Belajar Dasar Lighting Film, Secara Low Budget!

Dari dulu saya penasaran tentang teknik lighting film, karena kelihatannya sangat susah padahal vital sekali dalam membuat gambar yang bagus. Kalau lagi di lokasi syuting, saya bisa aja mengira-ngira angle camera yang bagus bagaimana, tapi soal lighting nggak pernah mengerti. Kenapa lampu gedenya ditaruh di situ? Kenapa lampu kecilnya ditaruh di sana? Kapan harus pakai lampu yang mana, dan seterusnya. Adanya cuma bengong ngelihat DP dan orang lighting sibuk ngatur, ngintip monitor dan memerintahkan geser ini itu, pasang atau lepas filter. Saya nggak butuh ilmu yang se-profesional itu, minimal pengen ngerti dasarnya aja.

Bisa aja beli buku, tapi satu masalahnya, saya orangnya nggak sabaran. Selalu pengen tahu dasarnya aja untuk memulai, nggak suka kelewat dalem. Intinya, saya kepengen tahu cara-cara sederhana yang bisa diterapkan untuk produksi zero-budget. Akhirnya, ketemu juga beberapa link yang benar-benar cocok dengan keinginan saya. Pertama, saya rekomen download ini:

ARRI Lighting Handbook

Sebetulnya ini brosur, tapi banyak gambar skema dan contoh lighting yang cukup ngasi gambaran buat pemula kayak saya. Berkat brosur ini saya jadi lebih mengerti teknik dasar dan istilah-istilah dalam lighting untuk film. Tapi, apa yang dijelaskan di ARRI ini adalah teknik dan nggak ngajarin bagaimana menerapkan semua itu kalau kita nggak punya alat-alat profesional itu. Nah gimana? Ada nggak yang bisa ngajarin lighting versi modal nekad? Akhirnya ketemu beberapa artikel ini:

Buat Sendiri Low-budget Light Kit Anda oleh Scott Spears

Low Budget Film & Video Lighting

Do-it-yourself Lighting Dengan Peralatan Non-film

Untuk yang cuma kepengen tahu dasar-dasarnya, ketiga artikel ini digabung dengan pengetahuan teknik dasar dari brosur ARRI rasanya sudah lumayan. Minimal, rasa penasaran saya sudah terpenuhi.

Iklan

Full-Resolution Clip Dari “Reverie”, Sample Demo Video Canon 5D MkII

Akhirnya kita bisa men-download klip resolusi penuh materi master syuting dari Reverie, film pendek bikinan fotografer Vincent Laforet yang dijadikan Canon sebagai sample demo andalan kemampuan video Canon 5D MkII. Saya tadinya sudah semangat mau men-download tapi akhirnya nggak jadi, karena untuk bisa memutar file-file 1080p dengan bitrate yang lumayan tinggi ini akan butuh komputer yang ‘bertenaga’. Pakai laptop saya ini, memutar trailer HD 1080p aja udah brebetan.

DSLR Jadi Alternatif Kamera Video?

“Kenapa juga loe ngimpi pengen bikin film pendek pake kamera DSLR?” Itu pertanyaan yang ditanyakan 2 teman saya yang baca blog saya ini. “Bikin film pendek ya pake aja handycam mini-dv, atau loe pinjem aja kamera kantor kalau mau pake Betacam sekalian”, lanjutnya. Kamera DSLR ya buat still-photo aja, katanya. Well, ada beberapa alasan kenapa saya jadi ujug-ujug kelewat excited sejak tahu Nikon D90 bisa merekam video HD. Apa itu?

