30 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

20170222_070744

Setahun lebih janji untuk main ke kantor teman di Xiaomi Indonesia, baru Februari kemarin akhirnya kami ketemuan, ngobrol, nggosip, dan berkenalan dengan smartphone “Made in Indonesia” pertama Xiaomi, Redmi 4A. Memberikan satu unit demo untuk diulas, Xiaomi mempersilakan saya untuk berbagi kesan dan pengalaman memakai Redmi 4A, sebebas-bebasnya. Kelebihan, kekurangan, positif, dan negatif. Setelah sebulan lebih memakai, ini kesan-kesan saya tentang smartphone Android berharga Rp 1,4 juta rupiah ini. Nggak ada waktu untuk baca tulisan panjang? Rangkuman kesan pribadi saya kira-kira begini.

Kelebihan:

  • Spesifikasi dan penampilan bagus untuk harganya
  • Baterai yang seperti tidak habis-habis
  • MIUI 8 enak digunakan
  • Ringan

Kekurangan:

  • Kamera yang biasa saja
  • Charging agak lama
  • Punggung sepertinya mudah tergores

Seperti biasa, saya tidak ingin membahas angka dan spesifikasi teknis di sini, untuk yang membutuhkan informasi spec, dapat langsung klik di sini. Berikutnya, ini pengalaman saya.

Kesan Pertama: Penampilan Yang Mengecoh

“Eh, bagus ya.”, itu kalimat pertama saya waktu mengeluarkan handset dari box dan membolak-baliknya. Kejutan kecil, karena kalau melihat dari foto-foto di web, sama sekali nggak ada yang unik, menarik apalagi istimewa dari desainnya. Langkanya desain unik memang salah satu hal yang membuat saya belakangan kurang bersemangat dengan berita dunia per-smartphone’an. Di luar spesifikasi, rasanya semua terlihat sama, hanya persegi panjang dengan layar, kemudian ada merek A yang meniru merek B, dan merek C yang ‘terinspirasi’ merek D, dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan Redmi 4A, tampak depan sangat umum, sisi belakangnya mengingatkan saya pada rancangan HTC, sudut lainnya mungkin iPhone, and so on. Penampilan muka Redmi 4A cukup generik dan bahannya biasa saja, tapi sisi-sisi lainnya, samping, punggung, tampak dan terasa mengesankan di genggaman.

20170222_071321

Penampilan Redmi 4A bagi saya ‘mengecoh’, dalam arti bisa tampak lebih ‘mahal’ dari harganya, sementara bobotnya yang sangat ringan walau menyenangkan jadi tidak mengesankan produk yang kokoh. Tanpa membandingkan dengan yang lain, hape ini rasanya ‘seenteng angin’, dan ini bisa jadi hal positif maupun negatif. Di sisi baiknya, ia tidak akan membebani saku, sementara di sisi lain, saya sering jadi harus cek kantong untuk memastikan handset ini ada karena tidak terasa. Walau ringan, Redmi 4A tidak terasa kopong atau terlihat plastik, apalagi dengan kesan logam warna metalik punggungnya. Berharap dapat bodi metal di kelas harga ini? Ya enggak lah, namun bahan punggung Redmi 4A ini membawa saya ke satu hal lainnya.

20170222_070922

Ini tip dari saya: sebaiknya segera berikan Redmi 4A mu casing, karena walaupun tampak kuat, sepertinya punggungnya retan tergores. Ini hal yang saya temukan secara tak sengaja dan cukup membuat ‘nyesek’, karena terjadi saat sedang senang-senangnya baru memakai hape ini. Nggak sengaja menaruh handset ini di saku bersama koin dan kunci mobil, saya menemukan dua baretan halus yang sebelumnya tidak ada. Memang bukan goresan dalam, dan tidak terlalu terlihat, tapi tetap saja disayangkan. Jadi, bagi yang berminat membeli Redmi 4A, saya sarankan langsung beli casing pelindung. Mungkin sekalian juga pasang screen protector kalau mau, toh nggak mahal. Keep it pretty.

Kesan Kedua: Batere Stamina Tinggi & Performa Andal

Walau hape ini bisa memakai 2 SIM card, saya hanya memakai satu slot dan yang  satu lagi dipakai untuk memory card. Xiaomi Redmi 4A mengambil alih posisi hape ke dua saya, yang pemakaiannya tidak kalah dari hape utama. Fitur-fitur krusial semua ada di Redmi 4A, tak terlupakan IR blaster untuk menjadi remote control entah TV, AC dan lainnya. Hape ini datang di masa yang berat bagi saya, di mana mayoritas hari-hari dilalui menunggu orangtua yang diopname di rumah sakit dalam kondisi kritis. Dalam situasi itu, pemakaian smartphone jadi lebih aktif dari biasanya. Tanpa banyak yang bisa dilakukan saat jaga, media sosial, text messenger, streaming dan juga game jadi cara mengatasi stres juga kejenuhan. Sementara nomor utama saya bolak-balik harus dicharge dalam sehari, saya terkesan dengan stamina batere Xiaomi Redmi 4A ini yang seperti tidak habis-habis. Mestinya semua smartphone bisa begini, memudahkan sekali.

Dengan pola pemakaian yang sebanding dengan Galaxy S5 tua saya, Redmi 4A bertahan jauh lebih lama, dan pulang di tengah malam dalam kondisi yang belum harus dicharge. Itu kalau aktif, bagaimana kalau jadi hape backup yang lebih sering dalam posisi standby? Sampai dua hari pun Redmi 4A saya belum perlu ditancap ke charger. Penasaran, saya cari tahu soal kapasitas baterainya. Pantas saja, batere Redmi 4A lumayan besar untuk spesifikasinya. Satu saja yang perlu diperbaiki, pengisian ulang/charging batere Redmi 4A rasanya relatif lama.

Untuk Android kelas ini, spesifikasi teknis tidak akan muluk, namun untuk harganya tetap cukup baik. Tidak kurang. Contohnya, layar. Sudah lama terbiasa dengan layar Full HD 1080p, untuk turun ke sekedar HD lagi membuat saya ragu, tapi nyatanya resolusi 720p HD sudah sangat bagus untuk ukuran 5 inci Redmi 4A. Tidak sedikitpun saya merasa ada yang kurang tajam di tampilannya. Semua tampak tajam, crisp, kinclong. Sementara kita tahu di kisaran harga ini masih ada juga merek-merek yang belum memberi resolusi HD.

Sekedar supaya bisa membahas performa, saya sempat meng-install beberapa game. Aplikasi-aplikasi biasa seperti media sosial, messaging, navigasi dan lainnya sudah pasti berjalan mulus tanpa cegukan, tapi game lebih menuntut. Karena bukan gamer, saya mencoba beberapa game yang saya kira lumayan butuh tenaga. Biasanya, driving game perlu kemampuan grafis yang baik, dan saya mencoba Asphalt Nitro yang berjalan mulus pada setting maksimal. Sama halnya dengan game FIFA Mobile Football yang lancar tanpa hambatan. Dari beberapa game yang saya coba, adalah shooting game Sniper 3D Assassin yang mengalami sedikit cegukan di setting grafis tertingginya, itu pun hanya saat replay. Bukan masalah. Overall, bagi saya Xiaomi Redmi 4A sudah cukup untuk jadi alat hiburan/casual gaming yang menyenangkan.

20170305_140559

Kesan Ke Tiga: Kamera Kurang Greget

Di kisaran harganya yang di Rp 1,4 juta, kemampuan kamera adalah sesuatu yang saya pasrahkan. Nggak ada ekspektasi. Dan pada akhirnya memang kamera Redmi 4A bagi saya sekedar cukup dan fungsional. Suatu hari, untuk melepas stres saya memutuskan untuk menepi dan mampir di sebuah taman di Jakarta Selatan, sekalian menjajal kamera belakang hape ini. Hari itu langit agak kelabu, namun cukup terang dan panas. Taman kecil itu ternyata cukup indah dan menyenangkan, saya memotret sana-sini, sampai dihampiri sekuriti. Hasilnya, sangat hambar. Kualitas foto 13 megapixelnya rasanya cukup saja, namun di mata saya warna-warnanya mati dan tidak menggugah, tidak membuat saya ingin memotret lebih banyak.

