Membuat Foto Berlatar Belakang Blur Dengan Samsung Galaxy S5: Selective Focus

Seperti sudah diulas pada tulisan sebelumnya, mode Selective Focus pada kamera di Samsung Galaxy S5 bisa menghasilkan foto dengan latar belakang yang blur. Tanpa perlu efek tambahan atau edit, software mencoba mengira-ngira mana obyek utama dan mana latar belakang dari dua jarak fokus berbeda. Syaratnya:

1. Obyek utama harus cukup pencahayaan dan lebih terang daripada latar belakang.

2. Jarak ke obyek utama maksimal 50 CM, jarak dari obyek utama ke benda terdekat di latar belakangnya minimal 1,5 M.

3. Pilih fokus sendiri pada obyek utama.

Hasilnya, lihat sendiri jepretan portrait di Computex 2014 Taipei kemarin. Jangan cuma lihat modelnya, perhatikan blur halus di latar belakang. Keren!

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Foto terakhir ini menunjukkan bahwa bagaimanapun juga, software kadang bisa salah menerka mana depan dan mana latar, terlihat pada muka ibu-ibu yang terfokus di belakang. Apakah cuma berhasil di tempat yang terang benderang? Tidak juga, asalkan cahaya cukup, di tempat agak temaram kadang bisa juga. Lihat foto-foto yang saya ambil di pasar malam Shihlin di Taipei.

image

image

image

Pada akhirnya, smartphone tetap bukan kamera besar berlensa f1.4, tapi jika bisa menghasilkan jepretan cantik seperti ini, semakin mati lah produsen kamera saku digital.

Tahun ini semua produsen smartphone papan atas berlomba-lomba memberi fitur kamera serupa. Bukan, Google sendiri merilis app kamera standar Android yang juga memiliki kemampuan sejenis, namun dengan cara beda. Dari yang sudah saya coba, saat ini masih Samsung Galaxy S5 yang paling memuaskan membuat foto macam ini.

Iklan

Blackmagic Pocket Cinema Camera: Alternatif Baru

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Sementara banyak videographer yang selalu tertarik dengan banyak kamera-kamera baru seperti Canon C-series atau sang pendatang ‘underdog’ Blackmagic Cinema Camera, saya belum begitu merasa tertarik. Kenapa? Soalnya untuk pekerjaan saya saat ini kemampuan video DSLR sudah cukup, dan  harga ke semua mainan baru itu masih sangat tinggi. Dan ini kita belum bicara soal workflow dan lain-lainnya. Baru dari NAB kemarin ada kabar yang lumayan membuat saya jadi melirik, kali ini Blackmagic Design meluncurkan satu lagi kamera video, tapi dengan bentuk dan harga yang relatif ‘kecil’, namanya Blackmagic Pocket Cinema Camera.

Mengusung sensor ukuran Super 16 yang memberikan video full HD dengan dynamic range sebanyak 13 stop, Blackmagic Pocket Cinema Camera menjanjikan kualitas video yang lebih baik daripada DSLR. Terutama di set yang terang. Dengan ukuran yang sepertinya kurang lebih sama dengan Sony NEX atau Samsung NX, BMPCC menggunakan lensa mount MFT. Belum ada kabar apakah akan ada versi lensa EF mount seperti abangnya, BMCC. Saya nggak akan bahas detil teknisnya karena bisa langsung lihat di website nya, tapi satu yang menarik sekali buat saya adalah harganya, us$995.

Blackmagic Pocket Cinema Camera - MFT Lens

Blackmagic Pocket Cinema Camera – MFT Lens

Jika dengan harga ini bisa lebih baik daripada DSLR mainstream, mungkin bisa jadi alternatif yang menarik walau lensanya di sini nggak begitu populer. Toh kayaknya bisa pakai adapter. Yang belum ketahuan, bagaimana dengan kemampuan low light nya? Kita tunggu saja, kabarnya akan mulai dipasarkan di bulan Juli. Di Indonesia sudah mulai ada yang memesan kakaknya, Blackmagic Cinema Camera, tapi bagaimana dengan si ‘kecil’ ini? Ada yang sudah pesan?

