Menyiasati Wifi Di Ruko 3 Lantai: Router D-Link DWR-116 & Range Extender DAP-1320

Entah kenapa saya selalu berganti merek setiap berganti router, kali ini giliran D-Link. Jaman berlangganan Speedy, LinkSys WRT-54G jadi andalan, lalu ketika memakai SmartFren EVDO, berganti ke TP-Link MR3420. Sejak pakai Bolt!, karena belinya mifi ZTE MF-90, jadi nggak pakai router lagi. Praktis memang, tapi sinyalnya cuma efektif di satu lantai dan lagi, kalau mau nge-print, komputer harus pindah sambungan dari wifi internet ke wifi printer. Untuk bisa meliputi tempat tinggal dan kerja saya yang 3 lantai ini, saya menjajal kombinasi 3G/4G router D-Link DWR-116 di lantai 3, diperkuat dengan penambah jangkauan D-Link DAP-1320 Range Extender di lantai dasar.

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Walau sudah 4G LTE, rancangan router D-Link DWR-116 bisa dibilang old-school classic, persegi standar dengan dua antena di belakangnya. Entah kenapa buat saya pribadi, desain dengan sepasang antena bikin lebih pede bahwa sinyal akan lebih kuat dipancarkan ketimbang model-model ‘cantik’ tanpa antena yang lebih ‘lifestyle’. Tapi ya ini murni sugesti, puas aja ngelihatnya. Di bagian belakang seperti biasa berderet port untuk ethernet, belum gigabit ethernet namun sudah cukup untuk kebanyakan, toh mayoritas pemakai malah belum tentu sambungan ini. Awalnya sempat bingung, lho, mana tancepan USB modemnya? Kok nggak ada? Rupanya ada di atas. Di mukanya hanya ada satu tombol untuk WPS setup. Dalam kemasan disediakan kabel ethernet untuk instalasi, power adaptor, dan user manual. Dirancang untuk USB modem 3G/4G, DWR-116 ini akan menerima sambungan internet Bolt! via modem ZTE MF-825A.

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Setup DWR-116 sederhana saja. Setelah memindahkan kartu Bolt! dari mifi ZTE MF-90 ke USB modem ZTE MF-825, tancap ke port dan nyalakan router. Tadinya, saya mau setup dengan kabel LAN tapi akhirnya malah cukup pakai wifi, bahkan cukup dengan smartphone. Dalam 5 menit saja, aktiflah hotspot baru dengan Bolt! di lantai 3. Untuk cek sinyal wifi, saya pun turun ke bawah dengan Samsung Galaxy S5 dan Note 3 tersambung. Sampai lantai dasar pun, sinyal wifi dari D-Link DWR-116 masih diterima 2/5 bar. Hanya di ruangan pojok dan toilet lantai dasar, yang berada di bawah tangga, sinyal baru hilang. Untuk itulah ada yang namanya range extender, penambah jangkauan.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

Mayoritas rumah tangga modern di Jakarta sudah pakai wifi router, tapi ya begitu, biasanya cuma efektif di satu lantai. Di lantai lain masih ada sinyal, tapi begitu dalam ruangan lagi, lenyap. Solusinya gampang, tapi banyak yang tidak tahu, beli saja wifi range extender. Ibaratnya tower repeater untuk sinyal telepon selular, range extender menerima sinyal wifi yang ada, dan memancarkan ulang dengan kekuatannya sendiri, sehingga jangkauan bertambah. Yang diduetkan di sini adalah D-Link DAP-1320, bendanya hanya seperti adapter yang dicolok ke listrik, hanya ada satu tombol untuk setup. Colokan DAP-1320 memang yang kaki tiga, tinggal pasang adapter untuk cocok ke plug listrik kita.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Menyiapkan range extender ini lebih gampang lagi. Tancapkan ke listrik, tekan tombol WPS di router DWR-116, lalu tekan tombol WPS miliknya sendiri. Tunggu 2-3 menit sampai lampu berhenti berkedip dan menyala hijau konstan, selesai! Range extender tinggal dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan, sesederhana itu. Penting dipahami, range extender akan punya jaringan sendiri, dengan password sendiri, yang beda dengan password wifi utama. Keterangan ini semua ada di petunjuk penggunaan. Pastikan dibaca, jangan seperti saya yang keasyikan sendiri dan tidak sadar bahwa password tertera di sticker di bawah bodi extender.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik, di lantai dasar.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik.