Untung, Xiaomi dengan MIUI nya tidak pelit memberi fitur dan setting kamera, dan yang belakangan saya temukan adalah dengan sedikit mengubah pengaturan ketajaman dan saturasi, Redmi 4A kadang bisa memberikan hasil foto yang lumayan mengesankan. Sepertinya, untuk tiap objek bisa jadi lebih baik jika dicoba dengan setting berbeda. Jika sebelumnya di taman tadi saya tidak berhasil mendapatkan warna bunga yang ‘keluar’, di kesempatan lainnya hanya dengan sedikit mengutik saturasi, Redmi 4A kadang berhasil memberikan foto yang warnanya lebih memikat. Jangan lupa, warna juga termasuk selera pribadi.

Saya tidak punya referensi pembanding pabrikan lain yang sekelas, namun mungkin bisa disimpulkan untuk kelas harga ini, kamera belakangnya cukup baik asalkan pencahayaan cukup. Untuk kamera depan memang saya tidak banyak mencoba, cuma rasanya lensanya cukup wide jadi selfie bisa sedikit lebih jauh (nggak usah dipasang fotonya ya, malu), dan rasanya resolusi 5 megapixel pun cukup besar. Di sisi fitur video, sama juga, tidak ada catatan istimewa, namun bisa dipakai. Overall, semua soal kamera di hape ini bagi saya sekedar mencukupi. Jangan khawatir, Instagram mu tetap bisa keren.

Kesan Ke Empat: Fatwa ke 8 dari MIUI

Hampir semua pembuat gawai Android membungkus sistem operasi dengan antarmuka khas nya masing-masing. Antarmuka, atau interface, itu lho, yang tampil di layar dan memandu kita menggunakan peranti. Walau sama-sama pakai Android versi X, dari merek ke merek beda tampilan dan cara memakai ya karena ini, masing-masing pabrikan punya antarmuka, user interface atau ‘UI’ sendiri. Nah, Xiaomi dari dulu sangat mengangkat dan membanggakan UI khasnya, yang namanya MIUI. Saya pertama berkenalan dengan MIUI di Redmi 2 Prime, 2 tahun lalu. Waktu itu kesan saya adalah, bagus, sangat terancang dan rapi, tapi di beberapa hal justru tidak intuitif, alias mesti belajar dulu. Saat itu, sementara saya menyukai hardware Xiaomi, bagi saya MIUI overrated. Ini yang membuat saya skeptis waktu akan mulai memakai Redmi 4A. Ternyata, banyak yang bisa berubah dalam 2 tahun.

Xiaomi Redmi 4A saya menjalankan MIUI versi 8.2.10 yang ternyata menyenangkan dipakai. Jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Rasanya, yang belum pernah memakai hape Xiaomi pun tidak akan mengalami hambatan atau kagok memakai antarmuka ini. Antarmuka khas Xiaomi yang membungkus Android Marshmallow ini simple, lincah, dan memberi banyak kemudahan, seperti memberitahu kita jika file sampah sudah terlampau banyak dan menawarkan pembersihan. Ada fitur ‘Second Space’ yang bisa memisahkan hape kita seperti menjadi dua hape berbeda, berguna jika hape sering dipinjam. Lalu ada juga ‘Dual App’, ini memungkinkan pengguna memakai dua akun di satu app, misalnya butuh Whatsapp atau Facebook aktif dengan dua akun berbeda. Lewat MIUI, Xiaomi memang menunjukkan perhatian mereka pada kebutuhan pengguna. Ada sih, satu dua hal memang masih menggelitik, seperti tombol ‘Home’, mestinya membawa kita halaman ‘Home’, namun di MIUI, jika app kita berada dalam suatu folder, menekan ‘Home’ hanya mengembalikan kita ke folder. Selebihnya, saya tetap prefer ada app drawer, namun hal-hal ini ini juga bukan sesuatu yang terlalu krusial. Secara keseluruhan, MIUI sekarang ini melengkapi sisi hardware yang baik dengan pengalaman pemakaian yang memudahkan.

Kesimpulan

Secara mengejutkan, saya sangat betah memakai Redmi 4A. Di luar kameranya yang kurang mengesankan, hape entry level Xiaomi ini sangat menyenangkan dipakai, dan ini sebagian besar kontribusi faktor stamina baterenya. Saya tidak perlu fingerprint lock, tidak juga ngidam body metal, bahkan tidak tmementingkan RAM 2GB yang dibenamkan di hape ini. Terutama untuk hape ke-dua, pada dasarnya yang saya butuhkan adalah Android 4G yang bisa diandalkan, kalau tak harus sedikit-sedikit di-charge pastinya lebih baik. Kesan terbesar Redmi 4A bagi saya memang stamina baterenya. Dampak iritnya batere tidak bisa diremehkan, ia memberikan ketenangan dan keyakinan dalam memakai; bahwa ketika dibutuhkan, hape masih mempunyai daya yang cukup. Di harga Rp 1,4 juta, Redmi 4A patut dipertimbangkan siapapun yang membutuhkan smartphone Android andal dengan budget konservatif. Mencari hape ke dua atau backup phone? Saya berani mengatakan Xiaomi yang satu ini tidak akan mengecewakan.

20170222_071250

Ethics Statement:

Perwakilan Xiaomi Indonesia memberikan handset Redmi 4A untuk keperluan ulasan. Tidak ada transaksi, ikatan perjanjian, maupun kewajiban untuk menuliskan apapun, terutama yang bersifat endorsement. Ulasan di blog ini adalah opini pribadi berdasarkan kesan dan pengalaman pemakaian apa adanya.

Iklan

Kesan Pribadi: Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Dikenal sebagai varian ponsel Android yang terjangkau dan berkualitas, Redmi adalah seri entry level andalan Xiaomi. Setelah sukses dengan Redmi dan Redmi 1S, maka di tahun 2015 ini Xiaomi merilis penerusnya yaitu Redmi 2, yang tak lama kemudian disusul oleh versi upgradenya, yaitu Redmi 2 Prime Edition. Pada dasarnya, masih ponsel yang sama, dengan beberapa peningkatan yaitu di memori dan penyimpanan internal. Lama mendengar dan membaca berbagai bahasan tentang Xiaomi, akhirnya saya berkesempatan mencoba Redmi 2 Prime Edition, dan ini adalah kesan pribadi saya setelah hampir dua bulan memakai.

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Sekilas Kelengkapan

Dengan harga sekitar Rp 1,8 juta di pasaran, Redmi 2 rasanya memberikan fitur yang cukup komplit. Untuk sambungan seluler dan data, bukan hanya dibekali 2 slot SIM card yang aktif berbarengan, Redmi 2 sudah mampu menggunakan jaringan 4G LTE. Bluetooth, wifi dan GPS dipastikan hadir sementara absennya NFC di kelas ini rasanya wajar. Sistem operasi bawaan dari pabrik adalah Android Kitkat, dengan antarmuka MIUI 6.7 yang kabarnya akan segera mendapatkan pembaruan ke MIUI 7 di November 2015 ini.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Redmi 2 Prime Edition menunjukkan Android Kitkat masih bisa unjuk gigi.

Lebih besar dari Redmi 2 versi pertama, Prime Edition mempunyai kapasitas penyimpanan internal sebesar 16GB dan memori 2GB RAM. Jika pun storage dirasa kurang, masih ada slot untuk Micro SD sampai dengan 32 GB. Kamera hadir di depan dan belakang, merekam foto dengan resolusi 8 dan 2 megapixel, juga video Full HD. Untuk tampilan. Redmi 2 menggunakan layar 4,7 inci dan resolusi gambar HD. Rasanya, ukuran handset ini termasuk pas, tidak kecil, dan tidak juga besar.

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan) dan AndroidOne (kiri).

Membandingkan ukuran Redmi 2 (kanan, pelindung layar belum dilepas) dan AndroidOne (kiri).

Untuk yang ingin tahu spesifikasi detil, klik di sini.

