JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

Iklan

JalanRaya: Mobil Pintar Ala Ford di Computex 2014 Taipei

image

Bayangkan, di suatu hari, di masa depan yang tidak terlalu jauh. Kita masuk ke mobil, taruh smartphone atau tablet di jok, dan tinggal mengemudi tanpa harus mengutak-atik peranti genggam lagi. App yang sedang jalan secara langsung bisa dikendalikan dibantu sistem yang disediakan mobil. Nggak lagi harus atur koneksi Bluetooth atau wifi dulu untuk dengar musik, nggak lagi mesti repot buka aplikasi lokasi untuk cari arah ke tujuan.

image

Begitu masuk mobil, aplikasi di peranti genggam terhubung dengan mobil, yang dikendalikan cukup dengan suara. Ketika mengemudi pun mobil langsung secara aktif mengawasi performa mesin dan juga kondisi lalu lintas, jika ada yang berhenti mendadak di depan, atau yang akan memotong kita di perempatan, sistem akan memberi peringatan dini dan menyiapkan tenaga pada rem. Bukan mobil robot, semua kendali masih di tangan kita yang mengemudi, namun sistem pintar bawaan mobil mempermudah dan membuat lebih aman semuanya.

AppLink, Jembatan Pengemudi ke Peranti

image

Kedengaran menarik? Buat saya, sangat menarik. Ini sekelumit gambaran visi Ford akan mobil pintar, yang dihadirkan dalam pamerannya di Computex 2014, Taipei. Kesemua teknologi di atas sudah ada, namun belum semua diterapkan secara penuh. Ada yang sudah mulai jadi fitur sejak setahun lalu, dan ada yang masih eksperimen. Bagian pertama dari skenario di atas sudah diwujudkan Ford lewat fitur AppLink dan SYNC yang diusung di beberapa model seperti Fiesta dan EcoSport. Dalam kesempatan undangan media dari Ford ke Computex 2014, saya dan beberapa rekan jurnalis mendapat kesempatan melihatnya langsung dalam peragaan eksklusif.

image

Kesan pertama, menjanjikan. Ketimbang, katakanlah, membuat sistem komputer personal sendiri dalam mobil, AppLink sekedar menjadi penghubung antara kita pengemudi, dan aplikasi yang berjalan di peranti genggam. Dalam sebuah Ford EcoSport, diperagakan bagaimana tanpa repot pengemudi langsung dapat mengendalikan app music streaming Pandora cukup dengan perintah bicara.

image

Akur dengan peranti iOS, Android dan Blackberry versi tertentu, nantinya pengembang aplikasi diharapkan juga bisa membenamkan fungsi yang bisa memanfaatkan AppLink dari Ford ini. Bukan hal baru, AppLink ini sudah dimulai sejak 2011 namun di Computex ini yang diangkat adalah kompatibiltasnya dengan beberapa app dan layanan baru. Kapan bisa berfungsi maksimal di Indonesia? Ah, itu yang belum terjawab.

V2V, Komunikasi Antar Kendaraan

Nah, yang baru dan mengesankan adalah teknologi komunikasi antar kendaraan yang dipamerkan Ford dalam demonstrasi hidup di Taipei. Ford Vehicle To Vehicle communications, atau singkatnya V2V, adalah teknologi komunikasi antar kendaraan yang menggunakan koneksi wifi. Kita bisa komunikasi antar mobil dan cuma sesama Ford? Pertanyaan itu yang muncul waktu pertama dengar, dan ternyata sangat keliru.

image

Komunikasi antar kendaraan ini adalah di mana satu mobil dengan yang lainnya saling berhubungan, memberi dan menerima data berkendara. Yang dikomunikasikan antar mobil ini adalah data lokasi, posisi, pergerakan, arah, kecepatan, perhentian. Jadi, mobil saya akan tahu di sekitarnya ada mobil di mana saja, ke arah mana, secepat apa, selambat apa, walau tanpa saya bisa melihat. Gunanya? Untuk peringatan dini, keamanan!

