Di Persimpangan Jalan

Belum ada greenlight untuk cerita dan konsep yang saya ajukan setelah TMK, dan walau setelah pembicaraan dengan executive producer tempo hari beliau mengatakan akan mempertimbangkan lagi setidaknya 2 dari 5 cerita yang saya ajukan, rasanya belum ada tanda-tanda progres sama sekali. Sementara itu, saya mesti mencari cara supaya dapur tetap ngebul. Sekarang dengan situasi begini ya pastinya nggak ada income, tapi alhamdulillah justru giliran istri yang ada rejeki. Minimal ada nafas sedikit. Terus terang ya ada stress dan depresi juga, tapi berusaha dilupakan. Harus ada langkah maju, tapi apa ya?

Inilah masalahnya kalau tidak punya skill yang spesifik. Saya bisa banyak hal, mengetahui ini dan itu tapi jarang sekali yang saya kuasai utuh. Misalnya, saya memang menangani produserial, tapi karena pola kerja di tempat saya membuat film berbeda dengan tempat lainnya, jadi agak rancu. Saya pun menulis cerita, tapi skenario penuh belum pernah saya tulis. Akhirnya jadi agak setengah-setengah. Di saat ini memang ada teman mengatakan kenapa nggak mencoba aja handle produserial di yang lain, misalnya jadi produser lepasan untuk iklan atau videoklip? Hmm… Menarik, tapi kok nggak pede ya, kayaknya alamnya beda soalnya. Jadi saya putuskan mau mencoba jalan yang satu lagi yaitu menulis.

Bukan sesuatu yang saya cita-citakan, tapi kelihatannya harus dimulai dari situ lagi. Soalnya, minimal kalau saya sudah bisa menulis satu skenario utuh yang diproduksi, minimal artinya saya menguasai satu skill dasar. Hah. Hari gini baru mulai. Tapi nggak apa-apalah. Inget, dapur mesti ngebul. Semoga nggak harus balik nggawe di TV, udah jauh-jauh sampai produksi 2 film layar lebar bukan cuma buat balik lagi kerja di TV.

Iklan