JalanRaya: -15° Celsius di Kuala Lumpur bersama Panasonic Econavi

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

Panasonic Econavi Media Trip KL 2013

“AC yang setengah PK itu cuma ada di Indonesia lho sekarang.”

“Di seluruh dunia nggak ada?”

“Cuma di Indonesia.”

Obrolan makan malam kali ini soal AC, dan saya yang tadinya sibuk dengan nasi, ayam dan udang goreng jadi berhenti sebentar karena pengetahuan baru ini. Mendadak dalam otak muncul wajah ayah saya dengan kalimat khasnya.

“Beli yang setengah PK aja, bang. Cukup lah.”.

Sambil menikmati hidangan, pak Heribertus Ronny, AC Product Manager dari Panasonic bercerita. Ternyata AC 1/2 PK masih diproduksi cuma untuk pasar Indonesia, menyesuaikan daya beli juga kapasitas listrik mayoritas rumah tinggal masyarakatnya. Karena besarnya demand dari Indonesia, tetap diproduksi sementara di belahan dunia lain sudah nggak ada.  Jadi penasaran, pengen langsung pulang dan ngecek AC di rumah berapa PK. Tapi nggak bisa, karena restoran tempat saya makan ini di Kuala Lumpur.

Ngapain di KL? Kali ini saya berkesempatan ikut para wartawan dalam media trip ke PAPAMY, fasilitas pabrik AC Panasonic di Malaysia. Oh, yang suka ngarang lagu anak tahun 90’an itu? Bukan, kalau itu Papa T-Bob. Mendadak jadi kepikir satu hal, dan langsung aja saya bertanya.

“Kenapa nggak di Indonesia aja Panasonic bikin pabriknya?”

“Oh justru kita udah punya pabrik di Indonesia sudah dari tahun 70’an. Bahkan, waktu pabrik-pabrik lain sempat stop operasi waktu krisis, Panasonic tetap jalan.”.

Ah, okelah. Bukan berarti nggak mau bikin di Indonesia, tapi PAPAMY ini memang sudah jadi fasilitas besar yang meliputi riset dan pengembangan untuk regional. Makan malam berlanjut dengan obrolan yang lebih melebar bersama para wartawan, sementara saya menyimak sambil sibuk dengan lauk. Ayam gorengnya agak beda, enak banget. Atau saya aja yang kelaperan, nggak ingat juga. Setengah jam kemudian saya kembali naik bus rombongan menuju hotel, saatnya istirahat sebelum kunjungan besok. Entah kenapa rasanya kayak nggak sedang di luar negeri, beda dengan waktu pertama kali ke KL di tahun 1999.

 

Pabrik Besar AC Pintar

14 tahun lalu saya berkesempatan ke KL untuk mengunjungi fasilitas studio sinetron sebuah rumah produksi Malaysia, kali ini melihat pabrik AC. Beda jauh ya? Sementara film dan TV adalah bagian dari profesi, consumer technology memang topik favorit saya belakangan ini. Sejak era smartphone, rasanya mendadak semua perangkat elektronik bisa, dan harus, jadi smart juga. Dalam media trip ini Panasonic ingin memperkenalkan konsep AC nya yang ‘smart’, yaitu seri Econavi.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Berangkat! Dalam bus menuju PAPAMY.

Setelah cukup istirahat dan makan pagi, rombongan berangkat dengan bus besar yang nyaman. Definisi macet di KL jauh lebih jinak daripada Jakarta, kami tiba di fasilitas PAPAMY sekitar 40 menit kemudian. Lokasinya agak dipinggiran kota, sepertinya memang distrik industri dan Panasonic mempunyai beberapa fasilitas dan pabrik besar di sana. Bukan cuma untuk AC, tapi juga kulkas dan TV, dan semuanya besar.

Sampai juga di PAPAMY

Sampai juga di PAPAMY

Kami disambut oleh staf bahkan direksi PAPAMY yang kemudian menyajikan presentasi tentang pabrik dan produk AC Panasonic, terutama seri Econavi yang jadi andalannya. Dari sini baru nyadar bahwa AC sekarang bukan sekedar “berapa PK?” apalagi “berapa Watt?”. Ternyata Econavi ini membuktikan bahwa yang namanya AC sudah canggih sekali.

Presentasi PAPAMY & Econavi

Presentasi PAPAMY & Econavi

Bersama teman-teman dari media.

