JalanRaya: Menjajal Ford All-New Everest di Lumpur dan Air Thailand

Ford Everest drive 011

Konvoi panjang Everest Drive berangkat di pagi hari. Foto: dok. Ford

30 Juli 2015, lewat pukul delapan pagi,  belasan mobil Ford All-New Everest baru bergegas meninggalkan parkiran Le Meridien Resort, berangkat dan membelah jalan-jalan kota kecil Chiang Rai, Thailand. Dikendarai bergantian oleh dua puluh wartawan otomotif Indonesia, konvoi bergerak cepat dikawal sebuah mobil polisi, dan service car yang menjaga komunikasi dengan semua peserta lewat radio. Berada di mobil nomor 5, saya memerhatikan bagaimana teman saya, Leo, memacu SUV 4×4 dengan mesin turbodiesel 3.2L dan transmisi otomatis ini dengan begitu entengnya. Sejak pertama mendapat undangan dari Ford Indonesia untuk mencoba SUV mewah terbaru mereka off road di Thailand, saya sudah tidak sabar menunggu hari ini.

Ford Everest drive 004

Alamnya tidak beda dengan Indonesia. Foto: dok. Ford

Konvoi mulai menjauh dari kota, menuju pinggiran, pemandangan pun semakin hijau dan familiar. Pepohonan, kebun sawah, dan rumah-rumah penduduk. Kalau nggak ada papan iklan atau petunjuk jalan berabjad Thai, mungkin daerah pinggir kota ini bisa saja kita bilang Jawa Barat. Stage pertama test drive ini adalah free riding, dan untuk keamanan, control car di depan selalu memberi informasi lewat radio jika ada traffic dari arah berlawanan. Terlihat beberapa peserta memacu Everest nya melampaui rekan-rekan di depannya, namun tetap tertib kembali ke barisan. Melihat jalanan terbuka dan aman, Leo memutuskan untuk menjajal tarikan mobil bongsor ini. Mengambil jalur kanan dengan cepat, turbodiesel Duratorq sang Everest baru ini merespon dengan deruman suara rendah yang sangat halus dalam kabin, diiringi percepatan yang membuat saya mencari pegangan sementara badan menyandar ke jok. Dua mobil depan terlewati dalam sekejap, Leo kembali masuk konvoi yang bergerak cepat. No sweat. Begini rupanya rasanya SUV kelas premium. Tak terasa, kami sampai di check point pertama.

20150730_100123

Checkpoint pertama, berganti giliran test driver sebelum lanjut.

Perhentian pertama adalah di semacam kantor kelurahan, letaknya persis di kaki bukit dan tepi sungai yang airnya berwarna coklat. Para jurnalis langsung sibuk mengambil gambar, sementara beberapa ke kamar kecil sebelum melanjutkan stage on-road berikutnya. Setelah mengatur posisi jok nyaman dengan electric seat adjusternya, kali ini giliran saya mengemudi. Rute stage 2 menuju Canary Resort masih di jalanan aspal namun relatif lebih ada traffic dibanding sebelumnya, dan nggak butuh waktu lama membuat saya nyaman membawa Everest. Mobil ini tinggi dan besar, di dalamnya pun kita merasakan itu, namun mengemudikannya tidak terasa seperti membawa kapal. Walau banyak hal sudah diambil alih ‘by wire’, saya merasakan kendali, keterhubungan pengemudi dengan mesin, dengan jalanan. Melaju di tikungan terasa aman dan mantap, walau tentunya tetap dengan karakter mobil tinggi.

Ford Everest drive 028

Nggak terasa kalau ternyata mobil jalan cukup kencang. Foto: dok. Ford

Daerah Chiang Rai yang sepi ini semakin terasa seperti Sukabumi, atau Cikole. Pelan aja, nggak usah ngebut, saya pikir sambil melaju dengan damai di urutan konvoi. Ini yang saya butuhkan, liburan sejenak dari Jakarta, dengan pemandangan sejuk. Saat itu Leo bergeser sejenak untuk mengintip display sambil bertanya.

“Jalan berapa kita?”

Saya menjawab sambil melirik sekilas ke display speedometer.

“Santai lah, paling enampu-.. Holy shit.”

