JalanRaya: Menjelajahi New York Bersama Lenovo K900

Saya termasuk orang yang sangat jarang berperjalanan jauh. Bukan tipe traveller, saya lebih suka membelanjakan uang untuk membeli ‘mainan’ ketimbang berpesiar ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Walau begitu, ketika pekerjaan membawa saya bepergian, saya akan habis-habisan mendokumentasikan perjalanan itu. Setidaknya itu istilah yang lebih keren daripada “rajin foto-foto termasuk motret diri sendiri” tanpa gengsi. Mumpung, soalnya jarang. Pada bulan September 2013, muncul kesempatan untuk mengunjungi satu dari dua saja tempat di bumi ini yang saya ingin kunjungi, New York. Level pentingnya foto-foto: maksimal.

Nggak mau nanggung, saya berangkat dengan satu kamera DSLR Canon dan satu mirrorless Panasonic pinjaman teman. DSLR lebih untuk merekam video cantik, sementara bela-belain pinjam mirrorless kecil karena sadar bahwa nggak akan tiap saat mau megang kamera besar. Tapi, bagaimanapun juga keduanya masih besar dan tetap menjadi kamera kedua dibanding smartphone. Blackberry Torch duduk di bangku cadangan, sementara andalan kerja Samsung Galaxy Note 2 akan berduet dengan satu mainan baru, yang sama bongsornya, Lenovo K900.

Image

Stainless steel back cover, Lenovo K900.

Bagi yang belum kenal, K900 adalah salah satu smartphone Android yang menjadi andalan Lenovo di 2013. Layarnya sama besarnya dengan Samsung Galaxy Note 2 namun memiliki resolusi Full HD lebih tinggi. Tubuhnya lebih panjang namun sangat tipis, sementara desain persegi yang nyaris tanpa lekukan membuatnya tampak ‘serius’. Seperti smartphone high end lainnya, Lenovo memberi K900 layar tahan gores Gorilla Glass 2 sementara polikarbonat membalut bodi bongsornya, dan logam stainless steel menutup punggungnya. Secara spesifikasi, Lenovo K900 yang memakai otak buatan Intel tidaklah mengecewakan, apalagi dengan harga yang sangat bersaing. Kembali ke kamera, jeroannya adalah sensor 13 megapixel Sony yang dipakai banyak smartphone papan atas 2013, dan lensa paling terang dengan bukaan f/1.8.

Image

Desain yang konservatif, berkesan serius.

Sebelum berangkat, semua app penting sudah duluan diinstall di K900. Walau kartu prabayar yang dipakai menjanjikan akses roaming internet dengan tarif flat per hari di Amerika, mendingan sudah siap dari Jakarta. Peta dan navigasi yang tidak membutuhkan koneksi internet jadi andalan, sementara fungsi media sosial dibatasi hanya ketika koneksi bagus atau sedang ada wifi. Semua dijalankan dengan baik tanpa hambatan berarti oleh K900, sayangnya koneksi roaming internet murah meriah yang dijanjikan operator tidak semanis yang digambarkan. Yah, namanya juga roaming paket murmer. Untungnya, kamera dari flagship handset Lenovo ini tidak mengecewakan.

Image

Menyapa New York dengan HDR Mode di Lenovo K900

Tiba di New York setelah sebelumnya menghadiri konvensi di San Diego, kamera tidak pernah berhenti memotret. Dua hal yang menjadi favorit saya dari Lenovo K900, moda HDR dan kamera depannya. Walau cahaya tidak ideal, moda HDR merekam dengan baik keramaian dan lampu-lampu yang benar-benar meriah di Times Square. Warna-warna muncul cantik dan detail relatif didapat. Sementara kamera depan mempunyai lensa yang lebih lebar sehingga ketika merekam diri sendiri kita bisa mendapatkan lebih banyak pemandangan, bukan hanya kepala dan pundak sendiri. Singkatnya, selama di New York, K900 menjadi salah satu andalan utama.

Image

Menatap langit New York, dengan HDR mode Lenovo K900.

Image

Menangkap energi Times Square, New York. Lenovo K900 HDR mode.

