I Am Not A “Yes-man”, And I Can’t Suck-up

Mengilas balik perjalanan karir, mungkin hidup saya akan lebih mudah dan lebih sejahtera kalau saya bisa jadi seorang ‘yes-man’, tapi sayangnya, dan juga syukurnya, saya bukan ‘yes-man’. Saya punya pendapat, prinsip, dan akan mencoba berpegang teguh pada apa yang saya percayai. Bukan berarti tidak kenal kompromi, saya tetap bisa kompromi, lagipula saya sadar benar seberapapun saya percaya akan prinsip saya, belum tentu itu adalah hal yang paling baik. Mungkin saya salah. Tapi, bukan berarti didebat sedikit saja saya sudah ‘ngangguk’.

Ini yang suka bikin saya gedek. Orang yang awalnya punya pendapat, tapi begitu superior power memberi opini yang berlawanan, maka orang ini pun dalam sekejap mata langsung berbelok mengikuti arahan yang sebetulnya bertentangan dengan pendapatnya sebelumnya. Tanpa argumentasi, yang penting aman. Cih. Minimal, tunjukkanlah kalau kita sendiri punya pendapat, kita juga punya otak dan buah pikirannya sendiri, kita punya sesuatu yang diyakini. Lebih males lagi, ada orang macam gini yang kalau bercerita ke orang, seakan dia berani menentang the powers dalam sebuah diskusi (dimana tentunya kita sedang tidak hadir). Gayanya, seakan orang ini berani, seakan ‘vokal’. Padahal di tiap kesempatan lain dimana kita turut hadir,  jelas sekali orang macam ini cuma bisa diam dan nurut pada apapun yang di atasnya. Cuih.

Sialnya, mereka yang jadi yes-man biasanya hidupnya lebih aman, karena yang empunya kuasa biasanya lebih senang dengan mereka yang menurut, mengangguk, tanpa banyak argumen. Saya juga bukan ngototan nggak karuan. Saya berargumen secukupnya, dalam batas yang normal, bukan ngotot nggak karuan, ujungnya diharap bisa ada kompromi. Atau minimal, dapat kepuasan batin bahwa apa yang saya pikirkan sudah saya ajukan dan saya coba pertahankan. Walau hasil akhirnya pastinya bergantung pada yang empunya kuasa. Sayangnya, segini pun bisa sudah disebut ‘tengkaran’.

Kayaknya saya juga nggak punya masa depan untuk berpolitik dalam partai. Karena selain kesulitan untuk jadi yes-man, saya juga kurang punya bakat untuk cari muka. Jualan aja susah, apalagi carmuk. Cuma suka jengah aja kalau lagi pas sama orang yang keliatan banget pengen diakui, pengen eksis, lebih parah lagi, kalau ada yang pengen banget jadi ‘hero’ atau pengen dianggap berjasa. Yah, hak-haknya masing-masing aja, asal jangan ngaku-ngakuin apa yang gue buat ya. Saya mah yang saya kerjain aja. Kalau bagus, syukur, kalau salah, ya saya yang kena. Wajar aja.

Cuma kadang saya merasa, ketika ada yang baik maka the credit never goes to me, tapi ketika ada yang screw up, it’s on me. Fuck this.

Iklan

Perjuangan Berlanjut…

Bukannya nggak bersyukur atas banyaknya berkah yang didapat di tahun ini, tapi secara keuangan memang sejauh ini saya bisa dibilang defisit. Bicara berkah, tahun ini saya sudah menikah, sebuah berkah luarbiasa dan perubahan hidup yang besar. Dan belum lama berlalu, film pertama produksi saya dapat sambutan yang sejujurnya cukup mengejutkan. Alhamdulillah. Tapi, dari keuangan saya harus kena pukulan beruntun yang cukup keras. Heck, ‘cukup’ itu understatement, tepatnya adalah sangat amat keras. Seberapa kerasnya? Gini deh, untuk pertama kalinya saya mempertimbangkan dan bahkan sudah menawarkan si Yume, jip CJ7 kuning kesayangan saya, untuk dijual. Sekarang, saya berharap bisa mengembalikan situasi keuangan yang sudah babak belur tanpa keluar dari jalan yang sudah dirintis. Pastinya, nggak ada yang namanya solusi instan.

