Akhirnya Resmi Nggak Ikutan di Produksi Sinetron Itu

Senin kemaren hari yang nggak ngenakin. Saya udah di kantor bareng mas Deden, dan mas Deden dipanggil untuk bicara di ruang produser. Saya denger mas Deden disuruh baca sesuatu, dan pas saya tengok, ternyata handphone, alias baca sms. Saat itu saya langsung tahu kalau dia dikasih baca sms yang saya kirim ke production manager dimana saya menyatakan nggak ikutan di sinetron. Saat itu saya jadi tahu, ternyata produser yang ada di dalam ruangan kayaknya nggak tahu kalau saya ada di dekat pintu dan bisa dengar semua pembicaraan. Aneh rasanya, dengar orang bicarain kita sementara kita ada di sebelah. Yah, nggak membicarakan gimana-gimana sih tapi tetep aja nggak enak dengernya. Akhirnya saya ke atas aja daripada jengah sendiri. Memang sih akhirnya produser sempat keluar dan ngelewatin saya, setelah sekitar 10 menitan. Tapi ya, udahlah males dengernya. Yang penting, saya nggak ikutan di sinetron karena mau konsen di film. Saya lebih berani handle 2 produksi film dari pada satu film plus satu sinetron seri.

Saya cuma bete akan ironi-nya. Tahun lalu, semua bicara harus bikin film karena sinetron udah nggak bisa diharapkan menghasilkan apa-apa. Sekarang, setelah kita nyoba bikin satu film dan selamat, nggak kelihatan antusias bikin film ke dua, dan malah bilang mending bikin sinetron. Wajar, namanya ya bisnis. Mana yang bisa bikin uang dengan resiko lebih kecil adalah prioritas. Saya aja yang kurang beruntung. Sekarang, nasib proyek film kedua saya tetap nggak jelas. Sementara waktu berjalan terus.

Iklan

“Setannya Kok Beneran?” Mau Dibikin Yang Durasi Satu Jam Aja, Tapi 26 Episode?

Saya udah bilang, saya cuma kuat 6 episode. Formatnya pun idealnya begitu. Tapi kalau dapet order begini, ya produser pasti merem dah. Namanya duit. Saya yang suwe. Posisi saya susah. Di sini saya bukan jadi associate producer, jadi nggak bisa mengharapkan apa-apa dari profit. Lalu kalau memegang supervisi cerita, dengan budget yang diambil dari anggaran skenario, mau dapet berapa? Okelah kalau cerita aja, andai saya penulis. Tapi kalau udah supervisi saya tahu ujungnya akhirnya saya lagi yang bakal ikutan olah ide, saya lagi yang ngedit, saya lagi yang ketemuan meeting dengan orang station. Sementara, saya bisa dapet berapa perak dari anggaran? Rasanya untuk posisi itu sekalian aja kembalikan saya di posisi dulu dengan gaji tetap.

Bukan saya sok mahal, sama sekali nggak. Tapi saya berani meninggalkan kerjaan tetap dan menjadi freelance itu punya target. Setidaknya harus bisa menghasilkan minimal sama dengan kalau nggawe. Dan saya bukan freelance untuk jadi penulis atau jual ide tapi untuk jadi associate producer. Nah kalau gini? Yang untung ya cuma PH-nya. Semoga dengan adanya order untuk sinetron, film ke dua saya tidak terpengaruh dan tetap jalan. Dua hari ini stres sekali saya mikirin posisi yang jadi dilematis begini.

Trik Mengatasi Gelombang Bergeser Pada Moda D-Movie Nikon D90

Satu lagi kelemahan moda D-Movie di Nikon D90, tapi tentunya sama sekali tidak terjadi di moda still-picture. Kabarnya ini terjadi di tempat-tempat yang menganut sistem PAL, di mana lighting fluorescent entah itu lampu neon biasa ataupun Kinoflo akan menimbulkan gelombang bergerak atau scrolling wave pada video rekaman D90. Baik siang maupun malam, kalau lightingnya memakai fluorescent, gambar akan terganggu efek ini dan ini sudah membuat gambar tidak layak sama sekali. Gimana mengatasinya?

