Android One Review: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Sejak program Android One diumumkan di sini, saya langsung penasaran karena konsepnya. Ponsel pintar yang bukan hanya terjangkau, namun juga beroperasi dengan Android terbaru yang murni tanpa modifikasi pabrikan, dan diproduksi dengan komponen yang kualitasnya dijamin oleh Google. Tahu smartphone seri Nexus? Nah, Android One bisa kita anggap Nexus versi ekonomis, menarik sekali. Di Indonesia, Google berkolaborasi dengan 3 merek; Evercoss, Mito dan Nexian. Google Indonesia cukup berbaik hati memberi saya satu unit Android One untuk diuji, dan ini kesan-kesan saya memakai Evercoss One X selama sekitar 3 minggu.

Kemasan Evercoss One X

Kemasan Evercoss One X

Rancangan Sederhana Namun Manis

Sederhana dan fungsional, rancangan bentuk Evercoss One X tidak menawarkan sesuatu yang unik atau menonjol namun tetap manis dan enak dilihat. Dari depan, sekilas lekukannya memang mengingatkan saya pada LG Nexus 5. Kaca menutupi keseluruhan bagian depan sementara dari sisi hingga punggung dibalut oleh penutup punggung yang terbuat dari plastik. Tombol power dan volume menempel di bagian ini dan akan ikut terbawa ketika kita melepasnya. Sesuai rancangan Google, Android One tidak memiliki tombol fisik untuk home, switch maupun return karena semuanya ditampilkan di layar.

Evercoss One X Android One

Evercoss One X Android One

Tampilan belakang yang cukup manis.

Tampilan belakang yang cukup manis.

Dua port standar melengkapi sang Android One, Micro USB di bawah dan headphone di atas. Secara keseluruhan, perangkat keras terasa cukup solid, kokoh dan tidak terasa murahan. Tidak ada celah yang kurang sempurna, tidak ada derit plastik ringkih. Walau belum punya perbandingan dengan handset lain di kelas yang sama, secara pribadi saya terkesan dengan kualitas ‘bikinan’ Evercoss ini, mengingatkan saya pada Huawei Honor yang dulu saya pakai, bahkan lebih manis. Mantap, enak di genggaman, dan punggungnya tidak licin. Jika ada kekurangan mungkin satu saja, dalam 3 mingguan saja dipakai, bagian pinggiran punggungnya yang putih sudah mulai terlihat agak coklat.

20150224_074751

Earphone/handsfree port di atas.

 

20150224_074740

Micro USB standar di bawah.

 

Layar Yang Cukup Baik

Tanpa menyebut angka, luas bidang layar sentuh Evercoss One X adalah lebih kecil sedikit saja daripada Apple iPhone 6 atau Samsung Galaxy S3. Namun sementara luasnya beda tipis, untuk resolusi jangan dibandingkan dengan ponsel-ponsel pintar ‘flagship’ terbaru, namun sekelas dengan banyak handset di kisaran harganya. Lapisan kacanya lumayan kebal minyak jari tangan, namun ada baiknya dilindungi dengan anti-gores karena ini bukan kaca kelas berat macam Gorilla Glass.

20150224_074430

Walau belum HD, layar Evercoss One X tidak mengecewakan.

 

Walau sudah biasa memakai smartphone yang beresolusi tinggi dua tahunan ini, tidak ada rasa ‘kurang’ dari layar Evercoss One X. Semua ditampilkan cukup tajam dan terang. Jika waktu pertama mengaktifkan merasa tampilannya kusam, jangan langsung menganggap layarnya buruk, itu kemungkinan karena pilihan wallpapernya. Entah kenapa Evercoss ini memiliki pilihan file-file gambar wallpaper yang sangat amat buruk dan kusam, bukan justru memaksimalkan penampilan. Bagi saya, layarnya memuaskan, bahkan cukup terang untuk di siang hari.

Performa Yang Gesit

Di sini kelebihan Android One yang kualitasnya dijamin oleh Google sendiri, semua di ponsel ini dirancang untuk memungkinkan operasi yang sangat cepat, mulus dan responsif. Dari box, Evercoss One X sudah siap dengan Android versi terbaru yaitu Lollipop 5.1, dan ke depannya Google menjamin selalu mendapatkan pembaruan langsung selama 2 tahun ke depan. Jika kebanyakan pabrikan membungkus sistem operasi dengan antarmuka dan begitu banyak fitur khasnya masing-masing, Android One mengusung sistem operasi Android murni sebagaimana dirancang oleh Google. Persis seperti abangnya, seri Nexus.

Android Lollipop 5.1

Android One di Indonesia mendapat Android Lollipop 5.1 lebih dulu dari ponsel manapun di dunia.

Tidak ada campur tangan pabrikan di sistem operasi dan pada prakteknya memang terasa sekali kelebihan Android ‘murni’. Semua terasa cepat, lincah dan responsif. Tidak ada rasa lambat, tidak ada cegukan, apalagi ‘lemot’. Sejauh ini apapun yang dibuka, dijalankan tanpa ada jeda tunggu.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Subway Surfer di Evercoss One X

Subway Surfer di Evercoss One X

Game-game kasual seperti Subway Surfer atau Clash of Clans dijalankan lancar, loading pun tidak lama sama sekali. Kecepatan dan kelincahan Android One digabung dengan Lollipop 5.1 memberi pengalaman memakai yang mengesankan dan membuat saya yang tadinya niatnya hanya sekedar mencoba, jadi keterusan memakai setiap hari. Jangan kira ‘lemot’ hanya karena harganya murah, untuk kebutuhan normal, performanya sangat memuaskan.

Konektivitas & Penyimpanan

Buka punggung smartphone ini dan kita akan langsung melihat 2 slot SIM dan satu slot Micro SD. Evercoss One X adalah ponsel Dual SIM, yang kedua nomornya bisa standby menerima panggilan dan SMS bersamaan, sementara kita memilih salah satu yang akan dipakai untuk koneksi data 3G.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Walau belum mengusung konektivitas terkini seperti 4G LTE atau NFC, semua kebutuhan standar seperti Bluetooth, Wifi dan GPS dihadirkan. Dalam pemakaian, semua fitur konektivitas dasar bekerja dengan baik dan normal.

Kamera

Seperti halnya Mito dan Nexian, Android One dari Evercoss dilengkapi dengan kamera 5 megapixel di belakang, dan 2 megapixel di depan. Aplikasi kamera yang dibawa adalah standar Android, dengan fitur seperti HDR dan juga kemampuan membuat latar belakang blur dengan menggerakkan kamera. Dari semua pengalaman menggunakan ponsel pintar ini, baru di kamera lah terasa bahwa ini memang peranti entry level. Memotret terasa lamban dan tidak responsif, seperti butuh waktu setiap menjepret, ditambah lagi setelah memotret pun cara aplikasi kamera meletakkan ‘preview’ kurang gamblang.

Kamera belakang 5 megapixel

Kamera belakang 5 megapixel

Resolusi cukup, hasil jepretan normal, kualitas gambar tidak istimewa, tidak juga buruk. Tentunya jangan berharap banyak untuk memotret di dalam ruangan yang kurang penerangan atau untuk obyek yang bergerak. Kegesitan ponsel ini cukup membuat saya ketagihan memakainya untuk aplikasi sederhana, namun tidak untuk memotret. Berikut ini beberapa contoh jepretan Evercoss One X, klik untuk ukuran aslinya.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Bisa dilihat dari contoh, hasil foto kamera Evercoss One X sebetulnya cukup standar tidak buruk terutama untuk obyek tak bergerak, resolusi 5 megapixel pun cukup untuk kebutuhan umum. Hanya saja pengoperasiannya yang kurang gesit, untuk momen dinamis dan obyek bergerak, mungkin kita akan terlambat.

