Review dan Uji Koneksi Internet Dengan Hape Smart 3G Modem Murah Meriah

Artikel ini sudah diperbarui, lihat bagian akhir!

Sejak pertama Smart Telecom mempromosikan “hape CDMA 3G modem termurah”, saya udah mulai melirik. Bukan karena harga hape-nya 289 ribu rupiah ya, “Hape Esia Warna” punya juga sudah Qualcomm 3G dengan harga lebih murah. Yang menarik adalah bahwa pembeli akan mendapatkan paket data gratis sebesar total 12gb selama 6 bulan. Berarti, 2gb per bulan selama 6 bulan diberikan gratis! Dihitung-hitung, dapat internet murah banget. Paling-paling kena mesti beli pulsa 20 ribu supaya nomor tetap aktif tiap bulannya.

Lumayan menarik, bukan?

Lumayan menarik, bukan?

Tapi, saya masih ragu. Kecepatan akses GPRS-nya GSM saja masih suka menyebalkan, apalagi ini CDMA yang rasanya jaringannya masih relatif baru. Dibanding Esia, sinyal Smart masih kalah. Makanya saya nggak terburu-buru untuk beli, sampai ketika ada rekan di kantor yang ternyata sudah beli duluan dan saya coba koneksi langsung. Lokasi kantor saya di Jl. Gunung Sahari, dan langsung aja setelah tersambung dengan dial-up saya buka www.speedtest.net untuk jajal seberapa kemampuan si Smart ini. Impressive! Cukup kencang! Pertama, saya coba ukur ke server di Los Angeles dan mendapatkan download speed sekitar 90Kbps! Sementara, waktu saya coba ke server lokal di Jakarta kelihatannya kualitas sedang jelek sehinggak cuma dapat sekitar 60kbps downstream. Cukuplah saya diyakinkan, minimal untuk harganya, hape ini layak dibeli untuk kalau-kalau perlu internet di lokasi yang nggak ada akses seperti wifi.

Setelah akhirnya dapat juga yang warna putih di dealer Smart di ITC Fatmawati, saya dengan semangat mencoba di rumah saya di kisaran Lebak Bulus. Pret. Jangankan mau nginternet, sinyal buat nelepon atau sms aja nggak nembus di ruko saya! Walhasil, Smart ini agak membuat saya cenderung merasa Stupid. Tapi yah, mau berharap apa juga? Lagipula, saya beli Smart ini bukan untuk nge-net di rumah, kalau di rumah sih udah ada Speedy. Nah, hari ini saya niat banget bawa laptop ke Pondok Indah Mall untuk nyoba nginternet pakai si Smart ini. Awalnya sempat menyebalkan karena walau sudah di-install, beberapa kali tidak terbaca oleh laptop saya, tapi bisa saya atasi.

Pertama kali connect, saya langsung coba buka Speedtest lagi. Ya ampun pelannya nggak ketulungan, cuma dapet sekitar 12kbps! Buka gmail aja udah setengah mati, jangan harap bisa buka yang berat-berat. Sudahlah pelan, akhirnya koneksi gagal, sementara kondisi hape masih tetap dalam data-call. Terpaksa diputus saja, dan akhirnya di percobaan berikutnya modem hape tidak terbaca oleh system. Re-install lewat control panel, beres, saya coba connect lagi. Hasil terakhirnya alhamdulillah lumayan kencang! Bisa dilihat di bawah ini. Yah, akhir kata, nggak rugi amat lah beli hape Smart yang ngaku 3G ini. Lumayan minimal kayaknya dalam Jakarta aja aman untuk sarana koneksi cadangan ke internet.

Hasil Uji Dengan Server Jakarta

Lokasi PI Mall Jaksel, test ke Server Jakarta

Ujicoba Dengan Server di Los Angeles

Lokasi PI Mall Jaksel, test ke Server di Los Angeles

Kedua hasil itu saya dapat sambil nemenin istri makan eskrim di Wendy’s di Pondok Indah Mall 1, Jakarta Selatan. Nggak jelek-jelek amat lah ya, malah lebih sangar daripada waktu pertama kali saya nyoba punya temen di kantor. Nggak bisa complain lah. Saya juga nggak kemakan dengan embel-embel ‘3G’ nya kok, kalau emang saya mau ngejar yang ‘tri-ji’ beneran mah saya pake aja IM2 atau kalau mau CDMA ya nyobain produk Smart yang baru, EVDO Rev A dengan nama “Jump”. Nanti jika ada kesempatan, saya akan coba si Smart ini di lokasi-lokasi lain dan artikel ini akan saya update. Yang mesti disadari pastinya kualitas koneksi bergantung dengan lokasi, waktu dan faktor lainnya.