image

Nggak usah muluk mobil tanpa pengemudi seperti bikinan Google, ini masih sepenuhnya dikendalikan kita pengemudi dan jelas sekali berguna mengurangi risiko kecelakaan yang terjadi karena situasi yang tidak terlihat oleh kita.

image

Dalam sebuah Ford Kuga di pelataran parkir depan Miramax di Taipei, beberapa tim media dari Asia Tenggara bergantian merasakan teknologi ini beraksi. Engineer dari Ford memberi penjelasan tentang sistem, lalu mengemudikan mobil ke arah persimpangan yang sisi kanannya tidak terlihat karena terhalang tembok.

image

Tepat menjelang persimpangan, peringatan dini V2V berbunyi membuat pengemudi menginjak rem, selamat dari satu lagi mobil yang ternyata melintas cepat dari balik tembok! Kaget, dan kagum! Jika semua mobil bisa begini, mestinya banyak kecelakaan yang bisa dicegah.

image

Apalah gunanya teknologi V2V ini kalau cuma dimiliki satu merek mobil? Untungnya, teknologi ini menjadi upaya bersama satu konsorsium 8 pabrikan mobil besar dunia, sehingga nantinya menjadi satu platform dasar yang universal. Saat ini memang masih merupakan eksperimen, tapi nantinya pembuat mobil bisa membangun aplikasinya sendiri di atas dasar sistem V2V ini.

Beauty, Beast, Brains. Ford Mustang.

image

Di tengah ribuan perangkat komputer yang dipamerkan di Computex, seperti nyeleneh, Ford memamerkan kembalinya sang legenda yang jadi salah satu ikon otomotif Amerika. Merah menyala dan garang, Ford Mustang 2015 dipamerkan dan mencuri perhatian banyak orang.

image

Dikenal sebagai ‘muscle car’ yang identik dengan tenaga besar dari mesin yang besar juga boros, kali ini Ford mau menunjukkan bahwa Mustang bukan hanya modal otot. Di dalamnya sudah tercangkok sistem komputer yang pintar memonitor dan mengelola performa, juga fitur canggih seperti SYNC, Communications Integrations System, ACC Active Cruise, ‘radar’ Blindspot Detection System yang bisa memberi peringatan dini dan banyak lagi. Sayang, media tidak diberi kesempatan untuk masuk memotret interior Mustang yang didesain bak kokpit pesawat.

image

Waktu kami di Taipei sangat singkat, dengan jadwal yang cukup padat. Andai saja lebih banyak waktu, akan menarik sekali mencoba lebih jauh demonstrasi V2V, apalagi di track yang lebih besar dengan skenario lain. Melihat video tentang teknologi ini, masih banyak skenario praktis yang mestinya bisa didemonstrasikan dengan aman.

image

Pada akhirnya, banyak teknologi menarik dari Ford, namun bagi kita pertanyaannya adalah, kapan bisa hadir dan dimanfaatkan maksimal di Indonesia? Pihak Ford mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu pasar yang penting dan jelas menjadi sasaran mereka. Mengetahui popularitas peranti genggam pintar dan aplikasinya, fitur teknologi Ford diyakini bisa menjadi daya tarik.

Terima kasih pada Ford atas kesempatan menarik ini. Pastinya kita tunggu janjinya untuk menghadirkan fitur teknologinya di model mobil yang dirilis di Indonesia.

JalanRaya: -15° Celsius di Kuala Lumpur bersama Panasonic Econavi

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

“AC yang setengah PK itu cuma ada di Indonesia lho sekarang.”

“Di seluruh dunia nggak ada?”

“Cuma di Indonesia.”

Obrolan makan malam kali ini soal AC, dan saya yang tadinya sibuk dengan nasi, ayam dan udang goreng jadi berhenti sebentar karena pengetahuan baru ini. Mendadak dalam otak muncul wajah ayah saya dengan kalimat khasnya.

“Beli yang setengah PK aja, bang. Cukup lah.”.