Batere

Untuk pemakaian yang tidak terlalu berat, stamina batere rasanya wajar dan cukup memadai. Bahkan dengan Dual SIM yang standby berbarengan, Evercoss One X kuat menemani aktivitas seharian sebelum butuh dicharge di sore atau malam hari. Bukan tipe super irit, namun rasanya tidak juga boros.

Stamina batere cukup memadai.

Stamina batere cukup memadai.

Tapi, jika dibawa ke luar kota, di daerah yang sinyalnya lemah, Android One ini bisa terasa jauh lebih boros dibanding handset satu SIM karena di sini handset akan sibuk terus mencari sinyal di dua jaringan sekaligus. Selain itu, stamina batere cukup memuaskan dan tidak akan membuat kita terlalu sering mencari ‘colokan’.

Kelengkapan

Selain buku manual, charger dan earphone berwarna putih yang juga berungsi sebagai handsfree headset, tiap merek dari ketiga pabrikan Android One memberi bonus berbeda. Untuk Evercoss One X, yang menjadi ekstra adalah flip cover. Secara bentuk dan warna memang flip cover ini membuat tampilan jadi lebih elegan, namun pemasangannya menggunakan perekat dan bukan mengganti penutup punggung.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Flip cover jika dipasangkan.

Flip cover jika dipasangkan.

Banyak yang suka membungkus ponsel dengan pelindung tipe ini, hanya saja saya lebih suka layar depan yang terbuka dan kurang yakin akan kekuatan cover ini, apalagi perekatnya. Untuk harganya, rasanya Evercoss memberikan paket yang sangat komplit.

Kesimpulan

Setelah lebih dari 3 minggu pemakaian yang memuaskan, tepat sebelum menulis ulasan ini, sesuatu yang aneh terjadi pada Evercoss One X saya. Di pagi hari, ia mengatakan hanya ada satu SIM card, lalu siangnya ia seperti tidak mau menyalakan layar hingga harus di-restart. Hal yang sama terulang di malamnya, bahkan restart selalu gagal dan proses booting tidak pernah sempat selesai. Mencabut batere dan semua kartu tidak membawa hasil, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk membiarkannya tanpa batere semalaman. Harapannya apapun masalahnya, kondisi bisa kembali normal setelah lama dibiarkan tanpa daya listrik, kalau tidak, ya akan saya bawa ke service center. Benar saja, di pagi harinya ketika batere dipasang lagi, semua kembali normal. Karena belum dibawa servis, saya belum tahu penyebab masalahnya, apakah software? Apakah mungkin terkena air? Sejauh ini, dari banyak teman yang juga mencoba Android One, belum ada yang mengalami kejadian serupa. Pastinya sampai saat ini semua kembali berfungsi normal.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Di luar satu ‘glitch’ tak terjelaskan yang saya alami dan kamera yang kurang mengesankan, memakai Evercoss One X cukup menyenangkan. Kejutan yang manis, mengingatkan kita bahwa spesifikasi super tinggi dan fitu-fitur ajaib bukanlah suatu syarat utama untuk sebuah ponsel pintar agar enak dipakai. Kenyataan bahwa saya cukup sering meraih Android One ini ketimbang Galaxy S5 ataupun Galaxy Note 3 andalan selama 3 minggu lebih adalah bukti bahwa untuk hal-hal dasar, kesederhanaan dan responsivitas (entah ada atau tidak kata ini) tetap tetap memiliki peran sendiri. Mencari peranti Android terjangkau tidak susah, tapi mencari yang ekonomis namun berkualitas di kelas ini bukannya mudah. Dalam hal ini rasanya Google dan program Android One nya bisa menjadi solusi. Setidaknya jika kita butuh satu ponsel pintar yang murah namun gesit, lengkap tanpa ‘lemot’, dan selalu mendapatkan Android versi terbaru, sekarang ada seri Android One sebagai pilihan jelas, dan Evercoss One X adalah salah satunya. Rasanya, untuk uang yang dikeluarkan, tak akan mengecewakan.

UPDATE:
Pada Kamis 26 Maret, masalah sama terjadi lagi. Layar tidak mau menyala, walau yang lain berfungsi. Setelah mencoba restart maupun cabut batere, akhirnya handset didiamkan semalaman dengan batere dicopot (lagi) dan keesokannya pulih kembali. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya dan belum sempat ke service center Evercoss.

Spesifikasi teknis Evercoss One X, klik di sini.

Iklan

Menyiasati Wifi Di Ruko 3 Lantai: Router D-Link DWR-116 & Range Extender DAP-1320

Entah kenapa saya selalu berganti merek setiap berganti router, kali ini giliran D-Link. Jaman berlangganan Speedy, LinkSys WRT-54G jadi andalan, lalu ketika memakai SmartFren EVDO, berganti ke TP-Link MR3420. Sejak pakai Bolt!, karena belinya mifi ZTE MF-90, jadi nggak pakai router lagi. Praktis memang, tapi sinyalnya cuma efektif di satu lantai dan lagi, kalau mau nge-print, komputer harus pindah sambungan dari wifi internet ke wifi printer. Untuk bisa meliputi tempat tinggal dan kerja saya yang 3 lantai ini, saya menjajal kombinasi 3G/4G router D-Link DWR-116 di lantai 3, diperkuat dengan penambah jangkauan D-Link DAP-1320 Range Extender di lantai dasar.

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Walau sudah 4G LTE, rancangan router D-Link DWR-116 bisa dibilang old-school classic, persegi standar dengan dua antena di belakangnya. Entah kenapa buat saya pribadi, desain dengan sepasang antena bikin lebih pede bahwa sinyal akan lebih kuat dipancarkan ketimbang model-model ‘cantik’ tanpa antena yang lebih ‘lifestyle’. Tapi ya ini murni sugesti, puas aja ngelihatnya. Di bagian belakang seperti biasa berderet port untuk ethernet, belum gigabit ethernet namun sudah cukup untuk kebanyakan, toh mayoritas pemakai malah belum tentu sambungan ini. Awalnya sempat bingung, lho, mana tancepan USB modemnya? Kok nggak ada? Rupanya ada di atas. Di mukanya hanya ada satu tombol untuk WPS setup. Dalam kemasan disediakan kabel ethernet untuk instalasi, power adaptor, dan user manual. Dirancang untuk USB modem 3G/4G, DWR-116 ini akan menerima sambungan internet Bolt! via modem ZTE MF-825A.

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Setup DWR-116 sederhana saja. Setelah memindahkan kartu Bolt! dari mifi ZTE MF-90 ke USB modem ZTE MF-825, tancap ke port dan nyalakan router. Tadinya, saya mau setup dengan kabel LAN tapi akhirnya malah cukup pakai wifi, bahkan cukup dengan smartphone. Dalam 5 menit saja, aktiflah hotspot baru dengan Bolt! di lantai 3. Untuk cek sinyal wifi, saya pun turun ke bawah dengan Samsung Galaxy S5 dan Note 3 tersambung. Sampai lantai dasar pun, sinyal wifi dari D-Link DWR-116 masih diterima 2/5 bar. Hanya di ruangan pojok dan toilet lantai dasar, yang berada di bawah tangga, sinyal baru hilang. Untuk itulah ada yang namanya range extender, penambah jangkauan.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

Mayoritas rumah tangga modern di Jakarta sudah pakai wifi router, tapi ya begitu, biasanya cuma efektif di satu lantai. Di lantai lain masih ada sinyal, tapi begitu dalam ruangan lagi, lenyap. Solusinya gampang, tapi banyak yang tidak tahu, beli saja wifi range extender. Ibaratnya tower repeater untuk sinyal telepon selular, range extender menerima sinyal wifi yang ada, dan memancarkan ulang dengan kekuatannya sendiri, sehingga jangkauan bertambah. Yang diduetkan di sini adalah D-Link DAP-1320, bendanya hanya seperti adapter yang dicolok ke listrik, hanya ada satu tombol untuk setup. Colokan DAP-1320 memang yang kaki tiga, tinggal pasang adapter untuk cocok ke plug listrik kita.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Menyiapkan range extender ini lebih gampang lagi. Tancapkan ke listrik, tekan tombol WPS di router DWR-116, lalu tekan tombol WPS miliknya sendiri. Tunggu 2-3 menit sampai lampu berhenti berkedip dan menyala hijau konstan, selesai! Range extender tinggal dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan, sesederhana itu. Penting dipahami, range extender akan punya jaringan sendiri, dengan password sendiri, yang beda dengan password wifi utama. Keterangan ini semua ada di petunjuk penggunaan. Pastikan dibaca, jangan seperti saya yang keasyikan sendiri dan tidak sadar bahwa password tertera di sticker di bawah bodi extender.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik, di lantai dasar.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik.