Kesimpulan Review & Uji Koneksi Internet dengan Hape Smart 3G Modem Haier (Rp289rb):

  • Kelayakan Beli: untuk harga yang ditawarkan, walau ada kekurangan, tetap sangat layak dimiliki. Minimal, selama 6 bulan di mana ada jatah 2gb akses data per bulannya. Setelah itu, sudah nggak murah lagi jatuhnya.
  • Kenyataan: jangan berharap banyak, hape Smart ini jangan disamakan dengan ‘3G’ beneran. Sadari juga bahwa yang namanya mobile internet kalau sinyal kalau bagus ya koneksi bisa bagus, kalau jelek ya kacrut.
  • Kemampuan: lumayan untuk harganya. Memang, sebagus-bagusnya koneksi pun nggak begitu kuat untuk upload/download file ukuran besar. Tapi kalau sedang dapat sinyal bagus, browsing ringan, mengakses email dengan attachment ukuran kecil-sedang, Smart ini bisa cukup lincah dan menyenangkan. Untuk yang hobi download ukuran besar, mp3, Youtube, lupakan aja.
  • Keuntungannya: dengan biaya relatif murah kita bisa punya backup/alternatif darurat koneksi internet kalau kita sedang di tempat yang tidak ada internetnya. Dengan jatah akses data 2GB/bulan selama 6 bulan, sudah lumayan banget.
  • Masalah: bisa terjadi masalah yaitu kadang walau sudah diinstall, komputer tidak mendeteksi bahwa Haier D1200P ini sudah tersambung. Cek ‘properties’ pada window dial-up connection Smart anda, apakah modem yang dipakai sudah VIA USB? Kalau hape sudah tersambung namun VIA modem tidak muncul pada pilihan, sebaiknya restart, dan lebih efektif kalau memasang lewat port USB yang biasanya dipakai. Kadang begitu pakai port USB berbeda, seakan tidak terbaca.

UPDATE:

Pada malam tahun baru saya mencoba mengupload foto-foto ke Facebook, konek dengan Smart dari wilayah BSD yang dekat dengan markasnya Smart. Sinyalnya kelihatan penuh, tapi lambannya minta ampun. Foto nggak bisa diupload sekali banyak, selalu gagal, harus satu-satu padahal size nya cuma sekitar 50-70kb. Seperti saya bilang, kalau lagi bagus ya kenceng, kalau lagi apek ya mampus.

Sekarang hape ini saya pakai tiap hari untuk standby online di kantor saya di daerah Gunung Sahari – Ancol. Koneksinya biasanya lumayan, kayaknya emang bagus di tengah kota. Pokoknya asal jangan untuk upload/download yang berat-berat. Memang sih, pernah ngedrop banget sampe nggak bisa konek kemana-mana. Hasil di bawah ini pas lagi bagus. Tapi kalau udah jelek, jangankan dites, buka Speedtest aja nggak mampu.

Lokasi Gn. Sahari JakPus, test ke server Jakarta

Lokasi Gn. Sahari JakPus, test ke server Jakarta

Lokasi Gn. Sahari JakPus, test ke server Los Angeles

Lokasi Gn. Sahari JakPus, test ke server Los Angeles

Iklan

Identitas Saya “Dipinjam”?

Ada-ada aja. Semalam iseng meng-google nama sendiri, tahu-tahu diantara hasil search yang rata-rata isinya blog saya sendiri, eh, ada satu yang kok aneh? Sebuah membership account di salah satu forum fotografi menggunakan nama saya, umur, dan mengutip salah satu ucapan saya di blog ini sebagai motto. Yah, udah biasa di internet memang hal beginian, cuma baru sekali ini aja ada yang memakai identitas saya yang bukan siapa-siapa. Semoga nggak disalahgunakan untuk fitnah. Dan mbok ya nyari yang kerenan dikit tho…

Sony HVR-Z1, Kandidat Kamera Untuk TMK

Setelah menimbang banyak faktor, kelihatannya kandidat paling kuat untuk jadi kamera di TMK bakalan di Sony Z1. Nggak lagi deh pakai DVW790 buat yang ini, nggak efisien. Di “Setannya Kok Beneran?” kita udah abis-abisan lengkapnya itu peralatan, ternyata nggak kepake amat. Dan di luar keputusan sutradara maupun DP, memang sebetulnya filmnya nggak menuntut gambar yang gimana-gimana banget.

