The Maling Kuburans Sudah “Sound Lock”

Tadi sore, sekitar jam 1800, akhirnya TMK sudah sound lock. Alias audionya udah approved, nggak ada revisi-revisian lagi. Terakhir yang kita cek adalah sound untuk trailer. Pak Made dan Yessy dateng duluan, saya nyusul. Saya minta tambahin satu-dua sound effect yang rada kartun untuk bikin feel komedinya lebih terasa. Ngimbangin musik yang agak berat. Untuk filmnya sendiri sudah aman, kemaren ada 2 dialog Tessy yang muted, tapi akhirnya bisa kita masukin suaranya. Lagi-lagi guide-nya yang udah salah, jadi mesti nge-cek lagi dari Avid project di kantor. Mas Sanu deh bela-belain ke kantor untuk ngecek timeline di project. Alhamdulillah, sound sudah beres. Terima kasih buat semua rekan-rekan di Crossfade Audio Post, once again, a great job. Sekarang, nunggu kabar dari Dwi yang masih berjuang color grading di Eltra, menantikan final picture lock.

Iklan

Curhat Tengah Malam

Bisa dibilang, standard hidup saya menurun drastis dua tahun ini. Dinilai dari pemasukan rata-rata dan pola belanja, semuanya serba menurun. Ini karena profesi yang sedang saya tekuni saat ini berbeda dengan profesi saya sebelumnya. Selain pola kerja yang lepasan dan bukan ‘nggawe’ seperti waktu di tv station, masih ada satu faktor lagi yang lumayan bikin jantungan. Itu adalah karena posisi saya sebagai partner produser berarti saya hanya mendapatkan hasil jika film berhasil. Yang lain semua sudah dapat honor dan gaji, produser dan saya masih belum tentu dapat hasil. Untuk bulanan saya kas bon yang nantinya akan dipotong dari hasil film. Kalau film merugi, produser kehilangan milyaran dan kasbon saya akan jadi utang. Makanya saya berdoa semoga film meraih keuntungan yang sepadan dengan kerja setengah tahun. Sebelum ada yang nyata, ya hidup jadi begini, relatif pas-pasan dibanding dulu.

Tapi, nggak berarti saya mengeluh. Saya bersukur alhamdulillah karena sekarang keadaan bagaimanapun juga lebih baik daripada tahun lalu dimana saya harus dikejar-kejar oleh tagihan dan utang pada bank. Istri pun ikut stress jadinya. Tahun ini sudah bebas dari semua itu. Jadi sesusah apapun, kalau mengingat yang tempo hari, maka hari ini berasa bagai di surga. Mungkin yang jadi ketempuhan akan semua pilihan ini adalah orang di sekeliling saya. Mereka yang paling sayangi sekarang terpaksa juga ikutan menurun standard hidupnya. Istri saya jadi menyesuaikan dengan keadaan, kadang sebetulnya hati nggak tega, tapi memang jalannya sedang begini. Belum lagi orangtua saya, yang biasanya saya support, sudah setahun ini posisi saya bisa dibilang kembali menjadi anak yang justru membebani padahal dulu sudah bisa menyokong orangtua.

Semoga pengorbanan dan kesabaran istri dan orangtua saya nggak saya sia-siakan. Saya merasa pekerjaan saya yang sekarang harus saya tekuni bukan saja karena cita-cita dan obsesi. Bukan hanya itu! Tapi karena hanya dengan begini saya mempunyai ilmu yang baru, modal yang lebih, pengalaman yang lebih di bidang saya, entah itu film atau televisi. Karena kalau saya hanya tetap di televisi dan di level yang itu-itu saja dan pekerjaan yang itu-itu saja, nggak akan berkembang. Semoga pilihan saya ini nggak salah, demi istri dan orangtua saya juga. Sebentar lagi mau masuk tengah tahun, sementara target saya tahun ini adalah 2 film minimal. Artinya harus mulai mengolah ide lagi. Mohon ya Allah, bimbing saya.

Color Grading The Maling Kuburans Udah Sampe Mana Ya?

Sebetulnya parah juga saya sampe nggak tahu update yang satu ini, tapi emang beberapa hari ini nyoba ngontak Dwi kok susah ya? SMS juga nggak pernah dibales, lagi sibuk banyak proyek nih kayaknya. Yah semoga semuanya lancar, ntar nyoba ngontak lagi dah. Apa mungkin kalau orang udah pake blackberry lebih seneng dikontak pake YM ya? Hahaha…

The Maling Kuburans Musiknya Udah Bagusan, Eh Kok Ada Dialog Buntung?

Baru balik dari studio Crossfade, untuk preview dan nerusin spotting musiknya Candil untuk The Maling Kuburans, alhamdulillah dengan musik yang udah di revisi rasanya TMK jadi lebih fun. tadi pun Candil masih bawa musik tambahan lagi dengan alternatif, untuk di beberapa adegan, dan ternyata besok pagi pun masih mau nambah lagi. Syukurlah semua berjalan relatif lancar. Tapi tadi ada yang sempat bikin kaget dan bete.

Nggak lama setelah masuk reel 2, ada dialog yang janggal banget. Rasanya sepertinya sudah ada yang dipenggal tapi mendadak audionya masih ada. Scenenya adalah pas Indra Birowo dan Yton baru sampai di depan asrama, keduanya masing-masing punya ide untuk cara masuk. Memang dialog di sini tempo hari dipangkas karena bertele-tele, tapi tadi kok mendadak ada dialog yang aneh dan nggak nyambung? Perasaan ini materi nggak diubah sejak picture lock. Kok bisa begitu? Akhirnya kita putuskan bisa diabaikan aja, tapi saya nelepon Ferry Ilalang untuk dateng dan ngecek. Untung aja dia dateng.

Ternyata secara gambar udah bener, tapi audionya mestinya potongan dari dialog sebelumnya yang kemudian di-insert lagi untuk memperpendek dialog asli. Untung aja Ferry dateng, langsung aja diambil dari file dialog yang ada, beres lah. Bete pun hilang, alhamdulillah. Dialog pun jadi normal dan masih masuk akal.

Sampai saat ini, proses paska produksi TMK sudah mendekati garis finish dan siap untuk dikirim ke Hongkong minggu depan. Semoga nggak ada kejutan-kejutan lagi, dan kalaupun ada, semoga bisa ditangani dan diatasi.