Pada akhirnya, duet 3G/4G router D-Link DWR-116 dan range extender D-Link DAP-1320 efektif membuat sinyal wifi kuat diterima di setiap ruangan di ruko 3 lantai saya. Komputer bisa memakai internet dan wireless printer bersamaan tanpa ribet, hal kecil yang menyenangkan. Kembali memakai router membuat saya jadi berpikir untuk lebih jauh membuat personal cloud storage di rumah. Upgrade ke router yang menggunakan gigabit ethernet dan 802.11AC, lalu sambungkan ke external hard disk yang cloud-ready? Belum lagi sekarang bisa menggunakan jalur listrik rumah sebagai jalur data untuk range extender, seru sekali. Ah, yang namanya hobi memang nggak ada puasnya.

Terima kasih, sudah mampir. Untuk spesifikasi teknis router D-Link DWR-116 dan informasi kompatibilitas modem, silakan klik di sini sementara untuk Wireless Range Extender D-Link DAP-1320, klik di sini.

Membuat Foto Berlatar Belakang Blur Dengan Samsung Galaxy S5: Selective Focus

Seperti sudah diulas pada tulisan sebelumnya, mode Selective Focus pada kamera di Samsung Galaxy S5 bisa menghasilkan foto dengan latar belakang yang blur. Tanpa perlu efek tambahan atau edit, software mencoba mengira-ngira mana obyek utama dan mana latar belakang dari dua jarak fokus berbeda. Syaratnya:

1. Obyek utama harus cukup pencahayaan dan lebih terang daripada latar belakang.

2. Jarak ke obyek utama maksimal 50 CM, jarak dari obyek utama ke benda terdekat di latar belakangnya minimal 1,5 M.

3. Pilih fokus sendiri pada obyek utama.

Hasilnya, lihat sendiri jepretan portrait di Computex 2014 Taipei kemarin. Jangan cuma lihat modelnya, perhatikan blur halus di latar belakang. Keren!

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Foto terakhir ini menunjukkan bahwa bagaimanapun juga, software kadang bisa salah menerka mana depan dan mana latar, terlihat pada muka ibu-ibu yang terfokus di belakang. Apakah cuma berhasil di tempat yang terang benderang? Tidak juga, asalkan cahaya cukup, di tempat agak temaram kadang bisa juga. Lihat foto-foto yang saya ambil di pasar malam Shihlin di Taipei.

image

image

image

Pada akhirnya, smartphone tetap bukan kamera besar berlensa f1.4, tapi jika bisa menghasilkan jepretan cantik seperti ini, semakin mati lah produsen kamera saku digital.

Tahun ini semua produsen smartphone papan atas berlomba-lomba memberi fitur kamera serupa. Bukan, Google sendiri merilis app kamera standar Android yang juga memiliki kemampuan sejenis, namun dengan cara beda. Dari yang sudah saya coba, saat ini masih Samsung Galaxy S5 yang paling memuaskan membuat foto macam ini.

Review: Memakai Samsung Galaxy S5

Meneruskan kesuksesan seri pendahulunya, Samsung Galaxy S5 hadir dengan beberapa peningkatan yang besar namun juga halus. Setelah lebih dari 2 bulan memakai Android negeri ginseng ini sehari-hari, rasanya sudah cukup untuk bisa merangkum kesan dalam satu tulisan. Bukan bahasan teknis yang njlimet penuh istilah dan angka, saya di sini mau berbagi kesan praktis dari pengalaman memakai. Agak panjang memang, tapi kalau penasaran seperti apa rasanya menguji sang “Limitless”, mungkin tulisan ini bisa membantu menjawab rasa ingin tahu. Mari kita mulai.

image

Samsung Galaxy S5

Lebih Besar, Tetap Ringkas

Sudah tahu kan, kalau layar Samsung Galaxy S selalu semakin besar tiap tahunnya? Tahun lalu ukuran layar S4 lebih besar dari pendahulunya, S3, dan pastinya sekarang S4 dikalahkan oleh S5 yang semakin lebar. Malah, lebarnya hampir mendekati ukuran layar Galaxy Note pertama. Tapi bagusnya, ukuran bodi Galaxy S5 secara keseluruhan nggak terasa seperti raksasa, bahkan nggak jauh dari S4. Di genggaman masih lebih nyaman daripada seri Galaxy Note favorit saya. Yang terasa jelas adalah lebih berat, tapi ada bagusnya karena kali ini terasa lebih mantap dan nggak ada kesan kosong.

image

Lebih besar namun tetap ringkas.

Samsung masih saja doyan membalut pinggir Galaxy S dengan bezel plastik beraksen chrome, ini perlu dilindungi casing karena keringat tangan saya biasanya cepat menghancurkan lapisan tipe begini. Dan bicara tangan berkeringat, untunglah penutup punggung S5 bukan lagi plastik licin mengkilap, Samsung mengubahnya menjadi bahan kesat bertekstur perforasi yang mantap di genggaman, Kesimpulan, secara fisik, entah itu digenggam, dipakai dan dikantongi, Samsung Galaxy S5 menghadirkan perluasan ukuran layar yang memuaskan mata, tanpa memenuhi dan membebani kantong.

Kemudahan Memakai

Karena saya punya beberapa peranti Android dari Samsung, saya bisa membandingkan dan mengatakan, perubahan halus di antarmuka Samsung Galaxy S5 dibanding pendahulunya membuat banyak hal jadi lebih praktis. Hal-hal sederhana dan detil diubah sedikit namun memberi kemudahan jelas, contohnya, di menu Settings.

image

Menu setting baru Galaxy.

Jikalau terakhir kali menu Settings dibagi per kategori dalam halaman terpisah, sekarang ditampilkan sederhana dalam satu halaman dengan ikon-ikon yang jelas dan sederhana. Nggak lagi harus tahu Setting yang kita cari di kategori apa, kita bahkan diberikan satu fitur kecil bernama ‘Toolbox’, sebuah icon kecil semi transparan yang akan selalu ada di atas halaman atau app apapun yang kita buka.

image

Toolbox terbuka di kanan atas.

Toolbox memberi kita jalan pintas ke beberapa aplikasi yang paling penting buat kita, entah email, kalkulator atau kamera. Semua itu bisa diakses langsung tanpa harus kembali ke Home, praktis!

Perubahan yang sangat terasa dalam hal pemakaian adalah ke tiga tombol sentuh di bawah layar. Biasanya di kiri tombol Home pada Samsung Galaxy adalah tombol Menu. Ini sudah berubah. Tombol yang dulunya untuk Menu, sekarang digunakan jadi jalan cepat untuk memilih dan berpindah diantara aplikasi-aplikasi yang terbuka. Hal kecil yang terasa sekali membuat praktis! Kalau dulu untuk berpindah app mesti menekan Home agak lama, sekarang tinggal sekali sentuh.

image

Dulu tombol Menu, sekarang jadi Switch Windows

Saya tahu dulu banyak pengguna Galaxy yang nggak tahu bahwa berpindah window harus menekan Home agak lama, akhirnya untuk berganti app, mereka membuka ulang app dari menu. Dengan perubahan ini, memudahkan pemakai berganti jendela. Lalu ke mana tombol Menu? Jangan khawatir, jika aplikasi yang terbuka memang memiliki submenu, tombol menu akan tampil di layar pada sudut kanan atas.

image

Pengaturan menu drop-down.