Ternyata kecepatan mobil saat itu 100 KM/jam dan saya sama sekali nggak menyadari. Yang saya tahu, saya jalan santai dan nggak berasa ngebut, mesin tenang, bodi stabil layaknya jalan pelan. Ternyata jalan cepek! Setelah dipikir, memang iya juga, pengawalan polisi berjalan dengan kecepatan tinggi. Tapi tentunya ini tidak berlangsung lama karena jalan berliku dan kami mulai masuk belokan-belokan kecil, yang akhirnya membawa kami ke perhentian ke dua, sebelum memasuki stage off-road. Check point ke dua, Canary Resort.

20150730_104309

Checkpoint ke dua, Canary Resort.

Canary Resort ini seperti semacam taman wisata alam di bukit yang hijau dengan pepohonan sejuk. Sebagian peserta yang kebagian unit 4×2 ditukar dengan unit 4×4 untuk off road. Semua turun membawa gembolannya. Tiap peserta dibekali panitia dengan sekantong berisi berbagai snack, bermacam permen, tisu basah, jas hujan disposable hingga inhaler menthol untuk mereka yang, well, butuh inhaler menthol. Setelah kopi dan presentasi singkat tim Ford tentang fitur off road All New Everest yang saking canggihnya akan butuh satu artikel panjang tersendiri, Everest Drive pun berangkat lagi. Leo kembali di belakang kemudi, sementara saya menikmati pemandangan dalam kenyamanan yang mewah. Ini bagian yang paling ditunggu, off road test drive.

Ford Everest drive 042

Pedalaman Chiang Rai, Thailand. Foto: dok. Ford

Belasan SUV mulus kinclong memperlambat lajunya meninggalkan aspal, menjejak jalur tanah merah yang masih licin karena ditimpa hujan semalaman dan rintik gerimis pagi. Mobil patroli polisi melipir, dan Ranger Wildtrak mengambil posisi terdepan, sementara di titik-titik strategis terlihat crew dan safety marshal dari Ford stand by. Perlahan mobil memasuki daerah pedalaman Chiang Rai, melewati pedesaan, membelah sawah, menuju sebuah lembah yang berada diantara bukit-bukit tinggi. Di cuaca gerimis tipis yang cukup adem, pemandangan lokasi ini indah dan menyejukkan. Trek off road ini seperti trail ride di jalan kampung, dan bukan medan berat ala kompetisi. Namun demikian, semua tetap mengambil jarak dan tidak meremehkan safety. Melihat deretan All-New Everest membelah sawah memang lucu, seperti melihat mobil kota nan mengkilap yang salah tempat.

20150730_123917-1-1

Membelah desa dan sawah di lembah Chiang Rai.

Semakin jauh masuk ke dalam, jalur semakin licin dan basah. Walau relatif bukan medan berat, sambil jalan saya berpikir. Ini full time four wheel drive kan ya? Rasanya tadi di briefing sih begitu, atau apa harus ada yang diaktifkan dulu ya? Kebanyakan fitur, yang dasar malah saya lupakan. Rupanya bukan cuma saya yang mikir begitu. Tak lama, salah satu peserta memanggil lewat radio komunikasi.

“Nyalain four wheel drive nya gimana ini?”

Di stage ini dua personel Ford ikut di mobil kami, dan langsung menjawab.

“Four wheel drive konstan, nggak perlu set apa-apa.”

Ah, bener, Ford Everest 4×4 ini selalu dalam moda four wheel drive, seperti banyak SUV 4×4 sekarang. Kelebihannya, di Ford Everest berbagai teknologi digunakan untuk membaca situasi dan mengatur secara pintar distribusi tenaga ke tiap roda sesuai kebutuhan. Saya melirik kenop yang ada dekat tuas transmisi, tombol bulat dengan 5 simbol ini adalah pengendali TMS, Terrain Management System. Ini yang paling saya ingat dari segudang fitur yang dibahas tim Ford dalam presentasi pagi.