Sambil menikmati hidangan, pak Heribertus Ronny, AC Product Manager dari Panasonic bercerita. Ternyata AC 1/2 PK masih diproduksi cuma untuk pasar Indonesia, menyesuaikan daya beli juga kapasitas listrik mayoritas rumah tinggal masyarakatnya. Karena besarnya demand dari Indonesia, tetap diproduksi sementara di belahan dunia lain sudah nggak ada.  Jadi penasaran, pengen langsung pulang dan ngecek AC di rumah berapa PK. Tapi nggak bisa, karena restoran tempat saya makan ini di Kuala Lumpur.

Ngapain di KL? Kali ini saya berkesempatan ikut para wartawan dalam media trip ke PAPAMY, fasilitas pabrik AC Panasonic di Malaysia. Oh, yang suka ngarang lagu anak tahun 90’an itu? Bukan, kalau itu Papa T-Bob. Mendadak jadi kepikir satu hal, dan langsung aja saya bertanya.

“Kenapa nggak di Indonesia aja Panasonic bikin pabriknya?”

“Oh justru kita udah punya pabrik di Indonesia sudah dari tahun 70’an. Bahkan, waktu pabrik-pabrik lain sempat stop operasi waktu krisis, Panasonic tetap jalan.”.

Ah, okelah. Bukan berarti nggak mau bikin di Indonesia, tapi PAPAMY ini memang sudah jadi fasilitas besar yang meliputi riset dan pengembangan untuk regional. Makan malam berlanjut dengan obrolan yang lebih melebar bersama para wartawan, sementara saya menyimak sambil sibuk dengan lauk. Ayam gorengnya agak beda, enak banget. Atau saya aja yang kelaperan, nggak ingat juga. Setengah jam kemudian saya kembali naik bus rombongan menuju hotel, saatnya istirahat sebelum kunjungan besok. Entah kenapa rasanya kayak nggak sedang di luar negeri, beda dengan waktu pertama kali ke KL di tahun 1999.

 

Pabrik Besar AC Pintar

14 tahun lalu saya berkesempatan ke KL untuk mengunjungi fasilitas studio sinetron sebuah rumah produksi Malaysia, kali ini melihat pabrik AC. Beda jauh ya? Sementara film dan TV adalah bagian dari profesi, consumer technology memang topik favorit saya belakangan ini. Sejak era smartphone, rasanya mendadak semua perangkat elektronik bisa, dan harus, jadi smart juga. Dalam media trip ini Panasonic ingin memperkenalkan konsep AC nya yang ‘smart’, yaitu seri Econavi.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Setelah cukup istirahat dan makan pagi, rombongan berangkat dengan bus besar yang nyaman. Definisi macet di KL jauh lebih jinak daripada Jakarta, kami tiba di fasilitas PAPAMY sekitar 40 menit kemudian. Lokasinya agak dipinggiran kota, sepertinya memang distrik industri dan Panasonic mempunyai beberapa fasilitas dan pabrik besar di sana. Bukan cuma untuk AC, tapi juga kulkas dan TV, dan semuanya besar.

Sampai juga di PAPAMY

Sampai juga di PAPAMY

Kami disambut oleh staf bahkan direksi PAPAMY yang kemudian menyajikan presentasi tentang pabrik dan produk AC Panasonic, terutama seri Econavi yang jadi andalannya. Dari sini baru nyadar bahwa AC sekarang bukan sekedar “berapa PK?” apalagi “berapa Watt?”. Ternyata Econavi ini membuktikan bahwa yang namanya AC sudah canggih sekali.

Presentasi PAPAMY & Econavi

Presentasi PAPAMY & Econavi

Bersama teman-teman dari media.

Bersama teman-teman dari media.

Yang saya tahu tentang AC, dari iklan-iklan sejauh ini paling-paling tentang yang namanya “inverter” yang bisa mengirit listrik, atau “plasmacluster”  bisa memperbaiki kualitas udara ruangan. Inverter itu memperlahankan putaran kompresor ketika sedang tidak butuh putaran tinggi, hasilnya pengiritan energi. Dan banyak merek yang sudah pakai inverter ini, entah Samsung, LG, Sharp dan lainnya. Panasonic ingin mengangkat bahwa Econavi buatannya lebih dari sekedar mengirit tenaga dan membersihkan udara, tapi melakukannya dengan sangat pintar.

 

AC Panasonic Econavi: Penghematan Energi Sampai 38%, Plus Pembersihan Udara!