Bersama teman-teman dari media.

Yang saya tahu tentang AC, dari iklan-iklan sejauh ini paling-paling tentang yang namanya “inverter” yang bisa mengirit listrik, atau “plasmacluster”  bisa memperbaiki kualitas udara ruangan. Inverter itu memperlahankan putaran kompresor ketika sedang tidak butuh putaran tinggi, hasilnya pengiritan energi. Dan banyak merek yang sudah pakai inverter ini, entah Samsung, LG, Sharp dan lainnya. Panasonic ingin mengangkat bahwa Econavi buatannya lebih dari sekedar mengirit tenaga dan membersihkan udara, tapi melakukannya dengan sangat pintar.

 

AC Panasonic Econavi: Penghematan Energi Sampai 38%, Plus Pembersihan Udara!

Ini yang jadi fokus media trip Panasonic kali ini, yaitu produk AC Econavi. Dilengkapi beberapa sensor pintarnya, AC Panasonic Econavi mendinginkan ruangan sesuai kebutuhan, dan mengukur bukan sekedar temperatur kamar. Ia akan mendeteksi posisi orang di dalam ruangan, dan membaca mana yang lebih aktif mengeluarkan panas, dan memfokuskan hembusan ke arah itu. Dalam ruangan ada lebih dari satu kelompok orang? Econavi akan mengatur tiupan sesuai prioritas, mana kelompok yang lebih panas. Bukan cuma itu, ketika ruangan ditinggalkan kosong pun Econavi tahu dan menyesuaikan putaran supaya irit tenaga listrik. Begitu orang-orang kembali ke ruangan, dalam sekejap Econavi akan menyesuaikan lagi. Lebih dari sekedar mendeteksi orang, Econavi juga mengukur cahaya jendela dan panasnya, untuk mengatur pendinginan. Berapa besar pengiritan energi yang bisa dicapai? Di model terlengkapnya, Econavi bisa menghemat energi sampai 38%!

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi

AC Panasonic CS-S10PKP Econavi, sekilas kelihatan biasa banget ya.

Bukan cuma soal mengatur pendinginan dan efisiensi, fitur Nanoe-G nya bisa membersihkan udara di ruangan, bahkan di dalam AC-nya sendiri. Bakteri dan jamur yang ada di permukaan, udara dan filternya sendiri dinon-aktifkan. Sinting. Mendadak AC di rumah jadi seperti peninggalan purbakala.

Panasonic AC XC579PKJ Econavi

Panasonic AC XC579PKJ Econavi, AC pintar ini tampilannya seperti AC biasa saja.

Usai presentasi, ada satu hal yang bikin saya penasaran dan langsung saja saya tanyakan dengan direktur eksekutif PAPAMY. Satu hal yang terlewatkan sebelumnya di sesi tanya-jawab.

“Jadi, teknologi Econavi ini sudah standard untuk semua AC Panasonic kelas menengah dan kelas atasnya?”.

Dengan bangga beliau mengiyakan. Nah, yang pengen saya tanyain itu satu hal aja yang rasanya sih penting.

“Kira-kira kapan Econavi ini jadi fitur standard semua AC Panasonic termasuk tipe termurahnya? Soalnya fitur-fitur efisiensi listriknya justru lebih akan terasa gunanya buat konsumen yang bukan kelas atas.”

Pak direktur yang adalah orang Malaysia keturunan India tersenyum dan menjawab dengan hati-hati.

“Pastinya kita mengarah ke sana, teknologi semakin maju dan semakin terjangkau setiap hari.”.

“Jadi, 5 tahun lagi mungkin?”, tanya saya lagi sambil nyengir. Bapak direktur jadi ketawa karena saya masih ngotot pengen tahu.

“Hahaha, saya belum bisa bilang, sulit mengira-ngira. Tapi jangan khawatir, arah kami ke sana. Kami ingin Econavi ini dapat dinikmati sebanyak mungkin konsumen, dan sudah komitmen Panasonic untuk selalu hadirkan teknologi yang lebih efisien energi dan ramah lingkungan.”.

Ah, paling nggak sudah bisa berharap bahwa suatu saat fitur-fitur Econavi ini akan jadi standard bahkan di AC Panasonic yang paling kecil dan murah. Bapak saya pasti seneng.