Membuat Timelapse Jarak Jauh Secara ‘Live’ Dengan Samsung Galaxy Camera

Satu manfaat nyata dari ‘connected camera’ seperti Samsung Galaxy Camera adalah kemampuan untuk secara otomatis mengunggah semua hasil jepretan ke cloud storage seperti DropBox, dan adalah ide dari rekan videografer Lucas Ony untuk memanfaatkan ini dalam pembuatan timelapse yang termonitor secara ‘live’ di lain kota.

image

Timelapse semakin sering digunakan di video-video sebagai insert transisi antar segmen, dan pembuatannya masih cukup tradisional dengan intervalometer pada kamera. Kamera disiapkan, ditinggal, atau ditunggui, dan setelah itu baru hasilnya dirangkai sebagai sekuens. Jika ada kesalahan, atau ada masalah dengan kamera, tidak akan ketahuan sebelum selesai semua. Masalah ini bisa diatasi dengan connected camera seperti Samsung Galaxy Camera.

Percobaan timelapse di atas memang sekilas tidak ada yang terlalu istimewa, memang hanya test, keunikannya adalah di pembuatannya. Timelapse ini direkam oleh saya pada suatu pagi di Jakarta Selatan, menggunakan app Camera FV-5 dan dengan fitur auto-upload DropBox dan koneksi 3G di Samsung Galaxy Camera, hasil bisa langsung diterima dan dirangkai puluhan kilometer jauhnya di studio rekan Lucas Ony di Serpong.

Infographic by Lucas Ony

Infographic by Lucas Ony

Ini adalah manfaat nyata sebuah kamera bukan hanya pintar namun juga ‘connected’, terhubung ke internet secara mandiri. Bisa menjadi solusi alternatif pembuatan timelapse jarak jauh yang termonitor. Jika sampai ada kesalahan teknis, atau ada sesuatu yang terjadi pada kamera, semua file sudah aman di cloud.

Alat yang dipakai:

1. Samsung Galaxy Camera

2. Koneksi internet 3G atau WiFi

3. Aplikasi Camera FV-5

4. DropBox

Urutan kerja:

1. Atur Samsung Galaxy Camera agar semua foto otomatis diupload ke DropBox

2. Gunakan app Camera FV-5 dan atur folder outputnya

Review: Samsung Galaxy Camera


20130111_230609

 

Nggak terasa, sudah 3 bulan lebih sejak perkenalan saya dengan Samsung Galaxy Camera. Dan masih aja, benda ini selalu jadi perhatian. Hampir semua yang melihat kemudian penasaran, mau memegang, mencoba, dan akhirnya mulai berpikir bahwa memang seru kalau kamera bisa Android dan selalu online layaknya smartphone. Dan akhirnya, semua menanyakan harganya dan dari titik itu reaksinya bisa dibagi menjadi tiga golongan umum. Yang berpikir sejenak lalu merasa bahwa smartphonenya juga sudah cukup biasanya bilang,

“Ah hape saya kayaknya udah cukup.”

dan yang baru mulai ingin lebih serius di fotografi kemungkinan akan bilang,

“Harga segini kayaknya saya milih beli DSLR.”.

Yang merasa hape udah cukup atau yang lebih senang bawa kamera ‘serius’ mungkin nggak terlalu tertarik dengan Samsung Galaxy Camera. Jadi siapa yang kayaknya akan suka kamera ini? Golongan ke tiga, yang tetap memikirkan kemampuan kamera ini setelah tahu harganya.

“Hmmm…”.

Kamera pintar ini lebih buat mereka yang hobi foto kreatif dengan app lalu berbagi di media sosial, namun sudah nggak puas dengan keterbatasan smartphone.

