Berkenalan Dengan Acer Aspire P3: Hybrid Ultrabook

Image

Perkenalkan laptop kerja dan teman syuting saya yang baru, Acer Aspire P3

Kapan terakhir kali punya laptop Windows yang bikin orang-orang ngelirik, nyamperin dan bertanya-tanya? Sebelum ini terus terang saya belum pernah mengalami begitu. Yang namanya laptop Windows itu generik, standard, antara satu dan yang lain nggak ada  perbedaan yang ‘wah’. Paling-paling beda jeroan atau jenis. Kemarin kita sempat kenal netbook untuk kerja ringan, atau ultrabook yang super tipis dan anggun. Tapi masing-masing bawa kompromi dan tetap saja laptop. Baru sejak Windows 8, mendadak laptop jadi bisa menarik lagi. Dirancang untuk bisa dipakai sebagai laptop maupun tablet, Windows 8 akhirnya membuat laptop jadi punya bentuk baru yang lebih beragam. Dan sekarang saya baru mengalami punya laptop yang bikin orang-orang melirik dan bertanya karena tertarik, namanya Acer Aspire P3, jenis Hybrid Ultrabook.

Hybrid Ultrabook, Binatang Apaan Lagi Tuh?

Image

Ultrabook & Tablet, Hybrid!

Biar nggak pusing dengan istilah teknologi, untunk gampangnya Acer Aspire P3 ini adalah gabungan antara laptop ringan dan tipis, dan tablet. Sebagai laptop, kemampuan dan spesifikasinya bukan kelas ringan. Nggak ada kompromi nanggung seperti jaman netbook, otak Aspire P3 adalah prosesor Intel i5. Sementara secara ukuran tetap relatif kecil, dan bisa bekerja sebagai tablet. Iya, tablet, layar sentuh. Kalau sudah pakai Windows 8 pasti tahu bahwa semua dirancang untuk bisa dipakai dengan layar sentuh. Acer Aspire P3 bisa dilepas dari keyboard dan dudukannya, dan jadi tablet Windows 8 yang ringan namun kuat.

Fashionable, Capable.

Beneran, baru kali ini ngerasain pakai laptop yang ternyata selalu menarik perhatian orang sekitar. Gimana nggak. Acer merancang Aspire P3 ini cukup fashionable. Ketimbang bentuk laptop biasa yang sudah ketebak, Aspire P3 sekilas kelihatan seperti tablet yang dibungkus jaket cover, atau bahkan sebuah buku catatan. Bagian luar dibalut dengan bahan semacam vinyl yang bertekstur mirip kulit sintetis, dengan warna hitam. Beneran sama sekali nggak kayak laptop. Saking stylishnya, kalau memungkinkan, saya sebetulnya lebih senang bawa-bawa si P3 ini tanpa tas, supaya lebih kelihatan. Iya, saya memang suka pamer kalau punya mainan keren dan unik.

Image

Stylish, lebih kelihatan kayak buku atau tablet ketimbang laptop.

Di balik kulit luarnya, Acer Aspire P3 terdiri dari dua bagian. Keyboard bluetooth sekaligus dudukan yang melekat pada cover, dan layar yang bisa dilepas menjadi tablet. Semua otak komputer ada di bagian tabletnya, Sebenarnya bingung sih, ini layar laptop yang bisa dilepas dan jadi tablet, atau tablet yang dipasangi keyboar dan jadi laptop? Nggak penting juga, yang penting bisa jadi dua-duanya. Nah kalau luarnya warna hitam, bagian dalam Aspire P3 didominasi warna silver yang kelihatan sangat elegan.

Selamat Datang, Touchscreen. Selamat Tinggal, Trackpad!

Image

Layar sentuh dan keyboard, nggak perlu trackpad.

Nggak ada trackpad di Acer Aspire P3. Yup, ini salah satu keunikan yang bikin banyak orang bertanya-tanya waktu pertama lihat. “Lho, ini nggak ada trekped nya ya, Ray?” Windows 8 yang dirancang bisa dipakai layaknya tablet, memungkinkan kita meniadakan trackpad karena semua bisa dilakukan langsung dengan menyentuh layar. Ribet dong? Nggak. Beneran. Mungkin nanti akan kaget betapa memakai Windows 8 dengan layar sentuh tanpa trackpad terasa natural.