Layar Galaxy S5 yang diklaim DisplayMate sebagai layar smartphone terbaik juga berperan dalam kemudahan memakai. Luas layar yang sedikit lebih besar daripada pendahulunya pun menambah kenyamanan terutama ketika sedang menggunakan keyboard layar sentuh. Menulis, mengetik, jadi lebih cepat karena keyboard jadi lebih lebar. Kepekaan layar sentuh bisa diatur hingga lebih dari biasanya, dan tingkat kecerahan bukan hanya lebih terang, namun juga bisa diatur lebih gelap dari biasanya. Lho, buat apa? Untuk yang sering membaca layar smartphone dalam kegelapan total, kadang di setting Brightness terendah pun cahayanya masih menusuk mata, sekarang, bisa lebih temaram dan lebih nyaman dari sebelumnya. Lagi-lagi, bukan teknologi luar biasa yang heboh, namun sederhana dan terasa langsung manfaatnya.

image

Baterai terbesar seri Galaxy S

Boros nggak baterenya? Pertanyaan penting yang paling susah dijawab secara akurat karena tiap orang punya pola pemakaian berbeda. Pastinya banyak tes yang ilmiah, tapi dari pengalaman memakai saja, dalam pemakaian berat, Samsung Galaxy S5 bisa bertahan setengah hari dan ini terasa wajar. Saya memakai dua akun email, tiga aplikasi media sosial, dua text messenger, majalah berita, peta, dan sering sekali memotret. Sync, WiFi, GPS, koneksi data bahkan NFC selalu dalam posisi menyala. Ia tidak seawet Galaxy Note 2, namun buat saya tidak juga boros.

Fitur: Pentingkan Manfaat Di Atas Gaya

Tadinya nggak merasa butuh amat, tapi fitur tahan air dan tahan debu ternyata terasa pengaruhnya. Singkatnya, membuat lebih pede membawa smartphone ini ke mana-mana. Jalan melintasi hujan deras nggak lagi khawatir, membawa ke kamar mandi pun tenang. Kedengarannya remeh, bukan pula teknologi baru, tapi nyata terasa membuat nyaman. Perlu digarisbawahi, water resistance di Galaxy S5 bukan berarti handset ini bisa dibawa nyebur berenang ya. Kalau bisa, ke depannya semua smartphone Samsung sudah standarnya begini.

Ultra Power Saving menyelamatkan saya kemarin waktu ke Taiwan. Saking sibuk memotret ratusan foto dengan S5 dari pagi sampai sore, jelang malam batere nyaris habis, sementara saya harus tetap bisa dihubungi. Sedang di luar negeri pula! Akhirnya jadi mencoba juga fitur pengirit daya baru di Galaxy S5, Ultra Power Saving mematikan semua fitur selain telepon dan SMS, juga membuat layar menjadi monokrom. Sisa daya yang tinggal 5% bisa bertahan hingga kembali ke hotel lewat tengah malam.  Ya, ini memang jelas lebih berguna daripada fitur-fitur ajaib tahun lalu. Apa lagi yang baru? Ah, iya, finger print scanner.

image

Finger print scanning.

Sampai saat ini, Galaxy S5 saya masih menggunakan finger print scan untuk membuka kunci layar. Apakah bekerja? Tiga sidik jari saya daftarkan di settings, dan akhirnya lebih sering memakai telunjuk kanan. Entah kenapa, mungkin karena tangan saya tipe yang berkeringat, kedua ibu jari sering gagal, sementara telunjuk selalu 100% berhasil. Cara sensor Samsung Galaxy S5 membaca sidik jari agak unik. Kita memulai dari bagian tengah bawah layar, lalu menyapu tombol Home. Sapuan di layar itu sepertinya sekedar mengaktifkan sensor untuk siap membaca sidik jari kita. Apakah praktis? Terus terang lebih praktis dengan pattern daripada sidik jari, tapi senang karena ada rasa keamanan ekstra. Kalaupun tergeletak, tidak sembarang orang bisa pakai, apalagi anak-anak.

image

Kids Mode

Bicara anak-anak, kemarin sempat juga mencoba fitur Kids Mode, yang membuat smartphone kita aman untuk jadi hiburan anak. Samsung merancang mode dan aplikasi khusus aktivitas dari bermain, belajar sampai menyanyi dan memotret dengan tampilan dan antarmuka yang sangat bersahabat untuk anak. Semua akses ke fungsi utama dikunci dengan kode.

image

Buat saya pribadi, ini nggak kepakai sama sekali. Tapi bisa dibayangkan untuk yang dikelilingi anak-anak kecil dan sering terpaksa harus meminjamkan handsetnya jadi mainan, Kids Mode jelas berguna. Tentunya, sebaiknya anak kecil di masa pertumbuhan jangan terlalu dibiasakan bermain peranti layar sentuh. Bukan kata saya lho, kata psikolog anak terkemuka. Bagaimanapun juga, bermain dengan kegiatan fisik lebih sehat.

image

Kesehatan adalah nomor satu (presiden nomor dua), dan kita lihat Samsung konsisten soal ini di S-Health nya. Tambahan pembaca detak jantung, Heart Rate Sensor di Galaxy S5 jadi salah satu andalan. Memakainya mudah, setelah setup S-health dan mengaktifkan widgetnya, untuk mengukur detak jantung cukup satu sentuhan di ikon hati pada widget. Lampu di samping flash menyala, letakkan jari menutupinya sekaligus lensa dan dalam sekejap Galaxy S5 akan menampilkan heart rate kita. Gampang saja.

image

Untuk yang suka berolah-raga, mungkin akan suka kemudahan mengukur detak jantung. Saya lebih suka makan, tapi mungkin perlu juga belajar membaca ukuran ini.

Kamera Yang Memuaskan!

Bahasan kamera Galaxy S5 patut mendapatkan seksi tersendiri karena pengembangannya jauh melebihi sekedar menaikkan resolusi ‘megapixel’. Sensor berteknologi baru, fokus dengan teknik ala DSLR, dan fitur Selective Focus bekerja dengan baik menghasilkan hasil yang membuat saya senang mengandalkan Galaxy S5 di perjalanan ke Computex Taipei kemarin.

image

Memakai duet Samsung Galaxy Note 3 dan Galaxy S5 sehari-hari untuk memotret, terasa sekali betapa meningkatnya kecepatan kamera S5 mengambil fokus. Bahkan dalam temaram, untuk obyek yang sama, jika autofocus kamera Note 3 masih ‘hunting’, S5 sudah mengunci fokus dalam sekejap. Perbedaannya terasa, dan terbukti konsisten dicoba dibandingkan berkali-kali. Jadi, ini bukan cuma sekedar klaim iklan yang abstrak, tapi pengembangan nyata. Untuk titik fokus yang kita pilih sendiri secara manual “tap to focus”, antara Galaxy Note 3 dan Galaxy S5 saya tidak merasakan perbedaan, kecepatan keduanya rasanya sih sama.

image

Dari balik jendela bus, memakai HDR.

HDR jadi sering dipakai terutama buat melawan backlight. Sudah real-time, nggak lagi harus menunggu proses sebelum tahu seperti apa hasilnya, yang terlihat, itu yang jadi. Satu catatan, tetap saja harus stabil dan usahakan jangan goyang.

image

Pasar malam Shihlin di Taipei

Foto-foto lowlight sedikit lebih bersih dibanding Galaxy Note 3 dan S4, sepertinya memang teknologi baru di sensornya membawa hasil nyata. Fokus dan HDR memang pengembangan signifikan, tapi yang menjadi bintang bagi saya pribadi pada kemampuan kamera Samsung Galaxy S5 adalah fitur “Selective Focus”.