Ford Everest on location 006

Terrain Management System, moda berbagai medan tinggal tekan tombol. Foto: dok. Ford

Lebih dari sekedar 4×4, sistem manajemen medan yang diberikan Ford pada monster berbaju kinclong ini memungkinkan kita memilih beberapa moda sesuai medan. Lumpur, batu, rumput, pasir, tinggal diatur semudah menekan tombol, dan tiap moda mempunyai karakter beda yang akan optimal di masing-masing medan. Tiap settingnya berpengaruh pada respon gas, transmisi, 4WD dan traction control. Waktu pertama tahu ini, saya jadi geleng kepala, ingat dulu main dengan Jeep CJ7 dan Jimny, yang ketika sudah masuk four wheel drive pun kita masih harus turun dulu mengunci locker di roda depan. Memang ya, jaman sudah berubah. Kami tetap dengan moda normal yang sudah sangat cukup untuk lintasan ini. Berikutnya, saatnya mencoba SUV ini melintasi air. Membawa 4×4 menyeberangi air itu semacam simbol off road buat saya, walau ya, sekarang malah lebih sering menghadapi air di banjir dalam kota Jakarta.

Ford Everest drive 066

SUV premium yang nggak takut air. Foto: dok. Ford

Tak akan gentar akan genangan air bahkan aliran dangkal, Ford memberikan All-New Everest kemampuan waterfording yang cukup mengesankan. Jika keadaan memaksa, SUV ini mampu menembus genangan air hingga ketinggian 800 mm. Trek uji coba ini pun memiliki dua titik water crossing, yang menyeberangi aliran air yang walau dangkal, tetap seru. Crossing pertama melintasi air yang mengalir diantara rumput dan ilalang tinggi sehingga terkesan kita sedang melewati rawa. Tak perlu mobil tinggi untuk melalui ini, namun tetap saja rasanya seperti berpetualang. Dengan mobil sesangar ini, rasanya aliran ke kiri menggoda sekali untuk diikuti.

mtf_FGdPs_1969.jpg

Seru bukan? Ini salah satu mobil urutan belakang. Foto: dok. Ford

Water crossing ke dua disambut dengan tanjakan berlumpur lunak tebal yang lumayan bikin saya mikir. Mobil depan dengan sengaja melibas water crossing itu dengan cepat, sampai-sampai safety team dan fotografer Ford bubar, basah terguyur siraman air. Seru, tapi kasihan juga sama kru yang kena. Ketika giliran saya menyeberang, saya sengaja perlahankan mobil, kalau perlu supaya selip, untuk melihat kemampuan Everest mengatasi selip. Mobil perlahan menjejak air, melewati aliran, lalu menanjak, dan… Sudah! Begitu saja tanjakan lumpur itu lewat. Tanpa rasa, tanpa usaha. Kalau mobil yang kurang mumpuni, saya yakin bakal sempat selip, tapi monster ini sepertinya membuat segala rintangan wajar menjadi tidak berarti. Sayang, aliran air yang dilintasi cetek, padahal menarik kalau kita boleh menjajal kemampuan Ford Everest yang bisa menembus air setinggi 800 mm. Mungkin test drive yang ideal untuk ini adalah daerah Kemang, Jakarta Selatan, kisaran bulan Februari. Berikutnya, kami kembali ke atas bukit untuk mencoba satu lagi fitur baru.

20150730_121434-1

Menjaga jarak aman di tanjakan licin dan terjal.

Pengalaman berkendara paling unik buat saya di Ford Everest ini adalah ketika menyicipi Hill Ascent & Descent Control. Fitur yang memungkinkan kita mengatur kecepatan naik dan turun konstan hanya dengan tombol. Di titik yang sudah ditentukan, kru Ford Thailand menghentikan tiap mobil dan memberi instruksi.

“Tekan tombol itu.”, katanya dalam bahasa Inggris kaku.

Oke, saya menekan tombol yang ditunjuk.

“Sekarang itu.”, lanjutnya.

Saya nurut.

“Nah, sekarang sudah siap. Atur kecepatan pakai tombol plus dan minus, jangan injak gas atau rem.”

Eh yang bener? Memangnya ini videogame?

P9820489

Serius, mas? Pakai tombol aja?

Rasanya seperti salah dengar, disuruh nyetir, tapi jangan pakai gas atau rem. Ini medan off road, jalan kampung yang licin, bukan jalan raya aspal di mana kita bisa memakai ‘cruise control’. Tapi ini bukan cruise control sepele. Dalam moda ini, kita cukup menentukan seberapa cepat atau lambat kita ingin menanjak atau turun, dan biarkan Everest dan komputernya mengatur sendiri semuanya. Kita tinggal mengarahkan setir.