Image

Dalam posisi duduk, layar si Aspire P3 ini letaknya menempel dengan tepi atas keyboard, jadi tangan kita sudah dekat sekali dengan layar. Tinggal angkat jari pun tersentuh, tangan nggak perlu menjulur sama sekali. Menyentuh layar bahkan terasa cukup natural, buktinya, sejak pakai si P3 ini, kalau kebetulan megang laptop atau komputer lain bawaannya mau nyentuh layar untuk nekan tombol. Sama seperti trackpad, touchscreen pastinya bukan cara ideal untuk operasi yang butuh akurasi seperti di aplikasi grafis atau editing foto. Untuk operasi yang panjang dan butuh akurasi, kita pastinya tetap bisa pakai mouse di P3 ini. Walau mungkin bukan yang pertama, ini tetap langkah yang cukup berani, dan mungkin ke depannya akan makin banyak hybrid yang meniadakan trackpad.

Feature & Power

2 tahun saya kerja cukup pakai netbook Acer. Saya udah niatin, kalau punya laptop satu lagi harus laptop yang kemampuan penuh, Windows 8, dan touchscreen. Ternyata ya, sekarang itu jeroan laptop udah bisa muat dalam bentuk tablet setipis dan ringan. Nggak lagi pakai nanggung ala era netbook.

Image

Fitur lengkap Aspire P3

Teknis dikit bentar nggak apa-apa ya, tapi seperti biasa nggak akan terlalu bahas ribet angka. Intinya, nggak usah khawatir akan kemampuan makhluk setengah tablet dan setengah ultrabook ini. Otaknya pakai Intel i5, prosesor serius, bukan macam Intel Atom yang, anu, pemalu. Cepat, nggak kenal lemot. Makin terasa kencangnya lagi karena hard disknya pakai yang namanya SSD yang lebih cepat daripada hard disk laptop biasa.

Image

Sound dengan Dolby Home Theater

Image

Tombol volume, power dan colokan headphone.

Image

HDMI dan USB 3.0

Colokan USB? Ada dong, dan udah USB 3.0 yang jauh lebih cepat, tentunya kalau disambung ke alat yang juga USB 3.0 ya. Mau tancap ke layar besar, Aspire P3 sudah ada colokan HDMI. Mau presentasi pakai proyektor (anak kantor bilangnya, ‘InFocus’, padahal itu merk) juga bisa, dalam kemasannya Acer sudah ngasih adapter dari HDMI ke VGA. Nggak perlu repot beli lagi. WiFi, Bluetooth, webcam HD, sudah pasti. Semua ini di bagian layar atau tablet nya. Keyboardnya ya keyboard aja.

Image

Keyboard fullsize, besar dan lapang.

Nah, bicara soal keyboard, pengalaman pertama makai P3 jadi lucu. Saking udah lama kebiasa kerja pakai keyboard ukuran netbook yang rada kecilan, pas makai si P3 jadi agak kagok. Kenapa? Karena keyboard Aspire P3 besar. Walau sekilas Aspire P3 kelihatan kecil, keyboardnya full size. Jarak pemisah antara tuts sangat jelas, nggak berdempetan. Satu lagi keunikan keyboard Aspire P3, walaupun secara fisik, menekan tuts nya terasa cukup masuk. Kirain keyboard setipis gitu bakal kayak ngetik di kayu, tapi ternyata masih sangat terasa normal, jarak tekan dan pantul balik tuts nyaman dan natural. Keyboard ini terhubung dengan Bluetooth dan punya batere sendiri di dalamnya. Jadi, harus dicharge juga kalau lampu indikatornya menyala kuning. Chargenya gampang, cuma ngambungin USB ke tabletnya, dengan kabel pendek yang disediakan Acer di kemasan.

Image

Tombol power dan colokan micro USB untuk charge keyboard.

