DSLR Untuk Produksi Film Indie?

Baru aja semangat mendengar kemampuan HD video di Nikon D90, sekarang udah ada lagi Canon EOS 5D MkII yang malah bisa bikin Full HD. These are exciting times. Bagaimana nggak? Walau dua kamera DSLR ini jelas bukan diperuntukkan bagi pembuatan film sehingga punya banyak kelemahan dalam hal video, tapi kemungkinan untuk syuting dengan kamera interchangeable lens belum pernah se-terjangkau ini. Dan kita sudah bicara HD, bukan lagi SD.

Sepertinya bulan lalu bayangan saya akan solusi termurah untuk bisa punya kamera video dengan interchangeable lens masih sekitar Canon XL series yang sudah agak lewat masanya tapi masih aja diatas Rp.20jt. Dan itu masih SD, belum HD. Atau, mau beli Panasonic DVX 102 dan beli Letus35 Extreme? Makin jebol lagi kantong nembus Rp.30jt. Sekali lagi, masih SD dan belum ngitung harga lensa! Kita pasti mau beli lensa dong? Jadi, masih mahal. Nggak usah sampai bahas XL-H1 yang nembus Rp.80jt deh, sekedar Sony HVR-Z1 aja udah jauh dari kantong. Tapi ya, kalau bicara sewa harian sih masih terjangkau lah asal jangan terus pengen pakai P+S Technik Mini35 Adapter ya. Red One? Nggak usah dibahas deh, itu mah ketinggian. Dibanding itu semua, kehadiran Nikon D90 dan Canon 5D MkII jadi cukup penting bagi videoshooter yang ingin dapatkan film-look.

Melihat begini, siap-siap aja melihat penggunaan DSLR untuk film independen yang zero-budget akan jadi tren baru. Asalkan harga tetap dijaga di kisaran menengah bawah, ya. Canon 5D MkII sendiri sudah nggak murah sebetulnya. Mungkin masih untuk melindungi XL-2 nya, dan ya sekali lagi, itu kamera untuk still photo. Fitur video hanyalah bonus, yang mungkin sekali akan disebelin oleh fotografer karena bagi mereka itu adalah fitur yang tidak diperlukan tapi malah menambah harga.

Pastinya ada yang akan bilang, yang penting dalam film adalah ceritanya, kenapa terlalu memusingkan alatnya? Pakai Handycam aja bisa kok membuat sebuah cerita? Well, bener sih. Tapi ya nggak apa-apa juga kan kalau produksi zero-budget sudah bisa dapat look yang lebih film-like?

Iklan

13 thoughts on “DSLR Untuk Produksi Film Indie?

  1. Hai bro.
    Btw, tau toko di jakarta yang jual Panasonic DVX100 gak?

    Ngomong-ngomong soal HD video,
    gw rasa HD itu bukan sesuatu yang significant.
    Karena, kemampuan emulasi 24p di kamera prosumer HD masih sangat minim. Emang hasil gambar bakal tajam (untuk viewing di HDTV), tapi hasilnya akan sangat “video”. Menurut gw looh…

    Manual control di DSLR video gw blm pernah make, tp kayaknya minim ya, 24p mode itu penting buat film (at least untuk gw)….

    lagian SD cam kyk DVX juga udah banyak dipake di Hollywood. Kyk A Scanner Darkly, filmnya si abang Keanu, disyut pake itu. Kemampuan 24p (untuk film-looknya) sangat bagus.

    Makanya, gw lagi nyari nih. Di indonesia brapaan ya harganya? Kok gw nemunya cm DVX102B…itu jg 27juta. hahahaha halmahera.

    di LN gak nyampe $2000 dollar untuk DVX100.

    salam sineas bro.

    • di sini adanya yang 102 memang, belum pernah ketemu yang 100.

      kalau saya sih HD 1080/720 atau SD 576, entah 24p atau 30p, selama nggak bisa punya DOF cetek, pasti kita akan ngeliatnya sangat amat video. gambar khas video, flat, semuanya in focus. jadi ya kembali ke ukuran sensor dan lensa yang dipake ya.

      kalau d-movie mode di D90 emang hampir nggak ada kendali sama sekali karena dia sebetulnya cuma ide iseng nikon untuk merekam tampilan Live View. what a novel idea! banyak kelemahannya, tapi kapan lagi bisa ngerekam video dengan DOF cetek dibawah 15 juta…

  2. Bagus juga ulasannya, btw apapun cameranya yang penting filmnya kelar…. he.. he..
    Kalo cerita film indie dengan perangkat seadanya SBY pasti maklum. Jadi keinginan dan cita2 boleh tapi jangan menyurutkan nyali ya… ok… Salam kenal

  3. Saya yang di Jakarta juga belum megang, pak Wendy 🙂

    Untuk D-movie mode dia nggak bisa AF, jadi memang justru bakal full manual focus. Untuk pencahayaan, cuma bisa dijaga pakai exposure lock. Selain itu, semuanya dikendalikan otaknya Live View si D90 ini. Kebanyakan tips-nya sudah saa kumpulin di blog ini sih, memang nggak gampang.

    Memang D-movoe ini bukan fungsi kamera video secara utuh, sekedar Nikon yang iseng memberi moda untuk bisa merekam tampilan Live View. Tapi sudah ada beberapa sample naratif yang cukup oke di luaran sana.

  4. Apakah dgn dslr ini, untk movie bisa dijaga focusnya untk moving object?
    Atau focus dslr bisa diset manual ketika shoot? juga dgn pencahayaan yg berubah2 bisa otomatis menyesuaikan?
    Just corious.
    Liat brgnya aja blum pernah sih.
    Papua kejauhan.

  5. belum punya kamera yang mumpuni nih pak, pake handycam saya mah hasilnya aduh cemen bener… gambarnya flat. bisa aja sih didandanin pakai motion graphic, cuma saya nggak bisa main after effects…

    saya mah ngga usah HD malah… asal bisa dapet dof cetek udah seneng…

  6. coba di down-convert ke SD aja dulu, pak ‘Jiwa Musik’.
    pc saya juga belum kuat masang HD, jangankan 1080p, 720p aja brebetan. 480p lah udah lumayan pak…

    saya malah cuma punya mini dv, 4-jutaan…

  7. salam kenal pak raya, nice blog.

    wah kayaknya asik nih bisa bikin indie.
    dr thr kemaren, sy beli hendikem murahan (kayaknya masih jauh deh dibawah 20 jt itu), kalo ga salah mereknya soni, HD dan bisa 5.1 ch, tp rada nyesel juga.
    Begitu dicoba di setel di pc ternyata mbrebet bet, krn pc saya masih kuno banget. Jd murahan aja dah kecanggian, padahal dulu beli penginnya cuman bwat yutuban doang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s