Kesan Fisik & Desain

Tidak ada yang unik di rancangan bentuk Redmi 2, hanya bodi hitam dengan layar, tanpa aksen pemanis sama sekali. Jika tidak sengaja mencari, mungkin saya pribadi tidak akan melirik sama sekali, karena tampak sangat generik, namun memang tak ada ekspektasi khusus di rentang harga ini. Yang terasa beda hanya penempatan lampu notifikasi yang berada di bawah, sementara kebanyakan Android meletakkannya di atas dekat kamera depan. Xiaomi menempatkan tombol volume di atas tombol power, dan keduanya berada di sisi kanan. Ini bukan yang pertama, dan sedikit mengganggu saya pada awalnya. Baru di hari ke dua saya menyadari bahwa penutup belakang sebenarnya berwarna abu-abu metalik, cover yang terbuat dari plastik ini juga tak memiliki tekstur apapun selain logo Mi.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Sekilas tampak biasa, namun back cover Redmi 2 ini terasa melebihi kelasnya.

Di balik kesederhanaan rancangan fisik Redmi 2 yang membosankan di mata, saya menemukan beberapa hal yang justru mengesankan. Pertama, layar sentuh ternyaman yang pernah saya gunakan. Sementara kebanyakan pabrikan mengandalkan Gorilla Glass buatan Corning, Xiaomi menggunakan Dragontrail Glass dari AGC, dan mungkin ini lah yang membuat perbedaan sensasi ini. Tentunya, ini kesan pribadi dan tiap orang bisa berbeda. Demikian pula dengan back cover nya yang terbuat dari plastik, walau hambar secara desain, terasa sangat mantap dan keras di genggaman. Tidak ada derit atau tekukan, Xiaomi membuat Redmi 2 terasa kuat, solid, dan lebih mahal daripada harganya. Hal-hal positif ini hanya dapat dirasakan sendiri, dan tak ada foto ataupun video yang bisa menggambarkannya.

Kesan Pemakaian & Performa

Entah sugesti atau bukan, tapi sejak awal dinyalakan rasanya Redmi 2 menjanjikan pengalaman yang beda. Ada kesan bersih, minimalis, dan lebih tertata. Mungkin ini disebabkan oleh dua hal positif pertama yang langsung terlihat, yaitu tampilan layar tajam dengan warna yang tampak akurat, dan bagaimana Xiaomi tidak menjejali ponselnya dengan bloatware, atau aplikasi-aplikasi tak penting yang akhirnya hanya memakan tempat. Tak lebih dari 20 app, hanya fungsi-fungsi paling dasar yang memang kita butuhkan, dari kalkulator, bar reader, radio FM dan music player. Tentunya sebagai gawai Android, aplikasi-aplikasi dasar Google seperti Gmail dan Google Maps juga disematkan sejak awal, dalam satu folder tersendiri. Selebihnya, terserah kita. Tak perlu repot men-uninstall atau menon-aktifkan bloatware, dan penyimpanan internal pun tak banyak terbuang.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Layar Redmi 2 mengesankan, tampilan tajam dengan warna yang terasa akurat.

Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Tools dari Xiaomi. Hanya yang penting, tidak ada sampah.

Lincah dan gesit tanpa tersendat, selama 1,5 bulan pemakaian reguler belum ada penurunan performa yang dirasakan. Membuka, menutup, berpindah antar aplikasi dijalankan Redmi 2 Prime Edition tanpa jeda berarti. Tak ada lagging, tak ada jeda yang membuat kesal. Bagi saya, kecepatan Xiaomi ini bebas dari keluhan dan jauh dari lemot. Mayoritas aplikasi media sosial dan game populer seperti Clash of Clans berjalan mulus di Redmi 2 saya, namun bukan berarti 100% sempurna juga. Sejak awal pemakaian ada sekitar 5-6 kali kejadian force close aplikasi, di antaranya di Snapchat, Path dan VSCO. Tentunya, ini belum tentu disebabkan oleh gawai, karena bisa jadi ada ketidakcocokan di aplikasi. Secara keseluruhan, performa Redmi 2 sangat memuaskan bagi saya, bebas dari kesan ‘entry level’. Yang berkontribusi terhadap kesan ini sebagiannya mungkin adalah MIUI.

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Redmi 2 Prime Edition saya menjalankan MIUI 6.7.1

Bicara Xiaomi, berarti bicara MIUI, antarmuka khasnya yang sudah mempunyai penggemar sendiri. Kita tahu, walau menggunakan sistem operasi yang sama, hampir semua pabrikan Android membuat antarmuka dengan gaya dan keunikannya sendiri. Sementara mayoritas antarmuka mendapatkan kritik entah karena memberatkan ataupun sekedar buruk rupa, MIUI mungkin satu-satunya yang mendapatkan banyak pujian. Mulai dari penampilan, kelincahan, kelengkapan dan kemudahan, begitu sering pujian dilontarkan terhadap interface khas Xiaomi. Setelah lama mendengar dan membaca tentang MIUI ini, akhirnya saya kesampaian menjajalnya di Redmi 2 Prime Edition.

Untuk masuk pengelolaan home screen ini, harus pakai gestur pinch 2 jari.

Bukan ‘long press’, untuk masuk pengelolaan home screen ini, pakai gestur pinch 2 jari.

Di luar dugaan saya yang sebetulnya antusias, perkenalan dengan MIUI terasa canggung dan sedikit bikin geregetan. Apa pasal? Beberapa hal sederhana yang sudah begitu terbiasakan di Android dibedakan, hingga harus mengganti kebiasaan. Mulai dari pengaturan layar Home, untuk memulainya MIUI mengajarkan kita untuk melakukan gestur pinch dengan dua jari, layaknya mengecilkan gambar. Yang biasanya cukup dengan satu jari ditahan, sekarang di MIUI harus dengan gestur dua jari. Pengaturan yang memakai slider seperti di Screen Brightness pun ada bedanya. Jika biasanya kita bisa tap di mana saja di garis slider, di MIUI kita harus tap tepat di titik pengaturan, sebelum bisa digeser kanan-kiri.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Mengatur slider brightness itu harus tepat di titik pengaturnya.

Dan bicara layar Home, bersiaplah untuk lebih repot mengatur karena MIUI meniadakan App Drawer atau laman khusus penyimpan aplikasi. Alih-alih punya laci khusus, aplikasi dan widget akan menempati laman-laman yang sama. Bersiaplah untuk lebih rajin membuat folder, jika banyak memasang app. Ya, akhirnya seperti iOS di gawai Apple. Ini disusul dengan kejutan aneh lagi. Ketika menekan tombol Home, saat membuka app yang sudah kita tempatkan dalam folder, MIUI akan membawa kita kembali ke layar folder dan bukan ke layar Home. Walhasil, jika mau kembali ke Home mesti menekan dua kali. Kalau saya mau kembali ke folder, saya akan tekan back, sekarang buat apa tombol Home kalau fungsinya bukan langsung membawa ke Home?

Pengaturan volume utama dengan tombol fisik di kanan gawai.

Menekan tombol volume akan mengatur moda suara relevan saat itu.

Untuk masuk menu ini, buat gestur lingkaran setelah ikon volume tadi muncul.

Untuk masuk menu ini, harus pakai gestur lingkaran setelah ikon volume tadi.

Perancang MIUI sepertinya berprinsip, “apapun yang berupa gestur, gerakan, pasti lebih intuitif daripada menekan”. Contohnya, ketika menekan tombol volume, dan kita ingin masuk ke pengaturan yang lebih dalam, di kebanyakan Android, kita tinggal menekan tombol di window volume yang muncul. Di MIUI saya mencoba berkali-kali tap volume yang tampil setelah menekan tombol, tidak ada reaksi. Ternyata harus membuat gestur lingkaran, barulah pengaturan volume Media, Notification dan lainnya keluar. Bahkan TouchWiz, UI Samsung yang paling banyak dicela karena berat dan dianggap tuna-estetika pun tidak membuat saya mesti belajar dulu. Bagi saya pribadi, intuitif adalah ketika kita tidak perlu terlalu belajar dulu. Saya dan siapapun pada akhirnya akan terbiasa, namun hanya karena ‘pada akhirnya terbiasa’, tidak berarti tidak ada cara yang lebih mudah. Semoga para perancang MIUI terus mengembangkan antarmukanya agar makin intuitif.

