Film Berikutnya, Apa?

Oke, berkat distribusi yang ngasal, TMK nggak sebagus SKB. Dan ternyata, kemarin bukan salah siapa-siapa selain pihak internal yang melepaskan distribusi ke pihak bioskop tanpa ada persetujuan tertulis untuk pilihan dan jumlah gedung. Ceroboh sekali. Kalau saya yang melakukan itu, pasti saya sudah digantung, ditendang, atau mungkin disuruh mengganti kerugian. Sekarang, mau ngomong apa selain nyengir. Kalau dibilang jadi pelajaran, ya mestinya nggak usah begini cara belajarnya. Amatiran juga tahu bahwa untuk distribusi produk, kita harus ada proper written agreement dengan pihak yang akan mendistribusikan produk kita. Kalau nggak, siap-siap aja getting screwed.

Secara film, melihat dari reaksi penonton, TMK berhasil di sisi komedi namun memang tidak ada moment horror yang bikin penonton kaget. Dalam hal horor nya, SKB, walaupun cupu abis, tetep lebih berhasil. Lalu pembagian scene komedi pun harus diperbaiki. Penggunaan parallel cutting di tengah act 2 dan masuk act 3 akhirnya malah mengganggu karena membuat adegan tidak ada yang tuntas. Walau memang secara konsep editing cukup dinamis, udah deh mendingan jangan pake paralel segala. Lain kali bikin yang linear aja, penonton kita lebih sukanya begitu. Banyak pelajaran lah kita dapat dari film ke 2 ini. Tapi sekarang, berikutnya bikin apa?

Sebelum TMK selesai tayang, saya sudah nyiapin satu original draft outline untuk sebuah komedi, tanpa unsur horor. Tapi kelihatannya executive producer masih ragu. Lalu teman-teman di kantor bilang, ayo dong coba bikin yang anak-anak, saya buat lah satu sinopsis yang anak-anak. Cukup fun, saya cukup yakin. Tapi lagi-lagi belum ada kejelasan. Lalu orang kantor mikir, buat yang komedi horor tapi agak seksi. Ya sud saya coba konsepkan, tapi nggak ada tanggapan positif. Kabarnya di kantor punya konsep lama yang pengen di olah, saya kasi tahu aja konsep seperti itu sudah pernah ada yang buat, minimal premise nya mirip, dan nggak gitu jalan. Abis itu, EP nonton itu film dan sesudahnya ngetawain itu film, dibilang film goblok. Jangan ngetawain orang lah, kayak kita yang paling bener aja.

Terus berikutnya mau bikin apa? Banyak bicara soal kualitas, tapi nggak mau keluar budget bagus. Kalau budget cuma seginian ya nggak bakal jauh geraknya di genre ini-ini lagi. Lagipula juga rasanya genrenya TMK dan SKB bisa dibilang evergreen. Tapi sekarang mau bikin yang “bagus”, yang ada “sesuatu”nya, tapi nggak mau spend. Gimana caranya? Nggak banyak film yang bisa dibuat dengan modal minim ala sinetron lalu hasilnya jadi sangat sinematik. Lagipula, saya juga bertaruh di sini, bukan orang gajian. Saya nggak akan ngajuin konsep yang nggak saya yakini akan menghasilkan uang.

Iklan