“Nah kalau saya perlu nge-rem gimana dong?”

“No problem, begitu rem atau gas diinjak, mobil otomatis keluar dari moda ini dan kembali normal.”

Baiklah, menekan tombol bertanda plus di setir, mobil kami maju perlahan. Masih terlalu keong, saya menekan-nekan tombol sampai kecepatan yang lebih cepat namun masih aman. Kaki tentunya siap menginjak rem, just in case. Benar, ini seperti main Playstation.

20150730_122549-1

Menjajal fitur Hill Ascent Control, tanpa main gas maupun rem.

Tanjakan dan turunan licin di medan off road tidak pernah saya remehkan, sesepele apapun itu. Selalu ada peluang untuk selip, meluncur dan banyak lagi. Entah itu jalan kampung, jalan kebon, selalu menuntut konsentrasi lebih. Dan ada saatnya dimana kita mesti punya skill lebih, harus tahu kapan menambah, mengurangi atau mengayun gas, kapan turun gigi, injak rem, atau malah jangan rem. Singkatnya, nggak santai. Ascent & Descent Control ini benar-benar seperti menghapus semua itu, karena Everest sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Ini bukan fitur remeh. Usai saya melewati dua trek khusus ini, kami berseloroh. Nenek 90 tahun pun akan mampu jalan off road dengan New Everest ini. Tak terasa, saya dan Leo sudah bergantian mencoba semua trek yang disediakan. Konvoi kemudian bergerak ke atas bukit, ke perkampungan suku Agha yang merupakan penduduk asli di sana.

20150730_130435

Entah bagaimana caranya, Everest putih ini bebas dari cipratan tanah.

20150730_130509

Oom Stephen Langitan, Ford New Everest, dan penduduk asli, suku Agha.

Disambut ramah dengan musik, tarian dan atraksi tradisional, rombongan beristirahat sejenak sebelum menuju White Temple dan kemudian kembali ke hotel. Everest Drive kemudian bergerak kembali ke Canary Resort untuk makan siang, dan di sini Leo mengusulkan untuk ganti mobil dan mencoba versi 2.2L yang lebih ‘membumi’. Secara mengejutkan, ternyata dengan mesin yang lebih kecil pun Ford Everest ini sangat responsif. Tapi saya kehilangan semua kecanggihan di monster 3.2 liter yang kami pakai dari pagi. Setelah mencoba yang top of the line, rasanya nggak mau turun kelas. Everest Drive untuk media Indonesia pun selesai sore itu, setelah sebuah pertunjukan kejutan di parkiran hotel. Ford ternyata menampilkan sebuah Everest cutaway yang terpotong setengah bodinya, untuk menunjukkan jeroannya dalam aksi.

20150730_165544

Have you driven a cutaway Ford lately? Beli yang belah begini boleh diskon nggak?

Sementara wartawan sibuk bertanya dan memotret, yang ada dalam pikiran saya hanyalah pengalaman test drive hari itu. Bukan pakar otomotif, saya memang tidak punya banyak referensi untuk bisa mengatakan seberapa bagus Ford All-New Everest ini. Hari ditutup dengan acara makan malam di sebuah restoran hidangan khas Thailand di tepi sungai, dan saat itu saya menyempatkan bertanya pada satu dua rekan wartawan otomotif yang lebih berpengalaman mencoba banyak mobil. Walaupun lebih kalem, komentar yang saya dapatkan sama positifnya. Semua hanya kembali ke pertanyaan terpenting, tipe mana yang akan masuk Indonesia, dan berapa harganya?