Makan cupcake Magnolia di depan Radio City Music Hall, NY.

Makan cupcake Magnolia di depan Radio City Music Hall, NY.

Menantang matahri di Avenue of The Americas, NY. Lenovo K900 HDR mode.

Menantang matahari di Avenue of The Americas, NY. Lenovo K900 HDR mode.

Bangku taman di Bryant Park.

Bangku taman di Bryant Park.

Gedung MetLife menjulang di belakang Grand Central station.

Gedung MetLife menjulang di belakang Grand Central station.

Salah satu obyek foto wajib di NY. All you need, is love.

Salah satu obyek foto wajib di NY. All you need, is love.

Terang benderang di Times Square. Lenovo K900 HDR mode.

Terang benderang di Times Square. Lenovo K900 HDR mode.

Hanya tiga hari dua malam waktu yang saya miliki di New York, dan juga menjadi perkenalan pertama dengan Lenovo K900. Jumlah foto yang dijepretnya mencapai ratusan, menjadi kenangan abadi dalam bentuk digital. Memakai smartphone ini cukup menyenangkan, layar yang besar dan tajamnya cukup terang untuk digunakan di siang hari sementara performa relatif lincah. Bentuknya memang cukup menarik perhatian, apalagi punggungnya yang terbuat dari stainless steel. Di sisi lain, ergonomi memang dikorbankan oleh desain perseginya, sementara dan logam di belakangnya sepertinya membuat K900 cepat panas. Dengan stamina baterenya Lenovo K900 sepertinya lebih cocok untuk pengguna yang tidak terlalu intensif menggunakan aplikasi berat dan online sepanjang hari. Bagi yang ingin mencoba smartphone Android berlayar besar dengan spesifikasi mumpuni tanpa harus keluar banyak uang, Lenovo memberikan pilihan yang layak dilirik di K900.

Iklan

Review: Samsung Galaxy Camera


20130111_230609

 

Nggak terasa, sudah 3 bulan lebih sejak perkenalan saya dengan Samsung Galaxy Camera. Dan masih aja, benda ini selalu jadi perhatian. Hampir semua yang melihat kemudian penasaran, mau memegang, mencoba, dan akhirnya mulai berpikir bahwa memang seru kalau kamera bisa Android dan selalu online layaknya smartphone. Dan akhirnya, semua menanyakan harganya dan dari titik itu reaksinya bisa dibagi menjadi tiga golongan umum. Yang berpikir sejenak lalu merasa bahwa smartphonenya juga sudah cukup biasanya bilang,

“Ah hape saya kayaknya udah cukup.”

dan yang baru mulai ingin lebih serius di fotografi kemungkinan akan bilang,

“Harga segini kayaknya saya milih beli DSLR.”.

Yang merasa hape udah cukup atau yang lebih senang bawa kamera ‘serius’ mungkin nggak terlalu tertarik dengan Samsung Galaxy Camera. Jadi siapa yang kayaknya akan suka kamera ini? Golongan ke tiga, yang tetap memikirkan kemampuan kamera ini setelah tahu harganya.

“Hmmm…”.

Kamera pintar ini lebih buat mereka yang hobi foto kreatif dengan app lalu berbagi di media sosial, namun sudah nggak puas dengan keterbatasan smartphone.

Buat golongan ini, kamera digital biasa atau upgrade ke DSLR bukanlah solusi, karena nggak bisa menggunakan app apalagi sharing lewat media sosial dan internet. Bagi mereka, Samsung Galaxy Camera jadi jawaban yang diimpikan.