Katanya, kalau aja Nikon memberikan moda 25p dan 50hz, masalah ini akan hilang bagi kita semua di negeri PAL. Tapi, nyatanya kan nggak? Dari browsing sana-sini seperti biasa, saya mencatat trik seperti ini:

  • Dibawah lighting fluorescent, gunakan lensa manual, tutup sedikit aperture dan arahkan kamera ke papan atau dinding dengan warna mid tone. Gerak-gerakan sedikit kamera, yang akan berefek berubahnya exposure sampai ada saatnya gelombang itu menghilang. Nah, ketika gelombangnya hilang, segera lock exposure dan setelah itu atur lagi dengan mengatur f-stop.
  • Satu lagi begini caranya. Ketika gelombang muncul, keluar dari LiveView dan ubah arperture (sementara dalam AV mode) sampai gelombang tersebut menghilang. Setelah itu kita bisa kembali ke aperture awal dan gelombang sudah tudak muncul. Yang penting jangan gunakan moda Automatic.

Bener atau nggak trik ini? Saya hanya menerjemahkan dari sebuah diskusi, yang mana terus terang kalimat mereka pun kurang spesifik. Saya cuma mencatat dulu untuk nanti kalau-kalau saya jadi beli D90, dan itu pun saya kurang mengerti yang mereka maksud. Kalau ada yang sudah mencoba trik ini, mohon di share apakah benar bisa bekerja, atau apakah ada cara yang lebih tepat. Sejauh ini, rasanya selalu ada saja trik akal-akalan untuk mengatasi kelemahan moda D-movie di Nikon D90.

Rancangan Komedi 60 Menit Mau Dijadiin 120 Menit? Nggak Banget.

Bener aja kan kejadian. Udah dari awal dibilangin ini format cuma bagus kalau buat slot 60 menit. Dari awal saya udah bilang, nggak akan kuat main di 90 menit, wong 60 menit aja udah nggak gampang ngejaga temponya. Lah ini akhirnya cuma bisa masuk slot 120 menit. Nggak deh. Gile aje. Produser pastinya tetep kepengen karena ya, ini bisnis. Tapi diatas kertas pun kita udah tahu, nggak akan jalan format komedi Setannya Kok Beneran dijadiin format 120 menit sebanyak 6 episode. Sudahlah. Kalau nggak 60 menitan, nggak berani deh.

Oh iya, pihak station minta 75% pemainnya sama dengan di movie-nya. Oke aja kalau mau spend. Tapi ya, itu tadi, 60 menitan, 6 episode. Lebih dari itu udah maksa.

Besok Mau Meeting di TV Bahas Sinetron “Setannya Kok Beneran?” Tapi…

Sekali lagi, saya nggak kepengen terlibat produksinya. Atas dasar berbagai pertimbangan, saya cuma mau bikin konsep dan cerita aja. Udah saya sampaikan ke produser, tapi takut beliau nggak nangkep jadi tadi saya hubungi lagi production manager. Saya bilang saya nggak kepengen terlibat produksi apalagi kalau jadi produser pelaksananya soalnya mau konsen di film aja. Sebetulnya produksinya sih nggak berat, yang capek itu, segala meeting dan segala revisi, sementara yang nggak bisa berharap dapat sesuatu yang signifikan di sinetron.

Saya Nggak Ikutan Ya Kalau Yang Sinetron

Cukup di konsep dan cerita aja ya. Saya nggak kepengen jadi produser pelaksananya. Mending konsen buat film ke 2 aja. Kamis ini mau meeting di tv, terus terang kepengennya saya nggak ikut, tapi produser maunya saya yang ceritain konsepnya, ya su. Pokoknya saya kali ini nggak pengen terlibat produksinya.

Film ke 2 aja buruan greenlight, please. Kalau ngejar Maret, shooting di Januari udah mepet banget. Mana mau pake HD pula, artinya editingnya nggak bisa langsung online di kantor kayak kemaren. Avid Meridian yang di kantor cuma bisa handle SD.