Buat golongan ini, kamera digital biasa atau upgrade ke DSLR bukanlah solusi, karena nggak bisa menggunakan app apalagi sharing lewat media sosial dan internet. Bagi mereka, Samsung Galaxy Camera jadi jawaban yang diimpikan.

 

Kelebihan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Samsung Galaxy Camera memiliki semua kemampuan Android, kecuali menelepon.

Kamera saku dengan segala kecanggihan Android yang dilengkapi konektivitas WiFi dan 3G. Kayaknya dari penggambaran ini aja udah ketahuan dong kelebihannya? Dibanding kamera biasa, kelebihannya ya ada di Android dan konektivitasnya. Dibanding kamera smartphone, sebenarnya kelebihannya adalah lensa zoomnya.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Smart Mode di Samsung Galaxy Camera memudahkan kreativitas.

Samsung sepertinya lebih mengedepankan puluhan moda pintar kreatif di Galaxy Camera sebagai kelebihan dibanding lensanya. Tapi bagaimanapun juga semua moda foto pintar itu masih software, bisa saja suatu hari kemampuan itu dicangkokkan oleh Samsung di smartphone. Sebenarnya satu hal yang nggak akan dimiliki smartphone adalah lensa zoom 20x. Nggak ada hape yang punya ini, bahkan sebenarnya nggak ada hape yang bisa zoom beneran.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

Zoom beneran, bukan digital zoom.

“Kamera handphone saya juga bisa ngezoom kok, mas. Cuma ya jadi pecah aja gambarnya”.

Betul, zoom dengan hape akan membuat gambar jadi pecah, itu karena hape pakai yang namanya ‘digital zoom’. Digital Zoom itu layaknya menaruh kaca pembesar di atas layar, gambar jadi besar tapi semakin pecah. Sementara, Samsung Galaxy Camera memiliki optical zoom dengan lensa sungguhan. Layaknya meneropong, gambar nggak jadi pecah. Dalam hal ini, Samsung Galaxy Camera dengan lensa 20x zoom nya telak-telak menang dibanding kamera smartphone.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

“Tapi siapa juga yang butuh ngezoom 20x, ya.”.

Butuh atau nggaknya ya relatif, tapi ternyata cukup banyak yang senang kemampuan zoom. Buktinya, semakin banyak kamera superzoom dirilis oleh pembuat kamera macam Nikon atau Canon. Yang butuh? Mungkin wartawan yang harus bisa memotret event sementara jarak ke panggung cukup jauh, atau orangtua yang ingin mengabadikan anaknya yang pertama kalinya tampil di atas panggung dalam pementasan drama di sekolah atau bertanding sepak bola di lapangan. Bisa siapa saja. Nah, kamera superzoom biasa juga bisa memotret itu semua, tapi cuma Samsung Galaxy Camera memungkinkan kita langsung menyunting secara kreatif, lalu mengunggah foto itu lewat email atau pun media sosial tanpa harus pulang dan melakukannya di komputer.

“Selain lensa zoom, apa fitur yang paling beda? Kalau filter sama efek aja ya di hape juga bisa.”

20130111_233413

Bisa setting P, A, S dan Manual ala DSLR

Yang mau foto kreatif dan belajar fotografi akan senang karena Samsung Galaxy Camera punya moda P, A, S dan Manual yang jadi standard di DSLR. Sampai saat ini belum ada smartphone yang memberi kebebasan penuh di fitur ini. Dengan ini, bisa belajar dasar-dasar setting fotografi yang dipakai di DSLR.

 

Foto

Samsung Galaxy Camera - 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Samsung Galaxy Camera – 39mm, ISO 400, f4.8, 1/60s

Hasil jepretan Samsung Galaxy Camera bisa dikatakan sekelas kamera prosumer, di atas smartphone rata-rata. Tentunya belum sekelas DSLR. Kamera DSLR gambarnya sangat bening karena menangkap cahaya dengan ‘sensor’ yang besar, sementara Samsung Galaxy Camera menggunakan sensor ukuran kamera saku.