Intinya, fitur Selective Focus bisa membuat portrait dengan latar belakang blur. Hal yang selalu diinginkan fotografer amatir di mana-mana, obyek terfokus dan latar belakang kabur. Samsung Galaxy S5 berusaha  meniru hasil jepretan kamera dengan lensa bukaan besar, di mana kedalaman ruang bisa dibuat cetek, dengan menggunakan software. Nggak perlu diedit diberi efek atau apapun lagi, jika dilakukan dengan benar sesuai petunjuk, hasil foto jarak dekat bisa bagaikan jepretan DSLR. Perkenalkan, ini ayah saya tercinta, perhatikan bagaimana latar belakang bisa blur seakan difoto dengan DSLR.

image

Latar belakang blur, tanpa editing & efek!

Foto ayah saya ini adalah salah satu contoh sempurna di mana fitur ini bekerja. Berikut ini adalah salah satu staf di booth Ford di Computex Taipei kemarin. Perhatikan blur halus latar belakangnya, lumayan bagus, bukan?

image

Very nice background blur.

Pertama kali mencoba Selective Focus, saya selalu gagal karena nggak memperhatikan caranya. Saya tahu ada beberapa pemakai Galaxy S5 yang mengatakan bahwa mereka selalu gagal memakai fitur ini. Bagaimana supaya berhasil? Ini tipsnya:

1. Subjek harus terang!

2. Jarak ke subyek sekitar 50cm, jarak ke benda terdekat di belakangnya sekitar 1,5m

3. Pilih sendiri titik fokus, disarankan di mata.

Begitu saja! Dua lagi contoh hasilnya.

image

Pinjam fotonya, mas Fadly.

image

Beda fokus depan dan latar, ciamik!

Dugaan saya, software kamera akan mengambil gambar dua kali dalam jarak fokus yang beda. Dari perbandingan ketajaman kemudian Galaxy S5 berusaha menyimpulkan sendiri mana yang subyek utama, mana latar belakang. Yang dianggap latar belakang kemudian diburamkan. Apakah sempurna? Tentu tidak, namanya simulasi software pasti ada kekurangan dibandingkan fisik. Sudah terlalu teknis ya? Maaf, berhubung hobi kamera jadi keasikan.

Pengalaman selama memakai mengajarkan bahwa mode Selective Focus lebih enak dipakai untuk foto close up. Memotret teman yang berhadapan di meja makan, misalnya, cukup ideal. Tapi sekali lagi, ingat 3 syarat di atas untuk hasilkan foto yang mengejutkan!

Adakah Yang Perlu Diperbaiki?

Tidak ada ciptaan manusia yang sempurna, dan dengan seabreg kelebihan pun Samsung Galaxy S5 tak luput dari ketidaksempurnaan. Galaxy S5 ternyata cepat jadi hangat. Walau bukan jadi panas sekali, ini biasanya tidak terjadi di semua smartphone Samsung Galaxy lain milik saya. Semoga ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

image

Satu lagi keluhan, adalah penutup port USB yang untuk membukanya harus dicongkel dengan ujung kuku. Dalam rangka perlindungan akan air dan debu, Samsung memutuskan memasang penutup di tempat yang sering kita akses ini, masuk akal, namun agak khawatir juga apakah akan awet? Sejauh ini, penutupnya masih tampak kuat, semoga bertahan seterusnya. Selebihnya, bagi saya saat ini belum ada kekurangan berarti yang perlu dicatat.

Menurut Saya

Kameranya saja sudah memberi alasan kuat untuk naksir pada smartphone Android andalan Samsung di tahun 2014 ini, apalagi digabung dengan berbagai fitur praktis yang baru. Semua kemampuan ‘ajaib’ Galaxy S4 yang dihebohkan tetap hadir, namun Samsung tampaknya mendewasa. Sepertinya akhirnya memahami bahwa kita lebih butuh kemudahan memakai dan manfaat praktis ketimbang teknologi yang mirip sulap dan belum tentu kita pakai.

image

Untuk ‘flagship device’ dengan spesifikasi tinggi dan harga yang tidak murah, Samsung Galaxy S5 menjadi pilihan yang layak dilirik lebih dari sekali. Apakah ini cocok untuk Anda? Tentunya tiap orang beda, tapi semoga dengan tulisan ini, sudah lebih dapat gambaran. Terima kasih, sudah mampir dan membaca ulasan panjang ini. Jika ada pertanyaan, monggo diisi di kolom Comments.

Panasonic Solar Lantern: Lentera dengan Pengisi Daya Tenaga Surya

Berawal dari kepedulian sosial Panasonic, dirancanglah sebuah lentera sederhana yang ditujukan untuk menghadirkan penerangan di daerah-daerah yang belum terjangkau listrik. Kecil, praktis, dapat diposisikan dengan berbagai cara, Solar Lantern dapat menyala dengan kekuatan penuh selama 6 sampai 90 jam dalam 3 pengaturan berbeda. Ketika baterai habis, cukup mengisi daya dengan sinar matahari, menggunakan panel tenaga surya yang disediakan sebagai pasangannya. Sebuah solusi praktis, di kala tidak ada listrik.

image

 

Lampu Darurat yang ‘Imut’.
Sekilas, Panasonic Solar Lantern terlihat seperti mainan karena desainnya yang manis dan cenderung ‘imut’. Bahan plastik berwarna cerah mengingatkan kita pada kotak roti untuk bekal anak sekolah dan pegangan logam yang dapat diputar membuatnya semakin mirip dengan sesuatu yang cocok berada di dapur.
image

 

Di dalamnya, ada 5 lampu LED efisien yang bisa dinyalakan dengan 3 tingkat terang cahaya. Benda ke dua dalam paket adalah sebuah panel tenaga surya yang tampak kokoh dan serius, berbeda sekali dengan desain imut lentera nya. Dengan sinar matahari di cuaca cerah, panel dengan kekuatan 3.5 Watt ini dapat mengisi baterai lentera dari kosong hingga penuh dalam 6 jam.
image

 

Ada tiga mode tingkat kekuatan cahaya pada Solar Lantern. Paling rendah 6 lux, di atasnya ada mode 40 lux, dan akhirnya pada kekuatan penuh Panasonic mengklaim tingkat kecerahan 100 lux. Stamina baterai tentunya tergantung mode yang dipilih. Pada mode paling rendah, Solar Lantern bisa menyala 90 jam. Sementara itu untuk pencahayaan sedang dan maksimal masing-masing 15 dan 6 jam. Bagaimana performa nya?

Cahaya Lembut Di Tengah Kegelapan
image

 

Diuji dalam ruangan gelap total tanpa lampu dan jendela, mode paling rendah di Panasonic Solar Lantern nyaris tidak menyebarkan sinar ke mana-mana. Fungsinya lebih sebagai lampu tidur, sekedar menunjukkan posisi, atau untuk memudahkan mencarinya dalam gelap.

image

Pengaturan paling rendah.

 

Naik satu tingkat ke pengaturan sedang, Solar Lantern sudah bisa berfungsi sebagai lampu baca jarak dekat yang berguna. Tetap dengan penyebaran sinar yang minim, lentera ini cocok untuk membantu menulis atau membaca di meja dalam kegelapan.

image

Pengaturan sedang.

 

Baru di pengaturan maksimal dengan ke-5 LED menyala kekuatan penuh, Solar Lantern menunjukkan fungsi utamanya. Terutama efektif pada posisi digantung, ia dapat memberikan penerangan untuk ruangan kecil, sekitar 3 x 3 meter. Masih tidak terlalu benderang, namun sudah efektif menjadi lampu. Dalam pengujian pribadi, kekuatan maksimal bertahan sekitar 6 jam, sesuai klaim.

 

image

Pengaturan maksimal.

Panasonic Solar Lantern memang berbeda dengan banyak lampu darurat yang biasa kita temukan di toko. Kebanyakan yang tersedia entah menggunakan bohlam fluorescent atau ratusan LED dan dirancang untuk selalu tersambung ke listrik pengisi daya, baru menyala ketika listrik diputus. Terang sekali memang, namun pengisian daya bergantung pada listrik, atau baterai yang harus selalu dibeli. Tidak demikian dengan Solar Lantern.