  • Saya dari dulu pengen punya DSLR
  • Saya dari dulu mengimpikan kamera video yang interchangeable lens dan bisa shallow depth of field
  • Saya mengimpikan DSLR dengan kemampuan video supaya point no.2 bisa lebih terjangkau dan mestinya teknologinya sudah ada
  • Camcorder dengan interchangeable lens dan bisa DOF cetek nggak akan dapet harga dibawah 30juta, coba cek harga XL2
  • Sekarang Nikon D90 dengan harga dibawah Rp.13jt sudah bisa kedua-duanya, walau ada kelemahan di fitur videonya yang masih sekedar ‘bonus’
  • Contoh-contoh hasil video D90 jelas lebih seperti film dan nggak terlalu kayak video, gimana nggak makin ngiler…

Ya gimana saya nggak semangat kan? Coba deh bikin gambar video dengan reproduksi warna dan DOF cetek pakai modal dibawah Rp15jt, bisa nggak? Atau saya naikin, dibawah Rp.25jt deh, bisa nggak? 50 juta? 60 juta? Itupun masih perlu belanja 35mm lens adapter lagi, paling murah harus modal 75-80jt an. Sekarang pakai D90, 13 juta udah dapet gambar begitu! Yah, walau cuma bisa bikin shot-shot yang stabilized ya, tapi, intinya, ini aja udah luar biasa! Nggak salah dong kalau di luar negeri pun banyak DOP dan zero-budget film maker yang jadi semangat dengan revolusi DSLR ini. Nggak semua mampu ngebangun kamera amatir dengan 35mm lens adapter kan?

Jadi buat teman saya, semoga udah ngerti kenapa…

Kalau bilang, film itu yang penting content, ceritanya, bukan alatnya. Ya iya memang. Tapi nggak ada salahnya kan mengejar kemampuan gambar yang lebih bagus? Apalagi kalau sudah terjangkau!

Seperti Nikon D90, Fitur Video di Canon 5D MkII Juga Kena Efek Rolling Shutter

Akhirnya ada juga yang menguji apakah video Canon 5D MkII benar-benar bisa bebas dari efek rolling shutter, gambar goyang seperti jello dan skewing. Coba aja lihat videonya di Vimeo, terlihat jelas bahwa yang namanya penggunaan CMOS untuk video akan mempunyai kelemahan dan kekurangan ini karena menggunakan rolling shutter. Video ini sengaja melakukan whip pan yang kencang untuk menguji. Kalau videonya Vincent Laforet bisa kelihatan sempurna begitu, itu karena dia memang sudah mengantisipasi kelemahan rolling shutter ini. Tapi katanya, efek-efek ini nggak separah seperti di Nikon D90. Yah, artinya, kalau nanti mau bikin film pendek pakai D90 atau 5DMkII, sama-sama jangan bikin whip-pan dan hindari handheld shots.

Mengkhayal Dikit, Pilih Scarlet atau 5D MkII?

Kalau tahun depan punya uang nganggur $3,000 mana yang bakal saya pilih? Begini nih kalau lagi bangkrut dan bete, malah mengkhayal yang tinggi-tinggi. Jangankan beli kamera, sekarang saja dikejar tagihan kartu kredit sementara belum ada pemasukan. Tapi, ya, mengkhayal kan bisa jadi cita-cita. Boleh dong?

Scarlet memang keren konsepnya. Dengan $3,000 bisa punya kamera kecil tapi resolusi 3K, yang sudah lebih cukup untuk produksi film di Indonesia! Hebat! Tapi, workflow untuk video 3K masih belum jelas, dan lagi si Scarlet ini nggak bisa ganti-ganti lensa. Apakah bisa dapetin DOF cetek yang lebih “film-like”? Ataukah cuma jadi kayak handycam dengan resolusi super tajam? Kayaknya sebelum bentuk barunya diumumkan (baca berita tentang perubahan desain Scarlet), rasanya sih belum menarik amat. Scarlet sudah pasti nggak interchangeable lens, jadi kalau mau pakai lensa 35mm akan harus beli 35mm lens adapter lagi. Hmmm… Males ya. Toh saya nggak pengen bikin film serius.