Layar sentuh Aspire P3 cukup responsif dan multitouch, bisa merespon 10 titik sekaligus. Resolusinya pun sudah standard. Brightness nya lumayan oke, di tempat terang masih lumayan ‘ngelawan’. Ini penting sih buat saya yang kadang bawa dia ke lokasi outdoor kalau kerjaan motret atau syuting video. Sudut pandang cukup lebar, jadi nggak mesti lempeng amat depan P3 untuk ngelihat jelas. Tapi ya baek-baek ya kalau buka yang nakal-nakal, gampang keintip dari samping.

Nyaris Lupa, Kameranya Ada Dua.

Bukan cuma webcam! Haha! Lupa! Saking jarang dilepas dari dudukannya, terus terang saya nggak inget kalau Aspire P3 ini punya dua kamera. Selain webcam HD yang menghadap ke kita, di punggungnya ada kamera utama, resolusinya 5 megapixel.

Image

Kamera utama di punggung P3, resolusi 5 megapixel.

Berhubung saya bukan golongan yang hobi motret pakai tablet nan besar ya, jadi belum nyoba. Tapi seenggaknya, nice to know bahwa Acer cukup melengkapi fitur P3. Kalau sampai perlu, ada kamera 5 megapixel di punggung Aspire P3.

Pengalaman Baru

Setelah sekian lama kenal Windows, akhirnya ada juga perubahan yang segar. Mulai dari tampilan sampai cara pakai, berbeda banget dari yang dulu kita kenal. Dirancang untuk bisa dipakai dengan sentuhan, Windows 8 akan semakin terasa kecanggihannya di komputer yang menggunakan touchscreen, apalagi bisa dilepas menjadi tablet. Serba bisa. Ini pengalaman yang saya dapatkan dari memakai Aspire P3, komputer yang serba bisa, lebih modern, fleksibel, praktis juga bertenaga. Sebulan memakai P3, saya jadi merasa bahwa memang komputer seharusnya sudah berubah jadi seperti ini.

Image

Windows 8, Ultrabook, Tablet. Semau kita.

Saya belum menjajal P3 untuk kerja berat seperti video editing dengan Adobe Premiere, karena memang saya nggak ngedit di laptop. Tapi untuk kebutuhan kerja saya, P3 jadi alat bantu yang menyenangkan. Contoh pemakaian yang unik misalnya syuting video testimoni atau presenter, P3 bisa dilepas jadi bentuk tablet dan menjadi alat bantu baca teks. Di depan sang presenter, P3 menjadi semacam teleprompter.

Salah satu dari Aspire P3 yang mengesankan buat saya adalah kecepatan start-nya. Cuma beberapa detik, nggak pakai nunggu lama. Cepatnya ini lebih kayak tablet ketimbang laptop, yang begitu dibuka langsung instan nyala. Awalnya, kirain ini karena si P3 dalam posisi sleep, jadi ngebanguninnya cepat, karena itu saya coba shutdown aja. Sekalian ngirit batere. Ternyata dari posisi shutdown pun sama cepatnya, begitu buka, cuma beberapa detik langsung siap kerja. Nice!

Walau menyenangkan dan natural, memakai touchscreen ketimbang trackpad memang perlu membiasakan diri dulu. Ada beberapa action seperti klik kanan yang kemudian diganti menjadi sentuhan lama (nih istilah rasanya salah ya). Jadi untuk mengeluarkan menu, sentuh dan tahan sampai menu keluar. Dan sama seperti untuk semua laptop ataupun komputer saya, untuk yang perlu akurasi, saya tetap pakai mouse. Wireless, pastinya.

Image

Acer Aspire P3, sisi belakang tablet.

Sebagai benda yang bentuknya tipis, power Aspire P3 cukup mengesankan saya. Kombinasi otak Intel i5 dan storage SSD yang cepat memang sangat cepat. Belum pernah merasakan slow-down atau menunggu. Nggak ada istilah lemot. Untuk playback beberapa video full HD pun si P3 jalan tanpa ragu. Untuk kerjaan saya yang seputaran foto dan video, kekuatan ini sangat membantu. Dalam pengalaman saya makai P3 sebulanan lebih, kalau dalam pemakaian penuh, baterenya kuat sampai 5 jam lebih. Nggak wah, tapi kalau bisa, pengennya bisa lebih.

Image

Playback video HDnya mulus, jadi saya pakai buat preview kalau syuting.