 

Panas Dingin di Pabrik AC

Setelah mengobrol sejenak, tiba giliran kelompok saya untuk keliling melihat fasilitas pabrik PAPAMY. Tempat ini besar dan luas, kami benar-benar dibawa untuk melihat semua proses produksi dari awal sampai pengecekan kualitas. Dari gedung ke gedung, di cuaca yang panas hari itu membuat saya keringetan parah dan iseng bilang pada staf yang memandu kami.

“Kok pabrik AC ternyata nggak dingin ya?”

Staf tertawa dengan ramah dan bilang.

“Oh tenang, nanti kita ke ruangan yang suhunya -15° Celsius di fasilitas R&D.”.

Aha! Menarik!

web 20130610_114711

Fasilitas besar ini baru salah satu dari beberapa gedung di PAPAMY

Paling menarik dari semua adalah fasilitas R&D dimana berbagai macam pengujian AC dilakukan oleh Panasonic. Berbagai ruangan dibuat untuk mensimulasikan berbagai lingkungan dan mengukur performa AC. Entah itu bentuk ruangan, suhu sampai dengan sinar matahari bisa disimulasikan. Nggak ada yang dilewatkan. Hal sesederhana suara mesin AC pun diukur dengan standard yang luar biasa akurat dan ketat. Nggak bakal lagi bisa nganggap enteng teknologi AC. Seru sekali melihat fasilitas R&D Panasonic ini, tapi sayangnya, tidak diijinkan mengambil foto di dalam.

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY

Lanjut ke gedung teknologi Panasonic PAPAMY. Panas euy cuacanya.

Dan di salah satu ruangan ini, saya berkesempatan mencoba, bener nggak sih pintarnya AC Econavi ini. Staf Panasonic menyilakan saya berdiri beberapa meter di hadapan AC Econavi yang menyala.

“Coba bapak geser posisinya, pindah ke sebelah kanan.”.

Oke, saya nurut dan bergerak pindah 3 meter ke kanan, lalu memperhatikan blower AC. Dalam hitungan detik, hembusan udara menyusul ke tempat saya pindah. Betul, blowernya menyesuaikan arah anginnya. Tapi kan saya cuma sendiri, coba saya tanya.

“Ah, betul ya AC nya bisa ikuti posisi saya. Tapi ini kan saya sendiri. Kalau di ruangan ada yang lain, gimana?”.

Staf PAPAMY kemudian mempersilakan 3 rekan wartawan untuk ikut berdiri di hadapan AC, sejajar namun di sisi berlawanan saya. Ia kemudian menjelaskan.

“Kalau ada lebih dari satu orang atau kelompok, sensor Econavi akan membaca dan membagi hembusannya.”.

Betul, sekejap kemudian blower yang tadinya terfokus ke arah saya menjadi bergantian berputar ke kanan dan ke kiri. Kedua posisi jadi didinginkan. Tapi ternyata belum selesai begitu aja, staf PAPAMY kemudian kembali berpaling ke saya.

“Coba bapak bergerak-gerak sedikit.”

Hmm. Bergerak?

“Bergerak sedikit, aja, misalkan jalan di tempat.”, katanya dengan ramah.

Baiklah, saya pun bergerak seperti jalan di tempat. Lalu seperti orang pura-pura jogging. Tepat sebelum saya sempat beralih ke gerakan robot breakdance, AC kembali memprioritaskan semburan udara dinginnya ke saya. Impressive.

“Karena bapak bergerak menimbulkan panas lebih banyak daripada yang diam, sensor Econavi membaca dan memrioritaskan pendinginan ke arah bapak.”.

Mendengar presentasi dan membaca brosur adalah satu hal, namun membuktikan sendiri secara langsung memang lain lagi. Dan ini baru sebagian dari kemampuan AC Econavi yang bisa membaca banyak faktor lain. Kami juga diperagakan langsung dengan pengukur digital, bagaimana secara nyata penggunaan daya dapat turun menyesuaikan kebutuhan.

Dari semua tempat yang dikunjungi di PAPAMY, saya paling betah di fasilitas R&D yang suhu ruangannya sampai -15° Celsius tadi. Jujur, saya lupa sama sekali itu ruang untuk apa, dan sayangnya yang lain cepat-cepat keluar ruangan karena dingin. Aneh, pada lebih betah panas pabrik ya? Kunjungan ke PAPAMY akhirnya dirampungkan setelah makan siang bersama, setelah berpamitan kami pun kembali naik bus menuju tujuan berikutnya.