Canon 5D MkII untuk harga segitu jadi menarik bagi saya karena saya dari dulu pengen punya kamera DSLR, lalu ini dapat kemampuan video yang keren pula (udah liat kan contohnya). Jadi, kayaknya, saya akan milih ini karena saya bisa punya kamera still-photo yang mantap, plus kamera HD yang interchangeable lens tanpa harus invest di 35mm adapter. Cukup bawa DSLR, bisa bikin macam-macam. Kalau saya beli Scarlet, tetep belum punya DSLR dong. Nggak bisa bikin foto cantik istri tercinta.

Dah, udah ditulis jadi legaan. Kembali ke realita saya yang sedang bangkrut dan belum ada kejelasan proyek berikutnya. Dan mengkhayal yang lebih membumi aja, Nikon D90.

Komunitas Airsoft dalam Perfilman Indonesia

Perlu pasukan seperti ini di film anda? Airsofter siap membantu!

Perlu pasukan seperti ini di film anda? Airsofter siap membantu!

Sekarang sudah jamak kalau dalam syuting atau pembuatan film Indonesia yang butuh adegan agak mirip seperti pasukan khusus atau “SWAT”, pembuat film meminta bantuan komunitas airsoft. Selama nggak ada adegan menembak, menggunakan airsofter memang ada kelebihannya. Tentunya dengan catatan, kalau dapat airsofter yang sudah mengerti kebutuhan syuting, dan bisa bersikap profesional. Kita sudah lama tahu bahwa mainan airsoftgun sudah bisa dijadikan prop dalam film, selama shot-shotnya jangan terlalu padat atau deket, mainan ini bisa tampil meyakinkan selama nggak perlu adegan nembak. Lalu bagaimana dengan airsofternya sendiri? Apa kelebihannya menggunakan airsofter sebagai pemeran untuk adegan aksi ala militer atau misalnya, “SWAT”?

Airsofter juga bisa memberikan tampilan otentik bagaikan sungguhan

Pertama, jika bisa, pilih komunitas airsoft yang sangat rewel akan otentisitas perlengkapannya, dan ini akan sangat membantu membawa realisme dalam penggambaran adegan karena perlengkapan atau ‘gear’ nya tampak sangat real, juga gerakannya. Mereka ini tidak akan asal tampil dengan peralatan yang tidak otentik, karena tahu bahwa kebutuhan film tersebut adalah membuat gambar yang bisa dipercaya. Mengarahkan mereka pun jauh lebih mudah daripada mengarahkan ‘yang beneran’, yang biasanya agak kaku karena banyak peraturan. Tambahan poin plus lagi, airsofter yang suka gear otentik ini biasanya juga penggemar dunia militer sehingga bisa memberi masukan pada sutradara akan adegan mana yang real dan mana yang Hollywood. Jadi bisa membantu sutradara mengkombinasi antara realisme dan daya pikat film, adegan walau Hollywood masih terasa bisa dipercaya. Sementara, dengan ‘yang beneran’ biasanya akan terpaku pada yang baku, real dan belum tentu jadi adegan yang menarik.

Tapi, perlu cermat juga dalam mengajak airsofter berperan dalam film kita. Pertama, kelengkapan dan otentisitas gear harus tepat. Kadang karena awam, sutradara bisa saja menganggap tampilan para aktor-airsoft ini sudah oke. Seragaman, pake rompi, pake senapan mainan, helm, udah oke. Padahal belum tentu kombinasinya tepat! Okelah penonton pun belum mengerti, tapi sayang sekali kalau film yang seharusnya dari sisi art & costumes nya bisa otentik malah lemah. Jadi, pastikan airsofter yang diajak main di film kita mengerti tampilan yang otentik. Atau, kita duluan yang membawa referensi contoh seperti apa tampilan yang diinginkan, lalu tanyakan dulu pada airsofter itu apakah mereka bisa memberi tampilan seperti yang direferensikan. Jangan sampai niatan membuat film tampak keren, eh malah keliatan kayak film mainan.