 

Kelebihan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Kamera saku dengan segala kecanggihan Android yang dilengkapi konektivitas WiFi dan 3G. Kayaknya dari penggambaran ini aja udah ketahuan dong kelebihannya? Dibanding kamera biasa, kelebihannya ya ada di Android dan konektivitasnya. Dibanding kamera smartphone, sebenarnya kelebihannya adalah lensa zoomnya.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Samsung sepertinya lebih mengedepankan puluhan moda pintar kreatif di Galaxy Camera sebagai kelebihan dibanding lensanya. Tapi bagaimanapun juga semua moda foto pintar itu masih software, bisa saja suatu hari kemampuan itu dicangkokkan oleh Samsung di smartphone. Sebenarnya satu hal yang nggak akan dimiliki smartphone adalah lensa zoom 20x. Nggak ada hape yang punya ini, bahkan sebenarnya nggak ada hape yang bisa zoom beneran.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

“Kamera handphone saya juga bisa ngezoom kok, mas. Cuma ya jadi pecah aja gambarnya”.

Betul, zoom dengan hape akan membuat gambar jadi pecah, itu karena hape pakai yang namanya ‘digital zoom’. Digital Zoom itu layaknya menaruh kaca pembesar di atas layar, gambar jadi besar tapi semakin pecah. Sementara, Samsung Galaxy Camera memiliki optical zoom dengan lensa sungguhan. Layaknya meneropong, gambar nggak jadi pecah. Dalam hal ini, Samsung Galaxy Camera dengan lensa 20x zoom nya telak-telak menang dibanding kamera smartphone.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

“Tapi siapa juga yang butuh ngezoom 20x, ya.”.

Butuh atau nggaknya ya relatif, tapi ternyata cukup banyak yang senang kemampuan zoom. Buktinya, semakin banyak kamera superzoom dirilis oleh pembuat kamera macam Nikon atau Canon. Yang butuh? Mungkin wartawan yang harus bisa memotret event sementara jarak ke panggung cukup jauh, atau orangtua yang ingin mengabadikan anaknya yang pertama kalinya tampil di atas panggung dalam pementasan drama di sekolah atau bertanding sepak bola di lapangan. Bisa siapa saja. Nah, kamera superzoom biasa juga bisa memotret itu semua, tapi cuma Samsung Galaxy Camera memungkinkan kita langsung menyunting secara kreatif, lalu mengunggah foto itu lewat email atau pun media sosial tanpa harus pulang dan melakukannya di komputer.

“Selain lensa zoom, apa fitur yang paling beda? Kalau filter sama efek aja ya di hape juga bisa.”

20130111_233413

Bisa setting P, A, S dan Manual ala DSLR

Yang mau foto kreatif dan belajar fotografi akan senang karena Samsung Galaxy Camera punya moda P, A, S dan Manual yang jadi standard di DSLR. Sampai saat ini belum ada smartphone yang memberi kebebasan penuh di fitur ini. Dengan ini, bisa belajar dasar-dasar setting fotografi yang dipakai di DSLR.

 

Foto

Samsung Galaxy Camera - 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Samsung Galaxy Camera – 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Hasil jepretan Samsung Galaxy Camera bisa dikatakan sekelas kamera prosumer, di atas smartphone rata-rata. Tentunya belum sekelas DSLR. Kamera DSLR gambarnya sangat bening karena menangkap cahaya dengan ‘sensor’ yang besar, sementara Samsung Galaxy Camera menggunakan sensor ukuran kamera saku.

“Harganya kebeli DSLR, kok nggak pakai sensor DSLR?”

Jangan lupa, DSLR cuma kamera, sementara Samsung Galaxy Camera setengahnya adalah Android device dengan spesifikasi tinggi. Bahkan secara teknis dia adalah Samsung Galaxy S3 yang dicangkokkan ke dalam kamera. Bisa saja Samsung memberi sensor kelas DSLR, tapi harganya akan jadi gabungan harga DSLR atau mirrorless ditambah harga smartphone.  Kalau mau yang bisa gonta-ganti lensa tunggu saja nanti kalau Galaxy NX atau NX 2000 keluar, tapi yakin harganya akan beda jauh.