Sebelum mengambil langkah nekat mengambil posisi freelance demi mengejar cita-cita saja keuangan saya dalam posisi yang jelek. Tagihan yang tidak kunjung terlunasi selalu menghantui. Sekarang, situasi makin berat. Tapi, saya optimis insyaAllah langkah yang saya lakukan ini tidak salah, karena untuk maju, saya butuh membuat pembelajaran dan pencapaian-pencapaian baru. Untung, saya dapat istri yang sangat sabar, pengertian, dan mendukung apa yang sedang saya coba usahakan.

Sekarang, belajar dari pengalaman film pertama, saya ingin mencoba membuat satu lagi film komedi. Sudah 2 konsep diajukan, yang pertama sudah mental, tapi insyaAllah yang ke dua ini punya chance untuk dapat lampu ijo. Untuk yang kedua ini saya akan mencoba lebih cermat dalam semua aspek terutama juga anggaran, jangan sampai boros. Ironis, di “Setannya Kok Beneran?” yang lumayan ‘jalan’, saya pribadi justru tekor. Saya bukan line-producer yang dibayar untuk memproduseri film, tapi produser pelaksana yang menghasilkan dengan hitungan persentase dari keuntungan. Kok bisa tekor? Yah, bukan tekor amat, tapi sebetulnya impas lah antara apa yang saya spend selama produksi dengan share cut saya. Tapi, nggak apalah daripada malah berutang kan? Nah, yang berikutnya saya benar-benar belajar dari pengalaman pertama, dan jangan sampai kesalahan berulang lagi.

Besok pagi, plotting pertama tulisan mas Deden sudah akan ditangan manajer produksi. Mungkin kalau beliau juga sudah oke, langsung ke produser, karena katanya untuk dibahas hari Rabu nanti. Semoga bisa cepat greenlight karena kalau memang mengejar rilis bulan Maret tahun depan, kita sudah tidak punya waktu lagi. Sementara, ada kemungkinan permintaan “Setannya Kok Beneran?” dijadikan sinetron seri. Bukan menolak rejeki atau menutup pintu pada peluang, tapi sejujurnya saat ini saya lebih kepengen fokus di film ke dua. Kalau bikin sinetron sekaligus megang film, pastinya fokus jadi pecah. Sama-sama komedi pula. Tapi ya, saya coba aja. See what happens. Soalnya ya itu, financially ibaratnya banjir, ini air sudah seleher, butuh pijakan lagi.

Susahnya mengejar cita-cita. Kalau hanya mengejar uang rutin, saya pasti masih tetap di televisi. Tapi kalau di satu tempat terus tanpa pencapaian berarti, saya juga nggak akan maju ke mana-mana. Setidaknya kalau sekarang saya sudah bisa bilang “saya sudah mencoba”, bukan lagi berandai-andai seperti dulu, dan bukan cuma jadi kritikus yang nggak pernah praktek. Perjuangan dilanjutkan. Mohon doanya…

(Tulisan asli berasal dari blog saya yang di Multiply)

Sekali Lagi, Bikin Lagi

Ini blog saya yang ke tiga, atau empat, saya juga lupa. Pastinya, yang bener-bener aktif ada di Multiply. Kalau blog yang di Friendster cuma basa-basi iseng, dan Blogspot, well entah kemana itu yang blogspot. Dulu bener-bener jadi males karena baru kenal sama Multiply. Sekarang, karena iseng, bikin yang satu ini. Buat apa ya? Buat catatan harian? Atau tentang proyek-proyek saya? Hmmm… Belum tahu. Nanti dipikirin. kalau mau ngeblog soal pribadi, blog udah agak kehilangan sifat anonimitasnya. Dulu karena bisa dibilang internet Indonesia belum serame sekarang, rasanya masih berani nyemplung dan bebas bicara bahkan hal yang paling pribadi sekalipun. Ironisnya, setelah internet lumayan jujur karena banyak yang pakai identitas asli, rasa anonimitas malah hilang dan jadi nggak begitu bebas bicara. Kecuali ya, pakai identitas maya. Entah kenapa, saya kurang suka pakai identitas lain. Tadi pun waktu membuka account di WordPress ini, sempat kepikiran pakai alias, tapi ujung-ujungnya selalu kembali ke nama saya yang asli.

Blogging di Multiply sangat enak karena selain gampang, praktis, komunitasnya juga lebih terbentuk karena dari dulu sudah pakai sistem jejaring sosial. Interaksi jadi jauh lebih gampang. Hidup, dan nyata. Tapi, kenapa saya bikin lagi blog yang ini? Mungkin kelewat iseng karena kebanyakan isi pikiran. Atau ya, pengen bikin lagi satu blog yang agak lain.