Pada akhirnya, duet 3G/4G router D-Link DWR-116 dan range extender D-Link DAP-1320 efektif membuat sinyal wifi kuat diterima di setiap ruangan di ruko 3 lantai saya. Komputer bisa memakai internet dan wireless printer bersamaan tanpa ribet, hal kecil yang menyenangkan. Kembali memakai router membuat saya jadi berpikir untuk lebih jauh membuat personal cloud storage di rumah. Upgrade ke router yang menggunakan gigabit ethernet dan 802.11AC, lalu sambungkan ke external hard disk yang cloud-ready? Belum lagi sekarang bisa menggunakan jalur listrik rumah sebagai jalur data untuk range extender, seru sekali. Ah, yang namanya hobi memang nggak ada puasnya.

Terima kasih, sudah mampir. Untuk spesifikasi teknis router D-Link DWR-116 dan informasi kompatibilitas modem, silakan klik di sini sementara untuk Wireless Range Extender D-Link DAP-1320, klik di sini.

Iklan

JalanRaya: Sirkus Naga di Qualcomm Uplinq 2013 San Diego

Halo, San Diego!

Halo, San Diego!

Langit cerah, matahari bersinar terang, namun udara begitu sejuk. San Diego seperti menyambut dan menyegarkan kembali tubuh yang lelah dari 18 jam penerbangan. Kami sengaja nggak langsung mengambil taksi ke Hilton Bayfront hotel, di mana Qualcomm Uplinq 2013 diadakan.

“Ngerokok bntar yak.”, kata Harry,

“Hayuk lah, duduk-duduk dulu di luar.”

Beli minuman dan cemilan, kami pun duduk di smoking point luar terminal komuter bandara. Melepas lelah sambil melihat lansekap kota yang menjadi rumah dari Qualcomm, produsen teknologi 3G dan 4G terbesar dunia. Jika punya gadget 3G, hampir pasti di dalamnya ada teknologi Qualcomm. Entah itu paten, komponen, ataupun jagoannya, prosesor SnapDragon.

San Diego Hilton Bayfront, venue untuk Qualcomm Uplinq 2013

San Diego Hilton Bayfront, di sinilah venue Uplinq 2013

10 menit kemudian kami sudah dalam taksi menuju venue Uplinq 2013. Kaca dibuka sepanjang perjalanan menyusuri daerah bayfront, melewati museum kapal induk Midway dan marina.

“Seger juga ya, ngantor di daerah sini. Gue sih mau.”

“You wish.”

Siapa yang nggak pengen. Kami tiba di hotel, dan setelah mencari makan malam di luar, saatnya beristirahat karena esok pagi Qualcomm Uplinq 2013 dimulai.

 

Iron Man, Star Trek, dan 6th Sense

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

Pendaftaran kartu ID untuk media & analis

“Bapak mau pakai Gimbal? Ini teknologi baru kami, jadi bisa otomatis tercheck-in di venue dan lokasi-lokasi event ini.”

“Uhm, okay.”.

Baru dari pembuatan kartu peserta saja sudah berbau teknologi. Yang menjadi acara utama di pagi pertama Uplinq 2013 adalah keynote presentation dari Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc. Dibuka dengan aksi dua DJ yang menghentak beat rave dengan gadget berotak SnapDragon, Jacobs memresentasikan beberapa teknologi baru Qualcomm.

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Paul Jacobs, CEO Qualcomm Inc membuka keynote nya di Uplinq 2013

Pertama adalah Gimbal, teknologi yang memungkinkan kita otomatis ter-check in di lokasi dan mendapatkan konten yang konteksnya sesuai di smartphone kita. Qualcomm menekankan, mereka mengutamakan privasi dalam merancang teknologi yang sadar-lokasi ini. Menarik juga!

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Gimbal, teknologi baru dari Qualcomm.

Segera setelah pembukaan, kita diperkenalkan akan yang namanya Vuforia Smart Terrain. Cukup bermodal kamera pada device, bisa mengubah meja dan lingkungan kecil menjadi alam game yang hidup, dalam tiga dimensi. Rasanya teknologi komputer holographic ala film Iron Man perlahan jadi kenyataan, ini bisa dilihat langsung di demo videonya.

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Demo Vuforia Smart Terrain, mengubah meja kopi jadi dunia game 3D!

Berlanjut ke seputar musik, Qualcomm mengembangkan AllJoyn AllPlay, yang nantinya bisa dicangkokkan pembuat sound system ke dalam speaker-speakernya supaya memudahkan playback musik di banyak tempat, cukup dari smartphone. Moment berkesan pertama adalah waktu Paul Jacobs memresentasikn 2net, teknologi jaringan yang dirancang khusus untuk keperluan medis.