Foto Medina Kamil, Anandita Dita dan Milly Shafiq ini diambil dengan Galaxy Camera saya dengan moda Manual, murni tanpa edit, tanpa cropping, tanpa efek, tanpa menggunakan app.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Ketiga foto di atas dimungkinkan karena adanya lensa zoom dengan perbesaran yang cukup tinggi dan kebebasan mengatur berbagai setting secara manual layaknya di kamera prosumer atau bahkan DSLR. Latar belakang yang kabur dimungkinkan oleh beberapa faktor, yaitu objek yang sangat amat jauh berada di belakang, lensa zoom, dan kemampuan mengatur aperture secara manual.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Foto bulan ini menggunakan moda Manual, full zoom, lalu crop di 50% ukuran asli. Dengan crop sebesar itu, detail bulan masih tampak. Lumayan, untuk kamera kelas ini. Tentu saja, memotret ini harus di cuaca yang cerah, bebas awan dan menggunakan tripod yang kokoh supaya tidak ada goyang atau geser. Sekali lagi, ini dimungkinkan oleh lensa zoom dan kebebasan mengatur secara manual yang sangat menyenangkan.

Tapi tentunya sebagai kamera untuk penggemar foto kasual, banyak mode kreatif yang membantu kita membuat foto unik tanpa harus repot tahu setting. Diantaranya fitur Light Trail di moda Smart, membuat foto seperti ini nggak usah paham setting fotografi.

Samsung Galaxy Camera - Light Trails mode

Samsung Galaxy Camera – Light Trails mode

Dan tanpa bermain efek pun, sebuah kenikmatan tersendiri bisa mengatur kontras dan warna langsung di kamera dengan layar besar. Jepretan bagus menjadi semakin cantik. Kalau mau menilai kemampuan Samsung Galaxy Camera, justru harus melihat yang sudah diedit, karena di situlah bedanya dengan kamera biasa.

Samsung Galaxy Camera - adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera – adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera - color adjusted with Snapseed app

Samsung Galaxy Camera – color adjusted with Snapseed app

 

Video

Sudah pasti Samsung Galaxy Camera bisa merekam video, sama seperti kamera digital maupun smartphone sekarang. Yang paling menyenangkan buat saya bukanlah fitur seperti slow motion, tapi adanya setting manual untuk video. Kebanyakan orang mungkin nggak akan terlalu tertarik akan hal ini, tapi buat yang hobi, kebebasan untuk mengatur sendiri exposure, white balance dan focus lock sangatlah menyenangkan. Dengan ini, kita bisa kreatif merekam gambar-gambar yang kadang seperti direkam dengan kamera kelas DSLR.

 

Kekurangan

Tentunya nggak ada yang sempurna, dan Samsung Galaxy Camera juga memiliki kekurangan. Pertama, bodinya yang cukup besar dan berat membuatnya sulit dikantongi. Membawa kamera ini harus memang niat, karena bukan benda tipis yang bisa dieslipkan di saku celana. Namun di lain pihak, ukuran dan beratnya ini justru membantu kita lebih mantap memegang saat sedang zoom penuh.

Kedua, stamina batere. Jika semua konektivitas dan kemampuan Android di Samsung Galaxy Camera dijalankan, baterenya cepat terkuras. Sadar akan hal ini, Samsung sudah menyiapkan moda Smart Network yang menirit batere dengan memutuskan semua konektivitas internet ketika layar mati. Tapi setelah memakai, rasanya lebih efektif memakai moda Airplane yang juga mematikan semua konektivitas. Kembalikan koneksi hanya ketika kita butuh mengakses internet, entah untuk memakai media sosial atau upload foto dan lainnya.

Dan terakhir adalah kecepatan start. Dari posisi mati total, start up Samsung Galaxy Camera butuh waktu sama seperti menyalakan smartphone Android. Menyalakan dari posisi standby jauh lebih cepat tapi belum secepat kamera digital biasa apalagi DSLR. Solusinya, biarkan kamera di posisi standby.

