30 Hari Bersama Xiaomi Redmi 4A

20170222_070744

Setahun lebih janji untuk main ke kantor teman di Xiaomi Indonesia, baru Februari kemarin akhirnya kami ketemuan, ngobrol, nggosip, dan berkenalan dengan smartphone “Made in Indonesia” pertama Xiaomi, Redmi 4A. Memberikan satu unit demo untuk diulas, Xiaomi mempersilakan saya untuk berbagi kesan dan pengalaman memakai Redmi 4A, sebebas-bebasnya. Kelebihan, kekurangan, positif, dan negatif. Setelah sebulan lebih memakai, ini kesan-kesan saya tentang smartphone Android berharga Rp 1,4 juta rupiah ini. Nggak ada waktu untuk baca tulisan panjang? Rangkuman kesan pribadi saya kira-kira begini.

Kelebihan:

  • Spesifikasi dan penampilan bagus untuk harganya
  • Baterai yang seperti tidak habis-habis
  • MIUI 8 enak digunakan
  • Ringan

Kekurangan:

  • Kamera yang biasa saja
  • Charging agak lama
  • Punggung sepertinya mudah tergores

Seperti biasa, saya tidak ingin membahas angka dan spesifikasi teknis di sini, untuk yang membutuhkan informasi spec, dapat langsung klik di sini. Berikutnya, ini pengalaman saya.

Kesan Pertama: Penampilan Yang Mengecoh

“Eh, bagus ya.”, itu kalimat pertama saya waktu mengeluarkan handset dari box dan membolak-baliknya. Kejutan kecil, karena kalau melihat dari foto-foto di web, sama sekali nggak ada yang unik, menarik apalagi istimewa dari desainnya. Langkanya desain unik memang salah satu hal yang membuat saya belakangan kurang bersemangat dengan berita dunia per-smartphone’an. Di luar spesifikasi, rasanya semua terlihat sama, hanya persegi panjang dengan layar, kemudian ada merek A yang meniru merek B, dan merek C yang ‘terinspirasi’ merek D, dan seterusnya. Begitu pula halnya dengan Redmi 4A, tampak depan sangat umum, sisi belakangnya mengingatkan saya pada rancangan HTC, sudut lainnya mungkin iPhone, and so on. Penampilan muka Redmi 4A cukup generik dan bahannya biasa saja, tapi sisi-sisi lainnya, samping, punggung, tampak dan terasa mengesankan di genggaman.

20170222_071321

Penampilan Redmi 4A bagi saya ‘mengecoh’, dalam arti bisa tampak lebih ‘mahal’ dari harganya, sementara bobotnya yang sangat ringan walau menyenangkan jadi tidak mengesankan produk yang kokoh. Tanpa membandingkan dengan yang lain, hape ini rasanya ‘seenteng angin’, dan ini bisa jadi hal positif maupun negatif. Di sisi baiknya, ia tidak akan membebani saku, sementara di sisi lain, saya sering jadi harus cek kantong untuk memastikan handset ini ada karena tidak terasa. Walau ringan, Redmi 4A tidak terasa kopong atau terlihat plastik, apalagi dengan kesan logam warna metalik punggungnya. Berharap dapat bodi metal di kelas harga ini? Ya enggak lah, namun bahan punggung Redmi 4A ini membawa saya ke satu hal lainnya.

20170222_070922

Ini tip dari saya: sebaiknya segera berikan Redmi 4A mu casing, karena walaupun tampak kuat, sepertinya punggungnya retan tergores. Ini hal yang saya temukan secara tak sengaja dan cukup membuat ‘nyesek’, karena terjadi saat sedang senang-senangnya baru memakai hape ini. Nggak sengaja menaruh handset ini di saku bersama koin dan kunci mobil, saya menemukan dua baretan halus yang sebelumnya tidak ada. Memang bukan goresan dalam, dan tidak terlalu terlihat, tapi tetap saja disayangkan. Jadi, bagi yang berminat membeli Redmi 4A, saya sarankan langsung beli casing pelindung. Mungkin sekalian juga pasang screen protector kalau mau, toh nggak mahal. Keep it pretty.

Kesan Kedua: Batere Stamina Tinggi & Performa Andal

Walau hape ini bisa memakai 2 SIM card, saya hanya memakai satu slot dan yang  satu lagi dipakai untuk memory card. Xiaomi Redmi 4A mengambil alih posisi hape ke dua saya, yang pemakaiannya tidak kalah dari hape utama. Fitur-fitur krusial semua ada di Redmi 4A, tak terlupakan IR blaster untuk menjadi remote control entah TV, AC dan lainnya. Hape ini datang di masa yang berat bagi saya, di mana mayoritas hari-hari dilalui menunggu orangtua yang diopname di rumah sakit dalam kondisi kritis. Dalam situasi itu, pemakaian smartphone jadi lebih aktif dari biasanya. Tanpa banyak yang bisa dilakukan saat jaga, media sosial, text messenger, streaming dan juga game jadi cara mengatasi stres juga kejenuhan. Sementara nomor utama saya bolak-balik harus dicharge dalam sehari, saya terkesan dengan stamina batere Xiaomi Redmi 4A ini yang seperti tidak habis-habis. Mestinya semua smartphone bisa begini, memudahkan sekali.

Dengan pola pemakaian yang sebanding dengan Galaxy S5 tua saya, Redmi 4A bertahan jauh lebih lama, dan pulang di tengah malam dalam kondisi yang belum harus dicharge. Itu kalau aktif, bagaimana kalau jadi hape backup yang lebih sering dalam posisi standby? Sampai dua hari pun Redmi 4A saya belum perlu ditancap ke charger. Penasaran, saya cari tahu soal kapasitas baterainya. Pantas saja, batere Redmi 4A lumayan besar untuk spesifikasinya. Satu saja yang perlu diperbaiki, pengisian ulang/charging batere Redmi 4A rasanya relatif lama.