Memberikan penerangan efisien tanpa listrik dan baterai, Panasonic Solar Lantern jadi solusi di daerah terpencil atau di daerah bencana. Tidak perlu khawatir dengan energi, karena baterai NiMH di dalamnya cukup diisi ulang dengan sinar matahari menggunakan solar panel nya. Tak perlu pula khawatir dengan lingkungan. Mampu bertahan dari debu dan percikan air, ia mengusung standard rating IP34.

 

Lentera, Juga Charger!
Dilengkapi dengan USB port, Panasonic Solar Lantern dapat juga mengalirkan daya lewat kabel USB. Spesifikasi mengatakan output USB dari Solar Lantern adalah 6,5V / 0,5A.
image

 

Panasonic mengklaim bahwa dalam waktu dua jam, Solar Lantern dapat mengisi penuh baterai ponsel berkapasitas 700mAh dan ketika lentera dalam posisi terisi penuh, dapat melakukan ini satu sampai dua kali.
Memang, output sangat kecil untuk mengisi peranti sekarang yang mulai butuh daya 1 sampai 2,1A, dan kapasitas baterai hape sudah di atas 1500mAh, namun dalam situasi darurat, ini sudah berguna dan dapat mengisi, asalkan peranti dimatikan. Tidak akan mampu mengisi penuh smartphone besar, namun memberi kemampuan mengisi sebagian, di lokasi di mana tidak ada listrik.
image

 

Kasarnya, ia dapat menjadi “powerbank” kecil kelas ringan, yang hanya perlu sinar matahari untuk mengisinya. Sempat dicoba, Solar Lantern mengisi setidaknya 12% batere smartphone yang habis total, dalam keadaan mati. Ini pun belum dicoba sampai habis, karena belum sempat.

 

Penyelamat di Situasi Darurat
Pada akhirnya, Panasonic Solar Lantern adalah sebuah produk yang menarik dan tak akan tergantikan ketika situasi menuntut. Dalam keadaan di mana kita tidak punya akses listrik maupun baterai, Solar Lantern menjadi solusi penyelamat. Untuk dibawa camping, jadi penerangan darurat di lokasi bencana, Panasonic Solar Lantern akan menunjukkan kemampuannya.

100,000 buah Solar Lantern sudah disumbangkan Panasonic di berbagai negara, untuk memberikan solusi penerangan di daerah terpencil yang belum terjangkau sambungan listrik. Belum lama ini, 1000 unit disumbangkan ke pedalaman Sumba, di mana manfaat lentera ini pasti akan sangat terasa. Ia bukan yang pertama, namun semoga semakin melebarkan jalan ke lebih banyak peranti yang menggunakan tenaga surya.

Review: Samsung Galaxy S4 VS Samsung Galaxy Note 3, Pilih Mana?

Kalau ulasan teknis dan review mendalam, pasti udah banyak sekali. Tinggal ngeGoogle “Galaxy S4” dan “Galaxy Note 3”, berderet artikel tentang ke dua Android jagoan Samsung di tahun 2013 ini. Seperti biasa, karena yang teknis sudah bejibun, di sini saya mau bahas dan membandingkan keduanya tanpa kebanyakan angka, berdasarkan pengalaman pribadi memakai. Semoga bisa membantu yang sedang bingung memilih. Yuk ah.

Image

Samsung Galaxy S4 & Samsung Galaxy Note 3

 

Mana Yang Lebih Nyaman Dipakai?

Sepertinya memang sudah jadi tradisi, Samsung memberi penerus seri Galaxy nya layar yang lebih besar namun tidak membuat keseluruhan ukuran membengkak. Betul, ukuran layar Galaxy Note 3 lebih besar dari Galaxy Note 2, namun tubuhnya hanya sedikit lebih panjang, sementara profilnya semakin tipis dan bobotnya semakin ringan.

Perbandingan ukuran, Galaxy S4 di atas Galaxy Note 3.

Perbandingan ukuran, Galaxy S4 di atas Galaxy Note 3.

Berbeda dengan sebelumnya, Samsung memberikan rancangan penutup punggung yang cantik di Galaxy Note 3. Tetap berbahan dasar plastik, back cover Galaxy Note 3 dibuat bertekstur ala kulit bahkan lengkap dengan pola mirip jahitan di pinggirnya. Cantiknya desain adalah satu hal, namun nilai plus terbesar rancangan ini adalah, punggungnya tidak lagi licin di tangan seperti Galaxy lainnya.

Image

Desain punggung baru, cantik dan tidak lagi licin di pegangan.

Hal yang sama mengenai luas layar dan ukuran bodi, peningkatan ukuran layar Samsung Galaxy S4 dari S3 lebih besar dibandingkan Galaxy Note 2 ke Galaxy S3, namun dengan cermat Samsung berhasil mengemasnya dalam ukuran yang nyaris sama. Secara ukuran, Galaxy S4 bahkan lebih tipis dan ringan dibanding S3, sangat mengesankan dan nyaman di genggaman maupun dikantongi. Bezel plastik yang diberi aksen chrome mengelilingi tubuh S4 dengan tekstur yang tegas dan rancangan ini diwariskan ke Galaxy Note 3. Desain punggung Samsung Galaxy S4 tidak terlalu berbeda dengan pendahulunya, masih terbuat dari plastik namun diberi pola dan bukan polos. Sayangnya, seperti pendahulunya, ia mudah sekali menjadi licin ketika tangan berkeringat.

Image

Penutup punggung Galaxy S4 dengan motif baru, namun masih licin.

Pemenang: Seri

Ringkas dan ringan, Galaxy S4 bukan hanya nyaman digenggam dan dikantongi, ia juga mudah dipakai dengan satu tangan saja. Tentunya ini bukan pengetahuan baru. Luasnya layar seri Note memang dalam banyak hal menuntut pemakaian dua tangan dan bagi sebagian mungkin terlalu besar dikantongi, namun punggungnya yang tidak lagi licin adalah hal yang penting dalam hal kenyamanan. Dulu saya memenangkan Galaxy S3 di atas Note 2 dalam hal ini, namun untuk Galaxy S4 dan Note 3, keduanya bisa dibilang seri.

 

Layar Sudah Sama-sama Full HD, Mana Yang Lebih Cantik?

Luas tampilan yang semakin besar di Galaxy Note 3 untungnya juga dibarengi penambahan resolusi dibanding generasi sebelumnya.Peningkatan ketajaman tampilan HD di Galaxy Note 2 ke Full HD pada Galaxy Note 3 sangat amat terasa. Semua tampak jauh lebih detail dan sangat tajam. Melihat ini, rasanya memang sudah seharusnya ukuran layar sebesar ini mempunyai resolusi Full HD. Melihat lagi layar Galaxy Note 2 saya, jadi terasa kuno.

Image

Layar Galaxy Note 3 lebih besar dan lebih tajam daripada generasi sebelumnya.

Sementara itu, peningkatan ketajaman tampilan di Galaxy S4 dari S3 tetap terasa walau tidak sedramatis seri Note. Ini karena walau dulu S3 hanya mengusung resolusi HD, ukuran kecilnya membuat semuanya sudah tampak cukup rapat dan tajam. Melihat tampilan layar Galaxy S4 yang sudah Full HD dan sangat kinclong nggak akan serta merta membuat layar kakaknya menjadi sangat kalah.

Image

Resolusinya sama dengan Galaxy Note 3, namun karena lebih kecil, Galaxy S4 tampak lebih tajam.

Pemenang: Galaxy S4

Apa sih HD dan Full HD itu? Gini deh gampangnya. Kalau HD itu sisi pendek layar digambar dengan 720 titik, sementara Full HD itu 1080. Lebih banyak kan? Nah, baik Samsung Galaxy S4 maupun Note 3 sudah sama-sama Full HD, tapi layar Galaxy S4 jauh lebih kecil sehingga tampilan di layar tampak lebih tajam jika dibandingkan. Yah ibaratnya TV di rumah, yang 21 inci kelihatan lebih tajam daripada yang 32 inci, kan? Tinggal pilih, mau tajam gambar atau layar luas.