 

Kesimpulan

Seperti smartphone ataupun tablet Android kelas atas, harga Samsung Galaxy Camera nggak murah. Tapi dibilang kemahalan juga nggak. Di kisaran 5 juta Rupiah, kebanyakan pasti akan membandingkan antara membeli Android high-end atau kamera DSLR pemula lengkap dengan lensanya. Sebetulnya nggak bisa dibandingkan begitu. Kemampuan yang ditawarkan Samsung di Galaxy Camera memang tidak bisa didapat hanya di smartphone maupun DSLR, ia adalah makhluk baru yang menggabungkan keduanya.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Seperti tablet computer, Samsung Galaxy Camera mungkin masuk kategori “nice to have but not a necessity”. Sangat menyenangkan untuk dimiliki namun belum merupakan kebutuhan mutlak karena sebagian fungsinya mungkin kita sudah miliki entah di kamera atau di smartphone. Seberapa menyenangkan? Secara pribadi merasa belum pernah ada kamera se-‘seru’ Samsung Galaxy Camera untuk dibawa ‘main-main’, padahal saya sudah punya dua DSLR, dua kamera saku dan beberapa smartphone.

Jika memang menginginkan kamera superzoom dengan segala kepintaran Android dan konektivitas lengkap, saat ini ditulis rasanya belum ada pilihan yang lebih baik daripada Samsung Galaxy Camera. Satu hal yang pasti, Samsung Galaxy Camera akan membuat kita merasa bahwa sudah selayaknya semua kamera jaman sekarang punya kemampuan pintar seperti Android konektivitas 3G.

Daftar Toko Peralatan Fotografi & Videografi HDSLR Online Jakarta

Cari kamera? Lensa? Tripod, rig, batere, SD Card, CF, lighting? Selalu cek dulu spesifikasi dan harga pasaran yang wajar sebelum belanja, baik itu online maupun di toko fisik. Untuk membantu kita nyari peralatan yang dibutuhin, ini daftar toko-toko peralatan fotografi dan juga videografi HDSLR online, terutama (namun tak hanya) di Jakarta. Tentunya ini bukan daftar lengkap, yang masuk di sini adalah yang didapat dari saran teman-teman. Semoga bermanfaat, dan kalau ada yang bisa menambahkan, monggo!

Bhinneka

Bursa Kamera Professional

Camera

EOSkamera

Focus Nusantara

Global Kamera

HDSLR Shop

JPC Kemang

Mitra Kamera

MLM Foto

Oktagon

Photo Secret

Plaza Kamera

Red Pixel Shop

Toko Camzone

Toko Digital Shop

Toko Recording DAW (khusus sound/audio)

Setelah Video DSLR Jadi Mainstream, Apa Lagi?

image

Apa lagi yang bakal mengguncang dunia videography dan indie filmmaking? Lahirnya kemampuan rekam video di kamera DSLR merevolusi semuanya, memberi akses terjangkau untuk menciptakan video dengan visual yang bukan sekedar tajam namun juga punya dimensi. Tidak lagi datar dan hambar. Dengan begitu banyak pilihan di semua range harga, hampir semua filmmaking-enthusiast mampu beli HDSLR sekarang. Produsen kamera pun juga hepi. Teknologi sudah sampai di titik yang baru. Tapi terus apa lagi dari sisi hardware? Resolusi lebih tinggi? 4K? Ah, buat saya nggak menarik. Belum. Emangnya mau bikin apa sampai butuh Ultra HD? Selain overkill, harga kamera dan workflownya juga belum bersahabat. Yang saya tunggu adalah produk revolusioner, yang menggerakkan massa, yang terjangkau, dan masuk akal, bukan produk kelas atas yang overkill. Yang realistis.

Sebelum ada produk yang mendobrak seperti waktu pertama kali Nikon D90 keluar dengan kemampuan video, dan disusul Canon 5DMkII, rasanya sekarang ini seperti stagnan. Canon Cinema 1D? C300? RED? Ngiler? Saya sih nggak. Gimana yah, nggak kepake dan nggak kebeli. Ngapain ngiler? Kayaknya untuk waktu lama, memang HDSLR jadi solusi standard. Mungkin terobosan berikutnya bukan di kameranya. Di operasi, di workflow. Mobile devices seperti smartphone atau tablet sudah mulai masuk ke fotografi dan videografi. Seperti saya bisa mengendalikan secara live-view HDSLR saya di layar smartphone. Mungkin monitoring jadi lebih murah, focus pulling jadi lebih mudah. Entahlah, kita tunggu. Pastinya, bisa ada lagi yang membuat semuanya semakin praktis juga terjangkau.