Untuk Android kelas ini, spesifikasi teknis tidak akan muluk, namun untuk harganya tetap cukup baik. Tidak kurang. Contohnya, layar. Sudah lama terbiasa dengan layar Full HD 1080p, untuk turun ke sekedar HD lagi membuat saya ragu, tapi nyatanya resolusi 720p HD sudah sangat bagus untuk ukuran 5 inci Redmi 4A. Tidak sedikitpun saya merasa ada yang kurang tajam di tampilannya. Semua tampak tajam, crisp, kinclong. Sementara kita tahu di kisaran harga ini masih ada juga merek-merek yang belum memberi resolusi HD.

Sekedar supaya bisa membahas performa, saya sempat meng-install beberapa game. Aplikasi-aplikasi biasa seperti media sosial, messaging, navigasi dan lainnya sudah pasti berjalan mulus tanpa cegukan, tapi game lebih menuntut. Karena bukan gamer, saya mencoba beberapa game yang saya kira lumayan butuh tenaga. Biasanya, driving game perlu kemampuan grafis yang baik, dan saya mencoba Asphalt Nitro yang berjalan mulus pada setting maksimal. Sama halnya dengan game FIFA Mobile Football yang lancar tanpa hambatan. Dari beberapa game yang saya coba, adalah shooting game Sniper 3D Assassin yang mengalami sedikit cegukan di setting grafis tertingginya, itu pun hanya saat replay. Bukan masalah. Overall, bagi saya Xiaomi Redmi 4A sudah cukup untuk jadi alat hiburan/casual gaming yang menyenangkan.

20170305_140559

Kesan Ke Tiga: Kamera Kurang Greget

Di kisaran harganya yang di Rp 1,4 juta, kemampuan kamera adalah sesuatu yang saya pasrahkan. Nggak ada ekspektasi. Dan pada akhirnya memang kamera Redmi 4A bagi saya sekedar cukup dan fungsional. Suatu hari, untuk melepas stres saya memutuskan untuk menepi dan mampir di sebuah taman di Jakarta Selatan, sekalian menjajal kamera belakang hape ini. Hari itu langit agak kelabu, namun cukup terang dan panas. Taman kecil itu ternyata cukup indah dan menyenangkan, saya memotret sana-sini, sampai dihampiri sekuriti. Hasilnya, sangat hambar. Kualitas foto 13 megapixelnya rasanya cukup saja, namun di mata saya warna-warnanya mati dan tidak menggugah, tidak membuat saya ingin memotret lebih banyak.

Untung, Xiaomi dengan MIUI nya tidak pelit memberi fitur dan setting kamera, dan yang belakangan saya temukan adalah dengan sedikit mengubah pengaturan ketajaman dan saturasi, Redmi 4A kadang bisa memberikan hasil foto yang lumayan mengesankan. Sepertinya, untuk tiap objek bisa jadi lebih baik jika dicoba dengan setting berbeda. Jika sebelumnya di taman tadi saya tidak berhasil mendapatkan warna bunga yang ‘keluar’, di kesempatan lainnya hanya dengan sedikit mengutik saturasi, Redmi 4A kadang berhasil memberikan foto yang warnanya lebih memikat. Jangan lupa, warna juga termasuk selera pribadi.

Saya tidak punya referensi pembanding pabrikan lain yang sekelas, namun mungkin bisa disimpulkan untuk kelas harga ini, kamera belakangnya cukup baik asalkan pencahayaan cukup. Untuk kamera depan memang saya tidak banyak mencoba, cuma rasanya lensanya cukup wide jadi selfie bisa sedikit lebih jauh (nggak usah dipasang fotonya ya, malu), dan rasanya resolusi 5 megapixel pun cukup besar. Di sisi fitur video, sama juga, tidak ada catatan istimewa, namun bisa dipakai. Overall, semua soal kamera di hape ini bagi saya sekedar mencukupi. Jangan khawatir, Instagram mu tetap bisa keren.

Kesan Ke Empat: Fatwa ke 8 dari MIUI

Hampir semua pembuat gawai Android membungkus sistem operasi dengan antarmuka khas nya masing-masing. Antarmuka, atau interface, itu lho, yang tampil di layar dan memandu kita menggunakan peranti. Walau sama-sama pakai Android versi X, dari merek ke merek beda tampilan dan cara memakai ya karena ini, masing-masing pabrikan punya antarmuka, user interface atau ‘UI’ sendiri. Nah, Xiaomi dari dulu sangat mengangkat dan membanggakan UI khasnya, yang namanya MIUI. Saya pertama berkenalan dengan MIUI di Redmi 2 Prime, 2 tahun lalu. Waktu itu kesan saya adalah, bagus, sangat terancang dan rapi, tapi di beberapa hal justru tidak intuitif, alias mesti belajar dulu. Saat itu, sementara saya menyukai hardware Xiaomi, bagi saya MIUI overrated. Ini yang membuat saya skeptis waktu akan mulai memakai Redmi 4A. Ternyata, banyak yang bisa berubah dalam 2 tahun.

Xiaomi Redmi 4A saya menjalankan MIUI versi 8.2.10 yang ternyata menyenangkan dipakai. Jauh lebih nyaman daripada yang dulu. Rasanya, yang belum pernah memakai hape Xiaomi pun tidak akan mengalami hambatan atau kagok memakai antarmuka ini. Antarmuka khas Xiaomi yang membungkus Android Marshmallow ini simple, lincah, dan memberi banyak kemudahan, seperti memberitahu kita jika file sampah sudah terlampau banyak dan menawarkan pembersihan. Ada fitur ‘Second Space’ yang bisa memisahkan hape kita seperti menjadi dua hape berbeda, berguna jika hape sering dipinjam. Lalu ada juga ‘Dual App’, ini memungkinkan pengguna memakai dua akun di satu app, misalnya butuh Whatsapp atau Facebook aktif dengan dua akun berbeda. Lewat MIUI, Xiaomi memang menunjukkan perhatian mereka pada kebutuhan pengguna. Ada sih, satu dua hal memang masih menggelitik, seperti tombol ‘Home’, mestinya membawa kita halaman ‘Home’, namun di MIUI, jika app kita berada dalam suatu folder, menekan ‘Home’ hanya mengembalikan kita ke folder. Selebihnya, saya tetap prefer ada app drawer, namun hal-hal ini ini juga bukan sesuatu yang terlalu krusial. Secara keseluruhan, MIUI sekarang ini melengkapi sisi hardware yang baik dengan pengalaman pemakaian yang memudahkan.