MIUI lebih cerdas menawarkan pilihan ketimbang 'Just Once' & 'Always'.

Opsi ‘Remember my choice’, lebih cerdas ketimbang harus ‘Just once’ & ‘Always’.

Di luar ‘hal-hal kecil’ tadi, saya merasa MIUI adalah user interface ponsel Android yang paling lincah, matang dan terancang, baik dalam fungsi maupun tampilan. Keluhan kecil di atas bahkan terasa kontradiktif dengan keseluruhan rancangan Xiaomi yang terkesan sangat memerhatikan keinginan pengguna Android. Contohlah ketika membuka sesuatu tautan yang dapat menggunakan beberapa app, biasanya kita akan memilih aplikasi, plus opsi ‘Just Once’ atau ‘Always’. MIUI mengirit satu langkah dengan mengasumsikan kita hanya mau menggunakan app terkait sekali saja, dengan opsi berupa radio button yang bisa dicentang jika kita ingin selalu menggunakan aplikasi tersebut. Cerdas. Kematangan ini terasa lagi diantaranya di menu Settings, yang saya pribadi rasakan paling sederhana, ringkas dan mudah di antara yang sudah pernah saya miliki. Sekali lagi ada kesan mirip dengan Apple iOS, Settings hanyalah satu halaman dengan list. Tak bingung mesti memilih tab yang mana, semua terpampang jelas dan logis. Mestinya semua gawai Android ya begini.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Menu Settings paling praktis yang pernah saya dapatkan di Android.

Favorit saya dalam menggunakan Redmi 2 dan MIUI-nya, adalah manajemen memori yang proaktif, ya, ini istilah karangan sendiri. Saya adalah pengguna Android yang terlalu malas untuk memeriksa berapa RAM yang terpakai, berapa cache memory yang menumpuk, berapa app yang harus ditutup, dibersihkan, dan lainnya. Bahwa seorang user harus memikirkan kesemua hal itu saja bagi saya sudah merupakan kekurangan besar dari Android. Karena itu, adalah kejutan menyenangkan bagi saya ketika notifikasi di Redmi 2 pada suatu hari memberitahu saya, bahwa ‘sampah’ memori saya sudah mencapai sekian MB dan bisa dibersihkan dengan satu tap.

MIUI proaktif memberitahu kita jika 'sampah' memori menumpuk.

MIUI proaktif memberitahu kita jika ‘sampah’ memori menumpuk.

Dan membersihkan berbagai 'sampah' memori pun cukup satu tap.

Dan membersihkan berbagai ‘sampah’ memori pun cukup satu tap.

Pro-aktif, MIUI mendului dan memudahkan saya mengatasi hal yang biasanya merepotkan. Mau melakukannya sendiri? Semua ada di aplikasi Security dari MIUI, di dalamnya lengkap dari Cleaner untuk pembersihan memori dan penyimpanan, hingga pemindai virus. Semua dengan tampilan bersih, minimalis dan mudah dipahami. Ini dan beberapa kelebihan lainnya membuat saya lupa, bahwa Redmi 2 ini dari pabriknya masih berbasis Android Kitkat.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner.

Mungkin favorit saya di gawai Xiaomi ini: Cleaner. Harusnya semua Android punya ini!

Pada akhirnya, seiring semakin terbiasanya saya dengan MIUI di Redmi 2 Prime Edition ini, saya memahami mengapa Xiaomi memiliki penggemar sendiri. Kesan pertama saya di awal tidak salah, memang sebuah pengalaman Android yang berbeda, dan walau bukan sesempurna yang saya antisipasi, memang di atas rata-rata.

Kamera

Tak ada ekspektasi tinggi di sini, dan setelah dicoba, memang kamera di ponsel Xiaomi ini tidak mengecewakan, tidak pula istimewa. Bagi saya, kamera di Redmi 2 Prime Edition termasuk cukup dan itu sama sekali bukan hal buruk. Dalam kondisi cahaya yang ideal, ia dapat menghasilkan jepretan yang cukup baik.

Antarmuka kamera di MIUI

Antarmuka kamera di MIUI

Fitur-fitur standar yang diharapkan dari kamera smartphone seperti HDR, efek filter, dan lainnya hadir. Sebagai pelengkap, Xiaomi juga menawarkan penyimpanan online untuk foto-foto kita, menggunakan akun Mi Cloud yang memberi ruang sebesar 5 GB.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Filter efek warna di kamera, untuk yang suka.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Galeri foto MIUI, dibagi jadi 3 tab.

Pada umumnya foto-foto yang dihasilkan cukup menyenangkan, warna yang hidup, dan detail yang wajar. Jarang terjadi, tapi white balance pada kamera bisa meleset dan memberi warna yang salah, jika itu terjadi, cobalah dengan memilih opsi Scene yang disediakan, lihat mana yang memberi hasil sesuai pandangan mata.

Dari pameran di Pacific Place.

Dari pameran di Pacific Place.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Diambil dengan HDR. Tanpa HDR, langit-langit sudah putih total.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Warna yang terekam cukup akurat dan real.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Di pencahayaan yang baik, hasilnya memuaskan.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Ada kalanya, white balance meleset, yang seharusnya putih jadi berubah.

Mengatasi white balance yang meleset, pakai opsi Scene yang mendekati realistis.

Melesetnya white balance di atas disiasati dengan menggunakan Scene untuk pantai.

Tentunya kamera di Xiaomi Redmi 2 ini juga mampu merekam video Full HD, tapi sampai saat penulisan, saya belum pernah benar-benar mencobanya.

Ketahanan Batere

Sebelumnya, sekedar mengingatkan, ini adalah kesan pribadi saya selama memakai ponsel Xiaomi ini. Ulasan yang akurat mengenai batere, tentunya menggunakan pengujian dan prosedur teknis yang baku. Saya tidak melakukan semua itu, namun sekedar memakai Redmi 2 Prime Edition secara reguler setiap hari, dengan pola pemakaian khas saya, yang tentunya belum tentu sama dengan orang kebanyakan. Pengalaman yang saya dapat, seperti kameranya, stamina batere Xiaomi Redmi 2 ini cukup saja. Tidak buruk, dan tidak pula istimewa.

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Batere Xiaomi Redmi 2 Prime Edition

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Stamina batere pada pemakaian ringan.

Di kebanyakan hari, dengan penggunaan mayoritas di aplikasi email, browser dan media sosial dan fungsi hotspot sering dinyalakan, Redmi 2 dapat bertahan dari pagi hingga sore. Dengan satu pengisian penuh, rata-rata saya mendapatkan sekitar 12 jam aktif sebelum harus kembali menempel charger. Juga menjajal kemampuan Dual SIM di Redmi 2, saya merasakan ada sedikit perbedaan stamina batere antara menggunakan satu dan dua SIM, tapi tidak signifikan. Stamina batere Redmi 2 cukup, tidak ada keluhan khusus.

Akhir Kesan

Jika harus memilih ponsel Android di rentang harga Rp 1,5 sampai Rp 2 juta, saya rasa memang Redmi 2 Prime Edition layak menjadi salah satu yang dipertimbangkan. Tak hanya bicara spesifikasi, dengan antarmuka khasnya, Xiaomi tampak memikirkan cara untuk memberikan pengalaman penggunaan Android yang lebih terpoles, bahkan di gawai kelas pembukanya. Terlepas dari beberapa keluhan, secara keseluruhan MIUI terasa lebih matang dibanding antarmuka gawai-gawai Android lain yang pernah saya pakai.

Apakah ia lebih baik dari produk-produk saingan sekelasnya? Ini belum bisa saya jawab. Ada banyak pabrikan lain yang mulai tampak menjanjikan, seperti Meizu, Vivo dan Infinix. Namun paling tidak, dibanding beberapa pemain di kelasnya, bagi saya Redmi 2 sudah punya satu kelebihan sendiri yaitu reputasi Xiaomi dan komitmennya untuk menjadi salah satu pemain yang terbaik.