 

Panasonic Econation: Konsep Rumah Masa Depan

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Rumah konsep ini 100% menghasilkan & memakai listrik mandiri.

Kalau ditanya kepengen rumah kayak apa, sepertinya Ecopark ini jawaban yang paling pas. Bukan cuma keren, nyaman dan dilengkapi berbagai peralatan canggih, rumah ini sepenuhnya mengadakan listrik secara mandiri. Ya, kalau di sini istilahnya kita jadi nggak butuh PLN. Baru dari panel tenaga surya yang memayungi keseluruhan rumah saja sudah kelihatan betapa inilah masa depan yang seharusnya, dan bukan hanya itu. Semua aspek di dalam rumah, sampai pemilihan warna, bahan langit-langit pun diperhitungkan untuk efisiensi energi yang benar-benar optimal.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Solusi total Panasonic untuk rumah dengan listrik mandiri. Pengen bisa begini di Jakarta.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Control panel pintar untuk lighting rumah.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Tenaga listrik yang dibangkitkan dikendalikan di sini.

Di sini kita diperkenalkan juga akan line up produk Panasonic Econavi lainnya. Bukan cuma AC tapi juga mesin cuci, kulkas dan kipas angin! Semuanya efisien energi dengan pintar, khas Econavi. Untuk kulkas misalnya, ia bisa menyesuaikan pendinginan sesuai kebutuhan dengan mendeteksi penaikan suhu ketika pintu dibuka, bahkan mempelajari jam-jam berapa kita paling sering atau bahkan jarang membuka tutup kulkas dan menyesuaikan intensitas pendinginan yang pas dan efisien. Contohnya, ketika malam hari dia akan bekerja lebih ringan karena toh suhu luar dingin dan kulkas jarang dibuka-tutup. Gila ya kalau dipikir. Kulkas aja udah pinter. I love technology!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Econavi bukan cuma AC, lho!

Efisiensi juga bukan hanya dalam hal benda-benda elektronik, tapi bisa juga pemilihan bahan yang lebih reflektif untuk memantulkan cahaya, sampai rancangan lemari yang memudahkan kita. Jadi nggak semuanya mesti yang berbau teknologi komputer gitu.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Langit-langit reflektif membantu memantulkan cahaya.

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu...

Saya kepengen lemari dapur yang kayak begitu…

Dan di masa depan, selain rumah yang mandiri listriknya, mestinya mobil juga sudah pakai listrik aja kan ya? Konsep itu juga diterapkan di Econation ini, rumah sudah siap dengan charger untuk mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Untuk ngecharge mobil listrik.

Panasonic Econation ini benar-benar konsep yang saya suka. Jaman makin canggih, sudah semestinya juga semuanya makin efisien, makin pintar dan nggak boros energi. Ibaratnya orang yang semakin memakai otak ketimbang otot dalam melakukan apapun.

 

Penutup Kunjungan, Kereta Gantung Ke Genting!

Dari dulu kalau dengar Genting Highlands, tahunya satu hal: tempat berjudi. Bayangan sosok orang-orang berdandan rapi di ruangan casino yang mewah, semua dewasa, kalem dan berduit. Mungkin karena saya kurang gaul dan memang nggak hobi amat travel jadi nggak tahu yang sebenarnya. Hari itu ditutup dengan wisata ke Genting, yang cukup jauh dari KL dan setibanya di sana katanya kita akan naik cable car. Kereta gantung. Sip lah. Kirain deket.

Tinggi sekali!

Tinggi sekali!

Ternyata perjalanan dengan cable car dari perhentian bus menuju resort Genting cukup jauh. Perjalanan perlahan menikmati pemandangan yang indah dan udara yang sejuk segar, benar-benar pengalaman yang berbeda. Lebih asik lagi pastinya kalau saya nggak takut dengan ketinggian, yang bikin setengah perjalanan antara kagum dan cemas sendiri.

“Lho, mas takut ketinggian ya?”.

Saya sedang megang tiang di tengah kereta kencang-kencang.

“Menurut ngana?”.