Kesimpulan

Secara mengejutkan, saya sangat betah memakai Redmi 4A. Di luar kameranya yang kurang mengesankan, hape entry level Xiaomi ini sangat menyenangkan dipakai, dan ini sebagian besar kontribusi faktor stamina baterenya. Saya tidak perlu fingerprint lock, tidak juga ngidam body metal, bahkan tidak tmementingkan RAM 2GB yang dibenamkan di hape ini. Terutama untuk hape ke-dua, pada dasarnya yang saya butuhkan adalah Android 4G yang bisa diandalkan, kalau tak harus sedikit-sedikit di-charge pastinya lebih baik. Kesan terbesar Redmi 4A bagi saya memang stamina baterenya. Dampak iritnya batere tidak bisa diremehkan, ia memberikan ketenangan dan keyakinan dalam memakai; bahwa ketika dibutuhkan, hape masih mempunyai daya yang cukup. Di harga Rp 1,4 juta, Redmi 4A patut dipertimbangkan siapapun yang membutuhkan smartphone Android andal dengan budget konservatif. Mencari hape ke dua atau backup phone? Saya berani mengatakan Xiaomi yang satu ini tidak akan mengecewakan.

20170222_071250

Ethics Statement:

Perwakilan Xiaomi Indonesia memberikan handset Redmi 4A untuk keperluan ulasan. Tidak ada transaksi, ikatan perjanjian, maupun kewajiban untuk menuliskan apapun, terutama yang bersifat endorsement. Ulasan di blog ini adalah opini pribadi berdasarkan kesan dan pengalaman pemakaian apa adanya.

Iklan

JalanRaya: Catatan Dari Mobile World Congress Shanghai 2016

 

Penggemar gadget/gawai digital pastinya tahu tentang Mobile World Congress yang diadakan di Barcelona, pameran terbesar industri peranti mobile yang diselenggarakan GSMA ini sering menjadi ajang pengumuman produk-produk termutahir para produsen gawai. Mengikuti sukses MWC sebagai brand, GSMA kemudian mengubah nama event tahunannya di Shanghai sebagai Mobile World Congress Shanghai mulai 2015. Atas undangan Qualcomm, saya dan teman media berkesempatan terbang ke negeri Tiongkok dan menghadiri MWC Shanghai 2016. Meninggalkan kamera di rumah, hanya berbekal hape dan travel tripod, saya pun berangkat bersama Ario dan mas Fauzi.

Setelah penerbangan tengah malam yang diselingi sahur di udara, kami mendarat di Pudong International Airport dan langsung menghadapi realita internet Cina. Semua nomor roaming Indonesia hanya diberi koneksi EDGE, sementara wifi bandara menolak semua VPN. Memang ini sudah diantisipasi, rombongan akan terkoneksi ke internet lewat mifi nomor lokal, dan ini jadi benda pertama yang dibeli di airport. Surprise, mifi 4G yang dibeli pun begitu lambannya hingga koneksi di Jakarta jadi terasa lebih bagus. Tidak mengambil taksi ke hotel, kami memutuskan untuk mencoba kereta cepat maglev. Katanya kita akan punya kereta cepat buatan Cina, bukan? Bolehlah kita jajal dulu, yang kecepatannya mencapai 400 KM/jam.

Perkenalan dengan Shanghai cukup mengesankan. Sebuah kota besar modern dengan gedung-gedung yang beradu tinggi, jalan layang yang malang melintang, internet pelan, kereta cepat fantastis, dan supir taksi yang berdedikasi memberikan tumpangan setara naik Halilintar tanpa seatbelt. Pelan, cepat, sepertinya semua soal kecepatan. Ini juga ekspektasi saya akan agenda presentasi Qualcomm yang akan membahas teknologi koneksi 5G. Ya, memang rasanya masih pagi sekali bahas 5G buat kita yang 4G nya pun masih dalam kecepatan 3G. Tapi ternyata ada pengetahuan baru buat saya di sini.

Qualcomm sudah duluan bergerak menuju 5G dan dari yang saya tangkap, sepertinya generasi berikut dari koneksi data ini bukan semata terfokus pada peningkatan kecepatan. Ada satu hal penting jadi salah satu inti 5G: reliability, keandalan. Koneksi harus bisa diandalkan, stabil, tanpa putus atau terjadi data packet loss, ini diutamakan untuk berbagai hal yang sifatnya mission-critical. Misalnya, medis, militer, dan penggunaan lainnya yang real-time dan tidak bisa menolerir kegagalan koneksi data. Setelah ini, adalah kemampuan untuk koneksi masif, seiring masuknya IOT, Internet of Things.

Tiga puluh tahun terakhir kita terfokus pada connecting people, dan tiga puluh tahun ke depan adalah connecting worlds. Bukan hanya menghubungkan manusia, tapi dunia. Dengan masuknya era Internet of Things atau IOT, kita akan melihat lebih banyak lagi peranti, perangkat, benda, yang terhubung ke internet. Dari perangkat rumah tangga, peranti wearable sampai kendaraan, akan menggunakan koneksi internet untuk satu dan lain hal. Semua itu membentuk dunia koneksi tersendiri, dan akan butuh koneksi yang berkali lipat besarnya dari sebelumnya ketika kita hanya menghubungkan manusia ke manusia. Ini, salah satu unsur penting 5G yang diangkat oleh Qualcomm. Perjalanan masih lama, tapi uji coba sudah dimulai.