“Harganya kebeli DSLR, kok nggak pakai sensor DSLR?”

Jangan lupa, DSLR cuma kamera, sementara Samsung Galaxy Camera setengahnya adalah Android device dengan spesifikasi tinggi. Bahkan secara teknis dia adalah Samsung Galaxy S3 yang dicangkokkan ke dalam kamera. Bisa saja Samsung memberi sensor kelas DSLR, tapi harganya akan jadi gabungan harga DSLR atau mirrorless ditambah harga smartphone.  Kalau mau yang bisa gonta-ganti lensa tunggu saja nanti kalau Galaxy NX atau NX 2000 keluar, tapi yakin harganya akan beda jauh.

Foto Medina Kamil, Anandita Dita dan Milly Shafiq ini diambil dengan Galaxy Camera saya dengan moda Manual, murni tanpa edit, tanpa cropping, tanpa efek, tanpa menggunakan app.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, ISO 200, f5.9, 1/50s

Ketiga foto di atas dimungkinkan karena adanya lensa zoom dengan perbesaran yang cukup tinggi dan kebebasan mengatur berbagai setting secara manual layaknya di kamera prosumer atau bahkan DSLR. Latar belakang yang kabur dimungkinkan oleh beberapa faktor, yaitu objek yang sangat amat jauh berada di belakang, lensa zoom, dan kemampuan mengatur aperture secara manual.

Samsung Galaxy Camera - Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Samsung Galaxy Camera – Manual mode, 86mm, 50% crop, ISO 100, f8.5, 1/30s

Foto bulan ini menggunakan moda Manual, full zoom, lalu crop di 50% ukuran asli. Dengan crop sebesar itu, detail bulan masih tampak. Lumayan, untuk kamera kelas ini. Tentu saja, memotret ini harus di cuaca yang cerah, bebas awan dan menggunakan tripod yang kokoh supaya tidak ada goyang atau geser. Sekali lagi, ini dimungkinkan oleh lensa zoom dan kebebasan mengatur secara manual yang sangat menyenangkan.

Tapi tentunya sebagai kamera untuk penggemar foto kasual, banyak mode kreatif yang membantu kita membuat foto unik tanpa harus repot tahu setting. Diantaranya fitur Light Trail di moda Smart, membuat foto seperti ini nggak usah paham setting fotografi.

Samsung Galaxy Camera - Light Trails mode

Samsung Galaxy Camera – Light Trails mode

Dan tanpa bermain efek pun, sebuah kenikmatan tersendiri bisa mengatur kontras dan warna langsung di kamera dengan layar besar. Jepretan bagus menjadi semakin cantik. Kalau mau menilai kemampuan Samsung Galaxy Camera, justru harus melihat yang sudah diedit, karena di situlah bedanya dengan kamera biasa.

Samsung Galaxy Camera - adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera – adjusted with Photo Editor app.

Samsung Galaxy Camera - color adjusted with Snapseed app

Samsung Galaxy Camera – color adjusted with Snapseed app

 

Video

Sudah pasti Samsung Galaxy Camera bisa merekam video, sama seperti kamera digital maupun smartphone sekarang. Yang paling menyenangkan buat saya bukanlah fitur seperti slow motion, tapi adanya setting manual untuk video. Kebanyakan orang mungkin nggak akan terlalu tertarik akan hal ini, tapi buat yang hobi, kebebasan untuk mengatur sendiri exposure, white balance dan focus lock sangatlah menyenangkan. Dengan ini, kita bisa kreatif merekam gambar-gambar yang kadang seperti direkam dengan kamera kelas DSLR.

 

Kekurangan

Tentunya nggak ada yang sempurna, dan Samsung Galaxy Camera juga memiliki kekurangan. Pertama, bodinya yang cukup besar dan berat membuatnya sulit dikantongi. Membawa kamera ini harus memang niat, karena bukan benda tipis yang bisa dieslipkan di saku celana. Namun di lain pihak, ukuran dan beratnya ini justru membantu kita lebih mantap memegang saat sedang zoom penuh.