Satu lagi yang harus diperhatikan adalah bila kita mengajak komunitas airsoft, pastikan mereka memahami tujuan peran mereka di film untuk membuat adegan tampak real. Bukan buat mejeng doang. Wajar saja, namanya juga bukan aktor, kadang merasa ini cuma kesempatan fun dan mejeng di film/tv/apapun. Akhirnya, yang diikut sertakan belum tentu cocok sebagai apa yang mereka perankan. Tampilan fisik harus diperhatikan, sutradara harus selektif juga. Jujur saja, karena dasarnya sipil dan sekarang banyakan airsofter yang belia, maka secara fisik mungkin belum tentu cocok memerankan, misalnya, tentara, pasukan khusus atau polisi. Pilih yang posturnya pas, rewel dikit, soalnya airsofter ‘bentuknya’ nggak semuanya atletis. Ada yang gemuk kayak saya, banyak juga yang cungkring. Belum lagi wajahnya! Banyak yang nggak cocok untuk peran karakter keras ala militer, jadi, harus bener-bener di’casting’. Atau ya, kalau bisa, tutupi wajah dengan balaclava, malah sangar deh. Itu trik yang sering saya lakukan karena banyak rekan airsofter saya yang rada ‘manis’ mukanya, hahaha.

Dulu, bisa begini aja udah wah. Sekarang sih cupu ngelihatnya.

Jaman dulu, tampilan segini aja udah lumayan 'wah'. Sekarang ngelihatnya cupu banget.

Menggunakan komunitas airsoft dalam perfilman sudah jadi obsesi saya sejak mengenal komunitas ini di akhir 90’an dan pertama kali terwujud dalam sinetron Opera Jakarta yang tayang di tahun 2002. Sejak itu saya aktif terlibat mengkoordinir penggunaan airsofter sebagai aktor dalam berbagai produksi entah itu photo-shoot, pembuatan iklan tv, music video, sampai ke film layar lebar. Dulu saya tergabung dalam salah satu komunitas airsoft tertua di Indonesia bernama Code-4, tapi sekarang jika ada kebutuhan untuk film, saya bisa meminta bantuan dari banyak komunitas dan tim airsoft yang sudah menjamur. Tapi memang saya rewel, karena saya ingin airsofter bukan cuma sekedar nampang tapi benar-benar bisa membantu sutradara mewujudkan visi adegannya.

Berkat airsofter, adegan ini bisa dibuat, dan berhasil memenangkan award.

Shot fantastis ini bisa dibuat karena peran airsofter, dan videoclip ini memenangkan 6 award.

Salah satu kebanggaan yang dibagi bersama rekan-rekan dulu adalah mewujudkan adegan pengepungan dalam videoklip Peterpan yang memenangkan 6 award diantaranya MTVIndonesia Music Video of The Year dan Art Direction terbaik di Anugerah Video Musik Indonesia. Salah satu iklan yang menggunakan airsfoter pun berhasil mendapatkan award. Untuk film layar lebar, saya berkesempatan membantu juga dengan mengkoordinir rekan-rekan airsofter untuk ikut dalam film Sang Dewi. Sekarang, kalau ada yang butuh airsofter, biasanya akan saya oper ke team-team teman yang sudah terpercaya. Kecuali jika untuk layar lebar atau sesuatu yang menarik, baru saya coba koordinir sendiri lagi. Di bawah ini terakhir kali saya membantu koordinasi teman-teman untuk pembuatan film layar lebar Sang Dewi. Bagus kan tampilannya?

Saya rewel, karena maunya terlihat otentik begini

Harus rewel soal detil, supaya tampilan jadi meyakinkan.

Puas sekali saya bisa membantu mewujudkan adegan seperti ini.

Dari angle manapun tampak real, kalau team-nya mengerti otentisitas.

Untuk klip video dan foto-foto yang lebih lengkap lagi, mampir di blog saya yang di Multiply. Berminat mengetahui tentang hobi Airsoft? Mari bergabung dengan kami di forum Airsoft-ID. Ke dua video berikut ini adalah yang saya sebutkan di atas, memang jelas bahwa komunitas airsoft bisa punya fungsi dalam pembuatan film/perfilman, airsofter bisa membantu mewujudkan adegan-adegan seperti di ke dua video ini.