JalanRaya: Menjajal Ford All-New Everest di Lumpur dan Air Thailand

Ford Everest drive 011

Konvoi panjang Everest Drive berangkat di pagi hari. Foto: dok. Ford

30 Juli 2015, lewat pukul delapan pagi,  belasan mobil Ford All-New Everest baru bergegas meninggalkan parkiran Le Meridien Resort, berangkat dan membelah jalan-jalan kota kecil Chiang Rai, Thailand. Dikendarai bergantian oleh dua puluh wartawan otomotif Indonesia, konvoi bergerak cepat dikawal sebuah mobil polisi, dan service car yang menjaga komunikasi dengan semua peserta lewat radio. Berada di mobil nomor 5, saya memerhatikan bagaimana teman saya, Leo, memacu SUV 4×4 dengan mesin turbodiesel 3.2L dan transmisi otomatis ini dengan begitu entengnya. Sejak pertama mendapat undangan dari Ford Indonesia untuk mencoba SUV mewah terbaru mereka off road di Thailand, saya sudah tidak sabar menunggu hari ini.

Ford Everest drive 004

Alamnya tidak beda dengan Indonesia. Foto: dok. Ford

Konvoi mulai menjauh dari kota, menuju pinggiran, pemandangan pun semakin hijau dan familiar. Pepohonan, kebun sawah, dan rumah-rumah penduduk. Kalau nggak ada papan iklan atau petunjuk jalan berabjad Thai, mungkin daerah pinggir kota ini bisa saja kita bilang Jawa Barat. Stage pertama test drive ini adalah free riding, dan untuk keamanan, control car di depan selalu memberi informasi lewat radio jika ada traffic dari arah berlawanan. Terlihat beberapa peserta memacu Everest nya melampaui rekan-rekan di depannya, namun tetap tertib kembali ke barisan. Melihat jalanan terbuka dan aman, Leo memutuskan untuk menjajal tarikan mobil bongsor ini. Mengambil jalur kanan dengan cepat, turbodiesel Duratorq sang Everest baru ini merespon dengan deruman suara rendah yang sangat halus dalam kabin, diiringi percepatan yang membuat saya mencari pegangan sementara badan menyandar ke jok. Dua mobil depan terlewati dalam sekejap, Leo kembali masuk konvoi yang bergerak cepat. No sweat. Begini rupanya rasanya SUV kelas premium. Tak terasa, kami sampai di check point pertama.

20150730_100123

Checkpoint pertama, berganti giliran test driver sebelum lanjut.

Perhentian pertama adalah di semacam kantor kelurahan, letaknya persis di kaki bukit dan tepi sungai yang airnya berwarna coklat. Para jurnalis langsung sibuk mengambil gambar, sementara beberapa ke kamar kecil sebelum melanjutkan stage on-road berikutnya. Setelah mengatur posisi jok nyaman dengan electric seat adjusternya, kali ini giliran saya mengemudi. Rute stage 2 menuju Canary Resort masih di jalanan aspal namun relatif lebih ada traffic dibanding sebelumnya, dan nggak butuh waktu lama membuat saya nyaman membawa Everest. Mobil ini tinggi dan besar, di dalamnya pun kita merasakan itu, namun mengemudikannya tidak terasa seperti membawa kapal. Walau banyak hal sudah diambil alih ‘by wire’, saya merasakan kendali, keterhubungan pengemudi dengan mesin, dengan jalanan. Melaju di tikungan terasa aman dan mantap, walau tentunya tetap dengan karakter mobil tinggi.

Ford Everest drive 028

Nggak terasa kalau ternyata mobil jalan cukup kencang. Foto: dok. Ford

Daerah Chiang Rai yang sepi ini semakin terasa seperti Sukabumi, atau Cikole. Pelan aja, nggak usah ngebut, saya pikir sambil melaju dengan damai di urutan konvoi. Ini yang saya butuhkan, liburan sejenak dari Jakarta, dengan pemandangan sejuk. Saat itu Leo bergeser sejenak untuk mengintip display sambil bertanya.

“Jalan berapa kita?”

Saya menjawab sambil melirik sekilas ke display speedometer.

“Santai lah, paling enampu-.. Holy shit.”

Ternyata kecepatan mobil saat itu 100 KM/jam dan saya sama sekali nggak menyadari. Yang saya tahu, saya jalan santai dan nggak berasa ngebut, mesin tenang, bodi stabil layaknya jalan pelan. Ternyata jalan cepek! Setelah dipikir, memang iya juga, pengawalan polisi berjalan dengan kecepatan tinggi. Tapi tentunya ini tidak berlangsung lama karena jalan berliku dan kami mulai masuk belokan-belokan kecil, yang akhirnya membawa kami ke perhentian ke dua, sebelum memasuki stage off-road. Check point ke dua, Canary Resort.

20150730_104309

Checkpoint ke dua, Canary Resort.

Canary Resort ini seperti semacam taman wisata alam di bukit yang hijau dengan pepohonan sejuk. Sebagian peserta yang kebagian unit 4×2 ditukar dengan unit 4×4 untuk off road. Semua turun membawa gembolannya. Tiap peserta dibekali panitia dengan sekantong berisi berbagai snack, bermacam permen, tisu basah, jas hujan disposable hingga inhaler menthol untuk mereka yang, well, butuh inhaler menthol. Setelah kopi dan presentasi singkat tim Ford tentang fitur off road All New Everest yang saking canggihnya akan butuh satu artikel panjang tersendiri, Everest Drive pun berangkat lagi. Leo kembali di belakang kemudi, sementara saya menikmati pemandangan dalam kenyamanan yang mewah. Ini bagian yang paling ditunggu, off road test drive.

Ford Everest drive 042

Pedalaman Chiang Rai, Thailand. Foto: dok. Ford

Belasan SUV mulus kinclong memperlambat lajunya meninggalkan aspal, menjejak jalur tanah merah yang masih licin karena ditimpa hujan semalaman dan rintik gerimis pagi. Mobil patroli polisi melipir, dan Ranger Wildtrak mengambil posisi terdepan, sementara di titik-titik strategis terlihat crew dan safety marshal dari Ford stand by. Perlahan mobil memasuki daerah pedalaman Chiang Rai, melewati pedesaan, membelah sawah, menuju sebuah lembah yang berada diantara bukit-bukit tinggi. Di cuaca gerimis tipis yang cukup adem, pemandangan lokasi ini indah dan menyejukkan. Trek off road ini seperti trail ride di jalan kampung, dan bukan medan berat ala kompetisi. Namun demikian, semua tetap mengambil jarak dan tidak meremehkan safety. Melihat deretan All-New Everest membelah sawah memang lucu, seperti melihat mobil kota nan mengkilap yang salah tempat.

20150730_123917-1-1

Membelah desa dan sawah di lembah Chiang Rai.

Semakin jauh masuk ke dalam, jalur semakin licin dan basah. Walau relatif bukan medan berat, sambil jalan saya berpikir. Ini full time four wheel drive kan ya? Rasanya tadi di briefing sih begitu, atau apa harus ada yang diaktifkan dulu ya? Kebanyakan fitur, yang dasar malah saya lupakan. Rupanya bukan cuma saya yang mikir begitu. Tak lama, salah satu peserta memanggil lewat radio komunikasi.

“Nyalain four wheel drive nya gimana ini?”

Di stage ini dua personel Ford ikut di mobil kami, dan langsung menjawab.

“Four wheel drive konstan, nggak perlu set apa-apa.”

Ah, bener, Ford Everest 4×4 ini selalu dalam moda four wheel drive, seperti banyak SUV 4×4 sekarang. Kelebihannya, di Ford Everest berbagai teknologi digunakan untuk membaca situasi dan mengatur secara pintar distribusi tenaga ke tiap roda sesuai kebutuhan. Saya melirik kenop yang ada dekat tuas transmisi, tombol bulat dengan 5 simbol ini adalah pengendali TMS, Terrain Management System. Ini yang paling saya ingat dari segudang fitur yang dibahas tim Ford dalam presentasi pagi.