Sampai juga di puncak Genting dan, lho. Kirain bakal seperti casino dengan orang-orang perlente macam James Bond, teryata lebih seperti taman ria buat keluarga membawa anak-anak. Yang tempat berjudi nya sendiri tertutup, dan saya nggak masuk ke sana. Sayang sekali kaki saya kumat sakitnya, jadi sementara yang lain sibuk ke sana-sini saya malah cari tempat duduk dan melakukan satu hal yang merupakan ciri orang Jakarta: nyari colokan untuk ngecharge hape.

Ternyata kayak begini toh...

Ternyata kayak begini toh…

Rombongan pulang ketika hari sudah gelap. Semua kelelahan dan tidur di bus, dan langsung beristirahat setibanya di hotel. Panasonic Econavi media trip berakhir sudah, keesokan paginya kami berangkat kembali ke Jakarta. Dua hari yang penuh kegiatan dan juga membuka wawasan baru buat saya. Terima kasih atas kesempatan ini, Panasonic.

Iklan

Berkenalan Dengan Acer Aspire P3: Hybrid Ultrabook

Image

Perkenalkan laptop kerja dan teman syuting saya yang baru, Acer Aspire P3

Kapan terakhir kali punya laptop Windows yang bikin orang-orang ngelirik, nyamperin dan bertanya-tanya? Sebelum ini terus terang saya belum pernah mengalami begitu. Yang namanya laptop Windows itu generik, standard, antara satu dan yang lain nggak ada  perbedaan yang ‘wah’. Paling-paling beda jeroan atau jenis. Kemarin kita sempat kenal netbook untuk kerja ringan, atau ultrabook yang super tipis dan anggun. Tapi masing-masing bawa kompromi dan tetap saja laptop. Baru sejak Windows 8, mendadak laptop jadi bisa menarik lagi. Dirancang untuk bisa dipakai sebagai laptop maupun tablet, Windows 8 akhirnya membuat laptop jadi punya bentuk baru yang lebih beragam. Dan sekarang saya baru mengalami punya laptop yang bikin orang-orang melirik dan bertanya karena tertarik, namanya Acer Aspire P3, jenis Hybrid Ultrabook.

Hybrid Ultrabook, Binatang Apaan Lagi Tuh?

Image

Ultrabook & Tablet, Hybrid!

Biar nggak pusing dengan istilah teknologi, untunk gampangnya Acer Aspire P3 ini adalah gabungan antara laptop ringan dan tipis, dan tablet. Sebagai laptop, kemampuan dan spesifikasinya bukan kelas ringan. Nggak ada kompromi nanggung seperti jaman netbook, otak Aspire P3 adalah prosesor Intel i5. Sementara secara ukuran tetap relatif kecil, dan bisa bekerja sebagai tablet. Iya, tablet, layar sentuh. Kalau sudah pakai Windows 8 pasti tahu bahwa semua dirancang untuk bisa dipakai dengan layar sentuh. Acer Aspire P3 bisa dilepas dari keyboard dan dudukannya, dan jadi tablet Windows 8 yang ringan namun kuat.

Fashionable, Capable.

Beneran, baru kali ini ngerasain pakai laptop yang ternyata selalu menarik perhatian orang sekitar. Gimana nggak. Acer merancang Aspire P3 ini cukup fashionable. Ketimbang bentuk laptop biasa yang sudah ketebak, Aspire P3 sekilas kelihatan seperti tablet yang dibungkus jaket cover, atau bahkan sebuah buku catatan. Bagian luar dibalut dengan bahan semacam vinyl yang bertekstur mirip kulit sintetis, dengan warna hitam. Beneran sama sekali nggak kayak laptop. Saking stylishnya, kalau memungkinkan, saya sebetulnya lebih senang bawa-bawa si P3 ini tanpa tas, supaya lebih kelihatan. Iya, saya memang suka pamer kalau punya mainan keren dan unik.

Image

Stylish, lebih kelihatan kayak buku atau tablet ketimbang laptop.

Di balik kulit luarnya, Acer Aspire P3 terdiri dari dua bagian. Keyboard bluetooth sekaligus dudukan yang melekat pada cover, dan layar yang bisa dilepas menjadi tablet. Semua otak komputer ada di bagian tabletnya, Sebenarnya bingung sih, ini layar laptop yang bisa dilepas dan jadi tablet, atau tablet yang dipasangi keyboar dan jadi laptop? Nggak penting juga, yang penting bisa jadi dua-duanya. Nah kalau luarnya warna hitam, bagian dalam Aspire P3 didominasi warna silver yang kelihatan sangat elegan.