Mobile World Congress Shanghai 2016 sendiri agak mematahkan ekspektasi saya. Diadakan di SNIEC, Shanghai New International Expo Center dengan 4 hall besar, terasa sekali banyak merek besar yang memilih absen. Tidak terlihat booth nama-nama seperti Samsung, LG, Xiaomi, Lenovo, Asus, Acer. Display smartphone kelas flagship bahkan paling lengkap di booth Qualcomm. Booth paling canggih ironisnya justru bukan brand mobile device, tapi milik Ford Motor Company.

Mayoritas pameran rasanya diisi oleh brand Cina, dengan Huawei sebagai salah satu sponsor utama. Bukan berarti MWC Shanghai sama sekali tidak menarik, di sini yang mengejutkan adalah satu hall khusus untuk pameran produk gaming, dan hampir semua booth nya memamerkan teknologi VR. Di sini justru HTC membuka booth besar untuk Vive nya. Apakah VR akan bisa jadi mainstream? Kalau melihat begitu banyaknya perantinya di MWC Shanghai, sepertinya banyak yang beranggapan bisa.

Diantara yang dipamerkan juga ada teknologi augmented reality Google Tango yang dikembangkan bersama dengan Qualcomm dan dihadirkan di smartphone Lenovo Phab Pro 2. Menggunakan 2 kamera yang dapat membaca lingkungan dan obyek di hadapannya, augmented reality jadi lebih menyatu dan bukan seperti tempelan. Mungkin dengan Google sebagai motornya, Tango bisa berkembang lebih jauh, sementara yang dulu sempat dimiliki Qualcomm, Vuforia, akhirnya dijual. Masih skeptis dengan augmented reality, tapi melihat demam Pokemon-Go sekarang, jadi sedikit lebih percaya.

Pada akhirnya, empat hari rombongan kecil kami di Shanghai terasa cukup berwarna dan membuka wawasan. Di antara presentasi dan MWC, sempat juga lah mencuri waktu mengunjungi The Bund dan Yu Yuen Garden, memberi warna selain hotel dan expo center. Membahas koneksi canggih masa depan sementara bergantung sinyal EDGE di kota modern yang nyaris semua penduduknya sama sekali buta bahasa Inggris, adalah petualangan unik. Terima kasih pada Qualcomm atas undangannya. Untuk menutup, ini saya dan Ario yang sepertinya sedang audisi menjadi presenter acara teknologi low budget, di tengah gerimis Shanghai. Sampai jumpa!

 

 

Android One Review: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Android One: Evercoss One X

Sejak program Android One diumumkan di sini, saya langsung penasaran karena konsepnya. Ponsel pintar yang bukan hanya terjangkau, namun juga beroperasi dengan Android terbaru yang murni tanpa modifikasi pabrikan, dan diproduksi dengan komponen yang kualitasnya dijamin oleh Google. Tahu smartphone seri Nexus? Nah, Android One bisa kita anggap Nexus versi ekonomis, menarik sekali. Di Indonesia, Google berkolaborasi dengan 3 merek; Evercoss, Mito dan Nexian. Google Indonesia cukup berbaik hati memberi saya satu unit Android One untuk diuji, dan ini kesan-kesan saya memakai Evercoss One X selama sekitar 3 minggu.

Kemasan Evercoss One X

Kemasan Evercoss One X

Rancangan Sederhana Namun Manis

Sederhana dan fungsional, rancangan bentuk Evercoss One X tidak menawarkan sesuatu yang unik atau menonjol namun tetap manis dan enak dilihat. Dari depan, sekilas lekukannya memang mengingatkan saya pada LG Nexus 5. Kaca menutupi keseluruhan bagian depan sementara dari sisi hingga punggung dibalut oleh penutup punggung yang terbuat dari plastik. Tombol power dan volume menempel di bagian ini dan akan ikut terbawa ketika kita melepasnya. Sesuai rancangan Google, Android One tidak memiliki tombol fisik untuk home, switch maupun return karena semuanya ditampilkan di layar.

Evercoss One X Android One

Evercoss One X Android One

Tampilan belakang yang cukup manis.

Tampilan belakang yang cukup manis.

Dua port standar melengkapi sang Android One, Micro USB di bawah dan headphone di atas. Secara keseluruhan, perangkat keras terasa cukup solid, kokoh dan tidak terasa murahan. Tidak ada celah yang kurang sempurna, tidak ada derit plastik ringkih. Walau belum punya perbandingan dengan handset lain di kelas yang sama, secara pribadi saya terkesan dengan kualitas ‘bikinan’ Evercoss ini, mengingatkan saya pada Huawei Honor yang dulu saya pakai, bahkan lebih manis. Mantap, enak di genggaman, dan punggungnya tidak licin. Jika ada kekurangan mungkin satu saja, dalam 3 mingguan saja dipakai, bagian pinggiran punggungnya yang putih sudah mulai terlihat agak coklat.

20150224_074751

Earphone/handsfree port di atas.

 

20150224_074740

Micro USB standar di bawah.

 

Layar Yang Cukup Baik

Tanpa menyebut angka, luas bidang layar sentuh Evercoss One X adalah lebih kecil sedikit saja daripada Apple iPhone 6 atau Samsung Galaxy S3. Namun sementara luasnya beda tipis, untuk resolusi jangan dibandingkan dengan ponsel-ponsel pintar ‘flagship’ terbaru, namun sekelas dengan banyak handset di kisaran harganya. Lapisan kacanya lumayan kebal minyak jari tangan, namun ada baiknya dilindungi dengan anti-gores karena ini bukan kaca kelas berat macam Gorilla Glass.

20150224_074430

Walau belum HD, layar Evercoss One X tidak mengecewakan.

 

Walau sudah biasa memakai smartphone yang beresolusi tinggi dua tahunan ini, tidak ada rasa ‘kurang’ dari layar Evercoss One X. Semua ditampilkan cukup tajam dan terang. Jika waktu pertama mengaktifkan merasa tampilannya kusam, jangan langsung menganggap layarnya buruk, itu kemungkinan karena pilihan wallpapernya. Entah kenapa Evercoss ini memiliki pilihan file-file gambar wallpaper yang sangat amat buruk dan kusam, bukan justru memaksimalkan penampilan. Bagi saya, layarnya memuaskan, bahkan cukup terang untuk di siang hari.