Ford Everest on location 006

Terrain Management System, moda berbagai medan tinggal tekan tombol. Foto: dok. Ford

Lebih dari sekedar 4×4, sistem manajemen medan yang diberikan Ford pada monster berbaju kinclong ini memungkinkan kita memilih beberapa moda sesuai medan. Lumpur, batu, rumput, pasir, tinggal diatur semudah menekan tombol, dan tiap moda mempunyai karakter beda yang akan optimal di masing-masing medan. Tiap settingnya berpengaruh pada respon gas, transmisi, 4WD dan traction control. Waktu pertama tahu ini, saya jadi geleng kepala, ingat dulu main dengan Jeep CJ7 dan Jimny, yang ketika sudah masuk four wheel drive pun kita masih harus turun dulu mengunci locker di roda depan. Memang ya, jaman sudah berubah. Kami tetap dengan moda normal yang sudah sangat cukup untuk lintasan ini. Berikutnya, saatnya mencoba SUV ini melintasi air. Membawa 4×4 menyeberangi air itu semacam simbol off road buat saya, walau ya, sekarang malah lebih sering menghadapi air di banjir dalam kota Jakarta.

Ford Everest drive 066

SUV premium yang nggak takut air. Foto: dok. Ford

Tak akan gentar akan genangan air bahkan aliran dangkal, Ford memberikan All-New Everest kemampuan waterfording yang cukup mengesankan. Jika keadaan memaksa, SUV ini mampu menembus genangan air hingga ketinggian 800 mm. Trek uji coba ini pun memiliki dua titik water crossing, yang menyeberangi aliran air yang walau dangkal, tetap seru. Crossing pertama melintasi air yang mengalir diantara rumput dan ilalang tinggi sehingga terkesan kita sedang melewati rawa. Tak perlu mobil tinggi untuk melalui ini, namun tetap saja rasanya seperti berpetualang. Dengan mobil sesangar ini, rasanya aliran ke kiri menggoda sekali untuk diikuti.

mtf_FGdPs_1969.jpg

Seru bukan? Ini salah satu mobil urutan belakang. Foto: dok. Ford

Water crossing ke dua disambut dengan tanjakan berlumpur lunak tebal yang lumayan bikin saya mikir. Mobil depan dengan sengaja melibas water crossing itu dengan cepat, sampai-sampai safety team dan fotografer Ford bubar, basah terguyur siraman air. Seru, tapi kasihan juga sama kru yang kena. Ketika giliran saya menyeberang, saya sengaja perlahankan mobil, kalau perlu supaya selip, untuk melihat kemampuan Everest mengatasi selip. Mobil perlahan menjejak air, melewati aliran, lalu menanjak, dan… Sudah! Begitu saja tanjakan lumpur itu lewat. Tanpa rasa, tanpa usaha. Kalau mobil yang kurang mumpuni, saya yakin bakal sempat selip, tapi monster ini sepertinya membuat segala rintangan wajar menjadi tidak berarti. Sayang, aliran air yang dilintasi cetek, padahal menarik kalau kita boleh menjajal kemampuan Ford Everest yang bisa menembus air setinggi 800 mm. Mungkin test drive yang ideal untuk ini adalah daerah Kemang, Jakarta Selatan, kisaran bulan Februari. Berikutnya, kami kembali ke atas bukit untuk mencoba satu lagi fitur baru.

20150730_121434-1

Menjaga jarak aman di tanjakan licin dan terjal.

Pengalaman berkendara paling unik buat saya di Ford Everest ini adalah ketika menyicipi Hill Ascent & Descent Control. Fitur yang memungkinkan kita mengatur kecepatan naik dan turun konstan hanya dengan tombol. Di titik yang sudah ditentukan, kru Ford Thailand menghentikan tiap mobil dan memberi instruksi.

“Tekan tombol itu.”, katanya dalam bahasa Inggris kaku.

Oke, saya menekan tombol yang ditunjuk.

“Sekarang itu.”, lanjutnya.

Saya nurut.

“Nah, sekarang sudah siap. Atur kecepatan pakai tombol plus dan minus, jangan injak gas atau rem.”

Eh yang bener? Memangnya ini videogame?

P9820489

Serius, mas? Pakai tombol aja?

Rasanya seperti salah dengar, disuruh nyetir, tapi jangan pakai gas atau rem. Ini medan off road, jalan kampung yang licin, bukan jalan raya aspal di mana kita bisa memakai ‘cruise control’. Tapi ini bukan cruise control sepele. Dalam moda ini, kita cukup menentukan seberapa cepat atau lambat kita ingin menanjak atau turun, dan biarkan Everest dan komputernya mengatur sendiri semuanya. Kita tinggal mengarahkan setir.

“Nah kalau saya perlu nge-rem gimana dong?”

“No problem, begitu rem atau gas diinjak, mobil otomatis keluar dari moda ini dan kembali normal.”

Baiklah, menekan tombol bertanda plus di setir, mobil kami maju perlahan. Masih terlalu keong, saya menekan-nekan tombol sampai kecepatan yang lebih cepat namun masih aman. Kaki tentunya siap menginjak rem, just in case. Benar, ini seperti main Playstation.

20150730_122549-1

Menjajal fitur Hill Ascent Control, tanpa main gas maupun rem.

Tanjakan dan turunan licin di medan off road tidak pernah saya remehkan, sesepele apapun itu. Selalu ada peluang untuk selip, meluncur dan banyak lagi. Entah itu jalan kampung, jalan kebon, selalu menuntut konsentrasi lebih. Dan ada saatnya dimana kita mesti punya skill lebih, harus tahu kapan menambah, mengurangi atau mengayun gas, kapan turun gigi, injak rem, atau malah jangan rem. Singkatnya, nggak santai. Ascent & Descent Control ini benar-benar seperti menghapus semua itu, karena Everest sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Ini bukan fitur remeh. Usai saya melewati dua trek khusus ini, kami berseloroh. Nenek 90 tahun pun akan mampu jalan off road dengan New Everest ini. Tak terasa, saya dan Leo sudah bergantian mencoba semua trek yang disediakan. Konvoi kemudian bergerak ke atas bukit, ke perkampungan suku Agha yang merupakan penduduk asli di sana.

20150730_130435

Entah bagaimana caranya, Everest putih ini bebas dari cipratan tanah.

20150730_130509

Oom Stephen Langitan, Ford New Everest, dan penduduk asli, suku Agha.

Disambut ramah dengan musik, tarian dan atraksi tradisional, rombongan beristirahat sejenak sebelum menuju White Temple dan kemudian kembali ke hotel. Everest Drive kemudian bergerak kembali ke Canary Resort untuk makan siang, dan di sini Leo mengusulkan untuk ganti mobil dan mencoba versi 2.2L yang lebih ‘membumi’. Secara mengejutkan, ternyata dengan mesin yang lebih kecil pun Ford Everest ini sangat responsif. Tapi saya kehilangan semua kecanggihan di monster 3.2 liter yang kami pakai dari pagi. Setelah mencoba yang top of the line, rasanya nggak mau turun kelas. Everest Drive untuk media Indonesia pun selesai sore itu, setelah sebuah pertunjukan kejutan di parkiran hotel. Ford ternyata menampilkan sebuah Everest cutaway yang terpotong setengah bodinya, untuk menunjukkan jeroannya dalam aksi.

20150730_165544

Have you driven a cutaway Ford lately? Beli yang belah begini boleh diskon nggak?

Sementara wartawan sibuk bertanya dan memotret, yang ada dalam pikiran saya hanyalah pengalaman test drive hari itu. Bukan pakar otomotif, saya memang tidak punya banyak referensi untuk bisa mengatakan seberapa bagus Ford All-New Everest ini. Hari ditutup dengan acara makan malam di sebuah restoran hidangan khas Thailand di tepi sungai, dan saat itu saya menyempatkan bertanya pada satu dua rekan wartawan otomotif yang lebih berpengalaman mencoba banyak mobil. Walaupun lebih kalem, komentar yang saya dapatkan sama positifnya. Semua hanya kembali ke pertanyaan terpenting, tipe mana yang akan masuk Indonesia, dan berapa harganya?

