Perjuangan Berlanjut…

Bukannya nggak bersyukur atas banyaknya berkah yang didapat di tahun ini, tapi secara keuangan memang sejauh ini saya bisa dibilang defisit. Bicara berkah, tahun ini saya sudah menikah, sebuah berkah luarbiasa dan perubahan hidup yang besar. Dan belum lama berlalu, film pertama produksi saya dapat sambutan yang sejujurnya cukup mengejutkan. Alhamdulillah. Tapi, dari keuangan saya harus kena pukulan beruntun yang cukup keras. Heck, ‘cukup’ itu understatement, tepatnya adalah sangat amat keras. Seberapa kerasnya? Gini deh, untuk pertama kalinya saya mempertimbangkan dan bahkan sudah menawarkan si Yume, jip CJ7 kuning kesayangan saya, untuk dijual. Sekarang, saya berharap bisa mengembalikan situasi keuangan yang sudah babak belur tanpa keluar dari jalan yang sudah dirintis. Pastinya, nggak ada yang namanya solusi instan.

Sebelum mengambil langkah nekat mengambil posisi freelance demi mengejar cita-cita saja keuangan saya dalam posisi yang jelek. Tagihan yang tidak kunjung terlunasi selalu menghantui. Sekarang, situasi makin berat. Tapi, saya optimis insyaAllah langkah yang saya lakukan ini tidak salah, karena untuk maju, saya butuh membuat pembelajaran dan pencapaian-pencapaian baru. Untung, saya dapat istri yang sangat sabar, pengertian, dan mendukung apa yang sedang saya coba usahakan.

Sekarang, belajar dari pengalaman film pertama, saya ingin mencoba membuat satu lagi film komedi. Sudah 2 konsep diajukan, yang pertama sudah mental, tapi insyaAllah yang ke dua ini punya chance untuk dapat lampu ijo. Untuk yang kedua ini saya akan mencoba lebih cermat dalam semua aspek terutama juga anggaran, jangan sampai boros. Ironis, di “Setannya Kok Beneran?” yang lumayan ‘jalan’, saya pribadi justru tekor. Saya bukan line-producer yang dibayar untuk memproduseri film, tapi produser pelaksana yang menghasilkan dengan hitungan persentase dari keuntungan. Kok bisa tekor? Yah, bukan tekor amat, tapi sebetulnya impas lah antara apa yang saya spend selama produksi dengan share cut saya. Tapi, nggak apalah daripada malah berutang kan? Nah, yang berikutnya saya benar-benar belajar dari pengalaman pertama, dan jangan sampai kesalahan berulang lagi.

Besok pagi, plotting pertama tulisan mas Deden sudah akan ditangan manajer produksi. Mungkin kalau beliau juga sudah oke, langsung ke produser, karena katanya untuk dibahas hari Rabu nanti. Semoga bisa cepat greenlight karena kalau memang mengejar rilis bulan Maret tahun depan, kita sudah tidak punya waktu lagi. Sementara, ada kemungkinan permintaan “Setannya Kok Beneran?” dijadikan sinetron seri. Bukan menolak rejeki atau menutup pintu pada peluang, tapi sejujurnya saat ini saya lebih kepengen fokus di film ke dua. Kalau bikin sinetron sekaligus megang film, pastinya fokus jadi pecah. Sama-sama komedi pula. Tapi ya, saya coba aja. See what happens. Soalnya ya itu, financially ibaratnya banjir, ini air sudah seleher, butuh pijakan lagi.

Susahnya mengejar cita-cita. Kalau hanya mengejar uang rutin, saya pasti masih tetap di televisi. Tapi kalau di satu tempat terus tanpa pencapaian berarti, saya juga nggak akan maju ke mana-mana. Setidaknya kalau sekarang saya sudah bisa bilang “saya sudah mencoba”, bukan lagi berandai-andai seperti dulu, dan bukan cuma jadi kritikus yang nggak pernah praktek. Perjuangan dilanjutkan. Mohon doanya…

(Tulisan asli berasal dari blog saya yang di Multiply)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s