Sony HVR-Z1

Sony HVR-Z1

Kenapa Sony Z1 dan bukan Panasonic HVX-200 alias si P2? Lebih simple dan efisien aja, tapi saya juga tetep akan jajakin kemungkinan pakai P2 kalau udah tahu workflow-nya. Bukan apa-apa, soalnya offline bakal pakai editing suite di Millennium yang pakai Avid lama. Sebetulnya Avid Meridian yang ada di kantor itu bagus, tapi sudah ketinggalan aja dan belum mampu untuk HD. Jadi workflownya kita nanti adalah master HD akan ditransfer ke SD, edit offline di SD, lalu akan online lagi ke format HD di editing suite luar. Saya belum tahu enakan pakai P2 atau gimana, tapi kalau P2 itu kan data dalam bentuk hard drive, kalau kita nggak punya hard disk yang bisa langsung nampung ya susah. Kalau pakai HDV masih lebih kebayang lah storage materi masternya. Kemungkinan pakai Z1 dua sekaligus supaya syuting lebih efisien. Dan rasanya nggak perlu pakai 35mm adapter lah kalau cuma buat horror komedi yang kita bikin ini.

Titik Terang Film Ke 2 Mulai Terlihat

Hari ini saya ke kantor lagi untuk ketemuan dengan pak Made dan mas Deden, kita mau bahas draft awal yang sudah diterima kemarin siang. Memang, udah hal biasa kalau masih draft pertama bakal banyak yang kita olah lagi bareng-bareng. Sama kayak waktu bikin ‘Setannya Kok Beneran?’ tapi kali ini kita mesti olah jauh lebih cepat lagi. Kenapa? Karena alhamdulillah hari ini sudah ada titik terang tentang kapan perkiraan tanggal main film ke dua yang untuk saat ini kita sebut saja ‘TMK’. Dari pembicaraan dengan produser sih bisa disimpulkan kalau nanti akan dirilis mirip seperti waktu SKB. Saya senang dan bersyukur hari ini sudah ada sedikit titik terang. Belum mau ge-er amat, tapi minimal bersyukur alhamdulillah bahwa kami bukan berjalan di tempat.

Mengenai first draft nya sendiri, menurut kita masih banyak yang butuh penajaman dan pengolahan lebih lanjut terutama dari sisi komedinya. Agak terlalu lama untuk masuk kedalam inti cerita, terdapat banyak pengulangan atau adegan yang mirip. Dan setelah kita indeks bareng, jarak antar adegan-adegan komedi andalan masih terlalu jauh untuk menjaga irama tontonan yang seru dan fun. Nggak apa-apa, insyaAllah bisa kita olah lagi bersama. Untuk hari ini saya ingin mengucap alhamdulillah, semoga beneran jalan, dan semoga kami bisa menerapkan apa yang sudah dipelajari dari pengalaman sebelumnya. Besok mau ngumpul di kantor lagi. Jiayou! Semangat!

Update 5: Harga Nikon D90 Di Toko Online Jakarta

Iseng, pagi buta tanggal 15 Desember 2008 ini ngecekin lagi harga-harga kamera Nikon D90 di toko-toko online Jakarta. Masih tinggi. Mendingan tunggu dolar stabil lagi, kabarnya dolar masih akan turun lagi terutama mendekati Maret nanti. Kecuali ngebet banget atau butuh banget, rasanya jangan beli dulu sekarang. Sebel aja, ngeliat yang tadinya 12 juta jadi 15 jutaan? Males!

Toko CamZone ITC Fatmawati: Body Only Rp11.6jt, Kit 18-105 VR Rp 14.7jt

JPC Kemang: Body Only Rp11.8jt, Kit 18-55VR Rp 12.99jt, Kit 18-105VR Rp 14.9jt

EK-Gadgets: Body Only Rp11.85jt, Kit 18-105VR Rp 14.8jt

Mungkin saya agak ketinggalan ya, baru tahu kalau ada kit yang 18-105VR. Beda 2 jutaan sama yang 18-55VR. Sayang ah, kalau saya ada lebihan mending itu dua juta perak dibeliin lensa lain lagi.

Nungguin Draft 1 Untuk Film Ke 2

Hari ini janjinya mas Deden akan ngirim draft 1 skenario TMK, yang insyaAllah akan jadi film ke 2 kami. Tentang apa? Ya masih gegeblekan dagelan dengan bumbu honor, eh, horor. Ini sudah kemajuan dibanding kemaren yang terasa kebanyakan tarik ulur, kita bingung ini jalan apa nggak. Minimal sudah ada satu langkah pembuka, bukan cuma membahas sekitar budget dan sponsor. Sementara, hari ini saya di rumah aja, batuk semakin menggila setelah kemaren saya kira sudah reda.