 

Sama-sama Pakai Prosesor 8 Core, Mana Yang Lebih Pintar?

Duh, bahasan satu ini sebetulnya cuma kedoyanan orang yang butuh tenaga lebih dari sekedar ngejalanin apps biasa. Entah yang suka sekali dengan game 3D atau memang terobsesi dengan kecepatan operasi. Smartphone Android andalan Samsung sampai saat ini adalah seri Galaxy S. Semua yang terbaik dan terbaru biasanya ditanamkan ke dalam Galaxy S tiap tahunnya, namun beberapa bulan kemudian keluarlah seri Note terbaru dengan spesifikasi teknis yang lebih baru dan lebih tinggi lagi.

Prosesor 8 Core andalan Samsung.

Prosesor 8 Core andalan Samsung.

Seperti yang sudah-sudah, hal yang sama juga berlaku pada prosesor Samsung Galaxy Note 3 yang lebih baru, cepat juga bertenaga dibandingkan Galaxy S4. Soal ‘jeroan’, soal ‘mesin’, Galaxy Note tiap tahunnya kebagian yang paling sangar. Tapi ya nggak heran, namanya juga rilis belakangan, dan lagi untuk segala fiturnya, seri Note memang sebaiknya punya tenaga lebih.

Pemenang: Galaxy Note 3

Sepertinya sudah hal yang pasti, dirilis belakangan dan mengusung fitur segudang, Samsung selalu membekali smartphone seri Note nya dengan jeroan yang paling baru dan bertenaga. Catatan penting, walaupun kalah secara teknis, dalam pemakaian sehari-hari untuk berbagai app standar, Galaxy S4 terasa sama cepat dan lincahnya dengan Galaxy Note 3.

 

Kamera, Siapa Yang Lebih Bagus?

Ya iya lah, sudah tentu hasil jepretan tergantung siapa yang motret, tapi yang dimaksud di sini adalah kemampuan kameranya. Dan ini penting! Dari sekian banyak peningkatan kemampuan smartphone tiap generasi, apa yang biasanya paling terasa dalam pemakaian? Kamera? Prosesor boleh makin cepat, tapi belum tentu terasa, kalau hasil jepretan kamera, jelas terlihat.

Selain modul kamera sama, mode foto pun hampir sama persis.

Selain modul kamera sama, mode foto pun hampir sama persis.

Memotret dan belakang picture in picture, fitur ini hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Memotret dan belakang picture in picture, fitur ini hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Galaxy Note 3 dan Galaxy S4 , mampu merekam video HD depan belakang secara split screen.

Galaxy Note 3 dan Galaxy S4 , mampu merekam video HD depan belakang secara split screen.

Sementara berbeda berbeda dalam banyak hal, Samsung memberi modul kamera yang sama pada Galaxy S4 maupun Note 3. Keduanya mengusung sensor 13 megapixel, jauh lebih tinggi daripada generasi sebelumnya yang 8 megapixel. Fitur kamera pun hampir sama dalam banyak hal, dari Auto sampai Picture in Picture bahkan split screen dimiliki keduanya. Rasanya hanya satu kelebihan pada Galaxy Note 3 yaitu Surround Shot yang belum ada di S4. Lucu sih, cuma ya nggak penting sama sekali.

Pilihan fitur video yang sama antara Galaxy Note 3 dan S4

Pilihan fitur video yang sama antara Galaxy Note 3 dan S4

Untuk video, baik S4 maupun Note 3 memberi pilihan yang lumayan lengkap. Kali ini sudah mampu merekam slow motion dengan lumayan mengesankan, dan baik kamera belakang maupun depan dapat merekam dengan resolusi Full HD. Memutar rekaman video di TV LCD jadi sangat mengesankan karena layar penuh dan gambar lebih tajam. Kecuali ya, kalau merekam videonya dengan posisi vertikal, jadi percuma.

Pilihan video slow motion di Samsung Galaxy Note 3.

Pilihan video slow motion di Samsung Galaxy Note 3.

Opsi video slow motion pada Galaxy S4, sama persis.

Opsi video slow motion pada Galaxy S4, sama persis.

Ada satu hal yang unik pada kemampuan kamera video Samsung Galaxy Note 3. Khusus di Galaxy Note 3 versi internasional yang berkemampuan 4G dan memakai prosesor Qualcomm Snapdragon, kameranya bisa merekam video dengan resolusi 4K! Apa lagi tuh 4K? Di atas tadi sudah dijelaskan soal Full HD, kan? Nah 4K ini ketajamannya 4 kali Full HD. Luar biasa.

Pemenang: Seri

Secara umum, kemampuan kamera Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3. Memang, mode Surround Shot tidak dimiliki S4 namun rasanya nggak terlalu penting. Di lain pihak, beberapa reviewer luar negeri yang menguji kamera S4 dan Note 3 secara detail mengatakan kualitas jepretan S4 ternyata justru sedikit lebih bagus daripada Note 3, tapi saya sendiri belum merasakan.

 

Inovasi dan Fitur Baru, Mana Yang Unggul?

Coba kita ingat-ingat beberapa fitur baru yang diangkat Samsung ketika akan meluncurkan Galaxy S4.  Cukup dengan menggerakkan tangan di atas sensor tanpa menyentuh layar kita bisa mengintip notifikasi, menerima telepon, scroll halaman web dan bergerak antar foto. Fitur yang mungkin digemari orang yang suka makan Padang dengan tangan sambil melihat smartphone nya ini dinamai Air Gesture. Setelah hadir di S4, fitur bebas sentuh ini juga melengkapi Galaxy Note 3.

Air Gesture, kendali "tanpa sentuh" Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3.

Air Gesture, kendali “tanpa sentuh” Galaxy S4 sama dengan Galaxy Note 3.

Jpeg

Air Gesture memungkinkan preview foto tanpa jari harus menyentuh layar.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Dekatkan jari tanpa menyentuh layar pada browser, untuk zoom.

Fitur Smart Screen yang sama hadir di keduanya.

Fitur Smart Screen yang sama hadir di keduanya.

Layar pun menjadi lebih pintar dengan beberapa fitur Smart Screen yang diperkenalkan di Galaxy S4.  Hanya dengan menggerakkan kepala ke bawah, halaman web bisa otomatis scroll ke bawah. Sementara ketika memasang video, pemutar akan secara otomatis pause ketika melihat kita sedang memalingkan pandangan dari layar. Ini semua tentunya di atas fitur generasi sebelumnya yang pastinya tetap hadir seperti Smart Stay dan Smart Rotate. Ini pun ditemukan di Galaxy Note 3.

Kelebihan Galaxy Note 3 adalah Air Command, yang memang khusus untuk pena digitalnya.

Kelebihan Galaxy Note 3 adalah Air Command, yang memang khusus untuk pena digitalnya.

Sudah pasti, Samsung Galaxy Note 3 memiliki kelebihan eksklusif di fitur terkait pena digital S-Pen nya. Dan berita baiknya, Samsung menyederhanakan banyak cara pakai S-Pen sehingga yang awam pun akan cepat mengerti tanpa harus belajar.

Sebelumnya di Galaxy Note 2 begitu banyak fitur S-Pen yang mubazir karena cara pakainya menuntut kita belajar dulu dari petunjuk. Dulu harus tahu hal seperti menekan tombol S-Pen sambil menahannya di layar, orang jadi sulit hafal. Sekarang tidak lagi, semua jadi gampang tanpa perlu hafal caranya.

Entah itu mau membuat catatan, menulis di atas tampilan layar, mengkrop gambar dengan S-Pen, kini jadi lebih mudah di Galaxy Note 3. Begitu cabut pena, langsung keluar menu Air Command dan tinggal pilih apa yang mau kita lakukan.