Yang saya tahu hanya, Everest Drive ini pengalaman mengemudi paling menyenangkan yang pernah saya rasakan. Harusnya, mobil ya begini, memiliki segala yang dibutuhkan untuk membuat pengemudi dan penumpang mampu melewati rintangan dan tiba sampai tujuan dengan sangat nyaman. Apa lagi yang bisa diminta dari sebuah SUV? Tenaga besar dan torsi monster, tapi konsumsi bahan bakarnya irit, otak komputernya canggih, fitur-fiturnya memudahkan. Tampang, ya, walau bukan paling cakep tapi cukup oke lah ya. Pastinya jauh lebih cakep daripada Everest sebelumnya, yang di mata saya seperti mobil tahun 90’an. Ford All-New Everest adalah mobil yang membuat pengemudi santai menikmati perjalanan segala medan, karena semua hal lainnya sudah ditangani dengan cerdas. Mau minta apa lagi?

Ah, ya, mungkin satu yang nggak mungkin diminta; bikin harganya terjangkau.

Saya dan Leo, ditemani Rane dari Ford Indonesia, dan salah satu perancang All-New Everest. Foto: Leo

Saya dan Leo, ditemani Rane dari Ford Indonesia, dan salah satu perancang All-New Everest. Foto: Leo Nara

***

Terima kasih pada Ford Indonesia atas kesempatan ini. Untuk yang berminat mengetahui lebih jauh tentang Ford All-New Everest, klik di sini, dan jangan lewatkan ulasan Leo Nara tentang petualangan ini di sini.

Iklan

JalanRaya: Mobil Pintar Ala Ford di Computex 2014 Taipei

image

Bayangkan, di suatu hari, di masa depan yang tidak terlalu jauh. Kita masuk ke mobil, taruh smartphone atau tablet di jok, dan tinggal mengemudi tanpa harus mengutak-atik peranti genggam lagi. App yang sedang jalan secara langsung bisa dikendalikan dibantu sistem yang disediakan mobil. Nggak lagi harus atur koneksi Bluetooth atau wifi dulu untuk dengar musik, nggak lagi mesti repot buka aplikasi lokasi untuk cari arah ke tujuan.

image

Begitu masuk mobil, aplikasi di peranti genggam terhubung dengan mobil, yang dikendalikan cukup dengan suara. Ketika mengemudi pun mobil langsung secara aktif mengawasi performa mesin dan juga kondisi lalu lintas, jika ada yang berhenti mendadak di depan, atau yang akan memotong kita di perempatan, sistem akan memberi peringatan dini dan menyiapkan tenaga pada rem. Bukan mobil robot, semua kendali masih di tangan kita yang mengemudi, namun sistem pintar bawaan mobil mempermudah dan membuat lebih aman semuanya.

AppLink, Jembatan Pengemudi ke Peranti

image

Kedengaran menarik? Buat saya, sangat menarik. Ini sekelumit gambaran visi Ford akan mobil pintar, yang dihadirkan dalam pamerannya di Computex 2014, Taipei. Kesemua teknologi di atas sudah ada, namun belum semua diterapkan secara penuh. Ada yang sudah mulai jadi fitur sejak setahun lalu, dan ada yang masih eksperimen. Bagian pertama dari skenario di atas sudah diwujudkan Ford lewat fitur AppLink dan SYNC yang diusung di beberapa model seperti Fiesta dan EcoSport. Dalam kesempatan undangan media dari Ford ke Computex 2014, saya dan beberapa rekan jurnalis mendapat kesempatan melihatnya langsung dalam peragaan eksklusif.

image

Kesan pertama, menjanjikan. Ketimbang, katakanlah, membuat sistem komputer personal sendiri dalam mobil, AppLink sekedar menjadi penghubung antara kita pengemudi, dan aplikasi yang berjalan di peranti genggam. Dalam sebuah Ford EcoSport, diperagakan bagaimana tanpa repot pengemudi langsung dapat mengendalikan app music streaming Pandora cukup dengan perintah bicara.

image

Akur dengan peranti iOS, Android dan Blackberry versi tertentu, nantinya pengembang aplikasi diharapkan juga bisa membenamkan fungsi yang bisa memanfaatkan AppLink dari Ford ini. Bukan hal baru, AppLink ini sudah dimulai sejak 2011 namun di Computex ini yang diangkat adalah kompatibiltasnya dengan beberapa app dan layanan baru. Kapan bisa berfungsi maksimal di Indonesia? Ah, itu yang belum terjawab.