Pengalaman penting nggak penting yang unik adalah bagaimana ke manapun bawa si Aspire P3 ini, yang pertama melihat pasti penasaran. Dan nggak jarang pula jadi tertarik. Ini bukan hal kecil lho. Kapan terakhir ada laptop yang bentuknya bikin penasaran? Biasanya kita lihat laptop ya melengos aja, laptop ya laptop. Tapi dari pengalaman saya melihat respon orang-orang sekitar, sepertinya Acer cukup berhasil membuat desain yang menarik.

Kalau Ada Yang Bisa Saya Ubah Dari Aspire P3…

Nggak ada yang sempurna, dan semenyenangkan apapun suatu perangkat, pasti ada yang bisa dibuat lebih baik. Kalau ada beberapa hal yang pengen saya ubah di Acer Aspire P3, pertama adalah membuatnya lebih ringan. Dalam bentuk tabletnya, Aspire P3 sangat enteng di tangan, tapi ketika menyatu dengan keyboard dan casenya, bobotnya jadi seperti laptop. Pengennya, apalagi dengan label ‘Ultrabook’, mestinya si P3 ini bisa lebih ringan sedikit lagi.

Kedua, daya tahan batere. Tapi ini bakal jadi kompromi dengan bobot, kalau batere dibuat lebih besar pastinya bakal nambah bobot kan? Ngelunjak nggak kalau saya pengen stamina batere 8-9 jam? Mungkin, tapi bisa jadi di generasi berikutnya ini bisa diwujudkan.

Layar sentuh P3 masih belum yang kebal minyak dan sidik jari. Rasanya ini juga kompromi, bisa aja Acer ngasih layar yang lebih kebal sidik jari, tapi kebayang bakal pengaruh ke harga. Mungkin solusinya nyari pelindung layar yang fingerprint-resistant.

Ada satu yang penting nggak penting sih, yaitu jaket atau keyboard-covernya. Cantik, keren, stylish, eksklusif, tapi di tangan saya bahannya agak cepat kotor dan membersihkannya agak susah. Nggak fatal, tapi ya saya senengnya tetep kinclong. Cara melepas tablet dari dudukannya juga agak serem, butuh dicongkel pakai kuku. Tapi di sisi lainnya, ini menjamin tablet nggak akan bisa lepas sendiri. Pengennya di generasi berikutnya dibuatkan yang lebih mudah tapi tetap aman. Dan walau ketika posisi berdiri, layar P3 duduknya sangat mantap dan nggak akan bisa bergeser, namun ketika terlipat, nggak ada yang ‘nyeklek’ atau apalah supaya dia nggak meleset.

Oh satu lagi ding. Card reader. Pengennya udah ada card reader-nya. Apalagi kerjaan saya banyak berkutat dengan SD Card.

Pada Akhirnya

Kalau sedang mencari-cari laptop baru, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook ini layak dilirik. Apalagi kalau baru akan upgrade ke Windows 8. Kemampuannya menjadi Ultrabook dengan prosesor berkekuatan penuh, digabung flesibilitasnya untuk menjadi tablet layar sentuh yang ringan dan praktis, membuat Aspire P3 jadi pengalaman bekerja yang baru dan modern. Ditambah lagi, Acer memberi bandrol harga yang sangat kompetitif untuk Aspire P3.

Image

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook – Tablet Mode

Apakah ini pilihan terbaik buat kamu? Ya tentunya kembali tergantung pada kebutuhan kerja juga budget. Setiap orang punya kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Paling tidak, dengan Aspire P3, Acer memberi kita satu lagi pilihan yang sangat menarik untuk jadi perangkat kerja utama. Saya sendiri sangat menikmati pengalaman berkomputer yang baru dan lebih modern dengan Aspire P3.

Untuk yang ingin tahu spesifikasi teknis lebih detail, dapat kunjungi link Acer ini.

