Cerita Ke Dua Dimulai

Seharian tadi, dari sekitar jam 11 pagi sampai jam 9 malam saya dan mas Deden mulai lagi membuat cerita untuk film ke dua. InsyaAllah. Senang rasanya merasakan bagaimana cerita yang secara global sudah di otak sekarang bisa mulai disusun secara detil untuk dibuatkan skenarionya. Saya iri juga dengan mereka yang punya kemampuan untuk menulis, saya nggak pernah cukup stamina. Nggak sabar karena terlalu banyak ide, akhirnya saya hanya buatkan outline 3 babak untuk kemudian diolah oleh penulis. Film ke dua, kalau dapat lampu hijau, masih bertema sama dengan “Setannya Kok Beneran?”. Kami yang menangani produksi “Setannya Kok Beneran?” (SKB) banyak belajar dari pengalaman terberat yang pernah kami tangani. Syukur alhamdulillah, SKB relatif cukup berhasil di layar lebar. Bahkan jauh melebihi yang bisa saya harapkan. Nggak satu pun menduga bisa mendapatkan hasil yang sebagus ini.

Karena itulah untuk yang ke 2 saya masih kepingin bikin yang setipe, kelihatannya memang ada potensi. Tinggal kali ini harus menggarap dengan lebih cermat, dan belajar dari segala pengalaman yang sempat bikin saya dan tim nyaris depresi. Cerita kedua yang sementara diberi kode “TMK” ini memiliki cerita dasar yang berbeda, tapi mencoba menggunakan pola alur yang sama, dengan banyak peluang untuk adegan komedi baru dan tetap dibumbui horor. Akhirnya memang harus diakui, genre horor yang dikatakan sudah mencapai titik jenuh di film nasional sebetulnya tetap hidup. Yang penting isinya, kembali ke situ saja. Horor sudah bagaikan nasi dan tempe buat penonton Indonesia. Apakah karena penonton begitu menggilai kisah misteri dan klenik? Bukan. Itu pandangan jaman dulu. Sederhananya, menonton horor di bioskop bagi orang Indonesia itu bagaikan pesta dimana semua bisa menjerit bersama, takut bersama, gregetan bersama, dan pada saat tertentu, tertawa bersama. Sama juga seperti bagaimana orang suka naik roller-coaster, ada yang seru dari menghadapi ketakutan bersama, secara aman. Jadi ya, saya pengen bikin roller-coaster yang baru.

Cerita dasar TMK sudah saya emailkan ke mas Deden semingguan lalu, dari sinopsis, tagline, breakdown dasar 3 babak, konsep produksi juga. Rencananya sebetulnya kalau bisa sudah selesai hari Senin, Selasa-nya saya akan bawa ke produser. Tapi sampai Kamis, kita tetap belum mendapatkan cerita yang utuh. Hanya sinopsis saya yang diberikan penambahan detil dan tidak merata. Karena itu, Jumat ini kita putuskan untuk bahas dan garap bareng. Biasanya, ini kita lakukan di kantor. Tapi kali ini berhubung saya sedang mengirit biaya transportasi, kami mengerjakannya di rumah saya. Seharian akhirnya Deden dapat sekitar 20 scene, not bad lah. Setidaknya, sudah dalam bentuk scene plot. Kalau begini lebih enak mengajukannya ke produser. Senin tanggal 1 Agustus nanti saya akan ke kantor Millenium, semoga sudah cukup bahan untuk dibaca oleh produser. Semoga TMK akan segera dapat lampu hijau, karena saya diberitahu bahwa produser sudah punya satu slot di bulan Maret 2009. Dan kalau mau mengejar rilis di Maret 2009, waktu sudah sangat tipis, jadi, TMK harus secepat mungkin digarap. Berdasarkan perhitungan timetable yang saya buat, skenario TMK sudah harus rampung dalam sebulan.

Iklan

Sekali Lagi, Bikin Lagi

Ini blog saya yang ke tiga, atau empat, saya juga lupa. Pastinya, yang bener-bener aktif ada di Multiply. Kalau blog yang di Friendster cuma basa-basi iseng, dan Blogspot, well entah kemana itu yang blogspot. Dulu bener-bener jadi males karena baru kenal sama Multiply. Sekarang, karena iseng, bikin yang satu ini. Buat apa ya? Buat catatan harian? Atau tentang proyek-proyek saya? Hmmm… Belum tahu. Nanti dipikirin. kalau mau ngeblog soal pribadi, blog udah agak kehilangan sifat anonimitasnya. Dulu karena bisa dibilang internet Indonesia belum serame sekarang, rasanya masih berani nyemplung dan bebas bicara bahkan hal yang paling pribadi sekalipun. Ironisnya, setelah internet lumayan jujur karena banyak yang pakai identitas asli, rasa anonimitas malah hilang dan jadi nggak begitu bebas bicara. Kecuali ya, pakai identitas maya. Entah kenapa, saya kurang suka pakai identitas lain. Tadi pun waktu membuka account di WordPress ini, sempat kepikiran pakai alias, tapi ujung-ujungnya selalu kembali ke nama saya yang asli.

Blogging di Multiply sangat enak karena selain gampang, praktis, komunitasnya juga lebih terbentuk karena dari dulu sudah pakai sistem jejaring sosial. Interaksi jadi jauh lebih gampang. Hidup, dan nyata. Tapi, kenapa saya bikin lagi blog yang ini? Mungkin kelewat iseng karena kebanyakan isi pikiran. Atau ya, pengen bikin lagi satu blog yang agak lain.