Performa Yang Gesit

Di sini kelebihan Android One yang kualitasnya dijamin oleh Google sendiri, semua di ponsel ini dirancang untuk memungkinkan operasi yang sangat cepat, mulus dan responsif. Dari box, Evercoss One X sudah siap dengan Android versi terbaru yaitu Lollipop 5.1, dan ke depannya Google menjamin selalu mendapatkan pembaruan langsung selama 2 tahun ke depan. Jika kebanyakan pabrikan membungkus sistem operasi dengan antarmuka dan begitu banyak fitur khasnya masing-masing, Android One mengusung sistem operasi Android murni sebagaimana dirancang oleh Google. Persis seperti abangnya, seri Nexus.

Android Lollipop 5.1

Android One di Indonesia mendapat Android Lollipop 5.1 lebih dulu dari ponsel manapun di dunia.

Tidak ada campur tangan pabrikan di sistem operasi dan pada prakteknya memang terasa sekali kelebihan Android ‘murni’. Semua terasa cepat, lincah dan responsif. Tidak ada rasa lambat, tidak ada cegukan, apalagi ‘lemot’. Sejauh ini apapun yang dibuka, dijalankan tanpa ada jeda tunggu.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Memainkan game Clash of Clans di Evercoss One X.

Subway Surfer di Evercoss One X

Subway Surfer di Evercoss One X

Game-game kasual seperti Subway Surfer atau Clash of Clans dijalankan lancar, loading pun tidak lama sama sekali. Kecepatan dan kelincahan Android One digabung dengan Lollipop 5.1 memberi pengalaman memakai yang mengesankan dan membuat saya yang tadinya niatnya hanya sekedar mencoba, jadi keterusan memakai setiap hari. Jangan kira ‘lemot’ hanya karena harganya murah, untuk kebutuhan normal, performanya sangat memuaskan.

Konektivitas & Penyimpanan

Buka punggung smartphone ini dan kita akan langsung melihat 2 slot SIM dan satu slot Micro SD. Evercoss One X adalah ponsel Dual SIM, yang kedua nomornya bisa standby menerima panggilan dan SMS bersamaan, sementara kita memilih salah satu yang akan dipakai untuk koneksi data 3G.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Dual SIM plus Micro SD slot.

Walau belum mengusung konektivitas terkini seperti 4G LTE atau NFC, semua kebutuhan standar seperti Bluetooth, Wifi dan GPS dihadirkan. Dalam pemakaian, semua fitur konektivitas dasar bekerja dengan baik dan normal.

Kamera

Seperti halnya Mito dan Nexian, Android One dari Evercoss dilengkapi dengan kamera 5 megapixel di belakang, dan 2 megapixel di depan. Aplikasi kamera yang dibawa adalah standar Android, dengan fitur seperti HDR dan juga kemampuan membuat latar belakang blur dengan menggerakkan kamera. Dari semua pengalaman menggunakan ponsel pintar ini, baru di kamera lah terasa bahwa ini memang peranti entry level. Memotret terasa lamban dan tidak responsif, seperti butuh waktu setiap menjepret, ditambah lagi setelah memotret pun cara aplikasi kamera meletakkan ‘preview’ kurang gamblang.

Kamera belakang 5 megapixel

Kamera belakang 5 megapixel

Resolusi cukup, hasil jepretan normal, kualitas gambar tidak istimewa, tidak juga buruk. Tentunya jangan berharap banyak untuk memotret di dalam ruangan yang kurang penerangan atau untuk obyek yang bergerak. Kegesitan ponsel ini cukup membuat saya ketagihan memakainya untuk aplikasi sederhana, namun tidak untuk memotret. Berikut ini beberapa contoh jepretan Evercoss One X, klik untuk ukuran aslinya.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor penerangan sedang, moda normal.

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Indoor, penerangan sedang, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda standar.

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Outdoor, langit mendung, moda HDR

Bisa dilihat dari contoh, hasil foto kamera Evercoss One X sebetulnya cukup standar tidak buruk terutama untuk obyek tak bergerak, resolusi 5 megapixel pun cukup untuk kebutuhan umum. Hanya saja pengoperasiannya yang kurang gesit, untuk momen dinamis dan obyek bergerak, mungkin kita akan terlambat.

Batere

Untuk pemakaian yang tidak terlalu berat, stamina batere rasanya wajar dan cukup memadai. Bahkan dengan Dual SIM yang standby berbarengan, Evercoss One X kuat menemani aktivitas seharian sebelum butuh dicharge di sore atau malam hari. Bukan tipe super irit, namun rasanya tidak juga boros.

Stamina batere cukup memadai.

Stamina batere cukup memadai.

Tapi, jika dibawa ke luar kota, di daerah yang sinyalnya lemah, Android One ini bisa terasa jauh lebih boros dibanding handset satu SIM karena di sini handset akan sibuk terus mencari sinyal di dua jaringan sekaligus. Selain itu, stamina batere cukup memuaskan dan tidak akan membuat kita terlalu sering mencari ‘colokan’.

Kelengkapan

Selain buku manual, charger dan earphone berwarna putih yang juga berungsi sebagai handsfree headset, tiap merek dari ketiga pabrikan Android One memberi bonus berbeda. Untuk Evercoss One X, yang menjadi ekstra adalah flip cover. Secara bentuk dan warna memang flip cover ini membuat tampilan jadi lebih elegan, namun pemasangannya menggunakan perekat dan bukan mengganti penutup punggung.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Dari charger, handsfree earphone, dan flip cover.

Flip cover jika dipasangkan.

Flip cover jika dipasangkan.

Banyak yang suka membungkus ponsel dengan pelindung tipe ini, hanya saja saya lebih suka layar depan yang terbuka dan kurang yakin akan kekuatan cover ini, apalagi perekatnya. Untuk harganya, rasanya Evercoss memberikan paket yang sangat komplit.