Ini yang jadi fokus media trip Panasonic kali ini, yaitu produk AC Econavi. Dilengkapi beberapa sensor pintarnya, AC Panasonic Econavi mendinginkan ruangan sesuai kebutuhan, dan mengukur bukan sekedar temperatur kamar. Ia akan mendeteksi posisi orang di dalam ruangan, dan membaca mana yang lebih aktif mengeluarkan panas, dan memfokuskan hembusan ke arah itu. Dalam ruangan ada lebih dari satu kelompok orang? Econavi akan mengatur tiupan sesuai prioritas, mana kelompok yang lebih panas. Bukan cuma itu, ketika ruangan ditinggalkan kosong pun Econavi tahu dan menyesuaikan putaran supaya irit tenaga listrik. Begitu orang-orang kembali ke ruangan, dalam sekejap Econavi akan menyesuaikan lagi. Lebih dari sekedar mendeteksi orang, Econavi juga mengukur cahaya jendela dan panasnya, untuk mengatur pendinginan. Berapa besar pengiritan energi yang bisa dicapai? Di model terlengkapnya, Econavi bisa menghemat energi sampai 38%!

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi, sekilas kelihatan biasa banget ya.

Bukan cuma soal mengatur pendinginan dan efisiensi, fitur Nanoe-G nya bisa membersihkan udara di ruangan, bahkan di dalam AC-nya sendiri. Bakteri dan jamur yang ada di permukaan, udara dan filternya sendiri dinon-aktifkan. Sinting. Mendadak AC di rumah jadi seperti peninggalan purbakala.

Panasonic AC XC579PKJ Econavi

Panasonic AC XC579PKJ Econavi, AC pintar ini tampilannya seperti AC biasa saja.

Usai presentasi, ada satu hal yang bikin saya penasaran dan langsung saja saya tanyakan dengan direktur eksekutif PAPAMY. Satu hal yang terlewatkan sebelumnya di sesi tanya-jawab.

“Jadi, teknologi Econavi ini sudah standard untuk semua AC Panasonic kelas menengah dan kelas atasnya?”.

Dengan bangga beliau mengiyakan. Nah, yang pengen saya tanyain itu satu hal aja yang rasanya sih penting.

“Kira-kira kapan Econavi ini jadi fitur standard semua AC Panasonic termasuk tipe termurahnya? Soalnya fitur-fitur efisiensi listriknya justru lebih akan terasa gunanya buat konsumen yang bukan kelas atas.”

Pak direktur yang adalah orang Malaysia keturunan India tersenyum dan menjawab dengan hati-hati.

“Pastinya kita mengarah ke sana, teknologi semakin maju dan semakin terjangkau setiap hari.”.

“Jadi, 5 tahun lagi mungkin?”, tanya saya lagi sambil nyengir. Bapak direktur jadi ketawa karena saya masih ngotot pengen tahu.

“Hahaha, saya belum bisa bilang, sulit mengira-ngira. Tapi jangan khawatir, arah kami ke sana. Kami ingin Econavi ini dapat dinikmati sebanyak mungkin konsumen, dan sudah komitmen Panasonic untuk selalu hadirkan teknologi yang lebih efisien energi dan ramah lingkungan.”.

Ah, paling nggak sudah bisa berharap bahwa suatu saat fitur-fitur Econavi ini akan jadi standard bahkan di AC Panasonic yang paling kecil dan murah. Bapak saya pasti seneng.

 

Panas Dingin di Pabrik AC

Setelah mengobrol sejenak, tiba giliran kelompok saya untuk keliling melihat fasilitas pabrik PAPAMY. Tempat ini besar dan luas, kami benar-benar dibawa untuk melihat semua proses produksi dari awal sampai pengecekan kualitas. Dari gedung ke gedung, di cuaca yang panas hari itu membuat saya keringetan parah dan iseng bilang pada staf yang memandu kami.

“Kok pabrik AC ternyata nggak dingin ya?”

Staf tertawa dengan ramah dan bilang.

“Oh tenang, nanti kita ke ruangan yang suhunya -15° Celsius di fasilitas R&D.”.