Iklan

Acer Liquid E: Smartphone Android ‘Cair’ yang Bikin Naksir

*image from Acer website

Kayaknya semua teman-teman sekeliling saya sudah pakai smartphone, tinggal saya aja yang masih pakai ”hape bego”. Memang saya bukan tipe yang suka dengan hape mahal, apalagi kalau cuma jadi korban mode, tapi makin hari makin jelas bahwa smartphone yang bisa dipasangi macam-macam aplikasi sudah punya fungsi nyata dan bukan sekedar mode. Dari semua yang ada, smartphone berbasis Android menarik saya karena banyak pilihan merk & tipe, tapi selama ini nyoba-nyoba belum ada yang bikin kepincut. Entah keren banget tapi jadinya kemahalan, atau terjangkau banget tapi performanya keteteran. Nah, kemaren ini saya baru nyoba smartphone Android buatan Acer yang sepertinya menjanjikan, namanya Liquid E.

Pertama, saya penasaran pengen tahu kayak apa sih Acer yang jagoan komputer bikin handphone? Laptop & netbook Acer sudah jelas megang pasar di sini, tapi bisa nggak merancang handphone? Saya nggak sempat ke pameran komputer kemarin, tapi untung ternyata ada temannya teman yang sudah beli Acer Liquid E. Saya sempat dikasih nyoba-nyoba ngelus-elus sebentar. Kesan pertama melihat langsung bentuknya, istilah yang kepikir di kepala adalah ”IT banget”. Di mata saya, dibalik garis dan lekuk minimalisnya terasa sekali bahwa Acer aslinya adalah pembuat komputer. Ibaratnya, kalau diletakkan disamping laptop atau netbook, Liquid E terlihat seperti saudara. Body atau casingnya terasa plasticky, tipis dan ringan. Enath untuk menekan harga atau apa, tapi saya percaya Acer sudah perhitungkan kekuatannya. Ukurannya pas, dan rasanya sebesar handset Android kelas atas lainnya. Nggak terlalu tebal tapi juga nggak terlalu tipis, ini menurut saya justru pas karena kalau hape touchscreen terlalu tipis saya megangnya  kurang nyaman. Tapi intinya, selain nyaman, untuk yang nggak suka terlihat ’pasaran’, soal bentuk memang Liquid E tampil beda apalagi dengan warna hitamnya.

*image from Acer website

Kesan yang paling nendang pertama sih terus terang di displaynya yang bukan cuma besar tapi juga tajem banget! Layar 3.5 inci dan resolusi 400×800 memang bikin kepincut. Berasa banget mewahnya karena tampilan tajam dan kemampuannya menampilkan 256 ribu warna membuat display enak dilihat, seperti smartphone yang harganya jauh diatasnya. Tapi karena belum lama ini pernah nyobain Android merk lain yang murmer dengan touchscreen yang nggak responsif, yang saya antisipasi adalah touch screennya. Langsung saja tes swipe dilayar menggeser menu shortcut, dan ternyata nggak ada rasa telat atau lagging. Respon pada sentuhan terasa normal, cepat dan natural. Saya pun berlanjut utak atik menjajal touchcreennya untuk aplikasi yang ada, rasanya oke aja. Jadi, dari sisi display dan touchscreen Liquid E menurut saya termasuk bagus dan memuaskan. Di bawah layar ada 4 ikon touchpad, fungsinya untuk jadi shortcut ke home, search, back & setting. Praktis, cuma agak gampang kesenggol sama jari saya yang gede. Mungkin karena saya belum biasa aja ya.

*image from GSMarena.com

Navigasi di Liquid E luwes saja, sebagaimana layaknya apa yang kita harapkan dari smartphone kelas ini. Utak-atik berlanjut, melihat-lihat aplikasi yang ada di Liquid E ini. Berhubung teman saya ini baru beli, dia belum sempat nambah aplikasi dari Android Market. Buat yang masih doyan Facebook, pastinya Liquid E sudah siap, dan untuk Twitter juga sudah ada app Twidroid. Soal multimedia dan game, Liquid E pun cukup mumpuni tapi saya nggak sempat nyoba banyak. Selama mencoba-coba, nggak terasa lambat atau berat, padahal saya sempat khawatir Android Eclair akan berat untuk prosesor si Liquid E. Nyatanya, cair saja. Katanya, pemilihan prosesor yang dibawah 1gHz ini untuk mengirit batere. Untuk itu mesti punya dulu, baru bisa tahu ya. So far, so good.