Kesimpulan

Setelah lebih dari 3 minggu pemakaian yang memuaskan, tepat sebelum menulis ulasan ini, sesuatu yang aneh terjadi pada Evercoss One X saya. Di pagi hari, ia mengatakan hanya ada satu SIM card, lalu siangnya ia seperti tidak mau menyalakan layar hingga harus di-restart. Hal yang sama terulang di malamnya, bahkan restart selalu gagal dan proses booting tidak pernah sempat selesai. Mencabut batere dan semua kartu tidak membawa hasil, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk membiarkannya tanpa batere semalaman. Harapannya apapun masalahnya, kondisi bisa kembali normal setelah lama dibiarkan tanpa daya listrik, kalau tidak, ya akan saya bawa ke service center. Benar saja, di pagi harinya ketika batere dipasang lagi, semua kembali normal. Karena belum dibawa servis, saya belum tahu penyebab masalahnya, apakah software? Apakah mungkin terkena air? Sejauh ini, dari banyak teman yang juga mencoba Android One, belum ada yang mengalami kejadian serupa. Pastinya sampai saat ini semua kembali berfungsi normal.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Android One, solusi ekonomis tanpa menjadi murahan.

Di luar satu ‘glitch’ tak terjelaskan yang saya alami dan kamera yang kurang mengesankan, memakai Evercoss One X cukup menyenangkan. Kejutan yang manis, mengingatkan kita bahwa spesifikasi super tinggi dan fitu-fitur ajaib bukanlah suatu syarat utama untuk sebuah ponsel pintar agar enak dipakai. Kenyataan bahwa saya cukup sering meraih Android One ini ketimbang Galaxy S5 ataupun Galaxy Note 3 andalan selama 3 minggu lebih adalah bukti bahwa untuk hal-hal dasar, kesederhanaan dan responsivitas (entah ada atau tidak kata ini) tetap tetap memiliki peran sendiri. Mencari peranti Android terjangkau tidak susah, tapi mencari yang ekonomis namun berkualitas di kelas ini bukannya mudah. Dalam hal ini rasanya Google dan program Android One nya bisa menjadi solusi. Setidaknya jika kita butuh satu ponsel pintar yang murah namun gesit, lengkap tanpa ‘lemot’, dan selalu mendapatkan Android versi terbaru, sekarang ada seri Android One sebagai pilihan jelas, dan Evercoss One X adalah salah satunya. Rasanya, untuk uang yang dikeluarkan, tak akan mengecewakan.

UPDATE:
Pada Kamis 26 Maret, masalah sama terjadi lagi. Layar tidak mau menyala, walau yang lain berfungsi. Setelah mencoba restart maupun cabut batere, akhirnya handset didiamkan semalaman dengan batere dicopot (lagi) dan keesokannya pulih kembali. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya dan belum sempat ke service center Evercoss.

Spesifikasi teknis Evercoss One X, klik di sini.

Menyiasati Wifi Di Ruko 3 Lantai: Router D-Link DWR-116 & Range Extender DAP-1320

Entah kenapa saya selalu berganti merek setiap berganti router, kali ini giliran D-Link. Jaman berlangganan Speedy, LinkSys WRT-54G jadi andalan, lalu ketika memakai SmartFren EVDO, berganti ke TP-Link MR3420. Sejak pakai Bolt!, karena belinya mifi ZTE MF-90, jadi nggak pakai router lagi. Praktis memang, tapi sinyalnya cuma efektif di satu lantai dan lagi, kalau mau nge-print, komputer harus pindah sambungan dari wifi internet ke wifi printer. Untuk bisa meliputi tempat tinggal dan kerja saya yang 3 lantai ini, saya menjajal kombinasi 3G/4G router D-Link DWR-116 di lantai 3, diperkuat dengan penambah jangkauan D-Link DAP-1320 Range Extender di lantai dasar.

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Router & Range Extender D-Link DWR-116 dan DAP-1320

Walau sudah 4G LTE, rancangan router D-Link DWR-116 bisa dibilang old-school classic, persegi standar dengan dua antena di belakangnya. Entah kenapa buat saya pribadi, desain dengan sepasang antena bikin lebih pede bahwa sinyal akan lebih kuat dipancarkan ketimbang model-model ‘cantik’ tanpa antena yang lebih ‘lifestyle’. Tapi ya ini murni sugesti, puas aja ngelihatnya. Di bagian belakang seperti biasa berderet port untuk ethernet, belum gigabit ethernet namun sudah cukup untuk kebanyakan, toh mayoritas pemakai malah belum tentu sambungan ini. Awalnya sempat bingung, lho, mana tancepan USB modemnya? Kok nggak ada? Rupanya ada di atas. Di mukanya hanya ada satu tombol untuk WPS setup. Dalam kemasan disediakan kabel ethernet untuk instalasi, power adaptor, dan user manual. Dirancang untuk USB modem 3G/4G, DWR-116 ini akan menerima sambungan internet Bolt! via modem ZTE MF-825A.

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

D-Link DWR-116 3G/4G Wireless N300 router

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Bagian belakang D-Link DWR-116, USB port untuk modem ada di atas.

Setup DWR-116 sederhana saja. Setelah memindahkan kartu Bolt! dari mifi ZTE MF-90 ke USB modem ZTE MF-825, tancap ke port dan nyalakan router. Tadinya, saya mau setup dengan kabel LAN tapi akhirnya malah cukup pakai wifi, bahkan cukup dengan smartphone. Dalam 5 menit saja, aktiflah hotspot baru dengan Bolt! di lantai 3. Untuk cek sinyal wifi, saya pun turun ke bawah dengan Samsung Galaxy S5 dan Note 3 tersambung. Sampai lantai dasar pun, sinyal wifi dari D-Link DWR-116 masih diterima 2/5 bar. Hanya di ruangan pojok dan toilet lantai dasar, yang berada di bawah tangga, sinyal baru hilang. Untuk itulah ada yang namanya range extender, penambah jangkauan.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

USB 4G modem ZTE MF-825A dan router D-Link DWR-116 dipasang di lantai 3.