Kedua, stamina batere. Jika semua konektivitas dan kemampuan Android di Samsung Galaxy Camera dijalankan, baterenya cepat terkuras. Sadar akan hal ini, Samsung sudah menyiapkan moda Smart Network yang menirit batere dengan memutuskan semua konektivitas internet ketika layar mati. Tapi setelah memakai, rasanya lebih efektif memakai moda Airplane yang juga mematikan semua konektivitas. Kembalikan koneksi hanya ketika kita butuh mengakses internet, entah untuk memakai media sosial atau upload foto dan lainnya.

Dan terakhir adalah kecepatan start. Dari posisi mati total, start up Samsung Galaxy Camera butuh waktu sama seperti menyalakan smartphone Android. Menyalakan dari posisi standby jauh lebih cepat tapi belum secepat kamera digital biasa apalagi DSLR. Solusinya, biarkan kamera di posisi standby.

 

Kesimpulan

Seperti smartphone ataupun tablet Android kelas atas, harga Samsung Galaxy Camera nggak murah. Tapi dibilang kemahalan juga nggak. Di kisaran 5 juta Rupiah, kebanyakan pasti akan membandingkan antara membeli Android high-end atau kamera DSLR pemula lengkap dengan lensanya. Sebetulnya nggak bisa dibandingkan begitu. Kemampuan yang ditawarkan Samsung di Galaxy Camera memang tidak bisa didapat hanya di smartphone maupun DSLR, ia adalah makhluk baru yang menggabungkan keduanya.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Sudah saatnya semua kamera punya kemampuan seperti ini.

Seperti tablet computer, Samsung Galaxy Camera mungkin masuk kategori “nice to have but not a necessity”. Sangat menyenangkan untuk dimiliki namun belum merupakan kebutuhan mutlak karena sebagian fungsinya mungkin kita sudah miliki entah di kamera atau di smartphone. Seberapa menyenangkan? Secara pribadi merasa belum pernah ada kamera se-‘seru’ Samsung Galaxy Camera untuk dibawa ‘main-main’, padahal saya sudah punya dua DSLR, dua kamera saku dan beberapa smartphone.

Jika memang menginginkan kamera superzoom dengan segala kepintaran Android dan konektivitas lengkap, saat ini ditulis rasanya belum ada pilihan yang lebih baik daripada Samsung Galaxy Camera. Satu hal yang pasti, Samsung Galaxy Camera akan membuat kita merasa bahwa sudah selayaknya semua kamera jaman sekarang punya kemampuan pintar seperti Android konektivitas 3G.

Preview: Berkenalan Dengan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Mainan baru ini saking masih uniknya jadi paling gampang jadi bahan obrolan. Ada 3 pertanyaan pertama yang biasanya keluar kalau bahas benda ini sama teman-teman.

“Eh, apa lagi tuh Samsung Galaxy Camera?”

“Kamera, pakai Android, bikinan Samsung.”

“Hah? Kamera? Beneran?”

“Iya bener, kamera, kalau risoles isi ragout ya namanya Samsung Galaxy Risoles Isi Ragout.”

Lalu biasanya setelah dibilang Android, ada jeda manggut-manggut sejenak dan kita berlanjut ke pertanyaan berikutnya.

“Kamera pakai Android? Jadi maksudnya bisa install app gitu?”.

“Iya. Hampir semua app Android bisa diinstall dan dijalanin di Galaxy Camera, dari Instagram sampai Angry Birds.”

“Wuidiiih, kamera, bisa mainin Angry Birds? Asik dong?”

“Bisa, tapi kalau loe beli kamera buat main Angry Birds, kita nggak temenan.”

Akhirnya megang langsung.

Warna putihnya bagus, cuma saya milih yang blue-black.