Selamat Datang, Touchscreen. Selamat Tinggal, Trackpad!

Image

Layar sentuh dan keyboard, nggak perlu trackpad.

Nggak ada trackpad di Acer Aspire P3. Yup, ini salah satu keunikan yang bikin banyak orang bertanya-tanya waktu pertama lihat. “Lho, ini nggak ada trekped nya ya, Ray?” Windows 8 yang dirancang bisa dipakai layaknya tablet, memungkinkan kita meniadakan trackpad karena semua bisa dilakukan langsung dengan menyentuh layar. Ribet dong? Nggak. Beneran. Mungkin nanti akan kaget betapa memakai Windows 8 dengan layar sentuh tanpa trackpad terasa natural.

Image

Dalam posisi duduk, layar si Aspire P3 ini letaknya menempel dengan tepi atas keyboard, jadi tangan kita sudah dekat sekali dengan layar. Tinggal angkat jari pun tersentuh, tangan nggak perlu menjulur sama sekali. Menyentuh layar bahkan terasa cukup natural, buktinya, sejak pakai si P3 ini, kalau kebetulan megang laptop atau komputer lain bawaannya mau nyentuh layar untuk nekan tombol. Sama seperti trackpad, touchscreen pastinya bukan cara ideal untuk operasi yang butuh akurasi seperti di aplikasi grafis atau editing foto. Untuk operasi yang panjang dan butuh akurasi, kita pastinya tetap bisa pakai mouse di P3 ini. Walau mungkin bukan yang pertama, ini tetap langkah yang cukup berani, dan mungkin ke depannya akan makin banyak hybrid yang meniadakan trackpad.

Feature & Power

2 tahun saya kerja cukup pakai netbook Acer. Saya udah niatin, kalau punya laptop satu lagi harus laptop yang kemampuan penuh, Windows 8, dan touchscreen. Ternyata ya, sekarang itu jeroan laptop udah bisa muat dalam bentuk tablet setipis dan ringan. Nggak lagi pakai nanggung ala era netbook.

Image

Fitur lengkap Aspire P3

Teknis dikit bentar nggak apa-apa ya, tapi seperti biasa nggak akan terlalu bahas ribet angka. Intinya, nggak usah khawatir akan kemampuan makhluk setengah tablet dan setengah ultrabook ini. Otaknya pakai Intel i5, prosesor serius, bukan macam Intel Atom yang, anu, pemalu. Cepat, nggak kenal lemot. Makin terasa kencangnya lagi karena hard disknya pakai yang namanya SSD yang lebih cepat daripada hard disk laptop biasa.

Image

Sound dengan Dolby Home Theater

Image

Tombol volume, power dan colokan headphone.

Image

HDMI dan USB 3.0

Colokan USB? Ada dong, dan udah USB 3.0 yang jauh lebih cepat, tentunya kalau disambung ke alat yang juga USB 3.0 ya. Mau tancap ke layar besar, Aspire P3 sudah ada colokan HDMI. Mau presentasi pakai proyektor (anak kantor bilangnya, ‘InFocus’, padahal itu merk) juga bisa, dalam kemasannya Acer sudah ngasih adapter dari HDMI ke VGA. Nggak perlu repot beli lagi. WiFi, Bluetooth, webcam HD, sudah pasti. Semua ini di bagian layar atau tablet nya. Keyboardnya ya keyboard aja.

Image

Keyboard fullsize, besar dan lapang.

Nah, bicara soal keyboard, pengalaman pertama makai P3 jadi lucu. Saking udah lama kebiasa kerja pakai keyboard ukuran netbook yang rada kecilan, pas makai si P3 jadi agak kagok. Kenapa? Karena keyboard Aspire P3 besar. Walau sekilas Aspire P3 kelihatan kecil, keyboardnya full size. Jarak pemisah antara tuts sangat jelas, nggak berdempetan. Satu lagi keunikan keyboard Aspire P3, walaupun secara fisik, menekan tuts nya terasa cukup masuk. Kirain keyboard setipis gitu bakal kayak ngetik di kayu, tapi ternyata masih sangat terasa normal, jarak tekan dan pantul balik tuts nyaman dan natural. Keyboard ini terhubung dengan Bluetooth dan punya batere sendiri di dalamnya. Jadi, harus dicharge juga kalau lampu indikatornya menyala kuning. Chargenya gampang, cuma ngambungin USB ke tabletnya, dengan kabel pendek yang disediakan Acer di kemasan.