“Siapa di sini yang tahu Tricorder dari film seri Star Trek?”

Aha, tahu! Sejumlah audiens di ruang konvensi mengacungkan tangan, pastinya saya ikut.

“Kalau nggak tahu Tricorder, mestinya kalian nggak cocok di sini.”, lanjut Paul.

Semua pun tertawa. Memang event Uplinq yang utamanya untuk pengembang aplikasi mobile ini agak ‘geeky’, tapi yang menarik dari moment ini adalah pemaparan Jacobs bahwa Qualcomm turut dalam upaya mewujudkan alat diagnosa medis genggam ala Tricorder, yang dikhayalkan Star Trek. Mungkin kita memang sudah hidup di masa depan. Berikutnya adalah kejutan besar, pengumuman ‘Toq’, smartwatch buatan Qualcomm.

Qualcomm 'Toq', smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Qualcomm ‘Toq’, smartwatch dengan teknologi layar Mirasol

Lebih sebagai upaya meramaikan dan memeragakan teknologi, layar Qualcomm Toq menggunakan teknologi Mirasol. Ini memungkinkan layar selalu menyala tanpa boros batere, dan dapat dilihat jelas di terik matahari. Sebuah ‘Oprah moment’ ala industri teknologi pun membuat ruang konvensi riuh ketika Jacobs mengumumkan,

“Semua yang hadir di sini akan mendapatkan voucher untuk mendapatkan satu smartwatch Qualcomm Toq!”.

Audiens pun menyambut. Tapi, ini hanya untuk semua peserta developer dari AS. Keynote berlanjut dengan topik  SnapDragon yang cukup membuka mata. Siapa yang tahu kalau sampai saat ini kemampuan grafis prosesor ini baru termanfaatkan sekitar 50-an persen?

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Indera ke 6 digital: ketersambungan antar semua.

Satu istilah yang melekat di otak dari presentasi Paul Jacobs, “Digital 6th Sense”. Di masa depan yang tidak begitu jauh, peranti mobile akan mendominasi mengalahkan komputer dan kita akan mengenal “The Internet of Everything”, semua peranti akan saling terhubung. Bayangkan kalau dari mesin cuci, kulkas, TV sampai lampu semua sudah ‘smart’, bukan sekedar dapat dikendalikan dan dimonitor via peranti mobile namun dapat saling berkomunikasi di latar belakang. Teknologi akan bekerja layaknya indera ke 6, sudah mengetahui lebih dahulu apa yang kita butuhkan dan akan lakukan, sebelum kita sendiri.

 

Sirkus ‘Naga’ SnapDragon

Sebenarnya sih, Uplinq ini event untuk para mobile developer. Itu lho, pengembang aplikasi mobile, orang-orang yang bikin app maupun hardware tambahan yang kita pakai. Tujuannya memperlihatkan, sebetulnya sejauh mana mereka bisa memanfaatkan kekuatan teknologi Qualcomm dan membantu mencapainya. Tapi, bukan berarti nggak ada tontonan menarik. Justru pameran inovasi Qualcomm dan SnapDragon nya yang benar-benar menarik buat kita yang relatif awam. Setengah hari kedua saya habiskan di lantai ruang pameran inovasi teknologi mobile Qualcomm, dan melihat seberapa ‘gila’ kemampuan prosesor SnapDragon.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Pameran inovasi teknologi Qualcomm dan SnapDragon nya.

Deretan smartphone tercanggih dari Samsung, HTC, LG, Nokia, Sony, Motorola, semuanya pakai ‘otak’ prosesor SnapDragon buatan Qualcomm. Dan walau bukan orang yang selalu gonta-ganti gadget, rasanya sudah tahu lah kemampuan peranti mobile pintar jaman sekarang.

“Ah, udah tahulah apa aja kemampuan gadget sekarang.”

“Yakin?”

Sepertinya saya belum segitu tahunya. Baca berita teknologi, punya satu-dua gadget, dengar ini-itu, nggak ada bandingannya dengan melihat sendiri. Seperti pertama ketika didemonstrasi’in bagaimana tablet dan smartphone berprosesor SnapDragon bisa menampilkan game dengan keren di layar TV besar.

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Kemampuan grafis SnapDragon di layar besar mulai mengejar kemampuan game console

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Pamer kemampuan SnapDragon menampilkan animasi 3D realtime.

Puas bertanya-tanya tentang kemampuan untuk game, kesimpulannya, kemampuan grafis peranti mobile mulai mengejar kemampuan videogame console generasi kini. Gila! Berikutnya saya ke salah satu pojok, karena ada koki yang sedang menghias kue.