Sekarang sudah tahu bahwa Samsung Galaxy Camera adalah kamera berbasis Android yang bisa jalanin app. Pertanyaan masih berlanjut, memang benda ini bikin penasaran.

“Kalau pake Android jadi Galaxy Camera ini bisa online? Wifi?”

“Bisa banget, dia ada Wifi sama 3G. Pakai Micro SIM card gitu.”

Denger pakai SIM card otomatis otak ya langsung mikir handphone. Memang nyeleneh sih, kamera ada SIM card nya, jaman dulu mana kebayang. Dan ya, otomatis pertanyaan berikutnya keluar.

“Bisa dipakai nelepon?”.

“Nggak bisa.”.

“Yaah, udah bisa kamera kok nggak bisa dipakai nelepon? Udah dicoba?”.

“Iya, sama kayak kamera DSLR Canon gue, kemaren juga gue coba buat nelepon, nggak bisa, malah dijauhin orang.”

Setelah tahu bahwa kamera ini memang kebetulan nggak dirancang untuk menelepon, sekarang ke pertanyaan penting lagi, yang biasanya jadi bahasan panjang.

“Berapaan harganya?”

“5-juta’an.”

Pause dulu. Di titik ini yang biasanya bikin orang mikir. Mindset sudah biasa dengan smartphone Android berkamera, sekarang melihat kamera ber-Android yang nggak bisa dipakai menelepon langsung jadi mikir. Argumen dasar langsung keluar.

“Lah, harga segitu gue mending beli smartphone aja, kameranya juga bagus, bisa internet, bisa app, bisa nelepon. Atau DSLR murah.”.

Mungkin banyak yang awalnya akan mikir begitu, dan memang Samsung Galaxy Camera ini punya posisi unik sekali. Dan setelah 2 minggu mainin, baru paham untuk siapa gadget ini bakal berguna banget. Jadi, saya jawab dulu pertanyaan si mas Bro tadi.

“Nah, ini emang unik posisinya. Smartphone ya bisa motret dan upload. Gue juga pake. Tapi, Samsung Galaxy Camera pakai lensa, 20x zoom. Smartphone nggak punya lensa begitu, dan zoom digital di smartphone sama aja naruh kaca pembesar di layar display. Pecah.”.

Sepertinya si mas Bro belum puas karena dia tadi juga membandingkan dengan harga DSLR.”

“DSLR sih gue ada, bisa aja gue pasangin lensa zoom, itu pun beli lagi. Kualitas gambar DSLR jelas menang, tapi jadi berat dan besar, belum tentu tiap saat kita butuh kualitas itu. Apalagi, nggak bisa edit di tempat dan langsung upload. Pakai ini untuk liputan event atau konser, bisa motret dari jauh dan otomatis upload.”.

Di titik ini biasanya teman lagi nyoba-nyoba sambil nyengir dan mulai nggak dengerin. Terutama nyoba zoom 20x nya yang bakal diikuti “Ah gokil zoomnya”, sambil bidik ke cewek yang duduk nun jauh di sana.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Galaxy Camera ini untuk yang butuh kamera lebih dari smartphone, tapi nggak mau bawa DSLR. Kesimpulan awal, cocok untuk reporter dan apapun liputan yang butuh kirim gambar atau video cepat via internet. Kemampuan optical zoom lensanya bukan hal remeh, dan bukan digital zoom yang menipu seperti di smartphone. Dengan Galaxy Camera ini, reporter bisa memotret atau merekam video dari jarak lumayan jauh tanpa bawa kamera besar dan segera mengirim via internet. Kualitas gambar belum bisa menyaingi DSLR, tapi jelas di atas smartphone rata-rata. Sangat cukup kalau buat saya.

Samsung merancang Galaxy Camera cukup mudah digunakan baik untuk kasual maupun fotografer. Untuk pengguna yang awam, banyak fitur yang memudahkan kita bikin foto-foto kreatif tanpa pusing belajar teknik fotografi. Mau motret pakai app Android aja? Bisa juga. Lalu buat fotografer, Galaxy Camera bahkan menyediakan moda P, A, S dan M ala DSLR. Ini menyenangkan sekali.