Anyway, ini cuma ocehan saya yang gemes karena merasa mestinya bisa ada terobosan baru yang bikin semakin praktis, mudah dan murah. Ini karena ngelihat teknologi mobile computing lagi kenceng banget, tapi di ‘kamera’ terasa terlalu pelan mengadaptasinya.

Dan Android Pun Mulai Masuk Ke Kamera

Sementara fokus acara Samsung World Tour 2012 Jakarta tempo hari adalah peluncuran Galaxy Note 2, sebetulnya ada 2 produk lagi. Yang satu adalah line-up ATIV Windows 8 convertible laptop, dan satu lagi, yang paling menarik buat saya, adalah Samsung Galaxy Camera.  Gimana nggak, dari awal diumumin udah bikin penasaran. Okelah, Polaroid dan Nikon udah duluan ngumumin bikin kamera berbasis Android, tapi kelihatannya yang Samsung ini menarik karena… well, nggak tahu ya, kelihatan lebih fun aja.

Perkenalkan, kamera Android pertama Samsung.

Ukurannya nggak malu-malu, bongsor, tebal. Nggak berusaha untuk jadi mungil ataupun bisa dikantongi. Nggak enteng. Hampir seluruh punggungnya adalah layar sentuh, kalau nggak salah seukuran Galaxy S3, sekitar 4,65 inci. Logikanya pas baca pertama kali tentang ini adalah, ngapain gede banget dan overlapping sama smartphone yang juga bisa motret? Nggak dibikin lebih kecil atau lebih praktis aja? Ternyata pas megang langsung, rasanya kayak ngerti kenapa Samsung nekat bikin gede. Memang jadi lebih menarik daripada kamera poket biasa.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Kelebihan yang udah pasti daripada kamera di smartphone pastinya ukuran sensor yang lebih besar. Bukan cuma soal megapixel ya. Malah lupa ini Galaxy Camera berapa megapixel. Yang penting kalau ukuran sensor lebih besar, lebih peka cahaya, lebih mampu low light, dan lebih sedikit noise. Itu logikanya. Apa lagi? Lihat angka di lensanya? Dari ujung wide sampai ujung zoom jaraknya 20 kali, optik, jelas nggak bisa di handphone. Apa ini cukup jadi alasan kita untuk kepengen benda ini? Belum tahu juga. Tapi waktu presentasi banyak ditunjukkan fitur dan kemampuan khusus Galaxy Camera yang nggak ada di smartphone.

LCD super bening & besar, dan live effects.

Dalam beberapa menit saja main-mainin display demo unit memang nggak bisa bahas banyak. Tapi satu hal yang pasti, kesan pertama cukup menarik. Kabarnya akan dirilis di Indonesia sekitar November, katanya sih, dan harga mungkin sekitar 5 jutaan. Kamera beneran, dengan Android, 3G dan WiFi. Nginstagram bakal lebih cantik-cantik dong fotonya? Asal bukan cuma buat motret cup Starbucks. Ada yang tertarik? Saya sih makin penasaran.

Sample Photo & Video EOS 5DMkII

Selain sample resmi dari DPreview dan Canon Jp yang ditulis di bawah, baru nemu lagi link ini untuk yang mau lihat contoh hasil foto dan rekaman video dari 5DMkII. Sayangnya filenya gede banget, 300mb dalam format zip. Jadi agak males ngambilnya, soalnya emang ya udah nggak gitu minat karena jelas kamera ini mahal dan nggak akan saya pertimbangkan kecuali saya fotografer profesional. Atau ya, kalau belum download minimal bisa lihat artikelnya langsung ke AkihabaraNews. Cukup lah buat saya, riset cemen saya ini akan kembali saya fokuskan ke Nikon D90.

Update: rupanya sample dari AkihabaraNews ini benar-benar “apa adanya” diambil dengan demo unit 5D MkII yang saat itu dioper dari tangan ke tangan, dengan setting yang sudah diutak-atik dari orang ke orang, jadi ya, maklum kalau agak aneh sample nya.