V2V, Komunikasi Antar Kendaraan

Nah, yang baru dan mengesankan adalah teknologi komunikasi antar kendaraan yang dipamerkan Ford dalam demonstrasi hidup di Taipei. Ford Vehicle To Vehicle communications, atau singkatnya V2V, adalah teknologi komunikasi antar kendaraan yang menggunakan koneksi wifi. Kita bisa komunikasi antar mobil dan cuma sesama Ford? Pertanyaan itu yang muncul waktu pertama dengar, dan ternyata sangat keliru.

image

Komunikasi antar kendaraan ini adalah di mana satu mobil dengan yang lainnya saling berhubungan, memberi dan menerima data berkendara. Yang dikomunikasikan antar mobil ini adalah data lokasi, posisi, pergerakan, arah, kecepatan, perhentian. Jadi, mobil saya akan tahu di sekitarnya ada mobil di mana saja, ke arah mana, secepat apa, selambat apa, walau tanpa saya bisa melihat. Gunanya? Untuk peringatan dini, keamanan!

image

Nggak usah muluk mobil tanpa pengemudi seperti bikinan Google, ini masih sepenuhnya dikendalikan kita pengemudi dan jelas sekali berguna mengurangi risiko kecelakaan yang terjadi karena situasi yang tidak terlihat oleh kita.

image

Dalam sebuah Ford Kuga di pelataran parkir depan Miramax di Taipei, beberapa tim media dari Asia Tenggara bergantian merasakan teknologi ini beraksi. Engineer dari Ford memberi penjelasan tentang sistem, lalu mengemudikan mobil ke arah persimpangan yang sisi kanannya tidak terlihat karena terhalang tembok.

image

Tepat menjelang persimpangan, peringatan dini V2V berbunyi membuat pengemudi menginjak rem, selamat dari satu lagi mobil yang ternyata melintas cepat dari balik tembok! Kaget, dan kagum! Jika semua mobil bisa begini, mestinya banyak kecelakaan yang bisa dicegah.

image

Apalah gunanya teknologi V2V ini kalau cuma dimiliki satu merek mobil? Untungnya, teknologi ini menjadi upaya bersama satu konsorsium 8 pabrikan mobil besar dunia, sehingga nantinya menjadi satu platform dasar yang universal. Saat ini memang masih merupakan eksperimen, tapi nantinya pembuat mobil bisa membangun aplikasinya sendiri di atas dasar sistem V2V ini.

Beauty, Beast, Brains. Ford Mustang.

image

Di tengah ribuan perangkat komputer yang dipamerkan di Computex, seperti nyeleneh, Ford memamerkan kembalinya sang legenda yang jadi salah satu ikon otomotif Amerika. Merah menyala dan garang, Ford Mustang 2015 dipamerkan dan mencuri perhatian banyak orang.

image

Dikenal sebagai ‘muscle car’ yang identik dengan tenaga besar dari mesin yang besar juga boros, kali ini Ford mau menunjukkan bahwa Mustang bukan hanya modal otot. Di dalamnya sudah tercangkok sistem komputer yang pintar memonitor dan mengelola performa, juga fitur canggih seperti SYNC, Communications Integrations System, ACC Active Cruise, ‘radar’ Blindspot Detection System yang bisa memberi peringatan dini dan banyak lagi. Sayang, media tidak diberi kesempatan untuk masuk memotret interior Mustang yang didesain bak kokpit pesawat.

image

Waktu kami di Taipei sangat singkat, dengan jadwal yang cukup padat. Andai saja lebih banyak waktu, akan menarik sekali mencoba lebih jauh demonstrasi V2V, apalagi di track yang lebih besar dengan skenario lain. Melihat video tentang teknologi ini, masih banyak skenario praktis yang mestinya bisa didemonstrasikan dengan aman.

image

Pada akhirnya, banyak teknologi menarik dari Ford, namun bagi kita pertanyaannya adalah, kapan bisa hadir dan dimanfaatkan maksimal di Indonesia? Pihak Ford mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar yang penting dan jelas menjadi sasaran mereka. Mengetahui popularitas peranti genggam pintar dan aplikasinya, fitur teknologi Ford diyakini bisa menjadi daya tarik.

Terima kasih pada Ford atas kesempatan menarik ini. Pastinya kita tunggu janjinya untuk menghadirkan fitur teknologinya di model mobil yang dirilis di Indonesia.