Mayoritas rumah tangga modern di Jakarta sudah pakai wifi router, tapi ya begitu, biasanya cuma efektif di satu lantai. Di lantai lain masih ada sinyal, tapi begitu dalam ruangan lagi, lenyap. Solusinya gampang, tapi banyak yang tidak tahu, beli saja wifi range extender. Ibaratnya tower repeater untuk sinyal telepon selular, range extender menerima sinyal wifi yang ada, dan memancarkan ulang dengan kekuatannya sendiri, sehingga jangkauan bertambah. Yang diduetkan di sini adalah D-Link DAP-1320, bendanya hanya seperti adapter yang dicolok ke listrik, hanya ada satu tombol untuk setup. Colokan DAP-1320 memang yang kaki tiga, tinggal pasang adapter untuk cocok ke plug listrik kita.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Setting range extender DAP-1320 cuma menekan 2 tombol dan selesai.

Menyiapkan range extender ini lebih gampang lagi. Tancapkan ke listrik, tekan tombol WPS di router DWR-116, lalu tekan tombol WPS miliknya sendiri. Tunggu 2-3 menit sampai lampu berhenti berkedip dan menyala hijau konstan, selesai! Range extender tinggal dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan, sesederhana itu. Penting dipahami, range extender akan punya jaringan sendiri, dengan password sendiri, yang beda dengan password wifi utama. Keterangan ini semua ada di petunjuk penggunaan. Pastikan dibaca, jangan seperti saya yang keasyikan sendiri dan tidak sadar bahwa password tertera di sticker di bawah bodi extender.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Bagaimana range extender menambah jangkauan wifi.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik, di lantai dasar.

Wireless Range Extender D-Link DAP-1320 cukup ditancap ke listrik.

Pada akhirnya, duet 3G/4G router D-Link DWR-116 dan range extender D-Link DAP-1320 efektif membuat sinyal wifi kuat diterima di setiap ruangan di ruko 3 lantai saya. Komputer bisa memakai internet dan wireless printer bersamaan tanpa ribet, hal kecil yang menyenangkan. Kembali memakai router membuat saya jadi berpikir untuk lebih jauh membuat personal cloud storage di rumah. Upgrade ke router yang menggunakan gigabit ethernet dan 802.11AC, lalu sambungkan ke external hard disk yang cloud-ready? Belum lagi sekarang bisa menggunakan jalur listrik rumah sebagai jalur data untuk range extender, seru sekali. Ah, yang namanya hobi memang nggak ada puasnya.

Terima kasih, sudah mampir. Untuk spesifikasi teknis router D-Link DWR-116 dan informasi kompatibilitas modem, silakan klik di sini sementara untuk Wireless Range Extender D-Link DAP-1320, klik di sini.

Cara Pakai Whatsapp di Web

Kabar baru dari Whatsapp di pembukaan tahun, sekarang kita bisa chatting memakai Whatsapp di browser laptop atau desktop kita. Untuk ini, login dilakukan dengan cara ‘pairing’ dengan memindai QR code. Saat diluncurkan, ini baru bisa dilakukan untuk akun Whatsapp di peranti Android, BB dan Windows Phone. Belum bisa di peranti iOS nya Apple.

Untuk yang memakai peranti Android, perbarui Whatsapp jadi versi terbaru, lalu lakukan ini:

1. Buka Web Whatsapp di browser (saya baru coba di Chrome saat ini) dengan URL https://web.whatsapp.com

wpid-20150122_160947.jpg

2. Buka menu Whatsapp di peranti Android kita, ketuk pilihan Whatsapp Web

wpid-20150122_161146.jpg

3. Kamera pemindai QR code terbuka, segera arahkan dan sejajarkan dengan QR code di layar komputer kita

wpid-20150122_161305.jpg

4. Setelah QR code dipindai, Whatsapp Web akan terbuka di komputer, sinkron dengan di peranti Android kita.

wpid-20150122_162702.jpg

Selesai, Whatsapp siap dipakai di komputer! Jangan lupa, peranti Android harus tetap terhubung ke Internet untuk menggunakan Whatsapp Web. Selamat mencoba!

Unpacked 5: 5 Fitur Baru Andalan Samsung Galaxy S5

Berbeda dengan tahun lalu, saat Samsung meluncurkan Galaxy S4, kelahiran penerusnya terkesan lebih kalem. Tidak lagi dengan pertunjukan super heboh yang glamor, Samsung Galaxy S5 diumumkan Mobile World Congress 2014 di Barcelona, 24 Februari kemarin. Event besar untuk produk dan brand mobile ini memang tempat yang cocok. Presentasi pun to the point, tanpa banyak bumbu, bagi saya ini seperti menunjukkan fokus dan pendewasaan di bagaimana Samsung merancang smartphone andalannya.

Mendengarkan permintaan konsumen, Samsung tidak lagi mengumbar spesifikasi dan angka. Konsumen tidak terlalu menginginkan fitur yang rumit, namun yang sederhana dan terpakai, ini dikemukakan dalam presentasi. Samsung merangkumnya menjadi 5 point utama di Galaxy S5.

Desain “Modern Glam”

image

Mendengarkan masukan konsumen, desain jadi salah satu fokus utama pengembangan Samsung Galaxy S5. Sementara secara keseluruhan masih meneruskan rancangan seri S, perbedaan paling terlihat di punggung S5 yang tampak memiliki tekstur berperforasi, atau terkesan seperti lubang-lubang kecil. Hadir dengan 4 warna, Samsung membahasakan desain Galaxy S5 sebagai modern glam.

Kamera Yang Lebih Mudah

image

Lebih cepat dan lebih mudah, inti pengembangan kamera di Samsung Galaxy S5.