Sayangnya, belum sempat hunting foto keluar, karena Jakarta sedang hujan terus. Bahkan kemarin banjir besar. Jadi belum bisa berikan sample yang menarik, dan ulasan yang lebih detil. Untuk sementara, perkenalkan dulu, ini adalah Samsung Galaxy Camera.

20130111_230609

Mainan baru, Samsung Galaxy Camera

20130111_230748

Samsung Galaxy Camera in package.

20130111_230822

Layar sentuh besar masih ditutupi plastik pelindung.

20130111_231025

Kelengkapan Galaxy Camera dalam box. Charger, kabel USB, wriststrap, dan… headphone!

20130111_231643

Galaxy Camera dilengkapi Micro SIM slot, HDMI port dan Micro SD slot.

20130111_232111

Colokan Micro USB disamping untuk charging dan transfer data.

20130111_233318

Moda PASM di Galaxy Camera!

20130111_233413

Buat yang suka motret manual juga bisa!

20130113_202450

Pilihan moda video, bisa rekam slowmotion!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Dan Android Pun Mulai Masuk Ke Kamera

Sementara fokus acara Samsung World Tour 2012 Jakarta tempo hari adalah peluncuran Galaxy Note 2, sebetulnya ada 2 produk lagi. Yang satu adalah line-up ATIV Windows 8 convertible laptop, dan satu lagi, yang paling menarik buat saya, adalah Samsung Galaxy Camera.  Gimana nggak, dari awal diumumin udah bikin penasaran. Okelah, Polaroid dan Nikon udah duluan ngumumin bikin kamera berbasis Android, tapi kelihatannya yang Samsung ini menarik karena… well, nggak tahu ya, kelihatan lebih fun aja.

Perkenalkan, kamera Android pertama Samsung.

Ukurannya nggak malu-malu, bongsor, tebal. Nggak berusaha untuk jadi mungil ataupun bisa dikantongi. Nggak enteng. Hampir seluruh punggungnya adalah layar sentuh, kalau nggak salah seukuran Galaxy S3, sekitar 4,65 inci. Logikanya pas baca pertama kali tentang ini adalah, ngapain gede banget dan overlapping sama smartphone yang juga bisa motret? Nggak dibikin lebih kecil atau lebih praktis aja? Ternyata pas megang langsung, rasanya kayak ngerti kenapa Samsung nekat bikin gede. Memang jadi lebih menarik daripada kamera poket biasa.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Kelebihan yang udah pasti daripada kamera di smartphone pastinya ukuran sensor yang lebih besar. Bukan cuma soal megapixel ya. Malah lupa ini Galaxy Camera berapa megapixel. Yang penting kalau ukuran sensor lebih besar, lebih peka cahaya, lebih mampu low light, dan lebih sedikit noise. Itu logikanya. Apa lagi? Lihat angka di lensanya? Dari ujung wide sampai ujung zoom jaraknya 20 kali, optik, jelas nggak bisa di handphone. Apa ini cukup jadi alasan kita untuk kepengen benda ini? Belum tahu juga. Tapi waktu presentasi banyak ditunjukkan fitur dan kemampuan khusus Galaxy Camera yang nggak ada di smartphone.

LCD super bening & besar, dan live effects.

Dalam beberapa menit saja main-mainin display demo unit memang nggak bisa bahas banyak. Tapi satu hal yang pasti, kesan pertama cukup menarik. Kabarnya akan dirilis di Indonesia sekitar November, katanya sih, dan harga mungkin sekitar 5 jutaan. Kamera beneran, dengan Android, 3G dan WiFi. Nginstagram bakal lebih cantik-cantik dong fotonya? Asal bukan cuma buat motret cup Starbucks. Ada yang tertarik? Saya sih makin penasaran.