Yang saya tahu hanya, Everest Drive ini pengalaman mengemudi paling menyenangkan yang pernah saya rasakan. Harusnya, mobil ya begini, memiliki segala yang dibutuhkan untuk membuat pengemudi dan penumpang mampu melewati rintangan dan tiba sampai tujuan dengan sangat nyaman. Apa lagi yang bisa diminta dari sebuah SUV? Tenaga besar dan torsi monster, tapi konsumsi bahan bakarnya irit, otak komputernya canggih, fitur-fiturnya memudahkan. Tampang, ya, walau bukan paling cakep tapi cukup oke lah ya. Pastinya jauh lebih cakep daripada Everest sebelumnya, yang di mata saya seperti mobil tahun 90’an. Ford All-New Everest adalah mobil yang membuat pengemudi santai menikmati perjalanan segala medan, karena semua hal lainnya sudah ditangani dengan cerdas. Mau minta apa lagi?

Ah, ya, mungkin satu yang nggak mungkin diminta; bikin harganya terjangkau.

Saya dan Leo, ditemani Rane dari Ford Indonesia, dan salah satu perancang All-New Everest. Foto: Leo

Saya dan Leo, ditemani Rane dari Ford Indonesia, dan salah satu perancang All-New Everest. Foto: Leo Nara

***

Terima kasih pada Ford Indonesia atas kesempatan ini. Untuk yang berminat mengetahui lebih jauh tentang Ford All-New Everest, klik di sini, dan jangan lewatkan ulasan Leo Nara tentang petualangan ini di sini.

Movie Review: Terminator Genisys

TR-16736R

The future have repeatedly sent a strangely heavy accented cyborg back in time for numerous violent purposes, and safe to say we’ve seen ’em all. This time however, seems it was not Skynet nor The Resistance that sent one to alter history. It’s the writers and the producers. They sent Arnold Schwarzenegger back in time with a new mission, to rewrite the franchise. Is it a reboot? Is it a sequel? Surprise, it is both. And so as the old testament begins with the book of Genesis, the new Terminator starts with Genisys.

Those familiar with the Terminator mythology can skip pass this section and join in after the break. But if you’ve been living under a rock for decades, the origin is as follows. Once upon a time, arrogant human beings, or as some call it, Americans, created Skynet, a highly intelligent AI that controls defense systems. Alas, it has a will of its own and decided to eradicate human with nuclear weapons. Judgment Day happened. Machines won and ruled with its own army of robots, while a handful human survivors band together to fight, lead by one John Connor. Having repeatedly failed to kill Connor, Skynet built a time machine to send one killer cyborg to 1984 to kill John’s would-be mother, Sarah Connor, before John is conceived. No mother, no child, machine wins, right? Not so fast, the resistance also sent one of their best soldiers through the time machine to protect Sarah. His name is Kyle Reese. They met, fought, survived and eventually conceived John Connor. That was the basic plot of the original, where Arnold Schwarzenegger was the indestructible evil T-800 ‘Terminator’ cyborg. Two sequels and one iffy Christian Bale attempt later, we arrive here in Genisys.

TG-FF_02

Terminator Genisys opens in said future where John Connor lead his troops to the final push, to stop Skynet from sending a Terminator with its time machine. Alas, as fate dictated, he was too late to change history, and can only fulfil his prophecy: send Kyle Reese time travelling to 1984 to save his mother. Here’s where it begins to twist, both the Terminator and Kyle Reese arrived in a totally different 1984 than expected. Instead of being an average Jane waitress as previous history wrote, Sarah Connor is a gun-toting ambulance-crashing girl who has been expecting Kyle and the Terminator’s arrival for 10 years. Even better, she somehow has her own old T-800 bodyguard whom she has trained herself.

As Sarah told confused Kyle that the 1984 he expected has gone and changed, we the audience are also being told to forget what we’ve known about the franchise, and be ready for something different. The time-travel and history altering nature of the Terminator mythology enables creators to do just this, re-imagine things, do a reboot, while also being a sequel. So yes, this is a Terminator movie you’ve known. Yes, this is a sequel. But yes, this is also a reboot. And so as our cute new Sarah empties her .50 Cal Desert Eagle clip, we all went with her because we want to live.

TR-02299R

From that point on, Terminator Genisys unapologetically tries hard to change the mythology merely to keep the franchise and its aging star alive, while risking and causing audience confusion of having multiple time travel paradoxes. The biggest twist to the franchise this time around, is that somehow the future’s John Connor end up a cyborg/human hybrid, and ultimately the enemy. Donning facial injury to emphasize a battle hardened fighter, John Clarke works hard portraying that new John Connor, but probably succeeded better that time when he dealt with intelligent apes. Jai Courtney plays confused time-travelling insurgent Kyle Reese, in a performance that while adequately fill its shoes, does not really show that he’s such a, um, ‘divergent’, actor.

Probably generating whines from people unable to move on from the Linda Hamilton image of Sarah Connor, is the casting of relatively puny Emilia Clarke. Looking small with round-ish childlike face as opposed to muscle-y and hard jawed Hamilton, or even Lena Headey, Clarke’s new Sarah simply looks different. Get over it and you may see that this new approach is probably useful for making the ‘little girl and her old protective cyborg bodyguard’ plot work. Why not. If Daenerys can have Drogon, Sarah can surely have Pops. So finally, we come to Arnold, who took both center stage and side seat, putting his cyborg face on while repeatedly tries to convince us that despite having aged well, he’s still around for the part and we should be okay with it. Still menacing as a badass robot despite his age, Schwarzenegger made damn sure we know that this is his ultimate vehicle and not some moonlighting action gig like The Expendables.

TR-03810R

While we assume the word Genisys in the title have substantial meaning, in the actual plot it almost feels like an afterthought. It’s like the writers was just wanted a word that echoes Terminator’s biblical subtitle undertone, Judgment Day, Salvation, and now the book of Genesis. It just gave Kyle and Sarah something else to say besides ‘Skynet’. Not a big deal, we’re here for the action, right? Good news, all the cyborg morphing, gun firing, grenade lobbing, school bus flipping and helicopter chase are there. Not so good news, they’re really nothing that new nor exciting.

With each instalment, the franchise tries to bring increasingly advanced enemy, but here they seemed to struggle in designing one. I mean, we’ve seen them morph, shape-shift, take bullets and self-heal before, what can this new tin-man do to wow the audience more? However, Genisys did give its old Terminator new tricks we haven’t seen before, among them are ageing, one-liners, and awkwardness. In the end I much prefer this because really, they’ve done all cyborg fantasy-tech south of making one that transforms into a huge red and blue trailer truck. Good move, I love it. I mean come on, look at old Pops there.

terminator_genisys_screenshot_123096

I had almost no expectation with Terminator Genisys, just a hope that it doesn’t end up bland. We’ve had versions of Sarah and John Connor, we’ve had Terminators that walks through walls, shape shifts, man, woman, half human. What new thing can they possibly offer this time around, especially having to feature and provide new vehicle for its now-aged main star? The writers and producers managed to pull something new from something old, even if it’s too risky and complicated.

Surprisingly despite flaws, confusing story line, and so-so action scenes that are hardly new let alone memorable, Terminator Genisys managed to keep me interested from beginning to end. The crazy changes they made got me curious, wanting to see how this one will wrap. While many critics and fans slammed it as the worst of the franchise, and despite unanswered questions that probably will only be addressed in its next sequel, I left Terminator Genisys feeling more entertained and adequately satisfied than I was with T3 and Salvation. I had fun. The one thing I love about Genisys is that it’s got humor. Can’t recall the last time I had laughs and giggles watching a Terminator flick. Check it out and see whether you love or hate it, or perhaps think that it should be called Terminator Daenerys.

Terminator-Genisys-poster-final

Movie Review: Jurassic World

jurassic-world-yummy-120708

Good ol’ dinosaur park has lost its novelty? Create something new that’s bigger and scarier, people will come and pay to get frightened. The basic plot of Jurassic World is pretty much the movie franchise’s situation. 20 odd years after the original Jurassic Park, prehistoric faunas walking the present day won’t wow anyone, so the studios resort to creating something more furious, from the basic ingredients. Does the recipe work? Fasten your seatbelts, keep your hands and bodyparts inside the vehicle at all times, we’re going for another ride around Isla Nublar.