Bukan sekedar menambah fitur, Samsung kali ini memudahkan konsumen di sisi kamera. Fitur ‘Shot & More’ misalnya, kita tidak usah bingung memilih moda pemotretan. Tinggal jepret, dan Galaxy S5 akan memberikan kita pilihan mode setelahnya. Tujuan utama Samsung di kamera Galaxy S5 adalah menghasilkan foto sebaik yang diinginkan dengan semudah mungkin. Karena itu, kemampuan autofocus pun didongkrak dengan yang namanya Phase Detection Autofocus. Ini biasanya dipakai di kamera DSLR, dan berkat ini, Samsung Galaxy S5 hanya butuh 0,3 detik untuk fokus.

image

Tak perlu lagi menunggu proses untuk melihat hasil HDR.

Kemampuan HDR pun sudah dilakukan realtime. Jika dulu kita harus menunggu proses sebelum melihat seperti apa hasil jepretan HDR, di Galaxy S5 sudah langsung ditampilkan saat mengambil gambar. Kemampuan HDR realtime ini pun katanya tersedia untuk perekaman video.

image

Obyek utama terfokus dan latar belakang blur, kemampuan yang dijanjikan di Galaxy S5.

Satu lagi fitur menarik adalah Selective Autofocus dimana Galaxy S5 memungkinkan kita memilih titik fokus saat memotret, kemudian membiarkan latar belakangnya blur. Efek bidang fokus dangkal yang dijanjikan mirip dengan DSLR. Seberapa bagus penerapannya? Kita tunggu uji pakai setelah peluncuran nanti. Dan terakhir, walau ukuran megapixel bukan patokan sebuah kamera, Samsung menaikkan besar sensor di Galaxy S5 ke 16 megapixel.

Konektivitas
Ketersambungan adalah tujuan kita menggunakan telepon seluler, dan ini salah satunya dibatasi oleh ketahanan batere. Untuk menjamin kemampuan komunikasi bahkan di saat batere menipis, Galaxy S5 menyediakan fitur Ultra Power Saving. Kapan pun diaktifkan, fitur ini akan mematikan semua kemampuan seluler kecuali telepon dan sms, sementara layar dijadikan hitam putih. Klaim Samsung, dengan sisa 10% batere, Ultra Power Saving bisa menyalakan Galaxy S5 untuk standby selama 24 jam!

image

Dapat diaktifkan kapan saja, Ultra Power Saving akan mengirit batere.

Bicara soal LTE, Samsung mengatakan bahwa Galaxy S5 dapat cocok dengan jaringan 4G manapun di dunia. Kita belum tahu, apakah nantinya Galaxy S5 untuk Indonesia juga sudah siap 4G, karena yang sudah-sudah, kita kebagian versi 3G. Karena memang sampai saat ini belum ada layanan telepon seluler 4G yang berjalan di Indonesia.

Lebih Terlindungi dan Aman

image

Tahan terhadap siraman air dan debu, Samsung Galaxy S5 mengusung standar IP67

Satu lagi yang baru di Samsung Galaxy S5, water & dust resistant IP67. Tahan terhadap percikan air dan debu, salah satu fitur yang dianggap Samsung akan menambah kenyamanan pemakai. Tidak lagi perlu takut akan guyuran hujan ataupun shower sesaat, namun, bukan berarti waterproof yang tahan dibawa menyelam atau dicelupkan dalam air. Tampaknya, port USB di Galaxy S5 diberikan penutup untuk mencegah air atau debu masuk.

image

Sensor sidik jari di Samsung Galaxy S5 bukan hanya untuk sekuriti.

Dari sisi keamanan, yang baru adalah pemindai sidik jari. Terletak diantara kaki layar dan tombol home, sidik jadi nantinya akan dapat digunakan untuk membuka kunci layar Galaxy S5. Lebih jauh, katanya kita bisa mengatur mode privacy, yang mana isinya hanya akan terlihat bagi kita setelah memindai sidik jari. Samsung juga tampaknya bekerja sama dengan Paypal untuk pembayaran online, dimana konfirmasi identitas kita dilakukan dengan sidik jari.

Terakhir, pengamanan dari si kecil. Terkesan lucu, namun fitur ini dapat berguna bagi orang tua. Dengan ‘Kids Mode’, Samsung Galaxy S5 hanya menampilkan aplikasi dan kendali yang aman untuk anak-anak. Apakah sudah dirancang aplikasi anak-anak juga? Kita lihat nanti.

Teman Berolahraga

image

Sensor pengukur detak jantung tepat di samping flash Samsung Galaxy S5.

Pertama di smartphone, Samsung Galaxy S5 menghadirkan pengukur detak jantung di punggung nya. Cukup dengan meletakkan jari pada Heart Rate Sensor di dekat flash kamera, Galaxy S5 akan segera mengukur detak jantung kita, dan juga mencatatnya. Ini kemudian menjadi bagian dari fitur S Health yang sudah hadir sejak Galaxy S4.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Samsung Gear Fit, fitness tracker & smartwatch yangmencuri perhatian.

Sedang senang lari? Berolahraga tampaknya semakin jadi kegiatan yang disukai banyak orang, apalagi sejak hadirnya smartphone juga aplikasi yang dapat memonitor olah raga kita. Samsung Galaxy S5 akan semakin lengkap lagi dipandu dengan dua smartwatch baru dan fitness tracker nya, Gear Neo dan Gear Fit. Sementara Gear New adalah penerus Galaxy Gear, yang mencuri perhatian adalah Gear Fit yang bentuknya lebih cantik walau diutamakan untuk memonitor kebugaran. Kedua ‘jam tangan’ pintar ini sudah dilengkapi pengukur denyut nadi di punggungnya.

Menanti Peluncuran
Sampai dengan rilisnya nanti pada bulan April, baru ini saja yang bisa kita rangkum tentang Galaxy S5 dari event Samsung Unpacked 5. Akankah seri andalan Samsung ini sebaik yang dijanjikan? Kita lihat nanti. Banyak spekulasi dan prediksi yang muluk dipatahkan dalam pengumuman ini. Yang pasti, senang melihat bagaimana Samsung kini lebih terfokus akan fitur-fitur yang memang penting dan jelas terpakai secara nyata oleh konsumen.

Penasaran? Lihat video ‘first look’ dari Samsung Galaxy S5 dan Gear Fit ini, atau kunjungi microsite resminya.