“Lho, ini demo masak?”

“Ini peragaan kemampuan kamera 4K gadget yang pakai SnapDragon”.

Tepok jidat dalam hati, nggak melihat papan merah besar yang menuliskan itu semua. Tapi apa sih 4K? Baru-baru ini Acer dan Samsung meluncurkan hape yang kameranya bisa merekam video 4K, artinya resolusinya adalah 4 kalinya HD! Dan nggak tanggung-tanggung, dipamerkan bagaimana rekaman live dari gadget langsung ditayangkan di monitor besar beresolusi 4K!

Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

, Dengan prosesor SnapDragon S800, kamera smartphone bisa merekam 4K, resolusi dua kali HD!

Cukup mengesankan, karena kita bukan cuma melihat di layar kecil. Percuma juga memang misalnya resolusi 4K yang jauh lebih rapat daripada HD cuma didemonstrasikan di layar gadget yang maksimal cuma HD. Tapi satu hal kepikiran, jadi berkomentar.

“Bagus sekali, sayang ya, kita belum ada yang pakai TV 4K. Jadi nggak akan kepakai maksimal.”

“Tapi harga TV 4K sudah mulai turun lho, yang tadinya $5000 sekarang sudah dapat $1500.”

Betul sih, tapi saat ini kegunaan merekam di resolusi setinggi itu rasanya masih sekedar supaya nanti di masa depan video-video kita masih cukup tajam ketika semua layar sudah 4K. Di tengah ruang konvensi, ada mockup dapur. Ketika bergegas ke sana, rupanya sedang didemonstrasikan teknologi AllPlay-AllJoyn.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Internet of Everything. Jejaring antar apa saja. Di sini diperagakan teknologi AllPlay.

Lumayan lah, nggak terlalu wah amat. Peragaan bagaimana bisa memutar musik di speaker berbagai ruang di rumah cukup dari satu gadget kita. Yang menarik justru penempatan berbagai device yang berkaitan dengan kegiatan dapur. Ah, mungkin ini bagian dari The Internet of Everything? Berikutnya, saya dan rekan ditarik oleh satu pemandu di sana.

“Mau lihat demo sound system home theater kami? 5 menit aja, saya jamin worth it!”, katanya bersemangat.

“Ah, oke, why not?”

Setelah menunggu sebentar, kami dipersilakan masuk ke satu ruangan home theater mini,

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem suara 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Home theater resolusi 4K dengan soundsystem 11.1 speaker, cukup dengan device SnapDragon saja!

Pertama, diputarkan klip HD dari film Transformers: Dark of The Moon, kemudian berganti klip video 4K yang super tajam. Keduanya dengan tata suara Dolby 7.1, 7 speaker dan satu subwoofer. Semua itu diputar hanya dengan tablet ber-SnapDragon! Lalu, kami diberikan headphone dan diputarkan sebuah klip dari game, dan kami bisa merasakan tata suara 7.1 speaker tadi cukup dengan headphone! Kita tahu dari mana arah suara dalam adegan, entah depan, belakang atau samping!

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Connected Car, juga didukung teknologi Qualcomm

Saking banyaknya yang menarik di lihat, siang itu saya makan siang di tengah ruang pameran. Rasanya, pengen bisa meliput semuanya, karena memang hampir semua ada di sana. Dari ruang keluarga, dapur, sampai mobil, semua sudah tersentuh teknologi mobile Qualcomm dan juga prosesornya, SnapDragon.

 

Party Time, Until Next Time.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Jalanan ditutup untuk acara pesta penutupan.

Hari terakhir ditutup dengan “Q on Fifth”, pesta yang diadakan di kawasan terkenal San Diego, GasLamp Quarter. Pada malam itu, jalanan 5th Avene ditutup khusus untuk closing party Qualcomm, yang diantaranya menghadirkan penampilan grup musik The Fray. Kedengarannya menyenangkan sekali, tapi sayangnya terpaksa dilewatkan. Setelah keseluruhan acara Uplinq hari terakhir selesai, saya sudah harus berkemas karena mengejar penerbangan ke New York.

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Malam hari di Gaslamp Quarter. Sampai jumpa lagi, San Diego!

Terima kasih pada Qualcomm yang telah mengundang, menyediakan transportasi dan akomodasi saya di Uplinq 2013. Dalam hanya dua hari, saya melihat dan belajar begitu banyak hal di sebuah event teknologi besar. Kita memang sudah hidup di masa depan. Selamat tinggal, San Diego. Semoga kita berjumpa lagi!