Aha! Menarik!

web 20130610_114711

Fasilitas besar ini baru salah satu dari beberapa gedung di PAPAMY

Paling menarik dari semua adalah fasilitas R&D dimana berbagai macam pengujian AC dilakukan oleh Panasonic. Berbagai ruangan dibuat untuk mensimulasikan berbagai lingkungan dan mengukur performa AC. Entah itu bentuk ruangan, suhu sampai dengan sinar matahari bisa disimulasikan. Nggak ada yang dilewatkan. Hal sesederhana suara mesin AC pun diukur dengan standard yang luar biasa akurat dan ketat. Nggak bakal lagi bisa nganggap enteng teknologi AC. Seru sekali melihat fasilitas R&D Panasonic ini, tapi sayangnya, tidak diijinkan mengambil foto di dalam.

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY. Panas euy cuacanya.

Dan di salah satu ruangan ini, saya berkesempatan mencoba, bener nggak sih pintarnya AC Econavi ini. Staf Panasonic menyilakan saya berdiri beberapa meter di hadapan AC Econavi yang menyala.

“Coba bapak geser posisinya, pindah ke sebelah kanan.”.

Oke, saya nurut dan bergerak pindah 3 meter ke kanan, lalu memperhatikan blower AC. Dalam hitungan detik, hembusan udara menyusul ke tempat saya pindah. Betul, blowernya menyesuaikan arah anginnya. Tapi kan saya cuma sendiri, coba saya tanya.

“Ah, betul ya AC nya bisa ikuti posisi saya. Tapi ini kan saya sendiri. Kalau di ruangan ada yang lain, gimana?”.

Staf PAPAMY kemudian mempersilakan 3 rekan wartawan untuk ikut berdiri di hadapan AC, sejajar namun di sisi berlawanan saya. Ia kemudian menjelaskan.

“Kalau ada lebih dari satu orang atau kelompok, sensor Econavi akan membaca dan membagi hembusannya.”.

Betul, sekejap kemudian blower yang tadinya terfokus ke arah saya menjadi bergantian berputar ke kanan dan ke kiri. Kedua posisi jadi didinginkan. Tapi ternyata belum selesai begitu aja, staf PAPAMY kemudian kembali berpaling ke saya.

“Coba bapak bergerak-gerak sedikit.”

Hmm. Bergerak?

“Bergerak sedikit, aja, misalkan jalan di tempat.”, katanya dengan ramah.

Baiklah, saya pun bergerak seperti jalan di tempat. Lalu seperti orang pura-pura jogging. Tepat sebelum saya sempat beralih ke gerakan robot breakdance, AC kembali memprioritaskan semburan udara dinginnya ke saya. Impressive.

“Karena bapak bergerak menimbulkan panas lebih banyak daripada yang diam, sensor Econavi membaca dan memrioritaskan pendinginan ke arah bapak.”.

Mendengar presentasi dan membaca brosur adalah satu hal, namun membuktikan sendiri secara langsung memang lain lagi. Dan ini baru sebagian dari kemampuan AC Econavi yang bisa membaca banyak faktor lain. Kami juga diperagakan langsung dengan pengukur digital, bagaimana secara nyata penggunaan daya dapat turun menyesuaikan kebutuhan.

Dari semua tempat yang dikunjungi di PAPAMY, saya paling betah di fasilitas R&D yang suhu ruangannya sampai -15° Celsius tadi. Jujur, saya lupa sama sekali itu ruang untuk apa, dan sayangnya yang lain cepat-cepat keluar ruangan karena dingin. Aneh, pada lebih betah panas pabrik ya? Kunjungan ke PAPAMY akhirnya dirampungkan setelah makan siang bersama, setelah berpamitan kami pun kembali naik bus menuju tujuan berikutnya.