Present day, Jurassic World is now a full fledged luxurious theme park resort that’s been around for a while, actually long enough that dinosaurs as an attraction is no longer that fantastic, and business is slowing down. A new attraction always draws more visitors, but since they’ve pretty much made all the dinosaurs there is, including a gigantic waterbourne thing called mosasaurus that snacks on sharks, Jurassic World execs and scientists decided to then engineer a whole new hybrid species on their own. New monster on the block brings ‘more teeth’ and playfully named ‘Indominus Rex’. Of course nothing can go wrong, right? Well surely enough things went south, the Indominus Rex got loose, chaos ensues, people gets eaten, more dinos run amok, and fun begins.

Despite the whole DNA engineering and hybrid dinosaurs science talk, the nature and science undertone evident in the original now takes a backseat. It’s great to see the direct approach of Jurassic World as an action blockbuster this time around. This sequel is a straightforward ride of thrills and scares, and as such, it is quite effective. There have never been more all out action, carnage, guns, bullets, destruction and ‘controlled gore’ in a Jurassic Park movie before. While the first act really takes its time, Jurassic World goes full throttle in second and third. Visually, ‘World’ seems to have more color than ‘Parks’, possibly due to the more announced use of CGI in environments, while creature-wise, the animals mostly look less real than previous movies. The action scenes in Jurassic World doesn’t shy away from getting big, a refreshing change from the previous lonely jungle island settings, as now the Disneyworld-like resort has got 20,000 tourists in danger. jurassic-world-pratt-howard-fb1 On the star-power side, Chris Pratt took to his role rather well as Owen Grady, an ex-Navy military man turned raptor-wrangler-hero. That’s right, he trains velociraptors, popular baddies from the previous instalments. Looking handsome and costumed almost like a character designed for an adventure video game, Pratt convinces you that he’s the guy you’ll count on to survive a dino-park chaos. Seriously, riding a classic motorcycle while flanked by badass raptors? Awesome scene unimaginable by old school Jurassic Park fan. If you’re worried that Chris will act Star-Lord style, be at ease, he did not. Meanwhile, Bryce Dallas Howard plays Claire, the ‘suit’ that’s so busy running the resort island, she didn’t have time to attend to her visiting nephews Gray and Zach, played adequately by Ty Simpkins and Nick Robinson. The kids got lost amidst the chaos and Beth took the aid of Owen to find them, while transforming from a stiff exec into suddenly-adventure-hardened woman in the process. NEojaVoDdptSrw_1_a Being a straightforward action adventure this time around, Jurassic World needs no deep plot, back story or elaborate subplots. All the action makes up for those absence. However, it is the lack of depth in its characters that holds this solid actioner from being a full blown entertainment powerhouse. Pratt’s Owen, while believable as a capable hero the audience will root for, lack any story despite the effort on building his character in the first act. Showing more emotion than everyone else in the movie, Bryce Dallas Howard’s Claire is also someone you will probably accept or like, but nothing more. And the two kids, despite having had their emotional moments and a back story, felt somehow underdeveloped. I feel like the makers wondered, how should they write the siblings. Nasty? Good? Troubled? Not too troubled? Doesn’t get along good, or do they? They even have this subplot that seems to somehow disappear. Anyway, you will most likely like all these main characters, and you will want to love them more, but you can’t, as you find that there’s really nothing much under the surface. No you won’t complain. I won’t complain too. Yet I can’t help but imagine how much better Jurassic World would be if the characters weren’t so paper thin. 25112014_jurassic_world_1 In the end, I left the theater feeling quite happy as a Jurassic Park fan. Jurassic World is a legit thrill ride, and you gotta give the makers credit, because really, after two less-glorious sequels, it’s hard to pull this one off. It would be so easy to screw this one up and make a bomb, but director Colin Trevorrow didn’t, and achieved the opposite. Just like how the scientists engineered a brand new dinosaur, the franchise cooked up a different approach that seems to serve itself well. Jurassic World brings Jurassic Park to the new generation, and if this is how they roll, I won’t mind another sequel.

Special thanks to Mercedes-Benz Indonesia for the media screening of Jurassic World.

download

Movie Review: Furious 7

Go ahead, see the trailer first. Or not. Whatever. Like many, I’ve seen the trailers and a couple of behind-the-scenes featurettes of Furious 7 before I went to see it at the theatres. I’ve heard raves, comments and positive reviews, from that surprise SXSW screening to major blogs and those from average joes like me. Having seen the trailers and read reviews, I was ready for what most of them suggests: a relentless adrenaline charged vehicular action flick that will entertain the shit out of you with only one caveat, leave logics outside the door and just go in for a good time, thrills, laughs and even perhaps a bit of a teary eye. Hell, game on.

Furious-7

One last ride.

Once the movie kicks it in high gear, it almost never stops. Sometimes it gets so kinetic up to the point that it seems James Wan directed the whole thing drinking Red Bull mixed with NOS. This is not to say that Furious 7 doesn’t have heart, in fact, it’s the other way around, the franchise have never been this touchy-feely emotional. Part of it perhaps has got something to do with the passing of Paul ‘Brian’ Walker and I am pleased to say it’s all good. Director Wan managed to compose everything in such a rhythm that will have you moving from spectacular action fest to a soapy drama, with sitcom moments in between, rinse, repeat, seamlessly. Safe to say, the chorus of complimenting reviews about Fast & Furious 7 is quite spot on. And the tribute to Paul Walker, is probably the sweetest and most touching I’ve ever saw. Yes, I shed a tear.

Can't help but be reminded of Sex & The City 2 trailer.

Can’t help but be reminded of Sex & The City 2 trailer.

There really is no need for another review on James Wan’s take on Dom’s family adventures number seven, not one that echoes the others. I watched the movie with a satisfactory grin, fist pumping in the air, and got a little misty in the eye at least a couple of times. What else can you ask for a popcorn entertainment, right? Yet, I walked out of the theatre feeling something was not quite right. It’s not about the increasingly crazy over-the-top stunts, it’s not about having to do away with logic, those are fine. It’s about identity. Even with numerous nostalgic moments and returning characters, it feels as if it Furious 7 has lost its identity.

Remember what was the franchise about when it started?

Remember what was the franchise about when it started?

As big a Fast & Furious plots gets before this, it’s still grounded. In Furious 7, it took no time to start making me think of Transformers or Diesel’s XXX, and by the third act it got so unrecognizable that I find myself wondering whether I’m watching a Fast and Furious movie, a Mission Impossible sequel or something with the word ‘Marvel’s’ on the title. Sure there’s ol’ Dom, Brian, Letty, Tej and Roman, muscle cars and rice rockets, they don’t change, but what world is this? To go from a very grounded premise of illegal street racing to something that looks like James Wan is auditioning for an Avengers or Transformers sequel, is quite a jump. It also feels like it decided to evolve merely to justify following the basic rule of action franchises: make everything bigger and crazier.

They actually did this for real,

From the modest streets of LA, to global espionage plot.

Of course, there is no rule that says that is wrong. The audience is happy! Who says stories of Los Angeles illegal street racers can’t evolve into bigger premises? If the 6th and 7th showed us something, is that Dom and the gang -I mean, family, will only face increasingly epic scenarios lightyears from their roots of living lives “a quarter of a mile at a time”. If the franchise goes on to 10, I won’t be surprised we’ll see Toretto squares off with a boss alien xenomorph. But me, as a fan, hopes it doesn’t go that way. I love the stunts, the gravity defying scenes, I don’t nitpick about logics or plot loopholes, but I do care about the original concept that is The Fast and The Furious. Please keep it close to its roots. To director James Wan, congratulations on pulling off a tough job and giving Brian a more than proper farewell. It’s a hell of an entertaining spectacle. Surely hope the next one will still be (back to being) a Fast & Furious, and not an Avengers or Mission Impossible wannabe.