Image

Tombol power dan colokan micro USB untuk charge keyboard.

Layar sentuh Aspire P3 cukup responsif dan multitouch, bisa merespon 10 titik sekaligus. Resolusinya pun sudah standard. Brightness nya lumayan oke, di tempat terang masih lumayan ‘ngelawan’. Ini penting sih buat saya yang kadang bawa dia ke lokasi outdoor kalau kerjaan motret atau syuting video. Sudut pandang cukup lebar, jadi nggak mesti lempeng amat depan P3 untuk ngelihat jelas. Tapi ya baek-baek ya kalau buka yang nakal-nakal, gampang keintip dari samping.

Nyaris Lupa, Kameranya Ada Dua.

Bukan cuma webcam! Haha! Lupa! Saking jarang dilepas dari dudukannya, terus terang saya nggak inget kalau Aspire P3 ini punya dua kamera. Selain webcam HD yang menghadap ke kita, di punggungnya ada kamera utama, resolusinya 5 megapixel.

Image

Kamera utama di punggung P3, resolusi 5 megapixel.

Berhubung saya bukan golongan yang hobi motret pakai tablet nan besar ya, jadi belum nyoba. Tapi seenggaknya, nice to know bahwa Acer cukup melengkapi fitur P3. Kalau sampai perlu, ada kamera 5 megapixel di punggung Aspire P3.

Pengalaman Baru

Setelah sekian lama kenal Windows, akhirnya ada juga perubahan yang segar. Mulai dari tampilan sampai cara pakai, berbeda banget dari yang dulu kita kenal. Dirancang untuk bisa dipakai dengan sentuhan, Windows 8 akan semakin terasa kecanggihannya di komputer yang menggunakan touchscreen, apalagi bisa dilepas menjadi tablet. Serba bisa. Ini pengalaman yang saya dapatkan dari memakai Aspire P3, komputer yang serba bisa, lebih modern, fleksibel, praktis juga bertenaga. Sebulan memakai P3, saya jadi merasa bahwa memang komputer seharusnya sudah berubah jadi seperti ini.

Image

Windows 8, Ultrabook, Tablet. Semau kita.

Saya belum menjajal P3 untuk kerja berat seperti video editing dengan Adobe Premiere, karena memang saya nggak ngedit di laptop. Tapi untuk kebutuhan kerja saya, P3 jadi alat bantu yang menyenangkan. Contoh pemakaian yang unik misalnya syuting video testimoni atau presenter, P3 bisa dilepas jadi bentuk tablet dan menjadi alat bantu baca teks. Di depan sang presenter, P3 menjadi semacam teleprompter.

Salah satu dari Aspire P3 yang mengesankan buat saya adalah kecepatan start-nya. Cuma beberapa detik, nggak pakai nunggu lama. Cepatnya ini lebih kayak tablet ketimbang laptop, yang begitu dibuka langsung instan nyala. Awalnya, kirain ini karena si P3 dalam posisi sleep, jadi ngebanguninnya cepat, karena itu saya coba shutdown aja. Sekalian ngirit batere. Ternyata dari posisi shutdown pun sama cepatnya, begitu buka, cuma beberapa detik langsung siap kerja. Nice!

Walau menyenangkan dan natural, memakai touchscreen ketimbang trackpad memang perlu membiasakan diri dulu. Ada beberapa action seperti klik kanan yang kemudian diganti menjadi sentuhan lama (nih istilah rasanya salah ya). Jadi untuk mengeluarkan menu, sentuh dan tahan sampai menu keluar. Dan sama seperti untuk semua laptop ataupun komputer saya, untuk yang perlu akurasi, saya tetap pakai mouse. Wireless, pastinya.

Image

Acer Aspire P3, sisi belakang tablet.

