakan S-Pen.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar Galaxy Note 3!

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar Galaxy Note 3!

Memang, ukuran besar Samsung Galaxy Note 3 bukan tanpa tujuan, yaitu menjadi buku tulis saku digital. Banyaknya fitur S-Pen dan pengembangannya termasuk mengesankan, namun yang lebih penting bukan soal banyaknya fitur, tapi kemudahan memakainya.

Kembali ke fitur yang sama-sama dimiliki oleh kedua jagoan Samsung ini, yang menyukai olahraga mungkin akan senang dengan fitness tracking app S-Health yang sudah dipasang dari pabrikan, sementara yang malas dan lebih suka nonton TV seperti saya akan dipuaskan dengan kemampuan WatchOn membuat handset menjadi remote control.

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga dengan S Health.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga dengan S Health.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga. Hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga. Hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Percaya atau tidak, ini baru sekedar kulit dari bahasan fitur di Samsung Galaxy S4 dan Note 3. Terlalu banyak fitur untuk dibahas dalam satu ulasan, dan bahkan mungkin ada yang belum saya coba.

Pemenang: Galaxy Note 3

Bukan berarti Galaxy S4 kurang fitur, namun memang Galaxy seri Note akan selalu punya lebih banyak fitur karena dua hal. Pertama, Galaxy Note 3 memiliki S-Pen yang membawa beberapa kemampuan ekstra. Ke dua, secara urutan rilis tiap tahunnya pun Galaxy Note selalu belakangan setelah Galaxy S, jadi wajar kalau ada penambahan baru. Untuk pengguna yang rajin mencoba dan memaksimalkan smartphonenya, akan puas dengan Galaxy Note 3.

 

Stamina Batere, Siapa Yang Lebih Kuat?

Layar semakin besar, prosesor semakin bertenaga, fitur semakin banyak, pastinya juga menuntut lebih banyak daya. Mengantisipasi ini, kapasitas batere di Samsung Galaxy Note 3 sedikit lebih besar daripada Galaxy Note 2 yang reputasinya cukup tahan lama. Sementara kita bisa mencari hasil uji teknis yang ilmiah, saya bisa melaporkan bahwa batere di Samsung Galaxy Note 3 tidak mengecewakan. Pemakaian smartphone saya cukup berat, karena banyak memakai app untuk berbagai fungsi, dan sejauh ini setidaknya Galaxy Note 3 bisa bertahan dari pagi sampai sore. Sedikit lebih boros daripada Galaxy Note 2, namun sama-sama cukup charge sekali dalam sehari.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Antisipasi serupa juga dilakukan Samsung pada Galaxy S4 yang serba lebih dalam hal teknis dibanding kakaknya, Galaxy S3. Lagi-lagi bukan tes ilmiah dan sekedar berdasar pola pemakaian saya, batere Galaxy S4 lumayan kuat bertahan sampai siang-sore.  Secara umum, stamina batere Galaxy S 4 bukan termasuk yang sangat panjang namun pastinya bukan smartphone yang boros.

Pemenang: Galaxy Note 3

Sama juga seperti seri sebelumnya, stamina batere Samsung Galaxy Note 3 mengalahkan Galaxy S4. Mungkin satu keuntungan dari ukuran bongsor seri Note, bisa memuat batere yang lebih tinggi kapasitasnya daripada seri S. Pada akhirnya walau memang kalah dibandingkan Note 3, Samsung Galaxy S4 pun tidak termasuk smartphone yang boros batere.

 

Port USB, Ada Yang Beda?

Kedua smartphone ini dapat dicharge dengan colokan Micro USB, menggunakan charger dengan kapasitas 2MAh. Tapi ada satu hal baru diberikan Samsung di Galaxy Note 3, port nya sudah menggunakan USB 3.0!

Samsung Galaxy Note 3 di kanan sudah menggunakan port Micro USB 3.0

Samsung Galaxy Note 3 di kanan sudah menggunakan port Micro USB 3.0

Dengan sambungan USB 3.0, kita bisa melakukan transfer data jauh lebih depat, tentunya dengan peranti lain yang juga menggunakan USB 3.0. Memindahkan file, atau melakukan sync antara Galaxy Note 3 dengan komputer akan jadi lebih gesit. Dan walau sudah USB 3.0, kita tetap bisa menancapkan Micro USB 2.0 yang biasa di sisi kanannya.

 

Dan Pada Akhirnya

Sementara yang satu dirancang sebagai smartphone canggih yang ringkas dan kaya fitur, satu lagi dirancang untuk juga bisa menjadi buku catatan digital yang besarnya mendekati tablet. Di sini kita bandingkan murni karena mungkin aja ada yang sedang bingung milih di antara keduanya. Sebetulnya masih banyak lagi hal yang bisa jadi pertimbangan, namun kita rangkum dulu di sini. Jadi bagaimana dong kesimpulannya, siapa yang menang?

Samsung Galaxy S4

Samsung Galaxy S4

Samsung Galaxy S4 mungkin pilihan utama yang membutuhkan smartphone ringkas, canggih, kaya fitur dan nyaman dipakai dengan satu tangan. Nggak butuh layar besar, atau mungkin sudah punya tablet, rasanya akan cocok. Kameranya sama dengan Galaxy Note 3, bahkan ada reviewer yang bilang hasilnya lebih bagus. Stamina batere cukup baik, nggak akan terlalu merepotkan. Harganya yang lumayan jauh di bawah Galaxy Note 3 membuatnya patut dipertimbangkan.

Samsung Galaxy Note 3

Samsung Galaxy Note 3

Samsung Galaxy Note 3 adalah alat kerja yang luar biasa bermanfaat bagi para power user yang menginginkan smartphone nya bisa menjadi apa saja termasuk buku catatan digital. Mereka yang selalu mengandalkan pena dan kertas dalam mencatat apapun baik itu meeting atau hal lainnya akan sangat menghargai kemampuan Galaxy Note 3 yang semakin mudah dipakai. Ia memang besar, tapi dengan tujuan jelas dan stamina batere yang mengimbangi. Harganya termasuk tinggi, tapi masih bisa dimaklumi mengingat semua kemampuannya.

Samsung Galaxy S4 VS Galaxy Note 3.

Samsung Galaxy S4 VS Galaxy Note 3.

Pilih yang mana? Kembali ke kebutuhan dan juga anggaran kita masing-masing. Smartphone kelas high end seperti ini tidaklah murah, jadi cermatlah sebelum membeli. Jangan sampai mubazir, pilih hanya yang benar-benar akan kita pakai semua fungsinya secara maksimal.