 

Panasonic Econation: Konsep Rumah Masa Depan

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Kalau ditanya kepengen rumah kayak apa, sepertinya Ecopark ini jawaban yang paling pas. Bukan cuma keren, nyaman dan dilengkapi berbagai peralatan canggih, rumah ini sepenuhnya mengadakan listrik secara mandiri. Ya, kalau di sini istilahnya kita jadi nggak butuh PLN. Baru dari panel tenaga surya yang memayungi keseluruhan rumah saja sudah kelihatan betapa inilah masa depan yang seharusnya, dan bukan hanya itu. Semua aspek di dalam rumah, sampai pemilihan warna, bahan langit-langit pun diperhitungkan untuk efisiensi energi yang benar-benar optimal.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Di sini kita diperkenalkan juga akan line up produk Panasonic Econavi lainnya. Bukan cuma AC tapi juga mesin cuci, kulkas dan kipas angin! Semuanya efisien energi dengan pintar, khas Econavi. Untuk kulkas misalnya, ia bisa menyesuaikan pendinginan sesuai kebutuhan dengan mendeteksi penaikan suhu ketika pintu dibuka, bahkan mempelajari jam-jam berapa kita paling sering atau bahkan jarang membuka tutup kulkas dan menyesuaikan intensitas pendinginan yang pas dan efisien. Contohnya, ketika malam hari dia akan bekerja lebih ringan karena toh suhu luar dingin dan kulkas jarang dibuka-tutup. Gila ya kalau dipikir. Kulkas aja udah pinter. I love technology!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Efisiensi juga bukan hanya dalam hal benda-benda elektronik, tapi bisa juga pemilihan bahan yang lebih reflektif untuk memantulkan cahaya, sampai rancangan lemari yang memudahkan kita. Jadi nggak semuanya mesti yang berbau teknologi komputer gitu.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu...

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu…

Dan di masa depan, selain rumah yang mandiri listriknya, mestinya mobil juga sudah pakai listrik aja kan ya? Konsep itu juga diterapkan di Econation ini, rumah sudah siap dengan charger untuk mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Panasonic Econation ini benar-benar konsep yang saya suka. Jaman makin canggih, sudah semestinya juga semuanya makin efisien, makin pintar dan nggak boros energi. Ibaratnya orang yang semakin memakai otak ketimbang otot dalam melakukan apapun.

 

Penutup Kunjungan, Kereta Gantung Ke Genting!

Dari dulu kalau dengar Genting Highlands, tahunya satu hal: tempat berjudi. Bayangan sosok orang-orang berdandan rapi di ruangan casino yang mewah, semua dewasa, kalem dan berduit. Mungkin karena saya kurang gaul dan memang nggak hobi amat travel jadi nggak tahu yang sebenarnya. Hari itu ditutup dengan wisata ke Genting, yang cukup jauh dari KL dan setibanya di sana katanya kita akan naik cable car. Kereta gantung. Sip lah. Kirain deket.

Tinggi sekali!

Tinggi sekali!

Ternyata perjalanan dengan cable car dari perhentian bus menuju resort Genting cukup jauh. Perjalanan perlahan menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk segar, benar-benar pengalaman yang berbeda. Lebih asik lagi pastinya kalau saya nggak takut dengan ketinggian, yang bikin setengah perjalanan antara kagum dan cemas sendiri.

“Lho, mas takut ketinggian ya?”.

Saya sedang megang tiang di tengah kereta kencang-kencang.

“Menurut ngana?”.

Sampai juga di puncak Genting dan, lho. Kirain bakal seperti casino dengan orang-orang perlente macam James Bond, teryata lebih seperti taman ria buat keluarga membawa anak-anak. Yang tempat berjudi nya sendiri tertutup, dan saya nggak masuk ke sana. Sayang sekali kaki saya kumat sakitnya, jadi sementara yang lain sibuk ke sana-sini saya malah cari tempat duduk dan melakukan satu hal yang merupakan ciri orang Jakarta: nyari colokan untuk ngecharge hape.

Ternyata kayak begini toh...

Ternyata kayak begini toh…

Rombongan pulang ketika hari sudah gelap. Semua kelelahan dan tidur di bus, dan langsung beristirahat setibanya di hotel. Panasonic Econavi media trip berakhir sudah, keesokan paginya kami berangkat kembali ke Jakarta. Dua hari yang penuh kegiatan dan juga membuka wawasan baru buat saya. Terima kasih atas kesempatan ini, Panasonic.