*image from Acer website

Yang paling pengen saya coba dari smartphone ini adalah internetnya, dan browsing pakai Liquid E juga terasa cukup cair dan alami. Ukuran layar untuk ukuran handheld cukup royal, dan orientasinya pastinya otomatis berubah sesuai kita memegang handset. Saya lupa teman saya ini pakai provider apa, tapi pastinya kecepatannya lebih dari cukup untuk saya. Seperti biasa, tangan saya yang besar selalu butuh waktu untuk membiasakan pakai touchscreen keyboard di semua smartphone. Membuka-buka internet pakai Liquid E ini bikin saya ngelirik ’hape bego’ saya yang walau setia, pastinya nggak bisa seperti ini. Makin betah aja megang si ’cair’ dari Acer ini, tapi bicara ‘megang’, sekali lagi rasanya yang mungkin perlu diperbaiki cuma materi plastiknya.  Next, coba lihat kameranya.

*image from Acer website

Sempet nyobain kameranya sejepret dua jepret, berhubung terang dan semi outdoor, gambar yang didapat kelihatan bagus di display. Kameranya 5 megapixel, tapi nggak pakai flash. Yah untuk kita yang biasa megang kamera beneran, rasanya flash mini di hape memang juga nggak begitu berguna jadi saya nggak begitu peduli. Bicara motret, sayangnya saya sendiri lupa motret si Liquid E ini, jadinya di sini saya pasang foto dari website Acer aja. Nah untuk video recording saya lihat biasa saja, bukan salah satu kelebihan Liquid E. Saya nggak pernah terlalu berharap banyak dari kemampuan rekam video di handphone. Yang lebih penting dari kamera pastinya masalah koneksi, dan untuk itu si cair ini lengkap dari Bluetooth , WiFi sampai HSPA ada. Lebih dari konektivitas, untuk navigasi pun sudah ada GPS. Google map? Sudah pasti, semua siap digunakan berbagai aplikasi Android yang tersedia. Kelengkapan ini menegaskan status Liquid E sebagai smartphone.

*image from Acer website

Sayangnya nggak bisa lama-lama saya nyobain Liquid E manis itu, karena teman saya itu nerima SMS dan mesti pergi. Waktu ada message, saya baru tahu satu fitur yang saya suka. Keren juga, ternyata di atasnya itu ada indikator tersembunyi yang bisa nyala buat nunjukin ada message. Kalo dikantongin entah message, missed call ataupun indikator batere semua langsung kelihatan tanpa mesti dikeluarin. Ide yang sederhana tapi cukup manis! Pengennya sih nggak usah ngembaliin si Liquid E ini.

*image from Acer website

Dari sedikit waktu saya mengelus-elus smartphone ini, saya jadi kepengen. Semua yang saya tulis ini hanya berdasar beberapa menit ngelus-elus si Liquid E ini, sementara sang pemilik nggak berhenti ngoceh tentang macam-macam fitur keren dari mulai Live Wallpaper sampai segala widget dan autoupdate OS apalah yang nggak sempat saya perhatiin. Dia ngomong terus, tapi saya sibuk sendiri aja ngutak-atik sambil ngiler. Yang kepikiran adalah kalau pakai hape bego aja saya sudah bisa aktif di internet, apalagi dengan smartphone seperti Liquid E ini? Tinggal pakai mobile internet yang mumpuni, beres! Semua ada di kantong. Saking fokus ke kemampuan internet, aplikasi, GPS, dan lainnya, jadi lupa satu fitur utama Liquid E, bisa dipakai nelepon! Dan omong-omong, Acer sepertinya nggak mau menyebut si Liquid E sebagai smartphone, tapi disebutnya “smart handheld”. Sepertinya Acer ingin Liquid E ini lebih dianggap komputer genggam ketimbang telepon. Melihat kemampuannya, sah-sah saja.  Teman saya dan Liquid E-nya yang masih kinclong akhirnya pergi, dan saya kembali bersama hape bego saya. Pada akhirnya untuk Acer dan Liquid E nya, saya mau bilang dengan meniru aksen khas Rianti Cartwright, ”Acer Liquid E, kamu keren sekali yaaa… I like it, good job.”.