Makan Nggak Makan Yang Penting Film?

Setelah rencana film anak-anak mendadak dibatalkan di Januari kemarin, saya sedang mencoba mengolah cerita-cerita saya untuk diproduksi dengan partner baru. Kenapa nggak ke ph-ph yang lain aja yang mapan? Rasanya nggak kepengen, karena kalau di ph besar ujung-ujungnya palingan cuma jual skenario sementara saya bukan cuma mau jualan cerita ataupun naskah. Ya kalaupun laku, tentunya, bukan ge’er yakin dibeli. Lebih seru begini, mengolah cerita dari nol dan ikut hampir semua tahapan produksi dari awal sampai ujung. Jadi saya bisa belajar.

Nah, kemarin mantan bos nelepon. Nanya apa saya bisa nulis skenario untuk film televisi. Wah, terus terang aja saya bilang saya belum mampu. Bukan apa-apa, pasti selain dikejar waktu, revisinya banyak. Kalau nulis untuk film malah saya lebih berani masih ada waktu. Akhirnya saya ditawarkan, kalau ada ide cerita mungkin boleh diajukan dalam bentuk cerita atau sinopsis saja. Itu lumayan, saya bisa. Tapi ya, saat ini rasanya kalaupun otak yang sedang lamban ini ada ide bagus bakal saya prioritaskan untuk film aja.

Masih ngotot ya di film? Entahlah, bukan ngotot juga sebenernya, cuma ngejar cita-cita. Walau sekarang ya jujur aja jadi nggak makan karena belum jalan film lagi. Nggak makan hamburger dan steak, maksudnya. Hahaha…

Iklan

2 thoughts on “Makan Nggak Makan Yang Penting Film?

  1. Sebenarnya jenis film apa sih yang mas raya senangi? horor, komedi, drama, action? atau mas raya lebih pemanfaatan kondisi perfilman. yang artinya jika sedang In film horor maka mas raya lebih suka bikin cerita film horor dengan cerita kreatif dari mas raya sendiri.. bukan kenapa – napa mas. cuma make sure aja. apakah seorang filmer harus idealis terhadap satu jenis film, ataukah mereka harus bersikap bungloner, atau mengikuti kata investor atau produser ( pesanan ).?

    • Menurut saya seorang film maker nggak harus idealis pada satu jenis film, bukan juga cuma mengikuti pesanan. Di manapun, di dunia ini yang penting adalah keseimbangan, mas. Kalau cuma idealis nggak peduli realita dan cuma “onani”, akan mati. Kalau cuma mengikuti selera pasar, juga tidak akan berkembang dan salah-salah industrinya yang mati. Yang naif adalah kalau berpikir harus memilih salah satu, mengkotak-kotakan “oh saya idealis” atau “oh saya mah harus ngikutin pasar”. Sebetulnya akan ada tempat, ruang dan waktu untuk masing-masing. đŸ˜‰

      Saya sendiri penggemar film action, scifi, komedi dan horor. Kalau drama saya kurang hobi. đŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s