Sebagai benda yang bentuknya tipis, power Aspire P3 cukup mengesankan saya. Kombinasi otak Intel i5 dan storage SSD yang cepat memang sangat cepat. Belum pernah merasakan slow-down atau menunggu. Nggak ada istilah lemot. Untuk playback beberapa video full HD pun si P3 jalan tanpa ragu. Untuk kerjaan saya yang seputaran foto dan video, kekuatan ini sangat membantu. Dalam pengalaman saya makai P3 sebulanan lebih, kalau dalam pemakaian penuh, baterenya kuat sampai 5 jam lebih. Nggak wah, tapi kalau bisa, pengennya bisa lebih.

Image

Playback video HDnya mulus, jadi saya pakai buat preview kalau syuting.

Pengalaman penting nggak penting yang unik adalah bagaimana ke manapun bawa si Aspire P3 ini, yang pertama melihat pasti penasaran. Dan nggak jarang pula jadi tertarik. Ini bukan hal kecil lho. Kapan terakhir ada laptop yang bentuknya bikin penasaran? Biasanya kita lihat laptop ya melengos aja, laptop ya laptop. Tapi dari pengalaman saya melihat respon orang-orang sekitar, sepertinya Acer cukup berhasil membuat desain yang menarik.

Kalau Ada Yang Bisa Saya Ubah Dari Aspire P3…

Nggak ada yang sempurna, dan semenyenangkan apapun suatu perangkat, pasti ada yang bisa dibuat lebih baik. Kalau ada beberapa hal yang pengen saya ubah di Acer Aspire P3, pertama adalah membuatnya lebih ringan. Dalam bentuk tabletnya, Aspire P3 sangat enteng di tangan, tapi ketika menyatu dengan keyboard dan casenya, bobotnya jadi seperti laptop. Pengennya, apalagi dengan label ‘Ultrabook’, mestinya si P3 ini bisa lebih ringan sedikit lagi.

Kedua, daya tahan batere. Tapi ini bakal jadi kompromi dengan bobot, kalau batere dibuat lebih besar pastinya bakal nambah bobot kan? Ngelunjak nggak kalau saya pengen stamina batere 8-9 jam? Mungkin, tapi bisa jadi di generasi berikutnya ini bisa diwujudkan.

Layar sentuh P3 masih belum yang kebal minyak dan sidik jari. Rasanya ini juga kompromi, bisa aja Acer ngasih layar yang lebih kebal sidik jari, tapi kebayang bakal pengaruh ke harga. Mungkin solusinya nyari pelindung layar yang fingerprint-resistant.

Ada satu yang penting nggak penting sih, yaitu jaket atau keyboard-covernya. Cantik, keren, stylish, eksklusif, tapi di tangan saya bahannya agak cepat kotor dan membersihkannya agak susah. Nggak fatal, tapi ya saya senengnya tetep kinclong. Cara melepas tablet dari dudukannya juga agak serem, butuh dicongkel pakai kuku. Tapi di sisi lainnya, ini menjamin tablet nggak akan bisa lepas sendiri. Pengennya di generasi berikutnya dibuatkan yang lebih mudah tapi tetap aman. Dan walau ketika posisi berdiri, layar P3 duduknya sangat mantap dan nggak akan bisa bergeser, namun ketika terlipat, nggak ada yang ‘nyeklek’ atau apalah supaya dia nggak meleset.

Oh satu lagi ding. Card reader. Pengennya udah ada card reader-nya. Apalagi kerjaan saya banyak berkutat dengan SD Card.

Pada Akhirnya

Kalau sedang mencari-cari laptop baru, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook ini layak dilirik. Apalagi kalau baru akan upgrade ke Windows 8. Kemampuannya menjadi Ultrabook dengan prosesor berkekuatan penuh, digabung flesibilitasnya untuk menjadi tablet layar sentuh yang ringan dan praktis, membuat Aspire P3 jadi pengalaman bekerja yang baru dan modern. Ditambah lagi, Acer memberi bandrol harga yang sangat kompetitif untuk Aspire P3.

Image

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook – Tablet Mode

Apakah ini pilihan terbaik buat kamu? Ya tentunya kembali tergantung pada kebutuhan kerja juga budget. Setiap orang punya kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Paling tidak, dengan Aspire P3, Acer memberi kita satu lagi pilihan yang sangat menarik untuk jadi perangkat kerja utama. Saya sendiri sangat menikmati pengalaman berkomputer yang baru dan lebih modern dengan Aspire P3.

Untuk yang ingin tahu spesifikasi teknis lebih detail, dapat kunjungi link Acer ini.