Begitu S-Pen dicabut, Galaxy Note 3 langsung tampilkan menu Air Command.

Begitu S-Pen dicabut, Galaxy Note 3 langsung tampilkan menu Air Command.

Mau menulis di atas apapun yang ditampilkan layar? Tinggal pilih.

Mau menulis di atas apapun yang ditampilkan layar? Tinggal pilih.

Multi window, yang bikin kita bisa buka dua app berbarengan di satu layar jelas ada di Galaxy S4 dan Galaxy Note 3. Sudah biasa lah itu, tapi Samsung memberikan satu lagi yang baru di Galaxy Note 3. Kita bisa membuka app dengan window seukuran yang kita mau, di mana saja, menggunakan S-Pen.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Gambarkan ukuran jendela app yang kita ingin tampilkan di atas app lain.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

Pilih app apa yang kita inginkan di jendela tersebut.

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar Galaxy Note 3!

App kemudian tampil di jendela, di atas apapun tampilan layar Galaxy Note 3!

Memang, ukuran besar Samsung Galaxy Note 3 bukan tanpa tujuan, yaitu menjadi buku tulis saku digital. Banyaknya fitur S-Pen dan pengembangannya termasuk mengesankan, namun yang lebih penting bukan soal banyaknya fitur, tapi kemudahan memakainya.

Kembali ke fitur yang sama-sama dimiliki oleh kedua jagoan Samsung ini, yang menyukai olahraga mungkin akan senang dengan fitness tracking app S-Health yang sudah dipasang dari pabrikan, sementara yang malas dan lebih suka nonton TV seperti saya akan dipuaskan dengan kemampuan WatchOn membuat handset menjadi remote control.

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

S Health, fitness tracker dari Samsung Galaxy

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga dengan S Health.

Merekam dan mengukur kegiatan olahraga dengan S Health.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga. Hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Mengukur tingkat kenyamanan ruang untuk berolahraga. Hadir di Galaxy S4 dan Note 3.

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Remote control universal bisa kendalikan banyak merek audio video!

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Menjadi remote control untuk TV, DVD, Decoder TV berlangganan.

Percaya atau tidak, ini baru sekedar kulit dari bahasan fitur di Samsung Galaxy S4 dan Note 3. Terlalu banyak fitur untuk dibahas dalam satu ulasan, dan bahkan mungkin ada yang belum saya coba.

Pemenang: Galaxy Note 3

Bukan berarti Galaxy S4 kurang fitur, namun memang Galaxy seri Note akan selalu punya lebih banyak fitur karena dua hal. Pertama, Galaxy Note 3 memiliki S-Pen yang membawa beberapa kemampuan ekstra. Ke dua, secara urutan rilis tiap tahunnya pun Galaxy Note selalu belakangan setelah Galaxy S, jadi wajar kalau ada penambahan baru. Untuk pengguna yang rajin mencoba dan memaksimalkan smartphonenya, akan puas dengan Galaxy Note 3.

 

Stamina Batere, Siapa Yang Lebih Kuat?

Layar semakin besar, prosesor semakin bertenaga, fitur semakin banyak, pastinya juga menuntut lebih banyak daya. Mengantisipasi ini, kapasitas batere di Samsung Galaxy Note 3 sedikit lebih besar daripada Galaxy Note 2 yang reputasinya cukup tahan lama. Sementara kita bisa mencari hasil uji teknis yang ilmiah, saya bisa melaporkan bahwa batere di Samsung Galaxy Note 3 tidak mengecewakan. Pemakaian smartphone saya cukup berat, karena banyak memakai app untuk berbagai fungsi, dan sejauh ini setidaknya Galaxy Note 3 bisa bertahan dari pagi sampai sore. Sedikit lebih boros daripada Galaxy Note 2, namun sama-sama cukup charge sekali dalam sehari.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Batere 3200 MAh untuk Samsung Galaxy Note 3.

Antisipasi serupa juga dilakukan Samsung pada Galaxy S4 yang serba lebih dalam hal teknis dibanding kakaknya, Galaxy S3. Lagi-lagi bukan tes ilmiah dan sekedar berdasar pola pemakaian saya, batere Galaxy S4 lumayan kuat bertahan sampai siang-sore.  Secara umum, stamina batere Galaxy S 4 bukan termasuk yang sangat panjang namun pastinya bukan smartphone yang boros.

Pemenang: Galaxy Note 3

Sama juga seperti seri sebelumnya, stamina batere Samsung Galaxy Note 3 mengalahkan Galaxy S4. Mungkin satu keuntungan dari ukuran bongsor seri Note, bisa memuat batere yang lebih tinggi kapasitasnya daripada seri S. Pada akhirnya walau memang kalah dibandingkan Note 3, Samsung Galaxy S4 pun tidak termasuk smartphone yang boros batere.

 

Port USB, Ada Yang Beda?

Kedua smartphone ini dapat dicharge dengan colokan Micro USB, menggunakan charger dengan kapasitas 2MAh. Tapi ada satu hal baru diberikan Samsung di Galaxy Note 3, port nya sudah menggunakan USB 3.0!

Samsung Galaxy Note 3 di kanan sudah menggunakan port Micro USB 3.0

Samsung Galaxy Note 3 di kanan sudah menggunakan port Micro USB 3.0

Dengan sambungan USB 3.0, kita bisa melakukan transfer data jauh lebih depat, tentunya dengan peranti lain yang juga menggunakan USB 3.0. Memindahkan file, atau melakukan sync antara Galaxy Note 3 dengan komputer akan jadi lebih gesit. Dan walau sudah USB 3.0, kita tetap bisa menancapkan Micro USB 2.0 yang biasa di sisi kanannya.

 

Dan Pada Akhirnya

Sementara yang satu dirancang sebagai smartphone canggih yang ringkas dan kaya fitur, satu lagi dirancang untuk juga bisa menjadi buku catatan digital yang besarnya mendekati tablet. Di sini kita bandingkan murni karena mungkin aja ada yang sedang bingung milih di antara keduanya. Sebetulnya masih banyak lagi hal yang bisa jadi pertimbangan, namun kita rangkum dulu di sini. Jadi bagaimana dong kesimpulannya, siapa yang menang?

Samsung Galaxy S4

Samsung Galaxy S4

Samsung Galaxy S4 mungkin pilihan utama yang membutuhkan smartphone ringkas, canggih, kaya fitur dan nyaman dipakai dengan satu tangan. Nggak butuh layar besar, atau mungkin sudah punya tablet, rasanya akan cocok. Kameranya sama dengan Galaxy Note 3, bahkan ada reviewer yang bilang hasilnya lebih bagus. Stamina batere cukup baik, nggak akan terlalu merepotkan. Harganya yang lumayan jauh di bawah Galaxy Note 3 membuatnya patut dipertimbangkan.

Samsung Galaxy Note 3

Samsung Galaxy Note 3

Samsung Galaxy Note 3 adalah alat kerja yang luar biasa bermanfaat bagi para power user yang menginginkan smartphone nya bisa menjadi apa saja termasuk buku catatan digital. Mereka yang selalu mengandalkan pena dan kertas dalam mencatat apapun baik itu meeting atau hal lainnya akan sangat menghargai kemampuan Galaxy Note 3 yang semakin mudah dipakai. Ia memang besar, tapi dengan tujuan jelas dan stamina batere yang mengimbangi. Harganya termasuk tinggi, tapi masih bisa dimaklumi mengingat semua kemampuannya.

Samsung Galaxy S4 VS Galaxy Note 3.

Samsung Galaxy S4 VS Galaxy Note 3.

Pilih yang mana? Kembali ke kebutuhan dan juga anggaran kita masing-masing. Smartphone kelas high end seperti ini tidaklah murah, jadi cermatlah sebelum membeli. Jangan sampai mubazir, pilih hanya yang benar-benar akan kita pakai semua fungsinya secara maksimal.