Cara Pakai Whatsapp di Web

Kabar baru dari Whatsapp di pembukaan tahun, sekarang kita bisa chatting memakai Whatsapp di browser laptop atau desktop kita. Untuk ini, login dilakukan dengan cara ‘pairing’ dengan memindai QR code. Saat diluncurkan, ini baru bisa dilakukan untuk akun Whatsapp di peranti Android, BB dan Windows Phone. Belum bisa di peranti iOS nya Apple.

Untuk yang memakai peranti Android, perbarui Whatsapp jadi versi terbaru, lalu lakukan ini:

1. Buka Web Whatsapp di browser (saya baru coba di Chrome saat ini) dengan URL https://web.whatsapp.com

wpid-20150122_160947.jpg

2. Buka menu Whatsapp di peranti Android kita, ketuk pilihan Whatsapp Web

wpid-20150122_161146.jpg

3. Kamera pemindai QR code terbuka, segera arahkan dan sejajarkan dengan QR code di layar komputer kita

wpid-20150122_161305.jpg

4. Setelah QR code dipindai, Whatsapp Web akan terbuka di komputer, sinkron dengan di peranti Android kita.

wpid-20150122_162702.jpg

Selesai, Whatsapp siap dipakai di komputer! Jangan lupa, peranti Android harus tetap terhubung ke Internet untuk menggunakan Whatsapp Web. Selamat mencoba!

Iklan

RodeLink: Solusi Wireless Clip-on Mic Baru Untuk Indie Shooter?

Dari berbagai peralatan dasar yang dibutuhkan HDSLR shooter independen, satu yang sampai saat ini belum ada solusi ekonomisnya yaitu wireless lavalier mic, yang lebih sering kita sebut ‘clip-on’ mic. Bukannya tidak ada yang terjangkau, ada yang murah namun kualitasnya kurang meyakinkan. Entah yang noisy atau transmisinya mudah terganggu, kebanyakan wireless clip-on ‘murmer’ riskan jika dipakai untuk kerja video profesional. Mungkin sekedar untuk presentasi, atau acara di panggung. Sejauh ini, hampir semua HDSLR shooter independen mengandalkan Sennheiser seri EW100 G3 P dan variannya. Harganya saat ini berkisar 6-7 juta per set, tidak mahal secara nilai, namun bagi indie shooter on a budget, mungkin berat. Sementara, menyewa tidak selalu bisa jadi solusi. Tapi sekarang, giliran Rode menawarkan solusi.

RodeLink

RodeLink

Membuka tahun 2015, Rode yang sudah dikenal HDSLR shooter dengan VideoMic nya yang sejuta umat, mengumumkan beberapa produk baru. Di antaranya, yang paling menarik bagi indie shooters adalah RodeLink, solusi wireless lavalier mic digital dengan harga yang cukup bersaing. Harga selalu jadi poin penting bagi Rode yang memosisikan diri sebagai produsen mic yang bukan hanya mementingkan kualitas namun juga keterjangkauan, dan setelah lama ditunggu, akhirnya muncul juga solusi nirkabelnya. Harganya mulai di $399 untuk Filmmaker Kit yang terdiri dari belt pack transmitter, on camera receiver, dan Rode Lav sebagai mic nya.

Sebagai sistem digital, RodeLink bersanding dengan Sony UWP-D, sementara Sennheiser EW100 series menggunakan teknologi analog. Pengaturan sinkronisasi channel RodeLink dikatakan cukup dengan sekali tekan, tidak perlu banyak mengatur setting secara manual. Sinyal digital dengan enkripsi 128-bit dikirimkan pada rentang frekwensi 2.4GHz, menghubungkan transmitter dan receiver RodeLink pada jarak hingga 100 meter dengan teknologi yang cukup mengesankan. Daya disediakan lewat batere AA yang diklaim cukup untuk 10 jam operasi, ataupun USB, jadi bisa menggunakan powerbank andai perlu. Mic yang disertakan dalam paket Filmmaker Kit adalah Rode Lav, yang sudah lebih lama dirilis.

Beltpack Transmitter RodeLink

Beltpack Transmitter RodeLink

Di harga US$399, memang pada akhirnya kemungkinan di sini tidak akan terlalu jauh dengan Sennheiser EW100 series. Realistisnya? Dugaan mungkin terpaut satu juta Rupiah di bawah sang clip-on sejuta umat. Akankah kembali menjadi solusi pilihan indie shooter sebagaimana VideoMic nya? Kita tunggu pembuktian kualitasnya. Untuk membaca lebih jauh, bisa mampir ke artikel dari Newsshooter atau langsung ke halaman Rode Wireless.

Kenapa Film Jadi Terlihat Seperti Sinetron di TV HD Baru Kita?

Photo: Sony Official

Photo: Sony Official

Baru beli TV HD, tapi kemudian merasa ada yang aneh pas nonton film di TV kabel HD, DVD atau Blu-ray? Entah kenapa, film kok jadi terasa seperti sinetron, tapi nggak tahu apanya. Petugas di toko cuma bilang, “Oh kalau HD memang gitu pak, resolusi tinggi jadi kinclong.”, tapi kita tahu itu bukan masalah gambar yang tajam. Ada sesuatu, cuma kita nggak ngerti apanya, pokoknya jadi kayak sinetron. Sebetulnya apa yang terjadi?

Tampilan film menjadi terasa seperti sinetron atau opera sabun di layar-layar HD yang baru disebabkan oleh fitur penghalus gerakan ‘motion smoothing’ yang dinyalakan produsen TV sejak dari pabriknya. Saking halusnya gerakan, semua terasa seperti video, sinetron, atau opera sabun. Di luar negeri, ini disebut “Soap Opera Effect”. Gerakan terasa lebih cepat, walau sebenarnya tidak, hanya lebih lengkap, karena fitur motion smoothing ini melipat-gandakan jumlah frame gambar tiap detiknya lewat interpolasi. Teknologi yang dibanggakan produsen TV sekarang ini berguna untuk tayangan berita dan olahraga namun merusak rasa film cerita. Tapi tentunya, kita bisa memilih untuk mematikannya.

Yang penting, ketahui dulu nama fitur ini di TV kita. Tiap merek mempunyai nama sendiri untuk teknologi motion smoothing yang dipakai, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sony: MotionFlow
  • Samsung: Auto Motion Plus, Clear Motion
  • LG: TruMotion
  • Panasonic: Intelligent Frame Creation
  • Toshiba: ClearScan
  • Philips: Digital Natural Motion, Perfect Motion
  • Sharp: Aquomotion

Nah, setelah mengetahui nama fitur motion smoothing di TV kita, tinggal mencari di menu setelan untuk bisa dinon-aktifkan. Misalkan tidak ada opsi untuk mematikan sama sekali, coba pilih yang angkanya paling rendah di menu setelan. Film cerita pun kembali terasa sinematis dan tidak seperti sinetron dan opera sabun.

Haruskah fitur ini dimatikan? Tidak juga, bagi yang tidak terganggu dan lebih banyak menikmati tayangan berita, olahraga dan lainnya yang non-drama, mungkin justru disukai. Silakan mencoba-coba sendiri, mana yang cocok. Jika tertarik tahu lebih jauh tentang teknis bagaimana motion smoothing menghasilkan soap opera effect, klik di sini untuk membaca artikel yang cukup detil menjelaskannya.